Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.            Latar Belakang
Istirahat dan tidur merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh semua orang. Untuk
dapat berfungsi secara optimal, maka setiap orang memerlukan istirahat dan tidur yang cukup.
Karena begitu pentingnya istirahat dan tidur, maka alangkah baiknya kita mengetahui mengenai
konsep istirahat dan tidur tersebut.

1.2.            Pembatasan Masalah
Dalam penyusunan maklah ini, penyusun membatasi masalah yang akan dibahas yaitu
mengenai pengertian istirahat tidur,fisiologi tidur, kebutuhan tidur normal, fungsi tidur, macam
tidur, gangguan tidur,dan factor yang mempengaruhi tidur .

1.3.            Tujuan
Adapun tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas matakuliah
KDM, selain itu dengan disusunnya makalah ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan
khususnya bagi penyusun dan umumya bagi pambaca.

1.4.            Metode Pengumpulan Data


Adapun metode pengumpulan data dalam penyusunan makalah ini yaitu dengan studi
pustaka dan penelusuran dalam situs internet.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian
Istirahat merupakan keadaan yang tenang, relaks tanpa tekanan emosional dan bebas dari
kegelisahan (ansietas). (Narrow, 1967 : 1645) mengemukakan 6 (enam) ciri-ciri yang dialami
seseorang berkaitan dengan istirahat.

Sebagian besar orang dapat istirahat sewaktu mereka :

a. Merasa bahwa segala sesuatu dapat diatasi


b. Merasa diterima
c. Mengetahui apa yang sedang terjadi
d. Bebas dari gangguan dan ketidaknyamanan
e. Mempunyai rencana-rencana kegiatan yang memuaskan
f. Mengetahui adanya bantuan sewaktu memerlukan

Sedangkan pengertian tidur antara lain :


Tidur berasal dari kata bahasa latin “somnus” yang berarti alami periode pemulihan, keadaan

fisiologi dari istirahat untuk tubuh dan pikiran.


Tidur merupakan keadaan hilangnya kesadaran secara normal dan periodik (Lanywati, 2001)

Tidur merupakan suatu keadaan tidak sadar yang di alami seseorang, yang dapat dibangunkan

kembali dengan indra atau rangsangan yang cukup (Guyton 1981 : 679)
2.2. Fisiologi Tidur
Hipotalamus mempunyai pusat-pusat pengendalian untuk beberapa jenis kegiatan tak-sadar
dari badan, yang salah satu diantaranya menyangkut tidur dan bangun. Cedera pada hipotalamus
dapat mengakibatkan seseorang tidur dalam jangka waktu yang luar biasa panjang atau lama.
Formasi retikuler terdapat dalam pangkal otak. Formasi itu menjulang naik menembus medulla,
pons, otak bagian tengah, dan lalu ke hipotalamus.  Formasinya tersusun dari banyak sel syaraf
dan serat syaraf . Serat-seratnya mempunyai hubungan-hubungan yang meneruskan impuls-
impuls ke kulit otak dan ke tali sumsum tulang belakang. Formasi retikular itu memungkinkan
terjadinya gerakan-gerakan refleks serta yang disengaja dengan mudah, maupun kegiatan-
kegiatan kortikal yang bertalian dengan keadaan waspada.
Di waktu tidur, sistem retikular mendapat hanya sedikit rangsangan dari korteks serebral
(kulit otak) serta permukaan luar tubuh. Keadaan bangun terjadi apabila sistem retikular
dirangsang dengan rangsangan-rangsangan dari korteks serebral dan dari organ-organ serta sel-
sel pengindraan di kulit. Umpamanya saja, jam wekker membangunkan kita dari tidur menjadi
keadaan sadar apabila kita menyadari bahwa kita harus bersiap-siap untuk pergi bekerja.
Perasaan-perasaan yang diakibatkan oleh kenyerian, kebisingan dan sebagainya, akan membuat
orang tidak dapat tidur lewat organ-organ serta sel-sel di kulit badan. Maka keadaan tidak dapat
tidur di timbulkan oleh kegiatan kulit otak serta apa yang dirasakan oleh badan; di waktu tidur,
rangsangan-rangsangan menjadi minimal.
Teori Dasar Tidur
Diduga penyebab tidur adalah proses penghambatan aktif. Ada teori lama yang menyatakan
bahwa area eksitatori pada batang otak bagian atas, yang disebut “sistem aktivasi
retikular”,mengalami kelelahan setelah seharian terjaga dan karena itu, menjadi inaktif. Keadaan
ini disebut teoripasif dari tidur. Percobaan penting telah mengubah pandangan ini ke teori yang
lebih baru bahwatidur barangkali disebabkan oleh proses penghambatan aktif. Hal ini terbukti
dari suatu percobaan dengan cara melakukan pemotongan batang otak setinggi regio midpontil,
dan berdasarkan perekaman listrik ternyata otak tak pernah tidur. Dengan kata lain, ada beberapa
pusat yang terletak dibawah ketinggian midpontil pada batang otak, diperlukan untuk
menyebabkan tidur dengan cara menghambat bagian-bagian otak lainnya.
Perangsangan pada beberapa daerah spesifik otak dapat menimbulkan keadaan tidur dengan
sifat-sifat yang mendekati keadaan tidur alami. Daerah-daerah tersebut adalah :
Nuklei rafe, yang terletak di separuh bagian bawah pons dan medula
Nukleus traktus solitarius, yang merupakan regio sensorik medula dan pons yang dilewati oleh
sinyal sensorik viseral yang memasuki otak melalui syaraf-syaraf vagus dan glossofaringeus,
juga menimbulkan keadaan tidur.
Beberapa regio diensefalon, yaitu bagian rostral hipotalamus, terutama area suprakiasmadan
adakalanya suatu area di nuklei difus pada talamus.

