Anda di halaman 1dari 8

PENGARUH ABU AMPAS TEBU SEBAGAI BAHAN TAMBAH SEMEN

TERHADAP SIFAT – SIFAT MEKANIK BETON DENGAN


MENGGUNAKAN PASIR SIANTAR

Steven A T M Rajagukguk1 dan Nursyamsi2


1
Departemen Teknik Sipil, Universitas Sumatera Utara (USU)
Jl. Perpustakaan, Kampus USU Medan 20155 INDONESIA
E-mail: steven_andersonr@yahoo.com
2
Staf Pengajar Departemen Teknik Sipil, Universitas Sumatera Utara (USU)
Jl. Perpustakaan, Kampus USU Medan 20155 INDONESIA
E-mail: njnursyamsi@gmail.com

Abstrak

Beton merupakan bahan utama yang paling populer dan paling banyak digunakan sebagai bahan konstruksi
struktur bangunan di seluruh dunia. Pasir Siantar merupakan pasir yang tersedia di Kota Pematang Siantar.
Pasir ini berjenis pasir kuarsa yang memiliki karakterisitik yang berbeda dengan pasir biasa yang digunakan
pada campuran beton. Abu ampas tebu yang berasal dari Pabrik Gula Kwala Madu Langkat merupakan
limbah yang memiliki kandungan silika yang tinggi yaitu sebesar 75,82%. Penelitian ini dilakukan dengan
menggunakan abu ampas tebu sebagai bahan tambah semen dengan variasi penambahan abu ampas tebu
sebesar 0%, 5%, 7,5%, 10%, dan 12,5% dari total berat semen. Mutu beton yang direncanakan adalah 20
Mpa dengan jumlah benda uji 75 buah, dengan menggunakan benda uji silinder dengan ukuran diameter
150 mm dan tinggi 300 mm. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh abu ampas tebu terhadap
absorbsi, kuat tekan, kuat tarik belah, dan elastisitas beton yang menggunakan Pasir Siantar, yang dilakukan
pengujian pada umur beton 28 hari. Hasil pengujian yang didapat adalah variasi penambahan 5% abu ampas
tebu mengalami peningkatan pada pengujian absorbsi, kuat tekan, kuat tarik belah, dan elastisitas beton.
Nilai absorbsi beton menurun seiring bertambahnya kadar abu ampas tebu pada campuran beton.

Kata kunci: beton, semen, Pasir Siantar, abu ampas tebu

Abstract
Concrete is the most popular and most widely used main material as a construction material in the building
structures around the world. Siantar sand is the available sand in Pematang Siantar. The type of the sand is
quartz sand which has different characteristics with regular sand. Bagasse ash from the sugar factory Kwala
Madu Langkat is waste that has a high silica content that is equal to 75.82%. This research was conducted
by using bagasse ash as a cement additive with the variation of bagasse ash addition is 0%, 5%, 7.5%, 10%,
and 12.5% of the total weight of the cement. The planned strength of concrete is 20 MPa with a number of
specimen 75 pieces, using a test specimen cylinder with a diameter of 150 mm and a height of 300 mm.
This study aims to determine the effect of the bagasse ash on concrete absorption, compressive strength,
split tensile strength, and elasticity of concrete using Siantar sand, which conducted at 28 days. The test
results obtained that the 5% additional variation of bagasse ash increased the absorption, compressive
strength testing, split tensile strength, and elasticity of the concrete. The value of concrete absorption
decreases as bagasse ash content increases in the concrete mix.
Keywords: concrete, cement, Siantar Sand, bagasse ash

