Anda di halaman 1dari 12

PEMIKIRAN IMAM AL-GHAZALI (BAGHDAD KLASIK)

DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN


MAKALAH
Disusun Guna Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
“Filsafat Pendidikan Dasar Islam”
Dosen Pengampu: Dr. Sa’adi, M. Ag.

Disusun Oleh :
SUTRISNO 12020190007

PROGRAM PASCASARJANA
PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SALATIGA
2019

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam arus globalisasi dimana masyarakat bersifat dinamis, pendidikan
memegang peranan penting untuk menentukan eksistensi dan perkembangan
masyarakat tersebut, untuk itu pendidikan merupakan usaha untuk
melestarikan dan mentransformasikan nilai-nilai kebudayaan dalam segala
aspek dan jenisnya kepada generasi selanjutnya. Begitu juga bagi umat Islam,
pendidikan merupakan bentuk manifestasi dari cita-cita hidup Islam untuk
melestarikan dan menanamkan nilai-nilai Islam kepada generasi penerus
sehingga nilai-nilai cultural-religious yang dicita-citakan tetap berfungsi dan
berkembang dalam masyarakat dari waktu ke waktu.
Pendidikan Islam mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan hidup
manusia kepada titik optimal kemampuannya untuk memperoleh
kesejahteraan hidup di dunia dan kebahagiaan hidupnya di akhirat.
Dalam pemikirannya tentang pendidikan Islam, Al-Ghazali
mengemukakan tujuan pendidikan adalah untuk mendekatkan diri kepada
Allah Subhanahu wa ta’ala, bukan untuk mencari kedudukan yang hanya
bersifat duniawi saja. Makalah ini akan membahas tentang pemikiran Al-
Ghazali terhadap pendidikan Islam khususnya bagi pendidik dan peserta
didik.

B. Rumusan Masalah
1. Biografi Al-Ghazali
2. Bagaimana Pemikiran Pendidikan Al-Ghazali?

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Biografi Al-Ghazali
Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali
lahir pada tahun 1059 M di Ghazaleh, suatu kota kecil yang terletak di dekat
Tusdi Khurasan. Di masa mudanya ia belajar di Naisapur, juga di Khurasan,
yang pada waktu itu merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan yang
penting di dunia Islam. Ia kemudian menjadi murid Imam al-Haramain al-
Juwaini, Pendidik Besar di Madrasah al-Nizamiah Naisapur. Diantara mata
pelajaran yang diberikan di madrasah ini adalah ilmu kalam, hukum Islam,
filsafat, logika, sufisme, dan lain-lain.1
Setelah pendidiknya al-Juwaini meninggal, Al-Ghazali melanjutkan
pendidikannya ke daerah Mu’askar dan menetap selama lima tahun. Berkat
kelebihan intelektual yang dimilikinya, al-Ghazali kemudian diangkat
menjadi pendidik besar di perpendidikan tinggi Nizhamiah tepatnya pada usia
43 tahun. Pada posisi ini ia menjadi orang besar dan pejabat serta terkenal di
seluruh negeri.2
Meskipun kelebihan kedudukan dan harta sudah digenggamnya, ia
tetap tidak merasa puas. Ketidakpuasannya ini menjadikan dirinya
berkeinginan besar untuk menemukan kebenaran hakiki. Hal tersebut karena
ia meragukan kebenaran pengetahuan yang telah diperoleh melalui akalnya.
Dalam perihal tersebut al-Ghazali kemudian meninggalkan kemewahan yang
telah diperolehnya dan melanjutkan pengembaraannya menuju dunia sufi dan
mengasingkan diri ke Damaskus.3
Setelah beberapa lama menetap di Damaskus, ia kemudian kembali
mengajar di Madrasah Nizhamiyah di Naisabur sebagai penerimaan atas
tawaran Fakhrul Muluk (putra dari Nizhamul Muluk). Namun pemikiran

1
Maftukhin, Filsafat Islam (Yogyakarta: Teras, 2012), hlm. 132.
2
Safrudin Aziz, Pemikiran Pendidikan Islam: Kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer
(Yogyakarta: Kalimedia, 2015), hlm. 98.
3
Ibid. hlm. 99

