Anda di halaman 1dari 5

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

2.1 Perawatan Luka

2.1.1 Pengertian Luka

Luka adalah kerusakan hubungan antar jaringan-jaringan pada kulit,

mukosa membran dan tulang atau organ tubuh lain (Agung, 2005). Selain itu,

menurut Koiner dan Taylan (2001), Luka adalah terganggunya integritas normal

dari kulit dan jaringan di bawahnya yang terjadi secara tiba-tiba atau disengaja,

tertutup atau terbuka, bersih atau terkontaminasi, superficial atau dalam.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengertian luka seperti

Klasifikasi Luka yang diklasifikasikan dalam beberapa bagian antara lain :

Tindakan terhadap Luka yaitu Luka disengaja dan Luka tidak disengaja; Integritas

Luka dibagi atas Luka tertutup dan Luka terbuka; berdasarkan Mekanisme Luka

dibagi atas Luka insisi (Incised wounds), terjadi karena teriris oleh instrumen

yang tajam. Luka bersih (aseptik) secara umum tertutup oleh sutura setelah

seluruh pembuluh darah yang luka diikat (Ligasi). Luka memar (Contusion

Wound), terjadi akibat benturan oleh suatu tekanan dan dikarakteristikkan oleh

cedera pada jaringan lunak, perdarahan dan bengkak. Luka lecet (Abraded

Wound), terjadi akibat kulit bergesekan dengan benda lain yang biasanya dengan

benda yang tidak tajam. Luka tusuk (Punctured Wound), terjadi akibat adanya

benda, seperti peluru atau pisau yang masuk kedalam kulit dengan diameter yang

kecil. Luka gores (Lacerated Wound), terjadi akibat benda yang tajam seperti oleh

Universita Sumatera Utara


kaca atau oleh kawat. Luka tembus (Penetrating Wound), yaitu luka yang

menembus organ tubuh biasanya pada bagian awal luka masuk diameternya kecil

tetapi pada bagian ujung biasanya lukanya akan melebar. Luka Bakar adalah

kerusakan jaringan kulit yang disebabkan oleh sesuatu yang panas (bersifat

membakar) yang menimbulkan panas berlebihan (Ismail, 2008)

Faktor yang mempengaruhi luka yaitu: berdasarkan usia menyatakan

bahwa anak dan dewasa penyembuhan lebih cepat daripada orang tua. Orang tua

lebih sering terkena penyakit kronis, penurunan fungsi hati dapat mengganggu

sintesis dari faktor pembekuan darah; berdasarkan nutrisi menyatakan

penyembuhan menempatkan penambahan pemakaian pada tubuh. Klien

memerlukan diit kaya protein, karbohidrat, lemak, vitamin C dan A, dan mineral

seperti Fe, Zn. Klien kurang nutrisi memerlukan waktu untuk memperbaiki status

nutrisi mereka setelah pembedahan jika mungkin. Klien yang gemuk

meningkatkan resiko infeksi luka dan penyembuhan lama karena supply darah

jaringan adipose tidak adekuat, berdasarkan infeksi menyatakan infeksi luka

menghambat penyembuhan (Ismail, 2008)

Kondisi fisik dapat mempengaruhi penyembuhan luka. Adanya

sejumlah besar lemak subkutan dan jaringan lemak (yang memiliki sedikit
pembuluh darah) mengakibatkan gangguan sirkualsi dan oksigenisasi pada
jaringan. Pada orang-orang yang gemuk penyembuhan luka lambat karena

jaringan lemak lebih sulit menyatu, lebih mudah infeksi, dan lama untuk

sembuh. Aliran darah dapat terganggu pada orang dewasa dan pada orang yang
menderita gangguan pembuluh darah perifer, hipertensi atau diabetes millitus.

