Anda di halaman 1dari 8

Nama: Syahrina Nurul Hikmah

NIM: 6411418112
Mata Kuliah: Metodologi Penelitian Kuantitatif
Dosen Pengampu: dr. Arulita Ika Febriana., M.Kes (Epid)

Masalah Penelitian
Kegiatan untuk menemukan permasalahan biasanya didukung oleh survei ke perpustakaan untuk menjajagi
perkembangan pengetahuan dalam bidang yang akan diteliti, terutama yang diduga mengandung permasalahan. Perlu
dimengerti, dalam hal ini, bahwa publikasi berbentuk buku bukanlah informasi yang terbaru karena penerbitan buku
merupakan proses yang memakan waktu cukup lama, sehingga buku yang terbit misalnya hari ini ditulis sekitar satu
atau dua tahun yang lalu. Perkembangan pengetahuan terakhir biasanya dipublikasikan sebagai artikel dalam majalah
ilmiah; sehingga suatu (usulan) penelitian sebaiknya banyak mengandung bahasan tentang artikel-artikel (terbaru) dari
majalah-majalah (jurnal) ilmiah bidang yang diteliti.
Kegiatan penemuan permasalahan, seperti telah disinggung di atas, didukung oleh survei ke perpustakaan untuk
mengenali perkembangan bidang yang diteliti. Pengenalan ini akan menjadi bahan utama deskripsi “latar belakang
permasalahan” dalam usulan penelitian. Permasalahan dapat diidentifikasikan sebagai kesenjangan antara fakta dengan
harapan, antara tren perkembangan dengan keinginan pengembangan, antara kenyataan dengan ide. Sutrisno Hadi
(1986, 3) mengidentifikasikan permasalahan sebagai perwujudan “ketiadaan, kelangkaan, ketimpangan, ketertinggalan,
kejanggalan, ketidakserasian, kemerosotan dan semacamnya”.
Selain itu sumber-sumber permasalahan penelitian dapat diketahui ketika terdapat penyimpangan antara
pengalaman dengan kenyataan, terdapat penyimpangan antara rencana dengan kenyataan, adanya pengaduan dan
adanya kompetisi sehingga menimbulkan masalah besar. Rasa ingin tahu yang mendalam membuat seseorang
mengadakan penelitian, agar apa yang dirasakan kurang benar bisa terjawab dan terpecahkan. Seperti diketahui bersama
bahwa penelitian adalah merupakan bagian dari pemecahan masalah.
Lalu apa sebenarnya Masalah Penelitian itu? Menurut Notoatmodjo (2002) Masalah Penelitian secara umum
dapat diartikan sebagi “Suatu kesenjangan (gap) antara yang seharusnya dengan apa yang terjadi tentang sesuatu hal,
atau antara kenyataan yang ada atau terjadi dengan yang seharusnya ada atau terjadi serta antara harapan dan
kenyataan”.
Selanjutnya Notoatmodjo (2002) juga menyebutkan bahwa pada hakikatnya Masalah Penelitian Kesehatan
adalah “Segala bentuk pertanyaan yang perlu dicari jawabannya, atau segala bentuk rintangan dan hambatan atau
kesulitan yang muncul”. Dengan demikian adanya masalah penelitian oleh karena adanya "Rational Gap" antara yang
diharapkan dan kenyataan. Meskipun masalah penelitian itu selalu ada dan banyak, belum tentu mudah mengangkatnya
sebagai masalah penelitian, diperlukan kepekaan terhadap masalah penelitian.
