Anda di halaman 1dari 15

“TUGAS INDIVIDU”

“Konsep tim dalam keperawatan dan kepemimpinan dan


konsep peruabahan ”

MATA KULIA :Interprofesional

DISUSUN OLEH

Wahyuni Sari Rahayaan

KEMENTERIAN KESEHATAN RI

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALUKU

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN MASOHI

TAHUN AJARAN 2020


A. Konsep Kerja Tim Dalam Keperawatan
1. Definisi
Tim ialah kelompok dengan keterampilan yang saling melengkapi dan berkomitmen
untuk mecapai tujuan bersama secara efektif dan efisien (Hunsaker,2001). Kerja tim
ialah kerja berkelompok denganketerampilan yang saling melengkapi untuk
mencapai tujuan bersama secara efektif dan efisien.
2. Manfaat kerja tim yaitu :
a. Kerja tim dapat memberikan manfaat, antara lain:Pekerjaan menjadi lebih
ringan karena dilakukan bersama
b. Dapat menimbulkan semangat kebersamaan.
c. Lebih efektif dan efisien dibandingkan dikerjakan sendiri
d. Kinerja organisasi lebih meningkat.
3. Prinsip kerja tim.
Guna mendukung hal tersebut diperlukan beberapa prinsip untuk kenyamanan tim
yang efektif yaitu : memperoleh bakat terbaik dari masing-masing individu ;
mendemonstrasi dan mengembangkan kepemimpinan ; merangsang komitmen tim ;
memberi inspirasi keamanan dan antusiasme tim ; membangun sikap tim yang kuat ;
memberdayakan individu ; supaya menonjol dilingkungan tim ; menciptakan
lingkungan tim atas dasar saling percaya dan saling menghormati ; membangun
suatu pondasi karakter tim dan individual ; prilaku yang tidak egois dan rela
berkorban ; berpikiran terbuka. Pelatihan, disiplin, komunikasi, dan umpan balik yang
jelas serta pembatasan, peran yang jelas adalah faktor penting dan diperlukan untuk
mencapain sinergi.
Kerjasama tim yang efektif sering kali merupakan hasil dari disiplin yang ditentukan
oleh masing-masing anggota tim. Mereka memastikan bahwa tidak hanya perilaku
yang diubah, tetapi setiap anggota memiliki sikap yang tepat untuk mempertahankan
kebersamaan dan kepentingan kelompok. Jelasnya perlu waktu untuk melatih
sebuah tim. Diperlukan waktu bertahun-tahun untuk melatih sepasukan tentara agar
siap berperang. Sama hal nya juga kerjasama tim memerlukan waktu beradaptasi,
terampil berkomunikasi, bergaul, penyesuaian  karakter, membentuk kompetensi,
ketegasan, visi dan misi.
4. Cara kerja secara tim / kolaborasi.
Agar dapat membangun sebuah tim yang bagus dan baik, diperlukan lebih dari
sekadar mengumpulkan orang-orang yang tepat. Sebab, ujian utama
darileadership sebenarnya adalah menciptakan lingkungan dimana setiap individu
mau bekerja secara kooperatif dan kolaboratif.
Tips berikut mungkin bisa membantu kita dalam membangun kerja sama tim yang
lebih baik. 
a. Fokus
Jelaskan rencana jangka panjang organisasi dan lakukan follow-up dengan
teratur. Orang-orang sering kali terlalu fokus pada masalah hari ini dan pekerjaan
rutinnya, sehingga kehilangan gambaran dari tujuan utama secara keseluruhan.
Jadi, sewaktu anggota lainnya sedang berkonsentrasi menyelesaikan masalah,
anggota lain dapat mendedikasikan lebih banyak waktunya untuk me-
reviewproses dan mengeliminasi masalah-masalah yang mungkin muncul di
masa depan.
b. Definisikan Peran
Garis bawahi dengan jelas tanggung jawab dan peran setiap individu dalam
suatu tim. Hal ini sangat penting untuk menjamin kesuksesan tim. Pemahaman
tim terhadap tugas dan tanggung jawab masing-masing akan sangat membantu
dalam pelaksanaan kerja sama tim secara kolaboratif. Dukunglah tim Anda untuk
mendefinisikan fungsi mereka. Para anggota tim akan mampu mengambil lebih
banyak tanggung jawab apabila mereka berada dalam posisi yang cocok, dan
salah satu dari mereka mungkin akan  dapat mengeluarkan bakat baru yang
tidak disadari sebelumnya.
c. Tetapkan Tujuan
Anggota tim perlu memperhatikan tujuan individu maupun tujuan tim. Dukunglah
mereka untuk menentukan tujuan jangka pendek yang dapat diraih dan dapat
diukur, serta tujuan jangka panjang. Dengan tujuan yang jelas dan kode etik atau
aturan tertentu, tim akan mulai bisa mengatur dirinya sendiri untuk mencapai
tujuan-tujuan tersebut. Pantauan dari senior sangat dibutuhkan untuk
menghilangkan sifat-sifat negatif seperti kemalasan, keterlambatan, serta suka
