Anda di halaman 1dari 19

Kata, frasa, klausa, dan kalimat

Ivan Lanin

13:54 WIB - Senin, 18 Januari 2016

Foto ilustrasi rangkaian kereta yang bisa diibaratkan sebagai kalimat.

Foto ilustrasi rangkaian kereta yang bisa diibaratkan sebagai kalimat. | Pixabay

Keempat istilah yang menjadi judul tulisan ini sering membingungkan orang yang belum sempat
mempelajari linguistik: termasuk saya. Definisi yang diperoleh pada Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI) seperti yang tercantum di bawah ini pun tidak menolong menyembuhkan kebingungan tersebut.

Kata adalah satuan bahasa terkecil yang dapat berdiri sendiri.

Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonpredikatif.

Klausa adalah satuan gramatikal yang berupa kelompok kata, sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan
predikat dan berpotensi menjadi kalimat.

Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final, dan
secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa.

Jadi apa bedanya?

Dari definisi yang diberikan, terlihat bahwa urutan satuan tersebut, dari yang terkecil sampai yang
terbesar, adalah (1) kata, (2) frasa, (3) klausa, dan (4) kalimat. Agar lebih jelas, ada baiknya kita bedah
suatu contoh seperti di bawah ini.

Pejabat itu pernah mengatakan bahwa Indonesia dapat berperan aktif dalam perdamaian dunia.

Kalimat dan kata paling mudah dikenali. Contoh tersebut adalah satu kalimat yang relatif berdiri sendiri
dan memiliki intonasi final. Kalimat tersebut tersusun dari 12 kata yang dikenali sebagai satuan yang
dipisahkan oleh spasi.
Klausa dikenali dari bagian yang memiliki subjek dan predikat serta memiliki potensi menjadi kalimat.
Kalimat itu memiliki 2 klausa yang dihubungkan dengan kata bahwa, yaitu (1) pejabat itu pernah
mengatakan dan (2) Indonesia dapat berperan dalam perdamaian dunia.

Menguraikan frasa sedikit lebih sulit. Frasa paling sedikit harus terdiri dari dua kata dan tidak memiliki
subjek-predikat. Kalimat tersebut memiliki 4 frasa: (1) pejabat itu, (2) pernah mengatakan, (3) dapat
berperan aktif, (4) perdamaian dunia. Kata bahwa, Indonesia, dan dalam tidak dimasukkan dalam frasa
karena memiliki fungsi sendiri dalam bentuk tunggal.

KONSEP DARI DIKSI, KATA, FRASA, KLAUSA, CIRI-CIRI KALIMAT EFEKTIF, DAN KESALAHAN PADA
PENULISAN KALIMAT

Konsep Kata

1. Berpikir terjadi dengan menggunakan kata-kata akal budi. Kata-kata digunakan untuk menyatakan
atau melahirkan apa yang dipikirkan.

2. Kata merupakan tanda lahiriah (ucapan suara yang diartikulasikan atau tanda yang tertulis) untuk
menyatakan pengertian dan barangnya. Misalnya pernyataan ‘kucing makan tikus’, apa yang
diungkapkan dalam pernyataan itu meliputi baik ‘pengertiannya’ maupun ‘bendanya’ yang konkrit.

3. Namun harus dicatat, ‘kata itu tidak sama dengan pengertian’. Sering kali orang memakai kata-kata
yang berlainan untuk menunjukkan ‘pengertian’ atau ‘kenyataan’ yang sama (misalnya: biaya=ongkos,
sebab, karena, dan sebagainya). Singkatnya, kata-kata adalah ekspresi dan tanda pengertian, tetapi
tanda yang tidak sempurna. Pemakaian kata yang salah kerapkali menjadi sumber kesalahpahaman.
Oleh karena itu, sangat penting untuk menyadari kata-kata yang dipakai, yaitu pengertian apa yang
dipakai di dalamnya dan kenyataan apa yang hendak ditunjukkan dengan kata tersebut.

Term:

1. Pengertian (kata) dapat juga dilihat dari sudut fungsinya dalam suatu keputusan (kalimat).

2. Pengertian (kata) dapat berfungsi sebagai subyek atau predikat dalam suatu keputusan (kalimat).

3. Term adalah kata atau rangkaian kata yang berfungsi sebagai subyek atau predikat dalam suatu
keputusan (kalimat). Misal ‘kucing itu tidur’; kata ‘kucing’ merupakan ‘subyek’, dan kata ‘tidur’
merupakan ‘predikat’nya. Dalam logika, kata-kata hanya penting sebagai term, artinya kata-kata itu
hanya penting sebagai subyek atau predikat dalam suatu kalimat.

4. Term bisa berupa term tunggal atau term majemuk. Term itu tunggal apabila hanya atas satu kata
saja, misalnya ‘binatang’,‘membeli’, ‘mahal’, ‘kucing’, dan seterusnya. Term itu majemuk, apabila terdiri
dari dua atau tiga kata, dan bersama-sama merupakan suatu keseluruhan, menunjukkan satu dan
berfungsi sebagai subyek atau paredikat dalam suatu kalimat, misal ‘jam dinding itu mati’, ‘lapangan
bola kaki itu penuh rumput’, dan seterusnya.

Isi dan Luas Pengertian:

1. Isi suatu pengertian (kata atau term) sering disebut komprehensi, sedangkan luas suatu pengertian
disebut ekstensi. Komprehensi kadang juga disebut konotasi atau intensi, sedangkan ekstensi kadang
disebut denotasi.

2. Isi suatu pengertian dapat dicari dalam inti pengertian, sedangkan luas suatu pengertian dapat dicari
dalam benda atau hal mana yang ditunjukkan dengan pengertian itu.

3. Isi pengertian (kata atau term) adalah semua unsur yang termuat dalam suatu pengertian, yang
meliputi kualitas, karakteristik, dan keseluruhan arti yang tercakup dalam suatu term.

