Anda di halaman 1dari 13

6

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Prestasi Belajar

a. Pengertian Prestasi Belajar

Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari

kegiatan belajar, karena kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan

prestasi merupakan hasil dari proses. Arifin (2009: 12) berpendapat

bahwa prestasi belajar merupakan suatu masalah yang bersifat parsial

dalam sejarah kehidupan manusia, karena sepanjang rentang

kehidupannya manusia selalu mengejar prestasi menurut bidang dan

kemampuannya masing-masing.

Prestasi belajar menurut Arifin, (2009: 12) mempunyai fungsi

utama antara lain:

1. Prestasi belajar sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan

yang telah dikuasai peserta didik.

2. Prestasi belajar sebagai lambang pemuasan hasrat ingin tahu. Para

ahli psikologi biasanya menyebut hal ini sebagai “tendensi

keingintahuan dan merupakan kebutuhan umum manusia”.

3. Prestasi belajar sebagai bahan informasi dalam inovasi pendidikan.

4. Prestasi belajar sebagai indikator intern dan extern dari suatu

institusi pendidikan.

Upaya Meningkatkan Prestasi.., Hanan Asrofi, FKIP UMP, 2017


7

5. Prestasi belajar dapat dijadikan indikator daya serap (kecerdasan)

peserta didik.

Berdasarkan penjelasan tentang fungsi prestasi belajar, maka

betapa pentingnya memahami dan mengetahui prestasi peserta didik.

Sebab fungsi prestasibelajar tidak hanya sebagai indikator keberhasilan

dalam bidang studi tertentu, tapi juga sebagai indikator kualitas institusi

pendidikan. Prestasi belajar juga bermanfaat sebagai umpan balik bagi

guru dalam melaksanakan proses pembelajaran.

Prestasi belajar dalam penelitian ini adalah hasil pengukuran

dari penilaian belajar. Prestasi belajar dapat dinyatakan dalam bentuk

simbol huruf maupun kalimat untuk menyimpulkan hasil yang sudah

dicapai.

Cronbach (Arifin, 2013: 13) mengemukakan bahwa kegunaan

prestasi belajar banyak ragamnya, antara lain:

1. Sebagai umpan balik bagi guru dalam mengajar


2. Untuk keperluan diagnostik
3. Untuk keperluan bimbingan dan penyuluhan
4. Untuk keperluan seleksi
5. Untuk keperluan penempatan atau penjurusan
6. Menentukan isi kurikulum
7. Menentukan kebijakan sekolah

b. Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar

Ahmadi dan Supriyono, (2013: 138), faktor yang mempengaruhi

prestasi belajar yakni faktor dalam diri (faktor internal) ataupun dari

luar (faktor eksternal) dari individu tersebut. Faktor-faktor yang

mempengaruhi yaitu:

Upaya Meningkatkan Prestasi.., Hanan Asrofi, FKIP UMP, 2017


8

1) Faktor Internal adalah:

a) Faktor jasmaniah (fisiologis) baik yang bersifat bawaan maupun

yang diperoleh. Yang termasuk ke dalam faktor ini adalah

penglihatan, pendengaran, struktur tubuh dan sebagainya.

b) Faktor psikologis baik yang bersifat bawaan maupun yang

diperoleh melalui usaha, yaitu terdiri atas:

1) Faktor intelektif yang meliputi faktor potensial yaitu

kecerdasan dari bakat, serta faktor kecakapan nyata yaitu

prestasi yang telah dimiliki.

2) Faktor non interaktif, yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu

seperti sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosi,

penyesuaian diri.

2) Faktor Eksternal adalah:

a) Faktor sosial yang terdiri atas:


1) Lingkungan keluarga
2) Lingkungan sekolah
3) Lingkungan masyarakat
4) Lingkungan kelompok
b) Faktor kebudayaan seperti adat, istiadat, ilmu pengetahuan,
tekhnologi dan kesenian.
c) Faktor lingkungan fisikseperti fasilitas rumah, fasilitas belajar.
d) Faktor spiritual atau keagamaan berinteraksi secara langsung
atau tidak langsung dalam mencapai prestasi belajar.

