Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kebutuhan dasar manusia merupakan unsur-unsur yang di butuhkan oleh manusia
dalam mempertahanankan keseimbangan fisiologi maupun psikologi. Dalam pembahasan
ini terdapat dua kebutuhan manusia, Pertama, reproduksi yang akan menghasilkan
keturunan. Keturunan yang dihasilkan akan mewarisi sifat - sifat dari induknya, pewarisan
sifat ini dipelajari dalam salah satu cabang biologi yaitu genetika. Pada tahap berikutnya
diketahui bahwa kromosom merupakan bahan yang bertanggungjawab terhadap penurunan
sifat keturunan, karena didalam kromosom terdapat bahan atau materi genetik yang
dinamakan DNA. Didalam DNA terdapat gen – gen yang merupakan unit – unit herediter
yang dapat diwariskan. Kedua, kebutuhan oksigen. Oksigen adalah salah satu komponen
gas dan unsur vital dalam proses metabolisme untukmempertahankan kelangsungan hidup
seluruh sel-sel tubuh. Secara normal elemen ini diperoleh dengan cara menghirup O2 setiap
kali bernapas. (Wartonah Tarwanto, 2006). Pemenuhan kebutuhan oksigen ini tidak
terlepas dari kondisi sistem pernapasan secara fungsional, bila ada gangguan pada salah
satu organ sistem respirasi maka kebutuhan oksigen akan mengalami gangguan. Banyak
kondisi yang menyebabkan seseorang mengalami gangguan dalam pemenuhan kebutuhan
oksigen, seperti adanya sumbatan pada saluran pernapasan. Pada kondisi ini, individu
menginginkan oksigen. Dalam pelaksanannya pemenuhan kebutuhan oksigen merupakan
tugas perawat, oleh karena itu setiap perawat harus paham dengan manisfestasi tingkat
pemenuhan oksigen pada klienya serta mampu mengatasi berbagai masalah yang terkait
dengan pemenuhan kebutuhan tesebut.

1.2 Tujuan
1. Mengetahui tentang reproduksi, genetika, dan homeostasis
2. Mengetahui konsep dasar oksigenasi
- Proses oksigenasi
- Tanda dan gejala kecukupan oksigen pada anak, dewasa, dan lansia

1.3 Manfaat
1
1. Mahasiswa dapat memahami konsep tentang reproduksi, genetika, dan homeostasis
2. Mahasiswa dapat mengenali tanda dan gejala kecukupan oksigen pada
anak,dewasa,lansia

BAB II

2
KERANGKA TEORI

2.1 Reproduksi
Reproduksi sel membahas tentang macam pembelahan sel, mekanisme
pembelahannya, serta contoh dari pembelahan sel. Esensi proses pembelahan sel adalah
mengenai penggandaan kromosom serta mekanisme pewarisan kromosom dari ‘sel induk’
ke ‘sel anak’
Reproduksi sel bertujuan untuk menambah jumlah dan jenis sel, atau membentuk
sel-sel lain dengan tujuan tertentu. Sel merupakan unit kehidupan terkecil yang reproduktif.
Sel baru dihasilkan melalui proses membelah diri menjadi 2 sel baru/ sel anak. Pembelahan
sel adalah peristiwa alami yang harus terjadi karena mempengaruhi kelangsungan hidup
suatu makhluk hidup. Ada tiga jenis pembelahan sel, yaitu amitosis, mitosis, dan meiosis.

 
Peta Konsep Pembelahan Sel

1.  AMITOSIS
Pembelahan secara langsung biasa terjadi pada mahluk hidup bersel tunggal
(uniseluler). merupakan reproduksi mahluk hidup itu sendiri. prmmbelahan amitosis tidak
didahului pembentukkan benang gelondong maupun pembelahan inti. Amitosis merupakan
cara reproduksi vegetatif pada organisme prokariotik dan protojoa, langsung menghasilkan
dua sel anakan, sehingga sering disebut pembelahan, setiap sel anak mewarisi sifat-sifat

3
induknya. pembelahan amitosis senantiasa menghasilkan keturunan yang memiliki sifat
yang identik dengan induknya.

Pembelahan Amitosis pada Amuba

 2.     MITOSIS DAN SIKLUS SEL


Pembelahan mitosis merupakan pembelahan secara tidak langsung atau melalui
tahap-tahap yang terjadi pada perbanyakkan sel tubuh. Sel yang membelah secara mitosis
akan menghasilkan dua sel anakkan yang masing-masing memiliki sifat dan jumlah
kromosom yang sama dengan induknya. Siklus sel adalah kejadian-kejadian yang
berlangsung dengan urutan tertentu yang dimulai dari pembelahan sel hingga pembelahan
sel dalam pembentukkan sel anakkan. Siklus ini meliputi dua fase, yaitu fase interfase dan
fase mitotik. Pembelahan mitosis berlangsung secara bertahap melalui beberapa fase,
yaitu :

TAHAP PEMBELAHAN MITOSIS


i. Interfase
Merupakan fase istirahat dari pembelahan sel. Namun tidak berarti sel tidak
beraktifitas justru tahap ini merupakan tahap yang paling aktif dan dan penting
untuk mempersiapkan pembelahan.
Fase ini membutuhkan waktu paling lama dibandingkan dengan fase fase
pembelahan sel (fase mitotik). Terbagi atas tiga fase, yaitu:
a.  Fase G1 (growth 1/pertumbuhan 1)

4
Merupakan fase paling aktif berlangsung selama 9 jam. Pada fase ini sel
mengadakan pertumbuhan dan perkembangan. Pada fase ini sel bertambah ukuran
dan volumenya.
b.  Fase S (Sintesis)
Merupakan fase sintesis DNA atau duplikasi kromosom, dengan waktu 10 jam
c.  Fase G2 (Growth 2/Pertumbuhan 2)
Merupakan fase yang didalamnya terjadi proses sintesis protein. Pada fase ini sel
siap untuk mengadakan pembelahan

Interfase

Sekali lagi bahwa fase Mitosis tidak diawali dengan Interfase tetapi Fase Profase ,
karena Interfase merupakan persiapan mitosis , merupakan fase istirahat sel tidak
membelah.sedangkan Mitosis itu Fase sel melakukan pembelahan / reproduksi.
Mitosis terjadi pada sel-sel tubuh (somatic). Terdiri atas 4 tahapan yang saling
berurutan : profase, metaphase, anaphase dan telofase
1.       Profase
a. Benang kromatin memendek dan menebal menjadi kromosom
b. Tiap kromosom mengadakan replikasi menghasilkan kromatid
c. Sentriol (pada sel hewan) mulai memisah dan mengarahkan benang-benang
gelendong
d. Pada akhir profase ditandai dengan menghilangnya membrane inti

5
Profase

2.       Metafase
kromosom berjajar di bidang equator/ bidang pembelahan

Metafase
3.       Anafase
a. merupakan tahap pembelahan inti
b. sentromer membelah dan kromatid memisahkan diri bergerak ke kutub yang
berlawanan, berperan sebagai kromosom tetapi bergeraknya masih dalam benang
gelendong

6
Anafase

4.       Telofase
a. kromosom sampai di kutub masing-masing dan menjadi kromatin kembali
b. spindle mulai lenyap dan nucleolus muncul kembali
c. membrane inti terbentuk kembali
d. sekat sel/ lekukan sel terbentuk sehingga sel terbagi dua bagian (sitokinesis)dengan
jumlah kromosom sama dengan jumlah kromosom sel induk

