Anda di halaman 1dari 47

ARTI DAN PERANAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN

MAKALAH

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Analisis Dampak Lingkungan

Yang Diampu oleh:

Desi Kartikasari, M.Si.

Oleh:

1. Kholifatul Ulfa (12208173026)

2. Fina Arina Hayati (12208173029)

3. Santi Alfi Saidah (12208173038)

4. Helen Rusziana (12208173044)

5. Ananda Damayanti S.A.S.W. (12208173085)

6. Yunita Kristanti (12208173089)

7. Azka Hibatul Azizi (12208173191)

TADRIS BIOLOGI

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) TULUNGAGUNG

MARET 2020
KATA PENGANTAR

Segala Puji bagi Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat
serta hidayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
ini. Penulis makalah ini bertujuan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Analisis
Dampak Lingkungan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), yang
berjudul “Arti dan Peranan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan”
Keberhasilan penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai
pihak, oleh karena itu selaku penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Dr. Maftukhin, M.Ag, selaku Rektor IAIN Tulungagung;
2. Desi Kartikasari, M.Si., selaku dosen pengampu mata kuliah Analisis
Dampak Lingkungan.
3. Kedua orangtua yang telah memberikan semangat dan dukungannya.
4. Semua pihak yang telah membantu demi terselesaikannya tugas makalah
ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan.
Harapan penulis semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Tulungagung, Maret 2020

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................ ii
DAFTAR ISI..........................................................................................................
.................................................................................................................................
iii..............................................................................................................................
BAB I: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang............................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah........................................................................................ 2
C. Tujuan Masalah............................................................................................ 2
BAB II: PEMBAHASAN
A. Konsep AMDAL ..................................................................................... 3
B. Arti Dampak..............................................................................................
.....................................................................................................................5
C. Dampak Sosial dan Dampak Kesehatan...............................................
.....................................................................................................................
10
D. Dampak Positif dan Dampak Negatif.........................................................
.....................................................................................................................
13
E. Kegunaan AMDAL..................................................................................
.....................................................................................................................
16
F. Peranan AMDAL .....................................................................................
.....................................................................................................................
17
G. Perencanaan Pembangunan ...................................................................
.....................................................................................................................
26
H. Efektifitas dan Masa Depan AMDAL .................................................
.....................................................................................................................
35
BAB: III PENUTUP

iii
A. Kesimpulan................................................................................................
.....................................................................................................................
41
B. Saran...................................................................................................
.....................................................................................................................
42
DAFTAR PUSTAKA

iv
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia sebagai makhluk hidup senantiasa selalu ingin hidup lebih
baik dan lebih baik lagi setiap harinya, manusia juga berinteraksi dengan
lingkungan hidupnya. Ia mempengaruhi lingkungan hidupnya dan
sebaliknya juga ia dapat dipengaruhi oleh lingkungan hidupnya. Makhluk
hidup yang sesuai dan cocok dengan lingkunganya akan tetap bisa hidup
dan berkembang biak, lain hal-nya dengan makhluk hidup yang tidak bisa
menyesuaikan diri dengan lingkunganya ia akan mati dan tidak akan bisa
berkembang biak (musnah), dan ini dinamakan seleksi alam. “Manusia
modern terbentuk oleh lingkungan hidupnya dan juga membentuk
lingkungan hidupnya, manusia tidak bisa berdiri sendiri tanpa atau di luar
lingkungan hidupnya. Membicarakan manusia harus pula membicarakan
lingkungan hidupnya. Manusia tanpa lingkungan hidupnya hanyalah
abstraksi semata”. (Otto Soemarwoto:18).
Dari uraian singkat diatas jelaslah bahwa manusia itu sangat
tergantung dengan lingkungan hidupnya, kelangsungan hidupnya
tergantung dari sebagaimana bisa ia menyesuaikan dirinya terhadap
lingkungan hidupnya, dan saat terjadi perubahan yang dahsyat dari
lingkungan hidupnya itu akan mengancam kelangsungan hidupnya juga.
Seiring berjalanya waktu banyak pembangunan – pembangunan yang
manusia buat sendiri dan itu secara tidak langsung membuat perubahan
juga terhadap lingkungan hidupnya, manusia sebisa mungkin
memanfaatkan sumber daya alam yang ada untuk kelangsungan hidupnya
yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Pola pemanfaatan sumberdaya alam
harus memberi kesempatan dan peran serta aktif masyarakat, serta
memikirkan dampak – dampak yang timbul akibat pemanfaatan sumber
daya alam tersebut. Untuk itu di perlukan suatu pemahaman yang cukup
dalam menganalisis mengenai dampak tehadap lingkungan.

1
Meningkatnya intensitas kegiatan penduduk dan industri perlu
dikendalikan untuk mengurangi kadar kerusakan lingkungan di banyak
daerah antara lain pencemaran industri, pembuangan limbah yang tidak
memenuhi persyaratan teknis dan kesehatan, penggunaan bahan bakar
yang tidak aman bagi lingkungan, kegiatan pertanian, penangkapan ikan
dan pengelolaan hutan yang mengabaikan daya dukung dan daya tampung
lingkungan.
B. Rumasan Masalah
1. Apakah konsep AMDAL itu?
2. Apakah arti dari dampak?
3. Bagaimana dampak sosial dan dampak kesehatan dalam AMDAL?
4. Apa saja dampak positif dan dampak negatif dari AMDAL?
5. Apa saja kegunaan dari AMDAL?
6. Bagaimana peranan AMDAL?
7. Apakah yang dimaksud dengan perencanaan pembangunan?
8. Bagaimana efektifitas dan masa depan AMDAL?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui konsep AMDAL.
2. Untuk mengetahui arti dari dampak.
3. Untuk mengetahui dampak sosial dan dampak kesehatan dalam
AMDAL.
4. Untuk mengetahui dampak positif dan dampak negatif dari AMDAL.
5. Untuk mengetahui kegunaan dari AMDAL.
6. Untuk mengetahui peranan AMDAL.
7. Untuk mengetahui apa yang dimaksud perencanaan pembangunan.
8. Untuk mengetahui efektifitas dan masa depan AMDAL.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep AMDAL
Secara formal konsep Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)
berasal dari undang-undang NEPA 1969 di Amerika Serikat. NEPA mulai
berlaku pada tanggal 1 Januari 1970. Pasal 102 (2) c dalam undang-undang ini
menyatakan bahwa NEPA semua usulan legislasi dan aktivitas pemerintah
federal yang besar diperkirakan akan mempunyai dampak penting terhadap
lingkungan diharuskan disertai laporan Enviromental Impact Assesment
(Analisis Dampak Lingkungan). AMDAL dengan cepat menyebar di negara-
negara maju yang kemudian disusul oleh negara berkembang dengan
banyaknya pihak yang telah merasakan bahwa AMDAL adalah alat yang
ampuh untuk menghindari terjadinya kerusakan lingkungan yang lebih parah
akibat aktivitas manusia. 1
Dalam undang-undang ini AMDAL dimaksudkan sebagai alat untuk
merencanakan tindakan prevensif terhadap kerusakan lingkungan yang
mungkin akan ditimbulkan oleh suatu aktivitas pembangunan yang sedang
direncanakan. Di Indonesia, analisis mengenai dampak lingkungan tertera
dalam pasal 16 Undang-Undang No. 4 Tahun 1982 tentang ketentuan-
ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pelaksanaannya diatur
dengan Peraturan Pemerintah (PP) No. 29 Tahun 1986 yang mulai berlaku
pada 5 Juni 1987. PP No. 29 Tahun 1986 kemudian dicabut dan diganti
dengan PP No. 51 Tahun 1993.2
Di dalam undang-undang, baik dalam Undang-Undang No. 4 1982,
maupun dalam NEPA 1969, dampak diartikan sebagai pengaruh ativitas
manusia dalam pembangunan terhadap lingkungan. Hal ini dapat dimengerti
karena tujuan undang-undang tersebut adalah untuk melindungi lingkungan

1
Sumadi Kamarol Yakin, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) sebagai Instrumen
Pencegahan Pencemaran dan Peruskana Lingkungan (BKD. Kab Barito Utara). Badamai Law
Journal, Vol. 2, Issues 1, Maret 2017, hlm. 116.
2
Otto Soemarwoto, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, (Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press, 2014), hlm. 37.

3
terhadap pembangunan yang tidak bijaksana. Namun, pada lain pihak harus
pula kita lihat bahwa di negara kita sebagian besar kondisi lingkungan yang
mengganggu kesejahteraan kita baik yang alamiah maupun yang terbentuk
oleh kegiatan manusia justru disebabkan kekurangan atau bahkan tidak
adanya pembangunan. Penyakit menular yang disebabkan oleh vektor
penyakit dan keadaan sanitasi lingkungan yang rendah adalah contoh di antara
banyak contoh. Untuk mengatasi itu harus dilakukan pembangunan. Oleh
karena itu di samping usaha untuk melindungi lingkungan terhadap
pembangunan yang tidak bijaksana, perlu pula dilakukan usaha untuk
melindungi pembangunan dari dampak aktivitas lingkungan. Aktivitas
lingkungan tersebut dapat bersifat alamiah ataupun sebagai akibat aktivitas
manusia. Misalnya, banyak proyek transmigrasi mengalami kegagalan, yaitu
para transmigran meninggalkan lokasi transmigrasi, karena adanya penyakit
malaria. Demikian pula beberapa proyek bendungan terancam kegagalan
karena terjadinya laju erosi yang tinggi dan meningkat dengan waktu di DAS
hulunya. Waduk Wonogiri Jawa Tengah adalah salah satu contohnya.
Konsep AMDAL yang mempelajari dampak pembangunan terhadap
lingkungan dan dampak lingkungan terhadap pembangunan juga didasarkan
pada konsep ekologi yang secara umum didefinisikan sebagai ilmu yang
mempelajari interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungannya. AMDAL
merupakan bagian dari ilmu ekologi pembangunan yang mempelajari
hubungan timbal balik atau interaksi antara pembangunan dan lingkungan.
AMDAL sebagai salah satu persyaratan dalam izin lingkungan merupakan
studi aktivitas yang tersusun secara sistemik dan ilmiah. AMDAL dalam
sistem perizinan berdasarkan UUPPLH:
1. AMDAL sebagai informasi yang harus terbuka bagi masyarakat (BAB
VIII, Pasal 62 UUPPLH).
2. AMDAL sebagai alat prediksi kemungkinan terjadinya dampak.
3. AMDAL sebagai alat pemantau atau RPL dan pengelolaam atau RKL
kegiatan.
4. AMDAL sebagai legal evidence.

