Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah

Pengauditan 1

Dosen Pengampu : Yulida Army Nurcahya, S.E., M.Acc.

Disusun Oleh :

1. Annisa Rahma Fadhila (1710104003)


2. Fibri Yuliani (1710104007)
3. Annisa Kurnia Nur A (1710104019)
4. Rizka Amalia Saadah (1710104067)

S1 AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS TIDAR
2019
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang mana telah memberikan kami
kekuatan serta kelancaran dalam menyelesaikan makalah mata kuliah Pengauditan 1 yang
berjudul “Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif” dapat selesai seperti waktu
yang telah kami rencanakan. Tersusunnya makalah ini tentunya tidak lepas dari peran serta
berbagai pihak yang telah memberikan bantuan secara materil dan spiritual, baik secara
langsung maupun tidak langsung. Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang
membalas budi baik yang tulus dan ihklas kepada semua pihak yang telah membantu dalam
proses pembuatan makalah ini. 

Untuk itu kami menyadari bahwa makalah yang telah kami susun dan kami kemas
masih memiliki banyak kelemahan serta kekurangan-kekurangan baik dari segi teknis
maupun non-teknis. Untuk itu penulis membuka pintu yang selebar-lebarnya kepada semua
pihak agar dapat memberikan saran dan kritik yang membangun demi penyempurnaan
penulisan-penulisan mendatang. Dan apabila di dalam makalah ini terdapat hal-hal yang
dianggap tidak berkenan di hati pembaca mohon dimaafkan.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Magelang, 09 Juni 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................................i

DAFTAR ISI..............................................................................................................................ii

BAB I.........................................................................................................................................1

PENDAHULUAN......................................................................................................................1

1.1 Latar Belakang.............................................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................................1

1.3 Tujuan Penulisan.........................................................................................................2

BAB II........................................................................................................................................4

PEMBAHASAN........................................................................................................................4

2.1 Pengantar.....................................................................................................................4

2.2 Metodologi Untuk Memenuhi Standar Pekerjaan Lapangan Kedua Dan Ketiga.......5

2.3 Primarily Substantive Approach..................................................................................5

2.4 Lower Assessed Level Of Control Risk Approach.....................................................7

2.5 Pengujian Pengendalian...............................................................................................9

2.6 Tipe Pengujian Pengendalian......................................................................................9

2.7 Prosedur Untuk Melaksanakan Pengujian Pengendalian............................................9

2.8 Lingkup Pengujian Pengendalian..............................................................................11

2.9 Penentuan Saat Pelaksanaan Pengujian Pengendalian..............................................11

2.10 Penentuan Risiko Pengendalian................................................................................11

2.11 Penentuan Risiko Deteksi..........................................................................................12

2.12 Perancangan Pengujian Substantif............................................................................12

2.13 Prosedur Untuk Melaksanakan Pengujian Substantif................................................12

2.14 Sifat Atau Jenis Pengujian Substantif........................................................................13

2.15 Penentuan Saat Pelaksanaan Pengujian Substantif....................................................15

ii
2.16 Luas Pengujian Substantif.........................................................................................15

2.17 Dual Purpose Test......................................................................................................16

BAB III.....................................................................................................................................17

PENUTUP................................................................................................................................17

3.1 Kesimpulan................................................................................................................17

3.2 Saran..........................................................................................................................18

DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................19

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Auditor merupakan suatu proses yang sistematis untuk memperoleh dan
mengevaluasi bukti secara objektif yang berhubungan dengan asersi-asersi tentang
tindakan-tindakan dan peristiwa-peristiwa ekonomi untuk menentukan tingkat
kesesuaian antara asersi-asersi tersebut dan kriteria yang ditetapkan, serta
mengkomunikasikan hasilnya kepada pengguna informasi tersebut. Prosedur yang
di arahkan terhadap efektifitas desain maupun operasi pengendalian disebut
dengan pengujian pengendalian. Pengendalian yang telah diidentifikasikan auditor
dalam penetapan sebagai pengurang risiko pengendalian harus didukung oleh
pengujian atas pengendalian untuk menjamin bahwa pengendalian telah
dilaksanakan dengan efektif dalam keseluruhan atau sebagai periode audit.