menunda-nunda pekerjaan. Komunikasikan selalu setiap tujuan dengan jelas,
dan pastikan setiap anggota tim benar-benar memahaminya.
d. Bagikan Informasi
Informasi yang disembunyikan akan dianggap sebagai gosip atau rumor.
Produktivitas dan moral tim akan menurun bila mereka menemukan banyak
informasi yang tidak jelas berkeliaran, terutama di masa-masa sulit atau
peralihan. Bagikan dan sebarkanlah semua informasi yang memang perlu
dikomunikasikan ke semua anggota tim, dan jangan lupa untuk terus meng-
update informasi tersebut sesering mungkin.
e. Kepercayaan
Jadilah orang yang dapat dipercaya dan diandalkan. Hargailah kata-kata Anda
sendiri. Bila Anda seorang pemimpin dan Anda sudah berjanji untuk memberikan
sesuatu kepada anak buah, maka pastikan Anda menepati janji tersebut. Bila
Anda salah satu anggota tim dan pernah berjanji untuk melakukan sesuatu
kepada tim atau pemimpin Anda, maka pastikan juga Anda menepati janji
tersebut. Perlakukan setiap anggota tim dengan perlakuan yang sama. Jangan
ada 'anak emas' dan 'orang istimewa'.
f. Dengarkan
Bersikaplah terbuka terhadap ide-ide dari anggota tim lain. Berikan mereka
kesempatan untuk menyampaikan pendapat dalam rapat atau
saat brainstorming. Pertimbangkan setiap saran mereka. Kita tidak akan pernah
benar-benar tahu saran dan pendapat mana yang terbaik sampai kita sendiri
membuktikannya. Banyak organisasi menghabiskan dana besar untuk menyewa
konsultan dari luar, tanpa terlebih dahulu menanyakan pendapat pegawai dan
anak buahnya sendiri. Padahal, seringkali merekalah yang paling tahu problem
apa yang terjadi di dalam. Berikan pujian kepada anggota tim kita dan jadilah
seorang pemimpin dan pendengar yang baik.
g. Bersabar
Bila tim anda terlihat bermasalah dan tidak menunjukkan hasil apa pun,
bersabarlah. Beri waktu dan amati perkembangannya. Sering kali mereka bisa
mengatasi masalahnya sendiri, dan anda perlu mengawasi dan mengamati saja.
Bila hal ini tidak terjadi, maka beraksilah. Pecat dan hire orang lain bila memang
diperlukan. Tidak ada gunanya menyimpan 'benalu' di dalam tim.
h. Dukungan
Setiap anggota tim harus ditantang untuk berkontribusi dalam segala hal. Dorong
mereka untuk ikut training bila memang diperlukan dan beri kesempatan untuk
keluar dan melakukan sendiri tugas-tugasnya. Mereka perlu merasa nyaman
dalam melakukan tugas supaya dapat menemukan potensi unik dalam diri
mereka sendiri. Ubahlah tanggung jawab setiap anggota tim bila memang
dianggap perlu. Ketahuilah kekuatan dan kelemahan dari setiap anggota tim dan
berikan dukungan positif terhadap kedua hal itu.
i. Tunjukkan Antusiasme
Antusiasme mudah menular. Selalulah bersikap positif dan penuh harap. Bila
mereka melihat anda mengharapkan sesuatu dari mereka, maka ada peluang
mereka akan memberikan yang terbaik dan berusaha tidak mengecewakan
anda. Fokuslah juga pada hal-hal yang dikerjakan dengan benar, dan tidak
selalu melihat kesalahan orang lain saja.
j. Have fun
Bangun semangat yang ada di dalam tim agar bisa selalu memberikan energi
yang tinggi dan spirit persatuan. Sediakan waktu untuk tertawa bersama dan
ciptakan suasana yang sesantai mungkin. Tidak ada tujuan yang dapat dicapai
dengan mudah bila suasananya selalu tegang.
k. Delegasi
Jelaskan apa yang harus dikerjakan dan bagaimana caranya (bila diperlukan),
lalu biarkan. Lebih baik lagi jika anda dapat menjelaskan masalah yang ada dan
seperti apa hasil yang anda inginkan. Lalu, biarkan tim anda mengembangkan
cara mereka sendiri untuk menyelesaikan tugas tersebut sesuai waktu yang
telah ditetapkan. Bila jadwal reviewhari selasa depan, maka jangan menanyakan
hasilnya hari ini. Berilah kepercayaan kepada tim anda untuk
memenuhi deadline masing-masing.
l. Berikan penghargaan
Rayakan keberhasilan bersama-sama dan berikan penghargaan kepada anggota
tim tapi tidak secara individual. Dalam setiap tim akan mempunyai individu yang
menonjol pada bidang tertentu. Kenalilah hal ini dengan cepat
melalui performance review process dan gunakan untuk mendukung kerja sama
tim. Hindari semua tindakan yang bisa menimbulkan kecemburuan di antara
anggota. Selalu bicara positif tentang anggota tim anda secara keseluruhan.
Promosikan talenta, usaha, dedikasi dan kesuksesan mereka.