4
Dalam konteks perizinan kegiatan usaha, AMDAL akan menjadi tolak
ukur yang mendasar seacara spesifik, terkait tindak lanjut perizinan usaha.
AMDAL sebagai dasar pertama sistem perizin usaha akan berpengaruh besar
terhadap izin lingkungan yang akan dikeluarkan oleh pemerintah. Kemudian
akan berlanjut kepada izin usaha atau kegiatan. Boleh dikatakan AMDAL
adalah peran utama penentuk baik buruknya kualitas izin lingkungan dan izin
kegiatan.3

B. Arti Dampak
Dampak adalah suatu perubahan yang terjadi sebagai akibat suatu
aktivitas. Aktivitas tersebut dapat bersifat alamiah, baik kimia, fisik maupun
biologi. Misalnya, semburan asap beracun dari kawah Sinila di Dieng adalah
aktivitas alam yang bersifat kimia, gempa bumi adalah aktivitas alam fisik
dan pertumbuhan masal eceng gondok aktivitas alam biologi. Aktivitas dapat
pula dilakukan oleh manusia, misalnya pembangunan sebuah pelabuhan dan
penyemprotan dengan pestisida. Dalam kontesk AMDAL, penelitian dampak
dilakukan karena adanya rencana aktivitas manusia dalam pembangunan.4
Dampak pembangunan menjadi masalah karena perubahan yang
disebabkan oleh pembangunan yang direncanakan. Misalnya, jika petani
menyemprot sawahnya dengan pestisida untuk memberantas hama wereng,
yang mati oleh semprotan pestisida bukan hanya werengnnya saja, melainkan
juga lebah madu yang terbang di udara, ikan yang hidup dalam air sawah dan
katak sawah yang memakan serangga. Matinya lebah, ikan dan katak secara
umum tersebut efek samping atau dampak. Demikian pula pembangunan
transportasi menyebabkan efek samping terjadinya pencemaran undara oleh
limbah gas dari kendaraan yang mengganggu kesehatan. Secara umum dalam
AMDAL dampak pembangunan diartikan sebagai perubahan yang tidak
direncanakan yang diakibatkan oleh aktivitas pembangunan.
Dampak bersifat biofisik, seperti contoh di atas, dapat juga bersifat
sosial-ekonomi dan budaya. Misalnya, dampak pembangunan pariwisata ialah

3
Ibid, hlm. 117
4
Ibid., hlm. 38.

5
berubahnya nilai budaya penduduk di daerah obyek wisata itu dan ditirunya
tingkah laku wisatawan oleh penduduk.

Gambar a.1 Skematis terjadinya dampak

Gambar a.1 melukiskan secara skematis terjadinya dampak. Sasaran


pembangunan ialah untuk menaikkan kesejahteraan rakyat. Pembangunan itu
dapat mengakibatkan dampak primer biofisik atau dan sosial-ekonomi-
budaya. Dapak primer ini akan mempengaruhi sasaran kesejahteraan yang
ingin dicapai. Dapat juga terjadi dampak primer itu menimbulkan dampak
sekunder, tersier dan seterusnya yang masing-masing dapat bersifat biofisik
atau sosial-ekonomi-budaya. Dampak sekunder, tersier dan seterusnya itu
juga akan mempengaruhi sasaran yang ingin dicapai.
Untuk dapat melihat bahwa suatu dampak atau perubahan telah terjadi,
kita harus mempunyai bahan pembanding sebagai acuan. Salah satu acuan
ialah keadaan sebelum terjadi perubahan. Misalnya, apabila dikatakan
dampak pengeringan rawa untuk lahan pertanian ialah berkurangnya populasi
nyamuk, kita dapat mengacu besarnya populasi nyamuk setelah pengeringan
rawa pada besarnya populasi nyamuk ssebelum pengeringan. Tanpa acuan
tersebut kita tidak dapat mengatakan, bahwa populasi nyamuk telah
berkurang. Demikian pula kita hanya dapat mengatakan seseorang menjadi
gemuk setelah ia bekerja di Bandung, misalnya, apabila kita tahu, sebelumnya
ia adalah kurus. Tanpa pengetahuan ini, misalnya kita baru bertemu untuk

6
pertama kalinya dengan orang itu, kita hanyalah dapat mengatakan bahwa
orang tersebut adalah gemuk.5
Di dalam AMDAL kita menjumpai dua jenis batasan tentang dampak,
yaitu:
A. Dampak pembangunan terhadap lingkungan ialah perbedaan antara
kondisi lingkungan sebelum ada pembangunan dan yang di prakirakan
akan ada setelah pembangunan (misalnya Clark, 1978).
B. Dampak pembangunan terhadap lingkungan ialah perbedaan antara
kondisi lingkungan yang diprakirakan akan ada tanpa adanya
pembangunan dan yang diprakirakan akan ada dengan adanya
pembangunan tersebut (misalnya Munn, 1979).
Dampak lingkungan terhadap pembangunan mempunyai batasan yang
serupa. Kedua batasan di atas adalah sama, apabila kondisi lingkungan di
tempat pembangunan adalah statis, yaitu tidak berubah dengan waktu. Akan
tetapi lingkungan tidaklah statis, melainkan selalu berubah dengan waktu.
Perubahan itu dapat bersifat daur, acak ataupun perubahan dengan suatu
kecenderungan tertentu. Perubahan yang bersifat daut dapat berjangka
pendek, misalnya daur diurnal, yaitu siang dan malam; daur musiman dari
tahun ke tahun, misalnya musim hujan dan musim kering; dan daur musiman
berjangka panjang, misalnya El Nino yang berulang beberapa tahun sekali.
Perubahan demikian tidak hanya terdapat pada besaran biofisik, melainkan
juga besaran sosial-budaya. Di Indonesia kita lihat hal ini pada adanya
pacelik yang berulang di antara dua musim panen padi.
Perubahan yang bersifat acak ialah misalnya, letusan gunung berapi,
gempa bumi dan kebakaran padang rumput yang disebabkan oleh halilintar.
Perubahan demikian disebut stokhastik. Perubahan dengan suatu
kecenderungan tertentu dapat meningkatkan atau menurun menurut garis
lurus, eksponensial ataupun bentuk kurva lain. Misalnya kepadatan penduduk
menunjukkan kecenderungan meningkat secara eksponensial.
Sebuah contoh dapatlah kiranya menjelaskan perbedaan antara dampak
menurut batasan (a) dan (b) di atas. Misalkan dalam tahun 1985 mulai
5
Otto Soemarwoto, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, (Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press, 2014), hlm. 40

7
direncanakan pembangunan sebuah pelabuhan udara besar dan proyek
direncanakan akan mulai dibangun dalam tahun 1995. Pada tahun 1985 mulai
dilakukan oleh telaah AMDAL. Jumlah penduduk di daerah proyek salam
tahun 1985 uialah 10.000 orang. Menurut catatan desa laju pertumbuhan
penduduk antara tahun 1975 dan 1985 ialah 2,5%. Berapakah dampak proyek
dalam bentuk pemindahan penduduk pada waktu proyek mulai dibangun?
Menurut batasan (a) besarnya dampak tersebut ialah jumlah penduduk setelah
ada proyek dikurangi jumlah penduduk sebelum ada proyek. Setelah ada
proyek jumlah penduduk di proyek adalah 0 orang. Sebelum ada proyek
jumlah penduduk 10.000 orang. Dengan demikian dampak proyek adalah
-10.000 orang yang berarti 10.000 orang penduduk harus dipindahkan.6
Menurut batasan (b) besarnya dampak ialah jumlah penduduk pada tahun
1995 dengan adanya proyek, yaitu 0 orang dikurangi jumlah penduduk pada
tahun 1995 tanpa adanya proyek, yaitu:
P1995 = P1985 (1 + r)t
= 10.000 x 1,02510
=
12.800 orang
Jadi dampak proyek ialah -12.800 orang atau penurunan jumlah
penduduk sebesar 12.800 orang.
Terdapat perbedaan antara dampak menurut batasan (a) dan batasan (b)
sebesar 2.800 orang yang disebabkan oleh tidak konstannya jumlah penduduk
antara 1985 dan 1995 karena adanya pertumbuhan penduduk. Jik kita
menggunakan batasan (a), perhitungan rencana anggaran belanja untuk
pemindahan penduduk didasarkan pada 10.000 orang. Jelaslah anggaran tidak
akan mencukupi. Anggaran belanja itu seharusnya didasarkan pada 12.800
orang, yaitu dampak menurut batasan (b).
Hal yang serupa kita dapatkan pada perhitungan dampak terhadap
tekanan penduduk. Misalkan di daerah proyek tersebut 80% penduduknya
hidup dari pertanian. Para petani mendapatkan tambahan pendapatan dari
sektor non-pertanian sebesar 25% dari pendapatan totalnya dan luas lahan
pertanian di desa tersebut ialah 4.000 hektar yang seluruhnya dimiliki orang
6
Otto Soemarwoto, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, (Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press, 2014), hlm. 41.

8
desa tersebut. Berdasarkan sistem dan hasil pertanian di daerah itu rata-rata
kebutuhan lahan untuk hidup yang dianggap layak diperkirakan 0,5 hektar per
orang. Berapa besarkah dampak proyek terhadap tekanan penduduk pada
lahan pada waktu proyek mulai dibangun pada tahun 1995? Perhitungan
tekanan penduduk ialah menurut rumus:
TP = z (1-α) fP0 (1+r)t
βL

yaitu:
Tp = Tekanan penduduk
α = Bagian pendapatan petani dari sektor non-pertanian (α<1)
z= rata-rata luas lahan yang diperlukan per orang untuk hidup yang
dianggap layak
f= fraksi penduduk yang hidup sebagai petani
Po = jumlah penduduk pada waktu acuan t0
r = laju pertumbuhan penduduk tahunan
t = periode waktu perhitungan
β = bagian manfaat lahan yang dinikmati oleh petani setempat, 0 < β < 1
L = Luas lahan petNI
Dalam contoh ini z= 0,5 ha/orang; α = 0,25; f = 0,80; Po = 10.000
orang; r = 0,025; t = 10; β = 1; L = 4.000 ha.

Gambar a.2 arti dampak menutut batasan a dan b. tp = tanpa proyek


sedangkan dp = dengan proyek

9
Gambar a.2 menunjukkan dengan histogram hasil perhitungan dampak
proyek terhadap tekanan penduduk menurut batasan (a) dan batasan (b), yaitu
berturt-turut 0,53 dan 0,32. Dalam perhitungan ini dianggap nilai z, α, f, r,
dan β tidak berubah antara tahun 1985 dan 1995. Nampaknya dampak
tersebut lebih besar menurut batasan (a) daripada menurut batasan (b). Hal ini
disebabkan karena dengan adanya proyek tekanan penduduk meningkat
menjadi 1,28. Tetapi tanpa adanya protek tekanan penduduk terus meningkat
yang disebabkan oleh adanya pertumbuhan penduduk, yaitu 0,75 pada tahun
1985 yang meningkat menjadi 0,96 pada tahun 1995. Jadi sebagian dari
dampak yang kita ukur dengan membandingkan keadaan lingkungan sebelum
ada proyek dengan keadaan lingkungan yang diprakirakan akkan ada pada
waktu proyek dimulai sebenarnya adalah dampak pertumbuhan penduduk.
Oleh karena itu mengukur dampak dengan membandingkan keadaan
lingkungan yang diprakirakan akan ada setelah ada proyek dengan keadaan
lingkungan yang ada sebelum ada proyek tidaklah benar. Contoh yang serupa
dapat kita jumpai pada dampak proyek terhadap antara kain BOD dan tingkat
eutrofikasi air sungai, laju erosi suatu DAS, pencemaran udara serta frekuensi
dan besarnya banjir.

