Anda di halaman 1dari 23

BERDIRINYA DINASTI-DINASTI KECIL

DI BARAT BAGHDAD & ISLAM DI SICILIA


SERTA PERADABANNYA

MAKALAH DIAJUKAN SEBAGAI TUGAS MATA KULIAH


SEJARAH PERADABAN ISLAM

Oleh:

Robbah Khunaifih
NIM. F14214166

Dosen Pembimbing :

Prof.Dr. H. Ali Mufrodi, M.A

PROGRAM PASCA SARJANA


PRODI EKONOMI SYARIAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA, 2014
DINASTI-DINASTI KECIL
DI BARAT BAGDAD

A. PENDAHULUAN

Disintegrasi dibidang politik sebenarnya sudah muncul sejak


berakhirnya pemerintahan Bani Umayah, tetapi dalam sejarah politik Islam
terdapat perbedaan antara pemerintahan Bani Umayah dan pemerintahan
Abbasiyah. Perbedaan tersebut ialah masa pemerintahan Bani Umayah,
wilayah kekuasaan sejajar dengan batas-batas wilayah kekuasaan Islam
(mulai awal berdiri sampai pada masa kehancurannya), pada masa
pemerintahan Abbasiyah, wilayah kekuasaannya tidak pernah diakui di
daerah sepenyol dan daerah Aprika Utara. Kecuali mesir yang bersifat
sebentar-sebentar, bahkan pada kenyataannya terdapat banyak daerah yang
tidak dikuasai oleh khalifah.[1] Hal itu dikarenakan seorang khalifah dari
Abbasiyah tidak mengurus daerah yang sudah ditakluan, hanya sekedar
penaklukan dan pendirian saja.
Peta kekuasaan tersebut telah banyak mengakibatkan bermunculan
wilayah-wilayah atau provinsi yang memisahkan diri dari pemerintahan
Abbasiyah dan membentuk dinasti-dinasti kecil. Selain itu pula, luasnya
wilayah kekuasaan Abbasiyah, telah menjadikan khalifah tidak mampu untuk
mengawasi secara efektif yang jauh dari pusat pemerintahan, sehingga sangat
memungkinkan bagi daerah-daerah terpencil untuk melepaskan dan
memerdekakan diri dari kekuasaan tersebut.[2]
Proses memerdekakan diri dari kekuasaan Abbasiyah tersebut ialah
melalui cara-cara yang dianggap mereka sebagai cara-cara yang akurat, yaitu;
pertama, salah seorang pemimpin lokal meminpin suatu pemberontakan dan
berhasil memperoleh kemerdekaan penuh.  Kedua, seseorang yang ditunjuk
sebagai gubernur oleh khalifah dan kedudukannya semakin bertambah kuat.[3]
Selain cara-cara tersebut, ada beberapa faktor yang mempercepat
proses pelepasan wilayah-wilayah tersebut dari Abbasiyah, diantaranya
adalah faktor ras atau kebangsaan, bahwa pendirian kekuasaan Abbasiyah
tidak terlepas dari bantuan-bantuan bangsa Persia yang dilatarbelakangi oleh
dua alasan: pertama, karena penindasan Bani Umayah terhadap bangsa Persia
dan kebijakan Bani Umayah yang lebih mengistimewakan bangsa arab dan
memarjinalkan bangsa non Arab, termasuk Persia. Kedua, karena tradisi
Persia yang meengakui dan meyakini terhadap adanya hak kerajaan yang
suci. Dengan demikian ketergantungan Bani Abbasiyah pada kekuatan orang
Persia sangat kuat dan hal ini sangat disadari betul oleh orang Persia, maka
sebagai balasannya, bangsa Persia memegang kedudukannya yang penting
dan strategis dalam pemerintahan Abbasiyah.[4]
Setelah memerdekakan diri dari kekuasaan Abbasiyah yang kekuatan-
kekuatan daerah atau wilayah yang mereka bangun, mereka menjadikan
daerah-daerah tersebut sebagai dinasti-dinasti kecil yang berdiri secara
independen dan berusaha untuk meluaskan daerah kekuasaannya dengan
menaklukan daerah-daerah yang ada disekitarnya.
    

