Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

PENGGOLONGAN DIAGNOSA GANGGUAN JIWA (PDGJ)


DAN KEGAWATDARURATAN PSIKIATRI

DISUSUN
OLEH :
MARIA BELA VIA
142011-9058
SB 2019

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN IMANNUEL
BANDUNG
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa karena berkat
rahmat serta karunia-Nya lah saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini.
Tak lupa saya ucapkan terimakasih sebesar besarnya kepada Ibu Ira Oktavia,
S.Kep.,Ners.,M.kep.,Sp.Kep.J selaku Dosen Mata Kuliah Keperawatan Jiwa yang
telah memberikan tugas dan bimbingan dalam mengerjakan makalah tentang
“Penggolongan Diagnosa Gangguan Jiwa (PDGJ) dan Kegawatdaruratan
Psikiatri” ini.
Atas kepercayaan dan perhatiannya saya ucapkan banyak terima kasih.
Kiranya makalah ini dapat menjadi sumber pembelajaran kita semua dalam
menambah ilmu pengetahuan terutama tentang ilmu keperawatan jiwa.

Bandung, Maret 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR......................................................................................i
DAFTAR ISI....................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN ...............................................................................1

A. Latar Belakang .....................................................................................1


B. Rumusan Masalah.................................................................................2
C. Tujuan...................................................................................................2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.....................................................................3

A. Definisi Kegawatdaruratan Psikiatri.....................................................3


B. Klasifikasi Kegawatdaruratan Psikiatri.................................................3
C. Faktor Penyebab Kegawatdaruratan Psikiatri.......................................3
D. Macam Tanda dan Gejala Awal Pada, Gaduh Gelisah,
Bunuh diri, Perilaku Kekerasan dan Penyalahgunaan Zat....................4
E. Dasar Hukum Pelayanan Kedaruratan Psikiatri....................................8
F. Penggolongan Diagnosa Ganguan Jiwa (PDGJ)..................................9

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN .....................................................10

A. Kesimpulan ........................................................................10
B. Saran ...................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di era globalisasi saat ini, yang banyak terjadinya perang, konflik, dan lilitan
ekonomi yang berkepanjangan sehingga dapat menimbulkan stress, depresi dan
berbagai gangguan kesehatan jiwa lainya pada masyarakat. Menurut Undang- undang
Nomor 18 Tahun 2014 tentang kesehatan jiwa, kesehatan jiwa merupakan suatu
kondisi dimana seseorang individu dapat berkembang baik secara fisik, mental,
spiritual, dan sosial sehingga individu menyadari kemampuan diri dalam mengatasi
berbagai tekanan. Namun, seseorang yang mengalami gangguan kesehatan jiwa
diartikan sebagai seseorang yang mengalami masalah pada bagian fisik, mental,
sosial, pertumbuhan dan perkembangan, serta kualitas hidup sehingga memiliki risiko
mengalami gangguan jiwa (Sutejo, 2017).
Gangguan jiwa adalah sindrom atau pola perilaku seseorang yang secara khas
berkaitan dengan suatu gejala penderitaan (distress) atau hendaya (impairment) di
dalam satu atau lebih fungsi yang penting dari diri manusia, yaitu fungsi psikologik,
perilaku, biologik, dan gangguan itu tidak hanya terletak di dalam hubungan antara
orang itu sendiri tetapi juga dengan masyarakat. Pada umumnya gangguan jiwa
ditandai dengan adanya penyimpangan yang fundamental, karakteristik dari pikiran
dan persepsi, serta adanya efek yang tidak wajar atau tumpul. Gangguan jiwa
merupakan masalah gangguan pada otak yang ditandai oleh terganggunya emosi,
proses berpikir, perilaku, dan persepsi (Sutejo, 2017).
Kegawatdaruratan Psikiatrik merupakan aplikasi klinis dari psikiatrik pada
kondisi darurat. Kondisi ini menuntut intervensi psikiatriks seperti percobaan bunuh
diri, penyalahgunaan obat, depresi, penyakit kejiwaan, kekerasan atau perubahan
lainnya pada perilaku. Pelayanan kegawatdaruratan psikiatrik dilakukan oleh para
profesional di bidang kedokteran, ilmu perawatan, psikologi dan pekerja sosial.
Permintaan untuk layanan kegawatdaruratan psikiatrik dengan cepat meningkat di
seluruh dunia sejak tahun 1960-an, terutama di perkotaan. Penatalaksanaan pada
pasien kegawatdaruratan psikiatrik sangat kompleks. Para profesional yang bekerja
pada pelayanan kegawatdaruratan psikiatrik umumnya beresiko tinggi mendapatkan
kekerasan akibat keadaan mental pasien mereka. Pasien biasanya datang atas kemauan

