Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Istilah sintaksis berasal dari bahasa Yunani (sun + tattein ) yang berarti
mengatur bersama-sama (Verhaar dalam Markhamah, 2009:5). Chaer
(2009:3) menjelaskan bahwa analisis sintaksis membicarakan penataan
dan pengaturan kata-kata itu dalam satuan-satuan yang lebih besar, yang
disebut satuan-satuan sintaksis, yakni kata, frasa, klausa, dan wacana.
Frasa ialah satuan sintaksis yang dibentuk dari dua buah kata atau lebih
dan hanya mengisi satu fungsi sintaksis di dalam kalimat (Ramlan,
2001:138). Frasa mempunyai beberapa variasi, sebagai pengisi fungsi-
fungsi sintaksis frasa-frasa juga mempunyai kategori. Frasa dapat
digolongkan berdasarkan distribusi dengan unsurnya yaitu, frasa
endosentris dan frasa eksosentris. Frasa endosentris dapat dibedakan
menjadi tiga golongan, yaitu frasa endosentrik yang koordinatif, frasa
endosentrik yang atributif, dan frasa endosentrik yang apositif.
Berdasarkan distribusi dengan kategori kata frasa dapat digolongkan
menjadi empat golongan, yaitu frase golongan N atau frasa nominal, frasa
golongan V atau frasa verbal, frasa golongan BIL atau frasa bilangan, frasa
golongan Ket atau frasa keterangan. Disamping itu, ada frase yang tidak
memiliki persamaan distribusi dengan kategori kata, ialah frasa depan
sehingga seluruhnya terdapat lima golongan frasa, ialah frasa nominal,
frasa verbal, frasa bilangan, frasa keterangan, dan frasa depan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka perumusan masalah dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Apa pengertian frasa?
2. Apa bentuk frasa berdasarkan distribusi?

1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Frase
Frasa adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang
tidak melampaui batas fungsi unsur klausa.
Frasa merupakan satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih.
Frasa merupakan satuan yang tidak melebihi batas fungsi unsur klausa,
maksudnya frasa itu selalu terdapat dalam satu fungsi unsur klausa,
yaitu S, P, O, PEL, atau KET (dapat menduduki satu fungsi sebagai S,
P, O, PEL, atau KET).
Misalnya:
a. Frasa sebagai fungsi Subjek : anak kecil yang mengenakan
kaos biru.
b. Frasa sebagai fungsi Predikat : sedang melukis
c. Frasa sebagai fungsi Objek : warna-warni pelangi
d. Frasa sebagai fungsi Keterangan: di tepi air terjun Tujuh
Bidadari.
Menurut Elson dan Pickett (1983), “A phrase is a unit pontentialy
composed of to of more words but which does not have te propositional
characteristic of a sentence”. ( sebuah frasa ialah satuan yang secara
potensial terdiri atas dua kata atau lebih yang tidak mempuanyai cirri-
ciriproposisi sebuah kalimat ).

B. Jenis-jenis frase
Tinjauan dari segi sifat hubungan kontituennya terbagi atas frase
endrosentris dan frase eksosentris, sedangkan tinjauan frase dari segu
gramatikalnya terbagi atas frasa nominal (FN), frase verbal (FV), frase
abjektifa (FA), frase numeral (FNum), dan frase adverbial (FAdv) sesuai
bentuk dan perilakunya. (Elson dan Pickett, 1983 ; Anderson, 1989 ;
Parera, 1991).