C. Dampak Sosial dan Dampak Kesehatan


Di negara Barat, seperti Amerika Serikat dan Kanada telah
dikembangkan Analisis Dampak Sosial (ADS; Social Impact Analysis = SIA).
Perkembangan ini disebabkan karena AMDAL hanya mempelajari dampak
biologi, fisik, dan kimia. Padahal dampak sosial sering tidak kalah
pentingnya. Istilah sosial disini meliputi sosial ekonomi dan budaya. Oleh
Badan Kesehatan Sedunia (WHO = World Health Organization) telah
dikembangkan Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan (ADKL;
Environmental Health Impact Assesment = EHIA).
Menurut penjelasan pasal 1 ayat 9 dan pasal 16 dalam undang-undang
No.4 tahun 1982, dampak meliputi juga lingkungan non-fisik termasuk sosial
budaya. Pasal 3 undang-undang ini menyebutkan pengelolaan lingkungan

10
bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Karena itu aspek
kesehatan yang merupakan salah satu faktor utama kesejahteraan manusia,
juga termasuk dalam pengelolaan lingkungan. Mengingat hal itu AMDAL
sudah seharusnya meliputi analisis tentang dampak biofisik, dampak sosial,
dan dampak kesehatan. Diintregasikannya aspek biofisik dengan aspek sosial
dan kesehatan dalam satu Analisis Mengenai Dampak Lingkungan lebih
menguntungkan daripada dipisahkannya aspek biofisik dari aspek sosial,
berturut—turut, dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dan dalam
Analisis Dampak Sosial serta aspek kesehatan dalam Analisis Dampak
Kesehatan Lingkungan.
Alasan keuntungan ada tiga. Pertama, pemisahan “AMDAL” dari “ADS”
dan “ADK” akan memperpanjang birokrasi, yaitu diperlukannya tiga jenis
analisis untuk setiap proyek yang diperkirakan akan mempunyai dampak
penting biofisik, sosial, dan kesehatan. Dengan perpanjangan birokrasi ini
biaya dan waktu perencanaan akan bertambah, termasuk biaya terselubung
yang diperlukan untuk mendapatkan masing-masing persetujuan.
Kedua, dampak sosial dan kesehatan tidak dapat dipisahkan dari biofisik.
Pertumbuhan penduduk mengakibatkan bertambahnya limbah domestik.
Limbah domestik selanjutnya menyebabkan terjadinya eutrofikasi yang
mendorong terjadinya pertumbuhan massal mikrofita, misalnya Microcystis,
dan mikrofita, misalnya eceng gondok dan kayambang. Limbah domestik,
eutrofikasi, dan pertumbuhan massal mikro dan mikrofia adalah dampak
biofisik pertumbuhan penduduk yang merupakan faktor sosial. Pertumbuhan
massal mikro dan mikrofita pada gilirannya menimbulkan dampak kenaikan
risiko kesehatan, pemurnian dari air (biofisik dan kesehatan), perbaikan
kualitas air (sosial dan kesehatan), penurunan hasil ikan (biofisik dan sosial),
penurunan pendapatan (sosial), kenaikan evapotranspirasi (biofisik),
penurunan kapasitas pembangkitan listrik (sosial) dan irigasi (biofisik dan
sosial), penurunan pariwisata (sosial) dan penurunan pendapatan (sosial).
Bagan alir ini menunjukkan dengan jelas kita tidak dapat
mengidentifikasi dampak biofisik saja tanpa pengetahuan tentang dampak
sosial serta dampak kesehatan dan vice versa. Demikian pula besarnya

11
dampak biofosik akan ditentukan oleh besarnya dampak sosial dan dan
dampak kesehatan yang menjadi penyebab dampak biofisik dan vice versa.
Canadian Environmental Assessment Researc Council (1985) akhir – akhir
ini menyatakan bahwa Analisis Dampak Sosial adalah komponen integral
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Demikina pula WHO (1986) baru –
baru ini meenganjurkan agar seyogyanya ADKL menjadi bagian terintegrasi
ANDAL dan bukan berdiri sendiri.
Maka seyogyanyalah dalam usaha kita untuk mengembangkan analisis
mengenai dampak lingkungan kita jangan memecahnya menjadi Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan yang ekivalen dengan Environmental Impact
Analysis (hanya meliputi aspek biofisik), Analisis Dampak Sosial yang
ekivalen dengan Social impact Analysis dan Analisis Dampak Kesehatan
Lingkungan yang ekivalen dengan Environmental Healt Impact Assesment.
Dengan pemecahan itu lingkungan akan kita tinjau secara persial dan konsep
lingkungan yang holistik dalam Undang – Undang No. 24 tahun 1982 akan
hilang.
Keuntungan ketiga dirangkumnya ketiga aspek dalam satu laporn analisis
mengenai dampak lingkungan ialah dipermudahnya pengambilan keputusan.
Sebab pengambilan keputusan akan mengambil keputusan berdasarkan satu
laporan yang telah mengintegrasikan ketiga aspek tersebut dan bukan
berdasarkan tiga laporan yang berdiri sendiri – sendiri. Tugas merangkum dan
mengintegrasikan ketiga aspek itu bukanlah terletak pada pengambilan
keputusan, melainkan pada pelaksanaanya Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan.
Integrasi ketiga jenis dampak tidak berarti bahwa dalam semua proyek
ketiga jenis dampak selalu mempunyai bobot yang sama. Misalnya, proyek di
dalam kota umumnya mempunyai bobot dampak sosial-ekonomi yang lebih
tinggi daripada bobot dampak biofisik. Sebaliknya proyek di daerah hutan
yang sedikit penduduknya umumnya mempunyai dampak biofisik yang
bobotnya lebih tinggi daripada bobot dampak sosial-ekonomi.

12
Gambar bagan alir dampak yang ditimbulkan oleh pertumbuhan penduduk untuk
menunjukkan kaitan yang sangat erat antara dampak sosisal (s), dampak kesehatan
(k) dan dampak biofisik (bf)

Dari uraian di atas dan Gambar 3.4 jelaslah sifat AMDAL yang lintas
sektoral. Oleh karena itu anggota gugus kerja AMDAL juga harus bersifat
multidisiplin yang terdiri dari pakar dalam berbagai bidang yang diliput oleh
AMDAL yang bersangkutan.7

D. Dampak Positif dan Dampak Negatif


Dampak dapat bersifat negatif maupun positif. Akan tetapi di negara
maju banyak orang lebih atau hanya memperhatikan dampak negatif daripada
dampak positif, bahkan umumnya dampak negatif diabaikan. Di indonesia
pun dampak sering mempunyai konotasi negatif. Oleh karena itu dalam
banyak buku terdapat bagian atau bab yang menguraikan tentang
penanggulangan dampak (mitigation of impact), yang secara implisit
mengandung arti dampak negatif. Tetapi sebaliknya tidak mengandung
bagian yang menguraikan tentang usaha memperbesar dampak positif.
Misanya dalam suatu proyek pengeringan rawa untuk pertanian yang menjadi
perhatian ialah rusaknya habitat untuk ikan dan organisme rawa lainnya,

7
Otto Soemarwoto, 2009, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, (Yogyakarta: UGM), hlm.
45- 48

13
seperti burung, yang merupakan dampak negatif. Akan tetapi pengeringan
rawa tersebut juga mengakibatkan rusaknya habitat nyamuk yang banyak
diantaranya adalah peyebar penyakit yang berbahaya seperti malaria dan
filariasis. Rusaknya habitat nyamuk dan menurunnya jumlah orang yang sakit
merupakan dampak positif pengeringan rawa. Dampak positif tersebut sering
diabaikan. Tekanan yang berlebih pada dampak yang negatif disebabkan oleh
pengaruh gerakan lingkungan di negara maju yang merupakan reaksi terhadap
kerusakan lingkungan oleh pembangunan. Di indonesia seyogyanyalah kita
memberikan perhatian yang berimbangpada dampak negatif dan dampak
negatif. Keharusan merinci dampak sebagai dampak positif atau negatif
tertera dalam Undang-undang nomor 4, tahun 1982. Yaitu dalam penjelasan
pasal 1 ayat 9. Namun tidaklah selalu mudah untuk menentukan apakah suatu
dampak itu positif apa negatif.

Gambar skema kadar sifat baik dan sifat buruk yang dimiliki oleh suatu
hal tertentu dalam hubungan dengan sudut pandang seserang.
Gambar diatas melukiskan secara skematis baik dan buruk suatu hal.
Pada titik potong garisburuk dan garis baik, sifat baik dan buruk mempunyai
kadar yang sama. Hal tersebut adalah netral, tidak baik dan tidak pula buruk.
Pada sebelah kiri titik potong sifat baik mendominasi sifat buruk, hal tersebut

14
Baik Buruk

adalah baik. Sebaliknya pada sebelah kanan, titik potong Buruk


sifat buruk
Baik
mendominasi sifat baik, hal tersebut adalah buruk.

Kadar baik dan buruk suatu hal tergantung pada sudut pandang. Sudut
pandang itu menentukan tolok ukur yang dipakai untuk menilai hal tersebut.
Sudut pandang seseorang selalu berubah-ubah, karena itu juga tolok ukurnya.
Banyak faktor mempengaruhi penentuan apakah dampak itu positif atau
negatif. Salah satu faktor penting dalam penentuan itu ialah apakah seseorang
diuntungkan atau dirugikan oleh sebuah proyek pembangunan tertentu.
Baik Buruk
Hal–hal yang dikaji dalam proses AMDAL adalah aspek fisik-kimia,
ekologi, sosial-ekonomi, sosial budaya, dan kesehatan masyarakat sebagai
pelengkap studi kelayakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. Analisis
mengenai dampak lingkungan hidup di satu sisi merupakan bagian studi
kelayakan untuk melaksanakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan, di sisi
lain merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan
usaha dan/atau kegiatan. Berdasarkan analisis ini dapat diketahui secara lebih
jelas dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup, baik dampak
negatif maupun dampak positif yang akan timbul dari usaha dan/atau kegiatan
sehingga dapat dipersiapkan langkah untuk menanggulangi dampak negatif dan
mengembangkan dampak positif.
Untuk mengukur atau menentukan dampak besar dan penting tersebut di
antaranya digunakan kriteria mengenai :
1. Besarnya jumlah manusia yang akan terkena dampak rencana usaha
dan/atau kegiatan.
2. Luas wilayah penyebaran dampak.
3. Intensitas dan lamanya dampak berlangsung.
4. Banyaknya komponen lingkungan hidup lain yang akan terkena
dampak.
5. Sifat kumulatif dampak.
6. Berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak.
Dasar dari diadakannya AMDAL adalah (PP 27/1999 dan PP 51/1993),
pembangunan berkelanjutan, kegiatan yg menimbulkan dampak perlu

15
dianalisa sejak awal perencanaan untuk langkah pengendalian dampak negatif
dan pengembangan dampak positif, AMDAL diperlukan untuk proses
pengambilan keputusan dalam pelaksanaan kegiatan yang menimbulkan
dampak, AMDAL bagian dari kegiatan studi kelayakan rencana
usaha/kegiatan, komponen AMDAL meliputi Kerangka Acuan (KA),
ANDAL, RKL, RPL. Menurut PP No. 27/1999 Pasal 3 ayat 1, usaha dan/atau
kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting
terhadap lingkungan hidup meliputi :
1. Pengubahan bentuk lahan dan bentang alam.
2. Eksploitasi sumber daya alam baik yang terbaharui maupun yang tak
terbaharu.
3. Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan
pemborosan, pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup, serta
kemerosotan sumber daya alam dalam pemanfaatannya.
4. Proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan
alam, lingkungan buatan, serta lingkungan sosial dan budaya.
5. Proses dan kegiatan yang hasilnya akan dapat mempengaruhi
pelestarian kawasan konservasi sumber daya dan/atau perlindungan
cagar budaya.
6. Introduksi jenis tumbuh-tumbuhan, jenis hewan, dan jenis jasad renik.
Penilaian dampak merupakan pertimbangan nilai (value judgement) dan
karena itu bersifat subyektif, meski penilaian itu dilakukan oleh pakar
sekalipun. Mengingat hal itu konflik selalu terjadi. Karena itu seyogyanya
AMDAL mencakup pula usaha untuk mengatasi, atau paling sedikit,
memperkecil konflik tersebut. Perlu kiranya dikemukakan lagi bahwa dampak
adalah perubahan lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan pembangunan
yang tidak direncanakan. Jadi, misalnya kenaikan pasokan tenaga listrik pada
proyek bendungan hidrolistrik bukanlah dampak positif bendungan tersebut
karena pasokan itu adalah tujuan yang ingin dicapai atau direncanakan.8
E. Kegunaan AMDAL

8
Otto Soemarto, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, (Jakarta ; Gadjah Mada University
Press),hlm. 48-50

16
Secara umum kegunaan AMDAL adalah:
1. Memberikan informasi secara jelas mengenai suatu rencana usaha,
berikut dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya.
2. Menampung aspirasi, pengetahuan dan pendapat penduduk khusunya
dalam masalah lingkungan sewaktu akan didirikannya suatu rencana
proyek atau usaha.
3. Menampung informasi setempat yang berguna bagi pemrakarsa dan
masyarakat dalam mengantisipasi dampak dan mengelola lingkungan.

