Anda di halaman 1dari 8

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan
hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul Indeks Pengukuran
Pengalaman karies.

Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu syarat tugas Prevdent. Dalam penyusunan
makalah ini, kami banyak mendapat pengarahan, petunjuk serta bimbingan dan saran dari beberapa pihak.
Untuk itu kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Dosen Pengampu Nova Herawati,S.KpG,
M.Kes, selaku dosen Prevdent yang telah mendukung terbuatnya makalah ini. Penyusunan makalah ini
salah satunya bertujuan memberi informasi kepada para pembaca mengenai indeks pengukuran
pengalaman karies.

Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu,
kritik dan saran ilmiah yang dapat membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Atas semua bantuan yang diberikan, kami ucapkan terima kasih dan teriring doa semoga mendapatkan
balasan dari Allah SWT.

Bukittinggi, 28 Agustus 2017

Penulis

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar………………………………………………….……..………..……….. 1

Daftar Isi………………………………………………………….……………...……… 2

BAB I. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang……………….…………………………………….…………..3

1.2 Rumusan Masalah………………………………………………….……….… 3

1.3 Tujuan Masalah…………………………………………………………….… 3

BAB II. Pembahasan

2.1 Pengukuran Keativan Karies ………………………………...………………. 4

2.2 Indeks Karies Gigi…………………………….…………………………….… 5

BAB III. Penutup

3.1 Kesimpulan…………………………………………………………………….8

3.2 Saran……………………………………………………………………….…...8

Daftar Pustaka

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Karies merupakan hasil interaksi dari bakteri dipermukaan gigi, plak atau biofilm dan
diet (khususnya komponen karbohidrat yang dapat difermentasikan oleh bakteri plak menjadi
asam, terutama asam laktat dan asam asetat) sehingga terjadi demineralisasi jaringan karies gigi
dan memerlukan cukup waktu untuk kejadiannya. Adapun factor yang menyebabkan terjadinya
karies antara lain : mikroorganisme, permukaan gigi, diet (makanan) dan waktu.

Indikator status kesehatan gigi untuk menilai karies, dapat menggunakan indeks def-t,
DMF-T dan indeks pufa. Indeks def-t dan DMF-T merupakan indeks yang digunakan untuk
menilai kerusakan gigi pada seseorang baik berupa gigi berlubang, gigi yang sudah dicabut
maupun yang ditumpat karena karies. Indeks pufa merupakan indeks untuk menilai tingkat keparahan
penyakit gigi dan mulut akibat karies yang tidak ditangani dengan baik. Indeks ini dinilai berdasarkan
keterlibatan pulpa, adanya ulserasi karena sisa akar, adanya fi stel dan apakah sudah ada abses.

1.2 Rumusan masalah

1. Apa yang dimaksud dengan pengukuran keatifitasan karies?


2. Bagaimana menentukan indeks pengukuran DMF-T?
3. Bagaimana menentukan indeks pengukuran def-t?

1.3 Tujuan masalah

1. Untuk mengetahui dan memahami maksud pengukuran keatifitasan karies


2. Untuk mengetahui dan memahami cara menentukan indeks pengukuran DMF-T
3. Untuk mengetahui dan memahami cara menentukan indeks pengukuran def-t

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengukuran keaktivan karies

Dalam mempelajari setiap penyakit, ahli epidemiologi akan melihat baik prevalensi maupun
insidensnya. Pravelansi adalah bagian dari suatu kelompok masyarakat yang terkena suatu penyakit atau
suatu keadaan pada kurun waktu tertentu. Sedangkan insidens adalah pengukuran tingkat kemajuan
suatu penyakit. Untuk mengukur insidens dibutuhkan dua pemeriksaan : satu pada permulaan dan satu
pada akhir kurun waktu tertentu.
Pada kasus karies, pengukuran penyakit akan meliputi :
a. jumlah gigi karies yang tidak diobati (D)
b. jumlah gigi yang telah dicabut dan tidak ada (M)
c. jumlahh gigi yang ditambal (F)

DMF(T) digunakan untuk mengemukakan gigi karies, hilang dan ditambal sementaara DMF(S)
menyatakan gigi karies hilang dan permukaan gigi yang ditambal pada gigi permanen, sehingga jumlah
permukaan gigi yang terserang karies harus diperhitungkan. Indeks yang sama bagi gigi sulung adalah
def(t) dan def(s) dimana e menunjukan jumlah gigi yang dicabut ( bukan hilang karena tanggal secara
alamiah) dan f menunnjukkan gigi atau permukaan gigi yang ditambal.

