Anda di halaman 1dari 11

ISBN: 978-979-8636-20-2

ESTIMASI PERUBAHAN LIMPASAN DENGAN MENGGUNAKAN


DATA PENGINDERAAN JAUH MULTI-TEMPORAL, KASUS DI
DAS GROMPOL

Puguh Dwi Raharjo, Yugo Kumoro, Kristiawan Widiyanto, Eko Puswanto,


Sueno Winduhutomo

UPT. Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung LIPI


Email: puguh.draharjo@yahoo.co.id

ABSTRAK

DAS Grompol merupakan salah satu dari Sub DAS Bengawan Solo hulu yang mengalami
perkembangan relatif pesat. Permasalahan yang umum pada DAS ini yaitu selalu mengalami
bencana banjir pada waktu musim penghujan. Tidak terdapatnya alat pengukur sungai baik yang
bersifat otomatis maupun manual mengakibatkan pemantauan terhadap limpasan sulit untuk
dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan estimasi koefisien limpasan dengan
menggunakan data penginderaan jauh secara temporal guna mengetahui perubahannya.
Analisis data penginderaan jauh dilakukan melalui dua pendekatan yaitu dengan cara digital
(transformasi NDVI) dan visual (karakteristik lahan). Metode Cook digunakan untuk menghitung
estimasi koefisien limpasan, dimana parameternya adalah penutup vegetasi, infiltrasi tanah,
kemiringan lereng, dan kerapatan aliran. Hasil yang diperoleh bahwa selama kurun waktu 1994
sampai 2008 koefisien aliran permukaan tidak menunjukkan perubahan yang signifikan.
Kata kunci : DAS Grompol, Penginderaan jauh, NDVI, Limpasan

ABSTRACT

Grompol watershed is one of the Bengawan Solo sub-watershed in which rapid growth. The
problems in this watershed is always flooding at the rainy season. This river is ungauged either
automatically or manually, so runoff measurements difficult to monitoring. This study aims to
estimate the runoff coefficient using temporal remote sensing data to determine changes. To
analysis of remote sensing data is using two approaches, digital analysis (transformation NDVI)
and visual analysis (land characteristics). Cook method used to calculate the runoff coefficient
estimates, where the parameter is the vegetation cover, soil infiltration, slope, and drainage
density. That the results obtained period 1994 to 2008 the surface runoff coefficient changes no
significant .
Keyword : Grompol Watershed, Remote sensing, NDVI, Limpasan

PENDAHULUAN

Sumberdaya air mempunyai peranan penting bagi manusia dan lingkungan (Chow dkk, 1988;
Gunawan, 1991). DAS merupakan unit spasial dalam studi hidrologi (Davie 2002), unit ini

251
Prosiding Pemaparan Hasil Penelitian Puslit Geoteknologi – LIPI 2013
ISBN: 978-979-8636-20-2

berfungsi sebagai ekosistem yang terdapat komponen sub-sistem yang bertindak sebagai operator
dalam merubah urutan terjadinya hujan menghasilkan limpasan (Seyhan, 1977). Penggunaan
lahan merupakan inti dari keseimbangan air yang merupakan bagian dari unit-unit lahan yang
berpengaruh terhadap limpasan permukaan (Newson, 2002). Penggunaan lahan adalah salah satu
kondisi batas utama yang mempengaruhi banyak proses hidrologi (Rongrong dan Guishan, 2007).
Urbanisasi mengakibatkan tekanan terhadap sumberdaya hutan dan sumberdaya air yang
meningkat secara eksponensial terhadap kepadatan penduduk (Lee, 1980). Hutan memberikan
penyimpanan air hujan sementara daerah dengan tanpa tutupan vegetasi akan meningkatkan
limpasan permukaan (McCuen, 1998).

Metode Cook merupakan metode yang sederhana dalam melakukan estimasi koefisien limpasan
permukaan. Karakteristik DAS yang dapat menghasilkan aliran runoff dalam Metode Cook antara
lain adalah relief, infiltrasi tanah, penutup vegetasi, dan simpanan permukaan (Chow, 1964 dan
Mejerink, 1970 dalam Gunawan, 1991). Parameter-parameter tersebut bersifat spasial dan dapat
di dekati dengan data penginderaan jauh, baik analisis data secara digital maupun analisis data
secara visual.