B. KEMUNCULAN DINASTI KECIL PADA MASA ABBASIYAH

1. Dinasti Idrisiyah di Maroko (172-375 H/788-926 M).

Setelah Ali bin Abi Thalib terbunuh, keturunan Ali terus berjuang
untuk memperoleh kekuasaan. Diantaranya adalah pemberontakan yang
dilakukan oleh Imam Husen Ibn Ali di Madinah pada jaman Dinasti
Umayah. Dalam perang tersebut (pemberontakan), husen terbunuh di
Karbala dan salah seorang keluarganya Idris Ibn Abd Allah melarikan
diri ke Mesir kemudian pindah ke Maroko. Di Maroko ia bergabung
dengan Ishaq Ibn Abd al-Hamid (kepala suku Awaraba). Kemudian Idris
Ibn Abd Allah di bai’at oleh suku Awaraba di Maroko sebagai peminpin,
maka berdirilah Dinasti Idrisiyah.[5]
Dinasti Idrisiyah merupakan Dinasti pertama pada masa
pemerintahan Abbasiyah yang terpisah dari dunia Islam. Sebagaimana
telah dikemukakan bahwa Khalifah Harun Ar-Rasyid merasa terancam
dengan hadirnya Dinasti Idrisiyah, kemudian ia mengirimkan Sulaiman
bin Jarir untuk menjadi mata-mata dan berpura-pura menentang daulah
Abbasiyah.
Bersamaan dengan hal itu, khalifah Harun Ar-Rasyid juga
menyerahkan kawasan Tunisia  kepada Ibrahim bin Aghlab dengan
segala hak-hak otonomnya dengan tujuan untuk menahan bila Idrisiyah
melakukan ekspansi ke negri Mesir dan Syam. Sebagai ganti setianya,
Ibrahim bin Aghlab menyerahkan pajak tahunan sebesar 40.000 dinar ke
Bagdad. Karena letak geografis antara wilayah Afrika Utara dan pusat
pemerintahan di Bagdad sangat jauh, daerah tersebut tidak mendapatkan
kontrol yang efektif dari pemerintahan pusat. Akhirnya dengan daerah
Tunisia dan Aljajair sebagai wilayah kekuasaannya, berdirilah Dinasti
Aghlabiyah (800-909 M.)[6]
Dinasti ini didirikan oleh salah satu seorang penganut Syi’ah yaitu
Idris bin Abdullah pada tahun 172 H./789 M. Dinasti ini merupakan
dinasti Syi’ah pertama yang tercatat dalam sejarah berusaha memasukan
Syi’ah ke daerah Maroko dalam bentuk yang sangat halus.
Muhammad bin Idris merupakan salah seorang keturunan Nabi
Muhammad SAW, yaitu cucu dari Hasan, putra Ali bin Abi Thalib.
Dengan demikian, dia mempunyai hubungan dengan garis imam-imam
Syi’ah. Dia juga ikut ambil bagian dalam perlawanan keturunan Ali di
Hizaj terhadap Abbasiyah pada tahun 169/786 dan terpaksa pergi ke
Mesir, kemudian ke Afrika Utara, dimana prestise keturunan Ali
membuat para tokoh Barbar Zenata di Maroko Utara menerimanya
sebagai peminpin mereka. Berkat dukungan yang sangat kuat dari suku
Barbar inilah, dinasti Idrisiyah lahir dan namanya dinisbatkan dengan
mengambil Fez sebagai pusat pemerintahan.[7]
Paling tidak, ada dua alasan mengapa dinasti Idrisiyah muncul dan
menjadi dinasti yang kokoh dan kuat, yaitu karena ada dukungan yang
sangat kuat dari barbar, dan letak geografis yang sangat jauh dari pusat
pemerintahan Abbasiyah yang berada di Bagdad sehingga sulit untuk
ditaklukan.
Pada masa kekhalifahan Bani Abbasiyah dipimpin oleh Harun Ar-
rasyid, (menggantikan Al-Hadi), Harun Ar-rasyid merasa posisinya
terancam dengan hadirnya Dinasti Idrisiyah tersebut, maka Harun Ar-
Rasyid merencanakan untuk mengirimkan pasukannya dengan tujuan
memeranginya. Namun, faktor geografis yang berjauhan, menyebabkan
batalnya pegiriman pasukan. Harun Ar-Rayid memakai alternatif yang
lain, yaitu dengan mengirim seorang mata-mata bernama Sulaiman bin
Jarir yang berpura-pura menentang Daulah Abbasiyah sehingga Sulaiman
mampu membunuh Idris dengan meracuninya. Taktik ini disarankan oleh
Yahya Barmaki kepada Khalifah Harun Ar-Rayid.[8]
Terbunuhnya Idris tidak berarti kekuasaan Dinasti Idrisiyah
menjadi tumbang karena bangsa Barbar telah bersepakat untuk
mengingkarkan kerajaan mereka sebagai kerajaan yang merdeka dan
independen. Dikabarkan pula bahwa Idris meninggalkan seorang hamba
yang sedang mengandung anaknya. Dan ketika seorang hamba tersebut
melahirkan, kaum Barbar memberikan nama bayi tersebut dengan nama
Idris dan mengikrarkannya sumpah setia kepadanya sebagaimana yang
pernah diikrarkan kepada bapaknya. Dan Idris inilah yang melanjutkan
jejak bapaknya (Idris bin Abdullah) dan disebut sebagai Idris II.[9]
Idris I dan putranya Idris II telah berhasil mempersatukan suku-
suku Barbar, imigran-imigran yang berasal dari Spanyol dan Tripolitania
dibawah satu kekuasaan satu politik,  mampu membangun kota Fez
sebagai kota pusat perdagangan, kota suci, tempat tinggal Shorfa (orang-
orang terhormat keturunan Nabi dari Hasan dan Husain bin Ali bin Abi
Thalib), dan pada tahun 1959 dikita ini, telah didirikan sebuah masjid
Fatimah dan Universitas Qairawan yang terkenal.
Pada masa kekuasaan Muhammad bin Idris (826-836 M), dinasti
Idrisiyah telah membagi-bagi wilayahnya kepada delapan orang
saudaranya, walaupun ia sendiri tetap menguasai Fez dan memiliki
semacam supremasi moral terhadap wilayah-wilayah lainnya. Setelah ia
memerintah selama masa yang cukup tenang, putranya yang bernama Ali
menggantikannya sebagai raja.
Pada masa Ali bin Muhammad (836-849 M.), terjadi konflik antar
keluarga dengan kasus yang klasik, yaitu terjadi penggulingan kekuasaan
yang pada akhirnya kekuasaan Ali pindah ketangan saudaranya sendiri,
yaitu yahya bin Muhammad.[10]
Pada masa Yahya bin Muahammad, kota Fez banyak dikunjungi
oleh imigran Andalusia dan daerah Afrika lainnya. Kota ini berkembang
begitu pesat, baik dari segi pertumbuhan penduduk maupun
pembangunan bangunan megah. Diantara gedung yang dibangun pada
masa itu ialah masjid Quirawan dan masjid Andalusia. Menurut versi lain
bahwa kota itu didirikan pula sebuah masjid yang diberi nama masjid
Fatimah yang merupakan benih dari masjid Qairawan yang terkenal pada
tahun 859 M. Tepat pada tahun 863M., Yahaya bin Muhammad
meninggal dan kekuasaannya berpindah ketangan putranya, yaitu Yahya
II.[11]
Pada pemerintahan Yahya II terjadi kemerosotan yang disebabkan
oleh ketidakmahiran Yahaya II dalam mengatur pemerintahan, sehingga
terjadi pembagian wilayah kekuasaan. Keluarga Umar bin Idris I tetap
memerintah wilayahnya, sedangkan Daud mendapat wilayah yang lebih
luas kearah timur kota Fez. Keluarga Kasim menerima sebaagian dari
sebuah barat kota Fez bersama-sama dengan pemerintah wilayah suku
Luwata dan Kutama. Husain (paman Yahya II), menerima sebagian
wilayah selatan kota Fez sampai ke pegunungan Atlas. Disamping
ketidakmampuan mengatur pemerintahannya, Yahya juga pernah terlibat
perbuatan yang tidak bermoral terhadap kaum wanita. Sebagai akibatnya,
ia harus melarikan diri karena diusir oleh penduduk Fez dan mencari
perlindungan di Andalusia sampai akhir hayatnya pada tahun 866 M.[12]
Dalam suasana yang mengecewakan rakyat, seorang penduduk Fez
yang bernama Abdurrahman bin Abi Sahl Al-Judami mencoba menarik
keuntungan dengan jalan mengambil alih kekuasaan. Namun, istri Yahya
(anak perempuan dari saudara sepupunya), Ali bin Umar berhasil
menguasai wilayah Kawariyyir (Qairawan) dan memulihkan ketentraman
dengan bantuan ayahnya.[13]
Pada masa Yahya III, pemerintahan yang semeraut diterbitkan
kembali sehingga menjadi tentram dan aman. Namun, setelah Yahya III
memerintah dalam waktu yang cukup lama, ia terpaksa harus
menyerahkan kekuasaan kepada teman kerabatnya yang diberi nama
Yahya IV.
Yahya IV ini berhasil mempersatukan kembali wilayah-wilayah
yang dikuasai oleh kerabat-kerabat yang lainnaya, dan sejak itu Dinasti
Idrisiyah terlibat dalam persaingan antara dua kekuatan besar, yaitu Bani
Umayah dari Spanyol dan Dinasti Bani Fatimiah dari Mesir dalam
memperebutkan supremasi dari Afika Utara. Sebagaimana diketahui
bahwa dinasti kedua tersebut mempunyai aliran berbeda, yang satu
beraliran sunni dan yang satu beraliran Syi’ah. Kedua aliran tersebut,
secara hati-hati menghindari bentrokan, sehingga Fez dan wilayah-
wilayah Idrisiyah pada waktu itu menjadi daerah pertikaian mereka.[14]
Setelah masa Yahya IV, saat kota Fez dan wilayah-wilayah
Idrisiyah menjadi pertikaian, seorang cucu Idris II, yang bernama Al-
Hajjam berhasil menguasai Fez dan daerah sekitarnya. Akan tetapi, ia
kemudian mendapatkan penghianatan dari seorang peminpin setempat
sehingga kekuasaannya hilang dan hidupnya berakhir pada tahun 926 M.,
sedangkan anak dan saudaranya mengundurkan diri ke daerah sebelah
utara (suku Barbar Gumara). Di sana, keluarga Idris dari kelompok Bani
Muhammad mendirikan benteng di atas bukit yang diberi nama Hajar
An-Nashr. Di benteng tersebut, mereka bertahan sampai lima puluh tahun
sambil mengamat-amati kubu pertahanan Daulah Umayah dan Daulah
Fatimiah.[15]

