Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH MENGANALISIS TOKOH YANG

MEMPERJUANGKAN KESEHATAN DI INDONESIA

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah


Kepemimpinan dan Berpikir Sistem Kesehatan Masyarakat
Dosen Pengampun
Prof. Dr. Bambang Budi Raharjo., M.Si.

Nama Kelompok
Fitria Dias Mayangsari 6411418102
Ri’fan Bagas Firmana 6411418
Syahrina Nurul Hikmah 6411418112
Defi Fitrianingrum 6411418113

Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Ilmu Keolahragaan
Universitas Negeri Semarang
Kata Pengantar
Abdul Rahman Saleh (pahlawan)
Loncat ke navigasiLoncat ke pencarian

Abdul Rahman Saleh

Informasi pribadi

Lahir 1 Juli 1909


 Jakarta

Meninggal dunia 29 Juli 1947 (umur 38)


 Maguwoharjo, Sleman

Pekerjaan Tentara

Dokter

Penghargaan sipil Pahlawan Nasional Indonesia

Dinas militer

Julukan Karbol

Pihak  Indonesia
Dinas/cabang  TNI Angkatan Udara

Masa dinas 1946-1947

Pangkat

 Marsekal Muda TNI (Anumerta)

Satuan Korps Penerbang (Angkut)

Marsekal Muda TNI (Anumerta) Prof. dr. Abdulrahman Saleh, Sp.F[1] (lahir di Jakarta, 1


Juli 1909 – meninggal di Maguwoharjo, Sleman, 29 Juli 1947 pada umur 38 tahun) atau sering
dikenal dengan nama julukan "Karbol"[2] adalah seorang pahlawan nasional Indonesia, tokoh Radio
Republik Indonesia (RRI) dan bapak fisiologi kedokteran Indonesia.[3]

Daftar isi

 1Masa kecil
 2Kegiatan kedokteran dan militer
 3Akhir hidup
 4Karbol
 5Lihat pula
 6Referensi

Masa kecil[sunting | sunting sumber]


Abdulrahman Saleh dilahirkan pada tanggal 1 Juli 1909 di Jakarta. Pada masa mudanya, ia
bersekolah di HIS (Sekolah rakyat berbahasa Belanda atau Hollandsch Inlandsche School) MULO
(Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) atau kini SLTP, AMS (Algemene Middelbare School) kini SMU,
dan kemudian diteruskannya ke STOVIA (School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen). Karena
pada saat itu STOVIA dibubarkan sebelum ia menyelesaikan studinya di sana, maka ia meneruskan
studinya di GHS (Geneeskundige Hoge School), semacam sekolah tinggi dalam bidang kesehatan
atau kedokteran. Ayahnya, Mohammad Saleh, tak pernah memaksakannya untuk menjadi dokter,
karena saat itu hanya ada STOVIA saja. Ketika ia masih menjadi mahasiswa, ia sempat giat
berpartisipasi dalam berbagai organisasi seperti Jong Java, Indonesia Muda, dan KBI
atau Kepanduan Bangsa Indonesia.

Kegiatan kedokteran dan militer[sunting | sunting sumber]


Setelah ia memperoleh ijazah dokter, ia mendalami pengetahuan ilmu faal. Setelah itu ia
mengembangkan ilmu faal ini di Indonesia. Oleh karena itu, Universitas Indonesia pada 5
Desember 1958 menetapkan Abdulrahman Saleh sebagai Bapak Ilmu Faal Indonesia.
Ia juga aktif dalam perkumpulan olahraga terbang dan berhasil memperoleh ijazah atau surat izin
terbang. Selain itu, ia juga memimpin perkumpulan VORO (Vereniging voor Oosterse Radio
Omroep), sebuah perkumpulan dalam bidang radio. Maka sesudah kemerdekaan diproklamasikan,
ia menyiapkan sebuah pemancar yang dinamakan Siaran Radio Indonesia Merdeka. Melalui
pemancar tersebut, berita-berita mengenai Indonesia terutama tentang proklamasi Indonesia dapat
disiarkan hingga ke luar negeri. Ia juga berperan dalam mendirikan Radio Republik Indonesia yang
berdiri pada 11 September 1945.
Setelah menyelesaikan tugasnya itu, ia berpindah ke bidang militer dan memasuki dinas Angkatan
Udara Ia diangkat menjadi Komandan Pangkalan Udara Madiun pada 1946. Ia turut mendirikan
Sekolah Teknik Udara dan Sekolah Radio Udara di Malang. Sebagai Angakatan Udara, ia tidak
melupakan profesinya sebagai dokter, ia tetap memberikan kuliah pada Perguruan Tinggi Dokter
di Klaten, Jawa Tengah.