2. Metode Penemuan Terbimbing (Discovery Learning)

a. Pengertian Metode Penemuan Terbimbing (Discovery Learning)

Istilah “Discovery” dapat diartikan sebagai suatu penemuan,

sedangkan metode merupakan cara yang dilakukan dalam proses

Upaya Meningkatkan Prestasi.., Hanan Asrofi, FKIP UMP, 2017


9

pembelajaran. Metode discovery learning, yakni pembelajaran yang

dilakukan oleh siswa untuk menemukan kesimpulan sendiri sehingga

dapat dijadikan sebagai nilai baru yang dapat diimplementasikan dalam

kehidupan sehari-hari (Rusman, 2014: 324). Pendapat tentang discovery

juga dikemukakan oleh Sund dalam Roestiyah (2012: 20) bahwa

discovery adalah proses mental dimana siswa mampu mengasimilasi

sesuatu konsep atau prinsip. Proses mental tersebut antara lain ialah:

mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, membuat

kesimpulan dan sebagainya. Dalam teknik ini siswa dibiarkan

menemukan sendiri atau mengalami proses mental itu sendiri, guru

hanya membimbing dan memberikan instruksi.

Disimpulkan bahwa metode discovery merupakan pembelajaran

yang memfokuskan pembelajaran kepada siswa, siswa berperan lebih

aktif dalam pembelajaran sedangkan guru hanya bersifat sebagai

fasilitator untuk mengarahkan dan membimbing siswa, sehingga

berdampak positif terhadap kreativitas siswa.

b. Tahap-tahap Metode Penemuan Terbimbing (Discovery)

Pada umumnya suatu pembelajaran dengan model tertentu

memiliki tahap-tahap yang harus dilakukan agar model tersebut dapat

berjalan sesuai dengan tujuan model pembelajaran yang digunakan.

Berikut langkah-langkah umum dalam melaksanakan metode penemuan

terbimbing (discovery) menurut Suryosubroto (2009: 184) sebagai

berikut:

Upaya Meningkatkan Prestasi.., Hanan Asrofi, FKIP UMP, 2017


10

1) Identifikasi kebutuhan siswa.


2) Seleksi pendahuluan terhadap prinsip-prinsip pengertian konsep,
dan generalisasi yang akan dipelajari.
3) Seleksi bahan dan problema atau tugas-tugas.
4) Membantu memperjelas tugas problema yang akan dipelajari
peranan masing-masing siswa.
5) Mempersiapkan setting kelas dan alat-alat yang diperlukan.
6) Mengecek pemahaman siswa terhadap masalah yang akan
dipecahkan dan tugas-tugas siswa.
7) Memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan penemuan.
8) Membantu siswa dengan informasi/data, jika diperlukan oleh
siswa.
9) Memimpin analisis sendiri (self analysis) dengan pertanyaan yang
mengarahkan dan mengidentifikasi proses.
10) Merangsang terjadinya interaksi antar siswa.
11) Memuji dan membesarkan siswa yang tergiat dalam proses
penemuan.
12) Membantu siswa merumuskan prinsip-prinsip dan generalisasi atau
hasil penemuan.

c. Kelemahan Metode Penemuan Terbimbing (Discovery)

Setiap tahapan dalam suatu model pembelajaran memiliki suatu

kekurangan maupun kelebihan, menurut Suryosubroto (2009: 186)

menjelaskan beberapa kelemahan model pembelajaran penemuan

terbimbing sebagai berikut:

1) Dipersyaratkan keharusan adanya persiapan mental untuk cara

belajar ini. Siswa yang lamban mungkin bingung dalam usahanya

mengembangkan pikirannya jika berhadapan dengan hal-hal yang

abstrak, atau menemukan saling ketergantungan antara pengertian

dalam suatu subyek, atau dalam usahanya menyusun suatu hasil

penemuan dalam bentuk tertulis. Siswa yang lebih pandai mungkin

akan memonopoli penemuan dan akan menimbulkan frustasi pada

siswa yang lain.