1
pribadi mereka, dianjurkan oleh petugas kesehatan lainnya, atau tanpa disengaja.
Penatalaksanaan pasien yang menuntut intervensi psikiatrik pada umumnya meliputi
stabilisasi krisis dari masalah hidup pasien yang bisa meliputi gejala atau kekacauan
mental baik sifatnya kronis ataupun akut.
B. Rumusan Masalah
1. Apa Itu Kegawatdaruratan Psikiatri
2. Klasifikasi Kegawatdaruratan Psikiatri
3. Faktor Penyebab Gadar Psikiatri
4. Macam Tanda Dan Gejala Awal Pada
a. Gaduh Gelisah
b. Bunuh Diri
c. Tindak Kekerasan
d. Penyalahgunaan Zat (NAPZA)
5. Dasar Hukum Pelayanan Kedaruratan Psikiatri
6. Penggolongan Diagnosa Ganguan Jiwa

C. Tujuan
1. Menjelaskan Tentang Apa Itu Kegawatdaruratan Psikiatri
2. Menjelaskan Tentang Apa Saja Klasifikasi Kegawatdaruratan Psikiatri
3. Menjelaskan Tentang Apa Saja Faktor Penyebab Gadar Psikiatri
4. Menjelaskan Tentang Macam Tanda dan Gejala Awal Pada Gaduh Gelisah
5. Menjelaskan Tentang Macam Tanda dan Gejala Awal Pada Bunuh Diri
6. Menjelaskan Tentang Macam Tanda dan Gejala Awal Pada Tindak Kekerasan
7. Menjelaskan Tentang Macam Tanda dan Gejala Awal Pada Penyalahgunaan Zat
(NAPZA)
8. Menjelaskan Tentang Dasar Hukum Pelayanan Kedaruratan Psikiatri
9. Memaparkan Tentang Penggolongan Diagnosa Ganguan Jiwa

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Kegawatdaruratan Psikiatri


Keperawatan Gawat Darurat adalah pelayanan professional yang didasarkan
pada ilmu keperawatan gawat darurat dan teknik keperawatan gawat darurat
berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-spiritual yang komprehensif ditujukan pada
semua kelompok usia yang sedang mengalami masalah kesehatan yan bersifat urgen,
akut, dan kritis akibat trauma, proses kehidupan ataupun bencana.
Kedaruratan psikiatri adalah suatu gangguan akut pada pikiran, perasaan,
perilaku atau hubungan social yang membutuhkan suatu intervensi segera.
Kedaruratan psikiatri merupakan cabang dari Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kedokteran
Kedaruratan, yang dibuat untuk menghadapi kasus kedaruratan yang memerlukan
intervensi psikiatrik. Tempat pelayanan kedaruratan psikiatri antara lain di rumah
sakit umum, rumah sakit jiwa, klinik dan sentra primer. Kasus kedaruratan psikiatrik
meliputi gangguan pikiran, perasaan dan perilaku yang memerlukan intervensi
terapeutik segera, antara lain: (Elvira, Sylvia D dan Gitayanti Hadisukanto, 2010).

B. Klasifikasi Kegawatdaruratan Psikiatri


1. Tidak berhubungan dengan kelainan organik diantaranya gangguan emosional
akut akibat dari antara lain; kematian, perceraian, perpisahan, bencana alam,
pengasingan dan pemerkosaan.
2. Berhubungan dengan kelainan organik antara lain akibat dari; trauma kapitis,
stroke, ketergantungan obat, kelainan metabolik, kondisi sensitivitas karena obat.