Akhir hidup
Pada saat Belanda mengadakan agresi pertamanya, Adisutjipto dan Abdulrahman Saleh
diperintahkan ke India. Dalam perjalanan pulang mereka mampir di Singapura untuk mengambil
bantuan obat-obatan dari Palang Merah Malaya. Keberangkatan dengan pesawat Dakota ini,
mendapat publikasi luas dari media massa dalam dan luar negeri.
Tanggal 29 Juli 1947, ketika pesawat berencana kembali ke Yogyakarta melalui Singapura,
harian Malayan Times memberitakan bahwa penerbangan Dakota VT-CLA sudah mengantongi izin
pemerintah Inggris dan Belanda. Sore harinya, Suryadarma, rekannya baru saja tiba dengan mobil
jip-nya di Maguwo. Namun, pesawat yang ditumpanginya ditembak oleh dua pesawat P-40 Kitty-
Hawk Belanda dari arah utara. Pesawat kehilangan keseimbangan dan menyambar sebatang pohon
hingga badannya patah menjadi dua bagian dan akhirnya terbakar.
Peristiwa heroik ini, diperingati TNI AU sebagai hari Bakti TNI AU sejak tahun 1962 dan sejak 17
Agustus 1952, Maguwo diganti menjadi Lanud Adisutjipto.
Abdulrahman Saleh dimakamkan di Yogyakarta dan ia diangkat menjadi seorang Pahlawan
Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No.071/TK/Tahun 1974,
tanggal 9 November 1974.
Pada tanggal 14 Juli 2000,[1] atas prakarsa TNI-AU, makam Abdulrahman Saleh, Adisucipto, dan
para istri mereka dipindahkan dari pemakaman Kuncen ke Kompleks Monumen Perjuangan TNI AU
Dusun Ngoto, Desa Tamanan, Banguntapan, Bantul, DI Yogyakarta.
Namanya diabadikan sebagai nama Pangkalan TNI-AU dan Bandar Udara di Malang. Selain itu,
piala bergilir yang diperebutkan dalam Kompetisi Kedokteran dan Biologi Umum yang
diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia(FKUI) yaitu (National Medical and
General Biology Competition) disebut Piala Bergilir Abdulrahman Saleh.
Biografi

Nama Lengkap
Abdulrahman Saleh
Alias
Karbol
Agama
Islam
Tempat Lahir
Jakarta
Tanggal Lahir
Kamis, 1 Juli 1909
Zodiak
Cancer
Warga Negara
Indonesia
Relation
-
Biografi

Abdulrahman Saleh, lebih dikenal dengan nama julukan 'Karbol' ini lahir di Jakarta, 1 Juli

1909. Bergelar Prof. dr. SpF, Marsekal Muda Anumerta, Abdulrahman Saleh adalah tokoh

Radio Republik Indonesia, dan juga bapak fisiologi kedokteran Indonesia.

Ia juga dinobatkan sebagai pahlawan nasional berdasarkan SK Presiden RI

No.071/TK/Tahun 1974 pada 9 November 1974.

Putra Mohammad Saleh ini dikenal giat dalam bidang pendidikan. Awalnya ia bersekolah di

HIS (Hollandsch Inlandsche School) MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) atau SMP

rakyat berbahasa Belanda, kemudian berlanjut ke AMS (Algemene Middelbare School) -

setara SMU, dan meneruskan ke STOVIA (School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen).