Upaya Meningkatkan Prestasi.., Hanan Asrofi, FKIP UMP, 2017


11

2) Metode ini kurang berhasil untuk mengajar kelas besar. Sebagian

besar waktu dapat hilang karena membantu seorang siswa

menemukan teori-teori, atau menemukan bagaimana ejaan dari

bentuk kata-kata tertentu.

3) Harapan yang ditumpahkan pada strategi ini mungkin

mengecewakan guru dan siswa yang sudah biasa dengan

perencanaan dan pengajaran secara tradisional.

4) Mengajar dengan penemuan mungkin dipandang sebagai terlalu

mementingkan memperoleh pengertian dan kurang memperhatikan

diperolehnya sikap dan keterampilan. Sedangkan sikap dan

ketrampilan diperlukan untuk memperoleh pengertian atau sebagai

perkembangan emosional social secara keseluruhan.

5) Dalam beberapa ilmu, fasilitas yang dibutuhkan untuk mencoba ide-

ide, mungkin tidak ada.

6) Strategi ini mungkin tidak akan memberi kesempatan untuk berpikir

kreatif, kalau pengertian-pengertian yang akan ditemukan telah

diseleksi terlebih dahulu oleh guru, demikian pula proses-proses di

bawah pembinaannya. Tidak semua pemecahan masalah menjamin

penemuan yang penuh arti.

d. Keunggulan Metode Penemuan Terbimbing (Discovery)

Selain kekurangan dalam model pembelajaran penemuan

terbimbing berikut adalah keunggulan model penemuan terbimbing

menurut Roestiyah (2012: 20):

Upaya Meningkatkan Prestasi.., Hanan Asrofi, FKIP UMP, 2017


12

1) Teknik ini mampu membantu siswa untuk


mengembangkan, memperbanyak kesiapan, serta
penguasaan ketrampilan dalam proses kognitif/pengenalan
siswa.
2) Siswa memperoleh pengetahuan yang bersifat sangat
pribadi/individual sehingga dapat kokoh/mendalam
tertinggal dalam jiwa siswa tersebut.
3) Dapat membangkitkan kegairahan belajar para siswa.
4) Teknik ini mampu memberikan kesempatan kepada siswa
untuk berkembang dan maju sesuai dengan kempuannya
masing-masing.
5) Mampu mengarahkan cara siswa belajar, sehingga lebih
memiliki motivasi yang kuat untuk belajar lebih giat.
6) Membantu siswa untuk memperkuat dan menambah
kepercayaan pada diri sendiri dengan proses penemuan
sendiri.
7) Strategi itu berpusat pada siswa tidak pada guru. Guru
hanya sebagai teman belajar saja, membantu bila
diperlukan.

3. Ilmu Pengetahuan Sosial

a. Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan nama mata pelajaran di

tingkat sekolah dasar dan menengah atau nama program studi di

perguruan tinggi yang identik dengan nama istilah social studies

(Sapriya 2009: 19). Sapriya (2009: 20) menyatakan ilmu pengetahuan

sosial di sekolah merupakan nama mata pelajaran yang berdiri sendiri

sebagai integrasi dari sejumlah konsep disiplin ilmu sosial, humaniora,

sains bahkan berbagai isu dan masalah sosial kehidupan. Materi IPS

untuk jenjang sekolah dasar tidak terlihat disiplin ilmu karena lebih

dipentingkan adalah dimensi pedagogik dan psikologis serta

karakteristik kemampuan berpikir peserta didik yang bersifat holistik.

