Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Tanah merupakan unsur penting dalam kehidupan manusia. Sebagian besar


kehidupan manusia bergantung pada tanah. Manusia membutuhkan tanah baik sebagai
tempat tinggal, maupun sebagai sumber kehidupan terutama di negara negara agraris.
Jaminan kepastian hukum di bidang pertanahan sangatlah diperlukan. Perangkat yang
tertulis, lengkap, jelas dan dilaksanakan secara konsisten sangatlah diperlukan dalam
pemberian kepastiian hukum di bidang pertanahan serta terselenggaranya pendaftaran
tanah demi adanya jaminan kepastian hukum atas hak tanah.

Pendaftaran tanah merupakan suatu bagian yang sangat penting. Karena dengan
pendaftaran tanah disitulah lahir sebuah bukti kepemilikan hak atas tanah. Dengan
adanya pendaftaran tanah seseorang dapat dengan mudah memperoleh keterangan yamg
berkenaan dengan sebidang tanah seperti hak- hak yang di miliki atas tanahnya, lokasi
tanah, luas tanah, apakah tanah tersebut memiliki sangkutan (kredit perbankkan).
Lembaga pendaftaran tanah sangatlah diharapkan masyarakat guna mempertahankan
kepemilikan atas hak tanah tersebut. Serta pemiliknya dapat terlindungi secara yuridis
dan teknis untuk digunakan, dialihkan dan diikat sebagai jaminan hutang oleh
pemiliknya. Selain itu tujuan dari pendaftaran tanah ialah guna menjamin kepastian akan
hukum.

Malaysia merupakan negara federal yang terdiri dari 13 negara dan 3 wilayah
federal dengan luas 329.847 km persegi. Aturan mengenai tanah di Malaysia dibagi
menjadi dua bagian, yaitu Malaysia wilayah barat dan wilayah timur. Kanun Tanah
Negara merupakan peraturan tanah tertinggi di Semenanjung Malaysia yang kemudian
mengalami perubahan. Undang – undang ini tidak terpakai di wilayah Sabak dan
Sarawak. Sarawak menggunakan Land Code 1958 dan Sabah menggunakan Land
Ordinance 1962. Selain kanun tanah negara Malaysia menganut tiga sumber undang –
undang tanah negara, antara lain undang – undang adat, undang – undang islam dan
undang – undang inggeris yang berteraskan pada system torrens.

Dari uraian diatas penulis alan menjelaskan mengenai sistem pendaftaran tanah
yang ada di negara Malaysia dan permasalahan yang berkaitan dengan pendaftaran tanah
di negara Malaysia.

I.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, makadapat


dirumuskan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana pelaksanaan pendaftaran tanah di negara Malaysia?


2. Apa perbedaan pada sumber undang- undang menegnai pendaftaran tanah di
Malaysia?
3. Permasalahan apa yang terjadi di negara Malaysia yang menyangkut tentang
pertanahan ?

I.3 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah guna menyelesaikan tugas mata kuliah
hukum tata ruang dan pertanahan. Memperoleh pengetahuan mengenai sisem
pendaftaran tanah yang ada di negara Malaysia. Mengetahui permaslaahan yang
bersangkutan dengan tanah di negara Malaysia.
BAB II
KAJIAN TEORI

II.1 Pengertian Pendaftaran Tanah

Pendaftaran tanah dalam Bahasa Latin disebut dengan capitastrum yang berarti
suatu register atau capita atau unit yang diperbuat untuk pajak tanah romawi. Kemudian
oleh Kolonial belanda di Indonesia disebut dengan Kadastrale atau kadaster. Kadaster
merupakan suatu istilah teknis untuk suatu yang menunjukkan pada luas, nilai dan
kepemilikan terhadap suatu bidang tanah. Menurut Boedi Harsono pendaftaran tanah
adalah suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan secaraa terus – menerus dan teratur
untuk mengumpulkan, mengolah, menyimpan, dan menyajikan data tertentu mengenai
bidang= bidang atau tanah- tanah tertentu yang terdapat di suatu wilayah tertentu dengan
tujuan tertentu guna kepentingan rakyat dalam memeberikan jaminan hukum atas bidang
pertanahan, termasuk penerbitan dan tanda buktinya dan pemeliharaannya.

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran tanah sebagai


peraturan secara khusus mengenai pendaftaran tanah menjelaskan pada pasaal 1 ayat 1
“Pendaftaran tanah adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh Pemerintah secara
terus menerus, berke-sinambungan dan teratur, meliputi pengumpulan, pengo-lahan,
pembukuan, dan penyajian serta pemeliharaan data fisik dan data yuridis, dalam bentuk
peta dan daftar, mengenai bidang-bidang tanah dan satuan-satuan rumah susun, termasuk
pemberian surat tanda bukti haknya bagi bidang-bidang tanah yang sudah ada haknya dan
hak milik atas satuan rumah susun serta hak-hak tertentu yang membebaninya”.