Sebelum lulus dari sini, STOVIA malah dibubarkan.

Akhirnya Abdulrahman Saleh pindah ke sekolah tinggi bidang kesehatan atau kedokteran

yang disebut GHS (Geneeskundige Hoge School). Di sana, ia sempat tergabung dalam

beberapa organisasi pemuda seperti Jong Java, Kepanduan Bangsa Indonesia, dan

Indonesia Muda.
Lulus sekolah kedokteran, Abdulrahman Saleh masih haus akan pengetahuan. Kali ini ia

menguasai ilmu faal yang akhirnya dikembangkan di tanah air dan membuatnya ditetapkan

sebagai Bapak Ilmu Faal Indonesia oleh Universitas Indonesia pada 5 Desember 1958.

Hobinya dengan radio juga membuatnya terpilih menjadi pemimpin organisasi radio

bernama VORO (Vereniging voor Oosterse Radio Omroep). Dari sinilah ia kemudian terus

mengembangkan diri dan ikut berperan mendirikan RRI pada 11 September 1945.

Seakan tak pernah puas, Abdulrahman Saleh beralih ke bidang lainnya yakni militer dengan

mendaftarkan diri di Angkatan Udara. Atas kegigihannya, ia pun diangkat menjadi

Komandan Pangkalan Udara Madiun di 1946, sembari menjadi dosen di Perguruan Tinggi

Dokter di Klaten, Jawa Tengah.

Bersama Adisutjipto, Abdulrahman ditugaskan ke India saat agresi pertama Belanda. Dan

ketika perjalanan pulang pada 29 Juli 1947, tim ini sempat mampir ke Singapura untuk

mengambil bantuan obat-obatan dari Palang Merah Malaya lewat penerbangan Dakota VT-

CLA. Sayangnya, pesawat itu lantas ditembak hingga jatuh dan terbakar oleh pesawat P-40

Kitty-Hawk Belanda, sesaat sebelum tiba di Maguwoharjo, Sleman. Peristiwa inilah yang

akhirnya dikenal sebagai Hari Bakti TNI AU sejak 1962.

Abdulrahman Saleh kemudian dikebumikan di Kuncen Yogyakarta, yang kemudian

dipindahkan ke Kompleks Monumen Perjuangan TNU AU di Bantul, Yogyakarta pada 14 Juli

2000. Namanya lantas diabadikan sebagai Pangkalan TNI AU dan Badara di Malang, dan

nama piala bergilir dalam Medical and General Biology Competition.

Riset dan Analisa: Yunita Rachmawati


Pendidikan

 Sekolah Rakyat HIS MULO

 AMS

 STOVIA
 Sekolah Kedokteran GHS
Penghargaan

 Tokoh Radio Republik Indonesia (RRI)

 Bapak fisiologi kedokteran Indonesia

 Pahlawan nasional Indonesia

Abdulrachman Saleh
 Abdulrachman Saleh (foto: merdeka.com)
 Abdulrachman Saleh dilahirkan pada tanggal 1 Juli 1909, di kampung Ketapang
(Kwitang Barat) Jakarta. Pria yang mengenyam pendidikan kedokteran di STOVIA
(School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen) dan GHS (Geneeskundige Hoge School)
ini merupakan sosok dokter yang mendalami pengetahuan ilmu faal.
 Karena ilmu faal yang dikembangkan oleh Abdulrachman Saleh diterima dengan baik,
maka pada 5 Desember 1958 Universitas Indonesia menetapkan dia sebagai Bapak Ilmu
Faal Indonesia.
 Walaupun ia seorang dokter, tapi ia mampu dalam menciptakan satu pemancar yang
dinamakan Siaran Radio Indonesia Merdeka, yang berfungsi untuk menyiarkan seluruh
berita mengenai Indonesia terutama tentang proklamasi Indonesia dan dapat didengar
hingga mancanegara. Pada 11 September 1945, anak dari Mohammad Saleh ini turut
berperan dalam mendirikan Radio Republik Indonesia.
 Di luar pekerjaannya sebagai dokter dan pengajar ilmu fisiologi, hidup Abdulrahman
Saleh alias Karbol tak jauh-jauh dari radio dan pesawat. Tak heran namanya tercatat
dalam sejarah RRI dan TNI AU.
 tirto.id - Parlindoengan Loebis, dokter dan ketua Perhimpoenan Indonesia (PI) Belanda
periode 1936-1940, barangkali satu-satunya aktivis Indonesia yang merasai kebrutalan
fasisme Nazi secara langsung. Selama empat tahun, ia disekap di kamp Schoorl dan
Amersfoort di Belanda, serta Buchenwald dan Sachsenhausen di Jerman.
Parlindoengan selamat dan menuliskan pengalaman itu dalam otobiografi
berjudul Orang Indonesia di Kamp Konsentrasi Nazi (2006).