2. Dinasti Aghlabiyah di Tunisia (184-289 H/800-900 M).

Dinasti Aghlabiyah yang berkuasa selama kurang lebih l00 tahun


(800-909 M). Dinasti ini pertama kali didirikan di Afrika Utara oleh
Ibrahim bin Aghlab Ia adalah seorang pejabat Khurasan dalam militer
Abbasiyah, seorang yang terkenal dibidang administrasi, ia mampu
mengatur roda pemerintahannya dengan baik. Wilayah kekuasaannya
meliputi Ifriqiyah, Algeria dan Sicilia.
Secara periodik, dinasti Aghlabiyah ini dikuasai oleh beberapa
penguasanya, yaitu: Ibrahim bin Aghlab (800-811 M.), Abdullah I 811-
816 M, Ziyadatullah bin Ibrahim 816-837 M., Abu Iqal bin Ibrahim 837-
856 M., Abu Al-Abbas Muhammad 841-856 M., Abu Ibrahim Ahmad
856-864 M., Ziyadatullah II bin Ahmad 863-864 M., Abu Al-Gharanik
Muhammad II bin Ahmad 864-874 M., Ibrahim II bin Ahmad 874-902
M.,  Abu Al-Abbas Abdullah II 902-903 M., Abu Mudhar Ziyadatullah
III 903-909 M.[16]
Aghlabiyah memang merupakan Dinasti kecil pada masa
Abbasiyah, yang para penguasanya adalah berasal dari keluarga Bani al-
Aghlab, sehingga Dinasti tersebut dinamakan Aghlabiyah. Awal mula
terbentuknya Dinasti tersebut yaitu ketika Baghdad dibawah
pemerintahan Harun ar-Rasyid. Di bagian Barat Afrika Utara, terdapat
dua bahaya besar yang mengancam kewibawaannya. Pertama dari
Dinasti Idris yang beraliran Syi’ah dan yang kedua dari golongan
Khawarij.[17]
Dengan adanya dua ancaman tersebut terdoronglah Harun ar-
Rasyid untuk menempatkan balatentaranya di Ifrikiah (Tunisia) di bawah
pimpinan Ibrahim bin Al-Aghlab. Setelah berhasil mengamankan
wilayah tersebut, Ibrahim bin al-Aghlab mengusulkan kepada Harun ar-
Rasyid supaya wilayah tersebut dihadiahkan kepadanya dan anak
keturunannya secara permanen. Karena jika hal itu terjadi, maka ia tidak
hanya mengamankan dan memerintah wilayah tersebut, akan tetapi juga
mengirim upeti ke Baghdad setiap tahunnya sebesar 40.000 dinar.[18]
Harun ar-Rasyid menyetujui usulannya, sehingga berdirilah Dinasti
kecil Aghlabiyah yang berpusat di Ifrikiah yang mempunyai hak otonomi
penuh. Meskipun demikian masih tetap mengakui akan kekhalifahan
Baghdad. Untuk menaklukkan wilayah baru dibutuhkan suatu proses
yang panjang dan perjuangan yang besar, namun tidak seperti Ifriqiyyah
yang sifatnya adalah pemberian.[19]
Pemerintahan Aghlabiyah pertama berhasil memadamkan gejolak
yang muncul dari Kharijiyah Barbar di wilayah mereka. Kemudian di
bawah Ziyadatullah I, Aglabiyah dapat merebut pulau yang terdekat dari
Tunisia, yaitu Sicilia dari tangan Byzantium 827 M, dipimpin oleh
panglima Asad bin Furat, dengan mengerahkan panglima laut yang
terdiri dari 900 tentara berkuda dan 10.000 orang pasukan jalan kaki.
Inilah ekspedisi laut terbesar. Ini juga peperangan akhir yang dipimpin
panglima Asad bin Furad karena itu, ia meninggal dalam pertempuran.[20]
Selain untuk memperluas wilayah penaklukan terhadap Sicilia,
ekspedisi ini bertujuan untuk berjihad melawan orang-orang kafir.
Wilayah tersebut menjadi pusat penting bagi penyebaran peradaban
Islam ke Eropa Kristen. Aspek yang menarik pada Dinasti Aghlabiyah
adalah ekspedisi lautnya yang menjelajahi pulau-pulau di Laut Tengah
dan pantai-pantai Eropa seperti pantai Italia Selatan, Sardinia, Corsica,
dan Alpen.[21]
Karena tidak tahan terhadap serangan berkepanjangan dari pasukan
Aghlabiyah pada Bandar-bandar Itali, termasuk kota Roma, maka Paus
Yonanes VIII (872– 840 M) terpaksa minta perdamaian dan bersedia
membayar upeti sebanyak 25.000 uang perak pertahun kepada
Aglabiyah.[22]
Pasukan Aglabiyah juga berhasil menguasai kota Regusa di pantai
Yugoslavia (890 M), Pulau Malta (869 M), menyerang pulau Corsika dan
Mayorka, bahkan mengusai kota Portofino di pantai Barat Italia (890),
kota Athena di Yunani-pun berada dalam jangkauan penyerangan
mereka.
Dengan keberhasilan penaklukan-penaklukan tersebut, menjadikan
Dinasti Aglabiyah kaya raya, para penguasa bersemangat membagun
Tunisia dan Sicilia. Ziyadatullah I membangun masjid Agung Qairuan,
menara masjidnya yang merupakan warisan dari bentuk bangunan
Umayah merupakan bangunan tertua di Afrika. Oleh karena itulah
Qairawan menjadi kota suci keempat setelah Mekah, Madinah dan
Yerussalam. Masjid tersebut disebut masjid terindah dalam Islam karena
ditata sedemikian indah.[23]
Sedangkan Amir Ahmad membangun masjid Agung Tunis dan
juga membangun hampir 10.000 benteng pertahanan di Afrika Utara.
Tidak cukup itu, jalan-jalan, pos-pos, armada angkutan, irigasi untuk
pertanian (khususnya di Tunisia Selatan, yang tanahnya kurang subur),
demikian pula perkembangan arsitektur, ilmu, seni dan kehidupan
keberagamaan.[24]
Selain sebagai ibu kota Dinasti Aghlabiyah, Qairawan juga sebagai
pusat penting munculnya mazhab Maliki, tempat berkumpulnya ulama-
ulama terkemuka, seperti Sahnun yang wafat (854 M) pengarang
mudawwanat, kitab fiqih Maliki, Yusuf bin Yahya, yang wafat (901 M),
Abu Zakariah al-Kinani, yang wafat (902 M), dan Isa bin Muslim, wafat
(908 M). Karya-karya para ulama-ulama pada masa Dinasti Aghlabiyah
ini tersimpan baik di Masjid Agung Qairwan.[25]
Dinasti Aghlabiyah merupakan tonggak terpenting dalam sejarah
konflik berkepanjangan antara Asia dan Eropa dibawah pimpinan
Ziyadatullah I, Sicilia yang berada di pulau laut tengah tersebut,
dijadikan pangkalan untuk penyerangan daratan-daratan eropa yang
kristen. Distribusi terpenting  dalam ekspedisi tersebut adalah
menyebarnya peradaban Islam hingga ke Eropa. Bahkan Renaisas di Itali
terjadi karena transmisi Ilmu pengetahuan melalui pulau itu.
Pada akhir abad ke-9, posisi dinasti Aghlabiyah di Ifrikiyah
mengalami kemunduran, dengan masuknya propaganda Syi’ah yang
dilancarkan oleh Abdullah Al-syi’ah atas isyarat Ubaidillah Al-Mahdi
telah menanamkan pengaruh yang kuat dikalangan orang-orang Barbar.
kesenjangan sosial antar penguasa Aghlab disatu pihak dan orang-orang
Barbar dipihak lain, telah menambah kuatnya pengaruh itu dan pada
akhirnya membuahkan kekuatan militer.[26]
Pada tahun 909, kekuatan militer tersebut berhasil menggulirkan
kekuasaan Aghlabid yang terakhir, Ziyadatullah III sehingga
Ziyadatullah pergi ke Mesir setelah gagal mendapat bantuan dari
pemerintahan pusat di Bagdad. Ada juga yang berpendapat bahwa
Ziyadatullah kalah karena tidak mengadakan perlawanan apapun sebelum
dinasti fatimiyah mengadakan invasi. Dan sejak itu pula Ifrikiyah
dikuasai oleh orang-orang Syi’ah yang pada masa selanjutnya
membentuk dinasti Fatimiah.
Salah satu faktor mundurnya Aghlabiyah ialah hilangnya hakikat
kedaulatan dan ikatan solidaritas sosial semakin luntur. Kedaulatan pada
hakikatnya hanya dimiliki oleh mereka yang sanggup menguasai rakyat,
sanggup memungut iuran negara, mengirimkan angkatan bersenjata,
melindungi perbatasan dan tak seorang pun penguasa pun berada di
atasnya.[27]

