Anda di halaman 1dari 17

Sediaan

Parenteral
Aufa Nafilah Siregar-11171020000077
Farmasi 2017 BD
TABLE OF CONTENTS
01 04
Pendahuluan Rute Pemberian Sediaan
Parenteral

02 05
Persayaratan Sediaan Jenis Sediaan Parenteral

06
Parenteral

03 Formulasi Sediaan Parenteral

07
Kelebihan dan Kekurangan
Sediaan Parenteral Prosedur dan Evaluasi
Sediaan Parenteral 2
Pendahuluan

Apa itu Sediaan Parenteral?


Istilah parenteral merujuk pada rute pemberian
secara Injeksi. Istilah ini turunan dari kata-kata
bahasa Yunani yaitu para (di luar) dan enteron
(usus) dan merupakan rute pemberian selain rute
oral. Sehingga, sediaan parenteral dapat
disimpulkan sebagai sediaan yang diberikan
dengan rute selain oral, yang merujuk pada rute
pemberian secara injeksi
(Ansel,2011)

3
Persyaratan Sediaan
Parenteral

Stabil

Steril Jernih secara


fisika dan kimia

Bebas dari benda asing Isotonis


dan pirogen

4
Kelebihan dan
Kekurangan

1. Menyebabkan rasa sakit di 1. Onset kerja yg cepat


tempat suntikan
2. Pemberian obat melalui rute 2. Obat yg tidak dapat diberikan
injeksi yang salah dapat berakibat melalui rute oral, dapat diberikan
fatal melalui rute ini
3. Sulit untuk menyelamatkan 3. Dapat digunakan untuk pasien
pasien ketika diberikan dosis yg muntah atau tidak sadar
berlebih
4. Ada kemungkinan reaksi 4. Aksi obat dapat diperpanjang
sensitivitas yg dikarenakan suatu dengan mengubah formulasi
obat, yang terkadang sangat fatal
dan mematikan

5
.
Rute Pemberian
Sediaan Parenteral

INTRAVENA
INTRAMUSCULAR SUBCUTAN
1. Dibuat untuk langsung masuk ke dalam
vena
2. Memiliki kerja yang lebih cepat 1. Injeksi IM memberikan efek 1. Injeksi SC digunakan untuk obat
dibandingkan rute pemberaian lain yang kurang cepat, tetapi dalam jumlah kecil
3. Konsentrasi optimum obat dalam darah memiliki masa kerja yang lebih 2. Lokasi injeksi umumnya diatas
dapat dicapai dengan segera krn tidak lama lengan, di jaringan subkutan
ada fase absorpsi 2. Suntikan dibuat untuk jaringan dibawah kulit.
4. Harus Isotonis dengan darah intramuscular, tepatnya ke 3. Jumlah injeksi yang
5. Volume berkisar antara 1 ml – 500 ml dalam otot skeleton direkomendasikan adalah 1,3
6. Suspensi dan minyak tidak dapat 3. Suntikan diberikan pada otot mL. Apabila diatas 2 mL hampir
disuntikkan dengan rute ini bahu, paha atau bokong selalu menyebabkan rasa sakit
4. Volume obat yang dapat 4. Obat-obat yang mengiritasi dan
diberikan secara nyaman tidak berbentuk suspense tidak
lebih dari 5 mL pada daerah direkomendasikan untuk injeksi
gluteal dan 2 mL pada daerah SC
deltoid lengan 6
.
Rute Pemberian
secara Parenteral

INTRADERMAL
INTRA-ARTRIAL INTRACARDIAC
1. Disuntikkan diantara dermis dan
epidermis (biasanya kulit lengan kiri)
2. Jumlah injeksi yang direkomendasikan 1. Ini mirip dengan injeksi Ini diberikan ke otot jantung atau
adalah 0,1-0,2 ml intravena dan kadang-kadang ventrikel dalam keadaan darurat
digunakan untuk efek langsung saja contoh; sebagai stimulan setelah
di area perifer. serangan jantung
2. Suntikan ini diberikan langsung
ke arteri

