Anda di halaman 1dari 7

PERBANDINGAN HIDROGRAF BANJIR MENGGUNAKAN DATA HUJAN RADAR DAN DATA HUJAN

PERMUKAAN Studi Kasus Sub


DAS Kali Gendol
AYU PUSPITASARI
Universitas Gadjah Mada, 2017 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Air di muka bumi terus mengalami sirkulasi, sirkulasi antara air laut dan air
daratan yang berlangsung terus menerus sering disebut siklus hidrologi seperti
terlihat pada Gambar 1.1 (Triatmodjo, 2008). Salah satu proses yang terjadi dari
siklus hidrologi adalah hujan. Hujan yang turun di permukaan bumi akan
mengalami proses peresapan dan limpasan. Peresapan dan limpasan hujan ini
akan dipengaruhi oleh tingkat resapan tanah dan luas daerah resapan tanah.

Penurunan resapan tanah dari suatu daerah resapan dapat diakibatkan oleh
perubahan tata guna lahan yang tidak direncanakan dengan baik. Hal ini dapat
menyebabkan banjir pada suatu daerah aliran sungai (DAS) yang diakibatkan
bertambahnya volume limpasan langsung karena berkurangnya resapan air hujan
ke dalam tanah.

Udara lembab
Hujan di darat

Hujan jatuh di laut


Evaporasi dari darat

Limpasan
Evaaporasi dan transpirasi
Infiltrasi
Tanah lembab Evaporasi dari laut
Aliran bawah
permukaan Water
Lapis kedap air table Limpasan

Aliran air tanah


Limpasan ke laut

Gambar 1.1 Siklus hidrologi.


Sumber: Bambang Triatmodjo, 2008.

1
PERBANDINGAN HIDROGRAF BANJIR MENGGUNAKAN DATA HUJAN RADAR DAN DATA HUJAN
PERMUKAAN Studi Kasus Sub
DAS Kali Gendol
AYU PUSPITASARI
Universitas Gadjah Mada, 2017 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/
2

Pada zaman milenial ini, terjadi pemanasan global yang kondisinya semakin parah
sehingga mengakibatkan terjadinya perubahan cuaca. Di Indonesia yang
merupakan daerah tropis, musim hujan dan kemarau yang terjadi semakin tidak
menentu akibat pemanasan global, seperti pada musim hujan yang terkadang
terjadi pergeseran waktu kejadian. Karena pola musim hujan ini berubah,
intensitas hujan yang terjadi sulit diprediksi. Kondisi hujan ekstrim ini dapat
mengakibatkan bencana alam seperti tanah longsor dan banjir.

Hujan dengan jumlah intensitas tertentu dapat mengakibatkan banjir, sehingga


jumlah intensitas hujan dan kedalaman hujan yang terjadi di suatu DAS menjadi
sangat penting diketahui, karena hujan merupakan penyumbang utama ke dalam
suatu sistem DAS. Intensitas hujan yang terjadi menghasilkan debit aliran pada
sungai.

Debit aliran adalah laju aliran air dalam bentuk volume air yang melewati
penampang melintang sungai persatuan waktu. Debit aliran bisa didapatkan dari
melakukan liku kalibrasi terhadap data tinggi muka air sungai yang didapat dari
stasiun automatic water level recorder (AWLR) atau dengan melakukan
pengukuran langsung di lapangan. Namun, pada kondisi di lapangan, seringkali
data tersebut tidak tersedia, sehingga untuk mendapatkan tinggi muka air dan
debit aliran pada sungai yang terjadi diperlukan data curah hujan yang terjadi di
sekitar sistem DAS yang bersangkutan. Untuk mendapatkan data curah hujan
tersebut, dilakukan pengukuran terhadap curah hujan yang terjadi dengan
menggunakan alat pengukur hujan. Alat pengukur hujan ini merekam intensitas
hujan yang terjadi setiap waktu tertentu.

Terdapat beberapa alat pengukur intensitas hujan, pada penelitian ini alat
pengukur hujan yang digunakan adalah alat penakar hujan otomatis atau
automatic rainfall recorder (ARR) dan stasiun radar hujan. Stasiun hujan ARR
merekam besarnya intensitas hujan atau kedalaman hujan yang terjadi di stasiun
hujan selama 24 jam. Stasiun hujan radar menyediakan data intensitas hujan
dengan daerah cakupan yang lebih luas dengan resolusi spasial yang lebih baik.
PERBANDINGAN HIDROGRAF BANJIR MENGGUNAKAN DATA HUJAN RADAR DAN DATA HUJAN
PERMUKAAN Studi Kasus Sub
DAS Kali Gendol
AYU PUSPITASARI
Universitas Gadjah Mada, 2017 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/
3

Pada penelitian ini, stasiun hujan radar yang digunakan berasal dari radar hujan
Museum Merapi yaitu X-Band Multiparameter Radar (XMPR), dan stasiun ARR
yang digunakan adalah stasiun Ngipiksari, stasiun Sukorini dan stasiun Kaliadem.
Pada penelitian ini, daerah cakupan kajian yang digunakan adalah sub DAS Kali
Gendol hulu dengan titik kontrol stasiun AWLR Plumbon.