Rasa kepekaan seseorang diawali dengan sikap Skeptis dari seseorang. Penelitian diawali dengan sikap
SKEPTIS yang mempunyai arti sikap yang tidak mudah percaya. Sikap ini berbeda sekali dengan sikap tidak mau
percaya. Sikap tidak mudah percaya berarti bahwa fenomena yang terjadi di masyarakat sebelum ada pembuktian
ilmiah melalui penyelidikan ilmiah hingga ditemukan jawabannya, seorang peneliti masih belum mau percaya, baru
setelah ada jawaban melalui penyelidikan ilmiah, hasilnya baru dipercaya. Untuk itu harus disajikan dengan kritis,
analitis, dan sistematis.
LATAR BELAKANG MASALAH
Penelitian Ilmiah selalu akan didahului dengan uraian tentang Latar Belakang Masalah. Uraian tentang Latar
Belakang Masalah tersebut merupakan alur bagi proses lahirnya suatu masalah penelitian secara formal. Melalui Latar
Belakang Masalah, pengalaman tentang permasalahan penelitian yang sedang dihadapi dapat menjadilebih utuh. Suatu
Rumusan Latar Belakang Masalah yang baik, pada umumnya mampu mengungkapkan 4 Hal, yaitu:
1. Mengungkapkan Isu-isu (Isseus)
Dalam latar belakang masalah perlu dikemukakan isu-isu yang aktual mengingat bahwa isu-isu itu merupakan
hal yang mengganjal tentang sesuatu hingga memerlukan penyelesaian. Isu-isu tersebut dapat berupa gejala, fenomena,
atau bahkan komentar yang sedang ramai atau hangat saat ini. Isu dapat berperan sebagai masalah pokok yang segera
memerlukan penyelesaian. Perlu diingat bahwa isu jelas sangat berbeda dengan gosip. Hal lain yang juga perlu diingat
bahwa sepanjang pernyataan tentang masalah masih bisa dibantah, maka tidak bisa dikatakan sebagai isu. (Sangaji &
Sopiah, 2010). Mengungkapkan Fakta-fakta (Exiting Information)
Latar belakang masalah bisa juga menguraikan fakta-fakta yang memperkuat isu. Maksudnya, ada keyakinan
bahwa isu yang diangkat tidaklah dibuat-buat, melainkan nyata adanya. Fakta-fakta yang dimaksud umumnya tentang
Data berupa angka-angka, maupun data-data kualitatif. Sumber data ataupun fakta tersebut seharusnya disebutkan,
misalnya dari suatu media massa, jurnal, laporan sebuah instansi, atau hasil penelitian sebelumnya. Peneliti hendaknya
memperhatikan pula kualitas dan ke- aktual-an fakta-fakta yang dikemukakan tersebut.
2. Menguraikan Kebutuhan Penelitian (Need)
Selanjutnya peneliti sebaiknya juga menguraikan kebutuhan penelitian, yaitu memberikan argumentasi atau
justifikasi untuk apa masalah dipecahkan melalui penelitiannya. Suatu penelitian akan memiliki nilai lebih apabila
hasilnya dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan suatu permasalahan atau kepentingan yang lain.
3. Memiliki Tingkat Kesukaran berkaitan dengan Pemecahan Masalahnya (Difficulty)
Maksudnya adalah, selain menarik, penelitian yang mengangkat atau meneliti masalah tersebut masih langka
atau jarang. Jadi, jika masalah tersebut diteliti, maka akan menjadi bahan masukan atau informasi yang berharga bagi
siapa pun yang terkait dengan masalah yang akan diteliti tersebut.

