Anda di halaman 1dari 6

LEARNING OBJECTIVE BAB 9

9.2 MEMBUAT PERTIMBANGAN PENDAHULUAN TENTANG BERAPA JUMLAH


YANG DIANGGAP MATERIAL UNTUK BAGIAN MATERIALITAS UNTUK
LAPORAN KEUANGAN SECARA KESELURUHAN.

Pertimbangan pendahuluan tentang materialitas adalah jumlah maksimum yang


membuat auditor yakin bahwa laporan keuangan akan salah saji tetapi tidak
mempengaruhi keputusan para pemakai yang bijaksana. Pertimbangan ini harus

Pertimbangan pendahuluan tentang materialitas diatur dalam SAS 107 (AU 312), yaitu
Standar auditing mengharuskan auditor memutuskan jumlah salah saji gabungan dalam
laporan keuangan, yang akan mereka anggap material pada awal audit ketika sedang
mengembangkan strategi audit secara keseluruhan. Keputusan tersebut adalah
pertimbangan pendahuluan tentang materialitas.

Selama pelaksanaan audit, auditor sering mengubah pertimbangan pendahuluan tentang


materialitas. Hal ini biaa disebut sebagai pertimbangan tentang materialitas yang
direvisi. Auditor mungkin akan melakukan revisi karena adanya perubahan dalam salah
satu faktor yang digunakan untuk menentukan pertimbangan pendahuluan; karena
auditor memutuskan bahwa pertimbangan pendahuluan terlalu besar atau terlalu kecil.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertimbangan Pendahuluan Auditor tentang


Materialitas :

1. Materialitas adalah konsep yang bersifat relatif ketimbang absolut.


Materialitas tiap-tiap perusahaan berbeda (relatif). Contohnya $10 juta akan sangat
material pada perusahaan dengan total aset $61 juta dan laba bersih sebelum pajak
lebih kecil dari $6 juta sedangkan hamper pasti tidak material pada perusahaan
seperti IBM, yang memiliki total aset dan laba bersih beberapa miliar.

2. Tolok Ukur yang Diperlukan untuk Mengevaluasi Materialitas


Karena materialitas bersifat relative, diperlukan tolok ukur untuk menentukan
apakah salah saji itu material. Tolok ukur yang sering digunakan pada perusahaan
berorientasi laba adalah laba bersih sebelum pajak. Tolok ukur utama lainnya
meliputi penjualan bersih, laba kotor, serta total aset atau aset bersih.

Faktor-Faktor Kualitatif yang Juga Mempengaruhi Materialitas: Jenis salah saji tertentu
mungkin lebih penting bagi para pemakai dibandingkan salah saji lainnya, sekalipun
nilai dolarnya sama, sebagai contoh :

1. Jumlah yang melibatkan kecurangan biasanya dianggap lebih penting ketimbang


kesalahan yang tidak disengaja dengan nilai dolar yang sama, karena kecurangan itu
mencerminkan kejujuran serta reliabilitas manajemen atau personil lain yang
terlibat.
2. Salah saji yang sebenarnya kecil bisa menjadi material jika ada konsekuensi yang
mungkin timbul dari kewajiban kontraktual.
3. Salah saji yang sebenarnya tidak material dapat saja menjadi material jika
mempengaruhi tren laba.

9.4 MENGGUNAKAN MATERIALITAS UNTUK MENGEVALUASI TEMUAN


AUDIT

Auditor dapat menemukan salah saji jumlah dalam akun. Salah saji yang ditemukan
dalam suatu akun dapat dibedakan menjadi dua jenis:

1. Salah saji yang diketahui (known misstatement), adalah salah saji dalam akun yang
jumlahnya dapat ditentukan oleh auditor
2. Salah saji yang mungkin (likely misstatement)
Terbagi menjadi dua jenis:
a) Salah saji yang berasal dari perbedaan antara pertimbangan manajemen dan
auditor tentang estimasi saldo akun. Contohnya, perbedaan estimasi penyisihan
untuk piutang tak tertagih atau kewajiban garansi.
b) Proyeksi salah saji berdasarkan pengujian auditor atas sampel dari suatu populasi.
Contohnya, asumsikan auditor menemukan 6 salah saji yang dilakukan oleh klien
dalam sampel yang terdiri atas dua ratus barang ketika menguji biaya persediaan.
Auditor menggunakan salah saji tersebut untuk mengestimasi total salah saji yang
mungkin dalam persediaan. Total ini disebut “estimasi” atau “proyeksi” atau
“ekstrapolasi” karena hanya sampel yang diaudit, bukan keseluruhan populasi.
Estimasi salah saji yang diproyeksikan ini disyaratkan oleh SAS 111 (AU 350).
Jumlah salah saji yang diproyeksikan untuk setiap akun digabungkan dalam
kertas kerja dan kemudian gabungan salah saji yang mungkin ini dibandingkan
dengan materialitas.