4. Isi pengertian, dapat ditemukan dengan menjawab pertanyaan: manakah bagian-bagian (unsur-unsur)
suatu pengertian tertentu. Pengertian atau term ‘manusia’ misalnya, mengandung unsur-unsur pokok
seperti ‘rasional’, ‘beradab’, ‘berbudaya’, ‘berada’, ‘material’, ‘berbadan’, ‘hidup’, ‘dapat berbicara’,
‘makhluk sosial’ dan seterusnya. ‘Pegawai Negeri’, pengertian atau term ‘pegawai negeri’ meliputi: ia
adalah seorang manusia, mempunyai pekerjaan tertentu,tidak secara kebetulan saja, memiliki jabatan
tertentu, gajinya dibayarpemerintah, diangkat oleh pemerintah, ada surat keputusan pemerintah, dan
sebagainya’.

Luas pengertian (kata atau term), adalah benda-benda (lingkungan realitas) yang dapat dinyatakan oleh
pengertian tertentu. Kenyataan menunjukkan bahwa: (1) setiap pengertian mempunyai daerah
lingkungannya sendiri. Misal, pengertian atau term ‘manusia’ adalah semua manusia tanpa
pengecualian dan pembatasan apa pun; pengertian atau term ‘kuda’ menunjukkan hanya semua
makhluk (hewan) tertentu yang dinyatakan oleh pengertian itu dan bukan makhluk (hewan lainnya); (2)
pengertian-pengertian itu juga tidak sama luasnya. Misal, pengertian ‘hewan’ lebih luas dari pengertian
‘kuda’. Dengan demikian pengertian ‘kuda’ merupakan bawahan dari pengertian ‘hewan’. Kata
‘makhluk’ lebih luas dari kata ‘manusia’, dan ‘fulan’. Luas pengertian, juga dibedakan ke dalam: (1) luas
yang mutlak, dan (2) luas yang fungsional. Luas yang mutlak adalah luas pengertian terlepas dari
fungsinya dalam kalimat; sedangkan luas yang fungsional adalah luas pengertian dilihat dari sudut
fungsinya, yaitu sebagai subyek atau predikat dalam kalimat tertentu.

Hubungan antara isi dan luas suatu pengertian atau term, dapat dirumuskan sebagai berikut:

- Semakin banyak isinya (komprehensi bertambah), semakin kecil luas (derah lingkupnya atau
ekstensinya); semakin banyak (besar) isinya, akan menjelaskan bahwa ‘sesuatu’ atau ‘benda’ itu semakin
konkrit, nyata, dan tertentu; sebaliknya

- Semakin sedikit isinya (komprehensinya berkurang), semakin luas lingkungannya (daerah lingkupnya
ekstensinya). Atau

- Apabila ekstensinya bertambah, komprehensinya akan berkurang; dan apabila ekstensi berkurang,
komprehensinya akan bertambah.

Pembagian Kata:

1. Kata, seperti sudah dikatakan, merupakan pernyataan lahiriah dari pengertian. Namun demikian, kata
tidak sama dengan pengertian atau term. Pengertian yang sama sering kali dinyatakan dengan katakata
yang berbeda. Sebaliknya, kata-kata yang sama sering kalimat menyatakan pengertian yang berbeda
beda pula.

2. Arti setiap kata dapat dilihat dari dua sudut: (1) arti kata dilihat sebagai sesuatu yang berdiri sendiri,
dan (2) arti kata dilihat dari sudut fungsinya dalam kalimat yang kongkrit. Untuk yang kedua ini biasanya
disebut ‘suposisi’ term, yaitu arti khusus suatu term dalam kalimat yang tertentu, dipandang dari sudut
arti, isi, dan luasnya.

3. Kata (term), kalau dilihat dari sudut arti, adalah sebagai berikut:

a. Univok (sama suara, sama artinya), artinya ‘kata’ yang menunjukkan pengertian yang sama pula.
Misalnya ‘kucing’, hanya menunjukkan ‘pengertian’ yang dinyatakan oleh kata itu saja;

b. Ekuivok (sama suara, tetapi tidak sama artinya), artinya ‘kata’ yang menunjukkan pengertian yang
berlain-lainan. Kata ‘genting’ misalnya, menunjukkan arti ‘atap rumah’, tetapi juga ‘suatu keadaan
gawat’; kata ‘kambing hitam’ misalnya, menunjukkan arti ‘kambing yang berwarna hitam’ dan ‘orang
yang dikorbankan atau orang yang dipersalahkan’.

c. Analog (sama suara, sedangkan artinya di satu pihak ada kesamaannya, di lain pihak ada
perbedaannya), artinya ‘kata’ yang menunjukkan banyak barang yang sama, tetapi serentak juga
berbeda-beda dalam kesamaannya itu. Kata ‘ada’ misalnya, apabila kata itu dikenakan pada ‘Tuhan’,
‘manusia’, dan ‘hewan’, di satu pihak sama artinya; tetapi di satu pihak tidak sama artinya, karena
terdapat perbedaan antara cara ‘berada’ nya Tuhan dan berada’ nya manusia maupun hewan.

Term analog, dapat dibedakan ke dalam dua macam, yaitu atributif dan proporsional.

- Term analog atributif adalah term yang terutama digunakan dalam arti sesungguhnya, namun
digunakan pula untuk hal-hal yang lain, karena hal-hal lain itu memiliki hububungan tertentu dengan arti
yang sesungguhnya. Misalnya, kata ‘sakit’ dalam arti yang sesungguhnya adalah untuk orang atau
binatang; jika digunakan untuk rumah, menjadi ‘rumah sakit’, maka ‘rumah sakit’ itu memiliki hubungan
yang tertentu dengan orang sakit.

