Anda di halaman 1dari 12

Teori Membaca dalam Pembelajaran Bahasa

Pada hakikatnya membaca adalah sesuatu yang rumit yang melibatkan banyak hal, tidak
hanya sekedar melafalkan tulisan, akan tetapi dalam membaca harus memperhatikan kebiasaan
cara berfikir yang teratur dan baik. Hal ini dikarenakan membaca merupakan sesuatu yang sangat
kompleks, dengan melibatkan semua proses mental yang lebih tinggi, seperti ingatan, pemikiran,
daya khayal, pengaturan, penerapan, dan pemecahan masalah (Iskandarwassid dan Sunendar
2008: 246)

A. Pengertian Membaca
Supaya memahami lebih jelas mengenai pengertian membaca, maka perlu
memperhatikan berbagai pandangan ahli bahasa.
Hodgson (Tarigan H.G. 2008: 7) mengemukakan bahwa: Membaca adalah suatu proses
yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak
disampaikan oleh pemberi pesan.” Proses ini menuntut agar kelompok kata yang merupkan suatu
kesatuan akan terlihat dalam suatu pandangan sekilas dan agar makna kata-kata secara individual
akan dapat diketahui, apabila hal ini tidak terpenuhi maka pesan yang tersirat tidak akan dapat
dipahami dengan jelas, proses membaca tidak akan terlaksana dengan baik.
Berdasarkan pemaparan Hudgson terkait dengan membaca, maka dapat diketahui bahwa
dalam membaca, selain sebagai proses visual untuk menterjemahkan simbol tulisan ke dalam
bunyi, maka membaca pun merupakan suatu proses berpikir yang mencakup pengenalan kata,
pemahaman literal interpretasi, membaca kritis (critical reading), dan membaca kreatif (creative
reading).
Senada dengan pendapat Hudgson, maka Finochiaro and Bonomo (Tarigan H.G. 2008: 9)
mengatakan bahwa membaca adalah “bringing meaning to and getting meaning from printed or
written materrial. Jika dicermati dari pemaparan devinisi membaca yang disampaikan oleh
Finochiaro and Bonomo tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa membaca sebagai upaya
untuk memetik atau mengambil serta memahami makna yang terkandung didalam bacaan yang
sedang dibaca.
Selain beberapa pendapat yang disampaikan oleh Hudgson kemudian Finochiaro dan
Bonomo, ada juga seorang ahli yang memaparkan pendapatnya mengenai membaca sebagai
suatu proses komunikasi mengenal lambang. Akan tetapi tidak selesai sampai disana, setelah
mengenali lambang tersebut sipembaca bermaksud memperoleh makna dibalik lambang yang
dituliskan. Seperti apa yang di ungkap Sulistiati dkk. (Tarigan dkk. 1990: 118) menyebutkan
bahwa:
Membaca juga dapat diartikan sebagai proses perbuatan yang dilakukan dengan sadar dan
bertujuan untuk mengenal lambang yang disampaikan penulis untuk menyampaikan makna.
Makna itu digunakan untuk tujuan membaca. Membaca merupakan metode yang digunakan
untuk berkomunikasi atau untuk mengkomunikasikan makna yang terkandung dalam lambang-
lambang tertulis.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, penulis simpulkan bahwa membaca adalah
suatu kegiatan untuk mendapatkan makna dari suatu bacaan mengungkapkan atau melafalkan
kata-kata dan bunyi ujar yang diperoleh secara tepat dan bermakna yang melibatkan pikiran,
penglihatan, pembicaraan, dan perasaan yang dipahaminya.

B. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan


Membaca merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa, untuk menguasainya
memerlukan proses yang sangat kompleks dengan mengerahkan sejumlah tindakan baik ataupun
mental. Menurut Burns dkk. (Rahim F. 2005: 12), „proses membaca terdiri atas Sembilan aspek,
yaitu sensori, perseptual, urutan, pengalaman, pikiran, pembelajaran, asosiasi, sikap, dan
gagasan‟.
Kegiatan membaca berbeda dengan kegiatan lainnya, berupa keterampilan berbahasa
yaitu keterampilan menyimak, menulis, dan berbicara. Buzan (Hernowo 2004: 19) membuat
„tujuh tahapan proses dalam kegiatan membaca, yaitu: (1) pengenalan (2) peleburan (3) intra
integrasi (4) ekstra integrasi (5) penyimpanan (6) pengingatan (7) pengkomunikasian‟.
Pada saat membaca, pembaca dituntut menganalisa dan memahami lambang-lambang
tulisan yang melibatkan kemampuan penalaran. Oleh karena itu, keterampilan membaca
bukanlah suatu proses yang pasif, melainkan proses aktif yang membutuhkan daya berpikir yang
logis dan sistematis. Hal ini dipertegas oleh pernyataan dari Tampubolon (2008: 7) bahwa
membaca adalah suatu cara untuk membina daya nalar.

C. Tujuan Membaca
Tarigan (2008: 9) menyebutkan bahwa “Tujuan utama dalam membaca adalah untuk
mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi dan memahami makna bacaan”. Supaya lebih
memahami lagi mengenai tujuan dari membaca, lebih jauh Tarigan (2008: 9-11) memaparkan
beberapa poin yang dijadikan tujuan oleh seseorang untuk melakukan aktivitas membaca,
diantaranya sebagai berikut:
1. Membaca untuk menemukan atau mengetahui penemuan yang telah dilakukan oleh sang
tokoh. Membaca seperti ini disebut juga membaca untuk memperoleh perincian atau
fakta-fakta.
2. Membaca untuk memperoleh ide-ide utama. Membaca seperti ini untuk mengetahui
mengapa hal itu merupakan topik yang baik dan menarik.
3. Membaca untuk menemukan atau mengetahui apa yang terjadi. Membaca seperti ini
bertujuan untuk mengetahui urutan atau susunan organisasi cerita.
4. Membaca untuk menemukan atau mengetahui perasaaan pengarang. Membaca seperti ini
bertujuan untuk menyimpulkan
5. Membaca untuk mengelompokkan atau mengklasifikasikan. Membaca seperti ini
bertujuan untuk mengelompokkan atau mengklasifikasikan.
6. Membaca untuk menilai atau mengevaluasi. Membaca seperti ini bertujuan untuk
menilai, atau membaca mengevaluasi.
7. Membaca untuk membandingkan atau mempertentangkan. Membaca seperti ini bertujuan
untuk memperbandingkan atau mempertentangkan.