2
1. Jenis-jenis frase berdasarkan hubungan konstituennya
 Frase endosentris
Frase endosentris (endosentric pharase) ialah frase yang
keseluruhannya mempunyai perilaku sintaksis yang sama dengan
salah satu unsurnya. (Kridalaksana, 1984).
Frase endosentris dapat dibagi menjadi tiga golongan, yaitu:
 Frase endosentris koordinatif, Zaenal Arifin dan Junaiyah (2008),
frase koordinatif adalah frase endosentris berinduk banyak, yang
secara potensial komponennya dapat dihubungkan dengan
partikel dan, ke, atau, tetapi, ataupun konjungsikorelatif seperti
baik…maupun…makin…makin (Zainal Arifin dan Junaiyah
2008:25). Kategori frase koordintif sesuai dengan kategorinya
komponennya. Contoh: (a) kaya atau miskin, kaya ataupun
miskin, kaya dan miskin, dari, untuk, dan oleh rakyat, untuk dan
atas nama klien; (b) baik merah maupun biru, entah suka entah
tidak suka, makin pagi makin baik, makin tua makin bermutu.
Perhatikan bahwa kata yang dapatdigabungkan hanya kata yang
berkategori sama, seperti merah-biru, tua-bermutu, suka-(tidak)
suka, dan pagi-baik. Dn jika tidak menggunakan partikel,
gabungan itu disebut frase paraktatis, seperti tua muada, besar
kecil, hilir mudik, keluar masuk, pulang pergi, naik turun, makan
minum, ibu bapak, dan kaya miskin.
 Frase endosentris atributif, berbeda dengan endosentrik
koordinatif, Frasa endosentrik yang atributif terdiri dari unsur-
unsur yang tidak setara. Karena itu, unsur-unsurnya tidak
mungkin dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau.
Berikut beberapa hasil analisis. (a) Bukan warna cat atau cat
baru yang mengguyur sekujur tubuh dinding yang membuatnya
tersipu malu, melainkan usapan kuas. Bukan warna cat atau cat

3
(dan) baru yang mengguyur sekujur tubuh dinding yang
membuatnya tersipu malu, melainkan usapan kuas. Bukan warna
cat atau cat (atau) baru yang mengguyur sekujur tubuh dinding
yang membuatnya tersipu malu, melainkan usapan kuas.
 Frasa Endosentrik yang Apositif Frasa endosentrik yang apositif
unsur-unsurnya tidak dapat dihubungkan dengan kata
penghubung dan atau atau dan secara semantik unsur yang satu,
sama dengan unsur yang lain. Dengan kata lain, frasa endosentrik
yang apositif ialah frasa yang atributnya berupa aposisi atau
keterangan tambahan. Berikut beberapa hasil analisis. (a) Itu
kutahu dari Joko, teman mengajar Esti. Itu kutahu dari Joko itu
kutahu dari teman mengajar Esti. (b) Keprihatinan tersebut
diontarkan Kak Seto Mulyadi, dokter spesialis jiwa, dan
dialamatkan pada orang tua dalam mendidik anak-anaknya.
Keprihatinan tersebut diontarkan Kak Seto Mulyadi dan
dialamatkan pada orang tua dalam mendidik anak-anaknya.
Keprihatinan tersebut diontarkan dokter spesialis jiwa, dan
dialamatkan pada orang tua dalam mendidik anak-anaknya.
 Frasa eksosentris
Frasa eksosentrik tidak mempunyai distribusi yang sama dengan
semua unsurnya. Karena hubungan kedua unsurnya sangat erat,
sehingga kedua unsurnya tidak bisa dipisahkan sebagai pengisi
fungsi sintaksis. Berikut beberapa hasil analisis. (a) Kapal dapat
meluncur dengan mulus sekalipun di laut. Kapal dapat meluncur
dengan mulus sekalipun di Kapal dapat meluncur dengan mulus
sekalipun laut. (b) Sambil beranjak dari pembaringan. Sambil
beranjak dari sambil beranjak pembaringan.
2. Berdasarkan distribusi dengan kategori kata, menurut Ramlan (2001:
126148) dapat dibagi menjadi empat, yaitu frasa nominal, frasa verbal,
frasa bilangan, dan frasa keterangan. Di samping itu ada frasa yang

4
tidak mempunyai distribusi yang sama dengan kategori kata yaitu frasa
depan. Adapun penjelasannya sebagai berikut.
 Frasa nominal atau frasa golongan N memiliki distribusi yang
sama dengan kata nominal atau golongan N. Berikut beberapa hasil
analisis.
- 0 20 40 60
- 57,4
- 35,4
- 4,2 2,9
- Jumlah
- Distribusi Unsurnya
- Grafik Frasa Berdasarkan Unsurnya