3
beliau pada saaat itu sudah berbeda dengan pemikirannya yang dulu
cenderung lebih rasional. Al-Ghazali menjadi sufi dan memandang sebuah
kebenaran pengetahuan yang diperoleh dari inderawi sebagai kebenaran
relative. Pada saat itu pula beliau melahirkan karya yang terkenal yaitu al-
Munqidz min al-Dhalal.4
Dilihat dari perjalanan menuntut ilmu, mengajar dan telah
melahirkan karya yang terkenal maka al-Ghazali termasuk seorang ulama
yang produktif. Berkat luasnya wawasan dan kecerdasan intelektualnya,
beliau juga menuangkan ide-ide tentang pendidikan yang tertuang dalam
kitab Ayyuhal Walad.5
Al-Ghazali banyak belajar kepada ulama-ulama besar yang hidup di
zaman mudanya, sehingga ilmu yang beliau dapatkan menjadikan Al-Ghazali
menjadi pendidik besar dan ulama yang terkenal di seluruh dunia..

B. Pemikiran Pendidikan Al-Ghazali


1. Tujuan Pendidikan
Menurut Al-Ghazali tujuan pendidikan adalah mendekatkan diri
kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan bukan mencari kedudukan yang
menghasilkan uang atau mencari kemewahan duniawi. Karena jika tujuan
pendidikan diarahkan bukan pada mendekatkan diri kepada Allah
subhanahu wa ta’ala, akan dapat menimbulkan kedengkian, kebencian dan
permusuhan.
Tujuan pendidikan yang demikian itu sejalan dengan firman Allah
subhanahu wa ta’ala tentang tujuan penciptaan manusia, yaitu:

?َ ?‫ت? ا? ْل? ِ?ج? ?َّن َو? ا?إْل ِ? ْن‬


?‫س? إِ? اَّل لِ? يَ? ْع? بُ? ُد? و? ِن‬ ?ُ ?‫َ?و? َم? ا? َ?خ? لَ? ْق‬
Tidaklah Aku jadikah jin dan manusia melainkan agar beribadah kepada-
Ku (Q.S. al-Dzariyat: 56).

4
Ibid
5
Ibid

4
Selain itu tujuan pendidikan tersebut mencerminkan sikap zuhud
Al-Ghazali terhadap dunia, merasa qana’ah (merasa cukup dengan yang
ada), dan banyak memikirkan kehidupan akhirat daripada kehidupan
dunia.
Tujuan pendidkan Al-Ghazali yang demikian itu juga karena Al-
Ghazali memandang dunia ini bukan merupakan hal pokok, tidak abadi
dan akan rusak, sedangkan maut dapat memutuskan kenikmatannya setiap
saat. Dunia hanya tempat lewat sementara, tidak kekal. Sedangkan akhirat
adalah desa yang kekal, dan maut senantiasa mengintai setiap manusia.6
Lebih lanjut Al-Ghazali mengatakan bahwa orang yang berakal
sehat adalah orang yang dapat menggunakan dunia untuk tujuan akhirat,
sehingga orang tersebut derajatnya lebih tinggi di sisi Allah subhanahu wa
ta’ala dan lebih luas kebahagiaannya di akhirat, ini menunjukkan bahwa
tujuan pendidikan menurut Al-Ghazali tidak menistakan dunia, melainkan
dunia ini hanya sebagai alat.7 Hal ini dipahami Al-Ghazali berdasar pada
isyarat Al-Quran:

ِ ‫ع ْال ُغر‬
‫ُور‬ ُ ‫َو َما ْال َحيَاةُ ال ُّد ْنيَا إِاَّل َمتَا‬

Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu


(QS. Al-Haadiid: 20)

‫َولَآْل ِخ َرةُ َخ ْي ٌر لَكَ ِمنَ اأْل ُولَ ٰى‬


Sesungguhnya kehidupan akhirat itu lebih baik bagimu daripada
kehidupan dunia (QS. Al-Dluha, 93:4)

2. Pendidik
Pada hakikatnya, seseorang yang telah memilih profesi sebagai
pendidik, maka ia sesungguhnya telah melibatkan dirinya dalam suatu
urusan amat besar dan amat serius. Karena itu, hendaknya ia menjaga

