Anda di halaman 1dari 11

PEMBAHASAN

1. Pengertian Akidah
Hasan Al-Banna mengatakan bahwa aka’id (bentuk jamak dari
akidah) artinya beberapa perkara yang wajib diyakini kebenarannya oleh
hatimu, mendatangkan ketentraman jiwa, menjadi keyakinan yang tidak
tercampur sedikipun dengan keragu–raguan. (1)

Abu Bakar Jabir Al-Jazairy mngatakan bahwa akidah adalah


sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum oleh manusia
berdasarkan akal, wahyu, dan fitrah. Kebenaran itu dipatrikan oleh
manusia didalam hati dan diyakini kesahihan dan kebenarannya secara
pasti dan ditolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu.
(1)

Berdasarkan kedua pengertian tersebut, dapatlah ditarik beberapa butir


kesimpulan berikut.

 Setiap manusia memiliki fitrah tentang adanya tuhan yang didukung


oleh hidayah Allah berupa indera, akal, agama (wahyu), dan
taufiqiyyah (sintesis antara kehendak Allah dan kehendak manusia).
Oleh karena itu, manusia yang ingin mengenal Tuhan secara baik
harus mampu memfungsikan hidayah-hidayah tersebut.
 Keyakinan sebagai sumber utama akidah itu tidak boleh bercampur
dengan keraguan.
 Akidah yang kuat akan melahirkan ketenteraman jiwa.
 Tingkat akidah seseorang bergantung pada tingkat pemahamannya
terhadap ayat-ayat qauliyyah(Ayat-ayat di dalam Al-Qur’an) dan
qauniyyah (uraian yang terdapat di dalam Al-Qur’an tentang berbagai
persoalan hidup dan kehidupan, antara lain menyangkut alam raya
dan fenomenanya). (1)
Akidah biasanya dijumbuhkan dengan istilh iman, yaitu ‘’sesuatu
yang diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan
anggota tubuh’’. Akidah juga dijumbuhkan dengan istilh tauhid, yakni
mengesakan Allah (tauhidullah).(1)

Akidah menurut etimologi, berasal dari kata Aqada-ya’qidu,


‘aqdan, ‘aqidatan. Aqdan memiliki arti perjanjian, simpul, ikatan dan
kokoh. Setelah terbentuk menjadi aqidah berarti kepercayaan, keyakinan
atau iman. Aqidah adalah keyakinan itu tersimpul dengan kokoh di dalam
hati, bersifat mengikat dan mengandung perjanjian Sementara itu dari
segi istilah, akidah atau iman adalah jika seseorang telah mengikrarkan
dengan lisan, meyakini dalam hati, dan mengamalkan apa yang diimani
dalam perbuatan sehari-hari.(1)

Akidah adalah ilmu yang mengajarkan manusia mengenai


kepercayaan yang pasti wajib dimiliki oleh setiap orang di dunia. Al
quran mengajarkan akidah tauhid kepada kita yaitu menanamkan
keyakinan terhadap Allah SWT yang tidak pernah tidur dan tidak beranak
– pinak. Orang yang percaya kepada Allah SWT adalah salah satu bukti
rukun iman yang pertama.

Akidah adalah prilaku yang dimiliki oleh manusia, baik ahlak yang
terpuji atau aklakul karimah maupun tercela atau akhlakul mazmumah.