Pengujian ini untuk mendapat bukti audit seperti ini biasanya meliputi
prosedur permintaan keterangan dari pegawai entitas yang semestinya, inspeksi
atas dokumen, dan laporan, serta pengamatan terhadap penerapan pegendalian
internnya kompleks, auditor harus mempertimbangkan penggunaan bagan arus
untuk memudahkan penerapan pengujian atas desain. Pengujian substantif
meliputi prosedur-prosedur audit yang dirancang untuk mendeteksi monetary
errors atau salah saji.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana metodologi untuk memenuhi standar pekerjaan lapangan
kedua dan ketiga?
2. Bagaimana pendekatan yang digunakan primarily substantif approach?

1
3. Bagaimana pendekatan yang digunakan lower assessed level of control
risk approach?
4. Bagaimana cara pengujian pengendalian?
5. Apa saja tipe pengujian pengendalian?
6. Bagaimana prosedur untuk melaksanakan pengujian pengendalian?
7. Bagaimana lingkup pengujian pengendalian?
8. Bagaimana cara penentuan saat pelaksanaan pengujian pengendalian?
9. Bagaimana cara penentuan risiko pengendalian?
10. Bagaimana cara penentuan risiko deteksi?
11. Bagaimana perancangan pengujian substantif ?
12. Bagaimana prosedur untuk melaksanakan pengujian substantif?
13. Apa saja sifat dan jenis pengujian substantif?
14. Bagaiaman cara penentuan saat pelaksanaan pengujian substantif?
15. Apa saja yang ada dalam luas pengujian substantif ?
16. Apa yang dimaksud dengan dual purpose test?

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini
adalah:
1. Untuk mengetahui bagaimana metodologi untuk memenuhi standar
pekerjaan lapangan kedua dan ketiga.
2. Untuk mengetahui bagaimana pendekatan yang digunakan primarily
substantif approach.
3. Untuk mengetahui bagaimana pendekatan yang digunakan lower assessed
level of control risk approach.
4. Untuk mengetahui bagaimana cara pengujian pengendalian.
5. Untuk mengetahui apa saja tipe pengujian pengendalian.
6. Untuk mengetahui bagaimana prosedur untuk melaksanakan pengujian
pengendalian.
7. Untuk mengetahui bagaimana lingkup pengujian pengendalian.

2
8. Untuk mengetahui bagaimana cara penentuan saat pelaksanaan pengujian
pengendalian.
9. Untuk mengetahui bagaimana cara penentuan risiko pengendalian.
10. Untuk mengetahui bagaimana cara penentuan risiko deteksi
11. Untuk mengetahui bagaimana perancangan pengujian substantif .
12. Untuk mengetahui bagaimana prosedur untuk melaksanakan pengujian
substantif.
13. Untuk mengetahui apa saja sifat dan jenis pengujian substantif.
14. Untuk mengetahui bagaiaman cara penentuan saat pelaksanaan pengujian
substantif.
15. Untuk mengetahui apa saja yang ada dalam luas pengujian substantif .
16. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan dual purpose test.

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengantar
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dalam Standar Profesional Akuntan
Publik-nya (bagian standar pekerjaan lapangan kedua) menyatakan bahwa :
“Pemahaman yang memadai atas struktur pengendalian intern harus diperoleh
untuk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian
yang dilakukan”. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa auditor perlu
melakukan prosedur audit yang meliputi prosedur-prosedur untuk memperoleh
pemahaman suatu struktur pengendalian intern.

Selanjutnya, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) (pada bagian standar


pekerjaan lapangan ketiga) menyatakan bahwa : “Bukti audit kompeten yang
cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, pengajuan pertanyaan, dan
konfirmasi sebagai dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat atas
laporan keuangan auditan”. Dari pernyataan tersebut dapat ditarik kesimpulan
bahwa auditor harus menghimpun bukti audit yang kompeten sebagai dasar yang
memadai untuk menyatakan pendapat auditor tentang kewajaran suatu laporan
keuangan.