7
.
Rute Pemberian
secara Parenteral

INTRARTECAL PERIDURAL
INTRAKISTERNAL
Ini dibuat menjadi ruang subarchnoid yang
ventrikel dalam keadaan darurat saja -Rute Diberikan antara duramater dan
ini digunakan untuk memberikan anestesi Injeksi intrakisternal -Ini diberikan aspek dalam vertebra. -Jadi itu
spinal. di antara vertebra serviks pertama adalah bagian dari kanal vertebral
dan kedua. -Rute ini digunakan yang tidak ditempati oleh duramater
untuk menarik c.s.f. (cairan dan isinya.
serebrospinal) untuk tujuan
diagnostik.

INTRARTICULAR INTRACEREBRAL
Suntikan ini diberikan ke dalam cairan yang
melumasi ujung tulang yang Suntikan ini diberikan ke otak besar.
mengartikulasikan dalam sendi.

8
03
Jenis-Jenis Sediaan Sediaan Injeksi berbentuk emulsi

Parenteral Sediaan cair dari bahan obat terlarut atau terdispersi di


dalam medium emulsi yang sesuai. Contoh: Propofol

01 04
Injeksi Sediaan Injeksi berbentuk suspensi

Sediaan cair yg merupakan Sediaan cair dari bahan padat tersuspensi di dalam medium cair
bahan obat atau bentuk yg sesuai . Contoh: Suspensi Metilprednisolon Asetat.
larutannya. Contoh: Injeksi
Insulin.

05
Bahan untuk sediaan

02
Injeksi berbentuk
suspensi
Bahan untuk Injeksi
Bahan padat kering,
Bahan padat kering, setelah setelah penambahan
penambahan pembawa yg pembawa yg sesuai
sesuai menghasilkan bentuk menghasilkan
larutan yg memenuhi semua bentuk larutan yg
kriteria persyaratan untuk memenuhi semua
injeksi. Contoh: Sefuroksim kriteria persyaratan
untuk injeksi untuk injeksi.
Contoh: Imipenem,
Silastatin
FORMULASI

PEMBAWA
Terbagi menjadi
pembawa air dan
pembawa non air. Harus
mengikuti standar yg
menjamin keamanan
pelarut untuk injeksi

ADJUVANT
Terdiri dari zat
pelarut, stabilisator,
buffering agent, agen
antibakteri, agen
pengkelat, suspending
agent, pengemulsi dan
pembasah, faktor
tonisitas

10
Prosedur pembuatan
Sediaan Parenteral
Berikut adalah prosedur pembuatan sediaan parenteral:

1. Pembersihan kontainer, penutupan dan peralatan


2. Pengumpulan Bahan
3. Persiapan produk parenteral
4. Penyaringan
5. Mengisi persiapan dalam wadah akhir
6. Menyegel wadah
7. Sterilisasi
8. Evaluasi persiapan parenteral Pelabelan dan pengemasan

11
PROSEDUR KERJA

Pembersihan Wadah,
Pengumpulan Bahan
Penutupan dan Peralatan

- Semua wadah, penutup dan


peralatan yang diperlukan selama
persiapan produk parenteral - Berbagai bahan formulasi
dibersihkan dengan deterjen dan persiapan parenteral ditimbang
cuci dilakukan dengan air ledeng dan dikumpulkan di ruang
untuk injeksi. persiapan.
- Penutupan karet dicuci dengan
larutan panas 0,5% natrium - Bahan baku yang dibutuhkan
pirofosfat dalam air. dalam persiapan produk
- Penutup kemudian dikeluarkan parenteral harus murni.
dari larutan, cuci dengan air
diikuti dengan naik dengan air -Air untuk injeksi bebas dari
yang disaring untuk injeksi. pirogen dan mikroorganisme
- Pada mencuci scaler kecil digunakan dalam persiapan
dilakukan secara manual tetapi produk parenteral.
pada mesin cuci otomatis skala
besar digunakan