B. Kepemimpinan dan konsep perubahan


1. Definisi kepemimpinan
Kepemimpinan dapat diartikan sebagai proses mempengaruhi dan mengarahkan para
pegawai dalam melakukan pekerjaan yang telah ditugaskan kepada mereka.
Sebagaimana didefinisikan oleh Stoner, Freeman, dan Gilbert (1995), kepemimpinan
adalah the process of directing and influencing the task related activities of group
members. Kepemimpinan adalah proses dalam mengarahkan dan mempengaruhi para
anggota dalam hal berbagai aktivitas yang harus dilakukan. Lebih jauh lagi, Griffin
(2000) membagi pengertian kepemimpinan menjadi dua konsep, yaitu sebagai proses,
dan sebagai atribut. Sebagai proses, kepemimpinan difokuskan kepada apa yang
dilakukan oleh para pemimpin, yaitu proses di mana para pemimpin menggunakan
pengaruhnya untuk memperjelas tujuan organisasi bagi para pegawai, bawahan, atau
yang dipimpinnya, memotivasi mereka untuk mencapai tujuan tersebut, serta membantu
menciptakan suatu budaya produktif dalam organisasi. Adapun dari sisi atribut,
kepemimpinan adalah kumpulan karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang
pemimpin. Oleh karena itu, pemimpin dapat didefinisikan sebagai seorang yang memiliki
kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain tanpa menggunakan kekuatan,
sehingga orang-orang yang dipimpinnya menerima dirinya sebagai sosok yang layak
memimpin mereka.
Selain itu banyak juga pendapat dari para tokoh mengenai arti dari kepemimpinan ini,
yaitu:
a. Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi yang dijalankan dalam suatu situasi
tertentu, serta diarahkan melalui proses komunikasi, kearah pencapaian satu atau
beberapa tujuan tertentu. (Tannenbaum, Weschler, & Massarik, 1961:24)
b. Kepemimpinan adalah pembentukkan awal serta pemeliharaan struktur dalam
harapan dan interaksi (Stogdill, 1974:411).
c. Kepemimpinan adalah peningkatan pengaruh sedikit demi sedikit pada dan berada
di atas kepatuhan mekanis terhadap pengarahan rutin organisasi (Katz & Kahn,
1978:528).
d. Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktifitas sebuah kelompok yang
diorganisasi kea rah pencapaian tujuan ( Rauch & Behling, 1984:46)
e. Kepemimpinan adalah sebuah proses memberi arti (pengarahan yang berarti)
terhadap usaha kolektif dan yang mengakibatkan kesediaan untuk melakukan usaha
yang diinginkan untuk mencapai sasaran ( Jacob&Jacques, 1990:281)
f. Para pemimpin adalah mereka yang secara konsisten memberi kontribusi yang
efektif terhadap orde social dan yang diharapkan dan dipersepsikan melakukannya
(Hosking, 1988:153)
g. Kepemimpinan sebagai sebuah proses pengaruh social yang dalam hal ini pengaruh
yang sengaja dijalankan oleh seseorang terhadap orang lain untuk menstruktur
aktifitas-aktifitas serta hubungan-hubungan sebuah kelompok atau organisasi (Yukl,
1994:2).
2. Perkembangan kepemimpinan
Kepemimpinan merupakan hasil daripada organisasi sosial yang telah terbentuk
atau sebagai hasil dinamika daripada interaksi sosial.Sejak mula kala terbentuknya
suatu kelompok sosial, seseorang atau beberapa orang di antara warga-warganya
melakukan peranan yang lebih aktif daripada rekan-rekannya, sehingga orang tadi
atau beberapa orang tampak lebih menonjol daripada yang lainnya.Itulah asal mula
timbulnya kepemimpinan, yang kebanyakan timbul dan berkembang dalam struktur
sosial yang kurang stabil.Munculnya seorang pemimpin sangat diperlukkan dalam
