Anda di halaman 1dari 14

LABORATORIUM MOTOR BAKAR

PEMBAHASAN

Percobaan Motor Diesel (Putaran Konstan)

1. Analisa Grafik Torsi vs Daya Kuda Efektif (BHP)

Torsi vs BHP
8

5
BHP (kW)

0
13 17 22 33 38 46
Torsi (Nm)

Grafik 1. Torsi vs Daya Kuda Efektif

Grafik diatas menunjukkan perbandingan nilai antara torsi dengan nilai


Brake Horse Power BHP. Dari grafik dapat dilihat bahwa nilai BHP mengalami
kenaikan yang signifikan. Nilai BHP dari torsi 13 Nm sampai 46 Nm mengalami
kenaikan yang konstan. Nilai BHP terendah pada torsi 13 Nm yaitu 2,1 kW
sedangkan nilai BHP tertinggi pada torsi 46 Nm yaitu 7,4 kW.

Dapat disimpulkan dari grafik ini Nilai torsi berbanding lurus dengan nilai
BHP. Semakin tinggi torsi suatu mesin maka semakin tinggi pula brake horse
power mesin tersebut.

Fachrul Rasyidin Kadir Thalib / D21116301 Internal Combustion Engine [113]


LABORATORIUM MOTOR BAKAR

2. Analisa Grafik Torsi vs Konsumsi Bahan Bakar (FC)

Torsi vs FC
3

2.5

2
FC (kg/h)

1.5

0.5

0
13 17 22 33 38 46
Torsi (Nm)

Grafik 2. Torsi vs Konsumsi Bahan Bakar


Grafik diatas menunjukkan hubungan antara torsi dengan nilai konsumsi
bahan bakar FC (kg/h). Dari grafik dapat dilihat bahwa nilai konsumsi bahan
bakar akan semakin meningkat seiring dengan peningkatan torsi. Semakin tinggi
torsi maka nilai konsumsi bahan bakar akan semakin besar. Pada torsi 13 Nm
nilai konsumsi bahan bakar didapat 1,06 kg/h, sedangkan konsumsi bahan bakar
tertinggi didapat pada torsi 46 Nm yaitu 2,53 kg/h.

Dari grafik dapat disimpulkan bahwa nilai konsumsi bahan bakar sangat
tergantung pada torsi, semakin tinggi torsi mesin maka semakin banyak pula
bahan bakar yang dibutuhkan.

Fachrul Rasyidin Kadir Thalib / D21116301 Internal Combustion Engine [114]


LABORATORIUM MOTOR BAKAR

3. Analisa Grafik Torsi vs Konsumsi Bahan Bakar Spesifik (SFC)

Torsi vs SFC
0.6

0.5

0.4
SFC (kg/kWh)

0.3

0.2

0.1

0
13 17 22 33 38 46
Torsi (Nm)

Grafik 3. Torsi vs Konsumsi Bahan Bakar Spesifik

Dari data yang kami dapatkan antara torsi dengan konsumsi bahan bakar
spesifik (SFC) Terbentuk grafik diatas, ,Dari grafik dapat dilihat bahwa nilai SFC
mengalami penurunan terhadap meningkatnya nilai torsi. Semakin besar nilai torsi
maka nilai SFC akan semakin rendah, atau dapat dikatakan bahwa nilai torsi
berbanding terbalik dengan nilai konsumsi bahan bakar spesifik.

Fachrul Rasyidin Kadir Thalib / D21116301 Internal Combustion Engine [115]


LABORATORIUM MOTOR BAKAR

4. Analisa Grafik Torsi vs Tekanan Efektif Rata-Rata (MEP)

Torsi vs MEP
350

300

250
MEP (kPa)

200

150

100

50

0
13 17 22 33 38 46
Torsi (Nm)

Grafik 4. Torsi vs Tekanan Efektif Rata-Rata

Grafik diatas menunjukkan hubungan antara torsi dengan nilai tekanan


efektif rata-rata MEP. Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan
terhadap MEP akibat dari kenaikan torsi yang terjadi. Nilai MEP yang didapat
pada torsi terendah 13 Nm adalah 92,5 kPa, sedangkan untuk kenaikan yang
paling tinggi diperoleh pada torsi 46 Nm yaitu 327,6 kPa. Hal yang
mempengaruhi peningkatan tekanan efektif rata rata adalah nilai torsi sendiri.
Torsi yang tinggi akan memberikan tekanan yang semakin tinggi pula. Kenaikan
torsi berbanding lurus dengan nilai tekanan efektif rata-rata.