Fungsi yang paling umum dalam sistem pengolahan citra penginderaan jauh adalah klasifikasi
penutup/penggunaan lahan (Danoedoro, 2003). Data penutup lahan yang dihasilkan dari
intepretasi citra penginderaan jauh merupakan dasar dari unit respon hidrologi (Meijerink dkk.,
1994). Penggunaan transformasi NDVI (Normalised Difference Vegetation Index) relatif
sederhana dan efektif dapat membedakan daerah yang bervegetasi serta mengurangi efek
bayangan topografi (Thanapura dkk., 2007; Apan dkk., 2002, dalam Daniels, 2006). Menurut
Mather (2004) NDVI banyak digunakan karena nilai rasio tidak terpengaruh oleh nilai piksel
absolut dalam saluran inframerah dekat (NIR) dan saluran merah (R), selain itu NDVI lebih tepat
digunakan dalam penelitian untuk membandingkan dari waktu ke waktu untuk wilayah yang
sama.

Studi bentang lahan menekankan bentuk fungsi dari topografi, litologi, tanah, hidrologi, dan
vegetasi yang digunakan sebagai pendekatan klasifikasi dipermukaan yang memberikan
perbedaan kriteria di permukaan (Zuidam dan Concelado, 1978). Bentuk lahan serta kemiringan
lereng sangat penting dalam pembeda satuan peta tanah (Puslitanak, 2004). Analisis
topografi/relief yang dipadukan dengan bahan induk memungkinkan untuk memperkirakan satuan
tanah (Sartohadi, 2006). Satuan bentuk lahan yang berbeda dapat diinterpretasikan secara
kualitatif memiliki laju infiltrasi yang berbeda pula (Gunawan, 1991).

DAS Grompol yang merupakan salah satu Sub DAS dari DAS Begawan Solo Hulu. Selama kurun
waktu 20 tahun terakhir banyak perkembangan industri serta lahan terbangun lainnya yang
mendesak lahan pertanian di daerah ini (Evans, 2012). Perubahan penggunaan lahan ini besar
kemungkinan mempengaruhi limpasan permukaan dalam DAS yang sering mengakibatkan banjir
di daerah hilir. Pada DAS ini tidak terdapatnya alat pengukur atau pencatatan data tinggi muka air
yang menjadikan pemantauan limpasan permukaan /koefisien limpasan permukaan yang terjadi
pada DAS ini tidak bisa dilakukan, sehingga diperlukan metode tertentu yang dapat diterapkan
guna memprediksi limpasan permukaan.

252
Prosiding Pemaparan Hasil Penelitian Puslit Geoteknologi – LIPI 2013
ISBN: 978-979-8636-20-2

TUJUAN PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan estimasi koefisien limpasan dengan menggunakan data
penginderaan jauh secara multi-temporal dengan menggunakan Metode Cook. Hasil yang akan
dicapai merupakan peta koefisien limpasan permukaan tahun 1994 dan tahun 2008 secara
terdistribusi, sehingga dapat diketahui perubahan koefisien limpasan permukaan dari kurun waktu
tersebut.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan pada DAS Grompol (Gambar 1) yang merupakan Sub DAS dari DAS
Bengawan Solo hulu yang berlokasi di Provinsi Jawa Tengah dengan posisi kordinat terletak
antara 110°52‘30‖ dan 111°11‘10‖ BT dan antara 7°25‘00‖ dan 7°38‘00‖ LS. Secara administrasi
kabupaten terletak di Kabupaten Karanganyar sekitar 78% area DAS dan di Kabupaten Sragen
sekitar 22% area DAS, dengan luas DAS sekitar 237, 56 km2.

Gambar 1. Daerah Lokasi Penelitian DAS Grompol Jawa Tengah

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : citra Landsat TM Mei 1994 (USGS), Citra
AsterVNIR Agustus 2008 (ERDAC), Peta RBI 1:25000 (Bakosurtanal), Peta Tanah 1:250000
(Puslitanak), dan Peta Geologi 1:100000 (PPPG). Selain peralatan yang digunakan dalam survei
lapangan juga digunakan perangkat lunak Ilwis 3.3 tahun 2005 dalam pengolahan data raster dan
vektor. Dalam survei lapangan dilakukan cek lapangan mengenai hubungan nilai NDVI dengan
kerapatan vegetasi dan juga dilakukan pengambilan sampel tanah untuk di analisis di
laboratorium.