Siklus sirkadian
Setiap makhluk hidup memiliki bioritme (jam biologis) yang berbeda. Pada manusia,
bioritme ini dikontrol oleh tubuh dan disesuaikan dengan faktor lingkungan (misalnya; cahaya,
kegelapan, gravitasi dan stimulus elektromagnetik). Bentuk bioritme yang paling umum adalah
ritme sirkadian yang melengkapi siklus selama 24 jam.Dalam hal ini, fluktuasi denyut jantung,
tekanan darah, temperature, sekresi hormone, metabolisme dan penampilan serta perasaan
individu bergantung pada ritme sirkadiannya. Tidur adalah salah satu irama biologis tubuh yang
sangat kompleks. Sinkronisasi sirkadian terjadi jika individu memiliki pola tidur-bangun yang
mengikuti jam biologisnya, individu akan bangun pada saat ritme fisiologis paling tinggi atau
paling aktif dan akan tidur pada saat ritme tersebut paling rendah (Lilis, Taylor, Lemone, 1989).
2.3. Kebutuhan Tidur Normal

 Kebutuhan tidur manusia berdasarkan perkembanagn dan umur:


1. 0 - 1 bulan Tingkat Perkembangan, Bayi baru lahir Jumlah Kebutuhan tidur 14 - 18
jam/hr.
2. 1 bulan - 18 bulan Masa bayi 12 - 14 jam/ hari.
3. 18 bulan - 3 tahun Masa anak 11 - 12 jam/hari.
4. 3 tahun - 6 tahun Masa prasckolah 11 jam/hari.
5. 6 tahun - 12 tahun Masa sekolah 10 jam/ hari.
6. 12 tahun - 18 tahun Masa remaja 8,5 jam/hari.
7. 18 - 40 tahun Masa dewasa 7 - 8 jam/hari.
8. 40 tahun - 60 tahun Masa muda paruh baya 7 jam/hari.
9. 60 tahun keatas Masa dewasa tua 6 jam/hari.                           
2.4. Fungsi dan Tujuan Tidur

Fungsi dan tujuan masih belum diketahui secara jelas. Meskipun demikian, tidur diduga
bermanfaat untuk menjaga keseimbangan mental, emosional, dan kesehatan. Selain itu, stres
pada paru, sistem kardiovaskuler, endokrin, dan lain-lainnya juga menurun aktivitasnya.Energi
yang tersimpan selama dari tidur diarahkan untuk fungsi- fungsi seluler yang penting.

Secaraum umum terdapat dua efek fisiologis tidur, yaitu:


1.Efek pada sistem saraf
Efek pada system saraf yang dipeerkirakan dapat memulihkan kepekaan normal dan
keseimbangan di antara berbagai susunan saraf.

2.Efek pada struktur tubuh


Efek pada struktur tubuh dengan memulihkan kesegaran dan fungsi organ dalam tubuh,
mengingat terjadinya penurunan aktivitas organ¬organ tubuh tersebut selama tidur.