keadaan-keadaan di mana tujuan daripada kelompok sosial yang bersangkutan
terhalang atau apabila kelompok tadi mengalami ancaman- ancaman dari
luar.Dalam keadaan demikianlah, agak sulit bagi warga – warga kelompok yang
bersangkutan untuk menentukkan langkah – langkah yang harus diambil dalam
mengatasi kesulitan yang dihadapinya.
Munculnya seorang pemimpin merupakkan hasil dari suatu proses yang dinamis
yang sesuai dengan kebutuhan – kebutuhan kelompok tersebut. Apabila dalam saat
tersebut muncul seorang pemimpin, maka kemungkinan besar kelompok tersebut
akan mengalami suatu disintegrasi. Tidak munculnya pemimpin tadi adalah mungkin
karena seorang individu yang diharapkan menjadi pimpinan, ternyata tidak berhasil
membuka jalan bagi kelompoknya untuk mencapai tujuan dan bahwa kebutuhan
warganya tidak terpenuhi.
3. Fungsi Kepemimpinan
a. Pemimpin sebagai eksekutif ( executive Leader)
Sering kali disebut sebagai administrator atau manajer.Fungsinya adalah
menerjemahkan kebijaksanaan menjadi suatu kegiatan, dia memempin dan
mengawasi tindakan orang-orang yang menjadi bawahannya.Dan membuat
keputusan-keputusan yang kemudian memerintahkannya untuk
dilaksanakan.Kepemimpinan ini banyak ditemukan didalam masyarakat dan
biasanya bersifat kepemerintahan, mulai dari pusat sampai ke daerah-daerah
memerlukkan fungsi tersebut.
b. Pemimpin sebagai penengah
Dalam masyarakat modern, tanggung jawab keadilan terletak di tangan
pemimpin dengan keahliaanya yang khas dan ditunjuk secara khusus.Ini dikenal
dengan pengadilan.Dan bidang lainnya, umpamanya dalam bidang olahraga,
terdapat wasit yang mempunyai tugas sebagai wasit.
c. Pemimpin sebagai penganjur
Sebagai propagandis, sebagai juru bicara, atau sebagai pengarah opini
merupakkan orang-orang penting dalam masyarakat.Mereka bergerak dalam
bidang komunikasi dan publistik yang menguasai ilmu komunikasi. Penganjur
adalah sejenis pemimpin yang memberi inspirasi kepada orang lain. Seringkali ia
merupakkan orang yang pandai bergaul dan fasih berbicara.
d. Pemimpin sebagai ahli
Pemimpin sebagai ahli dapat dianalogikan sebagai instruktur atau seorang juru
penerang, berada dalam posisi yang khusus dalam hubungannya dengan unit
sosial dimana dia bekerja.Kepemimpinannya hanya berdasarkan fakta dan
hanya pada bidang dimana terdapat fakta. Termasuk dalam kategori ini adalah
guru, petugas sosial, dosen, dokter, ahli hukum, dan sebagainya yang mencapai
dan memelihara pengaruhnya karena mereka mempunyai pengetahuan untuk
diberikkan kepada orang lain
e. Pemimpin diskusi
Tipe pemimpin yang seperti ini dapat dijumpai dalam lingkungan kepemimpinan
yang demokratis dimana komunikasi memegang peranan yang sangat
penting.Seseorang yang secara lengkap memenuhi kriteria kepemimpinan
demokratis ialah orang yang menerima peranannya sebagai pemimpin diskusi.
4. Tipe – tipe kepemimpinan
a. Tipe Otokratik Dilihat dari persepsinya seorang pemimpin yang otokratik adalah
seorng yangsangat egois. Seorang pemimpin yang otoriter akan menunjuukkan
sikap yang menonjol ”keakuannya”, antara lain dalam bentuk:
1) Kecenderungan memperlakukan para bawahannya sama dengan alat-alat
lain ddalam organisasi, seperti mesin, dan dengan demikian kurang
menghargai harkat dan martabat mereka.
2) Pengutamaan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas tanpa
mengaitkan pelaksanaan tugas itu dengan kepentingan dan kebutuhan para
bawahannya.
3) Pengabaian peran para bawahan dalam proses pemgambilan keputusan.