D. Jenis-jenis Membaca
Membaca merupakan salah satu jenis keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif,
karena dengan membaca seseorang akan dapat memperoleh informasi, memperoleh ilmu
pengetahuan serta pengalaman-pengalaman baru. Sebagaimana yang dikmukakan
Iskandarwassid dan Sunendar (2008: 245) mengenai keterampilan membaca, bahwa:
Keterampilan membaca pada umumnya diperoleh dengan mempelajarinya di sekolah.
Keterampilan berbahasa ini merupakan keterampilan yang sangat unik serta berperan penting
bagi pengembangan ilmu pengetahuan, dan sebagai alat komunikasi bagi kehidupan manusia.
Dikatakan unik karena tidak semua manusia, walaupun telah memiliki keterampilan membaca,
mampu mengembangkannya menjadi alat untuk memberdayakan dirinya atau bahkan
menjadikan budaya bagi dirinya sendiri. Dikatakan penting bagi pengembangan pengetahuan,
karena presentase transfer ilmu pengetahuan terbanyak dilakukan melalui membaca.
Semua informasi, ilmu pengetahuan dan pengalaman-pengalaman yang diperoleh melalui
bacaan memungkinkan orang akan mempertinggi daya pikirnya, mempertajam pendengarannya
dan memperluas wawasannya. Dengan demikian kegiatan membaca dapat diklasifikasikan
menjadi beberapa jenis, yaitu membaca nyaring, membaca dalam hati, membaca telaah isi, dan
membaca telaah bahasa. Secara lebih jelas, jenis membaca dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Membaca Nyaring
Secara sederhana membaca nyaring dapat di maknai dengan melakukan aktivitas
membaca dengan mengeluarkan suara. Tarigan (2008: 23) menyebutkan definisi dari membaca
nyaring, sebagai berikut: Membaca nyaring adalah suatu aktivitas atau kegiatan yang merupakan
alat bagi guru, murid, ataupun pembaca bersama-sama dengan orang lain atau pendengar untuk
menangkap serta memahami informasi, fikiran dan perasaan seorang pengarang.
Menyambung pemaparan definisi membaca nyaring oleh Tarigan, Moulton (Tarigan
2008: 23) menjelaskan ada perbedaan antara membaca dalam hati dengan membaca nyaring.
Ketika melakukan aktivitas membaca pemahaman melibatkan penglihatan dan ingatan
sedangkan dalam membaca nyaring, selain penglihatan dan ingatan, juga turut aktif auditory
memory (ingatan pendengaran) dan motor memory (ingatan yang bersangkut paut dengan otot-
otot kita).
Berdasarkan pendapat yang di paparkan oleh Tarigan dan Moulton dapat disimpulkan
bahwa membaca nyaring merupakan kegiatan membaca secara bersama melibatkan lebih dari
satu orang, untuk memahami bacaan yang ditulis oleh pengarang dengan mengoptimalkan kerja
pengihatan, pendengaran dan otot-otot tubuh.
2. Membaca Dalam Hati
Menurut Tarigan (2008: 32) membaca dalam hati secara garis besar dibagi atas: (1)
membaca ekstensif dan (2) membaca intensif. Membaca ekstensif berarti membaca secara luas
suatu teks dalam waktu yang sesingkat mungkin. Kegiatan membaca ekstensif adalah kegiatan
membaca untuk memahami isi yang penting dengan cepat dan efisien dalam suatu bacaan.
Kegiatan membaca ekstensif meliputi: (1) membaca survey (2) membaca sekilas dan (3)
membaca dangkal, Broughton et al. (Tarigan, 2008 : 32).
Menurut Brooks (Tarigan, 2008: 36) membaca intensif adalah studi seksama, telaah isi,
dan penanganan terperinci yang dilaksanakan di dalam kelas terhadap suatu tugas yang pendek
dua sampai empat halaman setiap hari. Kegiatan membaca intensif meliputi: (1) membaca telaah
isi dan (2) membaca telaah bahasa.
Membaca dalam hati sebenarnya merupakan kegiatan membaca untuk orang dewasa. Di
sekolah dasar jenis membaca dalam hati belum dapat diberikan secara mutlak dan baru bersifat
pelatihan. Pembelajaran membaca dalam hati di sekolah dasar bertujuan untuk mendapatkan
informasi dari suatu bacaan dengan memahami isinya secara tepat dan cermat. Untuk mencapai
sasaran membaca dalam hati, anak-anak sekolah dasar hendaknya menguasai keterampilan-
keterampilan sebagai berikut: (1) membaca tidak bersuara (2) membaca tanpa disertai gerakan-
gerakan anngota badan (3) membaca dengan tidak merisaukan isinya meskipun tidak cocok (4)
berkonsentrasi fisik dan mental, serta (5) dapat mengungkapkan kembali isi bacaan.

3. Membaca Telaah Isi


Membaca telaah isi cenderung untuk dilakukan oleh semua orang yang menemukan
ketertarikan pada bahan bacaan yang telah dibacanya dengan sekilas. Biasanya pembaca
pembaca ingin menelaah isinya secara mendalam dan tertarik untuk membacanya dengan teliti.
Tarigan (2008: 40) menyebutkan bahwa “Menelaah isi sesuatu bacaan menuntut ketelitian,
pemahaman, kekritisan berfikir, serta keterampilan menangkap ide-ide yang tersirat dalam
bacaan”. Dari pendapat Tarigan tersebut kita dapat membagi aktivitas dari memmbaca telaah isi
menjadi beberapa aktivitas membaca, diantaranya: (a) membaca teliti, (b) membaca pemahaman,
(c) membaca kritis, dan (d) membaca ide.
Selanjutnya jika dicermati lebih dalam mengenai pendapat yang dipaparkan Tarigan,
bahwa membaca telaah isi merupakan suatu aktivitas membaca untuk menangkap informasi
penting dari suatu bacaan yang menarik perhatian pembaca, dengan melibatkan pemahaman,
keterampilan menangkap ide bacaan serta ketelitian dalam membaca bahan bacaan.