SYARAT MASALAH PENELITIAN


Penelitian akan berjalan dengan baik apabila peneliti mampu memahami masalah penelitian dengan baik.
Masalah penelitian dapat dikembangkan dari berbagai sumber, diantaranya adalah:
1. Kepustakaan.
2. Bahan diskusi temu ilmiah, hasil seminar, simposium atau lokakarya.
3. Pengalaman dan Observasi Lapangan.

Pendapat pakar yang masih bersifat spekulatif. Permasalahan yang akan diangkat sebagai topik penelitian,
menurut Hulley & Cummings dalam Siswanto, dkk (2013) harus memenuhi persyaratan atau kriteria “FINER” (yaitu:
Feasible, Interisting, Novel, Ethical, Relevan), maksudnya:
1. Feasible: tersedia cukup subjek penelitian, dana, waktu, alat dan keahlian.
2. Interisting: masalah yang akan diangkat untuk topik penelitian hendaknya yang aktual sehingga menarik untuk
diteliti.
3. Novel: masalah dapat membantah atau mengkonfirmasi penemuan atau penelitian terdahulu, melengkapi atau
mengembangkan hasilpenelitian sebelumnya, atau menemukan sesuatu yang baru.
4. Ethical: masalah penelitian hendaknya tidak bertentangan dengan Etika.
5. Relevan: masalah penelitian sebaiknya disesuaikan juga dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi (IPTEK), ditujukan untuk meningkatkan atau mengembangkan keilmuan dan penelitian yang
berkelanjutan.
MERUMUSKAN MASALAH PENELITIAN
Perumusan masalah merupakan salah satu tahap di antara sejumlah tahap penelitian yang memiliki kedudukan
yang sangat penting dalam kegiatan penelitian. Tanpa perumusan masalah, suatu kegiatan penelitian akan menjadi sia-
sia dan bahkan tidak akan membuahkan hasil apa-apa. Rumusan Masalah atau PROBLEM FORMULATION atau
RESEARCH PROBLEM adalah “Suatu rumusan yang mempertanyakan suatu fenomena, baik dalam kedudukannya
sebagai fenomena mandiri, maupun dalam kedudukannya sebagai fenomena yang saling terkait di antara fenomena
yang satu dengan yang lainnya, baik sebagai penyebab maupun sebagai akibat”.
Sehingga Rumusan Masalah merupakan formulasi dari pertanyaan penelitian, yang artinya merupakan
kesimpulan pertanyaan yang terkandung dalam pertanyaan penelitian.
Dengan demikian Perumusan Masalah merupakan jawaban atas pertanyaan: apa masalah penelitian itu? (Danim,
S. 2003). Untuk itu harus pula dibedakan antara Perumusan Masalah dengan Pertanyaan Penelitian. Untuk Pertanyaan
Penelitian lebih mengacu pada Tujuan Khusus dan segi-segi tehnis pengumpulan data. Rumusan Masalah umumnya
dalam bentuk pertanyaan, dan jarang sekali dalam bentuk pernyataan, walaupun dalam bentuk pernyataan pun banyak
ahli yang tidak mempermasalahkan. Tapi Tuckman (1972) dalam Danim,S (2003) menganjurkan agar Rumusan
Masalah hendaknya dalam bentuk Pertanyaan. Dimana sebuah Pertanyaan itu mempunyai 2 (Dua) ciri utama yaitu:
1. Memuat Kata Tanya dan
2. Diakhiri Dengan Tanda Tanya.

Dalam bahasa penelitian, kata tanya yang dipakai sebaiknya "kata tanya baku". Sebagai contoh perbedaan kata
tanya tidak baku dan kata tanya baku:
TIDAK BAKU BAKU
Apa Apakah
Bagaimana Bagaimanakah
Sejauh mana Sejauh manakah
Ada Adakah
Yang mana Yang manakah

Mengingat demikian pentingnya kedudukan perumusan masalah di dalam kegiatan penelitian, sampai-sampai
memunculkan suatu anggapan yang menyatakan bahwa ‘kegiatan melakukan perumusan masalah, merupakan kegiatan
separuh dari penelitian itu sendiri’.
Selanjutnya SIFAT Perumusan Masalah penelitian dapat dibedakan menjadi 2 (Dua) Sifat, yaitu:
1. Perumusan Masalah Deskriptif, apabila tidak menghubungkan antar fenomena atau variabel.
2. Perumusan Masalah Eksplanatoris, apabila rumusannya menunjukkan adanya hubungan atau pengaruh antara
dua atau lebih fenomena/ variabel.

Rumusan masalah penelitian bisa dibuat oleh seorang peneliti melalui beberapa kemungkinan latar belakang
yang dibuat:
1. Setelah menyadari adanya suatu permasalahan kehidupan yang sedang dihadapi manusia atau masyarakatnya.
Masalah kehidupan yang sedang hangat dibicarakan dalam buku ini disebut "topik masalah" Topik masalah
inilah yang menyadarkan seorang pemikir untuk berperan memecahkan sejumlah rumusan masalah penelitian
yang terkait dengan topik masalah itu tadi.
2. Setelah menyadari potensi permasalahan di masa datang setidaknya menurut pandangan dan pertimbangan
teoritis dari suatu bidang keilmuan. Potensi permasalahan itu perlu diantisipasi pemecahannya. Sehubungan
dengan itu diperlukan penelitian terhadap butir-butir permasalahan yang secara khusus telah dirumuskan.

Dari suatu topik masalah penelitian dapat dirumuskan satu atau lebih butir masalah penelitian. Ada 5 (Lima)
Tipe Topik Masalah Penelitian yang dapat digarap oleh seorang peneliti, yaitu:
Keperluan mendeteksi penyebab terjadinya suatu fenomena yang merugikan
atau menguntungkan agar gejala dan akibat lanjutannya
Tipe 1
dapat di atasi atau dipacu.
Seorang
mahasiswa Tipe 2 Keperluan Memperbaiki kesalahan yang tengah berjalan harus
bersungguh- agar sungguh
dalam upaya
kelemahan-kelemahan yang ada dapat di atasi
Keperluan meramalkan akibat positif dan negatif dari suatu
kebijaksanaan baru, langkah dini dapat diarahkan untuk menaikkan
Tipe 3
yang positif dan menihilkan yang negative

