Anda di halaman 1dari 11

Teori Psikoanalisis Sigmund Freud

Sigmund Freud merupakan tokoh pendiri psikoanalisis atau disebut juga aliran psikologi dalam
(depth psychology) ini secara skematis menggambarkan jiwa sebagaisebuah gunung es. Bagian
yang muncul di permukaan air adalah bagian yang terkecil, yaitu puncak dari gunung es itu, yang
dalam hal kejiwaan adalah bagian kesadaran (consciousness). Agak di bawah permukaan air
adalah bagian yang disebutnya prakesadaran atau subconsciousness atau preconsciousness.
Ketidaksadaran ini berisi dorongan-dorongan yang ingin muncul ke permukaan atau ke
kesadaran. Bagian yang terbesar dari gunung es itu berada di bawah permukaan air sama sekali
dan dalam hal jiwa merupakan alam ketidaksadaran (unconscousness). Ketidaksadaran ini berisi
dorongan-dorongan yang ingin muncul ke permukaan atau ke kesadaran. Dorongan - dorongan
ini mendesak ke atas, sedangkan tempat di atas sangat terbatas sekali.Tinggallah "Ego" (Aku)
yang memang menjadi pusat daripada kesadaran yang harus mengatur dorongan-dorongan mana
yang harus tetap tinggal di ketidaksadaran. Sebagian besar dari dorongan-dorongan yang berasal
dari ketidaksadaran itu memang harus tetap tinggal dalam ketidaksadaran, tetapi mereka ini tidak
tinggal diam, melainkan mendesak terus dan kalau "Ego" tidak cukup kuat menahan desakan ini
akan terjadilah kelainan-kelainan kejiwaan seperti psikoneurosa atau psikose.Dorongan-
dorongan yang terdapat dalam ketidaksadaran sebagian adalah dorongan- dorongan yang sudah
ada sejak manusia lahir, yaitu dorongan seksual dan dorongan agresi, sebagian lagi berasal dari
pengalaman masa lalu yang pernah terjadi pada tingkat kesadaran dan pengalaman itu bersifat
traumatis (menggoncangkan jiwa),sehingga perlu ditekan dan dimasukkan dalam ketidaksadaran.
Sebagai teori kepribadian psikoanalisis mengatakan bahwa jiwa terdiri dari 3sistem yaitu: Id
("es"), superego ("uber ich") dan ego ("ich").

1. Id terletak dalam ketidaksadaran. Ia merupakan tempat dari dorongan-dorongan primitif,


yaitu dorongan-dorongan yang belum dibentuk atau dipengaruhi oleh kebudayaan yaitu
dorongan untuk hidup dan mempertahankan kehidupan (life instinct) dan dorongan untuk
mati (death instinct). Bentuk dari dorongan hidup adalah seksual atau disebut libido dan
bentuk dari dorongan mati adalah agresi, yaitu dorongan yang menyebabkan orang ingin
menyerang orang lain, berkelahi atau berperang ataumarah. Prinsip yang dianut oleh Id
adalah prinsip kesenangan (pleasure principle), yaitu bahwa tujuan dari Id adalah
memuaskan semua dorongan primitif ini.
2. Superego adalah suatu sistem yang merupakan kebalikan dari id. Sistem ini sepenuhnya
dibentuk oleh kebudayaan. Segala norma-norma yang diperoleh melalui pendidikan itu
menjadi pengisi dari sistem superego sehingga superego berisi dorongan-dorongan untuk
berbuat kebajikan, dorongan untuk mengikuti norma-norma masyarakat dan sebagainya.
Dorongan-dorongan atau energi yang berasal dari superego ini akan berusaha menekan
dorongan yang timbul dari Id, karena dorongandari Id yang masih primitif ini tidak sesuai
atau bisa diterima oleh superego. Disinilah terjadi tekan menekan antara dorongan-
dorongan yang berasal dari Id dan Superego.