II.2 Kanun Tanah Negara 1965 (National Land Code 1965)

Kanun Tanah negara (KTN) adalah undang undang tertinggi di Semenanjung


Malaysia mengenai urusan pentadbiran tanah. Undang – undang ini dikuasakan mulai
pada 1 Januari 1996. KTN merupakan suatu kodifikasi peraturan yang mencakup banyak
aspek penting mengenaii tanah. KTN mencakup ruang lingkup yang luas dan terdiri dari
berbagai kelompok, dari seksyen1 hingga seksyen 477 serta 14 tabel dan beberapa
formulir. Untuk menjadikan hukumyang berjalan secara efektif, aturan harus dalam
kondisi yang mudah dipahami sehingga masyarakat paham akan isi dan artinya.
Kesulitan masyarakat dalam memahani isi dari ketentuan dalam KTN serta pengadilan
setempat yang menyinggung jauh dari teks hukum yang ada. Pada bagian 340 KTN
menyatakan akan pentingnya pendaftaran hak. Seperti pada pasal 160 : “hukum”
termasuk hukum tertulis, hukum umum yang berlaku di federasi atau bagian daripadanya,
serta kebiasaan atau yuridiksi adat di federasi atau bagiannya; 3 pasal 16 : dewan
kehakiman dan hukum ; dewan kehakiman dan hukum . secara inggris :The Council of
the Yang di-Pertuan Besar and the Ruling Chiefs’, hereinafter referred to as the Dewan to
advice on questions relating to Malay Custom in any part of the State …” 4 Fasal 32: “…
this Part shall not affect the ancient constitution and ancient custom of the State of Negeri
Sembilan but such ancient constitution and ancient custom, where not inconsistent with
this Part, shall continue as heretofore.” Malaysian Journal of Syariah and Law, Volume 5
(khas), 2017 6 tidak boleh disangkal kecuali dalam beberapa situasi.

Oleh karena itu melalui ketentuan ini, pemilik tanah asli taat pada ketentuan ini
selama “Tanah Adat” tidak termasuk dalam property apa pun. Land Holding Enactment
adalah undang-undang yang mengakui penggunaan properti secara adat yang memiliki
kata "Tanah Adat". Namun, sertifikat tanah non-adat juga patuh pada penerapan aturan
adat. Sejarah menunjukkan pengaruh pemerintah Inggris telah memperkenalkan beberapa
sistem hukum pertanahan dari waktu ke waktu untuk membentuk undang-undang
pertanahan yang lengkap. Perkembangan ekonomi Inggris, kewajiban melindungi orang
Melayu terkait agama dan adat adalah antara hal yang dititikberatkan oleh administrator
Inggris dalam menegakkan hukum terkait tanah misalnya dalam penetapan pajak tanah
(A.Samad et al., 1994).

Pada tahun 1889, W.E. Maxwell, seorang warga Inggris di Selangor, telah
memperkenalkan Sistem Torrens dalam administrasi pertanahan di Selat, Selangor dan
Perak. Sistem yang diterapkan di Australia telah memengaruhi administrasi dan legalisasi
distrik. Sistem ini berkaitan dengan pendaftaran sertifikat tanah untuk menghindari unsur
penipuan atau pemalsuan (A.Samad Idris et al., 1994). Melalui sistem tersebut tanah
milik orang Melayu dan tanah yang patuh pada sistem administrasi tradisional atau adat
dicatat sebagai "customary Land." Justru, pada waktu itu sistem ini dilihat sekurang-
kurangmya berupaya untuk mengontrol tanah-tanah orang Melayu yang tidak patuh
kepada adat dari berpindah milik kepada orang bukan Melayu. Sedangkan untuk tanah
terkait adat lebih bertujuan untuk mengontrol perpindahan hak milik bukan suku Melayu.
Sistem ini juga dikatakan masih mempertahankan beberapa aspek dari sistem
administrasi tanah adat dalam konteks hukum modern (A.Samad et al. 1994).

II.3 Konstitusi Federal Negara

Tanah adat telah diakui dalam konstitusi federal melalui Pasal 90, yang
menetapkan ketentuan khusus mengenai pengakuan yang diberikan kepada hukum adat
yang notabene mengesampingkan ketentuan hukum lainnya, terutama yang
bersangkutan dengan tanah. Pasal 90 ayat (1) konstitusi federal menyatakan :

(1) Tidak ada dalam konstitusi ini yang akan memengaruhi validitas pembatasan yang
diberlakukan undang – undang mengenai pengalihan ha katas tanah atau tanah
adat.