Telofase
3.     MEIOSIS
Meiosis terjadi pada alat reproduksi/gametangium/ gonat pada saat pembentukan
gamet (gametogenesis). Menghasilkan sel anak yang memiliki jumlah kromosom setengah
dari jumlah kromosom sel induk (n) sehingga disebut sebagai pembelahan
reduksi. Meiosis diperlukan agar hasil peleburan antara gamet jantan dan gamet betina
tetap memiliki jumlah kromosom 2n. Meiosis terdiri dari 2 tahap, yaitu : Meiosis I dan
Meiosis II. , masa istirahat antara keduanya disebut interfase.
Sel somatik manusia terdiri dari 46 kromosom (23 pasang kromosom), setengah
berasal dari tiap orang tua. Masing-masing dari 22 autosom maternal memiliki kromosom

7
paternal yang homolog. Pasangan kromosom ke 23 adalah kromosom seks yang
menentukan jenis kelamin seseorang,
Sel ovum dan sperma hanya mempunyai setengah kromosom (haploid / n), apabila
ovum dan sperma bersatu (fertilisasi) akan terbentuk zigot diploid (2n) yang akan tumbuh
menjadi individu baru dengan gen hasil kombinasi dari ovum dan sperma.

a.     Meiosis I
i. Profase I
dibagi menjadi beberapa tahap :
•Leptonema     : benang-benang kromatin menjadi kromosom
•Zigonema       : kromosom homolog berdekatan dan bergandengan.tiap pasang
kromosom homolog disebut bivalen
•Pakinema      : tiap-tiap bagian kromosom homolog mengganda, tetapi masih dalam
satu ikatan sentromer sehingga terbentuk tetrad.
•Diplonema     : kromatiddari tiap-tiap belahan kromosom memendek  dan
membesar.
Kromatid homolog tampak saling menjauhi tetapi tetap saling terikat
bersama oleh kiasmata. Terjadi pindah silang (crossing over).
•Diakinesis      : kromatid masih melanjutkan gerakan untuk saling menjauhi dan
kiasmata mulai bergerak menuju ujung- ujung kromosom.
Sentrosom membentuk dua sentriol yang masing-masing membentuk
benang gelendong pembelahan. Satu sentriol tetap sedang yang lain
bergerak kea rah kutub yang berlawanan. Membran  inti dan
nucleolus hilang.

8
ii. Metafase
menyerupai tahap metaphase pada mitosis, pembeda dengan metaphase pada
mitosis adalah sentromer setiap pasang homolog menempel pada gelendongnya,
satu di atas dan satu di bawah bidang equator

iii. Anafase I
 Setiap pasangan kromosom homolog
 berpisah bergerak kea rah kutub yang berlawanan
 Sentromer belum membelah

9
iv. Telofase I
 Selubung inti terbentuk, nucleolus muncul kembali
 Kromatin muncul kembali
 Terjadi sitokinesis
 Sentriol berperan sebagai sentrosom kembali

b.    Meiosis II
i. Profase II
a). Sentrosom membentuk dua sentriol yang letaknya berlawanan kutub
dan  dihubungkan oleh spindle
b).  Membran inti dan nukleus lenyap

10
c).  Kromatin berubah menjadi kromosom yang dijerat oleh spindle

ii. Metafase II
a). Kromosom berada di equator
b). Kromatid berkelompok  dua-dua
c). Belum terjadi pembelahan sentomer

iii. Anafase II
a). Chromosomes melekat pada kinetokor spindel ke arah kutub yang berlawanan,
sehingga sentromer terbelah
11
b). Masing-masing kromatid bergerak ke arah yang berlawanan

iv. Telofase II
a). Kromatid berkumpul pada kutub pembelahan dan berubah kembali jadi kromatin
b). Membran inti dan nukleus terbentuk lagi
c). Akhir pembelahan meiosis II akan terbentuk 4 sel yang masing-masing
mengandung setengah dari kromosom induknya.( n )

Perbedaan Pembelahan Mitosis dengan Pembelahan Meiosis

12
No Mitosis Meiosis

Lokasi pembelahan Sel-sel tubuh Lokasi pembelahan Sel gonad/sel


1. (somatis) dan sel gonad kelamin

 2 Jumlah pembelahan Satu kali Jumlah pembelahan dua kali

1. Jumlah sel anak hasil pembelahan


Satu sel induk menghasilkan 2 sel Jumlah sel anak hasil pembelahan Satu
1 anak sel induk menghasilkan 4 sel anak

Jumlah kromosom anak Diploid (2n) Jumlah kromosom anak Diploid (2n)
2 Diploid (2n) Haploid (n)

3 Pindah silang Tidak terjadi Pindah silang terjadi pada profase I

4 Komponen genetik sama dengan induk Komponen genetik berbeda dengan induk

Tujuan Reduksi kromosom yaitu


5 Tujuan Pertumbuhan dan regenerasi pembentukan gamet

2.2 Genetika
Dalam sebuah keluarga dimana terdapat anggota keluarga, yaitu bapak, ibu, dan
anak-anaknya. Dan pernahkah kamu memperhatikan dengan seksama antara orang tau dan
anak-anaknya tentu terdapat kemiripan atau memiliki ciri-ciri yang hampir sama. Hal ini
disebabkan adanya pengaruh pewarisan sifat orang tua kepada anaknya. Adanya pewarisan
sifat yang hampir sama antara anak dan orang tuanya karena adanya pengaruh bahan
genetika.

Genetika berasal dari bahasa latin  yaitu “Genos” yang memiliki arti asal-usul atau
suku bangsa. Jadi genetika sebagai ilmu dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari
tentang pewarisan sifat kepada keturunannya (hereditas) dimana substansi genetika sendiri
meliputi materi atau bahan pembawa sifat genetik yaitu kromosom yang terdiri dari protein,
dan asam nukleat. Sedangkan asam nukleat sendiri terdiri dari DNA dan RNA dan pada

13
DNA terdapat gen yang merupakan unit terkecil yang menyimpan informasi genetika serta
mengatur metabolisme tubuh.

A. Kromosom

Setiap makhluk hidup memiliki berjuta-juta sel di dalam tubuhnya. Setiap sel pada
makhluk hidup terdapat nukleus yang memiliki inti sel dan di dalam nukleus terdapat
kromosom. Kromosom adalah sebuah unit yang berbentuk padat dan terdiri dari dua
komponen yaitu protein dan asam nukleat yang tersusun oleh DNA dan RNA yang mana di
dalam DNA terdapat gen yang mengatur metabolisme dalam tubuh.

Istilah kromosom berasal dari kata “Chroma” yang artinya


berwarna dan “Soma” yang artinya badan dan kromosom pertama kali diperkenalkan oleh
Waldeyer (1888). Kromosom dapat dilihat dengan jelas apabila diamati dengan mikroskop
pada tahap metafase ketika sel mengalami pembelahan. Proses pengemasan DNA dan
protein terjadi pada tahap profase. Pada saat tahap profase, untai DNA dipintal dalam suatu
protein histon. Kemudian DNA menjadi suatu unit yang disebut dengan nukleosom.
Nukleosom ini akan bergabung membentuk solenoid yang berbentuk lipatan-lipatan dan
membentuk benang. Selanjutnya selenoid yang satu dengan yang lainnya bergabung
membentuk struktur benang halus yang padat yang disebut kromatin dan kromatin ini
mudah menyerap warna. Benang-benang kromatin dapat merapat, memendek, dan
membesar kemudian membentuk kromosom. Dalam kromosom terdapat protein histon dan

14
nonhiston yang dapat menggulung kromosom menjadi padat dan mempertahankan
keutuhan kromatin. Berikut adalah gambar kromosom, letak dan bagiannya.

a. Ukuran Kromosom

Ukuran kromosom pada setiap makhluk hidup berbeda-beda. Panjang kromosom


berkisar antara 0,2 – 50 mikron dan memiliki diameter 0,2 – 20 mikron. Pada kromosom
manusia panjangnya sekitar 6 mikron. Sedangkan pada tumbuhan umumnya kromosom
berukuran besar daripada kromosom hewan dimana kromosom tumbuhan dapat mencapai
panjang 50 mikron dan biasanya apabila semakin panjang jumlahnya akan semakin sedikit.

b. Bagian dan Struktur Kromosom

Secara umum kromosom terdiri dari bagian-bagian seperti berikut.