2.5. Macam Tidur


Sejak adanya alat EEG (Elektro Encephalo Graph), maka aktivitas-aktivitas di dalam otak
dapat direkam dalam suatu garafik . Alat ini juga dapat memperlihatkan fluktuasi energi
(gelombang otak) pada kertas grafik.
Penelitian mengenai mekanisme tidur mengalami kemajuan yang sangat pesat dalam 10
tahun terakhir, dan bahkan sekarang para ahli telah berhasil menemukan adanya 2 (dua)
pola/macam/tahapan tidur, yaitu :

a. Pola tidur biasa atau NREM

Pola / tipe tidur biasa ini juga disebut NREM (Non Rapid Eye Movement = Gerakan mata
tidak cepat). Pola tidur NREM merupakan tidur yang nyaman dan dalam tidur gelombang
pendek karena gelombang otak selama NREM lebih lambat daripada gelombang alpha dan beta
pada orang yang sadar atau tidak dalam keadaan tidur. Tanda-tanda tidur NREM adalah :
1) Mimpi berkurang
2) Keadaan istirahat (otot mulai berelaksasi)
3) Tekanan darah turun
4) Kecepatan pernafasan turun
5) Metabolisme turun
6) Gerakan mata lambat
Perubahan selama proses NREM tampak melalui elektroensefalografi dengan
memperlihatkan gelombang otak berada pada setiap tahap tidur NREM, yaitu:
Jenis-jenis gelombang:
a.Gelombang Alfa
Mata tertutup dan relaks, gelombang Alfa akan muncul, dan akan menghilang sesaat kita
membuka mata
b. Gelombang Beta
Merupakan gelombang dominan pada keadaan jaga terutama bila mata terbuka. Pada keadaan
tidur REM juga muncul gelombang Beta.
c. GelombangTeta,
Pada keadaan normal orang dewasa gelombang teta muncul pada keadaan tidur (stadium 1, 2,
3, 4).
d. Gelombang Delta,
Pada keadaan normal orang dewasa gelombang Delta muncul pada keadaan tidur (stadium 2,
3, 4)

Fase NREM atau tidur biasa ini berlangsung ± 1 jam dan pada fase ini biasanya orang masih
bisa mendengarkan suara di sekitarnya, sehingga dengan demikian akan mudah terbangun dari
tidurnya. Tidur NREM ini mempunyai 4 (empat) tahap yang masing-masing-masing tahap di
tandai dengan pola gelombang otak.
1) Tahap I
Tahap ini merupakan tahap transisi, berlangsung selama 5 menit yang mana seseorang
beralih dari sadar menjadi tidur. Seseorang merasa kabur dan relaks, mata bergerak ke kanan dan
ke kiri, kecepatan jantung dan pernafasan turun secara jelas. Gelombang alpha sewaktu
seseorang masih sadar diganti dengan gelombang betha yang lebih lambat. Seseorang yang tidur
pada tahap I dapat di bangunkan dengan mudah.
2) Tahap II
Tahap ini merupakan tahap tidur ringan, dan proses tubuh terus menurun. Mata masih
bergerak-gerak, kecepatan jantung dan pernafasan turun dengan jelas, suhu tubuh dan
metabolisme menurun. Gelombang otak ditandai dengan “sleep spindles” dan gelombang K
komplek. Tahap II berlangsung pendek dan berakhir dalam waktu 10 sampai dengan 15 menit.
3) Tahap III
Pada tahap ini kecepatan jantung, pernafasan serta proses tubuh berlanjut mengalami
penurunan akibat dominasi sistem syaraf parasimpatik. Seseorang menjadi lebih sulit
dibangunkan. Gelombang otak menjadi lebih teratur dan terdapat penambahan gelombang delta
yang lambat.
4) Tahap IV
Tahap ini merupakan tahap tidur dalam yang ditandai dengan predominasi gelombang delta
yang melambat. Kecepatan jantung dan pernafasan turun. Seseorang dalam keadaan rileks,
jarang bergerak dan sulit dibangunkan. (mengenai gambar grafik gelombang dapat dilihat dalam
gambar). Siklus tidur sebagian besar merupakan tidur NREM dan berakhir dengan tidur REM.
b.      Pola Tidur Paradoksikal atau REM
Pola / tipe tidur paradoksikal ini disebut juga (Rapid Eye Movement = Gerakan mata cepat).
Tidur tipe ini disebut “Paradoksikal” karena hal ini bersifat “Paradoks”, yaitu seseorang dapat
tetap tertidur walaupun aktivitas otaknya nyata. Ringkasnya, tidur REM / Paradoks ini
merupakan pola/tipe tidur dimana otak benar-benar dalam keadaan aktif. Namun, aktivitas otak
tidak disalurkan ke arah yang sesuai agar orang itu tanggap penuh terhadap keadaan
sekelilingnya kemudian terbangun. Pola / tipe tidur ini, ditandai dengan :
1) Mimpi yang bermacam-macam
Perbedaan antara mimpi-mimpi yang timbul sewaktu tahap tidur NREM dan tahap tidur
REM adalah bahwa mimpi yang timbul pada tahap tidur REM dapat diingat kembali, sedangkan
mimpi selama tahap tidur NREM biasanya tak dapat diingat. Jadi selama tidur NREM tidak
terjadi konsolidasi mimpi dalam ingatan.
2) Mengigau atau bahkan mendengkur
3) Otot-otot kendor (relaksasi total)
4) Kecepatan jantung dan pernafasan tidak teratur, sering lebih cepat
5) Perubahan tekanan darah
6) Gerakan otot tidak teratur
7) Gerakan mata cepat
8) Pembebasan steroid
9) Sekresi lambung meningkat
10) Ereksi penis pada pria
Syaraf-syaraf simpatik bekerja selama tidur REM. Dalam tidur REM diperkirakan terjadi
proses penyimpanan secara mental yang digunakan sebagai pelajaran, adaptasi psikologis dan
memori (Hayter, 1980:458).
Selama tidur, individu melewati tahap tidur NREM dan REM. Siklus tidur yang komplet
normalnya berlangsung selama 1,5 jam, dan setiap orang biasanya melalui emapt hingga lima
siklus selama 7-8 jam tidur. Siklus tersebut dimulai dari tahap NREM yang berlanjut ke tahap
REM. Tahap NREM I-III berlangsung selama 30 menit, kemudian diteruskan ke tahap IV selama
± 20 menit. Setelah itu, individu kembali melalui tahap II dan III selama 20 menit. Tahap I REM
muncul sesudahnya dan berlangsung selama 10 menit. (Nanda,2003).
2.6. Gangguan Tidur
1). Insomnia
Insomnia adalah ketidakmampuan memenuhi kebutuhan tidur, baik secara kualitas
maupun kuantitas. Gangguan tidur ini umumnya ditemui pada individu dewasa. Penyebabnya
bisa karena gangguan fisik atau karena factor mental seperti perasaan gundah atau gelisah.