C. Faktor Penyebab Kegawatdaruratan Psikiatri


1. Tindak kekerasan atau gaduh gelisah
2. Perubahan perilaku mengarah ke bunuh diri
3. Gangguan penggunaan zat

Kedaruratan psikiatri adalah tiap gangguan pada pikiran, perasaan, dan tindakan
seseorang yang memerlukan intervensi terapeutiksegera diantaranya yang paling
sering adalah:

3
1. Bunuh diri (suicide)
2. Perilaku kekerasan dan menyerang (violence and assaultive).

D. Macam Tanda dan Gejala Awal Pada


1. Gaduh Gelisah
Kegawatdaruratan psikiatrik gaduh gelisah dapat disebabkan oleh beberapa
hal sebagai berikut:
a. Psikosis (fungsional maupun organik).
Psikosis fungsional: psikosis reaktif, skizofrenia, manik depresif, amok dan
sebagainya). Sedangkan psikosis organik: delirium, demensia, psikosis
berhubungan dengan zat, psikosis karena gangguan metabolik, psikosis
karena traumakepala maupun infeksi pada otak dan sebagainya.
b. Kecemasan akut denggan atau tanpa panik
c. Kebingungan post konvulsi
d. Reaksi disosiasi dan keadaan fugue
e. Ledakan amarah/temper tantrum

Penanganan kegawatdaruratan psikiatrik pada gaduh gelisah yaitu:


a. Bersikap tenang dan penuh percaya diri serta dengan kewaspadaan penuh
maka nilai kondisi pasien yang berkemungkinan agresif.
b. Informasikan kepada pasien bahwa kekerasan tak dapat diterima. Periksa dan
wawancarai pasien dengan tutur kata yang lembut, menenangkan, bantu
menilai realitas pasien serta beri keyakinan bahwa pasien akan mendapat
pertolongan.
c. Kalau mungkin lepas ikatan sambil waspada apabila pasien menipu atau
melarikan diri

Beberapa hal yang perlu kita curigai adanya gangguan mental organik bila:
a. Onset akut
b. Episode pertama
c. Usia tua
d. Penyakit fisik atau cidera yang baru terjadi
e. Riwayat penyalahgunaan obat
f. Adanya halusinasi audiotorik
4
g. Ada gejala neurologic: kejang, penurunan kesadaran, nyeri kepala tertentu
h. Gangguan berbicara dan berjalan.

Pemeriksaan laboratorium untuk pasien gaduh gelisah akut dengan kecurigaan


organik:
a. Test darah lengkap
b. Fungsi liver/hati
c. Test urin untuk NAPZA
d. Kadar alkohol dalam darah.

2. Bunuh Diri
a. Definisi
Bunuh diri adalah segala perbuatan seseorang yang dapat mengahiri
hidupnya sendiri dalam waktu singkat. Selama tahun 1950 sampai dengan
1988 rata – rata bunuh diri pada remaja yaitu usia antara 15 dan 19 tahun
(Attempt suicide, 1991).
Menurut Budi Anna Keliat, bunuh diri adalah tindakan agresif yang
merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri kehidupan. Keadaan ini didahului
oleh respons maladaptive. Bunuh diri merupakan keputusan terakhir
dari individu untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Setiap aktivitas
yang jika tidak dicegah dapat mengarah pada kematian (Gail w.Stuart,
Keperawatan Jiwa, 2007). Pikiran untuk menghilangkan nyawa sendiri (Ann
Isaacs, Keperawatan Jiwa & Psikiatri, 2004). Ide, isyarat dan usaha bunuh diri,
yang sering menyertai gangguan depresif sering terjadi pada remaja (Harold
Kaplan, Sinopsis Psikiatri,1997).
Menurut Edwin Scheidman, bunuh diri adalah sebagai tindakan
pembinasaan yang disadari dan ditimbulkan diri sendiri, dipandang sebagai
malaise multidimensional pada kebutuhan individual yang menyebabkan
suatu masalah dimana tindakan dirasakan sebagai pemecahan yang terbaik.