Namun, buku itu tak melulu bercerita tentang kehidupan Parlindoengan di Eropa. Ada
pula, misalnya, catatan ringkas tentang kawan Parlindoengan semasa ia belajar di
Geneeskundige Hogeschool, Batavia: “Di asrama aku sekamar dengan Abdulrahman
Saleh,” tulis Parlindoengan. “Dia mendapat julukan 'Karbol' karena kebiasaannya
mengepel kamar tidur setiap pagi.”

Pada masa itu, agaknya Parlindoengan dan kawan-kawannya yang lain tak pernah
menyangka bahwa “Karbol”, nama julukan yang mengundang tawa itu, kelak akan jadi
sebutan yang afektif sekaligus terhormat buat para taruna Akademi Angkatan Udara
(AAU) di Yogyakarta.

Menurut Chappy Hakim dalam Awas Ketabrak Pesawat Terbang! (2009), sekali


waktu Saleh Basarah mengunjungi Akademi Angkatan Udara Amerika Serikat di
Colorado Springs. Di sana, ia menemukan bahwa para taruna disebut Dollies, merujuk
kepada James “Jimmy” Doolittle, pilot tempur legendaris Amerika Serikat pada Perang
Dunia II.

Di Indonesia, ada seorang penerbang yang dikagumi Saleh Basarah: Komandan


Pangkalan Udara Madiun (1946) sekaligus pendiri Sekolah Teknik Udara dan Sekolah
Radio Udara di Malang. Ialah Abdulrahman Saleh alias Karbol.

Saleh kemudian mengusulkan agar para taruna AAU dipanggil Karbol. Usul itu
kemudian disetujui dan diresmikan dengan Surat Keputusan Komandan Akademi
Angkatan Udara nomor 145/KPTS/AAU/1965, 3 Agustus 1965.

 Anak Dokter, Melampaui Dokter

 Dalam buku Orang-orang Indonesia yang Terkemuka di Jawa (1986)—yang disusun


oleh pemerintah pendudukan Jepang di Indonesia—ada empat dokter dengan nama
belakang Saleh. Yang tertua adalah Mas Mohammad Saleh, lulusan STOVIA. Dua
dokter Saleh lain dalam daftar tersebut, Abdulazis dan Abdulrahman, adalah putra-
putranya. Di luar catatan Orang-orang Indonesia Yang Terkemuka di Jawa, ada pula
dokter Abubakar Saleh dan dokter Alibasah Saleh, anak-anak lain Mas Mohammad
Saleh.

Sebagai bagian dari keluarga kaya dan terdidik, Karbol mendapat kesempatan belajar di
sekolah-sekolah elite Hindia Belanda. Ia kemudian menjadi murid STOVIA. Namun, ia
terpaksa pindah sebelum mendapatkan ijazah karena pemerintah Hindia Belanda
membubarkan sekolah itu pada 1927.