2. Ruang Lingkup Aqidah


A. Aqidah Pokok 
Aqidah Islam berawal dari keyakinan kepada zat mutlak Yang
Maha Esa yang disebut Allah. Allah Maha Esa dalam zat, sifat,
perbuatan dan wujudnya. Kemaha-Esaan Allah dalam zat, sifat,
perbuatan dan wujdunya itu disebut tauhid. Tauhid menjadi inti rukun
iman.(5)
Hasan Al-Banna menunjukkan empat bidang yang berkaitan dengan
lingkup pembahasan mengenai Akidah Islam yaitu:
1. Ilahiyyat, yaitu pembahasan tentang segala susuatu yang
berhubungan dengan Illah (Tuhan, Allah), seperti wujud Allah,
asma Allah, sifat-sifat yang wajib ada pada Allah, dan lain-lain.
2. Nubuwwat,  pembahasan tentang segala sesuatu yang
berhubungan dengan Rasul-rasul Allah, termasuk Kitab Suci,
mukjizat, dan lain-lain.
3. Ruhaniyyat, yaitu tentang segala sesuatu yang berhubungan
dengan alam roh atau metafisik seperti malaikat, jin, iblis, setan,
roh, dan lain-lain.
4. Sam'iyyat, yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang hanya
bisa diketahui lewat sam'i, yakni dalil Naqli berupa Al-quran dan
as-Sunnah seperti alam barzkah, akhirat dan Azab Kubur, tanda-
tanda kiamat, Surga-Neraka dan lain-lain. (1)
Tidak hanya diatas namun pembahasan Aqidah juga dapat
mengikuti Arkanul iman yaitu :
1) Iman kepada Allah dan segala sifat-sifatNya.
2) Iman kepada Malaikat (termasuk pembahasan tentang makhluk
rohani lainnya seperti Jin, iblis dan Setan).
3) Iman kepada kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada rasul.
4) Iman kepada Nabi dan Rasul.
5) Iman kepada hari akhir serta peristiwa-peristiwa yang terjadi pada
saat itu .
6) Iman kepada takdir (qadha dan qadar) Allah (1)
Menurut ulama-ulama lain, ada juga yang berpendapat jika
ruang lingkup akidah adalah :
1. Iman, (‫)اإليم==ان‬, adalah sesuatu yang diyakini di dalam hati,
diucapkan dalam lisan, dan diamalkan dengan anggota tubuh.
 Iman kepada Allah
 Iman kepada para malaikatNya
 Iman kepada kitab-kitab suciNya
 Iman kepada nabi dan rasul-rasulNya
 Iman kepada hari akhir
 Iman kepada Qada dan Qadar
2. Tauhid, (‫)توحيد‬, adalah konsep dalam aqidah Islam yang
menyatakan keesaan Allah. Pembagian aqidah tauhid :
 Tauhid Al-Uluhiyyah, mengesakan Allah dalam ibadah,
yakni beribadah hanya kepada Allah dan karenaNya
semata.
 Tauhid Ar-Rububiyyah, mengesakan Allah dalam
perbuatanNya, yakni mengimani dan meyakini bahwa
hanya Allah yang mencipta, menguasai dan mengatur alam
semesta ini
 Tauhid Al-Asma'was-Sifat, mengesakan Allah dalam asma
dan sifatNya, artinya mengimani bahwa tidak ada makhluk
yang serupa dengan Allah, dalam dzat, asma maupun sifat.
3. Ibadah, adalah perbuatan atau pernyataan bakti terhadap Allah yg
didasari oleh peraturan agama (syar’i). Ibadah ada 2 jenis, yaitu
ibadah maghdah (ibadah yang berhubungan langsung dangan
Allah SWT: shalat, puasa, haji) dan ibadah ghairu maghdah
(ibadah yg berhubungan antara sesama manusia, seperti infaq dan
sedekah).
4. islam, adalah agama yang mengimani satu tuhan yaitu Allah.
Pengikut ajaran Islam disebut muslim (seorang yang tunduk
kepada tuhan).
B. Aqidah Cabang
Yang dimaksud aqidah cabang adalah cabang-cabang aqidah yang
pemahamannya bervariasi dari masing-masing aspek rukun iman yang
enam. Misalnya munculnya perbedaan pendapat dalam membicarakan zat
Tuhan, sifat Tuhan, dan perbuatan Tuhan. Misalnya dalam soal zat
Tuhan, muncul pertanyaan apakah Tuhan berjisim atau tidak. Dalam
masalah sifat Tuhan apakah Tuhan mempunyai sifat? Dalam soal
perbuatan, apakah tuhan wajib melakukan perbuatan? Dalam soal percaya
kepada malaikat, apakah iblis termasuk golngan malaikat? Delam soal
iman kepada kitab, apakah wahyu makhluk atau bukan. Semua isu tesebut
muncul setelah umat Islam terpecah atas beberapa golongan seperti
Syiah, Khawarij, dan Ahlus Sunnah wal Jamaah.(8)

3. Peran dan Kedudukan Akidah Dalam Kehidupan Muslim

Peran dan kehidupan Akidah manusia dalam kehidupan muslim


sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Akidah manusia di
dunia ini terkadang mudah terpengaruh pada berbagai kehidupan
kekuatan tertentu seperti sesaji, pohon, batu, takhayul, dll. Padahal akidah
sebenarnya akan lebih kuat bila manusia itu bertauhid karena kamampuan
akal pikiran yang dimiliki memiliki sikap rasionalistik bahwa Tuhan
YME itu patut disembah, ditakuti, dan dipuja-puja hingga akhir kiamat
tiba. Hal tersebut dapat mengukuhkan hati kita agar tidak terpengaruh
pada kehidupan yang gaib dan mengantarkan pada jalan yang benar.