1. Kromatid adalah salah satu bagian dari dua lengan hasil replikasi dimana kromatid
yang berpasangan membentuk kromosom.
2. Kromonema adalah benang-benang spiral yang terlihat selama tahap profase atau
monofase.

15
3. Kromomer adalah struktur yang berupa manik-manik yang merupakan gabungan dari
materi kromatin. Selain itu kromomer juga merupakan nukleosom dari kromonema.
Kromomer kadang dapat dilihat pada saat tahap interfase kromomer.
4. Sentromer adalah bagian menyempit dan merupakan daerah pelekukan kromosom.
5. Satelit adalah bagian kromosom yang berbentuk bulat pada ujung lengan kromatid.
6. Telomer adalah bagian terujung kromosom yang berfungsi untuk menjaga agar DNA
di daerah tersebut tidak terurai.

Berdasarkan letak sentromernya, kromosom dibedakan menjadi 4 macam yaitu:

1. Metasentris adalah sentromer yang terletak di tengah kromosom.


2. Submetasentris adalah sentromer yang terletak di submedian salah satu ujung
kromosom

3. Akrosentris adalah sentromer yang terletak di bagian subterminal (dekat ujung


kromosom)

4. Telosentris adalah sentromer yang terletak di ujung kromosom.

Berdasarkan jumlah sentromernya, kromosom dibagi menjadi 3 macam yaitu, monosentris,


disentris, dan polisentris.

1. Monosentris adalah kromosom yang hanya memiliki 1 buah sentromer


2. Disentris adalah kromosom yang memiliki 2 sentrosom

3. Polisentris adalah kromosom yang memiliki banyak sentrosom

16
c. Tipe dan Jumlah Kromosom

Di dalam tubuh makhluk hidup terdapat kromosom yang berpasangan yang disebut
kromosom homolog yang memiliki sifat diploid (2n) karena memiliki 2 set kromosom.
Sedangkan kromosom dalam sel kelamin tidak berpasangan dan memiliki sifat haploid (n)
karena hanya memiliki 1 set kromosom saja.

Kromosom terbagi menjadi 2 tipe, yaitu:

1. Autosom (kromosom tubuh), yaitu kromosom yang biasanya tidak berperan dalam
menentukan jenis kelamin
2. Genosom (kromosom seks), yaitu sepasang kromosom yang menentukan jenis
kelamin. Genosom dibedakan menjadi 2 yaitu, kromosm-x dan kromosm-y

Dalam setiap nukleus sel manusia terdapat 23 kromosom yang berpasangan dimana
terdiri dari 22 pasang autosom dan 2 pasang genosom. Penulisan simbol kromosom pada
manusia yaitu 44A + XY atau 22AA + XY dengan kromosom pada sel telur 22A + X dan
pada sel sperma 22A + X atau 22A + Y. Pengaturan kromosom berdasarkan panjang,
jumlah dan bentuk kromosom disebut kariotipe, sedangkan hasil pengaturannya disebut
kariogram. Berikut adalah gambar kariogram pada manusia.

17
Jumlah kromosom dalam satu spesies sama, namun berbeda bagi spesies lain. Berikut
adalah perbedaan jumlah kromosom pada beberapa organisme.

B. Gen

Istilah gen pertama kali diperkenalkan oleh W. Johansen. Gen adalah satuan unit genetik
terkecil yang menyimpan informasi genetika dan merupakan satuan unit yang
mengunstuksi untuk mengatur pewarisan sifat yang akan diturunkan kepada keturunannya.
Gen memiliki peran dalam mengatur satu sifat khusus. Secara kimiawi gen adalah
sepenggal dari DNA. Genom merupakan seluruh informasi genetis yang tersimpan dalam
DNA. Penulisan gen ditulis dalam bentuk huruf kapital untuk gen pembawa sifat dominan
dan huruf kecil untuk gen pembawa sifat resesif. Gen memiliki fungsi diantaranya adalah
sebagai berikut.

1. Mengatur perkembangan dan proses metabolisme individu


2. Mengandung informasi genetik yang akan diturunkan dari generasi ke genaerasi
berikutnya

3. Mengontrol pembuatan polipeptida

18
C. Alel

Istilah alel berasal dari bahasa latin “Allelon” yang berarti bentuk lain. Istilah ini
diperkenalkan oleh W. Bateson dan E. R Sauderes. Alel adalah gen-gen yang terletak
bersesuaian dengan kromosom homolog. Alel dapat memiliki  fungsi atau sifat sama dan
saling mendukung atau berlawanan. Alel memiliki sifat yang sama disebut alel homozigot
(identik), sedangkan alel yang memiliki sifat yang tidak sama disebut dengan alel
heterozigot. Apabila dalam lokus yang sama terdapat lebih dari satu alel maka disebut alel
ganda.

D. Asam Nukleat

Asam nukleat terdiri dari dua macam yaitu:

a. DNA

DNA adalah materi genetik tempat menyimpan informasi genetik. DNA terdapat
pada nukleus tepatnya di dalam kromosom. Selain itu ditemukan juga DNA yang terdapat
di luar nukleus seperti dalam mitokondria dan sentriol. DNA tersusun atas banyak
nukleotida (polinukleotida), dan setiap nukleotida terdiri atas gugusan gula deoksiribosa,
asam fosfat, dan basa nitrogen.

DNA memiliki model struktur. Struktur DNA merupakan dua rantai polinukleotida yang
saling terpilin dan membentuk double helix. Berikut adalah gambar susunan DNA double
helix.
Pada rantai tersebut, sitosin (C) selalu dihubungkan dengan guanin (G) oleh tiga

ikatan hidrogen, Adenin (A) selalu dihubungkan dengan timin (T) oleh dua ikatan
hidrogen. Hal ini menyebabkan keempat basa nitrogen tidak memiliki jumlah yang sama
dalam suatu DNA. Akan tetapi jumlah adenin akan selalu sama dengan timin dan jumlah
guanin akan selalu sama dengan jumlah sitosin. Selanjutnya basa nitrogen akan membentuk
rangkaian persenyawaan kimia dengan deoksiribosa menjadi nukleosida atau
deoksiribonukleosida. Akan tetapi, sebelum nukleosida membentuk suatu molekul DNA,

19
nukleosida harus bergabung dengan gugus fosfat untuk membentuk suatu nukleotida atau
deoksiribonuklotida. Nukleosida ini berperan sebagai unsur awal untuk sintesis DNA.

DNA dapat bersifat heterokatalitik dan autokatalitik. DNA bersifat heterokatalitik


karena melalui sintesis protein mampu membentuk RNA sedangkan DNA bersifat
autokatalitik karena dapat melakukan replikasi menghasilkan DNA baru. Ada tiga jenis
hipotesis tentang replikasi DNA.

1. Replikasi Konservatif, yaitu rantai double helix DNA lama tetap kemudian


menghasilkan cetakan rantai double helix DNA yang baru
2. Replikasi Semikonservatif yaitu rantai double helix DNA lama memisahkan diri dan
setiap pita tunggal mencetak pita tunggal pasangannya

3. Replikasi Dispertif yaitu rantai double helix DNA terputus-putus kemudian DNA


yang telah terputus tersebut akan membentuk segmen baru. Kemudian segmen baru
yang telah terbentuk tersebut akan bergabung dengan segmen lama untuk membentuk
DNA baru.

