Anda di halaman 1dari 13

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan
hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul Topical Aplikasi Flour.

Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu syarat tugas Prevdent. Dalam penyusunan
makalah ini, kami banyak mendapat pengarahan, petunjuk serta bimbingan dan saran dari beberapa pihak.
Untuk itu kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Dosen Pengampu Nova Herawati,S.KpG,
M.Kes, selaku dosen Prevdent yang telah mendukung terbuatnya makalah ini. Penyusunan makalah ini
salah satunya bertujuan memberi informasi kepada para pembaca mengenai Topical Aplikasi Flour.

Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu,
kritik dan saran ilmiah yang dapat membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Atas semua bantuan yang diberikan, kami ucapkan terima kasih dan teriring doa semoga mendapatkan
balasan dari Allah SWT.

Bukittinggi, September 2017

Penulis

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar...............................................................................................................................1

Daftar Isi........................................................................................................................................2

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang...............................................................................................................3

1.2 Rumusan Masalah..........................................................................................................3

1.3 Tujuan Masalah..............................................................................................................3

BAB II. PEMBAHASAN

2.2 Hubungan antara flour dengan email ............................................................................4

2.2 Macam – Macam Obat – Obatan atau larutan Fluor ......................................................5

2.3 Fluor Sistemik dan Fluor Lokal......................................................................................6

2.4 Mekanisme kariostatika flour.........................................................................................8

2.5 Flour dan plak................................................................................................................9

2.6 Efek Samping Pemberian Fluor......................................................................................10

BAB III. PENUTUP

3.1 Kesimpulan....................................................................................................................12

3.2 Saran ..............................................................................................................................12

DAFTAR PUSTAKA

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tahun 1901 seorang dokter gigi Amerika, Dr. F. McKay, menemukan apa yang dinamakan email
yang berbintik (motlled email) pada gigi kebanyakan pasiennya. Ia menggambarkannya sebagai email
yang ditandai dengan bintik kecil putih, atau bintik kuning atau coklat yang tersebar tidak beraturan di
seluruh permukaan gigi. Atau seluruh gigi terlihat bagai kertas yang berwarna putih mati seperti warna
piring porselen. Baru pada tahun 30-an diketahui penyebab timbulnya bintik diketahui penyebab
timbulnya bintik tersebut adalah kadar flour air minum yang berlebihan atau lebih dari 2,0 bagian atau 2
mg flour per liter.

Pada tahun 1942, Dean dkk menerbitkan hasil penelitiian epidemiologi klasik yang dibuat oleh
US Public Health Service. Penelitian dilakukan terhadap anak-anak usia 12-14 tahun yang tinggal di 20
kota dan dicari hubungan antara karies yang terjadi dengan kandungan fluor pada fluor pada air minum
yang digunakan. Hasilnya menunjukkan bahwa jika kadar fluor dalam air minum kira-kira satu bagian
atau 10 F (i bagian per sejuta = 1 bps) maka gigi penduduk yang berumur panjang di daerah tersebut
mempunyai prevalensi yang terendah, tetapi ada tanda-tanda fluorosis . Kesimpulan hasil penelitian
tersebut adalah bahwa menurunkan karies dengan menambah fluor dengan kadar optimal merupakan
suatu yang mungkin dilakukan.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah hubungan antara flour dengan pencegahan untuk karies gigi?


2. Bagaimana reaksi antara flour dengan email?
3. Apa saja obat-obatan yang dipakai untuk pencegahan karies?
4. Bagaimana penggunaan flour secara local?
5. Apa saja efek samping dari pemberian flour?