- Term analog proporsional adalah term yang digunakan untuk beberapa hal yang berbeda namun
memiliki kesamaan yang sebanding. Misalnya, kata ‘daun tumbuh-tumbuhan’ dan kata daun untuk meja
(daun meja), untuk telinga (daun telinga), untuk pintu (daun pintu), untuk gadis (daun muda), dan
sebagainya.

4. Kata (term), kalau dilihat dari sudut isi, adalah sebagai berikut:

a. Abstrak, ‘kata’ yang menunjukkan suatu bentuk atau sifat tanpa bendanya (misalnya ‘kemanusiaan’,
‘keindahan’), dan kongkrit, ‘kata’ yang menunjukkan suatu benda dengan bentuk atau sifatnya (missal,
‘manusia’).

b. Kolektif, ‘kata’ yang menunjukkan kelompok (misalnya, ‘tentara’), dan individual, ‘kata’ yang
menunjukkan suatu individu saja (misalnya, ‘Dadan’ = nama seorang anggota tentara).

c. Sederhana, ‘kata’ yang terdiri dari satu cirri saja (misalnya, ‘ada’, yang tidak dapat diuraikan lagi, dan
jamak, ‘kata’ yang terdiri dari beberapa atau banyak cirri (misalnya, ‘manusia’, yang dapat diuraikan
menjadi ‘makhluk’ dan ‘berbudi’.

5. Kata (term), kalau dilihat dari sudut luas, adalah sebagai berikut:

a. Term singular. Term ini dengan tegas menunjukkan satu individu, barang atau golongan yang
tertentu. Misalnya, ‘Slamet’, ‘orang itu’, ‘kesebelasan itu’, ‘yang terpandai’, dan sebagainya.

b. Term partikular. Term ini menunjukkan hanya sebagian dari seluruh luasnya; artinya menunjukkan
lebih dari satu, tetapi tidak semua bawahannya. Misalnya, ‘beberapa mahasiswa’, ‘kebanyak orang’,
‘empat orang pemuda’, dan sebagainya.
c. Term universal. Term ini menunjukkan seluruh lingkungan dan bawahannya masing-masing, tanpa ada
yang terkecualikan. Misalnya, ‘semua orang’, ‘setiap dosen’, ‘kera adalah binatang’, dan sebagainya.

6. Nilai-Rasa dan Kata-kata Emosional, dinyatakan oleh Poespoprodjo, termasuk dalam arti kata. Bahasa
adalah sesuatu yang hidup, suatu ekspresi dari manusia yang hidup pada saat yang sama merupakan alat
komunikasi antarmanusia yang hidup bersama. Kata-kata bukan hanya menunjukkan kenyataan/fakta-
fakta/barang-barang yang obyektif, tetapi dapat menyatakan sikap dan atau perasaan terhadap
kenyataan obyektif itu. Bandingkan diantara kata ‘kau, kamu, Saudara, Anda, Tuan, Paduka, lu, maneh,
ente, antum, dan seterusnya.

Ciri-Ciri Kalimat Efektif :

1. KESATUAN GAGASAN

Memiliki subyek,predikat, serta unsur-unsur lain ( O/K) yang saling mendukung serta membentuk
kesatuan tunggal. Di dalam keputusan itu merupakan kebijaksanaan yang dapat membantu keselamatan
umum. Kalimat ini tidak memiliki kesatuan karena tidak didukung subyek. Unsur di dalam keputusan itu
bukanlah subyek, melainkan keterangan. Ciri bahwa unsur itu merupakan keterangan ditandai oleh
keberadaan frase depan di dalam (ini harus dihilangkan).

2. KESEJAJARAN

Memiliki kesamaan bentukan/imbuhan. Jika bagian kalimat itu menggunakan kata kerja berimbuhan di-,
bagian kalimat yang lainnya pun harus menggunakan di- pula.

Kakak menolong anak itu dengan dipapahnya ke pinggir jalan.

Kalimat tersebut tidak memiliki kesejajaran antara predikat-predikatnya. Yang satu menggunakan
predikat aktif, yakni imbuhan me-, sedang yang satu lagi menggunakan predikat pasif, yakni
menggunakan imbuhan di-.

Kalimat itu harus diubah :

1. Kakak menolong anak itu dengan memapahnya ke pinggir jalan

2. Anak itu ditolong kakak dengan dipapahnya ke pinggir jalan.

3. KEHEMATAN

Kalimat efektif tidak boleh menggunakan kata-kata yang tidak perlu. Kata-kata yang berlebih.
Penggunaan kata yang berlebih hanya akan mengaburkan maksud kalimat.
Bunga-bunga mawar, anyelir, dan melati sangat disukainya.

Pemakaian kata bunga-bunga dalam kalimat di atas tidak perlu. Dalam kata mawar, anyelir, dan melati
terkandung makna bunga. Kalimat yang benar adalah: Mawar,anyelir, dan melati sangat disukainya.

4. PENEKANAN

Kalimat yang dipentingkan harus diberi penekanan. Caranya:

• Mengubah posisi dalam kalimat, yakni dengan cara meletakkan bagian yang penting di depan kalimat.

Contoh :

1. Harapan kami adalah agar soal ini dapat kita bicarakan lagi pada kesempatan lain

2. Pada kesempatan lain, kami berharap kita dapat membicarakan lagi soal ini.

• Menggunakan partikel; penekanan bagian kalimat dapat menggunakan partikel –lah, -pun, dan –kah.

Contoh :

1. Saudaralah yang harus bertanggung jawab dalam soal itu.

2. Kami pun turut dalam kegiatan itu.

3. Bisakah dia menyelesaikannya?

• Menggunakan repetisi, yakni dengan mengulang-ulang kata yang dianggap penting.

Contoh :

Dalam membina hubungan antara suami istri, antara guru dan murid, antara orang tua dan anak, antara
pemerintah dan rakyat, diperlukan adanya komunikasi dan sikap saling memahami antara satu dan
lainnya.