Tipe 4 Keperluan mengkuantitatifkan strategikebijakan yang masih


Konseptional sehingga dapat menjadi operasional.
Keperluan membuat pendekatan baru atau alternative
guna meningkatkan ketelitian pengukuran mengenai cara pengukuran
Tipe 5
yang
telah dirumuskan oleh teori lain atau peneliti sebelumnya.

mengidentifikasi dan merumuskan "masalah penelitian". Upaya membuat Karya Tulis Ilmiah atau Skripsi atau bahkan
Tesis untuk gelar kesarjanaannya, tak lain adalah mempraktekkan kegiatan penelitian secara mandiri. Ketika itu
mahasiswa bertindak sebagai Peneliti Pemula dan sebenarnya sedang dilatih menjadi seorang "Problem Solver"
(Pemecah Masalah) yang efektif. Untuk itu dalam merumuskan masalah harus memenuhi Syarat-Syarat atau Kriteria
sebagai berikut:
1. Rumusan masalah harus jelas, padat dan dapat dipahami oleh orang lain
2. Rumusan masalah harus mengandung unsur data yang mendukung pemecahan masalah
penelitian
3. Rumusan masalah harus merupakan dasar dalam membuat kesimpulan sementara (Hipotesis)
4. Masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian Suatu perumusan masalah adalah berwujud kalimat tanya
atau yang bersifat kalimat interogatif, baik pertanyaan yang memerlukan jawaban deskriptif, maupun pertanyaan
yang memerlukan jawaban eksplanatoris, yaitu yang menghubungkan dua atau lebih fenomena atau gejala di
dalam kehidupan manusia.
5. Bermanfaat atau berhubungan dengan upaya pembentukan dan perkembangan teori, dalam arti pemecahannya
secara jelas, diharapkan akan memberikan sumbangan teoritik yang berarti, baik sebagai pencipta teori- teori
baru maupun sebagai pengembangan teori-teori yang sudah ada.
6. Dirumuskan di dalam konteks kebijakan pragmatis yang sedang aktual, sehingga pemecahannya menawarkan
implikasi kebijakan yang relevan pula, dan dapat diterapkan secara nyata bagi proses pemecahan masalah bagi
kehidupan manusia.

Kegunaan atau Fungsi Rumusan Masalah


Perumusan masalah memiliki fungsi sebagai berikut:
1. Sebagai pendorong suatu kegiatan penelitian menjadi diadakan atau dengan kata lain berfungsi sebagai
penyebab kegiatan penelitian itu menjadi ada dan dapat dilakukan.
2. Sebagai pedoman, penentu arah atau fokus dari suatu penelitian. Perumusan masalah ini tidak berharga mati,
akan tetapi dapat berkembang dan berubah setelah peneliti sampai dilapangan.
3. Sebagai penentu jenis data macam apa yang perlu dan harus dikumpulkan oleh peneliti, serta jenis data apa yang
tidak perlu dan harus disisihkan oleh peneliti. Keputusan memilih data mana yang perlu dan data mana yang
4. tidak perlu dapat dilakukan peneliti, karena melalui perumusan masalah peneliti menjadi tahu mengenai data
yang bagaimana yang relevan dan data yang bagaimana yang tidak relevan bagi kegiatan penelitiannya.

Dengan adanya perumusan masalah penelitian, maka para peneliti menjadi mudah dalam menentukan siapa
yang akan menjadi populasi dan sampel penelitian.
VARIASI PENEMPATAN RUMUSAN MASALAH PENELITIAN
Berkenaan dengan penempatan rumusan masalah penelitian, didapati beberapa variasi,
antara lain:
1. Ada yang menempatkannya di bagian sistematika peneliti,
2. Ada yang menempatkan setelah latar belakang atau bersama-sama dengan latar belakang penelitian.
3. Ada pula yang menempatkannya setelah tujuan penelitian.

Di manapun rumusan masalah penelitian ditempatkan, sebenarnya tidak terlalu penting dan tidak akan
mengganggu kegiatan penelitian yang bersangkutan, karena yang penting adalah bagaimana kegiatan penelitian itu
dilakukan dengan memperhatikan rumusan masalah sebagai pengarah dari kegiatan penelitiannya. Artinya, kegiatan
penelitian yang dilakukan oleh siapapun, hendaknya memiliki sifat yang konsisten dengan judul dan perumusan
masalah yang ada. Kesimpulan yang didapat dari suatu kegiatan penelitian, hendaknya kembali mengacu pada judul
dan permasalahan penelitian yang telah dirumuskan.