Cara kerja stasiun XMPR Museum Gunung Merapi ini adalah stasiun radar
memancarkan gelombang elektromagnetik yang kemudian oleh partikel hujan
dipantulkan kembali pada antena radar. Perangkat pada stasiun radar akan
mencatat gelombang elektromagnetik yang dipantulkan kembali dan
menghasilkan nilai dari intensitas hujan yang terjadi. Cara kerja XMPR dapat
dilihat dalam Gambar 1.2 berikut.

Range dependent error

Evaporation Wind Radar

Misscalibration,
Ground clutter,
attenuation,
Other effect. Rain Gauge

Gambar 1.2 Sketsa kerja stasiun hujan radar dan stasiun hujan permukaan.
Sumber: Hambali, 2017.

Daerah cakupan stasiun radar lebih baik dibandingkan dengan stasiun ARR.
Pengukuran hujan pada stasiun ARR yang bersifat per titik mengakibatkan
diperlukannya jumlah stasiun ARR yang cukup banyak untuk memperoleh data
curah hujan yang akurat, sehingga menjadi kurang efisien dalam jumlah stasiun
dan biaya. Sedangkan pada stasiun radar yang memiliki cakupan pengukuran yang
lebih luas memerlukan jumlah stasiun yang lebh sedikit, sehingga stasiun radar
PERBANDINGAN HIDROGRAF BANJIR MENGGUNAKAN DATA HUJAN RADAR DAN DATA HUJAN
PERMUKAAN Studi Kasus Sub
DAS Kali Gendol
AYU PUSPITASARI
Universitas Gadjah Mada, 2017 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/
4

akan lebih efisien dalam jumlah stasiun pengukuran hujan dan biaya yang
dibutuhkan.

Hasil pengukuran hujan pada stasiun ARR dilakukan pada kejadian hujan di
permukaan sedangkan stasiun radar melakukan pengukuran pada kejadian hujan
yang berada di ketinggian tertentudi atas permukaan bumi. Data hujan yang
diperoleh dari stasiun ARR bukan merupakan data hujan kawasan tetapi data
hujan titik, sehingga jika digunakan sebagai input model hujan aliran secara
langsung ketelitian dari hasil analisis model hujan aliran akan sangat dipengaruhi
oleh jumlah dan kerapatan stasiun terhadap daerah yang akan dianalisis. Selain
itu, data hujan radar yang dihasilkan pun tidak akan sama dengan data hujan
permukaan karena pengukuran oleh stasiun hujan yang berada di ketinggian
tertentu di atas permukaan tanah, sehingga jika data hujan radar akan digunakan
sebagai input model hujan aliran secara langsung perlu dikaji perbedaan hidrograf
banjir yang dihasilkan antara dengan menggunakan data hujan radar dan data
hujan permukaan (ARR).

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini berdasarkan latar belakang yang telah
dikemukakan yaitu hingga dijelaskan dalam sub BAB di atas dapat diketahui
bahwa belum ada penggunaan data hujan radar untuk keperluan analisis hidrograf
banjir.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dalam penulisan penelitian ini adalah mengetahui perbandingan hidrograf


banjir pada sub DAS kali Gendol yang dianalisis dengan input data menggunakan
data hujan radar dan data hujan ARR dengan menggunakan model HEC-HMS
versi 4.0 dan Microsoft Excel 2010.

1.4 Batasan Penelitian

Adapun batasan dalam Tugas Akhir ini adalah sebagai berikut:


1. penelitian dilakukan di daerah sub DAS kali Gendol,
PERBANDINGAN HIDROGRAF BANJIR MENGGUNAKAN DATA HUJAN RADAR DAN DATA HUJAN
PERMUKAAN Studi Kasus Sub
DAS Kali Gendol
AYU PUSPITASARI
Universitas Gadjah Mada, 2017 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/
5

2. data yang digunakan adalah data hujan dari perekaman hujan XMPR Merapi
dan perekaman hujan ARR yang berlokasi di stasiun Kaliadem, stasiun
Ngipiksari dan stasiun Sukorini yang diunduh dari website Laboratorium
Hidraulika Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas Tenik,
Universitas Gadjah Mada,
3. penelitian dilakukan dengan menggunakan bantuan perangkat lunak HEC-
HMS versi 4.0, ArcGis versi 10.2, AutoCAD 2013, Microsoft Excel 2010 dan
Google Earth,
4. analisis hidrograf banjir dilakukan di stasiun AWLR Plumbon,
5. metode yang digunakan untuk transformasi hujan aliran adalah hidrograf
satuan sintetis metode SCS,
6. data hujan XMPR Merapi diolah dengan menggunakan program ArcGIS
10.2.