3. Ego adalah sistem tempat kedua dorongan dari Id dan superego beradu kekuatan. Fungsi
ego adalah menjaga keseimbangan antara kedua sistem yang lainnya, sehingga tidak
terlalu banyak dorongan dari Id yang dimunculkan ke kesadaran sebaliknya tidak semua
dorongan superego saja yang dipenuhi. Ego sendiri tidak mempunyai dorongan atau
energi. Ia hanya menjalankan prinsip kenyataan (reality principle), yaitu menyesuaikan
dorongan-dorongan Id atau superego dengan kenyataan di dunia luar. Ego adalah satu-
satunya sistem yang langsung berhubungan dengan dunia luar, karena itu ia dapat
mempertimbangkan faktor kenyataan ini. Egoyang lemah tidak dapat menjaga
keseimbangan antara superego dan Id. Kalau ego terlalu dikuasai oleh dorongan-
dorongan dari Id saja maka orang itu akan menjadi psikopat (tidak memperhatikan
norma- norma dalam segala tindakannya); kalau orang itu terlalu dikuasai oleh
superegonya, maka orang itu akan menjadi Psikoneurose (tidak dapat menyalurkan
sebagian besar dorongan-dorongan primitifnya).1

Teori Psikososis Erikson

Teori psikososial Erik Erikson merevolusi pemikiran perkembangan. Dia adalah salah satu yang
pertama mengusulkan model pengembangan manusia seumur hidup yang mencakup delapan
tahap psikososial berturut-turut. Setiap tahap dikaitkan dengan konflik atau krisis inheren yang
harus dihadapi dan diselesaikan individu yang kemudian dilanjutkan dengan pengembangan.
Perlu dicatat bahwa Erikson (1968) menggunakan krisis jangka. Anggapannya adalah bahwa
setiap tahap psikososial memiliki hasil yang berhasil dan tidak berhasil (misalnya kepercayaan
versus ketidakpercayaan, inisiatif versus rasa bersalah, keintiman versus keterasingan).

Erikson (1968) menganggap masa remaja sebagai masa transisi pembangunan yaitu setelah masa
kanak-kanak dan mengarah ke masa dewasa. Sayangnya, dia tidak pernah menentukan rentang
usia secara kronologis untuk masa remaja atau periode kehidupan lainnya seperti masa kanak-
kanak dan dewasa .

Dapat dihipotesiskan bahwa versi remaja Erikson mengacu pada periode usia yang kira-kira
diukur dari usia sekolah menengah dan atas: usia 12 sampai 18 tahun. Arnett (2000), sejak itu
mengusulkan periode pembangunan yang disebut sebagai masa dewasa adalah tahun-tahun yang
berada di atas usia sekolah menengah atas. : usia 18 hingga 25 tahun.

Pengembangan identitas adalah komponen inheren dari kemunculan masa dewasa. Karena tahap
ini mungkin lebih relevan dengan apa yang awalnya disebut Erikson pada masa remaja, tahap ini
akan diintegrasikan dengan rentang usia yang telah dihipotesiskan. Dengan demikian, masa
remaja akan mengacu pada rentang usia 12 sampai 24 tahun . Hal yang sama pentingnya untuk
mengoperasionalkan rentang usia untuk periode perkembangan lainnya yaitu masa kanak-kanak
(usia 6 sampai 11 tahun), masa dewasa muda (usia 25 sampai 39 tahun), masa dewasa
pertengahan (usia 40 sampai 65 tahun), dan usia dewasa akan terdiri dari tahun-tahun yang
berada di atas usia 65 tahun. 2

Teori Kohlberg

Teori Kohlberg tentang moral merupakan perkembangan perluasan dan modifikasi dari teori
Piaget. Teori ini didasarkan atas analisinya terhada hasil wawancara dengan anak-anak yang
dihadapkan dengan suatu dilema moral, dimana mereka harus memilih antara tindakan mentaati
atau memenuhi kebutuhan hidup dengan cara yang bertentangan dengan peraturan.

Salah satu contoh dilema moral yang digunakan oleh Kohlberg tersebut adalah Dilema Heinz:
Di eropa ada seorang wanita yang hampir meninggal karena kanker. Menurut pendapat dokter
hanya ada satu obat yang dapat menyembuhkan tetpai obat tersebut sangat mahal dan baru
ditemukan oleh seorang apoteker di kota tersebut. Biaya pembutan obat tersebut sangat mahal
dan apoteker menjual obat itu sepuluh kali lipat dari biaya pembuatan. Apoteker mengeluarkan
biaya sebesar $200 untuk pembuatannya dan menjualnya $2000. Suami hanya memiliki uang
$1000 dan meminta kepada apoteker untuk menjualnya dengan harga murah karena istrinya
hampir meninggal. Tetapi apoteker tidak mau sehingga suami berpikir untuk mencuri obat
tersebut.

