Anda di halaman 1dari 8

Friday, September 23, 2016

MAKALAH FISIOLOGI NIFAS

BAB I

PENDAHULUAN

A.        Latar Belakang

Setelah persalinan wanita akan mengalami masa puerperium, untuk dapat

mengembalikan alat genitalia interna kedalam keadaan normal, dengan tenggang waktu sekitar

42 hari atau enam minggu atau satu bulan tujuh hari.

Masa nifas atau puerperium dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-

alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung kira-kira selama

6 minggu. Pada masa ini terjadi perubahan-perubahan fisiologis,yaitu:

1.      Perubahan fisik

2.      Involusi uterus dan pengeluaran lochia

3.      Laktasi/pengeluaran ASI

4.      Perubahan psiikis

Dalam masa nifas, alat-alat genitalia interna maupun eksterna akan berangsur-angsur

pulih kembali seperti keadaan seblum hamil. Perubahan-perubahan alat-alat genital ini dalam

keseluruhannya disebit involusi.

B.     Tujuan

            1.      Untuk mengetahui pengertian masa nifas

            2.      Untuk mengetahui periode nifas

            3.      Untuk mengetahui perubahan fisiologi


            4.      Untuk mengetahui penanganan asuhan masa nifas normal

 BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian

Masa nifas (Puerperium) adalah masa pulih kembali, mulai dari persalin selesai sampai

alat-alat kandungan kembali seperti pra- hamil. Lama nifas ini yaitu 6-8 minggu. (Mochtar, 1998

: 115).

Nifas ialah masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat

kandungan yang lamanya 6 minggu. Masa nifas mulai setelah partus selesai, dan berakhir setelah

kira-kira 6 minggu. (Saifudin, 2000 : 35)

B.     Periode Nifas

Nifas dibagi dalam 3 periode, yaitu :

           1.      Puerperium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. 

Dalam agama islam, dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.

           2.      Puerperium yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu.

           3.      Remote puerperium adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila

selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sempurna

bisa berminggu-minggu, bulanan, atau tahunan.(Mochtar, 1998 : 115)

C.    Perubahan Fisiologi

            1.      Sistem Reproduksi

a.       Uterus
Uterus secara berangsur-angsur menjadi kecil ( involusi ) sehingga akhirnya kembali

seperti sebelum hamil.

1)      Bayi lahir fundus setinggi pusat dengan berat uterus 1000 gr.

2)      Akhir kala III persalinan tinggi fundus uteri teraba 2 jari bawah pusat dengan berat uterus 750

gr.

3)      Satu minggu post partum tinggi fundus uteri teraba pertengahan pusat simpisis dengan berat

uterus 500 gr.

4)      Dua minggu post partum tinggi fundus uteri tidak teraba diatas simpisis dengan berat uterus 350

gr.

5)      Enam minggu post partum fundus uteri bertambah kecil dengan berat uterus 50 gr. (Mochtar,

1998 : 115)

b.      Lochia

Lochia adalah cairan sekret yang berasal dari cavum uteri dan vagina dalam masa nifas.

Macam-macam Lochia :

1)      Lochia Rubra ( Cruenta ) : Berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban , sel-sel desidua,

verniks kaseosa, lanugo, dan mekonium, selama 2 hari post partum.

2)      Lochia Sanguinolenta : Berwarna merah kuning berisi darah dan lendir, hari 3-7 post partum.

3)      Lochia Serosa : Berwarna kuning, cairan tidak darah lagi, pada hari ke 7-14 post partum.

4)      Lochia Alba : Cairan putih, setelah 2 minggu.

5)      Lochia Purulenta : Terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau busuk.

6)      Lochiastasis: Lochia tidak lancar keluarnya. (Mochtar, 1998 : 116)

c.       Serviks
Serviks mengalami involusi bersama-sama uterus. Setelah persalinan, ostium eksterna

dapat dimasuki oleh 2 hingga 3 jari tangan, setelah 6 minggu persalinan serviks menutup.

d.      Vulva dan Vagina

Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang sangat besar selama

proses melahirkan bayi, dan dalam beberapa hari pertama sesudah proses tersebut, kedua organ

ini tetap berada dalam keadaan kendur. Setelah 3 minggu vulva dan vagina kembali kepada

keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina secara berangsur-angsur akan muncul kembali

sementara labia menjadi lebih menonjol.

e.       Perineum

Segera setelah melahirkan, perineum menjadi kendur karena sebelumnya teregang oleh

tekanan kepala bayi yang bergerak maju. Pada post natal hari ke 5, Perineum sudah mendapatkan

kembali sebagian besar tonusnya sekalipun tetap kendur dari pada keadaan sebelum melahirkan.

f.       Payudara

Perubahan pada payudara dapat meliputi :

1)      Penurunan kadar progesterone secara tepat dengan peningkatan hormone prolaktin setelah

persalinan.

2)      Kolostrum sudah ada saat persalinan. Produksi ASI terjadi pada hari ke-2 atau hari ke-3 setelah

persalinan.

3)      Payudara menjadi besar dan keras sebagai tanda mulainya proses laktasi.

           2.      Sistem Perkemihan

Buang air kecil sering sulit selama 24 jam pertama. Urin dalam jumlah yang besar akan

dihasilkan dalam waktu 12-36 jam sesudah melahirkan. Setelah plasenta dilahirkan, kadar
hormon estrogen yang bersifat menahan air akan mengalami penurunan yang mencolok.