b. Jenis bunuh diri


Emule Durkheim :
1) Egoistic suicide : Individu ini tidak mampu berintegrasi dengan
masyarakat karena kondisi kebudayaan
5
2) Altruistic suicide yang menjadikan individu itu seolah-olah tidak
berkepribadian, Individu ini terikat pada tuntutan tradisi khusus.
Contoh: hara-kiri di jepang (menikam atau menusuk perut)
3) Anomic suicide Individu kehilangan pegangan dan tujuan karena gangguan
keseimbangan integrasi antara individu dengan masyarakat

c. Perilaku bunuh diri dapat dibagi menjadi:

Ancaman Bunuh Diri


(suicide threat)
1) Ancaman bunuh diri (suicide threata)
Ada peringatan verbal dan non verbal, Ancaman ini menunjukkan
ambivalensi seseorang terhadap kematian, Jika tidak mendapat respon
maka akan ditafsirkan sebagai dukungan untuk melakukan tindakan bunuh
diri.
2) Upaya Bunuh Diri (suicide attempt)
Semua tindakan dengan sengaja yang dilakukan individu terhadap diri
sendiri yang dapat menyebabkan kematian jika kegiatan tersebut sampai
tuntas tidak dicegah.
3) Isyarat Bunuh Diri (suicide gesture)
Bunuh diri yang direncanakan untuk usaha mempengaruhi perilaku orang
lain.

d. Metode bunuh diri pada remaja umumnya adalah


1) Over dosis obat dan melukai pergelangan tangan pada perempuan
2) Menggunakan pisau, senjata dan automobile pada laki-laki
3) Selain itu ada juga yang lompat dari ketinggian atau kereta api

e. Faktor penyebab bunuh diri pada remaja


1) Hubungan yang tidak bermakna
2) Sulit mempertahankan hubungan interpersonal
3) Pelarian dari pwnganiayaan fisik atau pemerkosaan
4) Perasaan tidak dimengerti orang lain
6
5) Kehilangan orang yang dicintai
6) Keadaan fisik
7) Masalah dengan orang tua dan lingkungan
8) Masalah seksual
9) Depresi

3. Tindak kekerasan
Violence atau tindak kekerasan adalah agresi fisik yang dilakukan
oleh seseorang terhadap orang lain. Jika hal itu diarahkan kepada dirinya
sendiri, disebut mutilasi diri atau tingkah laku bunuh diri  (suicidal behavior).
Tindak kekerasan dapat timbul akibat berbagai gangguan psikiatrik, tetapi dapat
pula terjadi pada orang biasa yang tidak dapat mengatasi tekanan hidup sehari-
hari dengan cara yang lebih baik.

4. Penyalahgunaan zat (NAPZA)


Penyalahgunaan zat adalah penggunaan zat secara terus menerus bahkan
sampai setelah terjadi masalah. Ketergantungan zat menunjukan kondisi yang
parah dan sering dianggap sebagai penyakit. Adiksi umumnya merujuk pada
perilaku psikososial yang berhubungan dengan ketergantungan zat. Gejala putus
zat terjadi karena kebutuhan biologik terhadap obat. Toleransi adalah peningkatan
jumlah zat untuk memperoleh efek yang diharapkan. Gejala putus zat dan
toleransi merupakan tanda ketergantungan fisik (Stuart & Sundeen 1998).

Tujuan penanganan pada kasus penyalahgunaan zat adalah:


a. Bebas dari kegawatdaruratan
b. Menciptakan lingkungan yang aman dan stabil bagi pasien
c. Observasi adanya penyakit yang lain, komplikasi dan sebagainya.
d. Upayakan pasien tetap sadar, kurangi ansietas, memberi pengertian obat atau
zat menimbulkan pengalaman yang tak menyenangkan.