Setelah memberikan kasus tersebut anak-anak tadi menjadi responden menjawab pertanyaan
tentag dilema moal yang dialami oleh si suami(Heinz). Tentang apakah boleh ia mencuri obat
tersebut karena alasan mendesak atau tidak.

Berdasarkan pertimbangan yang diberikan tentang kasus dilema yang dihadapi seseorang.
Kohlberg membagi perkembangan moralitas ke dalam 3 tingkatan yang masing-masing dibagi
menjadi 2 stadium hingga keseluruhannya menjadi 6 stadium. Pada masing-masing tahapan
memiliki ciri tersendiri, seperti yang ditampilkan pada tabel 1.

Table 1. perkembangan moral Kohlberg


Dalam hal tingkah laku konformistis, masing-masing stadium membawa konsekuensi. Pada
stadium pertama, anak cenderung menurut untuk menghindari hukuman, sedangkan pada
stadium kedua anak cenderung bersikap untuk memperoleh hadiah atau untuk dipandang sebagai
anak baik. Memasuki stadium ketiga, anak bersikap konformistis untuk menghindari celaan dan
untuk disenangi orang lain, hingga kemudian pada stadium empat, anak bersikap konformistis
untuk mempertahankan sistem peraturan sosial yang ada dalam kehidupan bersama. Perilaku ada
stadium kelima sudah terbentuk dan tidak lagi sebagai usaha memenuhi perjanjian bersama yang
ada dalam peraturan sosial, demikian halnya pada stadium keenam dimana anak tidak melakukan
sesuatu karena perintah dan norma dari luar, melainkan karena keyakinan sendiri.3,4

Teori Jean Piaget


Teori pengembangan intelektual Jean Piaget (Flavell, 1963) dianggap sebagai teori terkemuka
tentang perkembangan kognitif. Dia tidak setuju dengan gagasan bahwa kecerdasan adalah
bawaan dari lahir yang bersifat tetap, ia menegaskan bahwa pengembangan intelektual
merupakan kelanjutan langsung dari perkembangan biologis bawaan. Bagi Piaget, perkembangan
kognitif adalah reorganisasi proses mental yang progresif sebagai hasil pematangan biologis dan
pengalaman lingkungan. Anak-anak membangun pemahaman tentang dunia di sekitar mereka,
kemudian mengalami perbedaan antara apa yang telah mereka ketahui dan apa yang mereka
temukan di lingkungan mereka. Ia berpendapat bahwa kecerdasan berakar pada dua atribut
biologis yang ditemukan pada semua makhluk hidup yaitu organisasi dan adaptasi. Organisasi
adalah kecenderungan setiap makhluk hidup untuk mengintegrasikan proses ke dalam sistem
yang koheren. Hal itu terjadi, misalnya, ketika seorang bayi, yang pada awalnya hanya mampu
melihat objek atau menggenggamnya, mengintegrasikan kedua proses terpisah ke dalam struktur
yang lebih tinggi yang memungkinkannya untuk menangkap sesuatu pada saat bersamaan ia
melihatnya. Adaptasi adalah kecenderungan bawaan seorang anak untuk berinteraksi dengan
lingkungannya. Interaksi ini mendorong perkembangan organisasi mental yang semakin
kompleks. Untuk memahami proses-proses organisasi dan adaptasi terdapat tiga konsep dasar,
yaitu sebagai berikut :

1. Skema 

Skema adalah struktur kognitif yang digunakan oleh manusia untuk mengadaptasi diri terhadap
lingkungan dan menata lingkungan ini secara intelektual. Piaget menekankan pentingnya skema
dalam pengembangan kognitif dan menggambarkan bagaimana mereka dikembangkan atau
diakuisisi. Skema dapat didefinisikan sebagai seperangkat representasi mental terkait dunia, yang
kita gunakan untuk memahami dan merespons situasi. Anggapannya adalah bahwa kita
menyimpan representasi mental ini dan menerapkannya bila diperlukan.