Untuk memudahkan auditor menghimpun bukti audit yang kompeten,


auditor dapat melakukan penerapan prosedur auditing. Pemilihan prosedur audit
yang akan digunakan auditor harus mempertimbangkan efektivitas potensial
prosedur dalam memenuhi tujuan spesifik audit dan biaya untuk
melaksanakannya.

Ada tiga prosedur audit, yaitu :

a. Prosedur untuk memperoleh pemahaman struktur pengendalian internal,

4
b. Prosedur audit untuk melaksanakan pengujian pengendalian,
c. Prosedur audit untuk melaksanakan pengujian substantif.

2.2 Metodologi Untuk Memenuhi Standar Pekerjaan Lapangan


Kedua Dan Ketiga
Dalam melakukan pemilihan alternatif strategi audit pendahuluan, auditor
mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut :

a. Planned assessed level of control risk


b. Luas pemahaman auditor terhadap struktur pengendalian intern yang
dihimpun.
c. Test of control yang dilaksanakan dalam menentukan risiko pengendalian.
d. Planned assessed level of substantive test yang dilaksanakan auditor untuk
mengurangi risiko audit pada tingkat serendah mungkin.

Pada bab 6, ada dua alternative strategi audit pendahuluan yang dapat
dipilih oleh auditor yaitu :

1. Primarily substantive approach.


2. Lower assessed level of control risk approach.

2.3 Primarily Substantive Approach


Pendekatan ini menggunakan asumsi bahwa auditor menganggap
efektivitas struktur pengendalian intern kurang dapat diandalkan, selain itu salah
saji tidak akan dapat dicegah atau dideteksi oleh struktur pengendalian intern
klien. Kemudian auditor melakukan pengujian apakah salah saji tersebut dapat
dicegah dan dideteksi oleh prosedur audit. Metodologi pemeriksaan yang
digunakan auditor dalam pendekatan pengutamaan pengujian primarily
substantive approach meliputi :

5
1. Menghimpun dan mendokumentasikan pemahaman struktur
pengendalian intern.
Pemahaman atas berbagai kebijakan dan prosedur struktur pengendalian
pada pendekatan pengutamaan pengujian substantif ini relatif lebih sedikit atau
lebih tidak/kurang diperlukan daripada pemahaman yang diperlukan pada
pendekatan lower assessed level of control risk.
2. Menetapkan risiko pengendalian berdasar pengujian pengendalian
yang dilakukan dalam menghimpun pemahaman struktur
pengendalian intern.
Auditor melakukan pengujian pengendalian untuk menentukan efektivitas
berbagai kebijakan dan prosedur pengendalian. Pengujian pemahaman yang
dilakukan saat menghimpun pemahaman struktur pengendalian intern klien sering
disebut dengan concurrent tests of controls. Berkaitan dengan hal ini ada dua
alternatif tindakan auditor, yaitu auditor tidak melakukan pengujian pengendalian
dalam menghimpun pemahaman struktur pengendalian intern dan auditor
melakukan pengujian pengendalian dalam menghimpun pemahaman struktur
pengendalian intern.
3. Menentukan kemungkinan dapat tidaknya dilakukan pengurangan
lebih lanjut terhadap tingkat resiko pengendalian yang telah
ditentukan.
Bukti yang dihimpun melalui pelaksanaan pengujian pengendalian dalam
menghimpun pemahaman struktur pengendalian intern, dapat mendukung
penetapan risiko pengendalian sedikit dibawah tingkat maksimum dengan
memodifikasi strategi audit pendahuluan.
4. Melaksanakan pengujian pengendalian tambahan untuk memperoleh
bukti tambahan mengenai efektivitas operasi.
Pengujian pengendalian tambahan ini biasanya dilaksanakan selama
pekerjaan interim. Pengujian tambahan ini seharusnya dapat menghasilkan
tambahan bukti yang memadai mengenai aktivitas kebijakan dan prosedur struktur
pengendalian.