6
Abuddin Nata, Filsafat pendidikan Islam (Ciputat: Logos, 2001), hlm. 168.
7
Ibid

5
segala macam adab serta tugas-tugasnya sebagai pendidik. Tugas Pendidik
menurut Al-Ghazali adalah sebagai berikut:
a. Bersikap kasih sayang terhadap para peserta didik, dan
memperlakukan mereka seperti putra-putrinya sendiri. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam pemah bersabda: "Sesungguhnya aku ini
bagi kamu, seperti seorang ayah bagi putra-putrinya." Yakni dengan
tujuan menyelamatkan mereka dari api neraka di akhirat. Dan yang
demikian itu tentunya lebih penting daripada upaya kedua orangtua
menyelamatkan putra-putri mereka dari api dunia. Seorang ayah adalah
penyebab keberadaan si anak di masa kini dan dalam kehidupan
dunianya yang fana. Sedangkan si pendidik adalah penyebab
kehidupannya di alam yang baka. Dan sekiranya bukan karena
pendidikan sang pendidik, niscaya apa yang diperoleh dari ayah akan
menjerumuskannya ke dalam kebinasaan yang terus-menerus.
Sedangkan apa yang diperolehnya dari pendidik, itulah yang akan
berguna baginya untuk kehidupan ukhrawinya yang langgeng.
b. Hendaknya pendidik meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam dalam hal tidak meminta imbalan apa pun atas pelajaran yang ia
berikan. Juga tidak bertujuan memperoleh balasan ataupun terima
kasih dari siapapun. Maka hendaknya pendidik mengajarkan ilmunya
semata-mata demi keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala dan sebagai
upaya mendekatkan diri kepada-Nya. Sehingga pendidik berbuat baik
kepadanya atas kesediaan sendiri untuk bertaqarrub kepada Allah
subhanahu wa ta’ala, dengan menanamkan ilmu dalam kalbu-kalbu
mereka.
c. Seorang pendidik hendaknya selalu menasihati muridnya yaitu dengan
melarangnya mengambil pekerjaan atau jabatan sebelum ia memang
telah berhak atasnya. Kemudian hendaknya pendidik selalu
mengingatkannya bahwa tujuan sebenarnya dari upaya mencari ilmu
adalah demi bertaqarrub kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan

6
bukannya demi meraih jabatan, kepemimpinan atau untuk bersaing
dengan rekan sesamanya.
d. Diantara cara mengajar yang harus diperhatikan oleh seorang pendidik
ialah menegur muridnya apabila melakukan suatu pelanggaran akhlak.
Sedapat mungkin dengan sindiran, bukan dengan terang-terangan.
Dengan nada kasih sayang, bukan dengan memarahinya. Kecaman
secara terang-terangan dapat menghilangkan wibawa sang pendidik di
mata murid, menimbulkan keberaniannya untuk menentang, dan
mendorongnya menjadi seorang yang keras kepala.
e. Seorang pendidik yang mempunyai spesialisasi dalam suatu bidang
ilmu tertentu, hendaknya tidak menjelek-jelekkan bidang ilmu lainnya
di hadapan muridnya. Misalnya, seorang pendidik bahasa mempunyai
kebiasaan menjelek-jelekkan ilmu fiqih. Jika pendidik memang
menguasai berbagai bidang ilmu, hendaknya ia mengajarkan kepada
murid-muridnya secara bertahap dengan meningkatkan kemampuan
mereka dari suatu peringkat ke peringkat lain yang lebih tinggi.
f. Hendaknya pendidik memberikan pelajaran untuk seorang murid
sekadar yang mampu dipahaminya. Jangan mengajarkan kepadanya
sesuatu yang tidak terjangkau oleh akalnya, sehingga menyebabkan ia
membenci pelajarannya atau menimbulkan keguncangan dalam
pikirannya.
g. Apabila pendidik menghadapi seorang pelajar yang kurang tinggi
kecerdasannya, hendaknya pendidik tidak mengajarkan kepadanya
selain pengetahuan yang cukup jelas dan sesuai dengan
kemampuannya. Seorang pendidik hendaknya mengamalkan ilmunya,
sehingga perbuatannya tidak menyalahi ucapannnya.8
3. Peserta Didik