1.3 Tujuan
1. Untuk menjelaskan bagaimana hubungan antara flour dengan pencegahan untuk karies gigi
2. Untuk memahami bagaimana reaksi antara flour dengan email
3. Untuk mengetahui apa saja obat-obatan yang dipakai untuk pencegahan karies pada gigi
4. Untuk mengetahhui dan memahami bagaimana penggunaan flour secara local
5. Untuk mengetahui apa saja efek samping dari pemberian flour

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Hubungan antara flour dengan email

a. Struktur Kristal Email

Mineral email terdiri atas kristal-kristal dan mempunyai struktur seperti kisi-kisi khas
hidroksiapatit. Unsur terkecilnya biasanya dinyatakan dengan formula C 10(PO4)6(OH)2. Akan tetapi, email
bukan merupakan Hidroksiapatit murni karena mengandung juga fase non-apatit (kalsium fosfat dan
kalsium karbonat amorf), dan ion atau molekul tambahan diserap ke dalam permukaan kristalnya yan
luas. Perlu dimengerti bahwa email merupakan struktur yang porus sehingga memungkinkan ion
berdifusi. Komposisi kisi-kisi hidroksiapatitnya memang dapat berfariasi di seluruh gigi, yanga kan
memengaruhi bentuk strukturnya. Hal ini dapat terjadi dalam beberapa cara:

 Kisi-kisi kristal mampu mengganti spesies ion lain yang sesuai muatan dan ukurannya. Jadi, kisi-
kisi kalsium dapat diganti oleh ion raduim, strontium, timah dan hidrogen, fosfat dapat digantikan
oleh karbonat, sedangkan gugus hidroksil oleh ion fluor.
 Natrium, magnesium dan karbonat dapat diserap oleh permukaan kristal.
 Suatu kerusakan bisa terdapat pada kisi-kisi internal.
 Sebagian kisi-kisi dapat saja hilang tanpa harus merusak seluruh kristal.

b. Pelekatan Fluor pada Email

Penyerapan fluor dipengaruhi oleh keadaan email misalnya apakah email tersebut sehat atau
tidak atau apakah proses ersa atau karies telah menyebabkan lebih porus karena larutnya substansi
interprismara. Meningkatnya keporiusan email akan memudahkan difusi dan penyerapan fluor. Pada gigi
yang baru erupsi emailnya juga akan menyerap fluor lebih banyak dari pada email yang telah matang.

c. Reaksi Fluor dengan Email

Agar fluor lebih diikat oleh email, fluor tersebut hatsu diletakkan dalam bentuk fluor apatit,
yaitu ion hidroksil digantikan oleh ion fluor. Fluor yang diperoleh dari cairan jaringan selama periode
pembentukan gigi dan dari saliva serta air minum pada periode pda pasca-erupsi diikat email pada betuk
ini. Akan tetapi, karena rendahnya konsentrasi fluor dalam media ini, dibutuhkan waktu lama untuk
memperoleh akumulasi fluor apatit yang cukup pada email. Oleh karena itu, tujuan aplikasi fluor topikal
adalah untuk membentuk fluor apatit dalam jumlah yang cukup dan dalam waktu yang tidak lama. Hal ini
akan sukar dicapai karena ada 2 reaksi berbeda yang diperkirakan akan terjadi antara email dan fluor
dalam larutan dan bergantung pada kadar fluornya. Setelah berkontrak dengan konsentrasi fluor yang
relatif rendah, misalnya di bawah 75 bps hidroksi apatit akan terjadi antara email dan fluor dalam larutan
dan bergantung pada kadar fluornya. Setelah berkontak dengn konsentrasi fluor yang relatif rendah,
misalnya di bawah 75 bps hidroksi apatit akan berubah menjadi fluor apatit.