6
5. Melakukan revisi atau menetapkan kembali risiko pengendalian
berdasar bukti tambahan.
Auditor dapat melakukan revisi atau menetapkan kembali risiko
pengendalian berdasar bukti tambahan yang diperoleh melalui pengujian
pengendalian tambahan. Auditor dapat menetapkan risiko pada tingkat moderat
atau rendah apabila harapan auditor terhadap hasil pengujian pengendalian
tambahan dapat terpenuhi.
6. Melakukan dokumentasi atas penetapan risiko pengendalian.
Pembuatan dokumentasi dilakukan dalam kertas kerja. Auditor cukup
mendokumentasikan kesimpulan penetapan risiko pengendalian apabila risiko
pengendalian ditetapkan pada tingkat maksimum. Auditor tidak perlu
mendokumentasikan dasar penetapan risiko pengendalian tersebut, dan
sebaliknya.
7. Menilai kemampuan tingkat risiko pengendalian yang ditetapkan
tersebut, untuk mendukung tingkat pengujian substantif yang
direncanakan.
Pengujian substantif yang direncanakan auditor harus mendukung
rendahnya tingkat risiko deteksi yang dapat diterima. Apabila tingkat risiko
pengendalian yang ditetapkan mendukung tingkat pengujian substantif yang
direncanakan, maka auditor dapat merancang pengujian substantif.
8. Merancang pengujian substantif.
Dalam merancang pengujian substantif, auditor harus mempertimbangkan
tiga hal yaitu sifat atau jenis pengujian pengendalian, penentuan waktu
pelaksanaan pengujian pengendalian, luas atau lingkup pengujian pengendalian.

2.4 Lower Assessed Level Of Control Risk Approach


Pendekatan ini menggunakan asumsi bahwa auditor menganggap
efektivitas struktur pengendalian intern dapat diandalkan. Struktur pengendalian
intern klien yang sangat efektif tersebut akan dapat mengurangi kemungkinan
terjadinya salah saji. Dalam pendekatan ini auditor lebih mengutamakan dan lebih

7
ekstensif menerapkan pengendalian daripada pengujian. Strategi ini lebih banyak
dipakai auditor dalam penugasan audit atas klien lama daripada penugasan audit
yang pertama kali atas klien baru. Metodologi pemeriksaan yang digunakan
auditor dalam pendekatan tingkat risiko pengendalian yang ditetapkan lebih
rendah meliputi :
1. Menghimpun dan mendokumentasikan pemahaman struktur
pengendalian intern.
Pemahaman atas berbagai kebijakan dan prosedur struktur pengendalian
pada umumnya lebih banyak dilakukan pada pendekatan lower assessed level of
control risk daripada pendekatan pengutamaan pengujian substantif.
2. Merencanakan dan melaksanakan pengujian pengendalian.
Pengujian pengendalian dilaksanakan pada saat, yaitu :
1. Selama pelaksanaan pekerjaan intern setelah memperoleh pemahaman
mengenai berbagai kebijakan dan prosedur struktur pengendalian yang
relevan.
2. Bersamaan dengan pelaksanaan prosedur untuk memperoleh
pemahaman mengenai berbagai kebijakan dan prosedur struktur
pengendalian yang relevan.
3. Menetapkan risiko pengendalian.
Penetapan risiko ini dilakukan setelah auditor memperoleh pemahaman
mengenai struktur pengendalian intern. Penetapan risiko pengendalian ini
dilakukan auditor berdasar bukti mengenai efektivitas operasi kebijakan dan
prosedur pengendalian klien.
4. Melakukan dokumentasi atas penetapan risiko pengendalian.
Auditor harus membuat dokumentasi atas penetapan risiko pengendalian
dalam kertas kerja. Auditor harus mendokumentasikan dasar penetapan risiko
pengendalian tersebut.
5. Melakukan penilaian terhadap kemampuan tingkat risiko
pengendalian yang telah ditetapkan tersebut, untuk mendukung
tingkat pengujian substantif yang direncanakan auditor.
6. Merancang pengujian substantif.