253
Prosiding Pemaparan Hasil Penelitian Puslit Geoteknologi – LIPI 2013
ISBN: 978-979-8636-20-2

Data citra penginderaan jauh dilakukan koreksi geometrik menggunakan transformasi


berdasarkan GCP (ground control point ) dan koreksi radiometrik menggunakan penyesuaian
histogram. Selain itu data citra juga dilakukan kalibrasi radiometrik untuk merubah nilai piksel
(digital number) ke dalam bentuk radiansi (radiance) sampi pada nilai pantulan obyek pada citra
(reflectance at sensor). Masing-masing citra dilakukan transformasi NDVI dan digunakan
histogram untuk mengklasifikasikan kerapatan penutup lahan. Gambar 2 merupakan diagram alir
dalam penelitian ini.

Gambar 2. Diagram Alir Penelitian

Intepretasi visual menggunakan komposit RGB 457 yang lebih menonjolkan konfigurasi
permukaan sehingga bentuk lahan dapat dengan mudah diketahui. Bentuk lahan tersebut dijadikan
sebagai satuan pemetaan dalam survei lapangan, dimana dalam unit satuan terdapat nilai dari
kerapatan aliran dan juga karaktersitik lahan yang berhubungan dengan infiltrasi tanah. Semua
parameter diberikan nilai sesuai dengan Metode Cook dan hasil dari overlay merupakan nilai
estimasi dari koefisien aliran permukaan.

254
Prosiding Pemaparan Hasil Penelitian Puslit Geoteknologi – LIPI 2013
ISBN: 978-979-8636-20-2

HASIL DAN PEMBAHASAN

DAS Grompol memiliki 4 (empat) tingkatan orde sungai dengan panjang seluruh aliran sungai
dari orde-1 sampai orde-4 sekitar ± 340, 90 km dan panjang sungai utama sekitar ± 61, 39 km.
Tingkat kerapatan aliran Sungai Grompol menandakan adanya suatu depresi permukaan agak
besar meskipun DAS ini berada pada bentukan lahan asal proses vulkanik. Apabila dilihat dari
bentuk, DAS Grompol memiliki bentuk yang memanjang (linier) dimana pada bentuk ini waktu
konsentrasi (Tc) yang dibutuhkan dalam mencapai puncak banjir sangatlah lambat (dengan
asumsi) hujan merata pada seluruh DAS. Dengan waktu konsentrasi yang lambat maka aliran
yang terbentuk akan lama dan tidak mudah terjadi banjir dan hal ini bertentangan dengan kondisi
kenyataan di lapangan bahwa pada terjadi luapan ketika terjadi hujan yang relatif panjang.

Pada penelitian ini, faktor karaktersitik DAS yang dinamis dan mempengaruhi perubahan
limpasan adalah perubahan penutup vegetasi, faktor ini merupakan batas utama dalam
menentukan kondisi hidrologi permukaan. Pemisahan range antar kelas digunakan histogram dari
pantulan NDVI, seperti gambar 3. berikut ini.

Gambar 3. Histogram Pantulan NDVI (A. Tahun 1994 ; B. Tahun 2008)

Terdapat perbedaan nilai minimum dan maksimum pada pantulan NDVI yaitu -0.56 s/d 0.82 di
tahun 1994 dan -0.39 s/d 0.62 di tahun 2008. Kategori tutupan vegetasi dalam penelitian ini
dibedakan menjadi 4 kelas, yaitu vegetasi kerapatan sangat tinggi, vegetasi kerapatan tinggi,
vegetasi kerapatan sedang, dan vegetasi kerapatan rendah. Hasil yang diperoleh dalam
transformasi NDVI ini memang menunjukkan terjadinya perubahan tutupan vegetasi terutama
pada daerah hilir. Perbedaan tanggal perekaman citra juga mengakibatkan terjadinya perbedaan
penggunaan lahan khususnya pada lahan pertanian sawah.

255
Prosiding Pemaparan Hasil Penelitian Puslit Geoteknologi – LIPI 2013
ISBN: 978-979-8636-20-2

Bentuk lahan yang dijadikan sebagai satuan karakteristik lahan, diperoleh 28 unit hasil intepretasi
visual, yaitu dari bentukan lahan asal vulkanik, bentukan lahan asal denudasional, serta bentukan
lahan asal fluvial. Hasil pengambilan sampel di setiap satuan medan tersaji pada gambar 4.