Selanjutnya dalam usaha menjaga kualitas lingkungan, secara khusus


AMDAL berguna dalam hal:
1. Mencegah agar potensi sumber daya alam yang dikelola tidak rusak,
terutama sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui.
2. Menghindari efek samping dari pengolahan sumber daya terhadap
sumber daya alam lainnya, proyek-proyek lain, dan masyarakat agar
tidak timbul pertentangan- pertentangan.
3. Mencegah terjadinya perusakan lingkungan akibat pencemaran sehingga
tidak mengganggu kesehatan, kenyamanan, dan keselamatan masyarakat.
4. Agar dapat diketahui manfaatnya yang berdaya guna dan berhasil guna
bagi bangsa, negara dan masyarakat.
Tugas utama dari AMDAL adalah memilah perubahan-perubahan yang
ditimbulkan oleh aktifitas pembangunan yang ditawarkan agar menjadi
bagian dari siklus alam. Satu eksperimen yang terkendali dapat dilakukan
untuk membandingkan perubahan dalam parameter kualitas lingkungan. Satu
sistem disiapkan sebagai pengontrol, fungsi ini dapat dibebankan kepada
kawasan lindung. Sedangkan sistem alam lainnya yaitu di kawasan budi daya
berlangsungaktifitas pembangunan. Pengkajian AMDAL yang terpenggal-
penggal atau mengabaikan satu komponen tertentu dapat menyebabkan
terganggunya kestabilan komponen yang lain.9
F. Peranan AMDAL

9
Sumadi Kamarol Yakin, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) Sebagai Instrumen
Pencegahan Pencemaran Dan Perusakan Lingkungan, Badamai Law Jurnal Vol 2, Issues 1,
Barito Utara, Maret 2017

17
Pengertian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)
sebagaimana diatur dalam Pasal 1 angka (11) Undang Undang Nomor 32
Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah
kajian mengenai dampak penting suatu usaha dan / atau kegiatan yang
direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses
pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.
Hal ini sejalan dengan pengertian AMDAL yang tertuang pada Pasal 1 angka
(2) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 tentang Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan. Pengertian AMDAL berasal dari National
Environmental Policy Act (NEPA) 1969 Amerika Serikat, Environmental
Impact Assessment/ AMDAL dimaksud sebagai alat untuk merencanakan
tindakan preventif terhadap kerusakan lingkungan yang mungkin timbul oleh
suatu aktivitas pambangunan.10 Konsep AMDAL merupakan bagian dari ilmu
ekologi pembangunan yang mempelajari hubungan timbal balik atau interaksi
antara pembangunan dan lingkungan.11
Istilah AMDAL tidak saja berkaitan dengan istilah teknis akan tetapi
juga aspek hukum dan aspek administratif. Semua istilah tersebut menunjuk
pada pengertian bahwa setiap rencana aktivitas manusia, khususnya dalam
kerangka pembangunan yang selalu membawa dampak dan perubahan
terhadap lingkungan perlu dikaji terlebih dahulu dengan seksama.
Berdasarkan kajian ini, akan dapat diidentifikasi dampak-dampak yang
timbul, baik yang bermanfaat maupun yang merugikan bagi kehidupan
manusia. Kajian tersebut dapat dilakukan dengan melihat rencana suatu
kegiatan. Diketahuinya rencana kegiatan merupakan hal yang sangat penting,
sebab apabila rencana tidak diketahui, maka dampak yang mungkin timbul
dari kegiatan tersebut tidak dapat diperkirakan. Garis dasar (base line) ialah
keadaan lingkungan tanpa adanya proyek (aktivitas). Fungsi garis dasar di
sini ialah keadaan acuan untuk mengukur dampak. Dampak dalam sistem
AMDAL dikaitkan dengan dua jenis batasan. Pertama, perbedaan antara
kondisi lingkungan sebelum pembangunan, batasan kedua yakni perbedaan

10
Otto Soemarwoto, 2009, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, (Yogyakarta: UGM), hlm. 36
11
Taufik Imam Santoso, 2009, Politik Hukum Amdal; Amdal Dalam Perspektif Hukum
Lingkungan dan Administrasi, (Malang: Setara Press), hlm.4

18
antara kondisi lingkungan yang diperkirakan akan ada tanpa adanya
pembangunan dan yang diperkirakan akan adanya (hadirnya) pembangunan
tersebut. Batasan yang sama juga diberlakukan pada dampak lingkungan
terhadap pembangunan. Dari uraian diatas dapat djelaskan peranan AMDAL
sebagai berikut:
1. AMDAL sebagai Instrumen Perlindungan Lingkungan Hidup
Dalam rangka melaksanakan pembangunan berkelanjutan, lingkungan
hidup perlu dijaga keserasian hubungan antara berbagai kegiatan. Di
Indonesia, tata kehidupan yang berwawasan lingkungan sebenarnya telah
diamanatkan dalam GBHN tahun 1973, Bab III butir 10 menyebutkan
bahwa :
“Dalam pelaksanaan pembangunan, sumber-sumber alam Indonesia
harus dipergunakan secara rasional. Penggalian sumber kekayaan
alam tersebut harus diusahakan agar tidak merusak tata lingkungan
hidup manusia, dilaksanakan dengan kebijaksanaan yang menyeluruh
dan dengan memperhitungkan kebutuhan generasi yang akan datang.”
Dalam upaya menjaga lingkungan itulah digunakan AMDAL sebagai
salah satu instrumennya. Hal ini tertuang dalam Pasal 22 angka (1)
Undang Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pasal 22 angka (1) tersebut menentukan
setiap usaha dan/atau kegiatan yang berdampak penting terhadap
lingkungan hidup, wajib memiliki AMDAL. Salah satu instrumen
kebijaksanaan lingkungan yaitu Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 22 angka (1) Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup di atas, merupakan proses yang meliputi penyusunan berbagai
dokumen. Dokumen-dokumen itu berupa kerangka acuan, analisis dampak
lingkungan, rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana
pemantauan lingkungan hidup bagi kegiatan usaha yang dilakukan.
Analisis mengenai dampak lingkungan hidup juga merupakan
salah satu alat bagi pengambil keputusan untuk mempertimbangkan akibat
yang mungkin ditimbulkan oleh suatu rencana usaha dan atau kegiatan

19
terhadap lingkungan hidup guna mempersiapkan langkah untuk
menanggulangi dampak negatif dan mengembangkan dampak positif.
Penanggulangan dampak negatif dan pengembangan dampak positif itu
merupakan konsekuensi dan kewajiban setiap orang untuk memelihara
kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi
pencemaran dan perusakan lingkungan. Implementasi pembangunan
berkelanjutan di Indonesia belum sejalan dengan komitmen politik. Di era
Orde Baru, lingkungan lebih banyak diperlakukan sebagai asset dalam
menopang pertumbuhan ekonomi. Dalam perkembangannya kemudian
bahkan lingkungan dipandang sebagai komoditas yang bersifat
monopolistik sebagai hasil korupsi, korupsi dan nepotisme (KKN). Tidak
mengherankan jika kerusakan lingkungan dan pencemaran terus
meningkat dalam intensitasnya maupun keragamannya.12
2. AMDAL sebagai Instrumen dalam Perencanaan Pembangunan
Proses pembangunan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia harus
diselenggarakan berdasarkan prinsip pembangunan berkelanjutan dan
berwawasan lingkungan sesuai dengan amanah Pasal 33 angka (4)
Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Pemanfaatan sumber daya alam masih menjadi modal dasar pembangunan
di Indonesia saat ini dan masih diandalkan di masayang akan datang. Oleh
karena itu, pengunaan sumber daya alam tersebut harus dilakukan secara
bijak.Pemanfaatan sumber daya alam tersebut hendaknya dilandasi oleh
tiga pilar pembangunan berkelanjutan, yaitu menguntungkan secara
ekonomi (economically viable), diterima secara sosial (socially
acceptable), dan ramah lingkungan (environmentallysound). Proses
pembangunan yang diselenggarakan dengan cara tersebut diharapkan
dapat meningkatkan kesejahteraan dan kualitas kehidupan generasi masa
kini dan yang akan datang.
AMDAL sebagai instrumen dalam perencanaan pembangunan
disebutkan dalam Pasal 4 angka (1) Peraturan Pemerintah Nomor 27
Tahun 2009 tentang Izin Lingkungan. AMDAL disusun oleh Pemrakarsa

Hadi, Sudharto, 2005, Dimensi Lingkungan Perencanaan Pembangunan, (Yogyakarta: Gajah


12

Mada University Press), hlm.86

20
pada tahap perencanaan suatu Usaha atau Kegiatan. AMDAL merupakan
instrumen untuk merencanakan tindakan preventif terhadap pencemaran
dan kerusakan lingkungan hidup yang mungkin ditimbulkan dari aktivitas
pembangunan. Mengingat fungsinya sebagai salah satu instrumen dalam
perencanaan Usaha atau Kegiatan, penyusunan AMDAL tidak dilakukan
setelah Usaha atau Kegiatan dilaksanakan. Penyusunan AMDAL yang
dimaksud dalam ayat ini dilakukan pada tahap studi kelayakan atau desain
detail rekayasa.
AMDAL merupakan bagian dari sistem perencanaan, AMDAL
seharusnya dapat memberikan landasan bagi pengelolaan lingkungan.
Sebagai “Scientific Prediction”, AMDAL memberikan gambaran yang
jelas secara ilmiah tentang analisis kegiatan dan dampak yang mungkin
akan timbul oleh sebuah kegiatan. AMDAL seharusnya ditempatkan pada
posisi yang strategis dalam upaya memberikan perlindungan preventif
dalam perizinan suatu kegiatan yang berwawasan lingkungan.13 Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan hidup dimasukkan ke dalam proses
perencanaan suatu usaha atau kegiatan, maka pengambil keputusan akan
memperoleh pandangan yang lebih luas dan mendalam mengenai berbagai
aspek usaha atau kegiatan tersebut, sehingga dapat diambil keputusan yang
optimal dari berbagai alternatif yang tersedia. Keputusan yang optimal
tersebut dapat diartikan sebagai keputusan yang berwawasan lingkungan,
karena telah memperhatikan aspek positif dan negatif suatu kegiatan
usaha. Pembangunan suatu wilayah merupakan hal tidak dapat
dihindarkan. Sebagai upaya agar pembangunan tersebut mengikuti konsep
pembangunan berkelanjutan dan mengikuti konsep daya dukung terhadap
lingkungan maka diperlukan suatu perencanaan yang matang. Salah satu
bahan yang dapat digunakan sebagai bahan perencanaan adalah hasil
analisis mengenai dampal lingkungan hidup.
Hasil dari analisis mengenai dampak lingkungan dapat
memberikan pedoman agar perencanaan pembangunan harus mencapai
tujuan sosial dan ekonomi dengan tetap memperhatikan keseimbangan
13
Taufik Imam Santoso, 2009, Politik Hukum Amdal; Amdal Dalam Perspektif Hukum
Lingkungan dan Administrasi, (Malang: Setara Press), hlm.5

21
dinamis dengan lingkungan. Perencanaan pembangunan yang ideal adalah
yang tidak hanya mampu mengakomodasi kepentingan dan kebutuhan
masyarakat tetapi juga mampu memadukan berbagai nilai dan berbagai
kepentingan yang terlibat, salah satunya kepentingan akan adanya
pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development).
Di Amerika Serikat AMDAL merupakan keharusan untuk rencana
kebijaksanaan dan undang-undang yang diperkirakan akan mempunyai
dampak penting terhadap lingkungan (National Enviromental Policy Act,
1969). Di dalam Undang Undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Pokok
Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup, hal ini tidak dinyatakan secara
eksplisit, namun istilah rencana yang tertera dalam Pasal 16 Undang
Undang itu dapat juga diinterpretasikan sebagai kegiatan perumusan
undang-undang dan kebijakan. Metode untuk melakukan AMDAL bagi
perencanaan kebijaksanaan dan undang undang atau produk hukum
lainnya belum banyak berkembang.
Metode yang banyak berkembang ialah AMDAL untuk proyek.
Peranan AMDAL dalam perencanaan masih terbatas pada perencanaan
proyek. Inipun masih terbatas pada proyek yang bersifat fisik, misalnya
pembangunan bendungan, jalan raya, pelabuhan dan pabrik.Proyek yang
bersifat non fisik umumnya masih diabaikan. Padahal proyek non fisik pun
dapat berdampak besar dan penting.14
Analisis mengenai dampak lingkungan telah banyak dilakukan di
Indonesia dan Negara lain. Pengalaman menunjukkan, AMDAL tidak
selalu memberikan hasil yang kita harapkan sebagai alat perencanaan.
Bahkan tidak jarang terjadi, AMDAL hanyalah merupakan dokumen
formal saja, yaitu sekedar untuk memenuhi ketentuan dalam undang
undang. Setelah laporan AMDAL didiskusikan dan disetujui, laporan
tersebut tersebut disimpan dan tidak digunakan lagi. Laporan tersebut
tidak mempunyai pengaruh terhadap perencanaan dan pelaksanaan proyek
selanjutnya. Hal ini terjadi juga di Negara yang telah maju, bahkan di
Amerika Serikat yang merupakan negara pelopor AMDAL.