BENTUK-BENTUK PERMASALAHAN PENELITIAN


Apabila dilihat dari Bentuknya, maka Masalah Penelitian terdiri dari beberapa bentuk, yaitu:
1. Permasalahan DESKRIPTIF adalah suatu permasalahan yang berkenaan dengan pertanyaan terhadap
keberadaan variable mandiri, baik satu variable atau lebih. Jadi tidak bersifat membandingkan dan mencari
hubungan.
contoh: Seberapa tinggi efektifitas penyuluhan terhadap peningkatan pengetahuan responden?
2. Permasalahan KOMPARATIF dalah suatu permasalahan penelitian yang bersifat membandingkan keberadaan
satu variable atau lebih pada dua atau lebih sample yang berbeda.
Contoh: Adakah perbedaan kualitas pengukuran tekanan darah antara lengan kanan dan lengan kiri?
3. Permasalahan ASOSIATIF adalah suatu pertanyaan penelitian yang bersifat hubungan antara dua variablel atau
lebih, yang terdiri atas:
a. Hubungan Simetris, adalah hubungan antara dua variabel atau lebih yang kebetulan munculnya bersama, bukan
hubungan kausal maupun interaktif.
Contoh: Adakah hubungan antara kebiasaan olah raga dengan prestasi ujian?
b. Hubungan Kausal, adalah hubungan yang bersifat sebab akibat. Contoh: Adakah pengaruh Placebo terhadap
penurunan nyeri Arthritis pada lansia?
c. Hubungan Interaktif/ Resiprocal/ Timbal balik, adalah hubungan yang saling mempengaruhi.
Contoh: Adakah hubungan antara motivasi dengan prestasi dalam pembelajaran?

Tujuan Penelitian:
a. Untuk menjelaskan tujuan akhir yang akan dicapai oleh peneliti setelah penelitian selesai dilakukan
b. Untuk memberikan gambaran yang tegas tentang sasaran dan ruang lingkup penelitian
Teknik merumuskan tujuan penelitian:
a. Singkat dan spesifik
b. Diarahkan untuk menjawab permasalahan yang telah dirumuskan
Contoh:
Judul: Pengaruh Customer Relationship Management terhadap Loyalitas Mahasiswa
Perumusan Masalah: Bagaimana Customer Relationship Managemen, Bagaimana Loyalitas, Seberapa besar pengaruh
Customer Relationship Management terhadap Loyalitas Mahasiswa
Tujuan Penelitian: Untuk menganalisis pengaruh customer relationship management terhadap loyalitas mahasiswa.
Manfaat Penelitian:
Untuk menjelaskan manfaat/kontribusi yang akan diperoleh dari hasil penelitian dan siapa pihak yang akan
mendapatkan manfaat tersebut
Teknik merumuskan manfaat penelitian:
a. Disebutkan secara detail siapa saja yang mendapatkan manfaat dan apa manfaat yang dapat diperoleh dari hasil
penelitian
b. Manfaat dapat dikaitkan dengan orientasi penelitian, apakah mempunyai kontribusi pada pengembangan dan
penerapan IPTEKS, pengembangan kelembagaan/organisasi atau untuk pemecahan masalah-masalah
praktis/menunjang pembangunan dsb.
Cara-cara Formal Penemuan Permasalahan
Cara-cara formal (menurut metodologi penelitian) dalam rangka menemukan permasalahan dapat dilakukan
dengan alternatif-alternatif berikut ini:
1. Rekomendasi suatu riset. Biasanya, suatu laporan penelitian pada bab terakhir memuat kesimpulan dan saran.
Saran (rekomendasi) umumnya menunjukan kemungkinan penelitian lanjutan atau penelitian lain yang
berkaitan dengan kesimpulan yang dihasilkan. Saran ini dapat dikaji sebagai arah untuk menemukan
permasalahan.
2. Analogi adalah suatu cara penemuan permasalahan dengan cara “mengambil” pengetahuan dari bidang ilmu lain
dan menerapkannya ke bidang yang diteliti. Dalam hal ini, dipersyaratkan bahwa kedua bidang tersebut
haruslah sesuai dalam tiap hal-hal yang penting. Contoh permasalahan yang ditemukan dengan cara analogi ini,
misalnya: “apakah Proses perancangan perangkat lunak komputer dapat diterapkan pada proses perancangan
arsitektural” (seperti diketahui perencanaan perusahaan dan perencanaan arsitektural mempunyai kesamaan
dalam hal sifat pembuatan keputusannya yang Judgmental).
3. Renovasi. Cara renovasi dapat dipakai untuk menggant komponen yang tidak cocok lagi dari suatu teori. Tujuan
cara ini adalah untuk memperbaiki atau meningkatkan kemantapan suatu teori.
4. Dialektik, dalam hal ini, berarti tandingan atau sanggahan. Dengan cara dialektik, peneliti dapat mengusulkan
untuk menghasilkan suatu teori yang merupakan tandingan atau sanggahan terhadap teori yang sudah ada.
5. Ekstrapolasi adalah cara untuk menemukan permasalahan dengan membuat tren (trend) suatu teori atau tren
permasalahan yang dihadapi.
6. Morfologi adalah suatu cara untuk mengkaji kemungkinan-kemungkinan kombinasi yang terkandung dalam
suatu permasalahan yang rumit, kompleks.
7. Dekomposisi merupakan cara penjabaran (pemerincian) suatu pemasalahan ke dalam komponen-komponennya.
8. Agregasi merupakan kebalikan dari dekomposisi. Dengan cara agregasi, peneliti dapat mengambil hasil-hasil
peneliti atau teori dari beberapa bidang (beberapa penelitian) dan “mengumpulkannya” untuk membentuk suatu
permasalah yang lebih rumit, kompleks.