3. Dinasti Thuluniyah di Mesir (254-292 H/837-903 M).

Dinasti ini merupakan dinasti kecil pertama di Mesir pada


pemerintahan Abbasiyah, yang memperoleh hak otonom dari Bagdad.
Dinasti ini didirikan oleh Ahmad Ibn thulun, yaitu seorang budak dari
Asia tengah yang dikirim oleh panglima tharir bin Husain ke Bagdad
untuk dipersembahkan kepada Khalifah Al-Makmun dan diangkat
menjadi kepala pegawai istana.[28]
Ahmad Ibn Tulun ini terkenal dengan sosok yang gagah berani, dan
seorang yang dermawan, hafidz, ahli dibidang sastra dan Militer. Pada
mulanya Ahmad Ibn Thulun datang ke Mesir sebagai wakil gubernur
Abbasiyah disana, lalu menjadi gubernur yang wilayah kekuasaannya
sampai ke Palestina dan Suriah. Pada masa Khalifah Al-Mu,taz, Ahmad
Ibn Thulun ditunjuk sebagi wakil di Mesir dan Libya atas bantuan ayah
tirinya yang menjabat sebagai panglima Turki di belahan barat.[29]
Masa ini merupakan masa disintegrasi dan distabilitas politik
pemerintahan Abbasiyah. Situasi itu dimanfaatkan oleh Ahmad bin
Thulun dengan memproklamirkan independensi wilayahnya dan
membentuk dinasti Thuluniyah. Meskipun demikian Thuluniyah masih
memperlihakan loyalitasnya pada Bgdad melalui penyebuan nama
Khalifah dalam khotbah jumat dan penulisan nama khalifah pada mata
uang, serta pembayaran pajak sejumlah 300.000 dinar.
Keberadaan dinasti Thuluniyah di Mesir semakin bertambah besar
dan kuat, apalagi setelah adanya ikatan kuat melalui perkawinan antar
Ahmad Ibn Thulun dengan saudara Yurjukh, sebagai jaminan kedudukan
yang diperoleh Thuluniyah. Ahmad Ibn Thlun mulai mengadakan
ekspansi ke wilayah Hijaz disemenanjung Arabia hingga Palestina dan
siria pada tahun 878 M., serta wilayah Sicilia di Asia kecil pada tahun
879 M.[30]
Posisi Ahmad Ibn Thulun yang secara politis menguntungkan bagi
penguatan kekuasaannya tersebut, Al-Muaffaq (salah seorang khalifah
Al-Mu’tamid pada saat itu), merasa iri hati dan ia merencanakan untuk
membuat strategi dalam mempengaruhi khalifah agar menyerang Ahmad
sehingga tidak terhindarkan lagi terjadinya benturan fisik antara khalifah
Al-Mu’tamid dengan Ahmad Ibn Thulun. Namun karena mempunyai
dukungan dan pasukan yang tangguh dan terlatih, kedudukan Ahmad Ibn
Thulun masih tetap kokoh dan kuat.[31]
Beberapa saat setelah peperangan tersebut, Ahmad Ibn Thulun
menderita sakit, dan lama-kelamaan sakitnya bertambah parah, akhirnya
ia meninggal pada tahun 270 H. Dalam usia 50 tahun dan kekuasannya
pun pindah ke tangan putranya yang tertua bernama Al-Khumarwaihi.
Ketika kekuasaan berada di tangan Al-khumarwaihi, yaitu pada tahun
884-895 M., Dinasti Thuluniyah mencapai kejayaannya. Pada masa itu
pula, khalifah Al-Mu’tamid terpaksa harus menyerahkan wilayah Mesir,
Siria sampai gunung Tauruts dan wilayah Aljazair (Mesopotamia Utara),
kecuali Mosul kepada Al-Khumarwaihi.[32]
Pada saat itu pula berbagai prestasi Dinasti Thuluniyah telah
banyak dicapai. Dinasti Thuluniyah mampu mengukir dan memperkaya
peradaban Islam yang semasa Dinasti Umayah mengalami kemunduran.
Sebagai contoh kemajuan prestasi dinasti tersebut ialah dalam bidang
seni arsiterktur, telah berdiri sebuah masjid Ahmad Ibn Thulun  yag
megah, pembangaunan rumah sakit yang memakan biyaya cukup besar
sampai 60.000 dinar dan bangunan istana Khumarwaihi dengan balairung
emasnya.[33]
Kemewahan dan kemegahan masjid Ahmad Ibn Thulun terletak
pada menaranya yng melintang dan melilit ke atas. Setiap jumat, di
masjid tersebut disediakan dokter khusus untuk mengobati pasien Cuma-
Cuma tanpa melihat agama dan alirannya. Adapun keistimewaan istana
Al-Khumarwaihi terletak pada seluruh dinding balairungnya yang
dilapisi emas dan dihiasi dengan relief dirinya. Istana tersebut dibangun
ditengah-tengah kebun yang tumbuh-tumbuhannya sangat indah, juga
terdapat kebun binatang.[34]
Kemajuan lainnya ialah di bidang militer, Thuluniyah mempunyai
100.000 perajurit yang cakap dan terlatih dari orang Turki dan budak
belian dari bangsa Negro. Thuluniyah membangun kubu-kubu
pertahanan dan sebuah benteng yang kokkoh diatas pulau Ar-Raudah.
Pada masa itu juga, banyak dibangun irigasi sebagai sarana pertanian
yang terletak di lembah sungai Nil.[35]
Selama beberapa tahun menjelang berakhirnya masa kekuasaan Al-
Khumarwaihi, pada dinasti ini mulai kelihatan adanya gejala-gejala
memburuk, yaitu pada tahun 896 M., Al-Khumarwaihi meninggal dan
tahta kerajaan secara berurutan  diserahkan kepada Abu Al-‘Asakir Jaisy
Ibn Khumarwaihi, kemudian Harun bin Khumarwaihi dan Saiban Ibn
Ahmad Ibn Thulun.
Pada masa kekuasaan yang terakhir (Syaiban), muncul dan
berkembang sekte-sekte keagamaan Qaramithah yang berpusat di gurun
Siria. Melihat keadaan seperti itu, Syaiban tampaknya tidak mempunyai
kekuatan untuk mengendalikan sekte-sekte tersebut, dan bersamaan
dengan itu pula khalifah Abbasiyah mengirimkan pasukan untuk
menaklukan Dinasti Thuluniyah serta membawa keluarga dinasti yang
masih hidup ke Bagdad. Setelah ditaklukan, Dinasti Thuluniyah jatuh dan
hancur.[36]

4. Dinasti Ikhsyidiyah di Turkistan (320-560 H/932-1163 M).

Dinasti ini didikrikan oleh Muhammad Ibn Thugi yang diberi gelar
Al-Ikhsyid (pangeran) pada tahun 935 M. Muhammab Ibn Tughi diangkat
sebagai gubernur di Mesir oleh Abbasiyah saat Ar-Radi atas jasanya
mempertahankan dan memulihkan keadaan wilayah Nil dari serangan
kaum Fatimiah yang berpusat di Afrika Utara.[37]
Dinasti Ikhsidiyah mempunya peran strategis dalam menyokong
dan memperkuat wilayah Msir. Pada masa itu, Mesir mempeunyai
kedudukan yang kuat karena ditopang dengan kemiliteran Iksidiyah yang
tangguh dengan pasukan pengawal sejumlah 40.000 orang dan 800 orang
pengawal pribadinya.
Pada masa Dinasti Ikhsyidiyah ini pula terjadi peningkatan dalam
dunia keilmuan dan dunia gairah intelektual, seperti mengadakan diskusi-
diskusi keagamaan yang dipusatkan di masjid dan rumah-rumah mentri
dan ulama. Kegiatan itulah yang sangat berperan dalam pendewasaan
pendidikan masyarakat ketika itu, dan juga dibangun pasar buku yang
besar sebagai pusat dan tempat berdiskusi yang dikenal dengan nama
Syuq Al-Waraqin.
Selama dua tahun setelah berkuasa di Mesir, Dinasti Ikhsyidiyah
mengadakan ekspansi besar-besaran dengan menunudukan Siria dan
Palestina ke dalam otonominya. Pada tahun berikutnya, Ikhsyidiyah
menaklukan Madinah dan Mekah. Dengan demikian kekuasaan
Ikhsyidiyah bertambah besar danpesat.
Pada masa pemerintahan Kafur yang termasyhur sebagai pelindung
liberal kesusastraan dan seni, beberapa serangan yang dilancarkan di
Fatimiah disepanjang pantai Afrika Utara dapat diatasi. Akan tetapi
sepeninggalan Kafur pada tahun 968 M., Ikhsyidiyah menjadi dinasti
yang lemah. Pada masa itu, Abu Al-Fawarisaris Ahmad Ibn Ali (967-972
M.) yang menerima tahta kekuasaan setelah Kafur, tampaknya tidak
bertahan lama, dikarenakan kepeminpinannya yang sangat lemah,
sehingga serangan yang terus menerus dilancarkan  oleh Fatimiah
terhadap pemerintahannya membuat dinasti ini tidak berdaya dan tidak
mampu mempertahankan kekuasaannya di Mesir. Pada akhirnya
Ikhsyidiyah dapat ditaklukan pula oleh Fatimiah.[38]
Ada beberapa faktor kehancuran Dinasti Ikhsyidiyah, yaitu selain
karena serangan terus-menerus yang dilancarkan Fatimiah, pada masa
sebelum penaklukan oleh Fatimiah, telah terjadi penyerangan Qarmatian
ke Siria pada tahun 963 M. Selain itu juga, terjadi penyekapan jemaah
haji mesir serta serbuan orang-orang Nubia yang berhasil merampas
daerah-daerah wilayah selatan.

5. Dinasti Hamdaniyah di Aleppo dan Mousul (317-394 H/929- 1002 M).

Dinasti ini didirikan oleh Hamdan Ibn Hamdun, seorang amir dari
suku Taghlib. Putranya Al-husain adalah panglima pemerintahan
Abbasiyah dan Abu Al-Haija Abdullah diangkat jadi gebernur Maosul
oleh Khalifah Al-Muktafi pada tahun 905 M.
Pada masa hidupnya, Abu Hamdan Ibn Hamdun pernah ditangkap
oleh Khalifah Abbasiyah karena beralianasi dengan kaum Khawarij
untuk menentang kekuasaan Bani Abbas. Akan tetapi, atas jasa putranya
dia diampuni oleh Khalifah abbasiyah.
Wilayah kekuasaan dinasti ini terbagi dua wilayah bagian, yaitu
wilayah kekuasaan di Mousul dan wilayah kekuasaan di halb. wilayah
kekuasaan di Halb, terkenal sebagai pelindung kesusastraan arab dan
ilmu pengetahuan. Pada masa itu pula, muncul tokoh-tokoh cendekiawan
besar, seperti Abi Al-Fath dan Usman Ibn Jinny yang menggeluti di
bidang ilmu nahwu, Abu Thayyib Al-Mutannabi, Abu Firas Husain Ibn
Nashr Ad-daulah, Abu A’la Al-Ma’ari, dan syarif Ad-daulah sendiri yang
mendalami ilmu sastra, serta lahir pula filosof besar, yaitu Al-Farabi.[39]
Mengenai jatuhnya dinasti ini, terdapat beberapa faktor. Pertama,
meskipun dinasti ini berkuasa di daerah yang cukup subur dan makmur
serta memiliki pusat perdagangan yang strategis, sikap kebudayaannya
yang tidak bertanggung jawab dan sikapnya yang destruktif tetap
dijalankan. Dengan sikap seperti itu, Suriah dan Aljazirah merasa
menderita karena kerusakan yang ditimbulkan oleh peperangan. Hal
inilah yang menjadikan kurangnya simpati masyarakat dan wibawanya
jatuh.
Kedua, bangkitnya kembali Bizantium di bawah kekuasaan
Macedonia yang bersamaan dengan brdirinya dinasti Hamdaniyah di
Suriah menyebabkan Dinasti Hamdaniyah tidak bisa menghindari dari
invasi wilayah kekuasaannya dari serangan Bizantium yang energik.
Invasi yang dilakukan oleh Bizantium terhadap Suriah mengakibatkan
Allefo dan Hims terlepas dari kekuasaannya, hingga dinasti Hamdaniyah
lumpuh.[40]
Ketiga, kebijakan ekspansionis Fatimiah ke Suriah bagian selatan,
juga melumpuhkan kekuasaan dinasti ini, sampai-sampai ekspansionis ini
mengakibatkan terbunuhnya Said Ad-Daulah yang tengah memegang
tambuk kekuasaan dinasti Hamdaniyah. Akhirnya, dinasti ini pula takluk
pada dinasti Fatimiah.[41]