Dari tiga hipotesis model replikasi DNA yang telah disebutkan diatas yang paling
banyak didukung oleh para ahli sebagai replikasi DNA paling tepat adalah replikasi DNA
semikonservatif. Selanjutnya terdapat beberapa enzim yang berperan dalam replikasi DNA
yaitu; enzim helikasi, polimerase, dan enzim ligase.

1. Enzim Helikase, berfungsi untuk menghidrolisis rantai ganda polinukleotida menjadi


dua rantai tunggal mononukleotida
2. Enzim Polimerase, berfungsi untuk merangkai rantai-rantai mononukleotida untuk
membentuk DNA baru

3. Enzim Ligase, berfungsi untuk menyambung ulir tunggal DNA yang baru terbentuk

b. RNA (Ribonucleid Acid)

RNA memiliki rantai yang lebih pendek daripada DNA. RNA adalah hasil
transkripsi dari suatu fragmen DNA. RNA berperan sebagai penyimpan dan penyalur
20
informasi genetik. RNA memiliki struktur berupa rantai tunggal polinukleotida yang
tersusun atas molekul basa nitrogen, gula D-ribosa (pentosa), dan gugus fosfat. Basa
nitrogen pada RNA terdiri atas basa purin yang meliputi Adenin (A) dan guanin (G) serta
basa pirimidin yang meliputi urasil (U) dan sitosin (C). Berikut adalah struktur RNA yang
merupakan rantai tunggal.

Terdapat 3 tipe RNA yaitu, rRNA (ribosomal RNA), mRNA (Message


RNA), tRNA (Transfer RNA). rRNA atau ARN Ribosom adalah RNA yang dibuat di dalam
sitoplasma yang memiliki fungsi untuk mempermudah perekatan yang spesifik antara
kodon tRNA dengan mRNA selama sintesis protein. mRNA atau ARN Duta adalah RNA
yang dibentuk di nukleus dan merupakan rantai tunggal panjang. mRNA memiliki fungsi
membawa kode genetik (kodon) dari RNA ke ribosom. tRNA (Transfer RNA) adalah RNA
yang terdapat di sitoplasma yang memiliki fungsi menerjemahkan kodon dari mRNA
menjadi asam amino.

Tabel Perbedaan DNA dengan RNA

21
E. Sintesis Protein

Semua aktivitas sel dikendalikan oleh aktivitas nukleus (inti sel), pengendalian ini
berkaitan dengan aktivitas nukleus dalam memproduksi protein. Protein merupakan
penyusun utama dari semua organel sel manapun dalam penggandaan kromosom. Protein
merupakan polipeptida (gabungan beberapa asam amino), maka untuk membentuk suatu
protein dibutuhkan asam amino. Pada saat sintesis protein terjadi proses penerjemahan gen
menjadi urutan asam amino yang disebut Ekspersi Gen.  Terdapat 2 tahap dalam sintesis
protein yaitu tahap transkripsi dan translasi dan pada kedua tahap ini masing-masing
dimulai dari tahap insiasi (permulaan), elongasi (pemanjangan), dan terminasi
(pengakhiran).

2.3 Homeostasis
Homeostasis berasal dari bahasa Yunani: homeo berarti “sama”, stasis
“mempertahankan keadaan”, sehingga dapat diartikan sebagai suatu keadaan tubuh untuk
mempertahankan keseimbangan dalam menghadapi segala kondisi yang dihadapi.
Sherwood (2007) mendefinisikan homeostasis sebagai pemeliharaan lingkungan internal
yang relatif stabil. Makhluk hidup sejatinya senantiasa melakukan pertukaran dengan
lingkungan, mengambil bahan yang diperlukan dan mengeluarkan zat-zat yang sudah tidak
berguna dalam tubuh. Apa yang terjadi pada tubuh manusia hampir sama meski tidak sama
persis. Manusia mengambil zat-zat yang dibutuhkan dari lingkungan, serta mengeluarkan
zat sisa (sampah) ke lingkungan. Tubuh manusia terdiri dari banyak sel tidak seperti
Amoeba yang hanya terdiri dari satu sel.
Pada tahun 1965, seorang ahli bernama Dubois mendefinisikan bahwa homeostasis
adalah kemampuan untuk beradaptasi dengan atau terhadap lingkungan internal atau
eksternal yang senantiasa berubah sebagai suatu kunci keberhasilan, bertahan dan tetap
hidup, atau suatu keadaan seimbang yang sifatnya dinamis, yang dipertahankan tubuh
melalui pergeseran dan penyesuaian atau adaptasi terhadap ancaman yang berlangsung
secara konstan.
Jadi, pengertian homeostasis adalah suatu proses perubahan yang terus menerus atau
suatu keadaan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan dalam menghadapi kondisi
yang dialaminya yang sifatnya dinamis yang berlangsung secara konstan, dan terjadi pada
22
setiap organisme. Proses homeostasis ini dapat terjadi apabila tubuh mengalamai stress
sehingga tubuh secara alamiyah akan melakukam mekanisme pertahanan diri untuk
menjaga kondisi yang seimbang.

2.3.1 Proses Pengaturan Keseimbangan pada Homeostasis

Homeostasis dipertahankan oleh berbagai proses pengaturan keseimbangan


yang sangat halus namun bersifat dinamis (dynamic steady state). Macam-macam
pengaturan yang terlibat dalam homeostasis itu sendiri meliputi umpan balik negatif
dan umpan balik positif.

Pengaturan umpan balik negatif (negative feedback) merupakan pengaturan


penting dalam homeostasis. Dalm pengaturan umpan balik negatif ini sistem
pengendali senantiasa membandingkan parameter yang dikendalikan (misalnya suhu
tubuh atau tekanan darah) dengan nilai setpoint. Contohnya adalah pada saat keadaan
panas, badan akan diatur untuk mengurangi panas badan. Selain itu, ada juga
pengaturan umpan balik yang positif (negative feedback). Pengaturan ini tidak
bersifat homeostasis karena tidak memperbesar respons, sampai ada faktor luar yang
menghentikannya. Contohnya adalah pada saat demam, badan akan bertambah panas
untuk membunuh bakteri dan virus.

2.3.2 Dasar-Dasar Homeostasis

Ahli ilmu faal Amerika Serikat Walter Cannon mengajukan 4 postulat yang
mendasari homeostasis, yaitu:

1. Peran sistem saraf dalam mempertahankan kesesuaian lingkungan dalam


dengan kehidupan.

2. Adanya kegiatan pengendalian yang bersifat tonik.

3. Adanya pengendalian yang bersifat antagonistik.

4. Suatu sinyal kimia dapat mempunyai pengaruh yang berbeda di jaringan


tubuh berbeda.

23
2.3.3 Faktor-Faktor Lingkungan yang Dipertahankan Secara Homestatis

Faktor-faktor lingkungan internal yang harus dipertahankan secara homeostasis, yaitu


:

1. Konsentrasi molekul zat-zat gizi. Sel-sel membutuhkan pasokan molekul


nutrient yang tetap untuk digunakan sebagai bahan bakar metabolik untuk
menghasilkan energi. Energy kemudian digunakan untuk menunjang aktifitas-
aktifitas khusus dan untuk mempertahankan hidup.