Ada tiga jenis insomnia:


1. Insomnia inisial. Kesulitan untukmemulai tidur.
2. Insomnia intermiten. Kesulitan untuk tetap tertidur karena seringnya terjaga.
3. Insomnia terminal. Bangun terlalu dini dan sulit untuk tidur kembali.

Beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasi insomnia antara lin
dengan mengembangkan pola tidur-istirahat yang efektif melalui olahraga rutin, menghindari
ransangan tidur di sore hari, melakukan relaksasi sebelum tidur (mis: membaca, mendengarkan
music), dan tidur jika benar-benar mengantuk.

2). Parasomnia
Parasomnia adalah perilaku yang dapat mengganggu tidur atau muncul saat
seseorang tidur. Gangguan ini umum terjadi pada anak-anak. Beberapa turunan parasomnia
antara lain sering terjaga (mis; tidur berjalan,night terror),gangguan transisi bangun-tidur (mis;
mengigau), parasomnia yang terkait dengan tidur REM (mis; mimpi buruk),dan lainnya (mis;
bruksisme).

3). Hipersomnia
Hipersomnia adalah kebalikan dari insomnia, yaitu tidur yang berkelebihan terutama pada
siang hari. Gangguan ini dapat disebabkan oleh kondisi tertentu, seperti kerusakan system saraf,
gangguan pada hati atau ginjal, atau karena gangguan metabolisme (mis; hipertiroidisme).Pada
kondisi tertentu, hipersomnia dapat digunakan sebagai mekanisme koping untuk menghindari
tanggung jawab pada siang hari.

4). Narkolepsi
Narkolepsi adalah gelombang kantuk yang tak tertahankan yang muncul secara
tiba-tiba pada siang hari. Gangguan ini disebut juga sebagai “serangan tidur” atau sleep attack.
Penyebab pastinya belum diketahui. Diduga karena kerusakan genetic system saraf pusat yang
menyebabkan tidak terkendali lainnya periode tidur REM. Alternatife pencegahannya adalah
dengan obat-obatan, seperti; amfetamin atau metilpenidase, hidroklorida, atau dengan
antidepresan seperti imipramin hidroklorida.

5). Apnea saat tidur


Abnea saat tidur atau sleep abnea adalah kondisi terhentinya nafas secara periodic
pada saat tidur. Kondisi ini diduga terjadi pada orang yang mengorok dengan keras, sering
terjaga di malam hari, insomnia, mengatup berlebihan pada siang hari, sakit kepala disiang hari,
iritabilitas, atau mengalami perubahan psikologis seperti hipertensi atau aritmia jantung.