6. Dinasti Qaramithah

Di bawah kekhalifahan Abbasiyah (750-1258 M), banyak gerakan


bawah tanah Syiah yang beroposisi terhadap rezim yang sedang
berlangsung. Dan banyak di antara mereka adalah para penganut mazhab
Ismailiyah. Mayoritas gerakan dakwah Ismailiyah menetap di Salamiyah
(sekarang disebut Suriah/Syiria) dan telah sukses besar di Khuzestan
(Barat Daya Persia).
Singkat cerita, ketika itu mazhab Ismailiyah dipimpin oleh al-
Husayn al-Ahwazi. Saat Husayn sedang berjalan-jalan dia bertemu
dengan seseorang yang bernama Hamdan di perjalanan, dan kemudian
diberikanlah si Hamdan ini julukan oleh Husayn,dengan nama Qarmat [42]
setelah dia menganut ajaran Ismailiyah ini.
Lalu, apa itu Qaramithah? Qaramithah sesungguhnya bukanlah
sebuah dinasti, melainkan salah satu cabang dari gerakan Ismailiyah yang
menguasai Arab Timur dan Arab Tengah (sekitar Semenanjung Persia).
Tampaknya nama sekte itu diambil dari nama Hamdan Qarmat – yang
sebelum tahun 260 H/874 M – telah mulai menyebarkan ajaran
Ismailiyah di kalangan petani di Sawad, Kufah, untuk mengumpulkan
pengikut. Ia berhasil dalam menyebarkan ajarannya ketika itu sehingga
banyak yang tertarik dengan ajarannya, karena ajaran yang diajarkan
Qarmath adalah Mesianisme [43]. Gerakan ini menyebar ke Wilayah Iran
dan kemudian ke Transoxiana. Bahkan menyebar sampai Yaman,
Bahrain dan Afrika Utara.
Konflik intern Ismailiyah di mana, Ubaidillah mengaku bahwa
dirinya adalah keturunan Muhammad bin Ismail, putra Ismail yang
diakui sebagai pengganti sah dari Imam Syiah, Ja’far as-Sadiq. Dan
dengan kata lain Ismailiah harus mengakuinya sebagai benar-benar
Imam. Hal ini menimbulkan golongan-golongan yang tidak setuju
dengan perbuatan Ubaidillah, golongan-golongan tersebut diantaranya
Hamdan bin Qarmat, menolak doktrin baru itu.

a. Pemberontakan Qaramithah
Adanya perubahan dalam kepemimpinan di Salamiyyah di 899 M
menyebabkan perpecahan dalam gerakan. Minoritas Ismailiyah, yang
pemimpinnya telah menguasai pusat Salamiyyah, mulai memberitakan
sebuah kabar bahwa Imam Muḥammad telah meninggal, dan bahwa
pemimpin baru di Salamiyyah ternyata keturunannya yang keluar dari
persembunyian.[44] Qarmat dan saudaranya iparnya, Abdan menentang ini
dan pecah konflik dengan Salamiyyids.
Namun ketika ‘Abdan dibunuh, Hamdan bin Qarmath ini
bersembunyi. Bahkan menurut beberapa sumber, Hamdan kemudian
bertobat. Hamdan menjadi seorang misionaris dari Imam baru, Ubayd
Allah al-Mahdi Billah (873-934), yang mendirikan kekhalifahan
Fatimiyah di Afrika Utara pada 909 M.
Meskipun demikian, kelompok pembangkang tetap
mempertahankan nama Qaramithah. Dan nama Qaramithah ini muncul
pun pasca kematiannya Hamdan bin Qarmath. Awalnya gerakan ini
bukanlah gerakan yang militant. Namun setelah Qarmath meninggal,
agaknya para pengikut Qarmath yang loyal masih memiliki dendam
dengan orang-orang Abbasiyah.
Pada perkembangan selanjutnya, Qaramithah mulai mendirikan
basis besar yang berlokasi di Bahrain, dan pada periode ini banyak
wilayah-wilayah di Arabia timur serta pulau-pulau yang terdapat di
sekitar, berada di bawah kendali Abbasiyah pada akhir abad kesembilan,
tapi pemberontakan budak di Basra mengganggu stabilitas kekuatan
Baghdad. Qaramithah memanfaatkan kesempatan ini dan di bawah
pemimpin mereka, Abu-Sa’id Jannābī, merebut ibukota Bahrain, Hajr
dan Al-Hasa di tahun 899 M. dan dibuatlah ibukota republik sekaligus
pusat kontrol gerakan Qaramithah dan juga ia berusaha untuk mendirikan
sebuah masyarakat utopia.
Terlepas dari hal di atas, penghasutan yang dilakukan oleh gerakan
Qaramithah, kerapkali disebut-sebut banyak penulis sebagai “abad
terorisme” di Kufah.[45] Mereka menganggap ibadah haji ke Mekah adalah
takhayul dan memberikan perintah dari Bahrain, pusat control mereka
kala itu untuk memberikan serangan kepada jamaah Haji di sepanjang
rute haji yang melintasi Arabia:. Di tahun 906 M, mereka menyergap
kafilah peziarah yang kembali dari Mekah dan membantai 20.000
jamaah.[46] Di bawah Abu Tahir Al-Jannabi (keturunan Abu Sa’id)
Qaramithah nyaris merebut Baghdad pada 927 M dan membuat kisruh
Mekah dan Madinah pada 930 M.
Serangan terhadap situs suci umat Islam (baca: Ka’bah), menodai
Sumur Zamzam dengan mayat jamaah haji dan mengambil Batu Hitam
(Hajar Aswad) dari Mekah ke Al-Hasa. Merupakan kejahatan-kejahatan
yang telah dilakukan oleh gerakan Qaramithah ini. Mereka, memegang
Batu Hitam (Hajar Aswad) dan mereka pun memaksa Abbasiyah untuk
membayar tebusan dalam jumlah besar, dan akhirnya Hajar Aswad
kembali ke tempat asalnya pada tahun 952 M.
Revolusi dan penodaan mengejutkan ini, memberikan tamparan
keras dunia Muslim saat itu pada umumnya dan khususnya bagi
Abbasiyah. Tidak banyak hal yang bisa dilakukan oleh oposisi gerakan
Qaramithah ini, karena pada era itu Qaramithah adalah kekuatan yang
paling kuat di Teluk Persia dan Timur Tengah, mengendalikan pantai
Oman dan mengumpulkan upeti dari khalifah di Baghdad serta dari
saingannya Ismailiyah (baca: Dinasti Fatimiyah) di Kairo, yang mereka
tidak akui.

b. Qaramithah Society
Gerakan ini didirikan karena menginginkan asas persamaan dan
persetaraan, mereka merasa rezim yang sedang berkuasa sangat menekan
kaum tani kala itu. Bahkan mereka mendirikan Utopianya sendiri di
dekat Kuffah yang kemudian menjadi markas gerakan ini. Utopia
mereka, mereka namakan dengan istilah Dar-al- Hijrah bila dalam bahasa
Arab.
Pada dasarnya Qaramithah ini adalah komunitas rahasia yang
didasarkan atas system komunisme. Bahkan, sekte ini telah lebih dahulu
menetapkan peraturan tentang komunitas para istri dan hak milik.
Dengan kata lain, Qaramithah adalah sebuah proto-type dari komunisme,
namun komunisme dalam Islam.Menurut catatan yang ada pada delapan
Risalah Ikhwan al-shafa, mereka juga sering melakukan ritual-ritual
khusus. Dan kebanyakan dari pengikut Qaramithah ini ialah kaum tani
dan kaum serikat kerja. 
Para anggota gerakan ini juga menamakan dirinya sebagai, “orang-
orang yang beriman kepada Allah, yang mendukung agama-Nya dan
yang berbuat baik di Bumi”.[47] Tulang punggung dari gerakan ini sudah
jelas, ialah petani yang dalam kemiskinan dan kemalangan yang dalam.
Adalah Nabath, istilah yang dinisbatkan kepada para petani kuno Irak,
yang berbahasa Aramik. Meskipun sudah masuk Islam, tetapi mereka
masih mempertahankan ajaran-ajaran lamanya.
Berasaskan kepada system sosialis-komunis, gerakan ini bergerak
dengan sangat baik dan secara sembunyi-sembunyi (baca: Underground).
Hal ini menjadikan para elit Qaramithah bergerak dengan leluasa dan
bebas dari tekanan penguasa. dalam hal pendanaan-pun, Qaramithah
menggunakan system sumbangan anggota untuk kelangsungan hidup
matinya gerakan ini.
Pada tataran Humanisme, Qaramithah merupakan bentuk
kembalinya manusia ke substansinya sebagai manusia social dari
manusia yang berorientasi pada sekte ataupun ras atau dengan kata lain
“no racism or no sectarianism”. Dengan demikian gerakan Qaramithah
– gerakan revolusioner – yang digerakkan oleh satu gagasan,
meruntuhkan kesewenang-wenangan pemerintahan yang despotik!
Karena Qaramithah merupakan representasi orang-orang yang tertindas
rezim (baca: petani dan serikat kerja).
c. Keruntuhan Qaramithah
Setelah kekalahan oleh Abbasiyah di tahun 976 H, Qaramithah
banyak kehilangan wilayah kekuasaan dan tentu saja hal ini
mempengaruhi pendapatan gerakan ini. Bahkan menurut sejarawan,
Curtis Larsen, kehilangan kekuasaan ini sangat jelas mempengaruhi
tingkat ekstraksi pendapatan dan pemasukan dari wilayah-wilayah
kekuasaan yang telah diambil oleh Abbasiyah.
Selain kehilangan pendapatannya, konflik internal dalam
Qaramithah pun mulai bermunculan. Salah satunya adalah separatism
yang dilakukan oleh Qaramithah di Bahrain pada tahun 1058.
Pemberontakan serupa terjadi di Qatif pusat control pantai luar gerakan
ini. Kehilangan banyak pendapatan dan pengendalian pantai luar,
Qaramithah mulai terdesak mundur ke benteng mereka di Hofuf Oasis.
Pukulan terakhir yang dialami Qaramithah terjadi pada tahun 1067
H oleh pasukan gabungan dari Abdullah al-Uyuni, dengan bantuan
Seljuk, mengepung Hofuf selama tujuh tahun dan akhirnya memaksa
Qaramithah menyerah.[48] Di Bahrain dan Arab bagian timur kekuasaan
Qaramithah digantikan oleh dinasti Uyunid.