“Abdulrahman Saleh (Karbol), Sumadji, Hardadi dan Musadik pindah ke AMS Malang,”
tulis Soemarno Sosroatmodjo dalam Dari Rimba Raya ke Jakarta Raya: Sebuah
Otobiografi (1981). Pengganti STOVIA selaku sekolah kedokteran adalah Geeneskundig
Hogeschool (GHS), yang berstatus sekolah tinggi.

Karbol lulus dari Algemeene Middelbare School (AMS) pada 1929. Setelahnya, ia
mendaftar ke GHS Batavia. Dalam dua tahun terakhir masa kuliahnya, Karbol menjadi
asisten laboratorium Fisiologi. Menurut Soedarpo Sastrotomo dalam
biografinya, Bertumbuh Melawan Arus: Soedarpo Sastrotomo Suatu Biografi 1920-
2001 (2001), yang ditulis Rosihan Anwar, Karbol adalah kakak kelas yang terpandang di
kampusnya. Biasanya, sebelum mahasiswa junior mengikuti ujian lisan, mereka akan
berlatih terlebih dahulu di hadapan Abdulrahman. Selain itu, dia juga paham soal radio
amatir.

Karbol lulus tahun 1937. Sambil tetap terlibat dalam dunia akademis di kampusnya, ia
menjalankan praktik sebagai dokter umum. Tahun 1942, ia mulai mengajar fisiologi (ilmu
faal) di NIAS Surabaya dan Goverment Instituut voor Lich Opvoeding di Surabaya. Di
dunia akademis, dia menulis laporan penelitiannya, Bronnen van Fouten bij Schijnbaar
Goede Bloeddrukmeters, di jurnal Geneeskundig tijdschrift voor Nederlandsch-
Indië (1941).

Di luar pekerjaanya, Karbol menyenangi olahraga. Menurut Soedarpo, bersama dr.


Yudono dan dr. Santo, dr. Karbol adalah pendiri Indonesische Sport Vereniging (ISV)
pada 1930an. ISV biasa mengikuti pertandingan bola basket dan menjadi kelab
olahraga terkuat di Jakarta zaman itu.

Seakan belum cukup sibuk, Karbol juga mempelajari sistem radio amatir. Ia aktif dalam
radio ketimuran Vereniging voor Oostrese Radio Omroep (VORO). Menurut Sedjarah
radio di Indonesia (1953) terbitan Kementerian Penerangan, Karbol aktif di lembaga
tersebut sejak 1937 hingga 1942.

Belakangan, ia ikut serta dalam pendirian Radio Republik Indonesia (RRI) pada 11
September 1945. Pada masa awal siaran RRI, bersama kawan-kawan
seperjuangannya, ia pernah mengangkut pemancar besar dari Bandung ke Yogyakarta,
yang kemudian menjadi ibukota masa revolusi.

 Di Langit Boleh Mengompol

 Menurut Chappy Hakim,pada mulanya Karbol adalah penerbang olahraga. Dalam


buku Awal Kedirgantaraan di Indonesia: Perjuangan AURI 1945-1950 (2008), Karbol
diperkenalkan sebagai salah satu orang Indonesia yang mengikuti pendidikan Vrijwillige
Vliegers Corps (Korps penerbang sukarela) sebelum pendudukan Jepang. Namun,
ketika Sekolah Penerbangan dibuka, Karbol ikut mendaftar. Ia kemudian turut serta
dalam pengambilalihan pesawat-pesawat Jepang.

Bagaimana Karbol mengemudikan pesawat, Soedarpo pernah mengalaminya. Suatu


kali, Soedarpo disuruh Perdana Menteri Sutan Sjahrir untuk menemui Presiden Sukarno
di Batu, Malan. Sjahrir ingin Sukarno hadir dalam perundingan Linggarjati pada 11
November 1946. Agar cepat, Soedarpo diantar naik pesawat, lima hari sebelum
perundingan.

Soedarpo merasa ngeri naik pesawat yang rupa-rupanya butut itu. Wajahnya kecut.
“Nggak apa-apa, saya bukan hanya sekali naik pesawat seperti ini ... Percaya, deh,”
kata Karbol.Alih-alih tenang, Soedarpo malah bertanya, “Bagaimana kalau mesinnya
mati? Kita kan bisa mati juga.”