2. Konsentrasi O2 dan CO2. Sel membutuhkan O2 untuk melakukan reaksi-reaksi


kimia yang menarik sebanyak mungkin energi dari molekul nutrien digunakan
oleh sel. CO2 yang dihasilkan selama reaksi-reaksi tersebut berlangsung harus
diseimbangkan dengan CO2 yang dikeluarkan oleh paru, sehingga CO2
pembentuk asam ini tidak meningkatkan keasaman di lingkungan internal.

3. Konsentrasi zat-zat sisa. Berbagai reaksi kimia menghasilkan proiduk-produk


akhir yang berefek toksik bagi sel apabila dibiarkan tertimbun melebihi batas
tertentu.

4. pH. Diantara efek-efek paling mencolok dari perubahan keasaman lingkungan


cairan internal adalah perubahan mekanisme pembentuk sinyal listrik di sel
saraf dan perubahan aktifitas enzim di semua sel.

5. Konsentrasi air,garam-garam, dan elektrolit-elektrolit lain. Karena konsentrasi


relative garam (NaCl) dan air di dalam cairan ekstrasel (lingkungan internal)
mempengaruhi berapa banyak air yang masuk atau keluar sel, konsentrasi
keduanya diatur secara ketat untuk mempertahankan volume sel yang sesuai.
Sel-sel tidak dapat berfungsi secara normal apabila mereka membengkak atau
menciut. Elektrolit lain memiliki bermacam-macam fungsi fital lainnya.
Sebagai contoh denyut jantung yang teratur bergantung pada konsentrasi
kalium di cairan ekstra sel yang relative konstan.

6. Suhu. Sel-sel tubuh berfungsi secara optimal dalam rentan suhu yang sempit.
Sel-sel akan mengalami perlambatanaktifitas yang hebat apabila suhunya
24
terlalu dingin dan yang lebih buruk protein-protein structural dan enzimatiknya
akan terganggu apabila suhunya terlalu panas.

7. Volume dan tekanan. Komponen sirkulasi pada lingkungan internal, yaitu


plasma, harus dipertahankan pada tekanan darah dan volume yang adekuat agar
penghubung vital antara sel dan lingkungan eksternal ini dapat terdistribusi ke
seluruh tubuh.

2.3.4 Kontribusi Berbagai Sistem bagi Homeostasis

Homeostasis sangat penting bagi kelangsungan hidup setiap sel, dan pada
gilirannya, setiap sel, melalui aktifitas khususnya masing-masing, turut berperan
sebagai bagian dari sistem tubuh untuk memelihara lingkungan internal yang
digunakan bersama oleh semua sel.

Terdapat sebelas sistem tubuh utama, kontribusi terpenting mereka untuk


homeostasis dicantumkan sebagai berikut:

1. Sistem Sirkulasi. Merupakan sistem transportasi yang membawa berbagai zat,


misalnya zat gizi, O2, CO2, zat-zat sisa, elektrolit, dan hormone dari satu bagian
tubuh ke bagian tubuh lainnya.

2. Sistem Pencernaan. Menguraikan makanan menjadi molekul-molekul kecil zat


gizi yang dapat diserap ke dalam plasma untuk didistribusikan ke seluruh sel. Sel
ini juga memindahkan air dan elektrolit dari lingkungan eksternal ke lingkungan
internal. Sistem ini mengeluarkan sisa-sisa makanan yang tidak dicerna ke
lingkungan eksternal melalui tinja.

3. Sistem Respirasi. Mengambil O2 dari udara dan mengeluarkan CO2 ke


lingkungan eksternal. Dengan menyesuaikan kecepatan pengeluaran CO2
pembentuk asam, sistem respirasi juga penting untuk mempertahankan pH
lingkungan internal yang sesuai.

4. Sistem Kemih. Mengeluarkan kelebihan garam, air, dan elektrolit lain dari plasma
melalui urine, bersama zat-zat sisa selain CO2.

25
5. Sistem Rangka. Memberi penunjang dan proteksi bagi jaringan lunak dan organ-
organ. Sistem ini juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan kalsium, suatu
elektrolit yang konsentrasinya dalam plasma harus dipertahankandalam rentang
yang sangat sempit. Bersama dengan sistem otot, sistem rangka juga
memungkinkan timbulnya gerakan tubuh dan bagian-bagiannya.

6. Sistem Otot. Menggerakkan tulang-tulang yang melekat kepadanya. Dari sudut


pandang homeostasis semata-mata, sistem ini memungkinkan individu mendekati
makanan dan menjauhi bahaya. Selain itu, panas yang dihasilkan oleh kontraksi
otot penting untuk mengatur suhu. Karena berada di bawah kontrol kesedaran,
individu mampu menggunakan otot rangka untuk melakukan bermacam gerakan
sesuai keinginan. Gerakan-gerakan tersebut, berkisar dari keterampilan motorik
halus yang diperlukan, misalnya untuk menjahit sampai gerakan-gerakan kuat
yang diperlukan untuk mengangkat beban, tidak selalu diarahkan untuk
mempertahankan homeostasis.

7. Sistem Integument. Berfungsi sebagai sawar protektif bagian luar yang


mencegahcairan internal keluar dari tubuhdan mikroorganisme asing masuk ke
dalam tubuh. Sistem ini juga penting dalam mengatur suhu tubuh. Jumlah panas
yang dikeluarkan dari permukaan tubuh ke lingkungan eksternal dapat
disesuaikan dengan mengatur produksi keringat dan dengan mengatur aliran
darah hangat ke kulit.

8. Sistem Imun. Mempertahankan tubuh dari seranganbenda asing dan sel-sel tubuh
yang telah menjadi kanker. Sistem ini juga mempermudah jalan untuk perbaikan
dan penggantian sel yang tua atau cedera.

9. Sistem Saraf. Merupakan salah satu dari dua sistem pengatur atau control utama
tubuh. Secara umum, sistem ini mengontrol dan mengkoordinasikan aktifitas
tubuhyang memerlukan respon cepat. Sistem ini sangat penting terutama untuk
mendeteksidan mencetuskan reaksi terhadap berbagai perubahan di lingkungan
internal. Selain itu, sistem ini akan bertanggung jawab atas fungsi lain yang lebih

26
tinggi yang tidak seluruhnya ditujukan untuk mempertahankan homeostasis,
misalnya kesadaran, ingatan, dan kreatifitas.

10. Sistem Endokrin. Merupakan sistem kontrol utainnya. Secara umum, kelenjar-
kelenjarpenghasil hormone pada sistem endokrin mengatur aktifitas yang lebih
mementingkan daya tahan (durasi) daripada kecepatan. Sistem ini terutama
penting untuk mengontrol konsentrasi zat-zat gizi dan dengan menyesuaikan
fungsi ginjal, mengontrol volume serta komposisi elektrolit lingkungan internal.

11. Sistem Reproduksi. Sistem ini tidak esensial bagi homeostasis, sehingga tidak
penting bagi kelangsungan hidup individu. Akan tetapi, sistem ini penting bagi
kelangsungan hidup suatu spesies.

2.3.5 Tahapan-tahapan Homeostasis

a. Homeostasis primer

Jika terjadi desquamasi dan luka kecil pada pembuluh darah, akan terjadi
homeostasis primer. Homeostasis primer ini melibatkan tunika intima
pembuluh darah dan trombosit. Luka akan menginduksi terjadinya
vasokonstriksi dan sumbat trombosit. Homeostasis primer ini bersifat cepat
dan tidak tahan lama. Karena itu, jika homeostasis primer belum cukup untuk
mengkompensasi luka, maka akan berlanjut menuju homeostasis sekunder.

b. Homeostasis Sekunder

Jika terjadi luka yang besar pada pembuluh darah atau jaringan lain,
vasokonstriksi dan sumbat trombosit belum cukup untuk mengkompensasi
luka ini. Maka, terjadilah hemostasis sekunder yang melibatkan trombosit dan
faktor koagulasi. Homeostasis sekunder ini mencakup pembentukan jaring-
jaring fibrin. Homeostasis sekunder ini bersifat delayed dan long-term
response. Kalau proses ini sudah cukup untuk menutup luka, maka proses
berlanjut ke homeostasis tersier.

c. Homeostasis Tersier
27
Homeostasis tersier ini bertujuan untuk mengontrol agar aktivitas
koagulasi tidak berlebihan. Homeostasis tersier melibatkan sistem fibrinolisis.