Follow up pada pasien yang mengalami atau akibet penggunaan narkoba adalah:
Untuk pasien yang telah melewati krisis dan dapat berfungsi normal oleh karena
sering terjadi pasien merasa bersalah, malu, bingung, kacau dan sebagainya:
a. Menggali riwayat pemakaian yang telah terjadi
7
b. Membantu pasien memperoleh gambaran yang sebenarnya dan yang
bermanfaat untuk kesembuhan, serta terhindar dari pemakaian berulang.
c. Konseling kegawatdaruratan zat (pendekatan secara hangat)
d. Menciptakan suasana aman
e. Menjauhkan dari benda berbahaya
f. Aktif mendengarkan
g. Empati

E. Dasar Hukum Pelayanan Kedaruratan Psikiatri


Gangguan jiwa yaitu terjadi perubahan perilaku, perasaan dan pikiran yang luar
biasa dan tidak disadari dengan baik dan dapat menimbulkan ancaman bagi pasien
tersebut maupun orang lain. Menurut Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009
Tentang Kesehatan: Penderita gangguan jiwa yang mengancam keselamatan dirinya
dan/ atau orang lain wajib mendapatkan pengobatan dan perawatan di fasilitas
pelayanan kesehatan. Deteksi dini ganguan jiwa pada tenaga medis dan perawat di
fasilitas pelayanan primer sangat penting Masalah kegawat daruratan psikiatri juga
dapat disebabkan oleh akibat dari kondisi medik umumyang menampilkan gejala-
gejala psikiatri, atau sebagai akibat yang merugikan dari obat/ zat atau intoksikasi
maupun reaksi antar beberapa jenis obat. Antara lain: 1. Psikosomatik, 2. Gangguan
cemas, 3. Gangguan depresi, 4. Gangguan penyalahgunaan zat/ obat, 5. Gangguan
demensia, 6. Bunuh diri/ intoksikasi, 7. Gangguan psikotik, 8. Gangguan
perkembangan anak-remaja, 9. Gangguan perilaku anak-remaja. Pengobatan yang
diperlukan antara lain: 1. Anti cemas, 2. Anti depresi, 3. Anti psikotik. Bila
memerlukan penanganan yang lebih spesifik perlunya merujuk ke fasilitas pelayanan
kesehatan selanjutnya.
Peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pelayanan gawat darurat
adalah UU No 23/1992 tentang Kesehatan, Peraturan Menteri Kesehatan No.585/1989
tentang Persetujuan Tindakan Medis, dan Peraturan Menteri Kesehatan No.159b/1988
tentang Rumah Sakit. Dipandang dan segi hukum dan medikolegal, pelayanan gawat
darurat berbeda dengan pelayanan non-gawat darurat karena memiliki karakteristik
khusus. Beberapa isu khusus dalam pelayanan gawat darurat membutuhkan
pengaturan hukum yang khusus dan akan menimbulkan hubungan hukum yang
berbeda dengan keadaan bukan gawatdarurat.

8
Ketentuan tentang pemberian pertolongan dalam keadaan darurat telah tegas
diatur dalam pasal 5l UUNo.29/2004 tentang Praktik Kedokteran, di mana seorang
dokter wajib melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan. Selanjutnya,
walaupun dalam UU No.23/1992 tentang Kesehatan tidak disebutkan istilah
pelayanan gawat darurat namun secara tersirat upaya penyelenggaraan
pelayanan tersebutsebenamya merupakan hak setiap orang untuk memperoleh
derajat kesehatan yang optimal (pasal 4) Selanjutnya pasal 7 mengatur
bahwa “Pemerintah bertugas menyelenggarakan upaya kesehatan yang merata
dan terjangkau oleh masyarakat “termasuk fakir miskin, orang terlantar dan
kurang mampu. Tentunya upaya ini menyangkut pula pelayanan gawat darurat,
baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat (swasta).
Rumah sakit di Indonesia memiliki kewajiban untuk menyelenggarakan
pelayanan gawat darurat 24 jam sehari sebagai salah satu persyaratan ijin rumah sakit.
Dalam pelayanan gawat darurat tidak diperkenankan untuk meminta uang muka
sebagai persyaratan pemberian pelayanan. Dalam penanggulangan pasien gawat
darurat dikenal pelayanan fase pra-rumah sakit dan fase rumah sakit. Pengaturan
pelayanan gawat darurat untuk fase rumah sakit telah terdapat dalam Peraturan
Menteri Kesehatan No.159b/1988 tentang Rumah Sakit, di mana dalam pasal 23
telah disebutkan kewajiban rumah sakit untuk menyelenggarakan pelayanan
gawat darurat selama 24 jam per hari.
Setiap tindakan medis harus mendapatkan persetujuan dari pasien (informed
consent). Hal itu telah diatur sebagai hak pasien dalam UU No.23/1992
tentang Kesehatan pasal 53 ayat 2 dan Peraturan Menteri Kesehatan
No.585/1989 tentang Persetujuan Tindakan Medis (inform concent). Dalam
keadaan gawat darurat di mana harus segera dilakukan tindakan medis pada
pasien yang tidak sadar dan tidak didampingi pasien, tidak perlu persetujuan dari
siapapun (pasal 11 Peraturan Menteri Kesehatan No.585/1989). Dalam hal
persetujuan tersbut dapat diperoleh dalam bentuk tertulis, maka lembar persetujuan
tersebut harus disimpan dalam berkas rekam medis.