Gaya kepemimpinan yang dipergunakan adalah:

1) Menuntut ketaatan penuh dari bawahannya.


2) Dalam menegakkan disiplin menunjukkan keakuannya.
3) Bernada keras dalam pemberian perintah atau instruksi.
4) Menggunakan pendekatan punitif dalam hal terjadinya penyimpangn oleh
bawahan.
b. Tipe Paternalistik
Tipe pemimpin paternalistik hanya terdapat dilingkungan masyarakat yang
bersifat tradisional, umumnya dimasyarakat agraris.Salah satu ciri utama
masyarakat tradisional ialah rasa hormat yang tinggi yang ditujukan oleh para
anggota masyarakat kepada orang tua atau seseorang yang dituakan.Pemimpin
seperti ini kebapakan, sebagai tauladan atau panutan masyarakat.Biasanya
tokohtokoh adat, para ulama dan guru.Pemimpin ini sangat mengembangkan
sikap kebersamaan.
c. Tipe Kharismatik
Tidak banyak hal yang dapat disimak dari literatur yang ada tentang kriteria
kepemimpinan yang kharismatik.Memang ada karakteristiknya yang khas yaitu
daya tariknya yang sangat memikat sehingga mampu memperoleh pengikut
yang jumlahnya kadang-kadang sangat besar.Tegasnya seorang pemimpin yang
kharisnatik adalah seseorang yang dikagumi oleh banyak pengikut meskipun
para pengikut tersebut tidk selalu dapat menjelaskan secara konkret mengapa
orang tersebut dikagumi.
d. Tipe Laissez Faire
Pemimpin ini berpandangan bahwa umumnya organisasi akan berjalan lancar
dengan sendirinya karena para anggota organisasi terdiri ari orang-orang yang
sudah dewasa yang mengetahui apa yang menjadi tujuan organisasi,
sasaransasaran apa yang ingin dicapai, tugas yang harus ditunaikan oleh
masing-masing anggota dan pemimpin tidak terlalu sering intervensi.
e. Tipe Demokratis
1) Pemimpin yang demokratik biasanya memandang peranannya selaku
koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen organisasi.
2) Menyadari bahwa mau tidak mau organisasi harus disusun sedemikian rupa
sehingga menggambarkan secara jelas aneka ragam tugas dan kegiatan
yang tidak bisa tidak harus dilakukan demi tercapainya tujuan.
3) Melihat kecenderungan adanya pembagian peranan sesuai dengan
tingkatnya.
4) Memperlakukan manusia dengan cara yang manusiawi dan menjunjung
harkat dan martabat manusia.
5. Ciri – cirri Kepemimpinan
Banyak ciri-ciri pemimpin dan kepemimpinan yang ditampilkan oleh para pakar yang
meliputi ciri-ciri fisik, ciri-ciri intelektual, dan ciri-ciri kepribadian.Dr.W.A. Gerungan
telah mengetengahkan ciri-ciri yang dimiliki oleh kebanyakan pemimpin yang baik
dan dijadikan perhatian para penilai ketika sedang melaksanakan penyaringan
terhadap calon-calon pemimpin dalam latihan-latihan kader kepemimpinan.
Penjelasannya sebagai berikut:
1) Persepsi Sosial
Persepsi sosial dapat diartikan sebagai kecakapan dalam melihat dan
memahami perasaan, sikap dan kebutuhan anggota-anggota
kelompok.Kecakapan ini sangat dibutuhkan untuk memenuhi tugas
kepemimpinan.Persepsi sosial ini terutama diperlukkan oleh seorang pemimpin
untuk dapat melaksanakan tugasnya dalam memberikan pandangan dan
patokkan yang menyeluruh dari keadaan-keadaan didalam dan diluar kelompok.
2) Kemampuan berpikir abstrak
Kemampuan berpikir abstrak dapat menjadikkan indikasi bahw seseorang
mempunyai kecerdasan yang tinggi.Kemampuan abstrak yang sebenarnya
merupakan salah satu segi dari struktur intelegensi, khusus dibutuhkan oleh
seorang pemimpin untuk dapat menafsirkan kecenderungan-kecenderungan
kegiatan di dalam kelompok dan keadaan umum diluar kelompok dalam