4. Membaca Telaah Bahasa


Membaca telaah bahasa atau content study reding mempunyai kesamaan dengan
pelajaran membaca dalam hati. Aktifitas kedua kegiatan membaca tersebut dilaksanakan dengan
tidak bersuara. Menurut Muchlisoh dkk. (1996: 152-156) tujuan membaca telaah bahasa secara
rinci adalah sebagai berikut : (1) bertambahnya kosakata yang dimiliki siswa dan (2)
bertambahnya pengetahuan tata bentukan kata, tata kalimat, tata tulis dan semantik siswa.
Selain dari beberapa tujuan khusus membaca telaah bahasa seperti yang disampaiakan
Muchlisoh dkk, maka kitapun perlu mengetahui bahwa tujuan utama membaca telaah bahasa
adalah untuk memperbesar daya kata dan mengembangkan kosa kata. Setiap orang mempunyai
dua jenis daya kata yaitu : (1) dipergunakan dalam berbicara dan menulis dan (2) dipergunakan
dalam membaca dan menyimak (Tarigan (2008: 123).
Dari pendapat yang dipaparkan Muchlisoh dkk ataupun Tarigan, keduanya brmaksud
menyampaikan bahwa membaca telaah bahasa adalah suatu proses membaca untuk menambah
perbendaharaan kata serta bertambahnya pengetahuan tata bentukan kata.
Bahan yang dipakai dalam pembelajaran membaca telaah bahasa dapat diambil dari
beberapa sumber, misalnya: dari bekas bahan yang digunakan dalam membaca teknik, bahan
yang dipakai dalam membaca dalam hati, atau bahan lain yang sifatnya masih baru. Sumber
bahan dapat diperoleh dari sumber bahan buku paket, buku rujukan, majalah, dan sebagainya. Isi
bahan dalam kegiatan membaca bahasa dapat berupa bahan yang menyangkut masalah ilmu
pengetahuan alam, sosial, budaya, dan kesusastraan. Adapun yang perlu diingat dalam kegiatan
membaca bahasa adalah bahan yang akan digunakan harus memuat struktur bahasa.

E. Definisi Pengajaran Membaca


Anderson,Hiebert,Scott, & Wilkinson (1985) berpendapat bahwa Reading Intruction
Requires Orchestration.Bagi mereka, membaca bagaikan orkes.Pengajaran membaca yang
efektif itu akan secara langsung menolong pembaca melakukan hal-hal,Seperti yang berikut:
1. Pembelajar akan mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk menerapkan
kemampuan yang ada pada proses membaca
2. Pembelajar akan mengembangkan keterampilan untuk memproses struktur bahasa dan
untuk memperoleh arti bahasa yang digunakan dalam teks
3. Pembelajar akan menghaluskan proses mental dan strategi yang digunakan dalam proses
membaca.