14
Otto Soemarwoto, 2009, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, (Yogyakarta: UGM), hlm. 56

22
3. AMDAL sebagai Instrumen dalam Mempertahankan Sustainable
Development yang Berwawasan
Masalah lingkungan tanpa menyinggung konsep pembangunan
berkelanjutan (Sustainable Development) dalam era pembangunan
menjelang abad ke-21 dirasakan kurang lengkap. Bahkan, kelompok ahli
dalam Komisi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan telah
meletakkan prinsip-prinsip hukum lingkungan yang akan mendukung
pembangunan ekonomi dunia pada saat ini hingga menjelang berakhirnya
abad ke-20.
Undang-Undang 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan
Hidup Pasal 1 ayat (3) juga telah diberikan definisi Sustainable
Development (Pembangunan Berkelanjutan sebagai berikut
“Pembangunan Berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup adalah
upaya sadar dan terencana, yang memadukan lingkungan hidup, termasuk
sumber daya, ke dalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan,
kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa
depan”.
Pembangunan selalu membawa perubahan dan dampak, positif
maupun negatif. Dampak positif merupakan salah satu tujuan dari
dilaksanakannya pembangunan, yaitu perubahan positif bagi manusia
dalam mencapai kesejahteraannya. Konsep Pembangunan Berkelanjutan
muncul karena selama ini, tidak saja di Indonesia, tetapi juga di seluruh
dunia, terutama di negara berkembang, pembangunan kurang
mempertimbangkan aspek atau dampak negatifnya terhadap lingkungan,
baik aspek hayati (kerusakan ekosistem dan punahnya keanekaragaman
hayati) maupun nonhayati (sosial budaya). Sebelum konsep Pembangunan
Berkelanjutan (Sustainable Deveploment) dicanangkan, pembangunan
didominasi oleh pertimbangan ekonomi, hampir tanpa mempertimbangkan
dampak negatifnya terhadap lingkungan.
Prinsip Pembangunan Berkelanjutan mengacu pada pembangunan
yang meliputi pembangunan sosial, ekonomi dan lingkungan yang baik.
Prinsip-prinsip yang terkandung dalam konsep pembangunan

23
berkelanjutan dikemukakan secara rinci dalam deklarasi dan perjanjian
internasional yang dihasilkan melalui konferensi PBB tentang lingkungan
dan pembangunan (United Nations Conference on Environment and
Development) di Rio de Janerio pada tahun 1992.
Implementasi konsep pembangunan berkelanjutan harus bisa
mempertemukan paling tidak tiga tujuan pembangunan, yaitu tujuan
ekonomi, tujuan sosial, tujuan ekologi. Tujuan ekonomi adalah
menciptakan pertumbuhan, pemerataan dan efisiensi. Sedangkan tujuan
sosial adalah pemberdayaan, partisipasi, mobilitas sosial, kohesi sosial dan
identitas budaya. Dan yang terakhir adalah tujuan ekologi menciptakan
keutuhan ekosistem, daya dukung, keanekaragaman hayati serta
lingkungan global.
AMDAL merupakan salah satu instrumen untuk mencapai tujuan
dari Sustainable Development tersebut. Dengan AMDAL sebuah kegiatan
atau usaha yang ada pengaruhnya terhadap lingkungan akan lebih
berhatihati terlebih dahulu ketika akan melakukan kegiatan atau usaha
tersebut. Jika tidak ada AMDAL, maka tiga tujuan Sustainable
Development tersebut baik tujuan ekonomi, tujuan sosial maupun tujuan
ekologi tidak akan terwujud. Bahkan akan membahayakan keberadaan
generasi sekarang maupun generasi masa depan.15
4. AMDAL sebagai Alat Pengelolaan Lingkungan
Hasil dari analisis mengenai dampak lingkungan juga dapat
digunakan sebagai pedoman untuk pengelolaan lingkungan yang meliputi
upaya pencegahan, pengendalian dan pemantauan lingkungan. Upaya
pencegahan artinya AMDAL digunakan untuk mengantisipasi dampak
yang kemungkinan muncul akibat aktivitas/kegiatan. Dengan dapat
diprediksinya dampak tersebut, maka dampak negatif dapat dihindari dan
dampat positif dapat dimaksimalkan. AMDAL sebagai alat pengendali
artinya masalah atau dampak dapat dikendalikan dan diminimalisir,
misalnya dengan pemberian pembatasan seperti sanksi.

Koesnadi Hardjoesoemantri, 2012, Hukum Tata Lingkungan, Edisi VIII, (Yoyakarta: Gadjah
15

Mada University Press), hlm.66

24
AMDAL sebagai sarana pemantauan maksudnya sebagai alat
kontrol dan koreksi terhadap pelaksanaan dan operasi proyek. Dengan kata
lain, pemantauan ini merupakan alat pengelolaan lingkungan untuk
menyempurnakan perencanaan program dan pembaharuan program
dikemudian hari agar tujuan pengelolaan lingkungan tercapai. Peran
AMDAL sebagai instrumen pencegahan pencemaran dan atau kerusakan
lingkungan hidup adalah dengan adanya kajian dampak lingkungan yang
telah diprediksi dalam dokumen AMDAL dalam pelaksanaanya sudah
dapat diantisipasi dan dapat diminimalisir sepanjang ambang batas atau
baku mutu atau kriteria baku kerusakan lingkungan hidup.16

5. AMDAL sebagai Kelayakan Izin Suatu Usaha


Suatu usaha dan/atau kegiatan sebelum mulai dilakukan wajib
mempunyai kajian mengenai dampak besar dan penting yang akan timbul
apabila usaha dan/atau kegiatan itu dilakukan. Hasil dari kajian tersebut
kemudian disertakan dalam perizinan usaha dan/atau kegiatan tersebut.
Apabila hasil kajian tersebut tidak disertakan maka izin usaha dan/atau
kegiatan itu tidak akan keluar, karena kajian tersebut merupakan syarat
yang harus dipenuhi dalam perizinan suatu usaha dan/atau kegiatan yang
membawa dampak bagi lingkungan. Saat ini dokumen AMDAL hanya
digunakan oleh pemrakarsa kegiatan dan atau usaha dan instansi
pengambil keputusan sebagai legitimasi atau alasan pengesahan saja,
bahwa kegiatan tersebut tidak akan menimbulkan pencemaran/perusakan
lingkungan, karena sudah mempunyai keputusan kelayakan lingkungan
dan perizinan yang diterbitkan, karena mendapat pertimbangan AMDAL
sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.17 Persoalannya adalah
selama ini AMDAL hanya dianggap sebagai bagian dari sistem prosedur
perizinan. Konsekuensinya apabila berbagai perizinan kegiatan yang terbit
akibat rekomendasi dokumen AMDAL telah ditetapkan, maka peranan

16
Syahrul Machmud, 2012, Penegakan Hukum Lingkungan Indonesia, (Yogyakarta: Graha Ilmu).
17
Taufik Imam Santoso, 2009, Politik Hukum Amdal; Amdal Dalam Perspektif Hukum
Lingkungan dan Administrasi, (Malang: Setara Press), hlm.11

25
dokumen AMDAL menjadi selesai dan tidak lagi berhubungan dengan
persoalan kegiatan.
Pasal 36 angka (1) Undang Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menyebutkan setiap
usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki AMDAL atau UKL-UPL
wajib memiliki Izin Lingkungan. Izin Lingkungan tersebut tidak akan
dikeluarkan apabila tidak ada keputusan kelayakan lingkungan dari
Komisi Penilai AMDAL yang menilai dokumen atau kajian mengenai
dampak penting yang diajukan oleh pemrakarsa. Ketika dokumen
AMDAL secara substantif (kelayakan lingkungan) dinyatakan tidak layak
lingkungan berarti dokumen tersebut tidak disetujui yang otomatis tidak
mungkin diajukan permohonan izin lingkungan maka tidak akan ada izin
usaha atau kegitan, dengan demikian tidak terjadi dampak lingkungan baik
pencematan dan atau kerusakan lingkungan hidup, atau jika kemudian
dokumen AMDAL tersebut disetujui.

G. Perencanaan pembangunan
Adanya pembangunan ialah karena adanya kebutuhan untuk menaikkan
kesejahteraan rakyat. Pembangunan dijabarkan ke dalam program dalam
berbagai bidang yang selanjutnya dirinci ke dalam berbagai proyek.
Walaupun analisis mengenai dampak lingkungan dapat digunakan untuk
menganalisis dampak yang diprakirakan akan ditimbulkan oleh program,
namun pada umumnya AMDAL digunakan pada tingkat proyek. Hal ini
disebabkan karena AMDAL untuk program lebih sulit pelaksanaannya
daripada untuk proyek. Padahal AMDAL untuk proyek pun sudah sulit.
Sebab kesulitan pada AMDAL untuk program ialah uraian program belumlah
terinci, bidangnya adalah luas dan daerah yang dijangkau pun sering luas.
Sebagai contoh ialah program transmigrasi, program intersifikasi produksi
pangan dan program pemberantasan penyakit malaria. Ketiga program ini
meliputi daerah seluruh Indonesia yang mempunyai kondisi lingkungan yang
sangat bervariasi. Jelas betapa sulitnya untuk membuat AMDAL untuk ketiga

26
program tersebut. AMDAL untuk daerah yang luas itu dapat dilakukan
dengan AMDAL Kawasan dan AMDAL Regional.18
AMDAL untuk suatu program tidak boleh diabaikan sebab dapat terjadi
dampak dari suatu proyek yang merupakan bagian dari program program
yang tidaklah besar, tetapi dampak kumulatif program tersebut dapatlah
sangat besar. Sebagai contoh yaitu program introduksi huller ke desa-desa.
Dampak yang ditimbulkan oleh proyek satu atau dua huller di sebuah desa
tidaklah besar. Akan tetapi dampak introduksi huller di beribu-ribu desa di
seluruh Indonesia sangatlah besar. Berates ribu wanita telah kehilangan
matapencaharian tambahan dari menumbuk padi. Oleh karena itu sangatlah
penting untuk dilakukan penelitian untuk mengembangkan teknik AMDAL
untuk program.19
Metode untuk melakukan AMDAL bagi rencana kebijaksanaan dan
undang-undang atau produk hukum lainnya belum banyak berkembang.
Karena itu penelitian dalam bidang ini pun sangat diperlukan, baik mengenai
prosedurnya, maupun tekniknya.20
Metode yang telah banyak berkembang ialah AMDAL untuk proyek.
Karena itu peranan AMDAL dalam perencanaan boleh dikata masih terbatas
pada perencanaan proyek. Ini pun umumnya masih terbatas pada proyek yang
bersifat fisik, misalnya pembangunan bendungan, jalan raya, pelabuhan dan
pabrik. Proyek yang bersifat non-fisik umumnya masih diabaikan. Padahal
proyek non-fisik pun dapat mempunyai dampak yang besar dan penting.
Misalnya, proyek pendidikan tentang gizi. Dampak proyek ini sebagian
terletak dalam bidang social-budaya, yaitu sikap orang terhadap makanan,
antara lain, perubahan nilai social bahan makanan dan menu makanan.
Pengetahuan yang lebih baik tentang kandungan gizi tanaman tertentu akan
mempunyai dampak biofisik penggantian sebagian tanaman pekarangan
dengan tanaman yang mengandung kadar gizi tinggi. Penggantian ini akan
mengubah struktur pekarangan dengan keanekaragaman jenis yang tinggi dan

18
Otto Soemarwoto, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, (Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press, 2014), hal. 54-55.
19
Ibid.,
20
Otto Soemarwoto, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, (Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press, 2014), hal. 56.