8
Dalam merancang pengujian substantif , auditor harus mempertimbangkan
tiga hal yaitu :
1. Sifat atau jenis pengujian pengendalian.
2. Penentuan waktu pelaksanaan pengujian pengendalian.
3. Luas atau lingkup pengujian pengendalian.

2.5 Pengujian Pengendalian


Pengujian pengendalian merupakan pengujian yang dilaksanakan terhadap
rancangan dan pelaksanaan suatu kebijakan atau prosedur struktur pengendalian
intern. Pengujian pengendalian ini memfokuskan diri pada tiga hal, yaitu :
1. Bagaimana pengendalian-pengendalian diterapkan?
2. Sudahkah diterapkan secara konsisten sepanjang tahun?
3. Siapa yang menerapkan pengujian pengendalian?

2.6 Tipe Pengujian Pengendalian


Ada dua tipe pengujian pengendalian yaitu :
a. Concurrent tests of control yaitu pengujian pengendalian yang
dilaksanakan auditor seiring dengan prosedur untuk memperoleh
pemahaman mengenai struktur pengendalian intern klien.
b. Pengujian pengendalian tambahan atau yang direncanakan (additional or
planned tests of control) yaitu pengujian yang dilaksanakan auditor selama
pekerjaan lapangan.

2.7 Prosedur Untuk Melaksanakan Pengujian Pengendalian


Ada empat prosedur untuk melaksanakan pengujian pengendalian yaitu :

1. Pengajuan Pertanyaan Kepada Para Karyawan Klien.


Pengajuan pertanyaan kepada para karyawan klien dilakukan berkaitan
dengan evaluasi atas kinerja tugas mereka. Pengajuan pertanyaan kepada para

9
karyawan klien pada umumnya tidak akan menghasilkan bukti yang kuat
mengenai efektivitas operasi pengendalian. Meskipun demikian, prosedur ini
kadang lebih tepat digunakan untuk suatu pemeriksaan daripada prosedur lainnya.
Auditor dapat menentukan pengendalian akses atau aktiva, dokumen, dan catatan
akuntansi klien melalui pengajuan pertanyaan pada karyawan klien.
2. Pengamatan Terhadap Karyawan Klien Dalam Melaksanakan
Tugasnya.
Auditor dapat melakukan observasi terutama terhadap pengendalian yang
tidak menghasilkan jejak bukti. Beberapa jenis kegiatan pengendalian tidak
meninggalkan jejak bukti. Prosedur selain observasi tidak akan efektif digunakan
untuk menilai kegiatan pengendalian tersebut. Contoh kegiatan pengendalian yang
tidak meninggalkan jejak bukti adalah pemisahan tugas yang mengandalkan
beberapa orang tertentu untuk melaksanakan tugas khusus.
3. Melakukan Inspeksi Dokumen, Catatan, Dan Laporan.

Audit dapat melakukan inspeksi terhadap dokumen, catatan, dan laporan


yang mengindikasikan kinerja pengendalian. Banyak kegiatan pengendalian yang
meninggalkan jejak bukti. Prosedur yang paling efektif untuk menilai kegiatan
pengendalian tersebut adalah inspeksi dokumen, catatan, dan laporan. Auditor
melakukan inspeksi terhadap dokumen, catatan, dan laporan, untuk memastikan
bahwa dokumen, catatan, dan laporan tersebut telah :

a. Lengkap,
b. Dibandingkan secara tepat dengan dokumen lain, dan
c. Ditandatangani sebagaimana mestinya.
4. Mengulang Kembali Pelaksanaan Pengendalian Oleh Auditor.
Ada beberapa kegiatan pengendalian yang meninggalkan jejak bukti yang
berupa dokumen, catatan, dan laporan, tetapi isinya kurang mencukupi untuk
menilai efektivitas operasi pengendalian. Prosedur yang paling efektif digunakan
untuk menilai kegiatan pengendalian tersebut adalah reperformance. Prosedur ini
cenderung merupakan pengujian untuk menilai akurasi mekanis kegiatan

10
pengendalian. Sebagai contoh adalah penilaian ketepatan pemakaian daftar harga
standar dalam menentukan harga jual barang dagangan.