8
Muhammad Al-Baqir, Al-’Ilm, Ilmu dalam Perspektif Tasawuf (Bandung: Karisma, 1996), hlm.
187-197.

7
Tidak hanya pendidik yang dituntut mematuhi kode etik, tetapi
peserta didik pun demikian. Adab dan tugas seorang peserta didik menurut
Al-Ghazali dibagi menjadi sepuluh yaitu:
a. Peserta didik hendaknya mengawali langkah dengan menyucikan hati
dari perilaku yang buruk dan sifat-sifat yang tercela. Hal ini mengingat
bahwa ilmu adalah ibadahnya hati, shalatnya nurani dan mendekatnya
batin manusia kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana shalat
(yang merupakan tugas anggota tubuh) tidak akan dinilai sah kecuali
terlebih dahulu menyucikan tubuh dari najis dan hadas, demikian pula
ibadahnya batin dan pemakmuran hati dengan ilmu, tidak akan dinilai
sah, kecuali setelah penyuciannya dari perilaku yang buruk serta sifat-
sifat yang rendah.
b. Peserta didik hendaknya mengurangi segala keterkaitan dengan
kesibukan-kesibukan duniawi dan menjauh dari keluarga dan kota
tempat tinggal. Sebab, semua keterkaitan akan memalingkan dari
tujuan yang hendak dicapai. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala tidak
pemah memberikan dua 'hati‘ (sarana berpikir) sekaligus dalam diri
siapapun. Karenanya, jika pikiran seseorang telah terbagi, tak mungkin
ia berhasil mencapai kebenaran hakiki. Sedangkan pikiran yang
terbagi-bagi, sama seperti saluran yang airnya terbagi ke beberapa arah
sebagiannya terserap oleh tanah, dan sebagiannya lagi menguap di
udara, sehingga tidak akan tersisa lagi sekadar yang cukup dapat
dimanfaatkan oleh para petani.
c. Hendaknya peserta didik tidak bersikap angkuh terhadap ilmu dan
tidak pula menonjolkan kekuasaan terhadap guru yang mengajarinya,
tetapi menyerahkan bulat-bulat kendali diri kepadanya dan mematuhi
segala nasihatnya. Dan sudah sepatutnya bersikap tawadhu’ di hadapan
gurunya dan mengharapkan pahala serta kemuliaan dengan
berkhidmah kepadanya. Karena itu tidak sepatutnya seorang peserta
didik bersikap sombong terhadap gurunya.

8
d. Seorang peserta didik dalam upayanya menuntut ilmu tidak
memalingkan perhatiannya untuk mendengar pendapat-pendapat
manusia yang bersimpang siur, baik ilmu yang sedang dipelajarinya itu
termasuk ilmu-ilmu dunia maupun ilmu-ilmu akhirat. Sebab yang
demikian itu hanya akan menimbulkan keraguan dan kebingungan
dalam pikirannya sendiri, melemahkan semangatnya dan membuatnya
putus asa untuk dapat meraih pengetahuan.
e. Peserta didik menujukkan perhatiannya yang sungguh-sungguh kepada
tiap-tiap disiplin ilmu yang terpuji, agar dapat mengetahui tujuannya
masing-masing. Dan jika masih mendapat umur panjang, sebaiknya ia
berusaha mendalaminya.
f. Peserta didik hendaknya tidak melibatkan diri dalam berbagai macam
ilmu pengetahuan secara bersamaan, melainkan melakukannya dengan
urutan prioritasnya. Yakni memulai dengan yang paling penting untuk
darinya. Umur manusia tidak akan cukup untuk meliputi semua macam
ilmu. Karenanya, seorang bijak hanya akan mengambil yang terbaik
dari segala sesuatunya.
g. Bagi peserta didik hendaknya ia tidak melibatkan diri dalam suatu
bagian ilmu sebelum menguasai bagian yang sebelumnya. Sebab,
semua ilmu berurutan secara teratur. Sebagiannnya merupakan sarana
menuju ke bagiannya yang lain.
h. Peserta didik berusaha mengetahui apa kiranya yang menjadikan
sesuatu menjadi semulia-mulia ilmu. Ini dapat diketahui dengan
memperhatikan dua hal, pertama, kemuliaan buah dari ilmu tersebut
dan kedua kemantapan dan kekuatan dalil yang menopangnya.
Contohnya, ilmu agama dan ilmu kedokteran. Buah dari ilmu agama
berhubungan dengan kehidupan abadi, sedangkan buah dari ilmu
kedokteran berhubungan dengan kehidupan yang fana. Berdasarkan itu
diketahui, bahwa ilmu agama lebih mulia adanya. Dengan ini pula
menjadi jelaslah bahwa yang paling mulia di antara semua ilmu adalah