27
tajuk tanaman yang berlapis menjadi struktur pertanaman yang sederhana
yang sebagian besar terdiri atas sayur-mayur. Perubahan ini akan
menyebabkan erosi gen dan mempertinggi resiko terjadinya erosi tanah.21
Contoh lain ialah dampak social disebabkan oleh penelitian social dan
antropologi terhadap suku yang hidup di daerah yang terpencil. Demikian
pula penelitian tentang taksonomi dan populasi hewan atau tumbuhan langka
dapat mempunyai dampak yang besar terhadap jenis hewan atau tumbuhan
tersebut. Mengingat itu seyogyanyalah kita memperhatikan juga AMDAL
untuk proyek non-fisik.22
Perlu kiranya ditekankan, AMDAL sebagai alat dalam perencanaan harus
mempunyai peranan dalam pengambilan keputusan tentang proyek yang
sedang direncanakan. Artinya, AMDAL tidak berarti apabila dilakukan
setelah diambil keputusan untuk melaksanakan proyek tersebut. Pada lain
pihak tidak benar untuk menganggap, AMDAL adalah satu-satunya factor
penentu dalam pengambilan keputusan tentang proyek itu. Yang benar ialah
AMDAL merupakan masukan tambahan untuk pengambilan keputusan, di
samping masukan dari bidang teknik, ekonomi dan lain-lainnya. Misalnya,
dapat saja terjadi laporan AMDAL menyatakan, bahwa suatu proyek
diprakirakan akan mempunyai dampak lingkungan negatif yang besar dan
penting. Namun pemerintah berdasarkan atas pertimbangan politik atau
keamanan yang mendesak memutuskan untuk melaksanakan proyek tersebut.
Yang penting untuk dilihat dalam hal ini ialah keputusan tersebut diambil
tidak dengan mengabaikan aspek lingkungan, melainkan setelah
mempertimbangkan dan memperhitungkannya. Dengan ini keputusan tersebut
diambil menyadari sepenuhnya akan kemungkinan terjadinya dampak
lingkungan yang negatif. Maka pemerintah pun dapat melakukan persiapan
untuk menghadapi kemungkinan itu, sehingga kelak tidak akan dihadapkan
pada suatu kejutan yang tidak menyenangkan dan tidak tersangka-sangka
sebelumnya. Dengan persiapan itu dampak negative itu dapat diusahakan
menjadi sekecil-kecilnya.23
21
Ibid.,
22
Ibid.,
23
Otto Soemarwoto, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, (Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press, 2014), hal. 56-57.

28
Sangat disayangkan, dalam banyak hal AMDAL barulah dilaksanakan
setelah beberapa putusan penting tentang suatu program atau proyek diambil,
misalnya lokasi proyek, proses produksi dan cara pembuangan limbah. Pada
tahap ini pilihan sebagian alternative telah tertutup, sehingga AMDAL tidak
dapat lagi atau sukar untuk menyarankan alternative lokasi, proses produksi
atau cara pembuangan limbah yang dari segi lingkungan akan mempunyai
dampak yang lebih menguntungkan daripada yang telah direncanakan. Dalam
hal ini apabila saran ini diajukan, pihak proponen proyek akan keberatan,
karena akan mengharuskan diadakannya revisi dalam rencana yang sudah jadi
dan selanjutnya akan mengakibatkan kemunduran pelaksanaan proyek dan
kenaikan biaya. Dengan demikian akan dapatlah terjadi konflik antara
pemrakarsa proyek dan pelaksanaan AMDAL. Dua contoh diberikan di
bawah ini.24
Yang pertama ialah kasus AMDAL untuk proyek bendungan Safuling di
Jawa Barat. Pada waktu proyek ini mulai direncanakan dalam permulaan
tahun 1970-an AMDAL belum banyak diketahui. Karena itu sudahlah
sewajarnya perencanaan tersebut sama sekali tidak mengikutsertakan para
pakar lingkungan untuk membuat AMDAL bagi proyek tersebut. Pada waktu
Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) mengajukan permintaan bantuan
keuangan kepada Bank Dunia, barulah diketahui persyaratan Bank Dunia
untuk membuat AMDAL untuk dapat mendapatkan bantuan keuangan
tersebut. Pada waktu itu perencanaan proyek telah berjalan jauh, antara lain,
lokasi dan tinggi bendungan telah ditentukan dan direncanakan terinci
rekayasa hamper selesai. Apabila keputusan tentang lokasi, tinggi dan
rancangan terinci rekayasa diubah, akan terjadilah kenaikan yang besar dalam
biaya proyek dan kemunduran dalam pelaksanaan proyek yang juga akan
mengakibatkan kenaikan biaya proyek. Oleh karena itu AMDAL yang
dilakukan hanyalah mempelajari dampak yang dapat ditimbulkan oleh
bendungan menurut rencana yang telah ada. Hal ini sebenarnya kurang
memuaskan, akan tetapi masih lebih baik daripada sama sekali tidak
dilakukan AMDAL. Pengalaman menunjukkan, hasil AMDAL masih banyak

24
Ibid.,

29
berguna untuk meninggikan kegunaan proyek dengan mengurangi dampak
negarif proyek dan memperbesar dampak positif proyek. Dalam kasus ini
untungnya ialah tidak diketemukannya dampak negative yang besar yang
tidak dapat diatasi, sehingga tidak terjadi konflik antara pemrakarsa proyek,
yaitu PLN, dan pelaksana AMDAL, dalam hal ini Lembaga Ekologi
Universitas Padjajaran (sekarang Pusat Penelitian Sumberdaya Alam dan
Lingkungan, PPSDAL). Bahkan pelaksanaan AMDAL di Saguling telah
membawa kerjasama yang baik antara kedua lembaga tersebut.25
Yang kedua ialah proyek bendungan di Segara Anakan di Jawa Tengah.
Pada akhirnya tahun 1960-an dan permulaan tahun 1970-an direncanakan
untuk membuat sebuah bendungan antara Pulau Nusakambangan dan Jawa
Barat yang akan mengubah Segara Anakan menjadi sebuah waduk besar yang
berisi air tawar. Air tawar tersebut akan menjadi sumber air untuk Cilacap
yang sedang berkembang menjadi sebuah wilayah industry yang besar.
Sebagian pembiayaan bendungan diharapkan akan didapatkan dari Badan
Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID). Badan ini mempunyai
pula persyaratan, usulan proyek yang diprakirakan akan mempunyai
dampakpenting terhadap lingkungan haruslah disertai oleh AMDAL (USAID,
1974). Salah satu penelitian yang dilakukan menunjukkan, perubahan air
payau Segara Anakan menjadi air tawar akan menyebabkan kematian hutan
bakau Segara Anakan. Dengan matinya hutan bakau tersebut akan hilangnya
habitat untuk bertelur dan menjadi besarnya berbagai jenis ikan, kepiting dan
udang. Diketahui di pantai selatan Pulau Jawa tidak ada lagi hutan bakau
yang luas. Karena itu kematian hutan bakau di Segara Anakan diprakirakan
akan mempunyai dampak berkurangnya produksi perikanan dengan nilai US
& 5,5 juta/tahun dan hilangnya pekerjaan pekerjaan untuk 2.400 orang
nelayan di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa dari selatan Yogyakarta
sampai Sukabumi. Lagi pula investasi yang besar dalam motorisasi perahu
nelayan dan kamar pendingin ikan akan menjadi mubazir atau kurang
berguna. Mengingat hal ini USAID tidak dapat menyetujui bantuan
pembiayaan untuk proyek tersebut. Bappanes pun tidak dapat menyetujui
25
Otto Soemarwoto, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, (Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press, 2014), hal. 57-58.

30
proyek itu. Dapatlah dibayangkan hal tersebut telah menimbulkan
kekecewaan besar pada pihak pemrakarsa, yaitu Departemen Pekerjaan
Umum, apalagi karena banyak perencanaan proyek tersebut telah berjalan
jauh dan biaya serta tenaga telah banyak dikeluarkan untuk eksplorasi, telaah
kelayakan (feasibility study) dan perencanaan rekayasa bendungan itu. Kasus
tersebut memperkuat anggapan pada sementara pihak bahwa AMDAL adalah
alat untuk menghentikan pembangunan.26
Contoh tersebut di atas menunjukkan, pelaksanaan proyek pada tahap
terlambat sering menempatkan AMDAL pada tempat yang sulit dan
mengurangi kegunaannya.27
Suatu aspek yang penting dalam pelaksanaan AMDAL yang dini ialah
masih terbukanya banyak alternatif. Bahkan AMDAL dapat dan harus
mengeksplorasi dan menyajikan alternatif baru termasuk alternatif tanpa
proyek atau alternatif nol. Misalkan ada proyek yang bertujuan untuk
menaikkan produksi pangan. Karena beras menempati tempat yang sentral
dalam permasalahan pangan kita, kita terpukau pada beras. Karena itu proyek
menaikkan produksi pangan a priori dikaitkan pada kenaikan produksi beras.
Karena beras memerlukan air yang banyak, perlulah dibangun bendungan
untuk mencukupi kebutuhan air irigasi.28
Tetapi sebenarnya Pemerintah telah menggariskan kebijaksanaan
penganekaan pangan untuk mengurangi ketergantungan kita pada satu jenis
bahan pangan, yaitu beras, dan untuk menghindari terjadinya ledakan hama
dan penyakit karena penanaman padi secara terus-menerus tanpa pergiliran
tanaman. Berdasarkan atas kebijaksanaan ini dapatlah dieksplorasi kebutuhan
air untuk irigasi. Suatu penelitian telah dilakukan tentang pemasokan air
dalam kaitannya dengan pola pertanaman di Jawa (DGIS, 1982).29
Dengan pola tanam padi - padi - padi ternyata semua daerah aliran sungai
(DAS) di Jawa kekurangan air, kecuali DAS Citanduy yang mempunyai
surplus marjinal. Jadi bendungan harus dibangun untuk mengembangkan
26
Otto Soemarwoto, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, (Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press, 2014), hal. 58-59.
27
Ibid.,
28
Otto Soemarwoto, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, (Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press, 2014), hal. 59.
29
Ibid.,