2.2 Masalah praktis dalam indeks DMF-T dan def-t

Masalah cukup serius dalam penggunaan indeks ini pada anak anak muda, hilangnya gigi sulung
bisa jadi disebabkan oleh karena tanggal secara alamiah yang harus dibedakan dengan yang hilang karena
karies. Selain karena karies, gigi tetap bisa hilang karena trauma, pencabutan untuk perawatanortodonti
atau demi kepentingan pembuataan gigi palsu dan karena penyakit periodontium.

Sementara molar tiga sering dicabut karena tidak cukupnya ruangan pada lengkung rahang. Gigi
hilang bisa diabaikan dari perhitungan indeks dan hanya gigi karies serta yang ditambal saja yang
diperhitungkan.

2.3 Prevalensi karies pada manusia modern

Manusia modern yang hidup dalam masyarakat industri yang sudah maju, Karies merupakan hal
yang sudah biasa, tetapi frekuensi karies berbeda ditiap negeri dan antar individu dalam negeri itu sendiri.
Dewasa ini pravelensi karies paling rendah ada dinegara Negara asia dan afrika dan paling tinggi di
Negara Negara amerika, eropa, dan Australia.

2.4 Perkembangan terakhir prevalensi karies

Pravelensi karies pada anak anak dinegara berkembang kini meningkatkan dengan cepat. Tetapi,
dalam 15 tahun terakhir ini, survey pada anak sekolah Negara maju menunjukkan adanya penurunan
prevalensi karies sampai 50%. Penelitian tersebut memperliatkan bahwa dijumpai lebih banyak individu
yang bebas karies, lebih sedikit permukaan giginya yang terkena karies (permukaan halus) dan lebih
sedikit gigi yang ditambal.

4
Faktor faktor penyebab penurunan prevalensi karies dinegara maju antara lain:

a. Meningkatnya pemakaian flour dan pasta gigi serta pengolesan flour ditempat praktek. Yang
flour dianggap menurunkan insidens karies dengan berbagai cara.
b. Berubah nya pola konsumsi gula. Mengingat karies adalah penyakit yang bergantung pada gula,
mka suatu penurunan frekuensi dan jumlah konsumsi gula diharapkan akan mempengaruhi
prevalensi penyakit ini. Peningkatan makanan pengganti gula, yang manis tidak dapat diragikan
menjadi asam oleh bakteri.
c. Membaiknya tingkat kesehatan oral. Hal ini meliputi kunjungan teratur kedokter gigi, perbaikan
hygiene oral dan kesadran akan pengaturan makanan.
d. Menurun virulensi kuman penyebab. Hal ini sangat penting karena virulensi kuman bisa saja
meningkat lagi sehingga prevalensi karies pun meningkat.

2.5 Indeks Karies Gigi

Indeks karies gigi adalah angka yang menunjukkan klinis penyakit karies gigi. Indeks karies yang
bisa dipakai antara lain :

 untuk gigi tetap : Indeks DMF-T


 untuk gigi susu : Indeks def-t

a. Indeks DMF-T (DMF-Teeth)


D = Decay ;
1) Gigi berlubang karena karies
2) Karies yang masih bisa ditambal
3) Gigi yang sudah ditambal terdapat karies baik primer maupun sekunder
4) Gigi yang sudah ditambal, kemudian tambalannya lepas

M = Missing ;

1) Gigi yang sudah dicabut karena karies


2) Gigi indikasi cabut karena karies

F = Filling ;

1) Tambalan dalam keadaan sehat atau tidak ada sekunder karies

Angka DMF-T menggambarkan banyaknya karies yang diderita seseorang dari dulu sampai sekarang.