• Menggunakan pertentangan, yakni menggunakan kata yang bertentangan atau berlawanan


makna/maksud dalam bagian kalimat yang ingin ditegaskan.

Contoh :

1. Anak itu tidak malas, tetapi rajin.

2. Ia tidak menghendaki perbaikan yang sifatnya parsial, tetapi total dan menyeluruh.

5. KELOGISAN

Kalimat efektif harus mudah dipahami. Dalam hal ini hubungan unsur-unsur dalam kalimat harus
memiliki hubungan yang logis/masuk akal.
Contoh :

Waktu dan tempat saya persilakan.

Kalimat ini tidak logis/tidak masuk akal karena waktu dan tempat adalah benda mati yang tidak dapat
dipersilakan. Kalimat tersebut harus diubah misalnya ;

Bapak penceramah, saya persilakan untuk naik ke podium.

Konsep Diksi

1. Pengertian Diksi

Pengertian pilihan kata atau diksi jauh lebih luas dari apa yang dipantulkan oleh hubungan kata-kata
itu. Istilah ini bukan saja dipergunakan untuk menyatakan kata-kata mana yang dipakai untuk
mengungkapkan suatu ide atau gagasan, tetapi juga meliputi fraseologi, gaya bahasa, dan ungkapan
(Keraf, 2008: 22-23). Seorang pengarang ketika menentukan suatu kata dalam menulis, ternyata tidak
asal dalam memilih kata, namun demikian kata yang akan dipilih itu akan diikuti dengan berbagai hal
yang melingkupinya. Hal tersebut menyangkut dimana, kapan, dan tujuannya apa menggunakan kata
tersebut. Semua itu dimaksudkan untuk memberi corak atau warna agar menarik perhatian pembaca,
dengan syarat maksud atau pesan yang ingin disampaikan pengarang itu bisa tersampaikan. Gagasan
atau ide yang dituangkan, baik itu dalam bentuk tulisan maupun dalam bentuk lisan memerlukan kosa
kata yang luas, akan tetapi tidak asal memasukan kosa kata yang dimiliki itu dalam tulisan. Pendapat
lain dikemukakan oleh Widyamartaya (1990: 45) yang menjelaskan bahwa diksi atau pilihan kata adalah
kemampuan seseorang membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna sesuai dengan gagasan yang
ingin disampaikannya, dan kemampuan tersebut hendaknya disesuaikan dengan situasi dan nilai rasa
yang dimiliki oleh sekelompok masyarakat dan pendengar atau pembaca. Diksi atau pilihan kataselalu
mengandung ketepatan makna, kesesuaian situasi dan nilai rasa yang ada pada pembaca atau
pendengar. Keraf (2008: 24) mengemukakan tiga kesimpulan utama mengenai diksi, yaitu,

a. pemilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata-kata mana yang akan dipakai untuk
menyampaikan suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata-kata yang tepat atau
menggunakan ungkapanungkapan yang tepat, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam situasi.

b. pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari
gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai (cocok)
dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar.

c. pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasaan sejumlah besar kosa kata
atau perbendaharaan kata bahasa itu. Sedangkan yang dimaksud perbendaharaan kata atau kosa kata
suatu bahasa adalah keseluruhan kata yang dimiliki oleh sebuah bahasa.
Berbeda dengan pendapat Keraf, Enre (1988: 102) menjelaskan bahwa diksi ialah pilihan kata dan
penggunaan kata secara tepat untuk mewakili pikiran dan perasaan yang ingin dinyatakan dalam pola
suatu kalimat. Lebih lanjut, Achmadi (1990: 136) memberikan definisi diksi adalah seleksi kata-kata
untuk mengekspresikan ide atau gagasan dan perasaan. Mustakim (1994: 41) membedakan antara
istilah pemilihan kata dan pilihan kata. Pemilihan kata adalah proses atau tindakan memilih kata yang
dapat mengungkap gagasan secara tepat, sedangkan pilihan kata adalah hasil proses atau tindakan
tersebut. Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan diksi adalah
pemilihan kata dan penggunaan kata secara tepat dengan ide atau gagasan untuk mewakili pikiran dan
perasaan yang ingin disampaikan kepadaorang lain dan dinyatakan dalam suatu pola kalimat baik secara
lisan maupun secara tertulis untuk memunculkan fungsi atau efek tersendiri bagi pembaca.

2. Jenis Diksi

Diksi merupakan salah satu cara yang digunakan pengarang dalam membentuk karya sastra agar dapat
dipahami pembaca atau pendengar. Ketepatan pemilihan kata akan berpengaruh dalam pikiran
pembaca tentang isi karya sastra, jenis diksi menurut Keraf, (2008: 89-108) adalah sebagai berikut.

a) Denotasi adalah konsep dasar yang didukung oleh suatu kata (makna itu menunjuk kepada konsep,
referen atau ide). Denotasi juga merupakan batasan kamus atau definisi utama sesuatu kata, sebagai
lawan daripada konotasi atau makna yang ada kaitannya dengan itu. Denotasi mengacu pada makna
yang sebenarnya. Berikut ini contoh denotasi yang diambil dari salah satu kutipan pada rubrik
Padhalangan di media massa. Dasamuka ora bisa bangga, awake kaya didhadhung kenceng sing saya
suwe saya njiret awake. ‘Dasamuka tidak berdaya, raganya seperti diikat kencang yang semakin lama
semakin menjerat’.

b) Konotasi adalah suatu jenis makna kata yang mengandung arti tambahan, imajinasi atau nilai rasa
tertentu. Konotasi merupakan kesan-kesan atau asosiasi-asosiasi, dan biasanya bersifat emosional yang
ditimbulkan oleh sebuah kata di samping batasan kamus atau definisi utamanya. Konotasi mengacu
pada makna kias atau makna bukan sebenarnya. Berikut ini contoh konotasi yang diambil dari salah
satu kutipan pada rubrik Padhalangan di media massa.