31
irigasi di semua DAS tersebut. Dengan pola tanam padi - padi - palawija, tiga
DAS mempunyai surplus dan dua DAS mempunyai surplus marjinal. Jika
pola tanam padi - palawija - palawija digunakan, semua DAS di Jawa
mempunyai surplus, kecuali DAS Brantas. Jadi dengan mengubah pola
tanam, kebutuhan air irigasi berkurang dan kebutuhan untuk membangun
bendungan berkurang, sedangkan kenaikan produksi pangan dalam arti yang
luas, yaitu bukan semata-mata beras, dapat tercapai. Karena bendungan
mempunyai dampak yang besar dan biaya yang tinggi, alternatif
pembangunan untuk menaikkan produksi pangan tanpa perlunya dibangun
bendungan sudah selayaknya untuk dipertimbangkan. Paling-paling mungkin
perlu dibangun bendung saja, yang mempunyai dampak dan kebutuhan biaya
yang jauh lebih kecil daripada bendungan, untuk memenuhi kebutuhan irigasi
tanaman non-padi.30
Mengingat keuntungan seperti diuraikan di atas, seyogyanyalah AMDAL
sudah mulai dilaksanakan pada waktu eksplorasi dan menjadi bagian terpadu
telaah kelayakan rekayasa dan ekonomi. Hal ini dilakukan, misalnya pada
proyek bendungan Cirata di Jawa Barat yang pemrakarsanya adalah PLN dan
Pelaksana AMDAL adalah Lembaga Ekologi Universitas Padjadjarar Dalam
kasus ini dipelajari beberapa alternatif tinggi bendungan. Ternyata jumlah
penduduk yang akan tergusur oleh bendungan tidak mempunya hubungan
linier dengan tinggi bendungan. Karena itu dengan makin tingginya
bendungan masalah sosial-budaya dan biaya pemukiman kembali akan makin
besar secara tidak proporsional. Walaupun menurut perhitungan rekayasa
listrik yang dihasilkan dapat terus meningkat sampai pada ketinggian
bendungan pada 250 m di atas permukaan laut, namun diambil keputusan
untuk membuat tinggi bendungan pada 223 m. Dengan demikian hasil
AMDAL telah berguna untuk menentukan tinggi bendungan bersama dengan
hasil telaah kelayakan rekayasa dan ekonomi.31
Pemerintah Federal Kanada juga mempunyai kebijaksanaan bahwa
implikasi lingkungan yang ditimbulkan oleh pembangunan haruslah

30
Ibid.,hal. 59-61
31
Otto Soemarwoto, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, (Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press, 2014), hal. 61-62.

32
dimasukkan dalam pertimbangan perencanaan sebelum diambil keputusan
yang mengikat dan dalam masa sedini mungkin dalam daur perencanaan.
Memang dapat diajukan keberatan terhadap pelaksanaan AMDAL yang
sangat awal, yaitu adanya risiko biaya untuk AMDAL itu akan mubazir
karena kemudian ternyata proyek itu tidak layak dari segi rekayasa dan/atau
ekonomi. Pada lain pihak AMDAL yang dilakukan setelah telaah kelayakan
rekayasa dan ekonomi selesai akan dapat menjadikan biaya untuk eksplorasi
dan telaah kelayakan itu menjadi mubazir. Hal ini, misalnya, telah terjadi
pada proyek bendungan Segara Anakan, oleh karena telaah AMDAL itu
menunjukkan proyek tersebut adalah tidak layak dari segi lingkungan. Dapat
pula terjadi telaah AMDAL menunjukkan, perlunya dilakukan tindakan yang
memerlukan biaya besar untuk menangani dampak negatif yang akan
ditimbulkan oleh proyek tersebut, sehingga biaya ini akan mengubah nisban
manfaat/biaya proyek tersebut. Karena itu dapat terjadi, dengan
memperhitungkan biaya lingkungan proyek tersebut menjadi tidak layak dari
segi ekonomi. Sebaliknya dapat juga terjadi, telaah AMDAL menunjukkan,
proyek tersebut menimbulkan manfaat lingkungan yang, apabila diminatkan,
akan memperbesar nisbah manfaat/biaya proyek.32
Pertanyaan yang timbul tentulah apakah semua rencana proyek harus
melakukan AMDAL, sedangkan menurut undang-undang yang diharuskan
hanyalah rencana proyek yang diprakirakan akan mempunyai dampak penting
terhadap lingkungan saja. Jawabannya ialah dari pengalaman sampai
sekarang kita telah mempunyai gambaran yang cukup jelas proyek apa saja
yang dapat diprakirakan akan mempunyai dampak penting. Buku panduan
yang diterbitkan oleh Bank Dunia (World Bank, 1974), Badan Pembangunan
Internasional Amerika Serikat (USAID, 1974) dan Arahan dari Masyarakat
Eropa, misalnya memuat daftar jenis proyek yang memerlukan AMDAL. Di
samping itu dari keterangan umum rencana dini suatu proyek juga sudah
dapat diperkirakan perlu tidaknya dilakukan AMDAL, misalnya, lokasi
proyek (di hutan lindung, cagar alam atau di tengah pemukiman yang padat),
jenis dan volume hasil, luasnya daerah dan banyaknya penduduk yang terkena
32
Otto Soemarwoto, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, (Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press, 2014), hal. 62.

33
dampak. Petunjuk umum itu juga terdapat di dalam Undang-undang No. 4,
tahun 1982, yaitu penjelasan pasal 16, dan pasal 2 Peraturan Pemerintah No.
51 tahun 1993. Petunjuk umum itu harus kita gunakan untuk melakukan
AMDAL sejak dini dalam perencanaan proyek. Sementara itu dalam
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Kep-11/MENLHS tahun 1994
telah ditentukan jenis-jenis proyek yang diharuskan disertai oleh AMDAL.33
Masalah berikutnya ialah biaya, yaitu apakah dengan melaksana AMDAL
pada tahap yang dini tidak akan menaikkan biaya proyek. Kenaika tentu ada,
namun kenaikan itu sebenarnya tidaklah terlalu besar. Semua proyek sebagian
perencanaannya harus mempelajari lingkungan. Misalnya, proyek jalan raya
harus mempelajari beberapa hal, antara lain geologi, morfologi, tanah, iklim,
tataguna lahan dan penduduk di daerah proyek. Dengan menambah seorang
pakar lingkungan sebagai anggota gugus peneliti, penelitian tersebut diperluas
menjadi penelitian AMDAL. Pada tahap awalnya penelitian AMDAL itu
bersifat kecil. Jumlah pakar lingkungan kemudian dapat ditambah secara
bertahap menurut kebutuhan dengan menggunakan hasil penelitian sebagai
petunjuk, baik mengenai jumlah orangnya maupun jenis keahliannya. Dengan
demikian risiko untuk menyusun sebuah gugus peneliti yang tidak sesuai
dengan masalah yang dihadapi proyek atau yang jumlah anggotanya
berlebihan dapat dihindari atau paling sedikit dapat dikurangi. Sebaliknya,
dalam proses penelitian AMDAL yang bertahap setiap saat dapat diambil
keputusan untuk menghentikan AMDAL dengan membuat laporan hasil
AMDAL dan alasan dihentikannya AMDAL, sebelum kita melangkah terlalu
jauh. Jadi AMDAL yang dilakukan secara bertahap ini dapat menghindari
dikeluarkannya biaya dan tenaga yang berlebihan atau menjadi mubazirnya
biaya dan tenaga.34
Peranan penting AMDAL yang lain ialah peran serta masyarakat yang
lebih luas dalam perencanaan pembangunan daripada pihak pemrakarsa dan
pemerintah saja. Di Amerika Serikat dan negara barat lainnya peranserta
masyarakat dilakukan dengan dengar pendapat dan dengan tersedianya

33
Ibid., hal. 64.
34
Otto Soemarwoto, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, (Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press, 2014), hal. 64-65.

34
laporan AMDAL untuk dibaca dan dipelajari oleh masyarakat. Di dalam PP
No. 51, tahun 1993, dinyatakan dalam pasal 22 sifat keterbukaan AMDAL.35
Selama pelaksanaan dan operasi proyek dilakukan pemantauan. Hasil
pemantauan digunakan, antara lain, sebagai umpanbalik untuk melakukan
koreksi tertentu terhadap pelaksanaan dan operasi proyek. Dengan perkataan
pemantauan itu merupakan alat pengelolaan lingkungan. Pemantauan juga
bekerja sebagai umpan-balik untuk menyempurnakan perencanaan program
dan proyek yang serupa di kemudian hari dan perbaikan/pembaharuan
kebijaksanaan lingkungan.36
Umpan balik hasil pemantauan untuk mengoreksi pelaksanaan dan operasi
proyek serta sebagai masukan untuk perbaikan atau penyusunan kebijakan
lingkungan baru masih diabaikan. Dengan demikian AMDAL masih
dianggap sebagai proses linier satu arah dan bukannya sebuah proses dinamis
yang merupakan sebuah daur. Seperti telah diuraikan di atas maka untuk
pelaksanaan AMDAL untuk program masih diperlukan penelitian untuk
mengembangkan tekniknya.37
H. Efektifitas masa depan AMDAL
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan telah banyak dilakukan di
Indonesia dan di Negara lain.. Akan tetapi AMDAL tidak selalu memberi
hasil yang diharapkan sebagai alat perencanaan. Bahkan tidak jarang terjadi,
AMDAL hanyalah merupakan dokumen formal saja, yaitu untuk memenuhi
ketentuan dalam Undang-Undang. Pelaksanaan AMDAL hanyalah pro forma
saja. Setelah laporan AMDAL didiskusikan dan disetujui, laporan tersebut
disimpan dan tidak digunakan lagi. Laporan itu tidak mempunyai pengaruh
terhadap perencanaan dan pelaksanaan proyek selanjutnya. Hal ini terjadi
juga di Negara yang telah maju, bahkan di Amerika Serikat yang merupakan
Negara pelopor AMDAL.

35
Ibid.,
36
Ibid., hal. 65-67.
37
Otto Soemarwoto, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, (Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press, 2014), hal. 67.

35
Beberapa sebab tidak digunakannya laporan AMDAL ialah pertama
AMDAL dilakukan terlambat sehingga tidak dapat lagi memberikan masukan
untuk pengambilan keputusan dalam proses perencanaan.

Kedua, tidak adanya pemantauan, baik pemantauan pada tahap


pelaksanaan proyek itu maupun pemantauan pada tahap operasional proyek.
Di Amerika Serikat NEPA tidak menyebutkan secara eksplisit keharusan
dilakukannya pemantauan. Di Indonesia diharuskan disusunnya rencana
pemantauan lingkungan (PP 51, Tahun 1993). Dengan pemantauan dapat
diketahui apakah persyaratan lingkungan ditaati oleh pemrakarsa proyek.
Namun sayangnya RPL sering tidak dilaksanakan dengan baik.

Ketiga, disalahgunakannya AMDAL, untuk membenarkan diadakannya


suatu proyek. Masalah ini bukanlah spesifik pada AMDAL saja, melainkan
secara umum terdapat pada telaah kelayakan. Dorongan untuk
menyalahgunakan AMDAL terutama besar pada perencanaan proyek yang
telah berjalan lanjut, misalnya yang telah siap untuk mulai dilaksanakan atau
bahkan telah mulai dilaksanakan.