2.3.6 Ketidakseimbangan Homeostasis

Jika satu atau lebih sistem tubuh gagal berfungsi secara benar, homeostasis
terganggu dan semua sel akan menderita karena mereka tidak lagi memperoleh
lingkungan yang optimal tempat mereka hidup dan berfungsi. Muncul beberapa
keadaan patofisiologis. Patofisiologis mengacu kepada abnormalitas fungsional tubuh
(perubahan fisiologi) yang berkaitan dengan penyakit. Jika gangguan terhadap
homeostasis menjadi sedemikian berat sehingga tidak lagi memungkinkan
kelangsungan hidup, timbul kematian.

Hampir semua penyakit merupakan kegagalan tubuh mempertahankan


homeostasis. Keberadaan seseorang di lingkungan sangat dingin tanpa pakaian dan
perlindungan dapat berakibat fatal jika tubuhnya gagal mempertahankan suhu
sehingga suhu tubuh turun. Hal ini disebabkan oleh terganggunya proses-proses
enzimatik sel yang sangat bergangtung pada suhu tertentu.

Contoh lain adalah kehilangan darah dalam jumlah yang kecil mungkin tidak
fatal karena tubuh masih mampu mengkompensasi kehilangan tersebut dengan cara
meningkatkan tekanan darah mereabsorpsi cairan di ginjal, dsb. Tetapi bila
kehilangan darah terjadi dalam jumlah yang besar, upaya untuk mengkompensasi
tubuh mungkin tidak memadai sehingga berakibat fatal.

Tanggung jawab dokter dan para medis adalah untuk perawatan intensif untuk
pasien-pasien yang gawat. Berbagai indicator homeostasis akan dipantau di unit
intensif seperti frekuensi denyut jantung, tekanan darah, frekuensi pernapasan, suhu
tubuh, kimia darah, dan mengatur keluarnya cairan tubuh. Tujuan unit adalah untuk
mengambil alih fungsi homeostasis yang tidak dapat dilaksanakan oleh pasien yang
sedang sakit parah sehingga tidak mampu melakukan proses homeostasis sendiri.

2.4 PROSES OKSIGENASI

28
Kebutuhan oksigenasi adalah kebutuhan dasar manusia dalam pemenuhan
oksigenyang digunakan untuk kelangsungan metabolisme sel tubuh, mempertahankan
hidupdan aktivitas berbagai organ atau sel (Potter & Perry, 2005). Tanpa oksigen
dalamwaktu tertentu sel tubuh akan mengalami kerusakan yang menetap dan
menimbulkankematian. Otak merupakan organ yang sangat sensitif terhadap kekurangan
oksigen.Otak masih mampu mentoleransi kekurangan oksigen hanya 3-5 menit.
Apabilakekurangan oksigen berlangsung lebih dari 5 menit, dapat terjadi kerusakan sel
otaksecara permanen (Kozier dan Erb, 1998).

Proses oksigenasi terdiri dari 3 bagian, yaitu :

1. Ventilasi yaitu masuk dan keluarnya udara atmosfir dari alveolus ke paru-paru atau
sebaliknya. Proses keluar masuknya udara paru-paru tergantung pada perbedaan tekanan
antara udara atmosfir dengan alveoli. Pada inspirasi, dada ,mengembang, diafragma
turun dan volume paru bertambah. Sedangkan ekspirasi merupakan gerakan pasif.

Faktor-faktor yang mempengaruhi ventilasi :

a. Tekanan udara atmosfir


b. Jalan nafas yang bersih
c. Pengembangan paru yang adekuat

2. Difusi yaitu pertukaran gas-gas (oksigen dan karbondioksida) antara alveolus dan kapiler
paru-paru.

Proses keluar masuknya udara yaitu dari darah yang bertekanan/konsentrasi lebih
besar ke darah dengan tekanan/konsentrasi yang lebih rendah. Karena dinding alveoli
sangat tipis dan dikelilingi oleh jaringan pembuluh darah kapiler yang sangat rapat,
membran ini kadang disebut membran respirasi.

Perbedaan tekanan pada gas-gas yang terdapat pada masing-masing sisi membran
respirasi sangat mempengaruhi proses difusi. Secara normal gradien tekanan oksigen antara
alveoli dan darah yang memasuki kapiler pulmonal sekitar 40 mmHg.

29
Faktor-faktor yang mempengaruhi difusi :

a. Luas permukaan paru


b. Tebal membran respirasi
c. Jumlah darah
d. Keadaan/jumlah kapiler darah
e. Afinitas
f. Waktu adanya udara di alveoli

3. Transpor yaitu pengangkutan oksigen melalui darah ke sel-sel jaringan tubuh dan
sebaliknya karbondioksida dari jaringan tubuh ke kapiler.

Oksigen perlu ditransportasikan dari paru-paru ke jaringan dan karbondioksida


harus ditransportasikan dari jaringan kembali ke paru-paru. Secara normal 97 % oksigen
akan berikatan dengan hemoglobin di dalam sel darah merah dan dibawa ke jaringan
sebagai oksihemoglobin. Sisanya 3 % ditransportasikan ke dalam cairan plasma dan sel-sel.

Faktor-faktor yang mempengaruhi laju transportasi :

a. Curah jantung (cardiac Output / CO)


b. Jumlah sel darah merah
c. Hematokrit darah
d. Latihan (exercise)

2.5 Tanda dan gejala kecukupan oksigen pada anak, dewasa, dan lansia

A. Hipoksia
Hipoksia adalah kekurangan O2 di tingkat jaringan atau defisiensi oksigen karena
berkurangnya kadar O2 dibandingkan kadar normalnya secara fisiologis dalam jaringan dan
Organ.
Tanda dan gejala hipoksia : Rasa cemas, takut, ansieas, tidak mampu berkonsentrasi,
penurunan tingkat kesadaran, pusing, perubahan perilaku, disorientasi, peningkatan
keletihan, peningkatan frekuensi nadi, peningkatan frekuensi serta kedalaman pernapasan,