F. Penggolongan Diagnosa Ganguan Jiwa


Gangguan jiwa adalah suatu kelompok gejala atau perilaku yang secara klinis
bermakna dan yang disertai penderitaan atau distress pada kebanyakan kasus
dan berkaitan dengan terganggunya fungsi atau disfungsi seseorang. Klasifikasi
9
adalah pengelompokan atau pembentukan kelas. Merupakan suatu fenomena
yang didapat dari penelitian secara kuantitatif dan dikelompokkan secara ilmiah.
Diagnosis yang benar dan baku didapat melalui terapi yang tepat,
komunikasi antar medis yang antar pakar, dan pengolahan data (statistik).

1. Sejarah
Pada 500 tahun sebelum masehi, Hippocrates menemukan tentang mania dan
hysteria. Kemudian Emil Kraeplin dan Eugen Bleuler menemukan tentang
psikosa organik, psikosa endogen (patologiotak), kelainan kepribadian, dan
keadaan reaktif. Pada tahun 1963, WHO menyusun penggolongan gangguan jiwa.
Pada tahun 1965, disusunlah ICD-8 (International Classification of Diseases).

2. Perkembangan Di Indonesia
Pada tahun 1973-1983 menggunakan PPDGJ-1 (Pedoman Penggolongan dan
Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia) atau sama dengan ICD-8 (International
Classification of Diseases). Pada tahun 1983-1993 menggunakan PPDGJ-1 atau
sama dengan ICD-9 dan DSM III. Pada tahun 1994-2004 menggunakan PPDGJ-1
atau sama dengan ICD-10.

3. Hierarki
WHO mengelompokkan gangguan-gangguan jiwa dalam blok-blok tertentu
berdasarkan adanya persamaan deskriptif dan meletakkan blok-blok tersebut
berdasarkan suatu urutan hierarkis. Pengertian urutan hierarkis disini adalah pada
umumnya, gangguan-gangguan jiwa yang secara hierarkis terletak dalam blok
diurutan atas mempunyai lebih banyak unsur (gejala) dari gangguan jiwa yang
terletak dalam blok dibawahnya.

4. Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PDGJ)


a. Gangguan mental organik
Adalah suatu kelompok ganguan jiwa yang disebabkan oleh adanya gangguan
yang terjadi pada organ lain diluar otak tetapi gangguan tersebut
mempengaruhi fungsi dan kerja otak.