2. Asimilasi dan akomodasi 

Dengan asimilasi seseorang mengintegrasikan bahan-bahan persepsi atau stimulus ke dalam


skema atau tingkah laku yang ada. Asimilasi berlangsung setiap saat. Seseorang tidak hanya
memperoses satu stimulus saja, melainkan memproses banyak stimulus. Secara teoritis, asimilasi
tidak menghasilkan perubahan skema, tetapi asimilasi mempengaruhi pertumbuhan skemata.
Sedangkan, akomodasi dapat diartikan sebagai penciptaan skema baru atau pengubahan skema
lama. Asimilasi dan akomodasi terjadi sama-sama dan saling mengisi pada setiap individu yang
menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Proses ini perlu untuk pertumbuhan dan
perkembangann kognitif. Antara asimilasi dan akomodasi harus ada keserasian dan disebut oleh
Piaget adalah keseimbangan.

3. Tahap perkembangan kognitif 

Piaget menekankan bahwa saat anak-anak telah dewasa secara mental, mereka telah secara
berurutan melalui empat tahap utama perkembangan kognitif, masing-masing tahap memiliki
beberapa tahap sub (Hertherington dan Park, 1975). Tahap utama pertumbuhan kognitif adalah:

1. periode sensori motor (0-2 tahun) 


2. periode pra operasional ( 2-7 tahun)
3. periode konkret ( 7-11 tahun)
4. periode operasi formal (11-15 tahun)

Keempat tahapan ini terjadi berurutan, ini berarti seorang anak tidak dapat melewatkan satu
tahap dan berpindah ketahap yang lain. Dia harus melalui setiap tahap dalam urutan reguler.
Anak-anak tidak dapat mengatasi kelambatan perkembangan atau mempercepat pergerakan
mereka dari satu tahap ke tahap berikutnya. Mereka perlu memiliki pengalaman yang cukup di
setiap tahap dan waktu yang cukup untuk menginternalisasi pengalaman itu sebelum mereka
dapat melanjutkan.5

Analisis Kasus

AT, Bocah SD yang Hebohkan Medsos dan Nekat Mengelabui Polisi Ini Ternyata Broken
Home

Radar Banyumas. Jumat, 30 September 2016

Media Sosial sempat dibikin ramai dengan pemberitaan mengenai AT, bocah SD
dikabarkan mengalami penculikan Kamis (29/9) kemarin. Tidak hanya info simpang siur yang
berkembang di masyarakat, namun perbuatan bocah tanggung ini juga terbilang cukup nekat.
Bagaimana tidak? Ia beberapa kali mencoba memberikan keterangan palsu mengenai dirinya
kepada polisi yang berusaha membantunya.

Kenapa AT bisa Senekat itu? Berdasar penelusuran Radar, bocah kelahiran 20 Oktober
2005 itu, selama ini tinggal bersama kakek dan neneknya di Purwokerto Lor. AT terbilang anak
broken home. Dimungkinkan, ia mengalami stres berat karena kedua orang tuanya berpisah,
sementara ayahnya tinggal di Bandung. Kepala sekolah tempat AT menimba ilmu, Suyanto
kepada Radarmas menuturkan, anak tersebut memang memiliki beberapa catatan negatif di
sekolahan. AT beberapa kali malak uang terhadap rekan-rekannya. “Sebelum hari raya Idul Adha
juga tidak masuk sekolah selama 3 atau 4 hari. Padahal, menurut neneknya dia berpamitan
berangkat sekolah dari rumah. Namun ternyata, dia tidak sampai ke sekolahan dan justru
bermain entah dimana,” Kata Suyanto. Di lingkungan sekolah, AT dikenal sering berkelahi
dengan teman-temannya, entah apa permasalahannya. Namun, kepada guru dan kakek neneknya,
dia mengakunya menjadi korban. Padahal kerap AT sendiri yang menjadi pemicunya.