9.6 MENJELASKAN MODEL RISIKO AUDIT DAN KOMPONENNYA

Ada 4 komponen model risiko audit:

1. Risiko deteksi yang direncanakan (planned detection risk), adalah risiko bahwa
bukti audit untuk suatu tujuan audit akan gagal mendeteksi salah saji yang melebihi
materialitas kinerja. Risiko deteksi yang direncakan menentukan jumlah bukti
subtantif yang direncanakan akan dikumpulkan auditor, yang besarnya berlawanan
dengan risiko deteksi yang direncanakan. Jika risiko deteksi yang direncanakan
dikurangi, auditor harus mengumpulkan lebih banyak bukti untuk mencapai
rencana pengurangan resiko itu.
2. Risiko inheren (Inherent Risk) mengukur penilaian auditor atas kerentanan asersi
salah saji yang material, sebelum memperhitungkan keefektifan pengendalian
internal. Jika auditor menyimpulkan bahwa kemungkinan besar aka nada salah saji,
dengan mengabaikan pengendalian internal, auditor akan menyimpulkan bahwa
risiko inheren adalah tinggi. Pengendalian internal diabaikan dalam penetapan
resiko inheren karena pengendalian internal ini diperhitungkan secara terpisah
dalam model resiko audit sebagai risiko pengendalian.
3. Risiko pengendalian (control risk) mengukur penilaian akhir mengenai risiko
bahwa salah saji material akan terjadi dalam suatu asersi dan tidak dapat dicegah
atau terdeteksi secara tepat waktu oleh pengendalian internal klien. Semakin efektif
pengendalian internal, semakin rendah factor resiko yang dapat ditetapkan untuk
resiko pengendalian.
4. Risiko audit yang dapat diterima (acceptable audit risk), adalah ukuran kesediaan
auditor untuk menerima bahwa laporan keuangan mungkin mengandung salah saji
yang material setelah audit selesai, dan pendapat wajar tanpa pengecualian telah
dikeluarkan. Sering kali, auditor menyebut istilak audit assurance (yang juga
disebut assurance keseluruhan atau tingkat assurance) dan bukan risiko audit yang
dapat diterima. Audit assurance atau istilah-istilah lain yang sejenis merupakan
pelengkap risiko audit yang dapat diterima, yaitu 1-risiko audit yang dapat
diterima. Dengan kata lain risiko audit yang dapat diterima sebesar 2% atau sama
dengan audit assurance sebesar 98%.