9
ilmu makrifat atau ilmu mengenal Allah subhanahu wa ta’ala,
malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya.
i. Hendaknya seorang peserta didik menjadikan tujuan batinnya
mendekatkan (ber-taqarrub) kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan
meningkatkan diri ke dalam lingkungan para penghuni alam atas yaitu
para malaikat dan muqarrabin (yakni orang-orang yang didekatkan
kepada Allah subhanahu wa ta’ala). Dan janganlah sekali-kali
tujuannya itu demi meraih kepemimpinan atas manusia, atau demi
harta, pangkat tinggi, persaingan di antara rekan-rekan ataupun
kebanggaan dihadapan kaum awam.
j. Seorang peserta didik hendaknya mengetahui hubungan antara suatu
ilmu dengan tujuannya. Agar dapat mendahulukan kepentingan urusan
keselamatan dan kesejahteraan di dunia dan akhirat.9
Ketentuan atau syarat bagi peserta didik menurut Al-Ghazali
semuanya disandarkan kepada kodrat/fitrah manusia yang nantinya akan
kembali kepada Allah, sehingga mulai dari tingkah laku, cara belajar, cara
memilih ilmu dan semuanya yang berhubungan dengan pendidikan itu
lebih diprioritaskan kepada pencapaian derajat tertinggi di sisi Allah
subhanahu wa ta’ala.

9
Ibid. hlm. 165-181

10
BAB III

KESIMPULAN

1. Imam Al-Ghazali nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad ibn


Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali lahir pada tahun 1059 M. di
Ghazaleh, suatu kota kecil yang terletak di dekat Tusdi Khurasan. Al-
Ghazali banyak belajar kepada ulama-ulama besar yang hidup di zaman
mudanya, sehingga ilmu yang beliau dapatkan menjadikan Al-Ghazali
menjadi pendidik besar dan ulama yang terkenal di seluruh dunia.
2. Menurut Al-Ghazali tujuan pendidikan adalah mendekatkan diri kepada
Allah subhanahu wa ta’ala bukan mencari kedudukan yang menghasilkan
uang atau kemewahan duniawi.
3. Profesi sebagai pendidik mempunya tanggungjawab yang sangat besar
dan serius. Pendidik hendaknya bersikap kasih sayang terhadap para
peserta didik, meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam
hal tidak meminta imbalan apa pun atas pelajaran yang ia berikan.
Menegur muridnya apabila melakukan suatu pelanggaran akhlak, sedapat
mungkin dengan sindiran, bukan dengan terang-terangan. Seorang
pendidik hendaknya mengamalkan ilmunya, sehingga perbuatannya tidak
menyalahi ucapannnya.
4. Peserta didik hendaknya mengawali langkah dengan menyucikan hati dari
perilaku yang buruk dan sifat-sifat yang tercela, mengurangi segala
keterkaitan dengan kesibukan-kesibukan duniawi dan menjauh dari
keluarga dan kota tempat tinggal, tidak bersikap angkuh terhadap ilmu,
menjadikan tujuan batinnya mendekatkan (ber-taqarrub) kepada Allah
subhanahu wa ta’ala.

11
DAFTAR PUSTAKA

Al-Baqir, Muhammad. Al-’Ilm, Ilmu dalam Perspektif Tasawuf. Bandung:


Karisma, 1996.
Aziz, Safrudin. Pemikiran Pendidikan Islam: Kajian Tokoh Klasik dan
Kontemporer. Yogyakarta: Kalimedia, 2015.
Maftukhin. Filsafat Islam. Yogyakarta: Teras, 2012.
Nata, Abuddin. Filsafat pendidikan Islam. Ciputat: Logos, 2001.

12