Ada beberapa faktor penyebab luluhnya akidah tersebut:

1. Manusia terlalu mengagungkan kemampuan akal, seolah-olah bahwa


kehidupan di dunia ini diatut oleh akal bukan Tuhan.
2. Manusia mudah terkelabui oleh kekuatan-kekuatan semua(pseudo-
forces) yang menjerumuskan pada kehidupan takhayul-takhayul.
3. Manusia terlalu membesarkan kehidupan duniawi seperti
harta,tahta,dll sehingga lalai akan kehidupan kekal di akhirat. Manusia
yang lalai akan kahidupan akhirat dan meremehkan Tuhan.
4. Manusia memiliki kemampuan menciptakan simbol-simbol baru yang
menganggapnya sebagai kemajuan, sehingga lalai pada ketauhidan
murni Tuhan Yang Maha Esa. Misalnya bahwa kemajuan Iptek di
masa kini dipandang lebih hebat daripada kekuatan berzikir sehingga
kekuatan iptek secara perlahan digantikan oleh Iptek.(1)

Sebaliknya faktor-faktor yang memperkuat ketauhidan Allah antara lain:


1. Sikap selalu memperbarui syahadat sehingga orang yang bersangkutan
terjaga dari perbuatan-perbuatan yang mengarah kemusyrikan.
2. Tidak mudah terpengaruh oleh situasi yang cepat berubah seperti
menjanjikan hasil secara cepat (budaya instan). Sesuatu yang cepat
berubah akan cepat pula usang.
3. Sikap asyik dalam beribadah sehingga membentuk pribadi yang kokoh
dan tidak mudah tergoda oleh pesona kehidupan duniawi.
4. Sikap berhati-hati dalam ibadah dan ada rasa kekahwatiran bahwan
ibadahnya masih jauh dari sempurna.
5. Sikap tawakal yang tidak menenggelamkan pemikiran akal sehingga
tidak terpuruk pada sikap fatalistik (mudah putus asa).
6. Sikap menyadari kelemahan dirinya sebagai manusia, terutama
godaan hawa nafsu, sehingga senantiasa memohon perlindungan
Allah. (1)

Kemahaperkasaan Allah terlihat dalam QS Faathir:44 yang berarti


“Apakah mereka tidak berjalan dimuka bumi lalu melihat
bagaimana orang-orang yang sebelum mereka sedangkan orang-orang itu
lebih besar kekuatannya daripada mereka? Dan tiada sesuatupun yang
dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.”(1)

Selain itu sumber kekuatan dalam segala sesuatu sebagaimana


tersurat dalam QS. Al-A’raaf: 188 yang berarti:

“Katakanlah (Muhammad), ‘Aku tidak berkuasa menarik


kemanfaatan dari diriku dan tidak pula (menolak) kemudharatan kecuali
yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib,
tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan
ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan
pembawa berita berita gembira bagi orang-orang yang diterima.”(1)

Konsep kekuatan manusia dalam akidah didasari tiga unsur, yakni:

1. Manusia diberi tugas sebagai khalifah di muka bumi sebagaimana


Firman-Nya dalam QS Al-Baqarah: 30 yang berbunyi: “Ingatlah
ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, ‘Sesungguhnya Aku
hendak menjadikan khalifah di muka bumi’. Mereka berkata:
Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di muka bumi itu
orang yang akan membuat kerusaka di muka di dalamnya dan
menumpahkan darah, padahal senantiasa bertasbih dan memuji
Engkau dan menyucikan-Mu?’ Allah berfirman: “sesungguhnya aku
mengetahu apa yang kam tidak kamu ketahui”.
2. Ditundukkannya alam semesta bagi manusia karena alam diciptakan
untuk dimanfaatkan oleh manusia sebagaimana dalam QS
Luqman:20,29 yang berbunyi: 20. Tidaklah kamu perhatikan
sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa
yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakn untukmu
ni’mat-Nya lahir dan batin. Dan diantara manusia dan yang
membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan dan
petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan. 29. Tidaklah
kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan
malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan
Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai
kepada waktu yang ditentukan, dan sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
3. Manusia dimuliakan dan dipandang oleh Allah sebagai makhluk
terbaik sebagaimana diterangkan dalam QS Al-Isra:70 yang berbunyi:
Dan sesungguhnya Kamu telah muliakan anak-anak Adam, Kami
angkat mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka dari rezeki
yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang
sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.(1)

4.   Hubungan Akidah Dengan Akhlak


Akhlak dalam bahasa Arab adalah tabiat, watak, budi pekerti.
Akhlak adalah tingkah laku yang dipengaruhi oleh nilai-nilai yang
diyakini oleh seseorang dan sikap yang menjadi sebagian daripada
kepribadiannya. Akhlak menurut Al-Ghazali adalah sifat yang tertanam
dalam hati yang menimbulkan kegiatan dengan ringan dan mudah tanpa
pemikiran sebagai pertimbangan.
Ruang lingkup akhlak :
1. Akhlak terhadap Allah (bersyukur, beribadah, beriman, bertaqwa)
2. Akhlak terhadap manusia (gotong royong, bersedekah,
bermusyawarah)
3. Akhlak terhadap lingkungan (menjaga keseimbangan alam, tumbuhan,
dan hewan)
Beberapa alasan betapa pentingnya akhlak di dalam Islam :