hubungannya degan tujuan kelompok.Ini berarti bahwa ketajaman persepsi dan
kemampuan menganalisis didampingi oleh kemampuan abstrak dan
mengintegrasikan fakta-fakta interaksi sosial didalam dan diluar
kelompok.Kemampuan tersebut memerlukan taraf intelegensia yang tinggi pada
seorang pemimpin yang harus diarahkan oleh persepsi sosial yang telah
diterangkan diatas.
3) Keseimbangan emosional
Merupakan faktor paling penting dalam kepemimpinan. Jelasnya, pada diri
seorang pemimpin harus terdapat kematangan emoional yang berdasarkan
kesadaran yang mendalam akan kebutuhan-kebutuhan, keinginan-keinginan,
cita-cita, dan alam perasaan, serta pengintegrasian kesemuanya itu kedalam
suatu kepribadian yang harmonis. Dan ini bukanlah suatu kepribadian harmoni
yang beku dan statis, melainkan suatu harmoni dalam ketegangan-ketegangan
emosional, suatu keseimbangan yang dinamis, yang dapat bergerak kemana-
mana, tetapi mempunyai dasar yang matang dan stabil.Kematangan emosional
ini diperlukkan oleh seorang pemimpin untuk dapat turut merasakan keinginan
dan cita-cita anggota kelompok dalam rangka melaksanakan tugas
kepemimpinan dengan sukses.
6. Teori Kepemimpinan
Teori kepemimpinan membicarakan bagaimana seseorang menjadi pemimpin atau
bagaimana timbulnya seorang pemimpin. Ada beberapa teori tentang
kepemimpinan, di antaranya ialah :
a. Teori Genetie
Inti dari teori ini tersimpul dalam mengadakan "leaders are born and not made".
bahwa penganut teori ini mengatakan bahwa seorang pemimpin akan karena ia
telah dilahirkan dengan bakat pemimpin.Dalam keadaan bagaimana pun
seorang ditempatkan pada suatu waktu ia akan menjadi pemimpin karena ia
dilahirkan untuk itu. Artinya takdir telah menetapkan ia menjadi pemimpin.
b. Teori Sosial
Jika teori genetis mengatakan bahwa "leaders are born and not made", make
penganut-penganut sosial mengatakan sebaliknya yaitu :
"Leaders are made and not born". Penganut-penganut teori ini berpendapat
bahwa setiap orang akan dapat menjadi pemimpin apabila diberi pendidikan
dan kesempatan untuk itu.
c. Teori Ekologis
Teori ini merupakan penyempurnaan dari kedua teori genetis dan teori
sosial.Penganut-penganut teori ini berpendapat bahwa seseorang hanya dapat
menjadi pemimpin yang baik apabila pada waktu lahirnya telah memiliki bakat-
bakat kepemimpinan, bakat mana kemudian dikembangkan melalui pendidikan
yang teratur dan pangalaman-pengalaman yang memungkinkannya untuk
mengembangkan lebih lanjut bakat-bakat yang memang telah dimilikinya
itu.Teori ini menggabungkan segi-segi positif dari kedua teori genetis dan teori
sosial dan dapat dikatakan teori yang paling baik dari teori-teori kepemimpinan.
Namun demikian penyelidikan yang jauh yang lebih mendalam masih diperlukan
untuk dapat mengatakan secara pasti apa faktor-faktor yang menyebabkan
seseorang timbul sebagai pemimpin yang baik.
7. Hambatan dalam kepemimpinan
a. Fakor internal
Kurangnya motivasi dari pemimpin itu sendir, emosi yang tidak stabil, tidak
percata diri, takut dalam mengambil resiko, terbatasnya kecakapan pemimpin.
b. Fakor eksternal
Tidak adanya dukungan dari orang terdekat, tidak adanya dukungan dari
bawahan, terlalu banyak tekanan.
8. Syarat pemimpin yang baik
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa seorang yang tergolong sebagai pemimpin
adalah seorang yang pada waktu lahirnya yang berhasil memang telah diberkahi
dengan bakat-bakat kepemimpinan dan karirnya mengembangkan bakat genetisnya