2.7. Faktor yang mempengaruhi kuantitas dan kualitas tidur


Banyak factor yang mempengaruhi kualitas maupun kuantitas tidur,di antaranya adalah
penyakit, lingkungan,kelelahan,gaya hidup, stress emosional, stimulan dan alcohol, diet,
merokok, dan motivasi.
• Penyakit.
Penyakit dapat menyebabkan nyeri atau distress fisik yang dapat menyebabkan gangguan
tidur. Individu yang sakit membutuhkan waktu tidur yang lebih banyak daripada biasanya.di
samping itu, siklus bangun-tidur selama sakit juga dapat mengalami gangguan.
• Lingkungan.
Faktor lingkungan dapat membantu sekaligus menghambat proses tidur. Tidak adanya
stimulus tertentu atau adanya stimulus yang asing dapat menghambat upaya tidur. Sebagai
contoh, temperatur yang tidak nyaman atau ventilasi yang buruk dapat mempengaruhi tidur
seseorang. Akan tetapi, seiring waktu individu bisa beradaptasi dan tidak lagi terpengaruh
dengan kondisi trsebut.
• Kelelahan
Kondisi tubuh yang lelah dapat mempengaruhi pola tidur seseorang. Semakin lelah
seseorang, semakin pendek siklus tidur REM yang dilaluinya. Setelah beristirahat biasanya
siklus REM akan kembali memanjang.
• Gaya hidup
Individu yang sering berganti jam kerja harus mengatur aktivitasnya agar bisa tidur pada
waktu yang tepat.
• Stress emosional
Ansietas dan depresi sering kali mengganggu tidur seseorang. kondisi ansietas dapat
meningkatkan kadar norepinfrin darah melalui stimulasi system saraf simapatis. Kondisi ini
menyebabkan berkurangnya siklus tidur NREM tahap IV dan tidur REM serta seringnya terjaga
saat tidur.
• Stimulant dan alcohol
Kafein yang terkandung dalam beberapa minuman dapat merangsang SSP sehingga dapat
mengganggu pola tidur. Sedangkan konsumsi alcohol yang berlebihan dapat mengganggu siklus
tidur REM. Ketika pengaruh alcohol telah hilang, individu sering kali mengalami mimpi buruk.
• Diet
 Penurunan berat badan dikaitkan dengan penurunan waktu tidur dan seringnya terjaga di
malam hari. Sebaliknya, penambahan berat badan dikaitkan dengan peningkatan ttal tidur dan
sedikitnya periode terjaga di malam hari.
• Merokok
Nikotin yang terkandung dalam rokok memiliki efek stimulasi pada tubuh. Akibatnya,
perokok sering kali kesulitan untuk tidur dan mudah terbangun di malam hari.
• Medikasi
Obat-obatan tertentu dapat mempengaruhi kualitas tidur seseorang. hipnotik dapat
mengganggu tahap III dan IV tidur NREM, metabloker dapat menyebabkan insomnia dan mimpi
buruk, sedangkan narkotik (mis; meperidin hidroklorida dan morfin) diketahui dapat menekan
tidur REM dan menyebabkan seringnya terjaga di malam hari.
• Motivasi
Keinginan untuk tetap terjaga terkadang dapat menutupi perasaan lelah seseorang.
sebaliknya, perasaan bosan atau tidak adanya motivasi untuk terjaga sering kali dapat
mendatangkan kantuk.

BAB III
PENUTUP

3.1. Simpulan
Istirahat merupakan keadaan yang tenang, relaks tanpa tekanan emosional dan bebas dari
kegelisahan (ansietas). Tidur berasal dari kata bahasa latin “somnus” yang berarti alami periode
pemulihan, keadaan fisiologi dari istirahat untuk tubuh dan pikiran. Hipotalamus mempunyai
pusat pengendalian untuk beberapa jenis kegiatan tak-sadar dari badan, yang salah satu
diantaranya menyangkut tidur dan bangun.
Para ahli telah berhasil menemukan adanya 2 (dua) pola/macam/tahapan tidur, yaitu : Pola
tidur biasa atau NREM dan Pola Tidur Paradoksikal atau REM.
Gangguan tidur diantaranya adalah insomnia, parasomnia, hipersomnia, narkolepsi, apnea
saat tidur. Selain factor-faktor yang mempengaruhi kuantitas dan kualitas tidur di
antaranya antaranyaadalah penyakit, lingkungan,kelelahan,gaya hidup, stress emosional,
stimulan dan alcohol, diet, merokok, dan motivasi.