Cara-cara Informal Penemuan Permasalahan


Cara-cara informal (subyektif) dalam rangka menemukan permasalahan dapat dilakukan dengan alternatif-
alternatif berikut ini:
1. Konjektur (naluriah). Seringkali permasalahan dapat ditemukan secara konjektur (naluriah), tanpa dasar-dasar
yang jelas. Bila kemudian, dasar-dasar atau latar belakang permasalahan dapat dijelaskan, maka penelitian dapat
diteruskan secara alamiah. Perlu dimengerti bahwa naluri merupakan fakta apresiasi individu terhadap
lingkungannya. Naluri, menurut Buckley, dkk., (1976, 19), merupakan alat yang berguna dalam proses
penemuan permasalahan.
2. Fenomenologi. Banyak permasalahan baru dapat ditemukan berkaitan dengan fenomena (kejadian,
perkembangan) yang dapat diamati. Misal: fenomena pemakaian komputer sebagai alat bantu analisis dapat
dikaitkan untuk mencetuskan permasalahan – misal: seperti apakah pola dasar pendaya – gunaan komputer
dalam proses perancangan arsitektural.
3. Konsensus juga merupakan sumber untuk mencetuskan permasalahan. Misal, terdapat konsensus bahwa
kemiskinan bukan lagi masalah bagi Indonesia, tapi kualitas lingkungan yang merupakan masalah yang perlu
ditanggulangi (misal hal ini merupakan konsensus nasional).
4. Pengalaman. Tak perlu diragukan lagi, pengalaman merupakan sumber bagi permasalahan. Pengalaman
kegagalan akan mendorong dicetuskannya permasalahan untuk menemukan penyebab kegagalan tersebut.
Pengalaman keberhasilan juga akan mendorong studi perumusan sebab-sebab keberhasilan. Umpan balik dari
klien, misal, akan mendorong penelitian untuk merumuskan komunikasi arsitek dengan klien yang lebih baik.

Referensi

1. Azwar, S. (2009). Metode Penelitian. Yogyakarta. Pustaka Pelajar


2. Budiman. (2011). Penelitian Kesehatan. Bandung. PT. Refika Aditama
3. Chandra. B. (2008). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta. EGC
4. Creswell.J.W. (2010). Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan
Mixed. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.

5. Notoatmodjo, Soekidjo (2002). Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta, Rineka


Cipta.

https://www.academia.edu/23313382/MASALAH_PENELITIAN
https://www.researchgate.net/publication/325256761_Memulai_Identifikasi_Masalah_Penelitian
https://www.academia.edu/28859515/Permasalahan_Penelitian_dan_Penyusunan_Pertanyaan_Penelitian
https://repository.unikom.ac.id/52696/1/LIMA.pdf
https://penalaran-unm.org/masalah-penelitian/