Fachrul Rasyidin Kadir Thalib / D21116301 Internal Combustion Engine [116]


LABORATORIUM MOTOR BAKAR

5. Analisa Grafik Torsi vs Massa Jenis Udara (ρ)

Torsi vs ρ
1.13

1.13

1.13

1.12
ρ (kg/m3)

1.12

1.12

1.12

1.12

1.12
13 17 22 33 38 46
Torsi (Nm)

Grafik 5. Torsi vs Massa Jenis Udara

Pada grafik diatas menunjukkan hubungan antara nilai Torsi terhadap nilai
massa jenis udara. Pada grafik diatas dapat kita lihat bahwa terjadi penurunan nilai
massa jenis udara saat nilai torsi semakin meningkat. Semakin tinggi nilai torsi
yang didapat maka nilai massa jenis udara akan semakin rendah, atau dapat
dikatakan bahwa nilai Torsi berbanding terbalik dengan nilai massa jenis udara
walaupun penurunannya tidak signifikan. Nilai massa jenis udara yang didapat
pada torsi 13 Nm adalah 1,125 menjadi 1,123 kg/h pada torsi 46 Nm.

Fachrul Rasyidin Kadir Thalib / D21116301 Internal Combustion Engine [117]


LABORATORIUM MOTOR BAKAR

6. Analisa Grafik Torsi vs Laju Aliran Massa Aktual (Maact)

Torsi vs Maact
68

67

66

65
Maact (kg/h)

64

63

62

61

60
13 17 22 33 38 46
Torsi (Nm)

Grafik 6. Torsi vs Laju Aliran Massa Aktual

Pada grafik diatas menjukkan hubungan antara nilai torsi terhadap nilai laju
aliran massa secara actual , MAact. Grafik diatas menunjukkan terjadinya
peningkatan yang konstan pada nilai MAact, hal ini dipengaruhi oleh nilai torsi
itu sendiri. Semakin tinggi torsi yang dihasilkan oleh suatu mesin maka nilai
MAact akan semakin tinggi. Pada data 1 sampai data ke 6 terjadi peningkatan
yang lumayan konstan. Nilai lajualiran massa terendah didapat pada torsi 13 Nm
yaitu 62,8 kg/h, sedangkan nilai tertinggi pada torsi 46 Nm yaitu 66,8 kg/h.

Fachrul Rasyidin Kadir Thalib / D21116301 Internal Combustion Engine [118]


LABORATORIUM MOTOR BAKAR

7. Analisa Grafik Torsi vs Laju Aliran Massa Teoritis (Mth)

Torsi vs Mth
92.35

92.3

92.25
Mth (kg/h)

92.2

92.15

92.1

92.05
13 17 22 33 38 46
Torsi (Nm)

Grafik 7. Torsi vs Laju Aliran Massa Teoritis

Pada grafik diatas menunjukkan hubungan antara nilai Torsi terhadap nilai
laju aliran massa secara teoritis MTH. Pada grafik diatas dapat kita lihat bahwa
terjadi penurunan nilai MTH saat nilai torsi semakin meningkat. Semakin tinggi
nilai torsi yang didapat maka nilai MTH akan semakin rendah, atau dapat dikatan
bahwa nilai Torsi berbanding terbalik dengan nilai MTH walaupun penurunannya
tidak signifikan. Nilai MTH yang didapat pada torsi 13 Nm adalah 92,33 kg/hr
menjadi 92,16 kg/h pada torsi 46 Nm. Adanya data MTH yang konstan
ditunjukkan pada data kedua dan ketiga, begitupun data ketiga, keempat dan
kelima.