F. Definisi membaca dan implikasi pembelajarannya


Setiap definisi membaca ada implikasinya.Kita dapat memperkirakan bahwa anak yang
belajar Jennings mungkin berjalan-jalan di hutan, menemukan alam yang sedang bekerja,dan
berbicara tentang pengalamannya.Lain halnya kelas yang dipimpin oleh Flesh dan Fries.Kelas
mereka akan penuh dengan bahan fonik.Kelas goodman mungkin terlibat dalam kegiatan
membaca dulu dalam bahasa pebelajar.Seperti Goodman juga mungkin mengalami kejadian itu
secara bersama-sama.
1. Membaca sebagai interpretasi pengalaman (Definisi Membaca Golongan Pertama)
Frenk Jennings(1965)
Membaca bermula dari rasa kagum terhadap alam sekitar.Awalnya berupa pengenalan
terhadap berbagai kejadian yang datang berulang-ulang seperti halilintar yang menggelegar, kilat
yang menyilaukan,dan hujan lebat yang membasahi bumi.Awal membaca ialah perkenalan
dengan musim dan pertumbuhan berbagai benda hidup.
2. Membaca sebagai interprasi lambing grafis (definisi membaca golongan kedua)
Rudolf Flesh(1955)
Membaca berarti memperoleh makna dari untaian huruf tertentu. Menurut Charles
Fries(1962) Belajar membaca itu,oleh karenanya.berarti mengembangkan respons yang sudah
menjadi kebiasaan,serta yang banyak jumlahnya itu,terdapat bentuk-bentuk grafis yang
mempunyai pola yang khas.
3. Membaca sebagai kombinasi definisi 1 dan 2 (Definisi Membaca Golongan Ketiga)
Ernest Horn(1937)
Membaca itu meliputi semua proses yang terlibat dalam pendekatan,penyempurnaan,dan
pemeliharaan makna melalui pemakaian lembaran tercetak.
G. Definisi membaca sebagai suatu proses
 Plato berpendapat bahwa membaca itu merupakan suatu kegiatan membedakan huruf
dengan mata dan telinga agar tidak dibingungkan oleh posisinya nanti jika tampak dalam
bentuk tulisan atau terdengar dalam bentuk lisan.
 Flesch (1955) berkata agar setiap huruf itu diajarkan kepada anak supaya anak dapat
membaca.
 Korzybski 91941) berpendapat bahwa itu merupakan rekonstruksi kejadian di belakang
lambangnya.
 Goodman (1968) memandang membaca sebagai interaksi antara pebaca dan bahasa yang
tertulisdan pebaca mencoba merekonstruksi berita dan penulis.
 Gephart (1970) membaca itu merupakan interaksi makna yang dienkode dalam stimuli
yang visual menjadi makna dalam pikiran pebaca. Interaksi itu selalu meliputi tiga segi:
1.materi yang akan dibaca; 2.pengetahuan yang dimiliki oleh pebaca; dan 3.kegiatan
psikologis dan intelektual.
 Richards (1935) memparafrasekan membaca yang baik itu tidak hanya meliputi
pengertian literal tetapi juga perasaan, maksud, dan sikap terhadap subjeknya, pebacanya
, dan terhadap dirinya sendiri.
 Farnham (1905) membaca itu pertama-tama terdiri atas perolehan pikiran pengarang dari
bahasa yang tertulis atau tercetak; kedua ialah pemberian ekspresi lisan terhadap pikiran
tersebut dalam bahasa pengarang sehingga pikiran yang sama dapat disampaikan kepada
pendengar.
H. Definisi literasi
Literasi itu berarti proses membaca dan menulis.Sejak tahun 1970-an telah
dikembangkan definisi literasi.Sekarang literasi meliputi kemapanan:
1. membaca kata-kata yang tercetak;
2. berbicara dengan jelas,ringkas,dan meyakinkan;
3. menulis dengan mudah dan menyenangkan
4. menyampaikan ide-ide yang esensial melalui kata-kata tertulis
5. memahami pesan lisan,mengikuti tuturan yang telah ditetapkan dan makna yang
dinyatakan tidak secara langsung yang dicerminkan dalam pilihan kata.struktur
kalimat,serta pola tekanan dan pola jungtur ujaran;
6. menemukan kepuasan,tujuan dan perolehan melalui berbagai kegiatan literasi.
Dalam membaca, sedikitnya ada enam kata yang harus dikenal
ialah,‟literasi‟,‟iliterasi‟,‟aliterasi‟,‟literat‟,‟iliterat‟,dan „aliterat‟.literasi ialah kemampuan
membaca.yang kedua,iliterasi,berarti ketidakmampuan membaca.Kata yang
ketiga,aliterasi,berarti kekurangan sikap membaca.Kata keempat literat,adalah bentuk adjektiva
yang berarti dapat menulis dan membaca dalam suatu bahasa.Kata kelima iliterat adalah bentuk
adjektiva yang berarti tidak bisa membaca.Kata terakhir,ialah aliterat merupakan bentuk
adjektiva kata aliterasi
Orang yang literat harus dapat menulis dengan mudah. Kemampuan berkomunikasi
melalui tulisan merupakan kebutuhan masyarakat masa kontemporer. Hubungan yang jelas
antara menulis dan membaca telah dinyatakan oleh sejumlah orang yang berwewenang seperti
Klien (1985), Loban (1976), Mosenthal, tamor,& Walmsley (1983). Pebelajar yang menulis
dengan baik cenderung merupakan penulis yang baik.