Upaya Meningkatkan Prestasi.., Hanan Asrofi, FKIP UMP, 2017


13

Ilmu pengetahuan sosial juga membahas hubungan antara

manusia dengan lingkungannya. Lingkungan masyarakat dimana anak

didik tumbuh dan berkembang sebagai bagian dari masyarakat,

dihadapkan pada berbagai permasalahan yang ada dan terjadi di

lingkungan sekitarnya. (Trianto 2010: 173)

Berdasarkan pendapat para ahli di atas maka dapat disimpulkan

bahwa ilmu pengetahuan sosial adalah suatu bidang keilmuan yang

mengkaji masalah-masalah sosial, sehingga ketika siswa belajar

mengenai IPS siswa dapat memecahkan masalah-masalah yang ada di

sekitar mereka.

b. Tujuan IPS

Ilmu Pengetahuan Sosial memiliki tujuan umum dan tujuan

khusus seperti yang tercantum dalam Kurikulum Tingkat Satuan

Pendidikan (KTSP) 2006, diantaranya:

1) Tujuan Umum

a) Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan

masyarakat dan lingkungannya.

b) Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa

ingin tahu, inkuiri, memcahkan masalah, dan ketrampilan dalam

kehidupan sosial.

c) Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial

dan kemanusiaan.

Upaya Meningkatkan Prestasi.., Hanan Asrofi, FKIP UMP, 2017


14

d) Memiliki kemampuan untuk berkomunikasi, bekerjasama dan

berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, ditingkat lokal,

nasional dan global.

2) Tujuan Khusus

a) Memberikan pengetahuan kepada siswa tentang pengalaman

manusia dalam kehidupan bermasyarakat pada masa lalu,

sekarang dan masa yang akan datang.

b) Menolong siswa untuk mengembangkan ketrampilan untuk

mencari dan mengolah informasi.

c) Mendorong siswa untuk mengembangkan nilai/sikap demokratis

dalam kehidupan bermasyarakat.

d) Menyediakan kesempatan kepada siswa untuk mengambil

bagian/berperan serta dalam masyarakat.

Ilmu Pengetahuan Sosial tidak hanya penting bagi siswa, tetapi

penting bagi semua kalangan. Sapriya (2008: 5) mengemukakkan

bahwa tujuan social studies untuk membantu para remaja dalam

mengembangkan potensinya agar menjadi warga negara yang baik

dalam kehidupan masyarakat demokratis.

Mengacu dari pendapat-pendapat di atas mengenai tujuan

pembelajaran IPS maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPS

diajarkan dari tingkat pendidikan yang rendah sampai yang tinggi

bertujuan untuk membentuk manusia yang mampu

Upaya Meningkatkan Prestasi.., Hanan Asrofi, FKIP UMP, 2017


15

bertahan/berkembang di dalam masyarakat dengan segala

permasalahan-permasalahan yang ada di dalamnya.

Materi yang akan dijadikan penelitian tindakan kelas pada kelas

IV terdapat pada Standar Kompetensi memahami sejarah, kenampakan

alam, dan keragaman suku bangsa dilingkungan kabupaten/ kota dan

provinsi. Membaca peta lingkungan setempat (kabupaten/kota,

provinsi) dengan menggunakan skala sederhana.

Dengan indikator:
1. Memahami pengertian peta dengan benar.
2. Menyebutkan komponen-komponen peta.
3. Menyebutkan tempat-tempat penting di Kabupaten Banyumas pada
peta seperti terminal bus, stasiun kereta, tempat wisata.
4. Menghitung skala sederhana pada peta.