C. ISLAM DI SICILIA DAN PERADABANNYA

1. Masuknya Islam di Sicilia


Sicilia adalah sebuah pulau di laut tengah, letaknya berada di
sebelah selatan semenanjung Italia, dipisahkan oleh selat Messina. Pulau
ini bentuknya menyerupai segitiga dengan luas 25.708 km persegi.
Sebelah utara terdapat teluk Palermo dan sebelah timur terdapat teluk
Catania. Pulau ini di sebelah barat dan selatannya adalah kawasan laut
Mediterranian, sebelah utara berbatasan dengan laut Tyrhenian dan
sebelah timurnya berbatasan dengan laut Ionian.[49] Pulau Sicilia
bergunung gunung dan sangat indah, iklimnya yang baik, tanahnya
subur, dan penuh dengan kekayaan alamnya.[50] Pulau ini di bagi menjadi
tiga bagian: Val di Mazara di sebelah barat, Val di Noto di sebelah
tenggara dan Val Demone di bagian timur laut. Islam hanya menjadi
agama resmi di Val di Mazara sedangkan di bagian yang lainnya
mayoritas beragama kristen.[51]
Sebelum dikuasai Islam, Penguasaan pulau ini berpindah-pindah
dalam beberapa abad mulai dari Yunani, Cartage, Romawi, Vandals, dan
Byzantium, kemudian dikuasai oleh kaum Muslimin. Usaha untuk
menjadikan Sicilia sebagai wilayah Islam telah dimulai sejak Khalifah
Usman bin Affan dengan mengirim gubernur Muawiyah bin Abi Sufyan
pada tahun 652 M. Pada waktu Muawiyah menjadi khalifah, ia juga
menyerang pulau Sicilia pada tahun 667 M. Pada zaman Abd Malik dan
Al-Walid bin Abd Malik juga dilakukan serangan. Gubernur Afrika
Utara Musa bin Nuhair setelah berhasil menguasai Andalusia juga
menyerang Sicilia di bawah pimpinan anaknya Abdullah.[52]
Islam eksis di Sicilia pada tahun 827 M, ketika salah seorang
khalifah Dinasti Aglab[53] yakni Ziyadatullah I[54] memulai proyek besar
mencari kawasan baru untuk dijadikan tujuan ekspansi/perluasan wilayah
Islam.
Penaklukan atas Sicilia sebenarnya dilatar belakangi oleh adanya
konflik intern penguasa Romawi, Kaisar Romawi memerintahkan
gubernur Sicilia, Constantin untuk menangkap Euphenius seorang
komandan tentara Bizantium di Sicilia. Perintah penangkapan tersebut
disambut oleh pasukan Euphenius, pertempuran tak terelakkan ketika
terdesak, Euphenius minta bantuan kepada Ziyadatullah dan menawarkan
kekuasaan atas Sicilia, tawaran itu diterima oleh Ziyadatullah.
Pada tahun 827 (212 H), Ziyadatullah memerintahkan orang
kepercayaannya Asad bin Al Furat untuk melaksanakan penyerbuan.
Ekspedisi yang berlangsung dua tahun dan memakan korban. Dua
komandan tersebut, mampu menguasai dan kota Massara dan Alineo di
Timur. Pada tahun 831 (216 H) Palermo pun dapat dikuasai. Sehingga
pasukan Aglabi terus dapat mengokohkan kedudukannya di Sicilia,
terutama bagian barat (Val di Massara), tetapi ibukotanya sendiri.
Castrogiovanni (dulunya Syiracuse) baru dapat diduduki pada tahun 859
M (245 H). Kegembiraan pasukan Aghlab ini, juga ditandai dengan
pengiriman rampasan perang kepada khalifah di Baghdad, al Mutawakkil
(w. 861 M/247 H). Pada tahun 902 M/289 H) pulau Sicilia berhasil
secara penuh dikuasai.[55]
Selanjutnya Sicilia berada di bawah pemerintahan muslim
dengan  Palerno sebagai ibukotanya. Sicilia berada di bawah kekuasan
Islam oleh pemerintahan Aghlabiyah dan kemudian di bawah gubernur-
gubernur Fatimiah sampai penaklukan oleh orang-orang Norman pada
abad ke Sebelas.
Gubernur-gubernur Fatimiah sendiri, sangat terterik khususnya
untuk menguasai Sicilia karena alasan politik dan ekonomi. Mereka ingin
mendirikan negara besar laut tengah dan merencanakan untuk membuat
Sicilia sebagai pangkalan angkatan bersenjata (laut), agar supaya bias
menagkis serangan-serangan Bizantium di pantai–pantai Afrika dan
berhasil mewujudkan ambisi-ambisi mereka di Afrika utara dan Mesir.
Dari sudut pandang ekonomi, mereka berpendapat bahwa Sicilia adalah
merupakan daerah produktif yang akan membekali/memakmurkan
mereka.[56]
Selama berada di bawah pemerintahan Islam, disitulah  Sicilia
mencapai beberapa kemajuan dan menjadi pusat penting bagi penyebaran
kultur Islam ke Eropa Kristen.[57]

2. Masa Kemajuan Islam di Sicilia


Selama berkuasa di Sicilia Islam mencapai beberapa kemajuan
antara lain, kemajuan dalam bidang sains, sebuah universitas telah
didirikan di Palermo. Yang menjadi pusat ilmu pengetahuan dan
kebudayaan Islam, sehingga Islamisasi sains yang telah ditaklukkan telah
memberikan warna terhadap kultur masyarakat Sicilia dan sekitarnya.
Sicilia berperan sebagai tempat penting dalam menghubungkan Eropa
dengan dunia Islam. Di samping Andalusia (Spanyol) Sicilia juga
berfungsi untuk memperkenalkan budaya dan kehidupan spritual Islam
kepada Eropa. Walau Sicilia sendiri tidak menghasilkan pemikir dan
lembaga spektakuler, akan tetapi keberadaan literatur dan tradisi
keilmuan yang di bawa dari dunia Islam lainnya, telah  memungkinkan
para ulama dan cendekiawan Sicilia menyalurkan hal-hal baru kepada
kolega mereka dari daratan Eropa. Penerjemahan karya-karya penting
baik filsafat, kedokteran, sufisme, matematika, optik atau astronomi
kedalam bahasa-bahasa Eropa banyak dilakukan lewat Sicilia.[58] Karya-
karya Islam termasuk terjemahannya menjalin Eropa melalui pintu
gerbang Sicilia.
Karya-karya tersebut sudah barang tentu berguna bagi sejarah
perkembangan peradaban umat manusia[59] bahkan terjemahannya
dilakukan terhadap karya Yahya Ibnu Rusyd kedalam bahasa Latin dan
bahasa Nebraw (Yahudi). Buku-buku Ibnu Rusyd yang berbahasa Arab
diangkut ke Universitas Teledo dan Palermo yang pada waktu itu
menjadi pusat penerjemahan. Karena itu, tidaklah mengherankan pada
waktu pembakaran buku-buku Ibnu Rusyd, yang musnah adalah dalam
bahasa aslinya (bahasa Arab) karena dalam waktu yang relatif singkat di
beberapa tempat di Eropa, muncul karya-karya Ibnu Rusyd dalam bahasa
Latin (Yahudi).[60]
Jika dicermati lebih jauh, penulis berasumsi bahwa tranfer
khasanah intelektual Islam ini, merupakan penopang utama lahirnya
renaissance di Italia dan Eropa. Pemikiran-pemikiran ulama Islam
terdahulu, utamanya Ibnu Rusyd merupakan kontribusi Islam terhadap
kebangkitan Eropa. Pulau Sicilia merupakan tempat terjemahan buku-
buku Islam telah memberikan sumbangsih yang cukup penting dalam
kebangkitan tersebut.
Dalam bidang terjemah muncul nama Rahib Jiral Salfalter yang
menerjemah dari bahasa Arab ke bahasa latin, Musa ibn Maimuna (1191
M) seorang reformis Yahudi. Penerjemah lainnya adalah Michead Scot
(1230 M), Yacob Abrawi, seorang Yahudi (1232 M) Herwan (1256 M).
[61]