I. Manfaat membaca
Membaca menghilangkan kecemasan dan kegundahan.
1. Ketika sibuk membaca, seseorang terhalang masuk ke dalam kebodohan.
2. Kebiasaan membaca membuat orang terlalu sibuk untuk bisa berhubungan dengan orang-
orang malas dan tidak mau bekerja.
3. Dengan sering membaca, orang bisa mengembangkan keluwesan dan kefasihan dalam
bertutur kata.
4. Membaca membantu mengembangkan pemikiran dan menjernihkan cara berpikir.
5. Membaca meningkatkan pengetahuan seseorang dan meningkatkan memori dan
pemahaman.
6. Dengan membaca, orang mengambil manfaat dari pengalaman orang lain: kearifan orang
bijaksana dan pemahaman para sarjana.
7. Dengan sering membaca, orang mengembangkan kemampuannya; baik untuk mendapat
dan memproses ilmu pengetahuan maupun untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu dan
aplikasinya dalam hidup.
8. Membaca membantu seseorang untuk menyegarkan pemikirannya dari keruwetan dan
menyelamatkan waktunya agar tidak sia-sia.
9. Dengan sering membaca, orang bisa menguasai banyak kata dan mempelajari berbagai
tipe dan model kalimat; lebih lanjut lagi ia bisa meningkatkan kemampuannya untuk
menyerap konsep dan untuk memahami apa yang tertulis “diantara baris demi baris”
(memahami apa yang tersirat).

J. Aspek-aspek membaca
Secara garis besarnya terdapat dua aspek penting dalam membaca yaitu:
1. Keterampilan yang bersifat ( mechanical skills ) yang dapat di anggap berada pada urutan
yang lebih rendah ( lower order ). Aspek ini mecangkup :
a. pengenalan bentuk huruf.
b. pengenalan unsur-unsur linguistic ( fonem/grafem,kata,frase,pola klause,kalimat,dan
lain-lain.
c. pengenalan hubungan/ korespondensi pola ejaan dan bunyi (kemampuan
menyuarakan bahan tertulis atau “ to bark at print “ ).
d. kecepatan membaca bertaraf lambat.
2. Keterampilan yang bersipat pemahaman ( comperehesion skills ) yang dapat di anggap
berada pada urutan yang lebih tinggi ( higher order). Aspek ini mencangkup :
a. memahami pengertian sederhana (leksikal, gramatikal, retorikal).
b. memahami signifikansi atau makna (a.1. maksud dan tujuan pengarang
relevansi/keadaan kebudayaan, reaksi pembaca).
c. Evaluasi atau penilaian (isi, bentuk).
d. Kecepatan membaca yang fleksibel , yang mudah disesuaikan dengan keadaan.
(Brougton [et al] 1978:211)
Untuk mencapai tujuan yang yang terkandung dalam keterampilan mekanis (mechanical
skills) tersebut maka aktivitas yang paling sesuai adalah membaca nyaring, membaca bersuara
(atau reading aloud; oralreading). Dan untuk keterampilan pemahaman (comprehension skills)
maka yang paling tepat adalah denganmembaca dalam hati (atau silent reading), yang dapat pula
dibagi atas:
1. Membaca ekstensif (extensive reading).
2. Membaca intensif (intensive reading).
3. Membaca telaah bahasa
Selanjutnya membaca ekstensif ini mencakup pula:
a. membaca survei (survey reading).
b. membaca sekilas (skimming reading) dan
c. membaca dangkal (superficial reading).
Sedangkan membaca intensif dapat pula dibagi atas:
a. membaca telaah isi (content study reading), yang mencakup pula:
b. membaca teliti (close reading)
c. membaca pemahaman (comprehensive reading)
d. membaca kritis (critical reading)
e. membaca ide (reading for ideas)
Sedangkan membaca telaah bahasa (language studyreading), yang mencakup pula:
a. membaca bahasa asing (foreign language reading).
b. membaca sastra (literary reading).
Untuk mendapat gambaran yang lebih jelas mengenai aspek-aspek serta jenis-jenis membaca
yang telah disinggung diatas perhatikanlah skema-skema berikut ini.
SKEMA 1
Aspek-aspek membaca :