c) Kata abstrak adalah kata yang mempunyai referen berupa konsep, kata abstrak sukar digambarkan
karena referensinya tidak dapat diserap dengan panca indra manusia. Kata-kata abstrak merujuk
kepada kualitas (panas, dingin, baik, buruk), pertalian (kuantitas, jumlah, tingkatan), dan pemikiran
(kecurigaan, penetapan, kepercayaan). Kata-kata abstrak sering dipakai untuk menjelaskan pikiran yang
bersifat teknis dan khusus. Berikut ini contoh kata abstrak. Lurusing ati lan murnining budi iku
rerenggan urip kang sayekti. ‘Lurusnya hati dan murninya budi adalah perhiasan hidup yang
sesungguhnya’.

d) Kata konkrit adalah kata yang menunjuk pada sesuatu yang dapat dilihat atau dirasakan oleh satu
atau lebih dari pancaindra. Kata-kata konkrit menunjuk kepada barang yang aktual dan spesifik dalam
pengalaman. Kata konkrit digunakan untuk menyajikan gambaran yang hidup dalam pikiran pembaca
melebihi kata-kata yang lain. Berikut ini contoh kata konkrit yang diambil dari salah satu kutipan
geguritan yang bertema pengalaman pada media massa. Obah ingering jinantra donya, datan siwah lan
rodha kreta. ‘Berubahnya roda dunia tidak berbeda dengan roda kereta’.

e) Kata umum adalah kata yang mempunyai cakupan ruang lingkup yang luas. Kata-kata umum
menunjuk kepada banyak hal, kepada himpunan, dan kepada keseluruhan. Berikut ini contoh kata
umum. Wit-witan sing maune ngrembuyung kebak gegodhongan saiki garing, amarga diobong dening
manungsa. ‘Pohon-pohon yang tadinya rindang, berdaun lebat, sekarang kering, karena dibakar oleh
manusia’.

f) Kata khusus adalah kata-kata yang mengacu kepada pengarahan-pengarahan yang khusus dan
konkrit. Kata khusus memperlihatkan kepada objek yang khusus. Berikut ini contoh kata khusus. Kabeh
padha ngayunake donga nyenyuwun supaya Ridwan tinampa Gusti

Allah lan di papanake ana papan sing murwat. ‘Semua memanjatkan do’a supaya Ridwan diterima Allah
dan ditempatkan di tempat yang pantas’.

g) Kata ilmiah adalah kata yang dipakai oleh kaum terpelajar, terutama dalam tulisan-tulisan ilmiah.

h) Kata populer adalah kata-kata yang umum dipakai oleh semua lapisan masyarakat, baik oleh kaum
terpelajar atau oleh orang kebanyakan. Berikut ini contoh kata-kata populer. Ana ing donya iki sing
nduweni kuwasa mung Gusti Allah ‘Di dunia ini yang mempunyai kekuasaan hanyalah Allah’

i) Jargon adalah kata-kata teknis atau rahasia dalam suatu bidang ilmu tertentu, dalam bidang seni,
perdagangan, kumpulan rahasia, atau kelompok-kelompok khusus lainnya. Berikut ini contoh kata-kata
jargon yang diambil dari salah satu kutipan artikel pada media massa bertopik kesehatan. Teh
mujudake sumber alami kafein, teofilin lan zat anti-oksida sing jenenge katekin, kanthi kadar lemak,
karbohidrat utawa protein meh nol persen. ‘Teh menunjukkan sumber alami kafein, teofilin dan zat
anti-oksida yang bernama katekin, dengan kadar lemak, karbohidrat atau protein hampir nol persen.’

j) Kata slang adalah kata-kata non standard yang informal, yang disusun secara khas, bertenaga dan
jenaka yang dipakai dalam percakapan, kata slang juga merupakan kata-kata yang tinggi atau murni.
Berikut ini contoh kata slang. Jebule Doni kuwi isih gaptek babagan komputer ‘Ternyata Doni masih
gaptek tentang komputer’k) Kata asing ialah unsur-unsur yang berasal dari bahasa asing yang masih
dipertahankan bentuk aslinya karena belum menyatu dengan bahasa aslinya. Berikut ini contoh kata
asing. Wektu iki aku pacaran karo bocah sing miturutku alim, nganggo busana muslim lan yen rembugan
alus, ora yak-yakan. ‘Sekarang saya berpacaran dengan anak yang menurutku alim, memakai busana
muslim, dan jika berkata halus, tidak senang bermain’.

k) Kata serapan adalah kata dari bahasa asing yang telah disesuaikan dengan wujud atau struktur
bahasa Indonesia. Berikut ini contoh kata serapan. Kembang peparinge wong tuwa sing ginadhang
ngrenggani kedhatoningkalbu. ‘Bunga pemberian orang tua yang diharapkan menghiasi kerajaan hati’.
Tarigan (1985: 61) mengemukakan bahwa ragam konotasi dibagi menjadi dua macam, yaitu konotasi
baik dan konotasi tidak baik.

Fungsi Diksi dalam Karya Sastra

Bahasa sebagai alat untuk menjelmakan angan, khayal dunia sastrawan hingga menyebabkan adanya
kekhususan dalam pemakaian bahasa dalam seni sastra (Pradopo, 1994: 35). Oleh karena itu, untuk
menjelmakan angan tersebut pengarang menggunakan bahasa yang sifatnya tidak hanya merujuk pada
satu hal yang hanya berhubungan dengan yang ditunjuk atau bahasa denotatif.

