Anda di halaman 1dari 6

SUMMARY LECTURE

DEWAN PENGAWAS SYARI’AH

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Audit Organisasi Syariah

Dosen pengampu Fahri Ali Ahzar, M.Si

Disusun Oleh :

Kelompok 6

1. Regita Pramesti ( 175221017 )


2. Ika Noviana ( 175221066 )
3. Rosita ( 175221114 )
Kelas : Akuntansi 6C

AKUNTANSI SYARIAH

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA

2020
A. Pengertian Dewan Pengawas Syariah
Dalam kamus bahasa Indonesia kata “dewan” adalah badan yang terdiri dari
beberapa orang yang perkerjaannya memutuskan sesuatu dengan jalan berunding,
pengawas berasal dari kata awas yang berarti pengawas. Sedangkan “syariah” adalah
komponen ajaran Islam yang mengatur tentang kehidupan seorang muslim baik dari
bidang ibadah (habluminallah) maupun dalam bidang muamalah (hablumminannas)
yang merupakan aktualisasi akidah yang menjadi keyakinannya. Sementara
muamalah sendiri meliputi berbagai bidang kehidupan antara lain yang menyangkut
ekonomi atau harta dan perniagaan disebut muamalah maliyah.
Dewan pengawas syariah adalah suatu badan yang bertugas mengawasi
pelaksanaan keputusan DSN di lembaga keuangan syariah. DPS diangkat dan
diberhentikan di lembaga keuangan syariah melalui RUPS setelah mendapat
rekomendasi dari DSN. Dewan Pengawas Syariah atau yang lebih dikenal sebagai
DPS merupakan badan yang ada di lembaga keuangan syariah dan bertugas
mengawasi pelaksanaan keputusan Dewan Syariah Nasional di lembaga keuangan
syariah. Dewan Pengawas Syariah ini berkedudukan di bawah Rapat Umum
Pengawas Syariah atau sejajar dengan Dewan Komisaris dalam struktur suatu Bank
Syariah atau lembaga keuangan syariah.
Tugas utama Dewan Pengawas Syariah adalah mengawasi kegiatan usaha lembaga
keuangan syari`ah agarsesuai dengan ketentuan dan prinsip syari`ah yang telah
difatwakan oleh Dewan Syariah Nasional. Fungsi utama Dewan Pengawas Syariah
adalah sebagai penasehat dan pemberi saran kepada direksi, pimpinan unit usaha
syari`ah dan pimpinan kantor cabang syari`ah mengenai hal-hal yang terkait dengan
aspek syari`ah dan sebagai mediator antara lembaga keuangan syariah dengan Dewan
Syariah Nasional dalam mengkomunikasikan usul dan saran pengembangan produk
dan jasa dari lembaga keuangan syariah yang memerlukan kajian dan fatwa dari
Dewan Syariah Nasional.
Menurut UU No. 21 Tahun 2008 tentang perbankan syariah atau lembaga
keuangan syariah, setiap bank Islam atau lembaga keuangan Islam di indonesia, Bank
Umum Syariah (BUS) maupun Unit Usaha Syariah (UUS), wajib membentuk Dewan
Pengawas Syariah, yang secara umum bertugas untuk memberikan nasihat serta saran
kepada direksi serta mengawasi kegiatan bank agar tidak melenceng dari prinsip
syariah.
B. Dasar Hukum Dewan Pengawas Syariah
Dasar hukum dibentuknya Dewan Pengawas Syariah dan implementasinya dapat
dilihat dari perintah allah yang termasuk dalam Q.S. At-Taubah 9 : 105)
Artinya : “dan katakanalah: “bekerjalah kamu, maka allah dan rasulnya serta orang
mu’min akan melihat perkerjaan itu dan kamu akan dikembalikan kepada ( Allah)
yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata lalu diberikannya kepaada kamu
apa yang telah kamu kerjakan. (Q.S. AT-Taubah,9: 105).
Dasar hukum menurut Peraturan Bank Indonesia
1. Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 6/17/PBI/2004 tanggal 1 juli 2004 tentang
Perkreditan Rakyat berdasarkan Prinsip Syariah.
2. Peraturan Bank Indonesia No.6/24/PBI/2004 tanggal 14 Oktober tentang Bank
Umum yang melaksanakan kegiatan usaha yang berdasarkan Prinsip Syariah yang
lalu di ubah dengan Peraturan Bank Indonesia No.7/35/PBI/2005 tanggal 29
September 2005 tentang Bank Umum yang melaksanakan kegiatan usaha yang
berdasarkan Prinsip Syariah.
3. Peraturan Bank Indonesia No.8/3/PBI/2006 tanggal 30 Januari tentang
perubahan kegiatan usaha Bank Umum Konvensional menjadi Bank Umum yang
melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan Prinsip Syariah dan Pembukaan Kantor
Bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan Prinsip Syariah oleh Bank
Umum Konvensional.
Undang-Undang No 21 Tahun 2008 Pasal 32 menyebutkan :
1. Dewan Pengawas Syariah wajib dibentuk di Bank Syariah dan Bank Umum