1. Keterampilan mekanis ( urutan lebih rendah )


 Pengenalan bentuk huruf
 Pengenalan unsur-unsur linguistik
 Pengenalan hubungan bunyi dan huruf
 Kecepatan membaca: Lambat
2. Keterampilan pemahaman ( urutan lebih tinggi )
 Pemahaman pengertian sederhana
 Pemahaman signifikasi/makna
 Evaluasi/ penilaian isi dan bentuk
 Kecepatan membaca : Fleksibel

SKEMA 2
Membaca :
1. Membaca nyaring

2. Membaca dalam hati :


a. Membaca ekstensif :
 Membaca survey
 Membaca sekilas
 Membaca dangkal
 Membaca intensif :
b. Membaca telaah isi :
 Membaca teliti
 Membaca pemahaman
 Membaca kritis
 Membaca ide-ide
c. Membaca telaah bahasa :
 Membaca bahasa
 Membaca sastra

Menyelesaikan Soal Cerita


Langkah-langkah Menyelesaikan Soal Cerita

Permasalahan matematika yang berkaitan dengan kehidupan nyata biasanya dituangkan


melalui soal-soal berbentuk cerita (verbal). Menurut Abidia 1989:10), soal cerita adalah soal
yang disajian dalam bentuk cerita pendek. Cerita yang diungkapkan dapat merupakan masalah
kehidupan sehari-hari atau masalah lainnya. Boot masalah yang diungkapkan akan
mempengaruhi panjang pendeknya cerita tersebut. Makin besar bibot masalah yang
diungkapkan, memungkinkan semakin panjang cerita yang disajikan. Sementara itu, menurut
Haji (1994:13), soal yang dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam bidang
matematika dapat berbentuk cerita dan soal bukan cerita/soal hitungan. Dilanjutkannya, soal
cerita merupakan modifikasi dari soal-soal hitungan yang berkaitan dengan kenyataan yang ada
di lingkungan siswa. Soal cerita yang dmaksudkan dalam penelitian ini adalah soal matematika
yang berbentuk cerita yang terkait dengan berbagai pokok bahasan yang diajarkan pada mata
pelajaran matematika di kelas VI SD.

Untuk dapat menyelesaikan soal cerita, siswa harus menguasai hal-hal yang dipelajari
sebelumnya, misalnya pemahaman tentang sartuan ukuran luas, satuan ukuran panjang dan lebar,
satuan berat, satuan isi, nilai tukar mata uang, satuan waktu, dan sebagainya. Di samping itu,
siswa juga harus menguasai materi prasyarat, seperti rumus, teorema, dan aturan/ hukum yang
berlaku dalam matematika. Pemahaman terhadap hal-hal tersebut akan membantu siswa
memahami maksud yang terkandung dalam soal-soal cerita tersebut.

Di samping hal-hal di atas, seorang siswa yang diperhadapkan dengan soal cerita harus
memahami langkah-langkah sistematik untuk menyelesaikan suatu masalah atau soal cerita
matematika. Haji (1994:12) mengungkapkan bahwa untuk menyelesaikan soal cerita dengan
benar diperlukan kemamuan awal, yaitu kemamuan untuk: (1) menentukan hal yang diketahui
dalam soal; (2) menentukan hal yang ditanyakan; (3) membuat model matematika; (4)
melakukan perhitungan; dan (5) menginterpretasikan jawaban model ke permasalahan semua.
Hal ini sejalan dengan langkah-langkah penyelesaian soal cerita sebagaimana dituangkan dalam
Pedoman Umum Matematika Sekolah Dasar (1983), yaitu: (1) membaca soal dan memikirkan
hubungan antara bilangan-bilangan yang ada dalam soal; (2) menuliskan kalimat matematika; (3)
menyelesaikan kalimat matematika; dan (4) menggunakanan penyelesaian untuk menjawab
pertanyan.