1. Pendahuluan
Indonesia sebagai salah satu negara berkembang terus melakukan pembangunan di segala
bidang (Rohman dan Cahyono, 2013). Beton merupakan bahan yang paling banyak digunakan
sebagai bahan konstruksi bangunan. Beton didefinisikan sebagai campuran antara semen Portland
atau semen hidraulik yang lain, agregat halus, agregat kasar, dan air, dengan atau tanpa bahan
tambahan membentuk massa padat (Tambunan, 2016). Bahan air dan semen disatukan akan
membentuk pasta semen yang berfungsi sebagai bahan pengikat, sedangkan agregat halus dan
agregat kasar sebagai bahan pengisi (Paul Nugraha dan Antoni, 2007). Menurut Tri Mulyono
(2003), beton memiliki kelebihan yaitu, harganya relatif murah, mampu memikul beban yang
berat, mudah dibentuk sesuai dengan kebutuhan konstruksi, dan biaya perawatan nya yang kecil.
Untuk mengetahui dan mempelajari perilaku elemen gabungan kita memerlukan pengetahuan
mengenai karakteristik masing-masing komponen. Penggunaan dari limbah pabrik sebagai bahan
tambah semen pada campuran beton dapat mengurangi biaya pembuatan beton, dapat
meningkatkan mutu beton, dan dapat mengurangi polusi (Abbasi dan Zargar, 2013).
PT Pabrik Gula Kwala Madu merupakan pabrik gula menghasilkan limbah berupa sisa
pembakaran boiler, yaitu abu ampas tebu. Abu ampas tebu merupakan hasil perubahan secara
kimiawi dari pembakaran ampas tebu murni (Siregar, 2010). Abu ampas tebu ini memiliki
kandungan silika yang cukup tinggi, sehingga memiliki sifat pozzolan (Rompas et al. 2013).
Menurut standar ASTM C 125-07 (2007), pozzolan ialah bahan yang mempunyai silika atau silika
alumina yang memiliki sedikit atau tidak ada sifat semen tetapi apabila dalam bentuk butiran yang
halus dan dengan kehadiran kelembaban, bahan ini dapat bereaksi secara kimia dengan kalsium
hidroksida pada suhu biasa untuk membentuk senyawa bersifat semen. Dengan ukuran butiran
yang halus dan kandungan silika yang tinggi, maka abu ampas tebu dapat dimanfaatkan sebagai
bahan tambah semen dalam campuran beton.
Pasir Siantar merupakan pasir yang tersedia di Kota Pematang Siantar, Sumatera Utara.
Pasir ini merupakan pasir kuarsa yang memiliki karakteristik butiran seperti kristal yang berbeda
karakteristiknya dengan pasir sungai yang umum digunakan dalam pembuatan beton. Pasir kuarsa
juga dikenal dengan nama pasir putih merupakan hasil pelapukan batuan yang mengandung
mineral utama seperti kuarsa dan feldsfar. (Kasiati et al. 2012). Pasir kuarsa mempunyai komposisi
gabungan dari SiO2, Al2O3, CaO, Fe2O3, TiO2, CaO, MgO, dan K2O, berwarna putih bening
atau warna lain bergantung pada senyawa pengotornya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan abu ampas tebu terhadap
volume semen terhadap sifat – sifat mekanik beton yang menggunakan Pasir Siantar. Dengan
adanya pemanfaatan abu ampas tebu sebagai bahan tambah semen yang menggunakan Pasir
Siantar diharapkan dapat meningkatkan sifat – sifat mekanik beton, yaitu kuat tekan, kuat tarik
belah, absorbsi, dan elastisitas beton.

2. Metode Penelitian
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kajian eksperimental yang dilakukan di
Laboratorium Beton Fakultas Teknik Departemen Teknik Sipil Universitas Sumatera Utara.
Sebelum dilakukan pembuatan benda uji, terlebih dahulu dilakukan persiapan bahan dan persiapan
fisik material. Bahan tambah semen yang digunakan adalah abu ampas tebu yang didapat dari
Pabrik Gula Kwala Madu, Langkat. Abu ampas tebu yang didapat diproses kembali melalui
tahapan berikut:
- Abu ampas tebu dimasukkan ke dalam oven dengan suhu sekitar 700oC
- Abu ampas tebu kemudian diayak menggunakan saringan No. 200
- Abu ampas tebu yang digunakan sebagai bahan tambah semen adalah abu ampas tebu yang
lolos saringan No. 200
- Abu ampas tebu disimpan di tempat yang kering
Pemeriksaan material agregat juga dilakukan untuk menentukan kebutuhan semen, agregat
halus, agregat kasar, dan abu ampas tebu yang akan digunakan dalam campuran beton. Bahan -
bahan yang digunakan dalam pembuatan beton adalah semen tipe-1 yang diproduksi oleh PT.
Semen Padang, agregat halus diperoleh dari Pematang Siantar, batu pecah (Split), air bersih dari
PDAM, dan abu ampas tebu yang diperoleh dari Pabrik Gula Kwala Madu, Langkat, Sumatera
Utara. Bahan-bahan tersebut dianalisa sesuai dengan standar yang berlaku di Indonesia yaitu
sesuai ASTM dan SNI. Mutu beton yang direncanakan f’c 20 MPa, dengan menggunakan benda
uji berbentuk silinder dengan diameter 15cm dan tinggi 30cm. Variasi penambahan abu ampas
tebu adalah 0%, 5%, 7,5%, 10%, dan 12,5% dari berat volume semen yang digunakan. Dari hasil
perencanaan Mix Design diperoleh komposisi campuran beton yang menggunakan abu ampas tebu
sebagai bahan tambah semen dengan menggunakan benda uji berbentuk silinder sebanyak 15 buah
pervariasi, yaitu:

Proporsi Semen Pasir Kerikil Air Abu Ampas Tebu


Campuran ( kg ) ( kg ) ( kg ) (kg ) ( kg )
Beton Normal 35,14 69,18 99,78 17,69 -
5% AAT 35,14 69,18 99,78 17,69 1,76
7,5% AAT 35,14 69,18 99,78 17,69 2,64
10% AAT 35,14 69,18 99,78 17,69 3,51
12,5% AAT 35,14 69,18 99,78 17,69 4,39
Tabel 2.1 Proporsi material penyusun beton

Adapun langkah – langkah yang dilakukan untuk pembuatan beton sampai dengan
pengujian benda uji adalah:

Mulai

Persiapan Bahan

Kerikil Pasir Semen Abu Ampas Tebu


Siantar

Pemeriksaan Bahan

Perencanaan Campuran
Beton
Pembuatan Beton
Segar

Slump

Pengecekan Nilai Slump

Pencetakan Beton

Perawatan Beton

Pengujian

Data Pengujian

Analisa

Selesai

Gambar 2.1 Diagram alir pembuatan beton dengan bahan tambah abu ampas tebu.
3. Hasil dan Pembahasan

3.1. Kuat Tekan


Pengujian kuat tekan beton dilakukan setelah beton mencapai umur 28 hari. Pengujian ini
dilakukan untuk mengetahui perbandingan kuat tekan beton normal dengan kuat tekan beton yang
menggunakan abu ampas tebu sebagai bahan tambah dengan perbandingan terhadap volume
semen per variasinya. Hasil pengujian kuat tekan beton dapat dilihat pada tabel 3.1.

Kuat Tekan Beton rata - rata


Keterangan
(Mpa)
Normal 25,64
5 % bahan tambah abu ampas tebu 26,76
7,5 % bahan tambah abu ampas tebu 25,13
10 % bahan tambah abu ampas tebu 24,46
12,5 % bahan tambah abu ampas tebu 23,96
Tabel 3.1 Hasil kuat tekan beton untuk tiap variasi

Nilai Kuat Tekan Beton


28
26,76
Nilai Kuat Tekan Beton (Mpa)

27
25,64
26
25,13
25 24,46
23,96
24

23

22

21

20
Normal 5 % AAT 7,5 % AAT 10 % AAT 12,5 % AAT
Variasi Bahan Tambah Abu Ampas Tebu (AAT)

Grafik 3.1 Grafik nilai kuat tekan dengan bahan tambah abu ampas tebu

Grafik 3.1 menunjukkan beton dengan variasi penambahan abu ampas tebu 5% merupakan
variasi dengan nilai kuat tekan tertinggi, yaitu sebesar 26,76 Mpa, atau 4,37% lebih besar dari nilai
kuat tekan beton normal yang memiliki nilai kuat tekan 25,64 Mpa. Dari grafik diatas dapat dilihat
persentase penambahan abu ampas tebu paling optimal untuk nilai kuat tekan beton adalah sebesar
5% abu ampas tebu.

3.2 Kuat Tarik Belah


Pengujian kuat tarik belah dilakukan setelah beton mencapai umur 28 hari. Pengujian ini
dilakukan untuk mengetahui perbandingan kuat tarik belah beton normal dengan kuat tarik belah
beton yang menggunakan abu ampas tebu sebagai bahan tambah dengan perbandingan terhadap
volume semen per variasinya.Hasil pengujian kuat tarik belah dapat dilihat pada tabel 3.2.
Kuat Tarik Belah Beton Rata – Rata
Keterangan
(Mpa)
Normal 2,35
5 % bahan tambah abu ampas tebu 2,45
7,5 % bahan tambah abu ampas tebu 2,34
10 % bahan tambah abu ampas tebu 2,23
12,5 % bahan tambah abu ampas tebu 2,11
Tabel 3.2 Hasil kuat tarik belah beton untuk tiap variasi