Pelaksanaan AMDAL sekedar untuk memenuhi persyaratan peraturan


saja, membuat tenaga dan biaya yang dikeluarkan menjadi mubazir. Oleh
karena itu perlu dilakukan usaha agar AMDAL benar-benar dapat menjadi
alat perencanaaan program dan proyek untuk mencapai tujuan pembangunan
yang berwawasan lingkungan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menaikkan efektivitas


AMDAL ialah:

1. Menumbuhkan pengertian di kalangan para perencana dan pemrakarsa


proyek bahwa AMDAL bukanlah alat untuk menghambat pembangunan,
melainkan sebaliknya AMDAL adalah alat untuk menyempurnakan
perencanaan pembangunan. Tujuan ini dapat dicapai dengan
menginternalkan AMDAL ke dalam telaah kelayakan proyek. Dengan
penyempurnaan ini hasil yang dicapai dalam pembangunan akan lebih
baik, yaitu pembangunan itu menjadi berwawasan lingkungan dan

36
terlanjutkan. AMDAL dapat juga menghemat biaya dengan menghindari
terjadinya biaya mubazir, karena kemudian ternyata proyek itu tidak layak
dari segi lingkungan, atau biaya proyek naik sangat besar, karena
diperlukan biaya tambahan untuk menanggulangi dampak negative
tertentu. Dalam hal lain ada manfaat proyek yang tidak termanfaatkan.
2. Sebagian besar laporan AMDAL mengandung banyak sekali data, tetapi
banyak diantaranya tidak relevan dengan masalah yang dipelajari. Tidak
atau kurang adanya fokus merupakan kelemahan yang banyak terdapat
dalam pelaksanaan AMDAL. Hal ini perlu dikoreksi dengan melakukan
pembatasan ruang lingkup dengan pelingkupan (scopin) yang baik.
Koreksi ini akan lebih mempermudah penggunaan laporan AMDAL oleh
para perencana dan pemrakarsa pembangunan.
3. Agar para perencana dan pelaksana proyek dapat menggunakan hasil
telaah AMDAL dengan mudah, laporan AMDAL ditulis dengan jelas dan
dengan bahasa yang dapat dimengerti oleh perencana dan pelaksana
tersebut. Untuk maksud ini “ bahasa ilmiah” perlu dihindari, namun hasil
AMDAL itu harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
4. Rekomendasi yang diberikan haruslah spesifik dan jelas,sehingga para
perencana dapat menggunakannya. Rekomendasi yang bersifat umum
tidak banyak gunanya. Misalnya rekomendasi dalam laporan AMDAL
untuk perencanaan sebuah pabrik yang menyatakan, perlunya diambil
tindakan pengendalian pencemaran tanpa menerangkan bagaimana
caranya, tidaklah dapat banyak membantu. Masalah ini akan teratasi
dengan sendirinya apabila AMDAL diintegrasikan umpan balik antara
AMDAL dengan telaah kelayakan rekayasa.
5. Persyaratan proyek yang tertera dalam laporan AMDAL yang telah
disetujui harus menjadi bagian integral izin pelaksanaan proyek dan
mempunyai kekuatan yang sama seperti apa yang termuat dalam
rancangan rekayasa yang telah disetujui oleh badan yang bersangkutan.
6. Adanya komisi AMDAL yang berkualitas dan berwibawa. Badan
pemerintah tersebut haruslah mempunyai wewenang untuk mengawasi
bahwa yang direkomendasikan dalam laporan AMDAL dan telah menjadi

37
salah satu dasar pemberi izin, benar-benar digunakan dalam perencanaan
dan pelaksnaan proyek yang bersangkutan. Jika terjadi penyimpangan,
badan pemerintah tersebut harus dapat menegur dan apabila perlu
memerintahkan untuk membongkar bagian proyek yang tidak sesuai atau
bahkan memerintahkan untuk menghentikan proyek tersebut. Dalam
kaitan ini pemantauan pelaksanaan proyek merupakan bagian penting
dalam tindak lanjut AMDAL.
7. Belum digunakan RPL sebagai umpan balik untuk menyempurnakan
implementasi dan operasi proyek sehingga AMDAL bersifat kegiatan
yang statis dan bukanya dinamis yang dengan terus-menerus berinteraksi
dengan implementasi dan operasi proyek.38
Masa Depan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
Analisis mengenai dampak lingkungan lahir dengan tujuan untuk
menghindari terjadinya kerusakan lingkungan oleh kegiatan manusia.
Sebenarnya usaha manusia untuk menghindari kerusakan itu bukanlah hal
yang baru. Misalnya telah lama manusia membuat cerobong asap untuk
menghindari terjadinya pencemaran udara oleh limbah gas pabrik,, baik
secara tradisional maupun di perkebunan telah lama dibuat sengkedan untuk
melindungi tanah dari erosi. Sejak berpuluh tahun yang lalu banyak negara
mempunyai cagar alam dan taman nasional untuk melindungi sumberdaya
gen. Demikian pula di kota kuno pun telah dibuat taman untuk menjaga
kenyaman kota. Akan tetapi dengan meningkatnya skala dan intensitas
kegiatan manusia usaha perlindungan lingkungan itu tidak lagi memadai.
Skala dan intensitas dampak pun meningkat dan semakin bersifat lintas
sektoral. AMDAL lahir sebagi sarana untuk mengatasi masalah itu.
Sementara itu kesadaran lingkungan semakin meningkat. Kesadaran itu
sebagian tumbuh dari hati yang tulus, sebagian lagi karena terpaksa oleh
adanya perundang-undangan lingkungan maupun oleh adanya kritik
masyarakat. Semakin kuat pula tumbuh kesadaran adanya bahaya yang
mengancam tidak dapatnya lagi bumi dihuni oleh manusia , apabila produksi

38
Otto Soemarwoto, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, (Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press, 2014), cet ke 14 hlm 67-69

38
zat pencemar terus meningkat, penggurunan terus berlanjut dan erosi tanah
semakin parah. Beberapa contoh ialah terjadinya hujan asam yang merusak
hutan dalam daerah yang sangat luas di Amerika Utara dan Eropa, lubang
ozon di stratosfer di atas Antartika dan Artika yang terus meluas dan akan
menaikkan frekuensi penyakit kanker dan katarak, efek rumah kaca yang
dapat menyebabkan perubahan iklim global dan kenaikkan permukaan laut,
dan penggurunan di Afrika dan Amerika Utara.
Kenaikan kesadaran dan adanya perundang-undangan lingkungan telah
mendorong dan memaksa para pemrakarsa proyek untuk memasukkan
pertimbangan lingkungan ke dalam perencanaannya. Pertimbangan itu mulai
juga bersifat lintas sektor. Misalnya,, dalam pembuatan lahan untuk pertanian
tidak lagi hanya diperhatikan erosi tanah dan hidrologi, melainkan juga aspek
sosial-ekonomi penduduk lokal. Banyak pabrik telah berusaha untuk
melibatkan penduduk lokal dalam kegiatan pabrik.
Apabila AMDAL semakin banyak dilakukan secara dini dan menjadi
bagian integral telaah kelayakan, sifat AMDAL sebagai kegiatan khusus akan
semakin kabur. Ditunjang oleh perkembangan teknik pertimbangan
lingkungan yang semakin mampu menalaah masalah lintas sektoral secara
holistik, pertimbangan itu semakin mampu untuk memberi masukan pada
telaah teknik dan ekonomi. Pertimbangan lingkungan itu rutin dalam
perencanaannya. Bahkan dalam proyek yang kecil pun, misalnya
pembangunan sebuah rumah tempat tinggal,pertimbangan lingkungan
menjadi bagian perencanaan. Dengan demikian kebutuhan akan AMDAL
sebagai kegiatan khusus akan semakin menyusut dan akhirnya akan hilang.
Inilah yang harus menjadi tujuan kita. Kita bukanya memperkuat lembaga
AMDAL melainkan seperti halnya dalam suksesi ekologi berusah agar
AMDAL dapat mengeliminasi diri sendiri dengan menciptakan milieu yang
baik untuk perkembangan pertimbangan lingkungan dalam perencanaan.
Kiasan lain ialah menganggap AMDAL sebagi sebuah pot untuk
menumbuhkan bibit pohon. Setelah bibi cukup besar, kita tidak lagi
memerlukan pot itu. Bahkan jika bibit pohon itu terus kita tanam dalam pot
itu, ia akan menjadi kerdil. Bibit itu ialah pertimbangan lingkungan yang

39
bersifat lintas sektoral dan holistik. Betapapun AMDAL hanyalah terbatas
menelaah dampak proyek, sedangkan pertimbangan lingkungan adalah lebih
luas daraipada itu.39

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
AMDAL merupakan bagian dari ilmu ekologi pembangunan yang
mempelajari hubungan timbal balik atau interaksi antara pembangunan dan
lingkungan. Hal–hal yang dikaji dalam proses AMDAL adalah aspek fisik-
kimia, ekologi, sosial-ekonomi, sosial budaya, dan kesehatan masyarakat
39
Ibid, 69-71

40
sebagai pelengkap studi kelayakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.
Dasar dari diadakannya AMDAL adalah (PP 27/1999 dan PP 51/1993),
pembangunan berkelanjutan, kegiatan yg menimbulkan dampak perlu
dianalisa sejak awal perencanaan untuk langkah pengendalian dampak negatif
dan pengembangan dampak positif. Amdal mempunyai beberapa kegunaan
diantaranya adalah:
 Memberikan informasi secara jelas mengenai suatu rencana usaha,
berikut dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya.
 Menampung aspirasi, pengetahuan dan pendapat penduduk khusunya
dalam masalah lingkungan sewaktu akan didirikannya suatu rencana
proyek atau usaha.
 Menampung informasi setempat yang berguna bagi pemrakarsa dan
masyarakat dalam mengantisipasi dampak dan mengelola lingkungan.
Tugas utama dari AMDAL adalah memilah perubahan-perubahan
yang ditimbulkan oleh aktifitas pembangunan yang ditawarkan agar menjadi
bagian dari siklus alam.
Selain itu AMDAL mempunyai beberapa peranan diberbagai bidang
misalnya AMDAL sebagai Instrumen Perlindungan Lingkungan Hidup,
AMDAL sebagai Instrumen dalam Perencanaan Pembangunan, AMDAL
sebagai Instrumen dalam Mempertahankan Sustainable Development yang
Berwawasan, AMDAL sebagai Alat Pengelolaan Lingkungan, dan AMDAL
sebagai Kelayakan Izin Suatu Usaha. Metode yang telah banyak berkembang
ialah AMDAL untuk proyek. Karena itu peranan AMDAL dalam
perencanaan boleh dikata masih terbatas pada perencanaan proyek.
Analisis mengenai dampak lingkungan lahir dengan tujuan untuk
menghindari terjadinya kerusakan lingkungan oleh kegiatan manusia.
Kenaikan kesadaran dan adanya perundang-undangan lingkungan telah
mendorong dan memaksa para pemrakarsa proyek untuk memasukkan
pertimbangan lingkungan ke dalam perencanaannya.

B. Saran

41
Demikian yang dapat penulis paparkan mengenai materi yang menjadi
pokok bahasan dari makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan
kelemahan karena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan yang
berhubungan dengan judul makalah.
Penulis berharap, penulis berikutnya untu membahas makalah secara
lebih lengkap. Semoga makalah ini berguna bagi penulis dan pembaca.

42
DAFTAR PUSTAKA

Hadi, Sudharto. 2005. Dimensi Lingkungan Perencanaan Pembangunan,


(Yogyakarta: Gajah Mada University Press)
Hardjoesoemantri, Koesnadi. 2012. Hukum Tata Lingkungan, Edisi VIII,
(Yoyakarta: Gadjah Mada University Press)
Kamarol, Sumadi Yakin. 2017. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
(AMDAL) sebagai Instrumen Pencegahan Pencemaran dan Peruskana
Lingkungan , Barito Utara. Badamai Law Journal, Vol. 2, Issues 1, Maret
2017
Machmud, Syahrul. 2012. Penegakan Hukum Lingkungan Indonesia,
(Yogyakarta: Graha Ilmu).
Santoso, Taufik Imam. 2009. Politik Hukum Amdal; Amdal Dalam Perspektif
Hukum Lingkungan dan Administrasi, (Malang: Setara Press)
Soemarwoto, Otto. 2014. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Yakin, Sumadi Kamarol. 2017. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
(AMDAL) Sebagai Instrumen Pencegahan Pencemaran Dan Perusakan
Lingkungan. Badamai Law Jurnal Vol 2, Issues . Barito Utara