Bahasa dalam karya sastra lebih cenderung bersifat konotatif. Karya sastra sering menggunakan kata-
kata yang bermakna konotasi dengan tujuan untuk memperindah karya sastra tersebut. Penggunaan
kata-kata yang bermakna konotasi selain memperindah juga akan memperkaya dan menyalurkan makna
dengan baik. Maka konotasi bersifat subjektif dalam pengertian bahwa ada pergeseran dari makna
umum (denotatif) karena sudah ada penambahan rasa dan nilai rasa tertentu (Alwasilah, 1985: 147).
Makna konotasi sangat bergantung pada konteksnya. Penggunaan bahasa yang bersifat konotatif dan
bersifat ambigu akan menimbulkan kesulitan bagi pembaca untuk memahami gagasan yang ingin
disampaikan oleh pengarang. Sehubungan dengan hal di atas, maka perlu mengetahui tentang stilistika.
Stilistika mengkaji cara sastrawan memanipulasi unsur dan kaidah yang terdapat dalam bahasa dan
fungsi apa yang ditimbulkan dalam penggunaannya (Sudjiman, 1993: 3). Menurut Atmazaki (1990: 93),
stilistika adalah kajian terhadap karya sastra yang berpusat kepada pemakaian bahasa. Objek kajian
stilistika adalah karya sastra yang sudah ada. Kata, rangkaian kata, dan pasangan kata yang dipilih
dengan seksama dapat menimbulkan efek yang dikehendaki pada diri pembaca, misalnya menonjolkan.
Konsep Frasa

A. Pengertian Frasa

Frasa adalah kumpulan kata nonpredikatif. Artinya frasa tidak memiliki predikat dalam strukturnya. Itu
yang membedakan frasa dari klausa dan kalimat

Frasa adalah kelompok kata / gabungan dua kata atau lebih yang membentuk satu kesatuan dan
memiliki satu makna gramatikal.

B. Ciri- ciri Frasa

Frasa memiliki beberapa ciri yang dapat diketahui, yaitu :

1. Terbentuk atas dua kata atau lebih dalam pembentukannya.

2. Menduduki fungsi gramatikal dalam kalimat.

3. Mengandung satu kesatuan makna gramatikal.

4. Bersifat non-predikatif.

C. Jenis-Jenis Frasa

Frasa berdasarkan jenis/kelas kata

1. Frasa Nomina

Frasa Nomina adalah kelompok kata benda yang dibentuk dengan memperluas sebuah kata benda.
Frasa nominal dapat dibedakan lagi menjadi 3 jenis yaitu :

1) Frasa Nomina Modifikatif (mewatasi), misal : rumah mungil, hari senin, buku dua buah, bulan
pertama, dll.

2) Frasa Nomina Koordinatif (tidak saling menerangkan), misal : hak dan kewajiban, sandang pangan,
', lahir bathin, dll.

3) Frasa Nomina Apositif

Contoh frasa nominal apositif :


a. Jakarta, Ibukota Negara Indonesia, sudah berumur 485 tahun.

b. Melati, jenis tanaman perdu, sudah menjadi simbol bangsa Indonesia sejak lama.

c. Banjarmasin, Kota Seribu Sungai, memiliki banyak sajian kuliner yang enak.

2. Frasa Verbal

Frasa Verbal adalah kelompok kata yang terbentuk dari kata kata kerja. Kelompok kata ini terbagi
menjadi 3 macam, yaitu :

1) Frasa Verbal Modifikatif (pewatas), terdiri atas pewatas belakang, misal : a). Ia bekerja keras
sepanjang hari. b). Kami membaca buku itu sekali lagi. Pewatas depan, misal : a). Kami yakin
mendapatkan pekerjaan itu. b). Mereka pasti membuat karya yang lebih baik lagi pada tahun
mendatang.

2) Frasa Verbal Koordinatif adalah 2 verba yang digabungkan menjadi satu dengan adanya
penambahan kata hubung 'dan' atau 'atau', Contoh kalimat : a). Orang itu merusak dan menghancurkan
tempat tinggalnya sendiri. b). Kita pergi ke toko buku atau ke perpustakaan.

3) Frasa Verbal Apositif yaitu sebagai keterangan yang ditambahkan atau diselipkan. Contoh kalimat :
a). Pekerjaan Orang itu, berdagang kain, kini semakin maju. b). jorong, tempat tinggalku dulu, kini
menjadi daerah pertambangan batubara.

3. Frasa Ajektifa

Frasa ajektifa ialah kelompok kata yang dibentuk oleh kata sifat atau keadaan sebagai inti (diterangkan)
dengan menambahkan kata lain yang berfungsi menerangkan, seperti : agak, dapat, harus, lebih, paling
dan 'sangat. Kelompok kata ini terdiri dari 3 jenis, yaitu :

1) Frasa Adjektifa Modifikatif (membatasi), misal : cantik sekali, indah nian, hebat benar, dll.

2) Frasa Adjektifa Koordinatif (menggabungkan), misal : tegap kekar, aman tentram, makmur dan
sejahtera, dll

3) Frasa Adjektifa Apositif, misal :

a. Srikandi cantik, ayu menawan, diperistri oleh Arjuna.

b. Desa Jorong, tempat tinggalku dulu, kini menjadi daerah pertambangan batubara.

Frasa Apositif bersifat memberikan keterangan tambahan. Frasa Srikandi cantik dan Desa Jorong
merupakan unsur utama kalimat, sedangkan frasa ayu menawan, dan tempat tinggalku dulu, merupakan
keterangan tambahan.
4. Frasa Adverbial

Frasa Adverbial ialah kelompok kata yang dibentuk dengan keterangan kata sifat. Frasa ini bersifat
modifikasi (mewatasi), misal : sangat baik kata baik merupakan inti dan kata sangat merupakan pewatas.
Frasa yang bersifat modifikasi ini contohnya ialah agak besar, kurang pandai, hampir baik, begitu kuat,
pandai sekali, lebih kuat, dengan bangga, dengan gelisah. Frasa Adverbial yang bersifat koordinatif (yang
tidak menerangkan), contoh frasanya ialah lebih kurang kata lebih tidak menerangkan kurang dan
kurang tidak menerangkan lebih.

