Anda di halaman 1dari 2

MENGELOLA KEUANGAN KELUARGA

Besar pasak daripada tiang adalah istilah yang seringkali kita dengar untuk menggambarkan kondisi
keuangan saat pemasukan tidak sepadan dengan pengeluaran artinya pengeluaran lebih besar
daripada pemasukan. Hal ini bisa saja terjadi pada siapapun baik pribadi, keluarga, sebuah organisasi
ataupun negara. Kali ini saya ingin membahasnya pada ranah keluarga. Alasannya sederhana sebab
keluarga yang sehat salah satunya adalah cerdas dalam mengelola keuangannya, terutama sehat
secara ekonomi. Kenapa saya katakan demikian karena kesehatan ekonomi keluarga adalah salah satu
yang akan mengantarkan pada kemandirian dan tercapainya tujuan keluarga, baik tujuan lahir
maupun batin.

Memang benar, uang bukanlah segalanya namun tanpa uang kehidupan saat ini tak mampu berbuat
apa-apa. Pemenuhan kebutuhan hidup, keperluan sekolah, kesehatan, silaturahmi bahkan keamanan
sekalipun akan sangat suit jika tak menggunakan uang. Beuntung bila dalam keluarga tersebut
pendapatannya mampu mengcover segala keperluan hidup yang disebutkan diatas. Lain halnya
dengan sebuah keluarga yang pendapatannya pas-pasan, mungkin saja untuk mengcover kebutuhan
pokok saja mereka kewalahan, terseok-seok bahkan terbanting hingga mereka harus bekerja keras
siang malam tapi tak kunjung berkecukupan.

Berawal dari masalah ekonomi atau keuangan inilah adakalanya sebuah keluarga bermasalah,
jangankan yang penghasilannya tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya bahkan ada pula yang
secara hitungan matematika seharusnya mampu mencukupi ternyata malah hutangnya disana sini.
Kenapa hal ini bisa terjadi? Mungkin saja karena keluarga tersebut kurang cermat dalam mengelola
keuanganya.

Mengelola berarti mengatur, mengurus, mengendalikan. Mengelola keuangan keluarga berarti


bagaimana mengatur, mengurus dan mengendalikan keuangan yang dimiliki keluarga dalam mencapai
tujuannya. Ada sebagian di kalangan kita yang karena kurang piawai dalam mengatur keuangan
keluarga lantas berujung konflik yang berkepanjangan padahal awalnya dengan susah payah keluarga
dibangun dari nol.

Dalam pandangan penulis, kepiawaian mengatur keuangan keluarga sangat dipengaruhi oleh dua
faktor, internal dan ekaternal. Pertama, Faktor internal adalah faktor dalam diri anggota keluarga
yang akan mempengaruhi kondisi keuangan keluarga seperti naluri keinginan yang akan memunculkan
kebiasaan-kebiasaan dalam kehidupan (habits) seperti hobi misalnya. Sering kali hobi yang dimiliki
setiap individu memaksanya untuk merogoh keuangan yang lumayan banyak, malahan ada dari
sebagian orang mengalokasikan khusus demi kepentingan hobinya. Kedua, faktor eksternal adalah
faktor dari luar yang mampu mempengaruhi kondisi keuangan keluarga seperti silaturahmi,
membantu saudara, tetangga atau teman yang membutuhkan, meniru gaya hidup orang lain dan
sebaginya.

Oleh karenanya mencermati itu semua ada beberapa yang harus diperhatikan setiap individu keluarga
terutama para ibu yang menjabat pengelola keuangan keluarga. Diantaranya Fahami komposisi
keuangan keluarga. Memahami komposisi keuangan keluarga akan mampu mengatur strategi dalam
membelanjakannya sehingga yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah menyusun rencana
keuangan yang realistis. Rencanakan anggaran belanja sesuai kebutuhan, inventarisir hal-hal menurut
skala prioritas, mulai dari kebutuhan makan, minum, pakaian, sekolah, kesehatan, santunan,
silaturahmi, dan sebagainya. Disini kita harus jeli dan memahami mana hal-hal yang dibutuhkan dan
mana hal-hal yang menjadi keinginan. Adakalanya bagi sebagian orang tidak menyadari antara
keinginan dan kebutuhan, seringkali kita terjebak untuk hal ini. Karena kadangkala nafsu dan dorongan
naluri kita terlalu kuat sehingga sesuatu yang tidak dibutuhakan pun diklaim itu sebagai sebuah
kebutuhan. Kemampuan memahami keinginan dan kebutuhan akan mengantarkan kita dalam
meminimalisir belanja konsumtif. Kebiasaan belanja konsumtif secara tidak langsung memberi
stempel pada diri kita sebagai tukang belanja dan hanya mampu untuk memakai barang. Budaya
konsumtif ini sangat rawan jika tidak dikendalikan sebab bisa saja kebiasaan ini menjadi gaya hidup
yang harus selalu dipenuhi. Karena kebiasaan konsumtif dan ingin memenuhi gaya hidup, ada
diantaranya yang rela berhutang kesana kemari. Sungguh sangat disayangkan bila untuk sekedar
memenuhi gaya hidup saja harus berhutang, semampu mungkin hindarilah berhutang kecuali dalam
keadaan mendesak janganlah coba-coba untuk berhutang apalagi di zaman seperti sekarang
berhutang akan menyebabkan pengembalian yang berlipat ganda (baca riba), itu sangat
menyengsarakan keuangan keluarga, sepintas memang terasa ringan karena dibayar secara menyicil
tetapi pada hakikatnya justru itulah salah satu penyebab masalah keluarga. Dengan menghindari
berhutang peluang untuk menabung akan terbuka lebar. Usahakan sisihkan untuk menabung sekitar
10 hingga 30% dari penghasilan yang diperoleh. Dengan menabung setidaknya mempunyai pegangan
ketika ada kebutuhan-kebutuhan mendesak yang harus segera dipenuhi seperti kebutuhan kesehatan
atau pendidikan dan sebagainya.

Terakhir, yang perlu diperhatikan adalah tetapkan tujuan finansial bersama pasangan. Dengan
ketetapan yang telah disepakati bersama maka tidak ada istilah sembunyi-sembunyi dalam
pemasukan dan pengeluaran, suami atau istri tahu dari mana sumber pemasukan datang dan kemana
pos-pos pengeluaran pergi. Yang paling penting, pastikan bahwa sumber pemasukan yang dihasilkan
keluarga adalah dari sumber-sumber yang halal lagi baik dan dikeluarkan untuk kepentingan-
kepentingan yang halal lagi baik. Tak lupa pula dari sebagian yang dihasilkan ada hak orang lain yang
harus dibagikan maka janganlah khawatir untuk berbagi pada yang berhak karena justru itulah yang
akan menuai keberkahan keuangan keluarga kita. Karena berkah semua kebutuhan akan dicukupi
Allah SWT.