Keadaan ini menyebabkan diuresis. Ureter yang berdilatasi akan kembali normal dalam tempo 6

minggu.

           3.      Sistem Kardiovaskuler

Setelah terjadi diuresis yang mencolok akibat penurunan kadar estrogen, volume darah

kembali kapada keadaan tidak hamil. Jumlah sel darah merah dan haemoglobin kembali normal

pada hari ke-5. Meskipun kadar estrogen mengalami penurunan yang sangat besar selama masa

nifas, namun kadarnya masih tetap lebih tinggi daripada normal. Plasma darah tidak begitu

mengandung cairan dan dengan demikian daya koagulasi meningkat. Pembekuan darah harus

dicegah dengan penangan yang cermat dan penekanan pada ambulansi dini.

           4.      Sistem Gastrointestinal / Pencernaan

Beberapa wanita mengalami konstipasi pada masa nifas, dikarenakan kurangnya

makanan berserat selama proses persalinana dan adanya rasa takut dari ibu karena perineum

sakit, terutama jika terdapat luka perineum. Namaun kebanyakan kasus sembuh secara spontan,

dengan adanya ambulasi dini dan dengan mengonsumsi makanan yang berserat. Jika tidak, dapat

diberikan supositoria biskodil per rektal untuk melunakan tinja. Defakasi harus terjadi dalam 3

hari post partum.

 D.    Penanganan Asuhan Masa Nifas Normal

            1.      Mobilisasi

Kini perawatan puerperium lebih aktif dengan menganjurkan ibu nifas untuk melakukan

mobilisasi dini ( early mobilization ), hal ini mempunyai keuntungan yaitu :

a.       Memperlancar pengeluaran lochia


b.      Mempercepat involusi

c.       Melancarkan fungsi alat gastroinstensinal dan alat perkemihan.

d.      Meningkatkan kelancaran peredaran darah, sehingga mempercepat fungsi ASI dan pengeluaran

sisa metabolisme.

           2.      Kebersihan Diri

a.       Anjurkan kebersihan seluruh tubuh / personal hygiene

b.      Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air. Pastikan ibu

mengerti untuk membersihkan daerah sekitar vulva terlebih dahulu. Dari depan ke belakang,

baru membersihkan daerah anus. Nasehatkan ibu untuk membersuhkan diri setiap kali selesai

buang air kecil atau besar.

c.       Sarankan ibu untuk mengganti pembalut minimal dua kali sehari

d.      Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan

daerah kelaminnya.

e.       Kurang istirahat akan berpengaruh terhadap ibu, yaitu : mengurangi jumlah ASI yang

diproduksi, menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan diri sendiri.

           3.      Istirahat

a.       Anjurkan ibu untuk beristiraht cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan.

b.      Sarankan ibu untuk kembali ke kegiatan-kegiatan rumah tangga biasa secara perlahan-lahan,

serta tidur siang atau beristiraht selama bayi tidur.

            4.      Gizi

a.       Mengkonsumsi tambahan 500 kalori setiap hari

b.      Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan vitamin yang cukup.

c.       Minum sedikitnya 3 liter air setiap harinya ( anjurkan ibu untuk minum setiap kali menyusui)
d.      Tablet Fe harus diminum untuk menambah gizi setidaknya 40 hari pasca bersalin, minum kapsul

vitamin A (200.000 ) unit, agar memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI.

           5.      Senam Nifas

Senam nifas dilakukan untuk memperlancar sirkulasi drah dan mengembalikan otot-otot

yang kendur, terutama rahim dan perut yang memuai saat hamil. (Sarwono, 1999 : 25)

Latihan senam nifas dapat diberikan mulai hari kedua misalnya:

a.       Ibu telentang lalu kedua kak ditekuk, kedua tangan ditaruh diatas dan menekan perut. Lakukan

pernapasan dada dan pernapasan perut.

b.      Dengan posis yang sama, angkat bokong lalu taruh kembali

c.       Kedua kaki diluruskan dan disilangkan, lalu kencangkan otot seperti menahan miksi dan

defakasi

d.      Duduklah pada kursi, perlahan bungkukkan badan sambil tangan berusaha menyentuh tumit.

(Ambarwati, 2008: 318)

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Masa nifas atau puerpurium merupakan suatu yang normal dan setiap saat dapat berubah

menjadi abnormal. Dengan pencegahan yang semaksimal mungkin saat kehamilan,persalinan

dan nifas,keadaan yang abnormal dapat ditekan seminimal mungkin.Untuk itu sangat diperlukan

sekali penyebaran informasi dan kesadaran bagi ibu hamil dan keluarga untuk melakukan ANC
( antenatal care ) secara rutin,dan melakukan persalinan pada tenaga kesehatan, baik dokter

ataupun bidan.

B.     Saran

Tenaga kesehatan terutama bidan diharapkan dapat mengetahui dan mengerti tentang

asuhan pada ibu nifas sehingga dapat memberikan pelayanan seoptimal mungkin pada setiap ibu

postpartum agar keadaan ibu dan janin tetap baik.

DAFTAR PUSTAKA 

Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia.

Mochtar, 1990. Obstetri Fisiologi (kin Obstetri Patologi, Jilid I, Edisi 2, EGC, Jakarta.

Mochtar, 1998. Sinopsis Obstetri, Obstetri Operatif, Obstetri Sosial, EGC, Jakarta.

Saifudin, Abdul Bari Dkk, 2000, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonata.

Yayasan Bidan Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta

Sarwono, 1999. Ilmu Kebidanan, Edisi 111, Cetakan 4, YBS — SP.