Nilai Kuat Tarik Belah Beton


3
Nilai Kuat Tarik Belah Beton (Mpa)

2,45
2,5 2,35 2,34
2,23
2,11
2

1,5

0,5

0
Normal 5 % AAT 7,5 % AAT 10 % AAT 12,5 % AAT
Variasi Bahan Tambah Abu Ampas Tebu (AAT)

Grafik 3.2 Grafik nilai kuat tarik belah dengan bahan tambah abu ampas tebu

Grafik 3.2 menunjukkan beton dengan bahan tambah abu ampas tebu sebesar 5%
merupakan kuat tarik belah tertinggi, yaitu 2,45 Mpa, atau 4,25% lebih besar dari beton normal
yang memiliki nilai kuat tarik belah 2,35 Mpa. Dari grafik diatas dapat dilihat persentase
penambahan abu ampas tebu paling optimal untuk nilai kuat tarik beton adalah sebesar 5% abu
ampas tebu.

3.3 Absorbsi
Pengujian absorbsi dilakukan pada umur beton 28 hari. Pengujian ini dilakukan untuk
mengetahui perbandingan persentase absorbsi beton normal dengan persentase absorbsi beton
yang menggunakan abu ampas tebu sebagai bahan tambah dengan perbandingan terhadap volume
semen per variasinya. Hasil pengujian absorbsi dapat dilihat pada tabel 3.3.
Persentase absorbsi rata – rata
Keterangan
(%)
Normal 0,750
5 % bahan tambah abu ampas tebu 0,664
7,5 % bahan tambah abu ampas tebu 0,657
10 % bahan tambah abu ampas tebu 0,644
12,5 % bahan tambah abu ampas tebu 0,635
Tabel 3.3 Hasil pengujian nilai absorbsi beton
Nilai Absorbsi Beton
1,000

Nilai Kuat Absorbsi Beton %


0,750
0,800
0,664 0,657 0,644 0,635
0,600

0,400

0,200

0,000
Normal 5 % AAT 7,5 % AAT 10 % AAT 12,5 % AAT
Variasi Bahan Tambah Abu Ampas Tebu (AAT)

Grafik 3.3 Grafik hasil uji absorbsi dengan bahan tambah abu ampas tebu

Grafik 3.3 menunjukkan penambahan abu ampas tebu sebesar 12,5% memiliki nilai
absorbsi terendah, yaitu sebesar 0,635% sementara beton normal memiliki nilai absorbsi 0,750%.
Grafik diatas juga menunjukkan nilai absorbsi yang menurun seiring bertambahnya persentase
penambahan abu ampas tebu terhadap volume semen.

3.4 Elastisitas
Pengujian elastitistas dilakukan setelah beton mencapai umur 28 hari. Pengujian ini
dilakukan untuk mengetahui perbandingan elastis beton normal dengan elastis beton yang
menggunakan abu ampas tebu sebagai bahan tambah dengan perbandingan terhadap volume
semen per variasinya. Hasil pengujian elastisitas dapat dilihat pada tabel 3.4 dibawah

Nilai Elastisitas Beton Rata- Rata


Keterangan
(Mpa)
Normal 30248
5 % bahan tambah abu ampas tebu 36415
7,5 % bahan tambah abu ampas tebu 34490
10 % bahan tambah abu ampas tebu 32256
12,5 % bahan tambah abu ampas tebu 30878
Tabel 3.4 Hasil pengujian nilai Elastisitas Beton rata – rata
Nilai Elastisitas Beton
40000
36415
Nilai Elastisitas Beton (Mpa) 34490
35000
32256
30878
30248
30000

25000

20000
Normal 5 % AAT 7,5 % AAT 10 % AAT 12,5 % AAT
Variasi Bahan Tambah Abu Ampas Tebu (AAT)

Grafik 3.4 Grafik hasil uji elastisitas dengan bahan tambah abu ampas tebu

Grafik 3.4 menunjukkan beton dengan bahan tambah abu ampas tebu sebesar 5% memiliki
nilai elastisitas tertinggi, yaitu 36415 Mpa atau 20,39% lebih besar dari pada beton normal yang
memiliki nilai elastisitas 30248 Mpa.