Dari kedua pendapat di atas terlihat bahwa hal yang paling utama dalam menyeesaikan
suatu soal cerita adaah pemahaman terhadap suatu masalah sehingga dapat dipilah antara yang
diketahui dengan yang ditanyakan. Untuk melakukan hal ini, Hudoyo dan Surawidjaja
(1997:195) memberikan petunjuk: (1) baca dan bacalah ulang masalah tersebut; pahami kata
demi kata, kalimat demi kalimat; (2) identifikasikan apa yan diketahui dari masalah tersebut; (3)
identifikasikan apa yang hendak dicari; (4) abaikan hal-hal yang tidak relevan dengan
permasalahan; (5) jangan menambahkan hal-hal yang tidak ada sehingga masalahnya menjadi
berbeda dengan masalah yang dihadapi.

Pendapat-pendapat di atas sejalan dengan pendapat Soedjadi (192), bahwa untuk


menyelesaikan soal matematika umumnya dan terutama soal cerita dapat ditempuh langkah-
langkah: (1) membaca soal dengan cermat untuk menangkap makna tiap kalimat; (2)
memisahkan dan mengungkapkan apa yang diketahui dalam soal, apa yang diminta/ditanyakan
dalam soal, operasi pengerjaan apa yang diperlukan; (3) membuat model matematika dari soal;
(4) menyelesaikan model menurut aturan-aturan matematika sehingga mendapatkan jawaban dari
model tersebut; dan (5) mengembalikan jawaban soal kepada jawaban asal.

Mencermati beberapa pendapat di atas, maka langkah-langkah yang diperlukan untuk


menyelesaikan soal bentuk cerita yang digunakan dalam penelitian ini adalah: (1) menentukan
hal yang diketahui dalam soal; (2) menentukan hal yang ditanyakan dalam soal; (3) membuat
model/kalimat matematika; (4) melakuka perhitungan (menyelesaikan kalimat matematika), dan
(5) menuliskan jawaban akhir sesuai dengan permintaa soal.

Contoh Soal Cerita & Penyelesaiannya


a. Pemodelan Matematika dengan symbol
Contoh soal :
Harga dua buah apel dan satu buah jeruk adalah Rp. 2.800,00
Harga satu apel dan dua jeruk adalah Rp. 3.200,00
Berapa harga satu buah apel dan satu buah jeruk ?

Jika menggunakan simbol, maka disini dimisalkan harga satu buah jeruk dengan Δ dan harga
satu buah apel dengan ♥ maka akan didapat :
Apel Jeruk Harga
Δ Δ + ♥ = 2.800
Δ + ♥♥ = 3.200
Jika dijumlahkan akan menjadi :

Δ Δ Δ + ♥♥♥ = 6.000
Ruas kiri pada bentuk paling akhir dapat diubah menjadi tiga grup sedemikian rupa sehingga
pada setiap grup akan terdiri atas satu apel dan satu jeruk

Δ♥ + Δ♥ + Δ♥ = 6.000

Δ♥ = 2.000

Kira – Kira mana yang akan lebih mudah ditangkap siswa?

b. Pemodelan Matemátika dengan diagram garis


Contoh soal 1:
Jumlah kelereng Adi dan Iman 20 butir. Kelereng Adi lebih banyak 4 butir daripada Iman.
Berapa kelereng Adi dan Iman ?
Penyelesaian :
Adi
(4 butir) 20 butir
Iman

Gambar yang diarsir adalah menunjukkan selisih kelereng Adi dan Iman.
20 – 4 = 16

Maka kelereng Adi adalah 8 + 4 = 12