2.8 Lingkup Pengujian Pengendalian


Luas pengujian pengendalian dipengaruhi langsung oleh tingkat risiko
pengendalian yang ditetapkan yang telah direncanakan oleh auditor. Semakin
rendah tingkat risiko pengendalian yang ditetapkan, semakin banyak bukti yang
diperlukan yang harus dihimpun.

Untuk klien lama, luas atau lingkup pengujian pengendalian dipengaruhi


juga oleh penggunaan bukti yang diperoleh pada pelaksanaan audit tahun
sebelumnya. Sebelum menggunakan bukti yang diperoleh pada pelaksanaan audit
tahun sebelumnya, auditor harus memastikan bahwa tidak ada perubahan yang
signifikan atas rancangan dan operasi berbagai kebijakan dan prosedur
pengendalian sejak pengujian pada pelaksanaan audit tahun sebelumnya.

2.9 Penentuan Saat Pelaksanaan Pengujian Pengendalian


Pengujian pengendalian dapat dilaksanakan pada dua saat, yaitu :

1. Selama pekerjaan interim.


2. Pada saat mendekati akhir tahun.
Auditor semestinya lebih mengutamakan pengujian pengendalian
mendekati akhir tahun. Idealnya, pengujian pengendalian dilaksanakan pada
keseluruhan periode tahun pembukuan yang diaudit.

2.10 Penentuan Risiko Pengendalian


Dalam menentukan risiko pengendalian, auditor perlu :

a. Mengidentifikasi salah saji potensial yang dapat terjadi untuk asersi


tersebut.

11
b. Mengidentifikasi pengendalian yang dapat mencegah atau mendeteksi
salah saji.
c. Menghimpun bukti dari pengujian pengendalian apakah rancangan dan
operasi pengendalian relevan adalah efektif.
d. Mengevaluasi bukti yang diperoleh.
e. Menentukan risiko pengendalian.

2.11 Penentuan Risiko Deteksi


Risiko deteksi tidak berkaitan langsung dengan kondisi klien. Risiko
deteksi merupakan fungsi efektivitas prosedur audit. Semakin efektif prosedur
audit yang diterapkan auditor semakin kecil risiko deteksi aktualnya. Auditor
mengendalikan risiko audit dengan cara mengendalikan risiko deteksi sesuai
dengan assessed level of inherent risk and control risk.

Risiko deteksi dapat ditekan atau diturunkan auditor dengan cara :

1. Melakukan perencanaan audit yang memadai,


2. Melakukan supervise atau pengawasan yang tepat,
3. Menerapkan prosedur audit secara efektif,
4. Menerapkan standar pengendalian mutu pemeriksaan.

2.12 Perancangan Pengujian Substantif


Auditor harus menghimpun bukti yang cukup untuk memperoleh dasar
yang memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan. Pengujian
substantif menyediakan bukti mengenai kewajaran setiap asersi laporan keuangan
yang signifikan. Perancangan pengujian substantif meliputi penentuan :

a. Sifat pengujian,
b. Waktu pengujian,
c. Luas pengujian substantive.

12
2.13 Prosedur Untuk Melaksanakan Pengujian Substantif
Ada delapan prosedur untuk melaksanakan pengujian substantif yaitu :

1. Pengajuan pertanyaan kepada para karyawan berkaitan dengan kinerja


tugas mereka.
2. Pengamatan atau observasi terhadap personil dalam melaksanakan tugas
mereka.
3. Menginspeksi dokumen dan catatan.
4. Melakukan penghitungan kembali.
5. Konfirmasi.
6. Analisis.
7. Tracing atau pengusutan.
8. Vouching atau penelusuran.