4. Kesimpulan dan Saran


Dari hasil analisa dan pembahasan data pada bab sebelumnya dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut:
1. Kuat Tekan maksimum didapat pada beton dengan tambahan abu ampas tebu sebesar
5% yaitu sebesar 26,76 Mpa. Nilai kuat tekan terendah didapat pada beton dengan
variasi tambahan abu ampas tebu sebesar 12,5%, yaitu 23,96 Mpa.
2. Kuat Tarik belah maksimum didapat pada beton dengan variasi bahan tambah abu
ampas tebu sebesar 5% yaitu sebesar 2,45 Mpa. Dan nilai kuat tarik belah terendah
didapat pada beton dengan variasi tambahan abu ampas tebu 12,5%, yaitu 2,11 Mpa.
3. Nilai elastisitas maksimum didapat pada beton dengan variasi bahan tambah abu ampas
tebu sebesar 5% yaitu sebesar 36415 Mpa. Dan nilai elastisitas terendah didapat pada
beton tanpa bahan tambah atau beton normal, yaitu sebesar 30248 Mpa.
4. Terjadi penurunan persentase absorbsi seiring bertambahnya jumlah penggunaan
bahan tambah abu ampas tebu terhadap volume semen. Penurunan yang terjadi ialah
sebesar 0,750%, 0,664%, 0,656%, 0,644%, dan 0,635%.
5. Penggunaan bahan tambah abu ampas tebu paling optimal pada campuran beton ialah
sebesar 5%.

Setelah melihat penelitian dan menyadari kemungkinan adanya kekurangan dalam


penelitian ini, maka penulis memberikan saran saran sebagai berikut:
1. Perlu dilakukan penelitian dengan kadar abu ampas tebu yang berbeda atau dengan
penambahan bahan aditif lainnya.
2. Abu ampas tebu dapat menjadi bahan tambah semen yang dapat mengurangi penggunaan
semen untuk mutu beton yang lebih tinggi, maka perlu diusahakan agar dapat diaplikasikan
dalam kehidupan sehari hari untuk meningkatkan nilai ekonomis beton.
3. Perlu dilakukan penelitian yang menggunakan abu ampas tebu sebagai bahan tambah
terhadap volume semen pada beton mutu tinggi.
5. Daftar Pustaka

Abbasi, A and Zargar, A. 2013. Using Baggase Ash in Concrete as Pozzolan. Middle-East
Journal of Scientific Research 13 (6): 716-719, Iran.
Kasiati, Endang, Wibowo, Boedi, dan Sukaptini, Endang Sri. 2012. Perubahan Kuat Tekan
Optimum Beton pada Komposisi Campuran Pasir Silika dengan Pasir Limbah.
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Prasarana Wilayah (ATPW), Surabaya.
Mulyono, Tri. 2004. Teknologi Beton. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Nugraha, Paul dan Antoni. 2007. Teknologi Beton. Yogyakarta: C.V ANDI OFFSET.
Rohman, Rosyid Kholihur dan Cahyono, Setiyo Daru. 2013. Penggunaan Abu Ampas Tebu
untuk Meningkatkan Kuat Tekan Beton dari Agregat Beton Bekas. Jurnal Teknik
Sipil Universitas Merdeka Madiun Agri-tek Volume 14 Nomor 1, Madiun.
Rompas, Gerry Phillip, Pangouw, J. D., Pandaleke, R., & Mangare, J. B. 2013. Pengaruh
Pemanfaatan Abu Ampas Tebu sebagai Substitusi Parsial Semen dalam Campuran
Beton Ditinjau tehadap Kuat Tarik Lentur dan Modulus Elastisitas. Jurnal Sipil Statik
Universitas Sam Ratulangi Vol. 1 No. 2 (82 – 89), Manado.
Siregar, Nuraisyah. 2010. Pemanfaatan Abu Pembakaran Ampas Tebu dan Tanah Liat Pada
Pembuatan Batu Bata. Skripsi Program Studi Fisika Universitas Sumatera Utara,
Medan.
Tambunan, Michael. 2016. Pengaruh Pasir Merah Tanjung Morawa Sebagai Substitusi
Agregat Halus Terhadap Sifat – Sifat Mekanik Beton. Tugas Akhir Program Studi
Teknik Sipil Universitas Sumatera Utara, Medan.