Kekurangan indeks DMF-T :

1. Tidak dapat menggambarkan banyaknya karies yang sebenarnya. Karena jika pada gigi
terdapat dua karies atau lebih, karies yang dihitung adalah tetap satu gigi.
2. Indeks DMF-T tidak dapat membedakan kedalaman dari karies, misalnya karies superfisialis,
karies media dan karies profunda.

5
b. Indeks def-t (def-teeth)

d = decay ;
1) Gigi berlubang karena karies
2) Karies yang masih bisa ditambal

e = ekstraksi

1) Gigi indikasi cabut karena karies

f = filling ;

1) Jumlah gigi yang sudah ditambalan

Kekurangan indeks def-t antara lain :

E = ekstraksi, seharusnya dapat menunjukkan jumlah gigi yang dicabut karena karies. Pada gigi
susu kadang-kadang gigi yang tidak ada disebabkan lepas dengan sendirinya karena factor
fisiologis disebut ekstraksi, bukan karena karies tapi seoraang anak biasanya tidak dapat
menerangkan mengapa giginya tidak ada atau hilang, apakah pernah karies atau ekstraksi.

Angka-angka def-t dan DMF-T dari hasil survey dapat dipergunakan untuk :

1. Mengetahui keadaan kesehatan gigi masyarakat, misalnya :


 Mengetahui jumlah karies menurut umur

Jumlah Umur D M F DMF-T DMF-T


yang Rata-rata
diperiksa
5 20-24 th 4 6 0 10 10/5 = 2
4 25-29 th 5 2 4 11 11/4 = 2,25
7 30-34 th 7 4 5 16 16/7 = 2,45
5 35-44 th 8 4 6 18 18/5 = 3,60

 Mengetahui peningkatan jumlah karies dalam waktu tertentu


 Mengetahui hubungan antara karies dengan data yang lain.
misalnya : hubungan antara flour dengan karies. Hubungan antara keadaan kebersihan gigi
dan mulut dengan karies.
2. Membuat rencana program
Untuk menentukan jumlah tenaga, alat dan bahan, waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan
program. Misal : dari sejumlah 400 anak yang disurvei, didapatkan angka rata-rata DMF per anak
= 2,5 dengan D = 2, M = 0,25 dan F = 0,25.
Contoh :
DMF perawat = 3,5 dengan D = 1,5, M = 0, F = 0, berarti setiap anak mempuyai karies = 1
Jika untuk 1 tambalan diperlukan waktu 20 menit, untuk 1 anak diperlukan waktu = 1,5 x 20 menit
= 30 menit.
Jika seorang perawat gigi bekerja 5 jam/hari, 1 hari perawat gigi dapat menyelesaikan = 10 anak.
Dalam 1 bulan dapat diselesaikan = 25 x 10 = 250 anak.

6
3. Melaksanakan program evaluasi
Contoh :
Dari angka def-t atau DMF-T yang dikumpulkan dari survey, dapat digunakan untuk mengevaluasi
keberhasilan suatu program, misalny pelaksanaan usaha flouridasi.

7
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Indikator status kesehatan gigi untuk menilai karies, dapat menggunakan indeks def-t,
DMF-T dan indeks pufa. Indeks def-t dan DMF-T merupakan indeks yang digunakan untuk
menilai kerusakan gigi pada seseorang baik berupa gigi berlubang, gigi yang sudah dicabut
maupun yang ditumpat karena karies.

Indeks karies gigi adalah angka yang menunjukkan klinis penyakit karies gigi. Indeks karies
yang bisa dipakai antara lain :

 untuk gigi tetap : Indeks DMF-T


 untuk gigi susu : Indeks def-t
c. Indeks def-t (def-teeth)

d = decay ; Gigi berlubang karena karies dan Karies yang masih bisa ditambal

e = ekstraksi ; Gigi indikasi cabut karena karies

f = filling ; Jumlah gigi yang sudah ditambalan

3.2 Saran

Penulis menyadari banyak terdapat kekeliruan dalam penulisan makalah ini, maka
penulis mengharapkan masukan dan kritikan yang membangun dari dosen dan pembaca
demi kesempurnaan makalah ini untuk kedepannya.