1.5 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan keakuratan
penggunaan data perekaman hujan di wilayah Yogyakarta. Selain itu, hasil
penelitian ini untuk mengetahui keeratan hasil analisis kedalaman hujan dan debit
aliran yang dihasilkan dari data hujan permukaan dan data hujan radar. Hasil
analisis ini untuk mengetahui pula apakah hasil analisis antara data hujan radar
dengan hasil analisis data hujan permukaan memiliki hasil yang mirip atau tidak.
Selain itu, data hujan radar ini juga dapat menjadi sumber data hujan alternatif
yang diharapkan dapat melakukan proses simulasi mitigasi bencana yang cepat
dan memperkirakan waktu kejadian bencana secara cepat. Penelitian ini
diharapkan dapat bermanfaat pula untuk pihak yang akan menggunakan stasiun
hujan radar sebagai alternatif alat pengukur hujan.

1.6 Keaslian Penelitian

Penelitian ini khusus membahas hubungan keeratan hasil analisis debit aliran yang
diolah dari data intensitas hujan yang didapat dari stasiun hujan permukaan ARR
dan stasiun hujan radar pada XMPR Museum Merapi. Pada peneliti sebelumnya,
telah dilakukan penelitian mengenai analisis perbandingan debit aliran serta
PERBANDINGAN HIDROGRAF BANJIR MENGGUNAKAN DATA HUJAN RADAR DAN DATA HUJAN
PERMUKAAN Studi Kasus Sub
DAS Kali Gendol
AYU PUSPITASARI
Universitas Gadjah Mada, 2017 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/
6

mengenai perbandingan antara data hujan permukaan dan data hujan radar antara
lain.

1. Kajian Hubungan antara Karakteristik Hujan dengan Debit Puncak Banjir


(Putro, 2008). Pada penelitian ini dilakukan perbandingan debit banjir
berdasarkan pada hidrograf banjir yang tercatat dan berdasarkan pada debit
banjir minimal dengan data hujan permukaan yang didapatkan dari stasiun
hujan permukaan ARR dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2005. Studi
kasus daerah penelitian yang dilakukan adalah DAS Code dan DAS
Gajahwong.

2. Perbandingan Data Hujan Radar terhadap Hujan Permukaan (Hambali, 2017).


Penelitian ini merupakan perbandingan antara data hujan permukaan dengan
data hujan radar XMPR Museum Merapi. Pada penelitian ini, kejadian hujan
yang digunakan adalah tanggal 10 November 2016.

3. Comparison between Radar Estimated and Rain Gauge Measured


Precipitation in the Moldavian Plateau (Burcea et al., 2012). Penelitian ini
melakukan perbandingan antara data hujan yang didapatkan dari alat ukur
hujan radar dengan alat ukur hujan permukaan, sehingga diharapkan pada
penelitian ini nilai quantitative percipitation estimation (QPE) pada daerah
yang diteliti dapat ditingkatkan. Jenis radar yang digunakan pada penelitian
ini adalah radar tipe WSR-98D (Weather Surveillance Radar-98 Doppler) S-
Band Doppler Radar. Pada penelitian ini studi kasus dilaksanakan di dataran
Moldavian (Romania).

4. Perbandingan Metode Penentuan Nilai Hujan Rata-Rata untuk Perhitungan


Debit Banjir di Sub DAS Belik Yogyakarta (Fahru, 2016). Penelitian ini
merupakan perbandingan hasil pemodelan curah hujan rerata dengan metode
Aritmatik, Polygon Thiessen dan Isohiet, yang kemudian dilakukan analisis
debit banjir dengan metode rasional dengan menggunakan data hujan
permukaan. Pada penelitian ini, kejadian hujan yang digunakan adalah tahun
2002 hingga 2012.
PERBANDINGAN HIDROGRAF BANJIR MENGGUNAKAN DATA HUJAN RADAR DAN DATA HUJAN
PERMUKAAN Studi Kasus Sub
DAS Kali Gendol
AYU PUSPITASARI
Universitas Gadjah Mada, 2017 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/
7

Tugas akhir ini merupakan penelitian lanjutan terhadap penelitian perbandingan


data hujan radar dan hujan permukaan oleh Roby Hambali (2017). Perbedaan
pada penelitian ini dengan penelitian diatas adalah dilakukan analisis hidrograf
banjir dengan menggunakan metode hidrograf satuan sintetis SCS dan metode
curah hujan rerata yang digunakan adalah Poligon Thiessen.