Fachrul Rasyidin Kadir Thalib / D21116301 Internal Combustion Engine [119]


LABORATORIUM MOTOR BAKAR

8. Analisa Grafik Torsi vs Perbandingan Udara Bahan Bakar (AFRact)

Torsi vs AFRact
70

60

50

40
AFRact

30

20

10

0
13 17 22 33 38 46
Torsi (Nm)

Grafik 8. Torsi vs Perbandingan Udara Bahan Bakar

Grafik diatas menunjukkan hubungan anatar nilai Torsi dengan nilai


perbandingan udara-bahan bakar secara actual AFRact. Dari data diatas dapat
dilihat bahwa terjadi penurunan nilai AFRact. Semakin tinggi nilai torsi yang
didapat maka nilai AFRact akan semakin rendah, atau dapat dikatan bahwa nilai
AFRact berbanding terbalik terhadap torsi. Pada torsi 13 Nm didapat AFRact
sebesar 59,3 sampai pada torsi 46 Nm dengan nilai AFRact 26,1. Hal ini
dipengaruhi oleh jenis mesinnya yaitu mesin diesel dengan pemasukan udara yang
konstan. Jadi semakin tinggi torsi maka pencampuran bahan bakar dan udara akan
kurang stabil.

Fachrul Rasyidin Kadir Thalib / D21116301 Internal Combustion Engine [120]


LABORATORIUM MOTOR BAKAR

9. Analisa Grafik Torsi vs Faktor Kelebihan Udara (α)

Torsi vs α
4.5
4
3.5
3
2.5
α

2
1.5
1
0.5
0
13 17 22 33 38 46
Torsi (Nm)

Grafik 9. Torsi vs Faktor Kelebihan Udara

Pada grafik diatas menunjukkan hubungan antara nilai Torsi terhadap


factor kelebihan udara α yang dimana nilai α yang didapat semakin menurun.
Pada torsi 13 Nm nilai α yang didapat adalah 4,06 sampai 46 Nm nilai α yang
didapat 1,80. Semakin tinggi nilai torsi maka semakin rendah nilai factor
kelebihan udaranya. Pembakaran harus sesuai dengan jumlah udara yang
dibutuhkan, sementara ketika torsi semkain tinggi udara yang masuk akan tetap
konstan terhadap torsi yang kecil.

Fachrul Rasyidin Kadir Thalib / D21116301 Internal Combustion Engine [121]


LABORATORIUM MOTOR BAKAR

10. Analisa Grafik Torsi vs Efisiensi Volumetrik (ηvol)

Torsi vs ηvol
73

72

71

70
ηvol (%)

69

68

67

66

65
13 17 22 33 38 46
Torsi (Nm)

Grafik 10. Torsi vs Efisiensi Volumetrik

Pada grafik diatas menunjukkan perbandingan antara nilai torsi dengan nilai
efisiensi volumetric ηvol. Grafik diatas menunjukkan adanya perubahan nilai ηvol
yang konstan. Nilai efisiensi volumetric semakin meningkat akibat kenaikan torsi.
Nilai efisiensi volumetric tertinggi didapat pada torsi 46 Nm yaitu 72,5 % dan
nilai terendah pada torsi 13 Nm yaitu 68,07 %. Nilai torsi berbanding lurus
dengan efisienis volumetric.

Fachrul Rasyidin Kadir Thalib / D21116301 Internal Combustion Engine [122]


LABORATORIUM MOTOR BAKAR

11. Analisa Grafik Torsi vs Kalor Total (Qtot)

Torsi vs Qtot
35

30

25
Qtot (Kwatt)

20

15

10

0
13 17 22 33 38 46
Torsi (Nm)

Grafik 11. Torsi vs Kalor Total

Grafik diatas menunjukkan perbandingan antara nilai torsi dengan


kehilangan kalor akibat factor lain Qtoth. Dari grafik dapat dilihat bahwa nilai
Qtoth mengalami fluktuasi akibat kenaikan pada nilai torsi. Data pertama sampai
data keempat mengalami kenaikan sedangkan data ke lima mengalami penurunan
dan pada data keeenam mengalami peningkatan kembali.

