Anda di halaman 1dari 7

T N 1 E S 1 3 1 BL 0 3 TH 2 0 1 9

TECHNICAL NOTES - TAHUN 2019

Nomor: 01/TN/ES1.3.1/ PBBKB/BTIKK/PKT/BPPT/III/2019

ES 1.3.1
TECHNICAL NOTES 1
STUDI LITERATUR PENGUJIAN FISIK UNTUK PROTOTIPE KERAMIK BERPORI

WP 1.3
Pengujian Prototipe Keramik Berpori

WBS 1
Pengembangan Masa Bodi dan Disain Keramik Berpori

SUB KOMPONEN
PENGEMBANGAN BAHAN BAKU UNTUK KERAMIK BERPORI
(Kode: 3528.001.002)

KOMPONEN
PEREKAYASAAN TEKNOLOGI BAHAN

SUB OUTPUT
INOVASI TEKNOLOGI BAHAN
(Kode: 3514.001.001)

DIBUAT OLEH: DIPERIKSA OLEH: DISETUJUI OLEH:

Engineering Staf Leader Group Leader


Fuad Darul Muttaqin,S.Si Komang Adiputra,S.Sn,M.Sn IGA Suradharmika,S.T,M.M
28/03/2019 29/03/2019 29/03/2019

1
DAFTAR ISI

I. PENGANTAR
II. HASIL KEGIATAN DAN PEMBAHASAN
III. REFERENSI

2
I. PENGANTAR
Pada dasarnya, material berpori adalah berbagai jenis material padat yang
memiliki pori untuk tujuan tertentu. Adanya pori dalam material dapat membuat
material tersebut memiliki luas permukaan yang lebih besar, memiliki densitas lebih
rendah, dan memiliki ruang kosong yang dapat ditempati atau dialiri fluida. Oleh
karena itu material berpori saat ini banyak dipelajari dalam berbagai bidang mulai
dari teknik filtrasi, teknik konstruksi, geosains, biofisika, hingga sains material.
Beberapa pemanfaatan material berpori diantaranya sebagai katalis pada industri
kimia, absorben suatu polutan, elektroda, divais sensor, dan sebagainya.
Berbagai karakteristik fisik dan kimia dari material berpori seperti permeabilitas,
kuat tarik, dan konduktivitas elektrik ditentukan oleh sifat porinya. Sehingga
pengembangan terakhir sintesis material berpori telah terfokus pada material yang
dapat direkayasa ukuran pori dan distribusi porinya.
Sebagai bagian dari Program ini, Engineering Staff (ES) 1.3.1 ditugaskan pada
Work Package (WP) 1.3 Pengujian prototipe keramik berpori merupakan turunan
kegiatan dari Work Breakdown Structer (WBS) 1 Pengembangan massa bodi dan
desain keramik berpori. Ruang lingkup bahasan ES 1.3.1 pada WP 1.3 akan
mendalami pengujian fisis pada prototipe keramik.

II. HASIL KEGIATAN DAN PEMBAHASAN


1. Studi Literatur Uji Fisik
Pada pengembangan prototipe keramik berpori ini, akan dilakukan uji fisik,
meliputi : 1) Susut kering dan susut bakar bakar, 2) Uji kekerasan material, dan 3)
Pengukuran porositas
1.1. Susut kering dan susut bakar bakar
Tanah liat dalam keadaan plastis masih mengandung air sehingga mudah
dibentuk menjadi benda keramik. Setelah kering benda keramik tersebut akan
mengalami penyusutan. Hal ini terjadi karena menguapnya air pembentuk dan air
selaput pada badan dan permukaan benda keramik sehingga menyebabkan butiran-
butiran tanah liat menjadi rapat satu sama lain.
Tanah liat akan mengalami dua kali penyusutan, yaitu penyusutan yang terjadi
dari keadaan basah menjadi kering, disebut susut kering dan penyusutan yang
terjadi pada waktu proses pembakaran, disebut susut bakar. Jumlah persentase
penyusutan (susut kering dan susut bakar) yang dipersyaratkan sebaiknya antara
5%–15%.Tanah liat memiliki variasi penyusutan yang berbeda-beda, semakin tinggi
plastisitas tanah liat maka semakin tinggi pula penyusutannya.

3
1.2. Uji kekerasan
Kekerasan adalah ketahanan material terhadap deformasi plastis lokal
(Robbina, 2012). Terdapat 3 jenis uji kekerasan, yaitu metode 1) gores, 2) dinamik /
pantul, 3) indentasi.
1.2.1. Metode Gores
Pengujian kekerasan dengan metode gores dilakukan dengan cara mengukur
kemampuan suatu material standar ke material uji. Skala uji yang digunakan adalah
Skala Mohs, yang terdiri dari 10 nilai material standar yang sesuai . Nilai 1 adalah
yang paling lunak dan 10 yang paling keras. Skala Mohs adalah skala kualitatif
diciptakan oleh geologis Jerman, Friedrich Mohs.
1.2.2. Metode Dinamik / Pantul
Pengujian kekerasan dengan metode dinamik / pantul dilakukan dengan cara
menghitung energi impak yang dihasilkan oleh hammer / indentor yang dijatuhkan
pada permukaan spesimen. Tingkat kekerasan berbanding lurus dengan tinggi
pantulan indentor. Alat yang digunakan untuk pengujian ini adalah Shore
Schleroscope.