“Kalau kamu mati, saya juga mati,” jawab Karbol.

Lalu, sebagaimana diceritakan Soedarpo dalam Bertumbuh Melawan


Arus, setelah pesawat melewati Gunung Lawu, memasuki Jawa Timur, Karbol beraksi:
ia mematikan mesin pesawat!
Pesawat tetap melayang dan Karbol menyadari ada genangan air yang mendekati
tempat duduknya. Ia dan Soedarpo sama-sama tertawa.

Pada 1946, Karbol diangkat menjadi Komandan Pangkalan Udara Bugis, Malang.
Beberapa kawannya yang menjadi dokter militer di Malang sering ia ajak ikut naik
pesawat, tetapi biasanya mereka menolak. Tentu mereka pernah mendengar barang
satu-dua cerita tentang kejailan Karbol di udara.

“Sepanjang sejarah penerbangan, saya tidak pernah mengalami sesuatu yang buruk,”
kata Karbol kepada Soedarpo suatu kali. Itu benar selama ia duduk di kokpit. Namun, 29
Juli atau hari ke-11 Ramadan tahun 1947, Karbol duduk di kursi penumpang Dakota VT
CLA. Pesawat itu dijatuhkan oleh pesawat pemburu milik Belanda di dekat Yogyakarta.

Pada 5 Desember 1958, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mengukuhkan