30
peningkatan tekanan darah, disritmia jantung (gangguan irama jantung), pucat, sianosis
(suatu perubahan warna kulit dan membrane mukosa menjadi kebiruan akibat adanya
hemoglobin yang ersaturasi di kapiler), Clubbing dan Dispnea.
Secarumum hipoksia dibagi dalam empat jenis, keempa kategori hipoksia adalah
sebagai berikut :
1. Hipoksia hiposik yaitu bila PO2 darah dari arteri berkurang.
2. Hipoksi anemic yaitu bila PO2 darah arteri normal namun jumlah hemoglobin yang
tersedia untuk mengangkut O2 berkurang. Saat istirahat, hipoksia akibat anemia
tidaklah berat, meskipun begitu penderita anemia mengalami kesulitan cukup besar
waktu melakukan aktivitas fisik karena adanya keterbatasan kemampuan untuk
meningkatkan pengangkutan O2 ke jaringan yang aktif.
3. Hipoksia stagnan atau istemik yaitu bila aliran darah ke jaringan sangat rendah
sehingga O2 yang dihantarkan ke jaringan tidak cukup, meskipun PO2 dan
konsentrasi hemoglobin normal. Hipoksia akibat sirkulas yang lambat merupakan
masalah bagi organ seperti ginjal dan jantung saat terjadi syok. Hati dan mungkin
jaringan otak mengalami kerusakan akibat hiposia stagnan pada gagal jantung
kongestif. Pada keadaan normal, aliran daran ke paru-paru sangat besar, dan
dibutuhkan hipotensi jangka panjang untuk menimbulkan kerusakan yang berarti.
4. Hipoksia Histotoksik, yaitu bila jumlah O2 yang dihantarkan ke jaringan memadai,
namun oleh karena kerja suatu agen toksik, sel jaringan tak mampu menggunakan O2
yang diberikan. Hipoksia yang diberikan oleh hambatan proses oksidasi jaringan
paling sering disebabkan keracunan sianida. Sianida menghambat sitokrom oksidase
dan mungkin beberapa enzim lainnya. Biru metilen atau nitrit digunakan untuk
mengobati keracunan sianida. Zat-zat tersebut bekerja dengan membentuk
methemoglobin, yang akan bereaksi dengan sianida, menghasilka
sianmethemoglobin,
yakni suatu senyawa non-toksik. Kemampuan pengobatan dengan menggunakan
senyawa ini tentu saja terbatas pada jumlah methemoglobin yang dapat terbentuk
dengan aman. Pemberian terapi oksigen hiperbarik juga dapat bermanfaat.

Hipoksia dapat disebabkan oleh :

31
1. Penurunan kadar hemoglobin dan penurunan kapasitas darah yang membawa O2.
2. Penurunan konsentrasi oksigen yang diinspirasi
3. Ketidakmampuan jaringan untuk mengambil O2 dari darah, seperti yang terjadi pada
kasus keracunan sianida.
4. Penurunan difusi O2 dari alveoli ke darah, seperti pada kasus pneumonia
5. Perfusi darah yang mengandung oksigen di jaringan yang buruk, seperti yang terjadi
pada syok.
6. Kerusakan ventilasi, seperti yang terjadi pada fraktura iga multiple atau trauma dada.

Gejala-gejala hipoksia umum tergantung pada tingkat keparahan dan percepatan onset.
Dalam kasus penyakit ketinggian, dimana hipoksia mengembangkan secara bertahap,
gejala-gejala termasuk sakit kepala, kelelahan, sesak napas, perasaan euforia dan mual.
Pada hipoksia berat, atau hipoksia onset yang sangat cepat, perubahan tingkat kesadaran,
kejang, koma, priapisme, dan kematian terjadi. parah hipoksia menginduksi perubahan
warna biru pada kulit, yang disebut sianosis. Karena hemoglobin merah gelap bila tidak
terikat untuk oksigen (deoxyhemoglobin), yang bertentangan dengan warna merah kaya
yang telah ketika terikat oksigen (oksihemoglobin), jika dilihat melalui kulit ini memiliki
kecenderungan meningkat untuk memantulkan cahaya biru kembali ke mata. Dalam kasus
di mana oksigen dipindahkan oleh molekul lain, seperti karbon monoksida, kulit mungkin
muncul 'ceri merah' bukan cyanotic.
Pengobatan hipoksia Untuk mengatasi pengaruh dari-ketinggian penyakit tinggi, tubuh
harus kembali arteri PO2 menuju normal. Aklimatisasi, cara-cara yang tubuh beradaptasi
dengan ketinggian yang lebih tinggi, hanya sebagian mengembalikan PO2 ke tingkat
standar. Hiperventilasi, tubuh yang paling umum respon terhadap kondisi ketinggian-tinggi,
meningkatkan alveolar PO2 dengan meningkatkan kedalaman dan tingkat pernapasan.
Namun, sementara PO2 tidak membaik dengan hiperventilasi, tidak kembali normal. Studi
penambang dan astronom yang bekerja di 3000 meter dan di atas menunjukkan peningkatan
alveolar PO2 dengan aklimatisasi penuh, namun tingkat PO2 tetap sama dengan atau
bahkan di bawah ambang batas untuk terapi oksigen terus-menerus untuk pasien dengan
penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Selain itu, ada komplikasi terlibat dengan
aklimatisasi. Polycythemia, di mana tubuh akan meningkatkan jumlah sel darah merah

32
dalam sirkulasi, mengental darah, meningkatkan bahaya bahwa jantung tidak dapat
memompa itu.

B. Hipokapnia
Hipokapnia adalah CO2 darah arteri lebih rendah dari normal. Hipokapnia juga
merupakan penurunan jumlah karbon dioksida dalam darah yang disebabkan oleh
hiperventilasi (pernafasan cepat). Saat melakukan hiperventilasi volunteer, PCO2 darah
arteri akan turun dari 40mmHg sampai serendah 15 mmHg, sementara PO2 alveolus
meningkat sampai 120-140 mmHg. Tanda dan Gejala Hipokapnia : Sering mendesah,
menguap, pusing, palpitasi, tangan dan kaki kesemutan, baal, kedutan otot, kejang
C. Hiperkapnia
Hiperkapnia adalah peningkatam kadar CO2 dalam cairan tubuh dan sering disertai
dengan hipoksia. Penyeabab utama hiperkapnia adalah penyakit obstruktif saluran napas,
obat-obat yang menekan fungsi pernapasan, trauma dada atau pembedahan abdominal yang
mengakibatkan pernapasan menjadi dangkal, dan kehilangan jaringan paru.

Tanda hiperkapnia adalah :


kekacauan mental yang berkembang menjadi koma, sakit kepala (vasodilatasi
serebral), asteriksis atau tremor kasar pada tangan (flaping tremor), disertai tangan dan kaki
yang terasa panas dan berkeringat (akibat vasodilatasi perifer karena hiperkapnia).
Pada penderita dengan gejala tersebut didapatkan peningkatan PCO2 yang tinggi,
asidosis respiratorik berat, dan kadar HCO3 plasma yang dapat melebihi 40 meq/L.
Sejumlah besar HCO3 akan diekskresikan, namun HCO3 yang direabsorpsi lebih banyak
lagi sehingga HCO3 plasma meningkat dan mengkompensasi sebagaian asidosis.
Hiperkapnia kronik akibat penyakit paru kronik dapat mengakibatkan pasien sangat
toleran terhadap PaCO2 yang tinggi, sehingga pernapasan terutama dikendalikan oleh
hipoksia. Dalam keadaan ini, bila diberikan oksigen, pernapasan akan dihambat sehingga
hiperkapnia bertambah berat. Beberapa mekanisme yang dapat menyebabkan hiperkapnia
adalah Drive respiratori yang insufisien, defek ventilatori pump, beban kerja yang

33
sedemikian besar sehingga terjadi kecapaian pada otot pernafasan dan penyakit intrinsik
paru.