Gambar 4. Satuan Medan DAS Grompol Jawa Tengah

Selain untuk cek parameter penutup vegetasi, satuan karakteristik lahan ini juga digunakan
sebagai unit dalam laju infiltrasi tanah dan juga unit dalam kerapatan aliran. Perhitungan laju
infiltrasi yang diperoleh menunjukan bahwa sekitar 26.39% area memiliki laju yang lambat,
43.92% area memiliki laju sedang dengan persebaran di daerah pedimen dan aluvial, 22.21% area
memiliki laju sedang dengan persebaran di daerah endapan vulkan, dan 7.48% area memiliki laju
infiltrasi yang cepat. Tabel 1 merupakan kondisi topografi di DAS Grompol.
Tabel 1.1 Kondisi Topografi DAS Grompol Jawa Tengah
Parameter Kelas Luas Prosentase
<100 8094.016 ha 34.07 %
100 – 200 7307.753 ha 30.76 %
Elevasi (m dpal) 200 – 500 5371.959 ha 22.61 %
500 – 1500 2489.863 ha 10.48 %
>1500 492.277 ha 2.07 %
0–2 15142.864 ha 63.74 %
2–6 3689.875 ha 15.53 %
6 – 13 2655.628 ha 11.18 %
Kemiringan (%)
13 – 25 1340.015 ha 5.64 %
25 – 55 829.804 ha 3.49 %
> 55 97.682 ha 0.41 %

256
Prosiding Pemaparan Hasil Penelitian Puslit Geoteknologi – LIPI 2013
ISBN: 978-979-8636-20-2

Sumber : Pengolahan DEM, 2013


Timbunan aliran permukaan yang ditentukan dengan membandingkan panjang jaringan sungai
dengan luasan satuan karakteristik lahan, sehingga setiap unit satuan memiliki nilai timbunan
aliran yang berbeda. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pada DAS ini yang memiliki 3
tipe kelas timbunan aliran permukaan, yaitu sekitar 4.86% yang menunjukkan bahwa simpanan
depresi permukaan tinggi, 82.56% kelas normal, dan 12.56% simpanan permukaan rendah dengan
sistem drainase kecil. Gambar 5 merupakan parameter dalam penyusun nilai koefisien aliran
permukaan.

Gambar 5. Parameter Penyusun Peta Estimasi Koefisien Aliran Permukaan

Penggabungan dari parameter penutup vegetasi, kerapatan aliran, infiltrasi tanah, dan kemiringan
lereng diperoleh nilai estimasi koefisien aliran permukaan. Proses overlay dilakukan dengan
menggunakan SIG (Sistem Informasi Geografis) raster berdimensi 30m x 30m yang disesuaikan
dengan data primer dari citra landsat TM yang beresolusi spasial 30 meter. Tabel 2 merupakan
perbandingan koefisien aliran permukaan DAS Grompol tahun 1994 dan tahun 2008.

257
Prosiding Pemaparan Hasil Penelitian Puslit Geoteknologi – LIPI 2013
ISBN: 978-979-8636-20-2

Tabel 2. Estimasi Koefisien Aliran Permukaan DAS Grompol


1994 2008
Koefisien
Kategori Luas
(%) Luas (ha) Persentase (%) Persentase (%)
(ha)
Rendah 25 3.211 0.01 0.01 0.498 0.00 0.00
30 31.078 0.13 4.433 0.02
35 1938.895 8.16 146.438 0.62
Normal 40 6915.201 29.11 69.65 1849.305 7.78 65.59
45 4868.959 20.50 6268.281 26.39
50 2790.709 11.75 7312.728 30.78
55 1956.317 8.24 2136.952 9.00
60 1462.526 6.16 1745.526 7.35
Tinggi 65 1692.979 7.13 29.74 1717.265 7.23 33.12
70 1183.386 4.98 1460.802 6.15
75 768.549 3.24 807.497 3.40
80 123.246 0.52 299.031 1.26
Ekstrim 85 19.965 0.08 0.60 6.263 0.03 1.29
90 0.176 0.00 0.791 0.00
Sumber : Pengolahan Data, 2013