Karbol alias Abdulrahman Saleh sebagai Bapak Ilmu Faal Indonesia. Namanya juga
diabadikan sebagai nama sebuah jalan di di Kwitang, Jakarta. Pangkalan Udara Bugis,
tempatnya pernah mengabdi sebagai komandan, kini telah berganti nama menjadi
Bandara Abdulrahman Saleh.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik
Matanasi
 (tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Dea Anugrah
 Abdulrahman Saleh adalah pahlawan Indonesia yang lahir di Jakarta, 1 Juli 1909. Ia
dikenal memiliki banyak talenta, sebagai dokter, ahli ilmu faal, perintis teknologi radio,
dan sekaligus perintis penerbangan Indonesia.
 Dalam bidang medis, ia dikenal sebagai sosok yang ahli dalam ilmu fisiologi. Ilmu ini
merupakan salah satu cabang ilmu dari biologi. Ilmu faal mempelajari berlangsungnya
kehidupan. Dalam ilmu ini ada beberapa metode yang musti dikuasai peminatnya, yakni
metode untuk mempelajari biomolekul, sel, jaringan, organ, sistem organ, dan organisme
secara keseluruhan dalam menjalankan fungsi fisik dan kimiawinya dalam mendukung
kehidupan.
 Ilmu ini dikuasai oleh Abdulrahman Saleh dari Universitas Indonesia, pada 5 Desember
1958. Karena keahliannya ia diberi gelar sebagai Bapak Ilmu Faal Indonesia. Dengan
demikian, Abdulrahman Saleh adalah seorang anggota dokter yang bergelar Prof. Dr. Sp.
F.
 Selain gelar terhormat ini, ia juga mendapat julukan “Karbol” dari teman-teman
sekolahnya. Marsekal Muda Anumerta ini mendapat julukan “Karbol” pada awalnya
karena seorang dosen Belanda sering mamanggilnya “Krullebol” artinya si keriting yang
cerdas. Oleh teman-temannya “Krullebol” menjadi “Karbol.”
 Ketekunan dalam belajar memang nampak sejak kecil. Ia adalah seorang anak yang
gemar mempelajari sesuatu. Abdulrahman Saleh dilahirkan di Jakarta, pada 1 Juli 1909.
Sejak kecil ia telah berada di lingkungan dokter, sebab ayahnya, dr. Mohammad Saleh
dikenal sebagai dokter yang sosiawan oleh masyarakat sekitarnya. Ia aktif di daerah
Probolinggo dan sekitarnya. Abdulrahman Sudah didisplinkan sejak kecil, ia dibentuk
untuk terbiasa hidup tertib dan mandiri. Ilmu pengetahuan merupakan hal penting di
keluarganya. Selain itu, masalah etika juga menjadi ajaran utama orang tuanya, sampai-
sampai di meja makan pun mereka mendapat pendidikan secara khusus.
 Sebelum menempuh ilmu kedokteran, Abdulrahman Saleh mendapat kesempatan sekolah
di Hollandsch Inlandsche School (HIS) yakni sekolah rakyat berbahasa Belanda. Ia juga
mendapat pendidikan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) kini merupakan
Sekolah Menengah Pertama. Lulus dari MULO ia melanjutkan sekolah ke Algemene
Middelbare School (AMS) yang sekarang disebut Sekolah Menengah Atas. Kemudian ia
melanjutkan sekolah di School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA). Sebelum
ia menyelesaikan pendidikan di STOVIA, sekolah itu sudah terlanjur dibubarkan karena
kondisi politik.
 Meski tak sempat menyelesaikan pendidikan di STOVIA, Abdulrahman Saleh tetap
pnuya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di Geneeskundige Hoge School (GHS).
Lembaga pendidikan ini merupakan semacam sekolah tinggi yang berfokus pada bidang
kesehatan atau kedokteran. Di sekolah inilah ia mempelajari ilmu faal, sampai akhinya ia
mendapatkan gelar kehormatan sebagai Bapak Ilmu Faal Indonesia dari Universitas
Indonesia.
 disamping belajar di ilmu kedokteran, Abdulrahman Saleh yang akrab dipanggil “karbol”
ini juga aktif di perkumpulan olahraga terbang di Jakarta. Perkumpulan itu dijajakinya
sebelum Perang Dunia II meledak. Hobinya membawanya meraih surat ijin terbang.
Sealin aktif di perkumpulan olahraga terbang, masa mudanya diisi dengan kegiatan
positif lainnya seperti dapat memimpin perkumpula VORO (Vereniging voor Oosterse
Radio Omroep). VORO merupakan perkumpulan yang bergerak dalam bidang radio. Di
sini, pada masa proklamasi dibacakan, Abdurahman Saleh menyiapkan pemancar untuk
menyiarkan kemerdekaan. Pemancar itu lalu terkenal dengan nama Siaran Radio
Indonesia Merdeka.
 Melalui pemancar yang dibuatnya, berita-berita mengenai kemerdekaan Indonesia dapat
disiarkan hingga ke seluruh penjuru negeri dan juga ke luar negeri. Keaktifannya di dunia