Pasal 324 menetapkan ketentuan khusus tentang penerapan adat dan adat serta
ketentuan konstitusi negara yang diadopsi atau dipraktikkan di masa lalu serta tidak
bertentangan dengan ketentuan konstitusi negara.

Oleh karena itu, bahwa tanah ulayat sesuai pada hukum adat serta dilindungi
oleh keberadaan ketentuan tertentu dalam konstitusi Federal serta konstitusi negara.
Ketentuan ini juga mencerminkan bahwa Tanah Adat perlu dikelola dengan baik dan
sistematis. Sehingga keberadaan Tanah Adat yang rasional dapat dipertahankan dan
manfaatnya dapat dinikmati oleh generasi yang akan mendatang . Likuiditas praktisi
Perpatih Pribumi yang telah dipengaruhi oleh perkembangan sejarah sosial dan politik
(Agus & Zulkifli, 2003) juga dapat dipertahankan dari likuiditas berkelanjutan, jika
konten konstitusi negara bagian dan federal diubah oleh administrator dan publik.
II.4 Diberlakukannya Reserve Melayu (Malay Reservation Enactment)

Hukum Tanah Rizab Melayu mulai diperkenalkan pada 1 Januari 1914. Setelah
melalui proses penghapusan dan revisi pada tahun 1935, Enakmen Reserve Melayu
(ERM) tersebut telah direvisi dan diterbitkan ulang sebagai ERM (NMB Bab 142) dan
digunakan sampai hari ini. Saat ini, ada negara yang menggunakan ERM seperti Perak,
Selangor, Negeri Sembilan, Pahang, Kelantan, Kedah, Perlis, Johor dan Terengganu
(ERM, 2015). Tujuan ERM adalah mempertahankan tanah-tanah milik Melayu yang
akan dikuasai oleh orang Melayu dan berobjektifkan untuk membatasi tanah negara di
dalam kawasan Cagar Melayu. Membatasi tanah Pegangan Melayu atau tanah Reserve
Melayu daritransaksi pribadi (private dealings) di antara Melayu dan bukan Melayu.
Setiap daerah yang telah dinyatakan sebagai Cadangan Melayu harus tetap Reserve
Melayu melainkan dinyatakan batal oleh pihak yang bersangkutan (ERM, 2015).
Sebagaimana disebutkan di atas, semua tanah-tanah yang telah ditandai dengan kata
"customary Land" telah dinyatakan sebagai tanah cadangan Melayu. Namun, tanah
cadangan Melayu tidak semestinya ditandai dengan "customary Law" dalam hak milik
keluarannya atau buku daftar judul (Sulaiman Kadimi, 2015). Dalam praktiknya, jika
ada ketentuan adat yang bertentangan dengan ketentuan hukum pertanahan yang relevan,
hukum adat akan menang atas semua ketentuan hukum lainnya. Hal ini telah sahkan
dalam konstitusi federal dan negara yang bersangkutan.

II.5 Pemberlakuan Kepemilikan Adat 1909

Konsep pewarisan pertama kali diakui oleh pemerintah Inggris pada tahun 1909
dengan rancangan Undang-Undang Penguasaan Tanah Adat 1909 (CTE1909). Ini
karena tidak ada ketentuan khusus untuk tanah adat dalam undang-undang pertanahan
sebelumnya. Undang-undang ini diberlakukan untuk mencegah penjualan warisan
kepada berbagai suku dan bangsa lain. Tujuan dari berlakunya aturan ini sebagaimana
dinyatakan dalam pembukaan adalah 'untuk mempertahankan hukum adat di tanah
tertentu'.5 Hal ini dapat diartikan sebagai memberikan perlindungan hukum terhadap
warisan kepemilikan suku. Dengan demikian, kepemilikan pemilik tanah yang terdaftar
tetap taat pada hukum adat. Bagian 3 menyediakan ketentuan yang memastikan bahwa
pemilik tidak melakukan transaksi yang bertentangan dengan kebiasaan. Hal tersebut
menunjukkan bahwa Undang-Undang tersebut dianggap memberikan pengakuan
berdasarkan undang-undang terhadap penegakan hukum adat (Azwan et al, n.a; Selat
Nordin 1976; David. 1975). Selain itu, di bawah berlakunya perjanjian ini, kesepakatan
tanah harus memiliki persetujuan dari Dewan triwulanan yang relevan dan transaksinya
di hadapan Dewan dan Kolektor, dan kolektor menegaskan bahwa proses transaksi
memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh Penetapan (CTE 1909). Revisi lebih lanjut
guna menjelaskan bahwa transaksi tanah adat untuk dijual atau biaya dengan orang luar
tidak dapat dilakukan tanpa terlebih dahulu ditawarkan kepada anggota Tribunal.