Selain kemajuan dalam bidang sains, penguasa Islam di Sicilia


telah berhasil menghapus secara total pajak hewan yang digunakan untuk
mengangkut barang atau membajak sawah, sebelum Islam berkuasa di
Sicilia yakni pada saat Sicilia berada di bawah kekuasaan Bizantium
pajak terhadap hewan sangat tinggi. [62] Selain itu Islam di Sicilia juga
telah berhasil membuat mata uang sendiri dengan mencantumkan nama
gubernur Sicilia dan Amir Bani Aghlab. Di bidang pertanian telah
dibangun irigasi yang bermanfaat bagi peningkatan hasil pertanian
sehingga  hasil pribumi seperti kapas, tebu, buah apel, dan lain-lain
mencapai hasil yang  maksimal. Di bidang pertambangan, emas, perak,
timah hitam, air raksa yang melimpah-limpah dikelola dengan sangat
baik oleh penguasa Fatimiah.[63]
Dengan memperhatikan sederet kemajuan yang dicapai, penulis
dapat mengatakan bahwa siapapun tidak dapat menafikan peranan pulau
yang kecil ini, dalam mengkontribusikan kehidupan Eropa, letak
geografisnya yang sangat strategis dan sumber alam yang diperbaharui,
merupakan faktor utama yang sangat membantu gubernur-gubernur Islam
yang pernah berkuasa/menduduki daerah tersebut, dalam rangka
memajukan Islam baik dari segi intelektualitas maupun dari segi
peradaban.

3. Masa Kemunduran dan Kehancuran Islam di Sicilia


Setelah melalui masa-masa jaya, kekuasaan Islam di Sicilia
nampak lemah, mundur dan berakhir dengan kejatuhannya. Mundurnya
kekuasaan tersebut antara lain disebabkan karena situasi politik umat
Islam yang sangat dapat dipengaruhi sehingga terjadi perpecahan
internal, terjadi persaingan dan pertentangan antara dinasti-dinasti,
tenggelamnya sebahagian penguasa Islam dalam kehidupan mewah
sehingga lupa pada tugas utamanya untuk mengurus negara, terjadinya
hubungan khsusus antara penguasa Islam tertentu dengan penguasa
Kristen untuk menjatuhkan saingannya sesama muslim, dan menguatnya
kembali kerajaan-kerajaan Kristen Eropa yang didukung oleh seruan dan
semangat perang salib, khususnya perang salib angkata kedua dan ketiga.
[64]

Kehancuran Islam di Sicilia bermula atas pergantian kekuasaan


dari dinasti Aghlabiyah ke dinasti Fatimiyah, kemudian pusat
pemerintahan dinasti Fatimiyah pindah ke daerah Mesir pada tahun 972
M, dengan demikian kontril pemerintahan menjadui lemah. Dalam
lembaga-lembaga pemerintahan dengan diam-diam menjadi warisan
merut garis al-Hasan Ali al-Kalbi. Warisan-warisan gubernur al-Kalbi
yang berlangsung sampai pada tahun 1040 memberi tandan hilangnya
pengaruh dan kekuatan muslim di Sicilia.[65]
Dengan kejatuhan al-Kalbi menyebabkan timbulnya perang
saudara antara muslim Sicilia dengan muslim Afrika, Palermo diperintah
oleh orang-orang yang terhormat, sementara sebahagian yang lain
diperintah oleh pangeran-pangeran local orang-orang Norman yang
berhasil menduduki Italia Selatan.[66]
Satu hal yang sangat berpengaruh terhadap kemunduran dan
bahkan mengantarkan kekuasaan Islam di Sicilia mengalami kehancuran
adalah upaya penguasa Kristen Romawi untuk mengembalikan Sicilia
kepangkuannya. Usaha itu semakin mendapat peluang dengan
munculnya penguasa-penguasa daerah lokoal yang bersekongkol dengan
Romawi, seperti Ibn al-Sammah, untuk memenuhi ambisinya ia meminta
bantuan kepada orang-orang Normandia. Begitu pula dengan Ibn Hamud
yang menyatakan kesetiaannya kepada Roger (penguasa Normandia saat
itu), maka satu demi satu daerah kakuasaan Islam jatuh ketangan
penguasa Kristan yaitu Normandia dan Roger I.[67]

D. KESIMPULAN

1. Pelepasan wilayah kekuasaan dinasti-dinasti kecil di Barat Bagdad dari


Dinasti Abbasiyah dikarenakan beberapa faktor, Pertama; terdapat empat
latar sosial politik munculnya dinasti-dinasti kecil di Bagian Barat
Bagdad, yaitu:
a. Karena kebijakan penguasa Bani Abbasiyah yang lebih
menitikberatkan kemajuan peradaban dibanding dengan mengadakan
ekspansi dan politisasi, sehingga memberi peluang terhadap wilayah
tersebut yang jauh dari pusat kekuasaan untuk melepaskan dan
memerdekakan diri dari pemerintahan Abbasiyah
b. Karena peta kekuasaan Abbasiyah tidak diakui Spanyol dan seluruh
Afrika Utara, kecuali Mesir, bahkan dalam kenyataannya, banyak
daerah yang tidak disukai oleh Khalifah, sehingga peta kekuasaan
teersebut membuat daerah-daerah yang jauh mendirikan dinasti-
dinasti kecil;
c. Masalah fanatisme atau ras kebangsaan yang membuat mereka
melepaskan diri dari kekuasaan Abbasiyah sampai memperluas
kekuasaannya;
d. Adanya pemberian hak otonom, sehingga tidak terkontrol karena
berjauhan dari pemerintahan pusat, dan terlalu luasnya kekuasaan
Abbasiyah
Kedua, proses pelepasan daerah-daerah kecil memakai salah
satu cara, yaitu menunjuk seseorang yang diangkat menjadi gubernur
oleh khalifah untuk menjadi penguasa kecil, dan seseorang peminpin
lokal dituntut oleh masyarakatnya untuk mengadakan pemberontakan
sehingga mendapatkan kemerdekaan penuh.
Ketiga, munculnya dinasti-dinasti kecil, selain mengancam
kedudukan pemerintahan Abbasiyah, juga banyak memberikan
kontribusi terhadap pengembangan khazanah ilmu pengetahuan,
kebudayaan.

2. Islam masuk di Sicilia pada masa pemerintahan Aghlabiyah melalui selat


Cartago.
3. Kemajuan dunia barat (Eropa) tidak terlepas dari peranan pulau Sicilia,
yang merupakan sarana yang paling penting dalam mentransfer khasanah
ilmu pengetahuan dan kehidupan spritual umat Islam. Selain dalam
bidang sains, pertanian, pertambangan turut mengalami kemajuan di
bawah pemerintahan Islam.
4. Kemunduran  dan kehancuran Sicilia disebabkan adanya ketidakpuasan
orang-orang Sicilia terhadap gubernur yang dikirim oleh penguasa
Fatimah ke Sicilia sebagai reaksi ketidak puasan ini, mengakibatkan
umat Islam di Sicilia tidak solid dan loyal terhadap pemerintah.
DAFTAR PUSTAKA

Supriyadi, Dedi, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2008

Mubarok, Jaih, Sejarah peradaban Islam, Bandung; Pustaka Bani Quraisy, 2004

Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 1995

Ahmed, Akbar S., Citra Muslim, Tinjauan Sejarah dan Sosiologi, Jakarta,

Erlangga, 1992

Majid, Nurcholis, Islam dan Politik, Jakarta, Paramadina, 1998,

Syalabi, Ahmad, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jakarta, Pustaka al-Husna, 1993

Hoesin, Oemar Amin, Kultur Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1975

Adonis. Arkeologi Sejarah-Pemikiran; Arab-Islam Vol.1. Yogyakarta: LKiS,

2007

—. Arkeologi Sejarah-Pemikiran: Arab-Islam Vol.2. Yogyakarta: LKiS, 2007.

Hitti, Philip K. History of Arabs. Jakarta: Serambi, 2010.

Mughni, Syafiq A. “Perpecahan Kekuasaan Islam.” In Ensiklopedi Tematis Dunia Islam:


Khilafah, by Taufik Abdullah (ed), 143-146. Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve,
2002.