Konvensional yang memiliki UUS.
2. Dewan Pengawas Syariah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diangkat oleh
Rapat Umum Pemegang Saham atas rekomendasi Majelis Ulama Indonesia.
3. Dewan Pengawas Syariah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertugas
memberikan nasihat dan saran kepada direksi serta mengawasi kegiatan Bank agar
sesuai dengan Prinsip Syariah
4. Ketentuan lebih lanjut mengenai pembentukan Dewan Pengawas Syariah
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Bank Indonesia.
C. Fungsi dan Peran Dewan Pengawas Syariah (DPS)
Fungsi utama DPS adalah mengawasi kegiatan usaha lembaga keuangan syariah
agar sesuai dengan ketentuan dan prinsip syariah yang telah difatwakan oleh DSN
-MUI.
Peran Dewan Pengawas Syariah
Dalam buku yang telah diterbitkan oleh BI dijelaskan bahwa DPS memiliki tiga
peran yaitu :
1. Sebagai penasihat dan pemberi saran kepada direksi, pimpinan unti usaha
syariah dan pimpinan kantor cabang syariah mengenai hal-hal yang
berkaitan dengan aspek syariah
2. Sebagai mediator antara bank dengan DSN dalam mengkomunikasikan
usulan pengembangan produk dan layanan bank yang memerlukan kajian dan
fatwa dari DSN.
3. Sebagai perwakilan DSN yang ditempatkan pada Bank.
D. Tugas, wewenang dan Tanggungjawab DPS
Berdasarkan peraturan Bank Indonesia No.6 tahun 2004 pasal 27 tugas dan
wewenang dan tanggungjawab DPS adalah:
1. Memastikan dan mengawasi kesesuaian kegiatan operasional bank terhadap
fatwa yang dikeluarkan oleh DSN-MUI.
2. Menilai aspek syariah terhadap pedoman operasional dan produk yang
dikeluarkan bank.
3. Memberikan opini dari aspek syariah terhadap pelaksanaan operasional bank
secara keseluruhan dalam laporan publikasi bank.
4. Mengkaji produk dan jasa baru yang belum ada fatwa untuk dimintakan
fatwa kepada DSN- MUI.
5. Menyampaikan hasil pengawasan syariah sekurang-kurangnya setiap 6 bulan
kepada Direksi, komisaris, DSN -MUI dan Bank Indonesia.
Sedangkan menurut surat keputusan DSN -MUI no. Kep-98/MUI/III/2001
tentang susunan pengurus DSN MUI Masa Bakti Tahun 2000-2005 bahwa DSN
memberi tugas pada DPS untuk:
1. Melakukan pengawasan secara periodik pada lembaga keuangan syariah.
2. Mengajukan usul-usul pengembangan lembaga keuangan syariah kepada
pemimpin lembaga yang bersangkutan dan kepada DSN
3. Melaporkan perkembangan produk dan operasional lembaga keuangan syariah
yang diawasinya kepada DSN sekurang-kurangnya dua kali dalam satu tahun
anggaran.
E. Prosedur Penetapan Anggota Dewan Pengawas Syari’ah
Prosedur penetapan untuk menjadi anggota Dewan pengawas yaitu :
a. Lembaga keuangan syariah mengajukan permohonan penempatan anggota
Dewan Pengawas Syari’ah kepada DSN. Permohonan tersebut dapat
disertai usulan nama-nama calon DPS.
b. Permohonan tersebut dibahas dalam rapat badan pelaksana harian DSN,
c. Hasil rapat Badan Pelaksana Harian DSN kemudian dilaporkan kepada
pimpinan DSN.
d. Pimpinan DSN menetapkan nama-nama yang diangkat sebagai anggota
DPS.
F. Analisis Peran DPS dalam memastikan Pemenuhan Atas Kepatuhan pada Prinsip
Syari’ah pada LKS
Peran DPS pada sebuah lembaga keuangan syariah,antara lain :
a. Sebagai Supervisor : DPS menjadi pengawas langsung kepatuhan
terhadap prinsip-prinsip syari’ah, serta mengawasai implementasi fatwa
DSN pada operasional lembaga keuangan syaria’ah
b. Sebagai Advisor : DPS memberi nasihat,pemikiran,saran,sekaligus
sebagai konsultan agar dalam pengembangan produk dan jasa inovatif
sesuai dengan prinsip-prinsip syari’ah
c. Sebagai Marketer : DPS menjadi mitra strategis untuk peningkatan
kualitas dan kuantitas lembaga keuangan syari’ah. DPS dengan kapasitas
yang dimiliki sebagai ulama dapat membangun kemitraan lewat
komunikasi massa,memberikan motivasi,penjelasan dan edukasi publik
kepada masyarakat terkait pentingnya bermuamalah sesuai prinsip-prinsip
syari’ah
d. Sebagai Supporter : DPS memberi dukungan,motivasi,dan doa agar
pengelolaan lembaga keuangan syari’ah senantiasa dalam koridor syari’ah
sesuai dengan pedoman yang telah digariskan Al-Qur’an dan al-Sunnah.
e. Sebagai Player : DPS terlibat sebagai anggota lembaga keuangan syari’ah
bertujuan untuk melaksanakan dan menjaga prinsip-prinsip syari’ah