 Frasa verbal atau frasa golongan V mempunyai distribusi yang


sama dengan kata golongan V. Berikut beberapa hasil analisis. (a)
Kukatakan kalau aku memang sedang sakit. (b) Sisa tim PBB yang
lain telah mengunjungi sejumlah provinsi. (c) Namun, pada waktu
meluncur dengan kecepatan tinggi, air akan membelok dari
permukaan bagian atas foil, seperti udara membelok dari
permukaan bagian atas foil.
 Frasa Bilangan Frasa bilangan atau frasa golongan Bil mempunyai
distribusi yang sama dengan kata bilangan. Berikut beberapa hasil
analisis. (a) Menjelang tahun 1945 sembilan jenis hidrofoil yang
berbeda dengan bobot antara kurang dari 1 sampai 55 metrik ton
telah dibangun dan diujicobakan.
 Frasa keterangan atau frasa golongan Ket mempunyai distribusi
yang sama dengan kata keterangan, ialah kata yang mempunyai
kecenderungan menduduki fungsi KET dalam klausa. Sejumlah
kata keterangan, antara lain: kemarin, tadi, nanti, besok, sekarang.
Jumlah frasa keterangan tidak banyak karena jumlah kata

5
keterangan juga terbatas. Dari pengamatan terhadap bahasa
Indonesia hanya diperoleh enam kata keterangan, ialah kemarin,
tadi, nanti, besok, lusa, dan sekarang. Berikut beberapa hasil
analisis. (a) Tadi siang aku memang kedatangan tamu sahabat
lama suamiku, Ali, waktu bertugas di daerah lereng gunung,
sebelum dia pindah di kota kabupaten ini.
 Frasa depan diawali oleh kata depan sebagai penanda, diikuti oleh
kata atau frasa golongan N, V, Bil, atau Ket sebagai petanda atau
aksinya. Kata depan menandai berbagai hubungan makna. Berikut
beberapa hasil analisis.(a) Sampai malam, aku lebih memilih tidur
sendiri di kamar depan. (b) Karya-karya ilmiahnya di bidang
reproduksi manusia yang mencapai 40 publikasi jurnal
membuahkan gelar “Guru Besar Reproduksi Manusia” di
Universitas Roma.

6
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Istilah sintaksis berasal dari bahasa Yunani (sun + tattein ) yang berarti
mengatur bersama-sama (Verhaar dalam Markhamah, 2009:5). Chaer
(2009:3) menjelaskan bahwa analisis sintaksis membicarakan penataan
dan pengaturan kata-kata itu dalam satuan-satuan yang lebih besar, yang
disebut satuan-satuan sintaksis, yakni kata, frasa, klausa, dan wacana.
Frasa ialah satuan sintaksis yang dibentuk dari dua buah kata atau lebih
dan hanya mengisi satu fungsi sintaksis di dalam kalimat (Ramlan,
2001:138)
Frasa adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang
tidak melampaui batas fungsi unsur klausa.
Frasa merupakan satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih.
Frasa merupakan satuan yang tidak melebihi batas fungsi unsur klausa,
maksudnya frasa itu selalu terdapat dalam satu fungsi unsur klausa,
yaitu S, P, O, PEL, atau KET (dapat menduduki satu fungsi sebagai S,
P, O, PEL, atau KET).
Misalnya:
a. Frasa sebagai fungsi Subjek : anak kecil yang mengenakan kaos
biru.
b. Frasa sebagai fungsi Predikat : sedang melukis

7
c. Frasa sebagai fungsi Objek : warna-warni pelangi
d. Frasa sebagai fungsi Keterangan: di tepi air terjun Tujuh Bidadari.

DAFTAR PUSTAKA

file:///E:/Kumpulan%20Makalah%20dan
%20PPT/11._JURNAL_PUBLIKASI.pdf
file:///E:/Kumpulan%20Makalah%20dan%20PPT/modul-frasa-1.pdf

Ramlan. 2005. Sintaksis. Yogyakarta: CV Karyono.