9.8 MEMPERTIMBANGKAN DAMPAK BEBERAPA FAKTOR TERHADAP


PENILAIAN RISIKO INHEREN

1. Sifat bisnis klien


Risiko inheren mungkin sangat bervariasi dari satu bisnis ke bisnis lain untuk
akun-akun seperti persediaan, piutang usaha dan pinjaman, property, pabrik dan
peralatan. Contoh : produsen alat-alat elektronik menghadapi kemungkinan
keusangan persediaan lebih besar daripada yang dihadapi pabrik baja. Informasi
yang diperoleh selama auditor berusaha memahami bisnis dan industry klien serta
menilai risiko bisnis, akan sangat berguna untuk menilai faktor ini.
2. Hasil audit sebelumnya
Salah saji yang ditemukan dalam tahun audit sebelumnya mungkin saja terjadi lagi
di audit tahun berjalan, karena banyak jenis salah saji yang sistematis dan
organisasi lamban dalam mengadakan perubahan untuk menghilangkan salah saji
tersebut. Maka, jika auditor menemukan sejumlah besar salah saji dalam audit
tahun lalu, auditor mungkin akan menilai risiko inheren yang tinggi selama audit
tahun berjalan dan melakukan pengujian secara ekstensif.
3. Penugasan awal vs penugasan berulang
Kebanyakan auditor menetapkan risiko inheren tinggi pada tahun pertama audit
dan menguranginya pada tahun-tahun berikutnya setelah memahami klien. Auditor
akan memperoleh pengalaman dan pengetahuan tentang kemungkinan salah saji
setelah mengaudit klien selama beberapa tahun
4. Pihak terkait
Transaksi-transaksi antara pihak terkait, yakni antara perusahaan induk dan
perusahaan anak, serta antara manajemen dan entitas perusahaan memiliki
kemungkinan disalahsajikan jauh lebih besar, sehingga risiko inheren meningkat
5. Transaksi nonrutin/kompleks
Transaksi-transaksi yang tidak biasa bagi klien / melibatkan kontrak yang panjang
dan kompleks lebih besar kemungkinannya dicatat secara salah ketimbang
transaksi rutin, karena klien sering kali belum berpengalaman mencatat transaksi
nonrutin tsb. Auditor dapat menilai konsekuensi dari transaksi nonrutin/kompleks
dengan memahami bisnis klien serta mereview notulen rapat.
6. Pertimbangan yang diperlukan untuk mencatat saldo akun dan transaksi dengan
tepat
Untuk saldo/transaksi yang membutuhkan banyak pertimbangan manajemen,
kemungkinan salah saji akan meningkat sehingga auditor harus memperbesar risiko
inheren. Contoh : investasi tertentu yang dicatat pada nilai wajar, penyisihan untuk
piutang tak tertagih, persediaan usang, kewajiban pembayaran garansi, penggantian
asset besar-besaran vs penggantian parsial serta cadangan kerugian pinjaman bank
7. Unsur-unsur populasi
Setiap item yang membentuk total populasi sering kali juga memengaruhi
ekspektasi auditor mengenai salah saji material serta memerlukan investigasi lebih
mendalam. Contoh item-item yang memerlukan risiko inheren lebih tinggi:
transaksi dengan perusahaan afiliasi, jumlah piutang pada pejabat perusahaan,
pengeluaran kas yang dibayar tunai serta piutang usaha yang beredar selama
beberapa bulan.
8. Faktor-faktor terkait pelaporan keuangan yang curang dan misaprosiasi asset
Menurut persyaratan auditing, lebih penting bagi auditor untuk menilai risiko dan
meresponsnya ketimbang mengkategorisasikannya dalam jenis risiko tertentu.
Banyak kap melaksanakan prosedur tambahan untuk menilai risiko kecurangan
selain menilai risiko salah saji material dalam tujuan audit relevan. Risiko
kecurangan dapat dinilai untuk keseluruhan audit / menurut siklus, arus dan tujuan.
Risiko pelaporan keuangan yang curang dan risiko misaprosiasi asset, auditor
fokus pada bidang-bidang tertentu yang risiko kecurangannya lebih tinggi serta
merancang prosedur audit/ mengubah pelaksanaan audit secara keseluruhan untuk
merespons risiko-risiko tersebut.
9.10 MEMBAHAS BAGAIMANA MATERIALITAS DAN RISIKO SALING TERKAIT
DAN TERINTEGRASI DALAM AUDIT PROSES

Konsep materialitas dan risiko dalam audit berkaitan erat dan tidak terpisahkan. Risiko
adalah ukuran ketidakpastian, sedangkan materialitas mengukur besarannya. Keduanya
mengukur ketidakpastian jumlah dengan besaran tertentu.

Hubungan antara materialitas kinerja dan keempat risiko bukti audit :

Auditor harus berhati-hati sewaktu mengambil keputusan, berdasarkan bukti yang


dikumpulkan, bahwa penilaian risiko pengendalian atau risiko inheren yang ditetapkan
terlalu rendah atau risiko audit yang dapat diterima ditetapkan terlalu tinggi. Dalam
keadaan seperti ini, auditor harus mengikuti dua langkah :

1. Auditor harus merevisi penilaian awal atas tingkat resiko yang tepat.
2. Auditor harus mempertimbangkan smapak revisi tersebut terhadap kebutuhan bukti
tanpa menggunakan model resiko audit.