12
PROSEDUR KERJA

Persiapan Produk Parenteral Filtrasi

- Larutan parenteral yang dibentuk


- Apoteker harus memutuskan melalui filter anti bakteri, seperti,
urutan pencampuran dan metode filter lilin, seitz filter, filter membran,
persiapan yang tepat untuk diikuti dan filter kaca sinter.
sebelum menyiapkan produk
parenteral. - Tujuan utama filtrasi adalah untuk
mengklarifikasi solusi dengan
-Persiapan parenteral harus menghilangkan partikel asing.
disiapkan dalam kondisi aseptik
yang ketat. - Jika sediaan parenteral harus
disterilkan dengan menggunakan
- Bahan-bahan secara akurat saringan bukti bakteri.
ditimbang secara terpisah dan
dilarutkan dalam kendaraan - Filtrasi harus dilakukan di bawah
sesuai metode persiapan yang kondisi aseptik yang ketat untuk
harus diikuti. menghindari kontaminasi larutan
disaring, sebelum akhirnya
dipindahkan ke wadah akhir dan
disegel.

13
PROSEDUR KERJA

Pengisian dan persiapan dalam Penyegelan Wadah


wadah akhir
- Penyegelan harus dilakukan segera
-Produk filter diisi ke dalam wadah setelah diisi.
akhir seperti ampul, botol dan botol
transfusi. -Ampul disegel secara manual dalam
skala kecil dengan memutar leher
-Ampul digunakan untuk mengisi ampul dalam nyala api bunsen.
dosis tunggal sedangkan, botol
digunakan untuk mengisi multidosis. - botol dan botol transfusi disegel
dengan menutup bukaannya dengan
-Botol dimaksudkan untuk mengisi penutup karet.
cairan transfusi.
- Penutup karet ditahan dengan
- Pengisian dilakukan di bawah mengeraskan tutup aluminium yang
tindakan pencegahan aseptik yang dilakukan secara manual atau dengan
ketat. cara mekanis

-Selama mengisi ampul, harus


diperhatikan bahwa solusinya tidak
boleh menyentuh leher ampul.

14
PROSEDUR KERJA

Pengisian dan persiapan dalam Evaluasi


wadah akhir
Sediaan parenteral harus segera Produk parenteral yang sudah jadi
disterilkan setelah penyegelan dalam harus melalui pengujian berikut
wadah akhir. untuk menjaga kontrol kualitas
Sterilisasi dilakukan dengan salah
satu metode sterilisasi yang 1) Uji sterilitas
tergantung pada sifat obat yang ada Tes untuk sterilitas dilakukan dengan
dalam sediaan parenteral. mendeteksi keberadaan bakteri,
- Untuk obat-obatan termostabil, jamur dan ragi dalam sediaan
produk parenteral disterilkan parenteral. Tes untuk sterilitas dapat
dengan autoklaf pada suhu 115 dilakukan dengan Metode filtrasi
hingga 116 dc selama dua jam. membrane atau Metode inokulasi
- Sediaan termolabil yang langsung.
disterilkan dengan penyaringan 2) Uji kejernihan
melalui filter tahan bakteri yang Dilakukan untuk memastikan bahwa
sesuai. produk parenteral bebas dari partikel
- Produk yang disterilkan diisi ke asing.
dalam wadah akhir dan disegel. 3) Uji kebocoran
4) Tes pirogen
5) Assay

15
THANKS

16
Daftar Pustaka

Allen, L.V., Nicholas, G.P., Ansel, H.C., (2011), Ansel’s phamaceutical Dosage Form and
Drug Delivery System, diterjemahkan oleh Lucia Hendriati, Kuncoro Foe, EGC, Jakarta,

Anonim. (1995). Farmakope Indonesia edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan RI.

17