5. Frasa Pronominal

Frasa Pronominal ialah frasa yang dibentuk dengan kata ganti, frasa ini terdiri atas 3 jenis yaitu :

1) Modifikatif, misal kalian semua, anda semua, mereka semua, mereka itu, mereka berdua.

2) Koordinatif, misal engkau dan aku, kami dan mereka, saya dan dia.

Apositif, misal :

Kami, putra-putri Indonesia, menyatakan perang melawan narkotika.

6. Frasa Numeralia

Frasa Numeralia ialah kelompok kata yang dibentuk dengan kata bilangan. Frasa ini terdiri atas :

1) Modifikatif, contoh : a). Mereka memotong dua puluh ekor sapi kurban. b). Kami membeli
setengah lusin buku tulis.

2) Koordinatif, contoh : a). Entah dua atau tiga sapi yang telah dikurbankan. b). Dua atau tiga orang
telah menyetujui kesepakatan itu.

7. Frasa Interogativ Koordinatif ialah frasa yang berintikan pada kata tanya. contoh : a). Jawaban dari
apa atau siapa ciri dari subjek kalimat. b). Jawaban dari mengapa atau bagaimana merupakan pertanda
dari jawaban predikat.

8. Frasa Demonstratif Koordinatif ialah frasa yang dibentuk oleh dua kata yang tidak saling
menerangkan. contoh : a). Saya tinggal di sana atau di sini sama saja. b). Kami pergi kemari atau kesana
tidak ada masalah.
9. Frasa Preposisional Koordinatif ialah frasa yang dibentuk oleh kata depan yang tidak saling
menerangkan. contoh : a). Petualangan kami dari dan ke Jawa memerlukan waktu satu bulan. b).
Perpustakaan ini dari, oleh, dan untuk masyarakat umum.

Frasa berdasarkan fungsi unsur pembentuknya

Berdasarkan fungsi dari unsur pembentuknya frasa terdiri dari beberapa macam, yaitu :

1. Frasa Endosentris yaitu frasa yang unsur-unsurnya berfungsi untuk diterangkan dan mnerangkan
(DM) atau menerangkan dan diterangkan (MD). contoh frasa : kuda hitam (DM), dua orang (MD).

Ada beberapa jenis frasa endosentris, yaitu :

1) Frasa atributif yaitu frasa yang pola pembentuknya menggunakan pola DM atau MD. contoh : Ibu
kandung (DM), tiga ekor (MD).

2) Frasa apositif yaitu frasa yang salah satu unsurnya (pola menerangkan) dapat menggantikan
kedudukan unsur intinya (pola diterangkan). contoh : Alip si penari ular sangat cantik., kata Alip
posisinya sebagai diterangkan (D), sedangkan si penari ular sebagai menerangkan (M).

3) Frasa koordinatif yaitu frasa yang unsur-unsur pembentuknya menduduki fungsi inti (setara).
contoh : ayah ibu, warta berita, dll.

2. Frasa eksosentris yaitu frasa yang salah satu unsur pembentuknya menggunakan kata tugas.
contoh : dari Bandung, kepada teman, di kelurahan, dll.

Frasa Berdasarkan satuan makna yang dikandung/dimiliki unsur-unsur pembentuknya

Untuk kategori frasa berdasarkan satuan makna yang dikandung atau yang dimiliki unsur-unsur
pembentuknya dapat dibagi menjadi beberapa frasa, yaitu :

1) Frasa biasa yaitu frasa yang hasil pembentukannya memiliki makna yang sebenarnya (denotasi).
contoh kalimat : a) Ayah membeli kambing hitam; b) Meja hijau itu milik ibu.

2) Frasa idiomatik yaitu frasa yang hasil pembentukannya menimbulkan/memiliki makna baru atau
makna yang bukan sebenarnya (konotasi). contoh kalimat : Orang tua Lintang baru kembali dari Jakarta.

Konsep Klausa
Pengertian Klausa

Klausa adalah gabungan dari dua kata atau lebih yang mengandung unsur subjek dan predikat. Klausa
disebut juga sebagai rentetan kata berkonstruksi predikatif, yaitu konstruksi yang mengandung unsur
predikat. Secara umum klausa terdiri dari S, P, O, KET, dan PEL, namun tidak semua unsur itu selalu ada
pada klausa. Inti klausa terdapat pada S dan P, karena kedua unsur ini tidak pernah lepas dari klausa.

Jika boleh, kita dapat mengatakan demikian. Inti dari kalimat adalah klausa. Klausa minimal terdiri dari
unsur S dan P karena pada umumnya klausa terbangun dari kedua unsur ini, namun klausa juga memiliki
inti utama yang tidak boleh dihilangkan yaitu unsur P. Jika klausa tidak memiliki unsur P, maka kalimat
itu tidak dapat dikatakan sebagai klausa. Dengan kata lain kalimat itu dapat dikatakan kalimat yang tidak
berklausa.

Macam-macam Klausa

A. Berdasarkan Struktur Internnya

Klausa minimal terdiri dari unsur S dan P. Pada umumnya klausa tidak dapat lepas dari kedua unsur ini,
namun jika kita perdalam lagi maka kita akan mendapati bahwa klausa memiliki inti yang selalu
menyertainya yaitu unsur P. Meskipun klausa mengalami berbagai penggabungan dalam beberapa
konteks kalimat, dapat dipastikan unsur P tidak akan tertinggal.

Klausa yang memiliki unsur S dan P merupakan klausa lengkap, sedang klausa yang tidak mengandung
unsur S merupakan klausa tidak lengkap. Berdasarkan unsur intrernnya klausa lengkap dapat dibedakan
menjadi dua golongan. Yiatu klausa lengkap yang unsur S-nya terletak di depan P dan klausa lengkap
yang unsur S-nya terletak di belakang P.