“Anak ini mulai sekolah di SDN 2 sejak kelas satu akhir. Dia merupakan murid pindahan
dari Bandung, tempat tinggal sebelumnya bersama ayahnya. Kabarnya, dia juga dikeluarkan dari
pesantren hafalan Al Qur’an. Padahal sempat hafal banyak surat-surat Al Quran,” terang
Suyanto. Peristiwa yang terjadi pada AT, kemarin, seperti biasa membuat gaduh di media sosial.
Banyak sekali informasi berhamburan. Ada yang menyebut telah terjadi pembiusan terhadap
seorang anak sekolah dasar. Kabar tersebut pun semakin kencang di media sosial. Bahkan ada
yang menyebutkan bahwa anak tersebut juga mengalami kekerasan fisik. Kabar itu pun
dilengkapi dengan foto wajah AT. Kabar sumir itu juga ramai diperbincangkan tidak hanya di
media sosial saja. Kabar itu juga menjadi bahan obrolan di beberapa group aplikasi chatting
seperti whatssap, BBM dan lainnya. Disebutkan, bahwa anak tersebut merupakan anak
berprestasi dilihat dari nilai-nilai yang ada di buku pelajaran yang dia bawa di dalam tas.
Begitulah, AT memang sempat membuat heboh medsos dan membuat bapak-bapak polisi di
Mapolsek Purwokerto Timur jadi sibuk. 6

Peninjauan Dari Teori Sigmund Freud

Disini, Freud membagi diri seseorang menjadi 3, dimana hal tersebut adalah Id, yaitu hal hal
yang dibawa sejak lahirnya seorang manusia ke dunia, yang berperan sebagai aspek kebutuhan,
baik disadari maupun tidak, yang memiliki prinsip Pleasure Fullfillment. Lalu ada Ego, yang
timbul karena kebutuhan individu untuk menjalin hubungan dengan makhluk lain, yang berperan
sebagai aspek eksekutif. Dimana hal tersebut sebagai perantara bagi kebutuhan diri dan keadaan
lingkungan, dengan prinsip Realita. Dan yang terakhir, yaitu Super Ego, yang merupakan
representasi dari nilai nilai dan norma-norma dalam lingkungan, yang berperan sebagai aspek
moral. Hal ini berfungsi untuk merintangi Id negatif dan mendorong ego, dengan prinsip
Kesempurnaan. Disini, ego merupakan jembatan bagi Id dan Superego, yang megatur sejalannya
kedua unsur tersebut.
Pada kasus AT ini, dia tidak dapat mengatur Egonya, yang ditunjukkan dengan ketidak
seimbangan dengan Id dan Superegonya yang menuntut kesempurnaan. Disini, Egonya tidak
dapat melakukan sesuatu yang seharusnya menjadi main centre, yaitu menjalin hubungan dengan
teman temannya. Bukannya menjalin hubungan, tetapi malah membuatnya semakin buruk
dengan memalak temannya, dan memulai perkelahian. Dikarenakan Egonya sendiri tidak dapat
mengatur dirinya sendiri, maka keseimbangan antara Id dan Superego menjadi kacau. Id yang
memiliki Pleasure Fullfillment, dapat bebas dengan leluasa, dimana pleasure utama yang
dibutuhkan oleh anak ini adalah attention, yang menjadi objektivitas Idnya sendiri untuk
meraihnya, sehingga AT kerap kali memulai perkelahian tanpa sebab yang jelas. Disini, Super
Egonya menjadi represif, karena kesempurnaan yang ada didalam diri AT telah hilang, yaitu
utuhnya kedua orang tuanya, yang menyebabkan Idnya dapat dengan sangat leluasa bergerak,
dan membuatnya lebih berorientasi pada pleasure fulfillment. Ada juga kemungkinan bahwa
Super Egonya tidak menjadi represif, tetapi perubahan prinsip kesempurnaan, dan perspektif
akan hidup yang berubah, menyebabkan Super Egonya berubah, yang terlihat dari tindakan
tindakannya yang membuat masalah dan menjadi problem child, dimana kesalahan perspektif
ini menjadikan keadaan yang seperti itu menjadi sebuah kesempurnaan yang rusak.7

Peninjauan dari Teori Eric Eriksson (Usia Sekolah)