10
b. Gangguan mental dan perilaku akibat gangguan mental simptomatik yang
merupakan komponen psikologi yang diikuti gangguan fungsi secara badaniah.
c. Skizofrenia
Menurut PDGJ III skizofrenia adalah gangguan psikosis yang ditandai dengan
distorsi pikiran dan persepsi yang mendasar dan khas serta afek yang tidak
wajar atau tumpul. Ciri khas skizofrenia antara lain, depresi dan tidak ada
keinginan menjalani hidup, sering mengeluhkan dan melakukan hal-hal aneh,
gelisah, agresif, kurang merawat diri dan menjaga kebersihan diri, dan sering
berhalusinasi.
d. Gangguan suasana perasaan (Depresi)
Depresi merupakan salah satu masalah kesehatan jiwa yang mendapat
perhatian khusus karena jumlah penderitanya yang bertambah setiap
waktunya. WHO memprediksikan pada tahun 2020 di negara-negara
berkembang depresi akan menjadi penyakit mental yang paling banyak dialami
dan depresi berat akan menjadi penyebab kedua terbesar setelah serangan
jantung. Beberapa ciri khas yang ada pada penderita depresi antara lain tidak
ingin bersosialisasi dengan orang lain (merarik diri), kehilangan semangat
hidup dan tidak ada harapan akan masa depan, merasa bersalah, merasa lebih
baik mati dan sering melakukan percobaan bunuh diri.
e. Ansietas atau kecemasan
f. Gangguan makan, gangguan tidur, dan disfungsi seksual
g. Gangguan kepribadian dan perilaku masa dewasa
h. Retardasi mental
Keadaan perkembangan kejiwaan seseorang yang terhenti atau tidak lengkap,
terutama ditandai dengan terjadinya hendaya keterampilan selama masa
perkembangan sehingga berpengaruh pada tingkat kecerdasan secara
keseluruhan seperti kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan sosial.
i. Ganguan brevaza, gangguan membaca, berhitung dan autisme
j. Gangguan hiperkinetik dan gangguan tingkah laku.

11
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Kedaruratan psikiatri adalah suatu gangguan akut pada pikiran, perasaan,
perilaku atau hubungan social yang membutuhkan suatu intervensi segera.
Kedaruratan psikiatri merupakan cabang dari Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kedokteran
Kedaruratan, yang dibuat untuk menghadapi kasus kedaruratan yang memerlukan
intervensi psikiatrik.
Klasifikasi kegawatdaruratan psikiatri antara lain tidak berhubungan dengan
kelainan organik diantaranya gangguan emosional akut akibat dari antara lain;
kematian, perceraian, perpisahan, bencana alam, pengasingan dan pemerkosaan,
berhubungan dengan kelainan organik antara lain akibat dari; trauma kapitis, stroke,
ketergantungan obat, kelainan metabolik, kondisi sensitivitas karena obat.
Faktor penyebab kegawatdaruratan yaitu tindak kekerasan atau gaduh gelisah,
perubahan perilaku mengarah ke bunuh diri, dan gangguan penggunaan zat.
Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PDGJ) adalah gangguan mental
organik, gangguan mental dan perilaku, skizofrenia, gangguan suasana perasaan
(Depresi), ansietas atau kecemasan, gangguan makan, gangguan tidur, dan disfungsi
seksual, gangguan kepribadian dan perilaku masa dewasa, retardasi mental, ganguan
brevaza, gangguan membaca, berhitung dan autism, gangguan hiperkinetik dan
gangguan tingkah laku.

B. Saran
Makalah ini masih sangat jauh dari kata sempurna sehingga makalah ini
sangat membutuhkan kritik dan saran dari pembaca terkait penjelasan tentang
Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa dan Kegawatdaruratan Psikiatri. Dengan
demikian sehingga bisa menjadi bahan masukan agar di masa yang akan datang ada
perubahan yang lebih baik lagi dalam penyusunan makalah ini.

12
DAFTAR PUSTAKA

Eko Sunaryanto, B. (2009). Kegawatdaruratan Psikiatri. Tidak diterbitkan.


Elvira, Sylvia D dan Gitayanti Hadisukanto ed. (2010).  Buku Ajar Psikiatri.
Jakarta: Badan Penerbit FKUI.
Sadock, B.J., Sadock, V.A., et al. (2007). Kaplan & Sadock,S Synopsis Of Psikiatry:
Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry. 10th Edition. New York: Lippincott
Williams & Wilkins.
Stuart, Gail W. (2007). Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 5. Jakarta: EGC.
Maslim, R. (2004).Pedoman Penggolongan Diagnosa Gangguan Jiwa Indonesia. ke III.
Jakarta.