B. Hasil Penelitian Yang Relevan

Penelitian yang menggunakan model pembelajaran discovery learning

(penemuan terbimbing) telah banyak di lakukan. Seperti halnya penelitian yang

dilakukan oleh:

1. Nining Poiyo, (2011) dalam penelitiannya mengenai Peningkatan

Kemampuan Siswa Dalam Menentukan Gagasan Pokok Setiap Paragraf

Teks Bacaan Melalui Metode Discovery di kelas IV MI Al Mourky

Kecamatan Telaga menyimpulkan bahwa berdasarkan analisis data

penelitian dalam menemukan kalimat utama pada siklus I maupun siklus

II mengalami peningkatan. Pada siklus I belum mencapai hasil yang

diharapkan yaitu 68 %, dan pada siklus II ketuntasan belajar siswa

mencapai 81 %. Kesimpulannya adalah pembelajaran Discovery Learning

Upaya Meningkatkan Prestasi.., Hanan Asrofi, FKIP UMP, 2017


16

dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah Bahasa Indonesia

siswa kelas IV MI Al Mourky Kecamatan Telaga.

2. Fatih Istiqomah (2014) dalam skripsinya yang berjudul “ Penerapan Model

discovery learning untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa

pada kelas IV SD Negeri 02 Tulang Balak Kabupaten Lampung Timur”.

Dari Hasil penelitiannya diperoleh kesimpulan bahwa penerapan model

discovery learning dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar tematik

pada ranah afektif, psikomotor, dan kognitif.

C. Kerangka Berpikir

Setelah dilakukan observasi di kelas IVA semester 1 SD Negeri 2

Purwokerto Lor Kecamatan Purwokerto Timur, ditemukan masalah-masalah

dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Khususnya pada materi

membaca peta lingkungan setempat siswa masih belum bisa memahami peta

lingkungan setempat, menyebutkan komponen-komponen peta, menghitung

skala sederhana pada peta. Munculnya permasalahan tersebut salah satunya

karena siswa kurang aktif dalam mengikuti proses pembelajaran. Pembelajaran

menjadi tidak maksimal, interaksi belajar masih didominasi guru, siswa

menjadi pasif, tidak berani bertanya maupun menyampaikan pendapat,

sehingga interaksi siswa tidak maksimal.

Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan siswa kelas

IVA semester I pelajaran 2016/2017 mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial

siswa masih belum berhasil menguasai materi membaca peta lingkungan

Upaya Meningkatkan Prestasi.., Hanan Asrofi, FKIP UMP, 2017


17

setempat. Melihat kondisi tersebut perlu adanya inovasi dalam pembelajaran

Ilmu Pengetahuan Sosial. Peneliti akan mencoba menggunakan model

pembelajaran discovery learning sebagai bentuk dari inovasi dalam

pendidikan.

Model pembelajaran discovery learning akan mendorong siswa untuk

mengenal cara belajar untuk memahami peta menggunakan skala sederhana

dengan baik. Metode ini juga memberikan ruang gerak berpikir yang bebas

kepada siswa untuk mencari konsep dan menyelesaikan sendiri masalah yang

terkait dengan materi yang disampaikan oleh guru. Berikut ini kerangka

berpikir dalam bentuk diagram.

Sekema kerangka berpikir dalam pembelajaran melaluin model Discovery


Learning.
Kondisi Awal Prestasi belajar siswa
rendah

Tindakan Discovery Siklus I Pembelajaran


Learning menggunakan model
Discovery Learning

Kondisi Akhir Siklus II Pembelajaran


menggunakan model
Discovery Learning

Prestasi belajar siswa


meningkat

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir Penelitian

Upaya Meningkatkan Prestasi.., Hanan Asrofi, FKIP UMP, 2017


18

D. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir di atas, maka dalam

penelitian ini diajukan hipotesis sebagai berikut :

Penerapan metode Discovery Learning meningkatkan prestasi belajar siswa

pada materi membaca peta lingkungan setempat di kelas IVA SD Negeri 2

Purwokerto Lor, Kecamatan Purwokerto Timur, Kabupaten Banyumas.

Upaya Meningkatkan Prestasi.., Hanan Asrofi, FKIP UMP, 2017