melalui pendidikan pengalaman kerja. Pengembangan kemampuan itu adalah suatu
proses yang berlangsung terus menerus dengan maksud agar yang bersangkutan
semakin memiliki lebih banyak ciri-ciri kepemimpinan. Walaupun belum ada
kesatuan pendapat antara para ahli mengenai syarat-syarat ideal yang harus dimiliki
oleh seorang pemimpin, akan tetapi beberapa di antaranya yang terpenting adalah
sebagai berikut :
a. Memiliki inteligensi yang tinggi dan pendidikan umum yang luas
b. Bersifat ramah tamah dalam tutur kata, sikap, dan perbuatan
c. Berwibawa dan memiliki daya tarik
d. Sehat jasmaniah maupun rohaniah (fisik maupun mental)
e. Kemampuan analistis
f. Memiliki daya ingat yang kuat
g. Mempunyai kapasitas integratif
h. Keterampilan berkomunikasi
i. Keterampilan mendidik
j. Personalitas dan objektivitas
k. Jujur (terhadap diri sendiri, atasan, bawahan, sesama pegawai)
9. Konsep Perubahan
Perubahan Organisasi (Organizational Change) Untuk memahami perubahan
organisasi secara teoretis, penulis mengumpulkan beberapa definisi dan konsep
para ilmuan. Michel Beer (2000: 452) menyatakan berubah itu adalah memilih
tindakan yang berbeda dari se belumnya, perbedaan itulah yang menghasilkan
suatu perubahan. Jika pilihan hasilnya sama dengan yang sebelumnya berarti akan
memperkuat status quo yang ada. Selanjutnya Winardi (2005: 2) menyatakan,
bahwa perubahan organisasi adalah tindakan beralihnya sesuatu organisasi dari
kondisi yang berlaku kini menuju ke kondisi masa yang akan datang menurut yang
di inginkan guna meningkatkan efektivitasnya. Sejalan dengan itu Anne Maria
(1998: 209) berpendapat, bahwa perubahan organisasi adalah suatu tindakan
menyusun kembali komponen-komponen organisasi untuk meningkatkan efisiensi
dan efektifitas organisasi. Mengingat begitu pentingnya perubahan dalam
lingkungan yang bergerak cepat sudah saatnya organisasi tidak menunda
perubahan, penundaan berarti akan menghadapkan organisasi pada proses
kemunduran.
Akan tetapi perlu diingat bahwa tidak semua perubahan yang terjadi akan
menimbulkan kondisi yang lebih baik, sehingga perlu diupayakan agar perubahan
tersebut diarahkan kearah yang lebih baik dibandingkan dengan kondisi yang
sebelumnya.
Pendapat yang senada dikemukakan oleh JO. Bryson (1990: 374) seorang pakar
dalam manajemen perpustakan menyatakan bahwa ”when one or more elements in
alibrary change it is called organizational change” Pendapat Bryson tersebut
menunjukkan bahwa salah satu unsur saja dalam organisasi yang berubah, sudah
dapat dikatakan sebagai perubahan organisasi.
Dari beberapa definisi tentang perubahan di atas dapat ditarik pengertian bahwa
perubahan organisasi itu merupakan suatu tindakan yang dilakukan terhadap
unsur-unsur dalam suatu organisasi untuk meningkatkan efektivitas organisasi
menuju ke arah yang lebih baik dari pada sebelumnya. Perubahan merupakan
bagian dari kehidupan manusia,dan dapat juga terjadi pada organisasi termasuk
organisasi perpustakaan.
DAFTAR PUSTAKA

Atmosudirjo, P. 1982. Administrasi dan Management Umum. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Avolio, B.J., B.M. Bass, B.M., & Jung, D.I. 1999. Re-Examining the Components of
Transformational and Transactional Leadership Using the Multifactor Leadership
Questionnaire. Journal of Occupational and Organizational Psychology, 72, 441-462.

Takwin, B. 2012. Maret. Akar-akar Kepemimpinan dan Bagaimana Menumbuhkannya.


[Artikel].Diambildarihttps://www.google.co.id/#q=bagus+takwin+akarakar+kepemimpina
n+pdf