2.14 Sifat Atau Jenis Pengujian Substantif


Jika tingkat risiko deteksi yang dapat diterima adalah rendah maka auditor
harus menggunakan prosedur yang lebih efektif yang biasanya juga lebih mahal.
Tipe pengujian substantif yang dapat digunakan, yaitu :

a. Pengujian detail saldo


Pengujian detail saldo akun yang direncanakan harus cukup memadai
untuk memenuhi setiap tujuan spesifik audit dengan memuaskan. Metodologi
perancangan pengujian detail saldo meliputi empat tahapan, yaitu :
1. Menilai materialitas dan risiko bawaan suatu akun.
2. Menetapkan risiko pengendalian.
3. Merancang pengujian transaksi dan prosedur analitis.
4. Merancang pengujian detail saldo untuk memenuhi setiap tujuan
spesifik audit secara memuaskan.
Untuk melihat hubungan antara risiko deteksi dengan pengujian detail
saldo, berikut ini disajikan tabel.
Tabel Hubungan Risiko Deteksi dengan Pengujian Detail Saldo

13
Tingkat Risiko Langkah Pengujian Detail Saldo
Deteksi

Tinggi Scan rekonsiliasi bank yang dibuat klien dan verifikasi ketepatan
perhitungan matematisnya

Moderat Review rekonsiliasi bank yang dibuat klien dan verifikasi pada
sebagian besar item-itemnya.

Rendah Buatlah rekonsiliasi bank dan verifikasi item-item yang


direkonsiliasi tersebut

b. Pengujian detail transaksi


Pengujian detail transaksi dilakukan untuk menentukan :
a. Ketepatan autorisasi transaksi akuntansi klien.
b. Kebenaran pencatatan dan peringkasan transaksi tersebut dalam jurnal.
c. Kebenaran pelaksanaan posting atas transaksi tersebut ke dalam buku
besar dan buku pembantu.
Apabila auditor mempunyai keyakinan bahwa transaksi tersebut telah
dicatat dan diposting secara tepat, maka auditor dapat menyakini bahwa saldo
total buku besar adalah tepat. Pengujian detail transaksi terutama dilakukan
dengan tracing dan voucing. Auditor mengarahkan pengujiannya untuk
memperoleh temuan mengenai ada tidaknya kesalahan yang bersifat moneter.

c. Prosedur analitis
Prosedur analitis meliputi jumlah yang tercatat dengan harapan yang
dikembangkan auditor juga meliputi perhitungan rasio oleh auditor. Ada empat
kegunaan prosedur analitis, yaitu :
1. Untuk memperoleh pemahaman menegnai bisnis dan industry klien.
2. Untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menjaga kelangsungan
usahanya.
3. Untuk mendeteksi ada tidaknya keslahan dalam laporan keuangan
klien.

14
4. Untuk menentukan dapat tidaknya dilakukan pengurangan atas
pengujian audit detail.
Auditor tidak perlu melakukan pengujian detail transaksi dan pengujian
detail akun apabila :
a. Hasil prosedur analitis sesuai dengan yang diharapkan auditor.
b. Tingkat risiko deteksi yang dapat diterima untuk suatu asersi adalah
tinggi.
Efektivitas dan efisiensi yang analitis dalam mendeteksi kemungkinan
terjadi salah saji material, tergantung pada faktor berikut :
a. Sifat asersi.
b. Kelayakan dan kemampuan untuk memprediksi suatu hubungan.
c. Tersedianya dan keandalan data yang digunakan untuk
mengembangkan harapan.
d. Ketepatan harapan.

2.15 Penentuan Saat Pelaksanaan Pengujian Substantif


Tingkat risiko deteksi yang dapat diterima mempengaruhi penentuan
waktu pelaksanaan pengujian substantif. Jika risiko deteksi rendah maka
pengujian substantif lebih baik dilaksanakan pada atau dekat dengan tanggal
neraca.

2.16 Luas Pengujian Substantif


Semakin rendah tingkat risiko deteksi yang dapat diterima, semakin
banyak bukti yang harus dikumpulkan, auditor dapat mengubah jumlah bukti yang
harus dihimpun dengan cara mengubah luas pengujian substantif yang dilakukan.

Keputusan auditor tentang rancangan pengujian substantif


didokumentasikan dalam kertas kerja dalam bentuk program audit.