Tabel 2 memperlihatkan adanya peningkatan koefisien aliran permukaan pada tahun 1994 dan
tahun 2008, meskipun peningkatan yang terjadi tidak terlalu signifikan. Seperti halnya pada
kategori rendah dan dan ekstrim tidak terdapat perbedaan yang berarti, hanya pada kategori tinggi
yang mengalami peningkatan agak tinggi yatu meningkat sekitar 3.38%. Peningkatan ini
dimungkinkan terjadinya perubahan penggunaan lahan dari lahan pertanian ke penggunaan lahan
pemukiman, akan tetapi pemukiman yang terjadi cenderung lebih pada pemukiman non-kekotaan
sehingga pemukiman-pemukiman yang ada masih memiliki penutup vegetasi. Perubahan
penggunaan lahan pada DAS Grompol ini tidak merubah fungsi dari tutupan lahan sehingga tidak
terjadi perubahan kondisi koefisien aliran permukaan yang relatif tinggi.

Kategori koefisien aliran permukaan normal turun sekitar 4.06%, seperti halnya pada peningkatan
pada kategori tinggi penurunan ini dimungkinkan karena terjadinya perbedaan musim tanam pada
sistem lahan pertanian basah. Mengingat bulan perekaman kedua sensor citra ini berbeda yaitu
pada bulan Mei dan bulan Agustus. Pada kedua bulan ini lahan sawah irigasi pada saat sedang
tidak dalam keadaan kosong/terbuka akan tetapi perbedaan nilai kerapatan vegetasi disebabkan
adanya lahan pertanian sawah irigasi yang sudah mengalami masa panen. Mengingat pada
penelitian ini tidak memperhitungkan adanya rotasi pertanian khususnya lahan sawah sehingga
diasumsikan pada kedua bulan ini dianggap memiliki jenis penutup lahan yang seragam. Sebaran
estimasi koefisien aliran permukaan DAS Grompol terdistribusi dapat dilihat pada Gambar 6
berikut.

258
Prosiding Pemaparan Hasil Penelitian Puslit Geoteknologi – LIPI 2013
ISBN: 978-979-8636-20-2

Gambar 6. Estimasi Koefisien Aliran Permukaan DAS Grompol (A. Thn 1994 ; B. Thn 2008)

Dari peta diatas yang merupakan estimasi koefisien aliran permukaan terdistribusi
memperlihatkan bahwa perubahan nilai koefisien aliran permukaan pada daerah hilir/ dataran
aluvial dan di daerah hulu sekitar lereng vulkan Gunungapi Lawu. Pada daerah hilir sebagian
besar penggunaan lahan masih berupa sawah irigasi dengan penutup lahan sekitar 90% dan 50%
terututup oleh tanaman pertanian yang diakibatkan adanya prgiliran tanaman. Perubahan sangat
sedikit pada bagian tengah, hal ini dimungkinkan kondisi penggunaan lahan pada daerah tengah
ini relatif stabil dan dimungkinkan perkembangan yang terjadi sangat dikontrol oleh faktor
karakteristik fisik lahan yang menyebabkan perubahan penggunaan lahan relatif lamban. Apabila
nilai estimasi koefisien aliran yang secara variasi keruangan dianggap merupakan suatu kumulatif
(lumped system), maka nilai estimasi koefisien aliran tertimbang sekitar sebesar 52.55% pada
tahun 1994 dan 48.90% pada tahun 2008 sehingga dari variasi keruangan lumped terjadi
penurunan sekitar 3.65%.

259
Prosiding Pemaparan Hasil Penelitian Puslit Geoteknologi – LIPI 2013
ISBN: 978-979-8636-20-2

KESIMPULAN

Dari hasil dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa pada DAS Grompol ini, estimasi
koefisien aliran permukaan secara terdistribusi dari tahun 1994 sampai 2008 terjadi peningkatan
pada kategori tinggi dan ekstrim sekitar 3.38% dan 0.70%, serta terjadi penurunan pada kategori
normal dan rendah 4.06% dan 0.01%. sedangkan estimasi koefisien aliran permukaan berdasarkan
dari variasi keruangan lumped system terjadi penurunan sekitar 3.65% dari 52.55% pada tahun
1994 dan 48.90% pada tahun 2008. Parameter karakteristik fisik yang dinamis dalam merubah
faktor hujan menjadi limpasan permukaan adalah penutup lahan, akan tetapi perubahan pada
penutup lahan tidak mengikuti perubahan penggunaan lahan yang ada.