Universita Sumatera Utara


Oksigenasi jaringan menurun pada orang yang menderita anemia atau gangguan

pernapasan kronik pada perokok. Kurangnya volume darah akan mengakibatkan

vasokonstriksi dan menurunkan ketersediaan oksigen dan nutrisi untuk

penyembuhan luka; Hematoma (bekuan darah), merupakan hal yang sering

terjadi, sehingga darah pada luka secara bertahap diabsorbsi oleh tubuh masuk

kedalam sirkulasi. Tetapi jika terdapat bekuan yang besar, hal tersebut

memerlukan waktu untuk dapat diabsorbsi oleh tubuh, sehingga menghambat

proses penyembuhan luka; berdasarkan faktor benda asing bahwa benda asing

seperti pasir atau mikroorganisme akan menyebabkan terbentuknya suatu abses

sebelum benda tersebut diangkat. Abses ini timbul dari serum, fibrin, jaringan sel

mati dan lekosit (sel darah putih), yang membentuk suatu cairan yang kental

yang disebut dengan nanah (Ismail, 2008)

Iskemia merupakan suatu keadaan dimana terdapat penurunan suplai

darah pada bagian tubuh akibat dari obstruksi dari aliran darah. Hal ini dapat

terjadi akibat dari balutan pada luka terlalu ketat. Dapat juga terjadi akibat faktor

internal yaitu adanya obstruksi pada pembuluh darah itu sendiri; Diabetes dengan

Hambatan terhadap sekresi insulin akan mengakibatkan peningkatan gula darah,

nutrisi tidak dapat masuk ke dalam sel. Akibat hal tersebut juga akan terjadi

penurunan protein-kalori tubuh; Keadaan luka menyatakan bahwa keadaan khusus

dari luka mempengaruhi kecepatan dan efektifitas penyembuhan luka. Beberapa

luka dapat gagal untuk menyatu. Beberapa diantaranya adalah penggunaan obat

anti inflamasi (seperti steroid dan aspirin), dimana heparin dan anti neoplasmik

mempengaruhi penyembuhan luka. Penggunaan antibiotik yang lama dapat

Universita Sumatera Utara


membuat seseorang rentan terhadap infeksi luka seperti steroid akan menurunkan

mekanisme peradangan normal dan tubuh terhadap cedera, antikoagulan dapat

mengakibatkan perdarahan, antibiotik dapat efektif diberikan segera sebelum

pembedahan untuk bakteri penyebab kontaminasi yang spesifik. Jika diberikan

setelah luka pembedahan tertutup, tidak akan efektif akibat koagulasi

intravaskular (Ismail, 2008)

2.1.2 Proses Penyembuhan Luka

Menurut Sotani (2009), dalam proses penyembuhan luka dapat


diklasifikasikan menjadi penyembuhan primer dimana luka diusahakan bertaut,

biasanya dengan bantuan jahitan dan penyembuhan sekunder dimana

penyembuhan luka tanpa ada bantuan dari luar (mengandalkan antibodi)


Gambar 1. Proses Penyembuhan Luka

1. Proses Inflamasi

Pembuluh darah terputus, menyebabkan pendarahan dan tubuh

berusaha ntuk menghentikannya (sejak terjadi luka sampai hari ke – lima) dengan
karakteristik dari proses ini adalah: hari ke 0-5, respon segera setelah terjadi

Universita Sumatera Utara


injuri pembekuan darah untuk mencegah kehilangan darah, dan memiliki ciri-ciri

tumor, rubor, dolor, color, functio laesa. Selanjutnya dalam fase awal terjadi

haemostasis, pada fase akhir terjadi fagositosis dan lama fase ini bisa singkat jika

tidak terjadi infeksi

2. Proses Proliferasi

Terjadi proliferasi fibroplast (menautkan tepi luka) dengan

karakteristik dari proses ini adalah: terjadi pada hari 3 – 14, disebut juga dengan

fase granulasi adanya pembentukan jaringan granulasi pada luka-luka nampak

merah segar, mengkilat, jaringan granulasi terdiri dari kombinasi: fibroblasts, sel

inflamasi, pembuluh darah yang baru, fibronectin and hyularonic acid. Epitelisasi

terjadi pada 24 jam pertama ditandai dengan penebalan lapisan epidermis pada

tepian luka dan secara umum pada luka insisi, epitelisasi terjadi pada 48 jam

pertama

3. Proses Maturasi

Proses ini berlangsung dari beberapa minggu sampai dengan 2 tahun

dengan terbentuknya kolagen yang baru yang mengubah bentuk luka serta

peningkatan kekuatan jaringan (tensile strength), dilanjutkan terbentuk jaringan

parut (scar tissue) 50-80% sama kuatnya dengan jaringan sebelumnya serta

terdapat pengurangan secara bertahap pada aktivitas selular dan vaskularisasi

jaringan yang mengalami perbaikan

Universita Sumatera Utara