Gambar 2.1. Alat uji Shore Scleroscope

1.2.3. Metode Indentasi


Pengujian kekerasan dengan metode indentasi dilakukan dengan cara
mengukur ketahanan material uji terhadap gaya tekan yang diberikan oleh indentor
dengan memperhatikan besar beban dan luas / kedalaman indentasi.

4
Gambar 2.1. Alat uji kekerasan dengan metode indentasi

Pada uji kekerasan dengan metode indentasi, kekerasan material dinyatakan


dengan gaya tekan per luas indentasi. Berdasar pada bentuk dan jenis indentornya,
terdapat 4 jenis metode indentasi yaitu : Brinnel, Rockwell, Vickers, dan Knoop.

Gambar 2.3. Jenis Indentor pada metode indentasi

1.3. Pengukuran diameter pori


Pengukuran pori dilakukan dengan metode pengolahan citra dari mikrograf
hasil mikroskopi electron (SEM, Scanning Electron Microscopy).
Untuk dapat menghitung presentase pori dalam material, dilakukan dengan
memanfaatkan perbedaan warna antara pori dengan matriks material. Biasanya pori
dalam material lebih gelap sedangkan matriks berwarna lebih terang. Sehingga
dengan proses binerisasi dan segmentasi citra maka dapat dilakukan separasi pori
dan matriks. Presentase pori diperoleh berdasarkan perbandingan jumlah piksel
warna gelap dengan seluruh jumlah piksel dalam citra. Secara matematis dapat
dituliskan sebagai,

5
N Gelap
%Pori=
N Terang
dimana Ngelap adalah jumlah piksel warna gelap dan Ntotal adalah jumlah total
piksel (Yuan Tiando).

2. Uji Prototipe Keramik Berpori Di Universitas Udayana


2.1. Diskusi
2.1.1. Diskusi uji laboratorium di Jurusan Kimia FMIPA Universitas Udayana
Diskusi dilakukan di ruangan tamu Jurusan Kimia FMIPA Universitas
Udayana bersama Bpk.Sukadana Ka. Jurusan Kimia. Diskusi dilakukan untuk
menanyakan jenis uji labratorium yang bisa dilakukan untuk uji kualitas air minum, uji
unsur atau senyawa kimia keramik berpori, uji fisik dan mikrostruktur
2.1.2. Diskusi uji laboratorium di Lab.Terpadu FMIPA Universitas Udayana
Diskusi dilakukan di ruangan tamu Lab.Terpadu FMIPA bersama Ibu Krisna
(081293649815) Laboran Lab.Terpadu MIPA. Diskusi dilakukan untuk menanyakan
jenis uji labratorium yang bisa dilakukan untuk uji kualitas air minum, uji unsur atau
senyawa kimia keramik berpori, uji fisik dan mikrostruktur
2.1.3. Diskusi uji laboratorium di UPT Lab. Analitik LPPM Universitas Udayana
Diskusi dilakukan di ruangan tamu Lab.Analitik Universitas Udayana
bersama Ibu Krisnawati (081338797027) Ka. Lab. Analitik. Diskusi dilakukan untuk
menanyakan jenis uji labratorium yang bisa dilakukan untuk uji kualitas air minum, uji
unsur atau senyawa kimia keramik berpori, uji fisik dan mikrostruktur

2.2. Hasil Kegiatan


2.2.1. Diskusi uji laboratorium di Jurusan Kimia FMIPA Universitas Udayana
Uji yang bias dilakukan yaitu uji fisik, uji FTIR, dan kimia bahan. Namun
untuk lebih detail harga dan durasi pengerjaan sampel uji terpadu diarahkan ke
Lab.Terpadu MIPA dan UPT
2.2.2. Diskusi uji laboratorium di Lab.Terpadu FMIPA Universitas Udayana
Hasil diskusi yaitu FTIR, AAS, uji kimia bahan, harga persampel untuk FTIR
40.000/sampel, uji fisik 15.000/sampel .
2.2.3. Diskusi uji laboratorium di UPT Lab. Analitik Universitas Udayana
Uji yang bisa dilakukan yaitu kualitas air minum, uji kimia bahan tertentu,
mulai dari preparasi sampai pengujiannya. Durasi pengerjaan yaitu 10 hari kerja,
tinggal membawa sampel yang akan diuji selama hari kerja dan mengisi form yang
telah disediakan. Untuk uji mikrostruktur tidak bisa dilakukan di Unud karena alat
masih rusak.

6
III. REFERENSI
1. https://en.wikipedia.org/wiki/Mohs_scale_of_mineral_hardness
2. https://www.tneutron.net/seni/susut-kering-dan-susut-bakar
3. Alan, Robbina Mochammad. 2012. Perbandinagn Nilai Kekerasan dan Struktur
Mikro Akibat Variasi Katalis pada Proses Carburizing Baja S45C. Fakultas Teknik
Unnes. Semarang
4. Tiandho, Yuan. 2017. Analisis Kuantitatif Pori Berdasarkan Pengolahan Citra
Menggunakan Wolfram Mathematica. Jurusan Fisika, Universitas Bangka
Belitung. Bangka Belitung.