UCAPAN TERIMAKASIH

Penulis mengucapkan terimakasih pada Ir. Yugo Kumoro selaku kepala UPT. Balai Informasi dan
Konservasi kebumian – LIPI atas dukungan dan pendanaan dalam kegiatan penelitian DIPA tahun
2013.

DAFTAR PUSTAKA

Chow,V.T., Maidment, D.R., dan Mays, L.W., 1988. Applied Hydrology, Civil Engineering
Series, McGraw-Hill International Editions, New York.
Daniels, A.E., 2006. Incorporating domain knowledge and spatial relationships into land cover
classifications: a rule-based approach, International Journal of Remote Sensing, Vol. 27
(14), Hal. 2949–2975
Danoedoro, P., 2003. Multisource Classification For Land-Use Mapping Based On Spectral,
Textural, and Terrain Information Using Landsat Thematic Mapper Imagery A Case Study
of Semarang-Ungaran Area, Central Java. Indonesian Journal of Geography, Vol. 35 (2),
hal. 81-106.
Devie, T., 2008. Fundamentals of Hydrology, Second Editions, Taylor & Francis e-Library,
London.
Evans, A., 2012. River of Live Bengawan Solo, Rivers of the World is a Thames Festival, British
Council‘s- HSBC Global Education Trust, Akses online tanggal 03 November 2012,
www.riversoftheworld.org.
Gunawan, T., 1991. Penerapan Teknik Penginderaan Jauh untuk Menduga Debit Puncak
Menggunakan Karakteristik Lingkungan Fisik DAS, Studi Kasus di Daerah Aliran Sungai
Bengawan Solo Hulu Jawa Tengah, Disestasi, Fakultas Pascasarjana, Institute Pertanian
Bogor, 230 halaman.
Lee, R., 1980. Forest Hidrology, Columbia University Press, New York, edisi terjemahan ;
Subagyo, Sentot, 1990, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Mather, P.M., 2004. Computer Processing of Remotely-Sensed Images, Third Edition, John Wiley
& Sons Ltd, England
McCuen, Richard H., 1998. Hydrologic Analysis and Design, Prentice-Hall Inc, New Jersey,
United States.

260
Prosiding Pemaparan Hasil Penelitian Puslit Geoteknologi – LIPI 2013
ISBN: 978-979-8636-20-2

Meijerink, A., Brouwer, H., Mannaerts, C., dan Valenzuela, C., 1994. Introduction to The Use of
Geographic Information Systems for Practical Hydrology, The International Institute for
Aerospace Survey and Earth Sciences (ITC), The Netherlands
Newson, M, 2002, Land, water and development : Sustainable Management Of River Basin
Systems, Second edition, Taylor & Francis e-Library
Puslitanak, 2004, Petunjuk Teknis Pengamatan Tanah, Balai Penelitian Tanah, Pusat Penelitian
dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian,
Departemen Pertanian, Bogor
Rongrong, W., dan Guishan, Y., 2007. Influence of Land Use/Cover Change on Storm Runoff - A
Case Study of Xitiaoxi River Basin in Upstream of Taihu Lake Watershed, Chinese
Geographical Science, Vol. 17(4), hal. 349-356, DOI: 10.1007/s11769-007-0349-6
Sartohadi, J., 2006. Penginderaan Jauh untuk Tanah, Lecture Notes, Program Studi Penginderaan
Jauh, Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Tidak dipublikasikan.
Seyhan, E., 1977. Fundamentals of Hydrology, Revised Edition, Geografisch Instituut der
Rijksuniversiteit, edisi terjemahan ; Subagyo, Sentot, 1990, Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.
Thanapura, P., Helder, D.L., Burckhard, S., Warmath, E., O‘ Neill, M., dan Galster, D., 2007.
Mapping Urban Land Cover Using Quickbird NDVI Image and GIS Spatial Modeling for
Runoff Coefficient Determination, Photogrammetric Engineering & Remote Sensing, Vol.
73 (1), Hal. 057–065.
Zuidam, V., dan Canelado, Z., 1978. Terrain Analisys and Classification Uisng Aerial
Photography, A Geomorphological Approach. ITC textbook of Photo-Interpretation.
Volume VII Chapter 6. ITC, Enschede. The Netherlands.

261
Prosiding Pemaparan Hasil Penelitian Puslit Geoteknologi – LIPI 2013