radio membuatnya ikut dalam pembentukan dan pendirian Radio Republik Indonesia
(RRI). Pemancar RRI resmi berdiri dan mengudara pada 11 September 1945. Tak hanya
RRI yang menjadi salah satu buah pikirnya, Sekolah Teknik Udara dan Sekolah Radio
Udara di Malang juga merupakan dua hal yang didirikan olehnya.
 Karir militernya dimulai dari memasuki dinas Angkatan Udara. Keahliannya
menerbangkan pesawat berbekal dari perkumpulan olahraga terbang. Di Angkatan Udara
ia pun diangkat sebagai Komandan Pangkalan Udara Madiun pada tahun 1946. Ia adalah
penerbang yang andal sekaligus dosen yang cakap. Meskipun sudah bergabung sebagai
salah satu anggota Angkatan Udara, Abdulrahman Saleh tak melupakan begitu saja gelar
doktor yang didapatnya. Bapak Ilmu Faal Indonesia ini juga mengajar di Perguruan
Tinggi Dokter di Klaten, Jawa Tengah.
 Pria yang diketahui juga aktif di organisasi pemuda seperti Indonesia muda, Jong Java,
dan Kepanduan Bangsa Indonesai (KBI) ini merupakan salah seorang yang dianggap
teladan di Akademi Angkatan Udara. Julukannya “Karbol” dipergunakan dalam Akademi
Angkatan Udara untuk memanggil para tarunanya. Tujuannya, agar para taruna AAU
dapat mengetahui siapa pemilik “Karbol” sebenarnya dan dikemudian hari mampu
mencontoh kiprahnya yang dapat berperan dalam membangun bangsa melalui
penerbangan Indonesia.
 Pak Karbol, begitu ia akrab disapa oleh rekan-rekannya, dengan tekun sempat
mempelajari cara mengemudikan pesawat Cureg bersayap dua. Selain itu, ia akrabi pula
pesawat bertipe glider, blomber, dan Hajabusya. Pesawat-pesawat tersebut merupakan
pesawat warisan Jepang. Mesin-mesinnya yang sudah rusak diperbaiki sendiri oleh Pak
Karbol.
 Pak Karbol sempat singgah di Yogyakarta dan Malang. Di Yogyakarta ia berperan
sebagai instruktur penerbang pembantu Adisutjipto. Di Malang, ia bertugas sebagai
Komandan Pangkalan Udara Maospati (Madiun).
 Pak Karbol pernah dikirim ke India bersama Adisucipto saat Agresi Militer I Belanda
tercatat dalam perjalanan sejarah kemerdekaan Indonesia. Dia bersama Adisucipto, dalam
perjalanan pulang mengambil obat-obatan terlebih dahulu di Singapura. Obat-obatan
tersebut berasal dari sumbangan Palang Merah Malaya untuk kepentingan perjuangan
kemerdekaan. Ia mengangkut obat-obatan tersebut menggunakan pesawat. Dia dan rekan-
rekan menggunakan penerbangan Dakota VT-CLA. Dalam perjalanan, ternyata pesawat
itu ditembak jatuh. Penembak ialah pesawat P-40 Kitty-Hawk Belanda. Penembakan
terjadi sesaat sebelum pesawat mendarat di Lapangan Udara Maguwoharjo, Sleman.
 Penumpang yang turut meninggal dalam peristiwa itu antara lain Adisutjipto,
Adisumarmo Wiryokusumo, Zainal Afirin, dan pilot Alexander Noel Constantine seorang
Wing Comander Australia. Ada pula Squadron Leader Inggris Roy Hazelhurst, juru
teknik India Bidha Ram dan Ny. Constantine. Satu-satunya orang yang selamat ialah
Gani Handonotjokro.
 Peristiwa ini, sampai hari ini dikenang sebagai Hari Bakti TNI AU. Nama Abdulrahman
Slaeh kemudian diabadikan sebagai pahlawan nasional. Gelar tersebut beradasarkan pada
Surat Keputusan Presiden No 071/TK/1974, tanggal 9 November 1974. Jenazah
Abdulrahman Saleh yang tadinya dikebumikan di Kuncen, Yogyakarta kemudian pada
tanggal 14 Juli 2000 dipindahkan ke Kompleks Monumen Perjuangan TNI AU Bantul
Yogyakarta. Pemindahan tersebut dilakukan atas prakarsa dari TNI-AU sendiri. Tak
hanya jenazah Abdurrahman Saleh saja yang dipindahkan, tapi jenazah Adisucipto dan
para istri mereka turut dipindahkan.
 Selain ditetapkan sebagai pahlawan nasional, nama Abdulrahman Saleh juga diabadikan
sebagai nama salah satu bandara internasional di Indonesia. Bandar Udara Abdurrahman
Saleh berada di Malang, Jawa Timur ramai setiap hari. Disamping itu, setiap tahun piala
bergilir atas nama Abdurrahman Saleh diperebutkan setiap tahun dalam kompetisi
Kedokteran dan Biologi Umum (Medical and General Biology Competition).
 Prof. Dr. Abdulrahman Saleh telah diakui sebagai pelopor dalam berbagai bidang,
contohnya bidang pemancar radio dan penerbangan. Ia juga merupakan perintis ilmu faal
di Indonesia, serta merupakan salah seorang pencetus peletakan dasar-dasar Angkatan
Udara.