Anda di halaman 1dari 2

Prosedur yang ditempuh dalam pengadaan instrumen yang baik adalah:

1. Perencanaan, meliputi perumusan tujuan, menentukan variabel, kategorisasi variabel. Untuk tes,
langkah ini meliputi perumusan tujuan dan pembuatan tabel spesifikasi.

2. Penulisan butir soal, atau item kuesioner, penyusunan skala, penyusunan pedoman wawancara.

3. Penyuntingan, yaitu melengkapi instrumen dengan pedoman mengerjakan surat pengantar, kunci
jawaban, dan lain-lain yang perlu.

4. Uji-coba, baik dalam skala kecil maupun besar.

5. Penganalisaan hasil, ana|isis item, melihat pola jawaban peninjauan saran-saran, dan sebagainya.

6. Mengadakan revisi terhadap item-item yang dirasa kurang baik, dan mendasarkan diri pada data
yang diperoleh sewaktu uji coba.

Dari pengalaman mahasiswa berkonsultasi, tidak sedikit pertanyaan dilontarkan oleh mereka
mengenai jumlah seubjek uji coba. Dalam hal ini perlu dipertegas dahulu, apa tujuan uji coba
instrumen yang akan dilakukan.

Ada dua macam tujuan uji coba dengan persyaratan jumlah subjek yang berbeda.

(1) uji coba untuk tujuan manajerial dan substansial, dan

(2) uji coba untuk tujuan keandalan instrumen.

Uji coba untuk tujuan manajerial dan substansial

Uji coba untuk tujuan pertama ini lebih menitikberatkan pada segi teknis. Peneliti menyebutkan
tujuan uji coba adalah:

1. Untuk mengetahui tingkat keterpahaman instrumen, apakah responden tidak menemui kesulitan
dalam menangkap maksud peneliti.

2. Untuk mengetahui teknik paling efektif.

Sebagai contoh misalnya peneliti menggunakan metode angket, peneliti mencoba beberapa cara:

a. Membagi angket kepada responden satu per satu sambil diterangkan tujuannya dan ditunggui
sampei selesai.

b. Membagi angket kepada kelompok responden, dijelaskan tujuan dan garis besar isinya kemudian
mereka mengisi bersama-sama tanpa ditunggui.

c. Menyerahkan angket kepada pemimpin responden agarditeruskan kepada responden.

d. Menyerahkan angket kepada responden tanpa disertai penjelasan dan diambil lain waktu.

Atau cara-cara lain lagi.

Peneliti mempertimbangkan dan mencoba beberapa cara, untuk kemudian dicermati hasilnya.

3. Untuk memperkirakan waktu yang dibutuhkan oleh responden dalam mengisi angket.

4. Untuk mengetahui apakah butir-butir yang tertera dalam angket sudah memadai dan cocok
dengan keadaan di lapangan. Mungkin sekali ada butir yang sudah dimuat dalam angket tetapi
ternyata tidak ada di lapangan, atau sebaliknya, ada usul-usul untuk tambahan butir baru karena di
lapangan ada aspek tersebut tetapi belum termuat dalam angket.

Banyaknya subjek untuk uji coba dengan tujuan seperti ini tidak terlalu banyak menuntut
persyaratan. Tingkat keterpahaman angket dapat diketahui dari beberapa subjek yang mempunyai
tingkat pemahaman tinggi, cukup, dan rendah. Kalau subjek dengan tingkat pemahaman rendah
sudah tidak keliru menangkap maksud instrumen peneliti, maka dapat disimpulkan bahwa instrumen
sudah baik.