15
2.17 Dual Purpose Test
Dual purpose test adalah suatu prosedur pengujian yang sekaligus
dimaksudkan untuk melakukan pengujian pengendalian dan pengujian subtanstif.
Dual purpose test sering digunakan auditor karena lebih efisien untuk melakukan
pengujian secara simultan daripada pengujian yang terpisah.
Contoh dual purpose test adalah reperformance. Reperformance
merupakan prosedur pengulangan kembali pelaksanaan pengendalian oleh auditor.
Reperformance selalu secara simultan menghasilkan bukti mengenai pengendalian
dan ketepatan moneter atau ketepatan jumlah rupiah. Auditor dapat mengarahkan
reperformance untuk memperoleh temuan mengenai ada tidaknya kesalahan yang
bersifat moneter.

16
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Ada dua pengujian utama yaitu pengujian pengendalian dan pengujian
substantive. Dalam melakukan pengujian auditor dapat menekankan kepada salah
satu pengujian. Bila auditor memilih primarily substantive approach maka yang
ditekankan adalah pengujian substantive dan bila auditor memilih lower assessed
level control of risk maka yang ditekankan adalah pengujian pengendalian.

Pengujian pengendalian dilakukan terhadap rancangan dan pelaksanaan


suatu kebijakan atau prosedur SPI dan menilai efektivitas kebijakan atau prosedur
pengendalian untuk mendeteksi dan mencegah salah saji material dalam suatu
asersi laporan keuangan. Ada dua tipe pengujian pengendalian yaitu concurrent
test of controls dan additional or planned tests of controls.

Prosedur pengujian pengendalian adalah dengan pengajuan pertanyaan


kepada para karyawan klien, pengamatan terhadap karyawan klien dalam
melaksanakan tugasnya, melakukan inspeksi dokumen, catatan, dan laporan dan
mengulang kembali pelaksanaan pengendalian oleh auditor. Pelaksanaan
pengujian dapat dilakukan selama pekerjaan interim dan atau pada saat mendekati
akhir tahun.

Dalam menentukan risiko pengendalian, auditor perlu mengidentifikasi


salah saji potensial yang dapat terjadi untuk asersi tersebut, mengidentifikasi
pengendalian yang dapat mencegah atau mendeteksi salah saji, menghimpun bukti
dari pengujian pengendalian apakah rancangan dan operasi pengendalian relevan
adalah efektif, mengevaluasi bukti yang diperoleh dan menentukan risiko
pengendalian. Setelah ditentukan maka hasil penentuan didokumentasikan.

17
Perancangan pengujian substantive meliputi penentuan sifat atau jenis,
waktu, dan luas pengujian substantive. Sifat pengujian substantive mencakup
pengujian rinci saldo, pengujian rinci transaksi, dan prosedur analitis. Waktu
pelaksanaan pengujian substantive dekat dengan tanggal neraca. Luas pengujian
tergantung pada tingkat risiko deteksi yang diterima. Agar lebih efisien maka
pengujian pengendalian dan pengujian substantive dapat dilakukan bersama-sama.
Inilah yang disebut dengan dual-purpose test.

3.2 Saran
Setelah mempelajari bab ini, pembaca diharapkan dapat mengetahui dan
mempelajari tentang Pengujian pengendalian dan pengujian substantif. Demikian
yang dapat kami jabarkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam
makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, karena
terbatasnya pengetahuan dan kurangnya referensi yang berhubungan dengan
materi makalah ini. Semoga makalah berguna bagi penulis pada khususnya juga
para pembaca yang budiman pada umumnya.

18
DAFTAR PUSTAKA

Halim, A. (2015). Auditing Dasar-Dasar Audit Laporan Keuangan. Yogyakarta:


UNIT PENERBIT DAN PERCETAKAN SEKOLAH TINGGI ILMU
MANAJEMEN YKPN

https://www.academia.edu/30516714/PENGUJIAN_PENGENDALIAN_DAN_P
ENGUJIAN_SUBSTANTIF.docx

https://datakata.wordpress.com/2014/12/26/pengujian-pengendalian-dan-
pengujian-substantif/amp/

http://maielvasundari.blogspot.com/2013/10/pengujian-pengendalian-dan-
pengujian.html?m=1

19
20