Pada usia ini (6-12 tahun), dunia sosial anak meluas keluar dari dunia keluarga, anak bergaul
dengan teman sebaya, guru, dan orang dewasa lainnya. Pada usia ini keingintahuan menjadi
sangat kuat dan hal itu berkaitan dengan perjuangan dasar menjadi berkemampuan (competence).
Memendam insting seksual sangat penting karena akan membuat anak dapat memakai energinya
untuk mempelajari teknologi dan budayanya serta interaksi sosialnya. Krisis psikososial pada
tahap ini adalah antara ketekunan dengan perasaan inferior (industry – inveriority). Dari konflik
antar ketekunan dengan inferiorita, anak mengembangkan kekuatan dasar: kemampuan
(competency). Di sekolah, anak banyak belajar tentang sistem, aturan, dan metode yang membuat
suatu pekerjaan dapat dilakukan dengan efektif dan efisien.

Dari teori ini dapat dilihat bahwa pada kasus, AT sudah memiliki dunia sosial yang cukup luas,
dikarenakan usianya yang sudah 11 tahun, dan dia telah memasuki sekolah. Tetapi walaupun
kontak sosial yang didapatkan telah meluas, kontak dengan orang tua adalah unsur yang paling
dibutuhkan oleh anak, dan hal inilah yang tidak didapatkan oleh AT, karena sejak orangtuanya
berpisah, dan dia menjadi murid pindahan dari Bandung, ia telah jauh dari ayah dan ibunya. Hal
inilah yang juga memicu atas perilaku yag ditunjukkannya disekolah seperti pamit pergi tetapi
tidak masuk sekolah, dalam pandangan anak hal ini merupakan suatu bentuk meminta perhatian
(asking for attention) dan bentuk competence terhadap dirinya sendiri.

Disini anak tidak mengutamakan insting seksualnya, dapat dilihat dalam berita tersebut anak
tidak melakukan hal apapun yang berhubungan dengan seksualitasnya, dikarenakan pada
umurnya yang 11 tahun ini, ia memendam instingnya, dan lebih mengutamakan untuk
menghabisakan energinya untuk mempelajari teknologi dan budaya serta interaksi sosial yang
berada dalam lingkaran pergaulannya. Hal tersebut juga ditunjukkan oleh tindakan bolosnya,
yang mungkin untuk melakukan hang out dengan orang orang dalam lingkaran sosialnya, dan
mempelajari hal hal tersebut.

Karena kondisi anak yang terbilang dengan status broken home, ia kemungkinan besar memiliki
inferior complexity dengan anak-anak sebayanya yang masih memiliki orangtua lengkap.
Dimana hal tersebut lebih mendorongnya untuk membuktikan competence-nya terhadap mereka,
yang membuat keinginannya untuk bolos sekolah, dan membuktikan diri atas kemampuannya
yang berada diatas teman sebayanya dengan jalan memulai perkelahian dan memalak temannya
menjadi lebih kuat, dan akhirnya ia pun telah terbiasa melakukannya, dibuktikan dengan
pengakuan kepala sekolah yang melabelinya sebagai problem child.7

Peninjauan dari Teori Lawrence Kohlberg (Tahap Realisme Moral)


Pada tahap ini (7/8-12 tahun) anak menilai perilaku atas dasar tujuan. konsep tentang
benar/salah mulai dimodifikasi (lebih luwes/ fleksible ), Konsep tentang keadilan mulai berubah.

Didalam konsep ini sudah sangat dijelaskan, tentang konsep anak itu sendiri tentang benar salah.
Disini, dikarenakan kecerdasan anak berkembang seiring dengan perkembangannya, konsep
benar dan salah pun menjadi lebih fleksibel. Yang pada dulunya ketika diajarkan oleh orang tua
anak tidak boleh mengganggu teman, kini pandangan tersebut mungkin masih tetap ada, tetapi
menjadi lebih fleksibel, dimana anak menganggap proses mengganggu dan berbuat tidak baik
pada temannya itu sebagai proses bertahan dan melindungi diri. Pada kasus AT ini sendiri,
walaupun ia telah masuk sekolah hafalan Qur’an, tetapi pada umurnya yang sangat muda,
orangtuanya telah berpisah, yang menyebabkan ia lebih mudah megalami kehilangan persepsi
dan ajaran-ajaran dari orang tua nya, sehingga proses perubahan anggapan moral yang terjadi
pada dirinya lebih mudah kearah yang negatif, dan hal tersebut dapat diperburuk oleh lingkungan
sosialnya sendiri.7

Peninjauan dari Teori Piaget (Operasi Konkrit)

Pada usia ini (6-11 tahun), Anak sudah dapat membentuk operasi-operasi mental atas
pengetahuan yang mereka miliki. Mereka dapat menambah, mengurangi dan mengubah. Dimana
operasi ini memungkinkannya untuk dapat memecahkan masalah secara logis.