Contoh: (1) Halaman itu sangat luas

(2) Sangat luas halaman itu

Halaman itu menempati fungsi S dan sangat luas menempati fungsi P. Pada contoh (1) merupakan
klausa lengkap dengan S terletak di depan P, sedangkan contoh (2) merupakan klausa lengkap dengan S
terletak di belakang P.

Klausa tidak lengkap merupakan klausa yang tidak memiliki fungsi S, yaitu hanya unsur P dengan disertai
unsur O, PEL, KET, atau tidak.

Contoh: sedang berdoa

membaca buku.

B. Berdasarkan Ada-Tidaknya Kata Negatif yang secara Gramatik Menegatifkan Predikat


Berdasarkan ada-tidaknya kata negatif yang secaragramatik menegatifkan P, klausa dapat digolongkan
menjadi dua golongan yaitu klausa positif dan klausa negatif.

Klausa positif adalah klausa yang tidak mengandung kata-kata negatif yang dapat menegatifkan P.
Misalnya kata tidak, tak, tiada, bukan, belum, dan jangan.

Contoh: saya menyukai senyumannya

dia sahabat saya

Klausa negatif adalah klausa yang mengandung kata-kata negatif yang dapat menegatifkan P yaitu kata
tidak, tak, tiada, bukan, belum, dan jangan. Kata-kata negatif itu ditentukan berdasarkan adanya kata
penghubung melainkan yang menuntut kenegatifan klausa yang mendahuluinya.

Contoh: dia tidak menyukai nasi goreng, melainkan bubur ayam yang dicampur dengan abon sapi.

Kata negatif tidak yang terkadang dipendekkan menjadi tak digunakan untuk menegatifkan P yang
terdiri dari kata/frase golongan V (verba), misal: adik tidak naik kelas.

Kata negatif tiada jarang sekali digunakan, akan tetapi memiliki fungsi yang sejajar dengan kata tidak
sehingga pada contoh diatas dapat diganti dengan tiada menjadi : adik tiada naik kelas.

Kata negatif bukan digunakan untuk menegatifkan P yang terdiri dari kata/frase golongan N (noun),
misal: orang itu bukan ayah saya. Dalam kalimat luas kata bukan digunakan pula untuk menegatifkan
kata-frase golongan V dengan kata penghubung melainkan, misal: Ani bukan menulis, melainkan
membaca buku.

Kata negatif belum digunakan untuk menegatifkan P yang terdiri dari kata/frase golongan V. Bedanya
dengan kata negatif tidak adalah bahwa kata negatif belum menunjukkan makna akan terjadi, misal:
adik belum pulang.

Kata negatif jangan digunakan untuk menegatifkan P yang terdiri dari kata/frase golongan V, misal:
jangan pergi.

Secara gramatik kata negatif yang terletak di depan P itu menegatifkan P, namun secara semantik belum
tentu, misal pada kalimat: ia tidak membeli buku. Pada contoh tersebut, secara gramatik kata tidak
menegatifkan buku, namun secara semantik menyatakan bahwa ia tidak membeli buku, melainkan
membelu benda lain.

C. Berdasarkan Kategori Kata atau Frasa yang Menduduki Fungsi Predikat

Berdasarkan kategori kata atau frasa yang menduduki fungsi P, klausa digolongkan menjadi empat:
klausa nominal, klausa verbal, klausa bilangan, san klausa depan.
1. Klausa Nominal

Klausa nominal adalah klausa yang P-nya terdiri dari kata/frase golongan N, misal: ayahnya seorang
dokter.

2. Klausa Verbal

Klausa verbal adalah klausa yang P-nya terdiri dari kata/frase golongan V, misal: dokter sedang
menyuntik pasien. Klausa verbal dapat digolongkan menjadi enam diantaranya: klausa verbal yang
ajektif, intransitif, aktif, pasif, refleksif, dan resiprok.

Klausa verbal yang ajektif adalah klausa yang P-nya terdiri dari kata golongan V yang termasuk golongan
kata sifat, misalnya: gunung itu tinggi sekali.

Klausa verbal yang intransitif adalah klausa yang P-nya terdiri dari golongan kata kerja intransitif,
misalnya: adik menangis di dalam kamar.

Klausa verba yang aktif adalah klausa yang P-nya terdiri dari golongan kata kerja transitif, misalnya:
zainal mengambil bukunya.

Klausa verba yang pasif adalah klausa yang P-nya terdiri dari kata kerja pasif, misalnya: kursi itu dibeli
oleh ibu.

Klausa verba yang refleksif adalah klausa yang P-nya terdiri dari kata verbal yang termasuk kata kerja
refleksif, ialah kata kerja bentuk meN- diikiti diri, misalnya: pemuda itu menyembunyikan diri.

Klausa verba yang resiprok adalah klausa yang P-nya terdiri dari kata verbal yang termasuk kata kerja
resiprok, ialah kata kerja yang berbentuk saling meN-, (saling) ber-an, dan (saling) –meN-, misalnya:

Kedua orang itu saling berpandang-pandangan

Mereka saling memukul

Anak-anak itu selalu ejek-mengejek.

3. Klausa Bilangan

Klausa bilangan adalah klausa yang P-nya terdiri dari kata/frase golongan Bilangan, misal: jari anak itu
hanya sembilan. Kata bilangan adalah kata-kata yang dapat diawali oleh kata penunjuk satuan seperti
orang, ekor, buah, keping, kodi, helai, kotak, dan masih banyak lagi.

4. Klausa Depan
Klausa depan atau juga disebut klausa preposisional adalah klausa yang P-nya terdiri dari frase depan,
yaitu frasae yang diawali dengan kata depan sebagai penanda, misal: air ini dari sumur.

http://bahasaindonesiakelompok5.blogspot.com/2015/11/konsep-dari-diksi-kata-frasa-klausa.html?
m=1