Saunders, J.J. History of Medieval Islam. Routledge, 1978.

Ali, K., Studi Of Islamic History, diterjemahkan oleh Gufron A. Mas’adi dengan
judul Sejarah Islam dari Awal Hingga Runtuhnya Dinasty Usmani
(Tarikh Pramodern ), Cet. III; Jakarta: PT. Raja Graffindo Persada, 2000.

Bosworth, E., The Islamic Dynasties, diterjemahkan oleh Ilyas Hasan dengan
judul Dinasti-dinasti Islam, Cet. I; Bandung: Mizan, 1993.

Hammond, Headline World Atlas, New Jersey: Hammond Incorporated


Maplewood, 1969.
Hasan, Hasan Ibrahim, Islam History and Culture, diterjemahkan oleh Jahdan
Hilman  dengan judul Sejarah dan Kebudayaan Islam, Cet. I;
Yogyakarta: Kota Kembang, 1989.
Lewis, Bernard, The Arabs in History, diterjemahkan oleh Said Jamhensi dengan
judul, Bangsa Arab dalam Lintasan Sejarah, Jakarta: Pedoman Ilmu
Jaya, 1988

Nasution, Harun, Islam di Tinjau dari Berbagai Aspeknya, Cet. V; Jakarta: UI-
Press, 1985.

Nasution, Hasyim Syah, Filsafat Islam, Cet. I; Jakarta: Gaya Media Pratama,
1999.

Sunanto, Musyrifah, Prof. Dr., Sejarah Islam Klasik: Perkembangan Ilmu


Pengetahuan Islam, Cet. I; Jakarta: Kencana Prenada Media Group,
2003.

Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam Indonesia, Jakarta:


Djambatan, 1992.

Uwais, Abd. Halim, Dirasah li Suquth Tsalasin Daulah Islamiyah, yang


diterjemahkan oleh Yudian Wahyudi dkk dengan judul, Analisa
Runtuhnya Daulah-daulah Islamiyah, Solo: Pustaka Manthiq, 1992

Yahaya, Mahayudin Hj., Islam di Spanyol dan Sicily, Kuala Lumpur: Dewan
Bahasa dan Pustaka Kementrian Pendidikan Malaysia, 1990.
[1] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2008, hlm. 155
[2] ibid
[3] Ibid. Hlm. 159
[4] Jaih Mubarok, Sejarah peradaban Islam, Bandung; Pustaka Bani Quraisy, 2004,
hlm. 82
[5] Ibid, 98
[6] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 1995,
hlm 170
[7] Dedi Supriyadi, Op. Cit. Hlm. 160
[8] Jaih Mubarok, Op.cit. hlm. 98
[9] Dedi Supriyadi, Op. Cit. Hlm, 168
[10] Ibid. Hlm. 56
[11] Akbar S. Ahmed, Citra Muslim, Tinjauan Sejarah dan Sosiologi, Jakarta, Erlangga,
1992, hlm 142
[12] Ibid.
[13] Ibid. Hlm143
[14] Ibid. Hlm. 144
[15] ibid
[16] Dedi Supriyadi, op. Cit. Hlm, 172
[17] Nurcholis Majid, Islam dan Politik, Jakarta, Paramadina, 1998, 133
[18]Dedi Supriyadi, op. Cit. Hlm, 175  
[19] Ibid.
[20] Ibid. Hlm176
[21] Oemar Amin Hoesin, Kultur Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1975, hlm. 144
[22] ibid
[23] Ibid, hlm 150
[24] Ahmad Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jakarta, Pustaka al-Husna, 1993,
hlm 211
[25] Ibid. 213
[26] ibid
[27] Ibid.
[28]Oemar Amin Hoesin, Op. Cit. Hlm. 123
[29] Ahmad Syalabi. Op.cit. hlm 189
[30] Ibid. 190
[31] Ibid
[32] ibid
[33] ibid
[34] Nurcholis Majid, Islam Agama Peradaban, Jakarta, Paramadina, 1995, hlm 231
[35]ibid
[36] ibid
[37] Ahmad Syalabi. Op. Cit. Hlm 134
[38] Nurcholis Majid. Op. Cit. Hlm.67
[39] Oemar Amin Hoesin, Op. Cit. Hlm 146
[40] Ibid176
[41] ibid
[42] Glassé, Cyril. 2008. The New Encyclopedia of Islam. Walnut Creek CA: AltaMira
Press.
[43] Dalam Syiah, mesianisme merupakan konsep yang begitu menarik golongan-
golongan yang termarjinalkan. Maka dari itu, banyak dari penganut syiah adalah kaum proletar
(meminjam istilah marx).
[44] Masih berkaitan dengan ajaran Syiah Ismailiyah
[45] Al-Jubūrī, I M N (2004), History of Islamic Philosophy, Authors Online Ltd, p. 172
[46] John Joseph Saunders, A History of Medieval Islam, Routledge 1978 p130
[47] Adonis, Arkeologi Sejarah-Pemikiran: Arab-Islam Vol 2, LKis, Yogyakarta, hlm.
93
[48] Larsen, Curtis E (1984), Life and Land Use on the Bahrain Islands: The
Geoarchaeology of an Ancient Society, University Of Chicago Press, p. 65.

[49] Hammond, Headline World Atlas, (New Jersey: Hammond Incorporated


Maplewood, 1969), h. 36.
[50] Dari Sisilia, Italia mengeksport buah jeruk, jagung, jewawut, zaitun, buah badam,
anggur, kapas dan menghasilkan minyak bumi terbesar di Eropa, menghasilkan dua per tiga
kebutuhan Italia atas blerang, aspal, garam karang, garam laut, dan batu apung Italia. Lihat Grolier
Internasional Inc, (ed), Itali, Negara dan Bangsa Eropa, Jilid 6 (Jakarta, 1988), h. 158.
[51] Prof. Dr. Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik: Perkembangan Ilmu
Pengetahuan Islam, (Cet. I; Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2003), h. 160.
[52] Mahayudin Hj Yahaya, Islam di Spanyol dan Sicily, (Kuala Lumpur: Dewan
Bahasa dan Pustaka Kementrian Pendidikan Malaysia, 1990), h. 17.
[53] Dinasti Aglab (800–909) adalah dinasti yang didirikan oleh Ibrahim I Ibnu Aglab
pada tahun 184 H. Ibrahim diberi propinsi Ifriqiyah (Tunisia Modern) oleh Harun Al-Rasyid
sebagai imbalan atas pajak tahunan yang besarnya 40.000 dinar pemberian ini meliputi hak-hak
otonomi yang besar, membuatnya telah bebas menentukan nasib pemerintahannya, terutama
perluasan daerah Sicilia.
[54] Ziyadatullah I (201 M/817 H)  adalah seorang khalifah Aglabiyah yang sangat
cakap dan energik.
[55] Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam Indonesia (Jakarta:
Djambatan, 1992), h. 448.
[56] Hasan Ibrahim Hasan, Islam History and Culture, diterjemahkan oleh Jahdan
Hilman  dengan judul Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Cet. I; Yogyakarta: Kota Kembang, 1989),
h. 232.
[57] E. Bosworth, The Islamic Dynasties, diterjemahkan oleh Ilyas Hasan dengan judul
Dinasti-dinasti Islam, (Cet. I; Bandung: Mizan, 1993), h. 46.
[58] Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah op.cit., h. 499. Bandingkan dengan Harun
Nasution, Islam di Tinjau dari Berbagai Aspeknya (Cet. V; Jakarta: UI-Press, 1985), h. 74.
[59] K. Ali IA Studi Of Islamic History, diterjemahkan oleh Gufron A. Mas’adi dengan
judul Sejarah Islam dari Awal Hingga Runtuhnya Dinasty Usmani (Tarikh Pramodern ), (Cet. III;
Jakarta: PT. Raja Graffindo Persada, 2000), h. 296.
[60] Hasyim Syah Nasution, Filsafat Islam (Cet. I; Jakarta: Gaya Media Pratama,
1999), h. 126.
[61] Hasym Syah Nasution, op.cit.,  h. 127.
[62] Mahyuddin H. Yahya, Islam di Spanyol dan Sisilia (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa
dan Pustaka Kementrian Pendidikan Malaysia, 1990), h. 164.
[63] Hasan Ibrahim Hasan, op.cit., h. 232.
[64] Pasukan salib angkatan keempat terbentuk atas seruan Paus Calestine III, dua tahun
setelah Sultan Salahuddin al-Ayyubi wafat. Lihat K. Ali, h. 429
[65] Bernard Lewis, The Arabs in History, diterjemahkan oleh Said Jamhensi dengan
judul, Bangsa Arab dalam Lintasan Sejarah, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1988), h. 120.
[66] Ibid.,
[67] Abd. Halim ‘Uwais, Dirasah li Suquth Tsalasin Daulah Islamiyah, yang
diterjemahkan oleh Yudian Wahyudi dkk dengan judul, Analisa Runtuhnya Daulah-daulah
Islamiyah, (Solo: Pustaka Manthiq, 1992), h. 128-129.