Hal ini sangat dapat dilihat dari perilaku AT sendiri, yang sudah dapat memberikan suatu bentuk
kepalsuan informasi, dengan jalan menambah dan mengurangi serta mengada-ngada mengubah
ubah tentang informasi dirinya sendiri sebagai anak yang mengalami kasus penculikan. Disini,
anak sudah tahu konsep dari berbohong, dan tidak menyatakan segalanya dalam bentuk
kebenaran, dan tidak lagi meliht semua hal dalam sudut pandang yang merupakan kebenaran
absolut yang patut dipercaya.

Dalam usianya ini, AT sudah dapat membentuk operasi-operasi mental, yang dapat dilihat dari
penyebaran berita bohong, dimana hal tersebut itu juga menyebabkan polisi diwilayah
Purwokerto menjadi sibuk. Tetapi, walaupun dikatakan bahwa operasi-operasi yang sudah dapat
digunakan oleh anak tersebut dapat memecahkan masalah secara logis, tetapi tidak begitu dengan
AT. Didalam sudut pandangnya sendiri, AT melihat berbagai hal sebagai masalah, sehingga
kemungkinan besar ia berusaha memperbaikinya, dimana dalam pandangan masyarakat, hal
tersebut justru sebaliknya. Dia juga dapat melihat semua hal terlalu baik dalam sudut
pandangnya dan sebaliknya malah lebih membuat masalah, dimana persepsi anak terhadap dunia
sangat dipengaruhi oleh asuhan yang diberikan oleh orang tua. Hal inilah yang tida didapatkan
oleh AT, karena hanya diasuh oleh kakek dan neneknya. Dan hal tersebut juga menyebabkan ia
ingin mendapat perhatian, ditambah dengan konsep-konsep baru yang mulai ia pelajari seiring
dengan usianya yang beranjak 12 tahun, dengan melakukan hal hal yang dapat membuatnya
menjadi center of attention, seperti memalak teman,dan memulai perkelahia tanpa sebab yang
jelas. Pada perbuatannya yang sering berkelahi ia menggunakan kecerdasannya yang telah
berkembang, sangat jelas dapat dilihat bahwa walaupun ia yang memulai perkelahian, tetapi
dengan mudahnya ia melakukan kebohongan dan memutar balikkan fakta, yang membuatnya
menjadi korban dalam kasus perkelahian tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

3. Saraswati E. Pergeseran Citra Pribadi Perempuan dalam Sastra Indonesia. Jurnal


Artikulasi. 2011; Vol 12: 756-8.
4. Sokol JT Identity Development Throughout the Lifetime: An Examination of Eriksonian
Theory. Graduate J Counseling Psychology. 2009; Vol(1): 2-3.
5. Nurhayati SR. Telaah Kritis Terhadap Teori Perkembangan Moral Lawrence Kohlberg.
Paradigma J Uny 2006; 1(2): 93-103.
6. Dwiyanti R. Peran Orang Tua dalam Perkembangan Moral Anak (Kajian Teori
Kohlberg). Seminar Nasional-Parenting, Purwokerto, 2013: 161-9.
7. Enose M, W. Simatwa. Piaget’s Theory of Intellectual Development and its Implication
for Instructional Management at Presecondary School Level. Academic J 2010; 5 (7):
366-367.
8. Radar Banyumas. Bocah SD yang Hebohkan dan Nekat Mengelabui Polisi Ini Ternyata
Broken Home. retrieved from:  http://radarbanyumas.co.id/at-bocah-sd-yang-hebohkan-
medsos-dan-nekat-mengelabui-polisi-ini-ternyata-broken-home/
9. Dewin. Perkembangan Anak. retrieved from :
http://dewin221106.blogspot.co.id/2009/11/perkembangan-anak.html