D. Hipoventilasi
Hipoventilasi merupakan penyebab hiperkapnia yang paling sering. Selain
meningkatnya PaCO2 juga terdapat asidosis respirasi yang sebanding dengan kemampuan
bufer jaringan dan ginjal. Penyebab hipoventilasi global adalah overdosis obat yang
menekan pusat pernafasan. Penyebab terjadinya hiperventilasi adalah pernafasan yang
sangat cepat dan dalam yang menyebabkan terlalu banyak jumlah karbondioksida yang
dikeluarkan dari aliran darah. Jika cemas berkurang dan napas kembali normal, maka
hiperventilasi akan mereda. Penyebab yang paling sering ditemukan adalah kecemasan.
Penyebab lain dari alkalosis respiratorik : rasa nyeri, sirosis hati, kadar oksigen darah
rendah, demam, over doosis aspirin.
Pada klien yang menderita penyakit obstruksi paru, pemberian oksigen yang
berlebihan dapat mengakibatkan hipoventilasi. Klien ini beradaptasi terhadap kadar karbon
dioksida yang tinggi dan kemoreseptor yang peka pada karbon dioksida yang tinggi dan
kemoreseptor yang peka pda hakikatnya tidak berfungsi. Klien ini terstimulus untuk
bernapas jika PaO2 menurun. Apabila jumlah oksigen yang diberikan berlebihan, maka
kebutuhan oksigen dipenuhi dan stimulus untuk bernapas negative. Konsentrasi oksigen
yang tinggi (misalnya lebih besar dari 24% sampai 28% ,1 sampai 3 Liter/menit) mencegah
penurunan PaO2 dan menghilangkan stimulus untuk bernafas, sehingga terjadi
hipoventilasi. Retensi CO2 yang berlebihan menyebabkan nafas terhenti.

Tanda dan gejala hipoventilasi alveolar


Pusing ,Nyeri kepala (dapat dirasakan di daerah oksiptal hanya saat terjaga,
Disorientasi , Penurunan kemampuan mengikuti instruksi , Disritmia jantung
,Ketidakseimbangan elektrolit, Konvulsi, Koma

34
E. Hiperventilasi
Merupakan upaya tubuh dalam meningkatkan jumlah O2 dalam paru-paru agar
pernafasan lebih cepat dan dalam.
Penyebab Dan Mekanisme
Biasanya disebabkan oleh tekanan psikis / stres psikis misalnya histeria, takut yang
berlebihan, sedih yang berlebihan atau marah. Napas yang berlebihan menyebabkan
perubahan kimiawi darah yaitu meningkatkan level pH menjadi alkalis.
Penyebab terjadinya hiperventilasi adalah pernafasan yang sangat cepat dan dalam
yang menyebabkan terlalu banyak jumlah karbondioksida yang dikeluarkan dari aliran
darah. Jika cemas berkurang dan napas kembali normal, maka hiperventilasi akan mereda.
Penyebab yang paling sering ditemukan adalah kecemasan. Penyebab lain dari
alkalosis respiratorik : rasa nyeri, sirosis hati, kadar oksigen darah rendah, demam, over
doosis aspirin. Gejala alkalosis respiratorik dapar membuat penderita cemas dan dapat
menyebabkan rasa gatal pada sekitar bibir dan wajah. Jika keadaan makin memburuk bisa
terjadi kejang otot dan penurunan kesadaran.
Hiperventilasi juga disebabkan kimiawi. Keracunan salsilat (aspirin) memyebabkan
kelebihan stimulus pada pusat pernapasan karena tubuh berusaha mengompensasi
kelebihan karbon dioksida. Amfetamin juga meningkatkan ventilasi dengan meningkatkan
produksi karbon dioksida. Hiperventilasi juga dapat terjadi ketika tubuh berusaha
mengompensasi asidosis metabolic dengan memproduksi alkalosis respiratorik. Ventilasi
meningkat untuk menurunkan jumlah karbon dioksida yang tersedia untuk membentuk
asam karbonat.
Pengobatan yang dibutuhkan adalah perlambatan pernafasan jika penyebabnya
adalah kecemasan, memperlambat pernafaan dapat meredakan penyakit ini. Jika
penyebabnya adalah rasa nyeri, berikan obat pereda rasa nyeri. Atau menghembuskan nafas
dalam kantong kertas, dapat membantu meningkatkan karbondioksida, setelah penderita
menghirup karbondioksida yang telah dihembuskan sebelumnya. Pilihan ini adalah
mengajarkan penderita untuk menahan nafas selama mungkin. Kemudian menarik nafas
dangkal dan menahan nafas kembali hal ini dilakukan berulang kali dalam satu rangkaian
sebanyak 6 kali sampai 10 kali. Apabila kadar karbondioksida mulai meningkat itu berarti

35
gejala hiperventilasi mulai membaik, sehingga mengurangi kecemasan penderita dan
menghentikan serangan alkalosis respiratorik.
Tujuan ventilasi ialah menghasilkan tegangan karbon dioksida di arteri yang normal dan
mempertahankan tegangan oksigen di arteri yang normal. Hiperventilasi dan hipoventilasi
berkaitan dengan ventilasi alveolar dan bukan berkaitan dengan frequensi pernapasan klien.
Hiperventilasi merupakan suatu kondisi ventilasi yang dibutuhkan untuk mengeliminasi
karbon dioksida normal di vena,yang diproduksi melalui metabolisme seluler.
Hiperventilasi dapat disebabkan oleh : Ansietas (kecemasan) , Infeksi ,Obat-obatan ,
Ketidakseimbangan asam basa ,Hipoksia yang dikaitkan dengan embolus paru atau syok

36
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Reproduksi sel membahas tentang macam pembelahan sel, mekanisme


pembelahannya, serta contoh dari pembelahan sel. Reproduksi sel bertujuan untuk
menambah jumlah dan jenis sel , atau membentuk sel-sel lain dengan tujuan tertentu. Ada
tiga jenis pembelahan sel yaitu amitosis mitosis dan meiosis.

Genetika adalah ilmu yang mempelajari pewarisan sifat keturunannya dimana


substansi genetika sendiri meliputi materi atau bahan pembawa sifat genetic ayitu
kromososm yang terdiri dari proteindan asam nukleat.

Homeostasis adalah suatu proses perubahan yang terus menerus atau suatu keadaan
tubuh untuk mempertahankan keseimbangan dalam menghadapi kondisi yang dialaminya
yang sifatnya dinamis yang berlangsung secara konstan, dan terjadi pada setiap organisme.
Kebutuhan oksigen adalah kebutuhan dasar manusia dalam pemenuhan oksigen
yang digunakan dalam kelangsungan metabolism sel tubiuh, mempertahankan kehidupan
aktivitas berbagai organ atau sel. Proses oksigenisasi yaitu ventilasi, difusi, dan transport.
Beberapa tanda dan gejala kecukupan oksigenisasi pada anak, dewasa, dan lansia :
hipoksia, hipokapnia, hiperkapnia, hipoventilasi, dan hiperventilasi.

3.2 Saran
Dalam penulisan ini kami harap dapat menambah wawasan dan pengetahuan
pembaca tentang reproduksi, genetika, homeostasis dan konsep oksigenisasi. Penulis
menyarankan kepada pembaca supaya mempelajari dan menelaah makalah ini sebagai
referensi dalam belajar.

37
DAFTAR PUSTAKA

Aryulina, Diah. C. Muslim. Dkk. 2006. Biologi SMA dan MA Untuk kelas XII. Jakarta : PT.
Gelora Aksara Pratama.

Muzaki, Ahmad., 2014. Pengertian homeostasis. ahmadmuzaki47. blogspot.com/2014/04/


pengertian-homeostasis-ialah.html?m=1/ diakses pada tanggal 11 November 2019 , pukul
09.28 wib.
Siagian, Minarma., 2004. Homeostasis. Departemen Ilmu Faal F K U I, Jakarta.Wikipedia.,
2013. Homeostasis. www.wikipedia.org/wiki/homeostasis/ diakses pada tanggal 11
November 2019, pukul 09.30 wib.

Anonym. 2018. Materi genetika"https://rumushitung.com/2018/08/11/materi-genetika/"


https://rumushitung.com/2018/08/11/materi-genetika/ diakses pada tanggal 11 November
2019.

Dhani. 2014. Proses oksigenisasi http://keperawatandhani.blogspot.com/2014/10/proses-


oksigenasi.html?m=1, diakses pada 11 November 2019

38