Pada torsi 13 Nm nilai Qtoth yang didapat adalah 1,51 kW, nilai ini
merupakan nilai Qoth terendah yang didapat. Sedangkan untuk nilai Qtoth
tertinggi yaitu terjadi pada torsi 46 Nm dengan 11,63 kW. Nilai torsi berbanding
lurus terhadap nilai Qtoth. Semakin tinggi torsi maka semakin tinggi nilai kalor
yang hilang akibat factor lain.

Fachrul Rasyidin Kadir Thalib / D21116301 Internal Combustion Engine [123]


LABORATORIUM MOTOR BAKAR

12. Analisa Grafik Torsi vs Efisiensi Thermis (ηth)

Torsi vs ηth
30

25

20
ηth (%)

15

10

0
13 17 22 33 38 46
Torsi (Nm)

Grafik 12. Torsi vs Efisiensi Thermis

Pada grafik diatas menunjukka perbandingan antara nilai torsi dengan nilai
efisiensi thermal ηth. Grafik diatas menunjukkan adanya peningkatan pada nilai
efisiensi termal seiring kenaikan torsi. Meskipun tidak terlalu signifikan, kenaikan
terjadi cukup tinggi. Nilai efisiensi termal tertinggi didapat pada torsi 46 Nm
dengan nilai 24,8 % sedangkan untuk nilai efisiensi termal terendah terdapat pada
data pertama yatu 13 Nm dengan 16,7 %.

Nilai torsi berbanding lurus dengan nilai efisiensi termal, semkin tinggi nilai
torsinya maka semakin tinggi pula efisiensi termalnya.

Fachrul Rasyidin Kadir Thalib / D21116301 Internal Combustion Engine [124]


LABORATORIUM MOTOR BAKAR

13. Analisa Grafik Torsi vs Kehilangan Panas Akibat Faktor Lain (Qoth)

Torsi vs Qoth
14

12

10
Qoth (kWatt)

0
13 18 22 26 33 39
Torsi (Nm)

Grafik 13. Torsi vs Kehilangan Panas Akibat Faktor Lain

Grafik diatas menunjukkan perbandingan antara nilai torsi dengan


kehilangan kalor akibat faktor lain Qoth. Dari grafik dapat dilihat bahwa nilai
Qoth mengalami kenaikan akibat kenaikan pada nilai torsi. Pada torsi 13 Nm nilai
Qoth yang didapat adalah 1,514 kW, nilai ini merupakan nilai Qoth terendah yang
didapat. Sedangkan untuk nilai Qoth tertinggi yaitu terjadi pada torsi 39 Nm
dengan 11,631 kW. Nilai torsi berbanding lurus terhadap nilai Qoth. Semakin
tinggi torsi maka semakin tinggi pula nilai kalor yang hilang akibat faktor lain.

Fachrul Rasyidin Kadir Thalib / D21116301 Internal Combustion Engine [125]


LABORATORIUM MOTOR BAKAR

14. Analisa Grafik Torsi vs Efisiensi Mekanis (ηmek)

Torsi vs ηmek
90
80
70
60
ηmek (%)

50
40
30
20
10
0
13 17 22 33 38 46
Torsi (Nm)

Grafik 14. Torsi vs Efisiensi Mekanis

Grafik diatas menunjukkan perbandingan nilai antara torsi dengan nilai


efisiensi mekanis ηmek. Nilai efisiensi mekanis pada grafik diatas mengalami
penurunan seiring dengan kenaikan torsi. Pada torsi 13 Nm nilai efisiensi mekanis
yang didapat adalah 85,01 %, sedangkan untuk torsi tertinggi yaitu pada 46 Nm
nilai efisiensi mekanis yang di dapat adalah 35,57 %.

Nilai efisiensi mekanis dipengaruhi oleh putaran mesin dan torsi. Semakin
tinggi torsi maka semakin rendah pula nilai efisiensi mekanisnya. Nilai torsi
berbanding terbalik dengan efisiensi mekanisnya.

Fachrul Rasyidin Kadir Thalib / D21116301 Internal Combustion Engine [126]