1. Faktor penentu derajat seseorang

2. Akhlak merupakan buah ibadah

3. Keluhuran akhlak adalah amal terberat di akhirat

4. Lambang kualitas masyarakat

5. Untuk membentuk aqidah yang baik


Dengan akhlak yang baik seseorang akan bisa memperkuat akidah
dan bisa menjalankan ibadah dengan baik dan benar, dengan itu ia akan
mampu mengimplementasikan tauhid ke dalam akhlak yang mulia
(Akhlakul Karimah). Karena barang siapa mengetahui Sang Penciptanya
dengan benar, niscaya ia akan dengan mudah berperilaku baik
sebagaimana perintah Allah. Sehingga ia tidak mungkin menjauh atau
bahkan meninggalkan perilaku yang telah ditetapkan –Nya.
Sumber aqidah Islam adalah Al-Qur’an dan Hadits. Fungsi aqidah
sebagai dasar / pondasi, jika memiliki aqidah yang kuat maka seseorang
akan melaksanakan ibadah dengan tertib, memiliki akhlak yang mulia.
Ibadah seseorang tidak akan diterima Allah jika tidak dilandasi dengan
aqidah dan juga sebagai dasar bagi segala tindakan muslim agar tidak
terjerumus ke dalam perilaku syirik.
Hubungan manusia dengan Allah SWT dan kelakuannya terhadap
Allah SWT. Ditentukan mengikut nilai-nilai aqidah yang ditetapkan.
Begitu juga akhlak terhadap manusia dicorakkan oleh nilai-nilai aqidah
seorang muslim, sebagaimana yang ditetapkan di dalam Al-Qur’an yang
merupakan ajaran dan wahyu dari Allah SWT

1. Aqidah sebagai dasar pendidikan akhlak


Dasar pendidikan akhlak bagi seorang muslim adalah aqidah
yang benar terhadap alam dan kehidupan, karena akhlak tersarikan
dari aqidah dan pancaran dirinya. Oleh karena itu jika seorang
beraqidah dengan benar, niscaya akhlaknya pun akan benar, baik
dan lurus. Begitu pula sebaliknya, jika aqidah salah maka
akhlaknya pun akan salah. Aqidah seseorang akan benar dan lurus
jika kepercayaan dan keyakinannya terhadap Allah juga lurus dan
benar
2. Jujur
Jujur merupakan salah satu sifat manusia yang berhubungan
dengan aqidah. Jujur dapat terwujud apabila seseorang telah
memegang konsep-konsep yang berhubungan dengan aqidah.
Dengan dijalankannya konsep-konsep aqidah tersebut maka
seseorang akan memiliki akhlak yang baik. Sehingga orang akan
takut dalam melakukan perbuatan dosa.

5.   Ancaman Akhlak Dalam Kehidupan Modern

Zaky Mubarok menyebutkan bahwa paling tidak ada tiga ancaman terhadap
akhlak manusia dalam kehidupan modern dewasa ini yaitu ananiyyah,
madiyyah dan nafiiyyah.

 Ananiyyah artinya sikap individualisme yang menjadi ciri manusia


modern. Individualisme ini merupakan faham yang bertitik tolak dari
sikap egoisme,mementingkan dirinya sendiri, sehingga mengorbankan
orang lain demi kepentingannya sendiri. Orang-orang yang berpendirian
semacam ini tidak memiliki semangat ukhuwah islamiyah, rasa
persaudaraan dan toleransi (tasamuh) sehingga sulit untuk merasakan
penderitaan orang lain. Padahal, seseorang baru dapat dikatakan
berakhlak mulia manakala ia juga memperhatikan nasib orang lain.
 Madiyyah atau sikap materialistik lahir sebagai akibat kecintaan pada
kehidupan duniawi secara berlebih-lebihan. Hal ini telah disindirkan oleh
Allah SWT dalam surat Hud: 15-16 yang berbunyi:

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya,


niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia
dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah
orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan
lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan
sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan”

 Nafi’iyyah atau pragmatis artinya menilai sesuatu hanya berdasarkan pada


aspek kegunaan semata.

Ketiga ancaman terhadap akhlak ini hanya bisa diatasi manakala manusia
memiliki landasan aqidah yang kuat.