4
C10(PO4)6(OH)2 + 2 F → C10(PO4)6F2 + 2OH

Dari larutan yang mengandung konsentrasi fluor yang lebih tinggi akan diserap F yang lebih
banyak pual. Tetapi tidak seluruhnya dari fluor ini dibentuk menjadi fluor apatit. Sebagian ion fluor akan
diserap ke dalam permukaan kristal tapi sisanya akan bergabung dengan ion kalsium dari kisi-kisi untuk
membentuk kalsium flouride (CaF2), membebaskan ion fosfat dan sebagian menguraikan kisi-kisi dalam
proses: Ca10(PO4)6(OH)2 + 20 F → 10Ca F2 + 6PO4 + 20H

Karena CaF2 dapat larut sedikit dalam air, kebanyakan zat ini akan larut dan hilang dalam
beberapa jam setelah terapi, tetapi sejumlah tertentu memang dapat diikat oleh email. Selai itu, tidak
mustahil fluor apatit mengendap kembali, jika setelah terapi fluor email ditutup dengan ulasan varnish
fluor yang akan diikat email lebih banyak.

2.2 Macam – Macam Obat – Obatan atau larutan Fluor yang dapat Dipergunakan

larutan atau obat – obatan fluor yang dipakai di bidang Kedokteran gigi untuk pencegahan karies
antara lain :
1. Natrium Fluoride (NaF)

Knutson menyelidiki aplikasi topikal mempergunakan larutan fluor dalam bentuk natrium
Fluoride (NaF). Natrium Fluoride ini digunakan dalam bentuk larutan yang dicampur air dengan
konsentrasi 2% ( 2 mg NaF dalam 100 mg larutan).
Aplikasi topikal dengan NaF 2% ini terdiri atas satu seri perawatan, 4 kali kunjungan dengan
interval atau jangka waktu antara kunjungan 1, 2, 3, dan 4 adalah 2–7 hari. Jenis perawatan ini dianjurkan
untuk anak – anak usia 3, 7, 10, dan 13 tahun. sebab aplikasi topikal dengan cara ini mempunyai efek
profilaksis (pencegahan).
Kebaikan aplikasi topikal dengan larutan NaF ini adalah :
1) rasanya cukup enak, tidak pahit, meskipun ada rasa asin;
2) tidak menimbulkan perawatan ekstrinsik;
3) tidak mengiritasi jaringan gingiva, dan
4) mendidik penderita untuk melaksanakan disiplin kunjungan ke balai pengobatan selama satu
seri kunjungan.
Kekurangan pemakaian NaF adalah
Larutan ini tidak tahan lama, kecuali jika disimpan dalam botol polietilen yang berwarna gelap
sehingga tidak tembus cahaya matahari. Jika larutan ini disimpan dalam botol tembus cahaya, sinar
matahari akan merangsang reaksi kimia dengan ion fluor yang bebas.

2. Acidulated – phosphat-fluoride atau Fl₃PO₄ (APF)

Larutan fluor ini terdiri atas larutan fluor 1,2% di dalam asam Fosfat 0,1 mg. Aplikasi topikal
dengan larutan fluor yang telah diasamkan ini terdiri atas satu seri perawatan, 2 kali kunjungan untuk satu
tahun. Semakin sering aplikasi topikal dilakukan, lebih efektif pula hasil timbulnya pencegahan karies
gigi. topikal aplikasi ini terutama diberikan pada kasus karies rampan.
Keuntungan pemakaian larutan ini adalah larutan stabil jika disimpan dalam botol polietilen,
sedangkan keburukannya, yaitu dapat menimbulakn perawatan ekstrinsik pada gigi geligi.

3. Stanous Fluoride (SnF₂)


Aplikasi topikal dengan larutan SnF₂ dipakai konsentrasi 8 – 10%. Jika digunakan teknik aplikasi
topikal, SnF₂ diberikan sekali setiap 4 – 6 bulan dimulai pada usia 3 tahun. Juga efektif untuk orang
dewasa.

5
Kelebihan pemakaian SnF₂ adalah :
1) larutan ini sangat aktif sehingga akan cepat kehilangan kekuatannya. Oleh karena itu harus
dibuat larutan yang baru untuk setiap kali pemakaian
2) pemakaian pada orang dewasa lebih efektif daripada NaF
3) dapat memberi efek walaupun pada daerah tempat kadar fluoride dalam air minum cukup besar
4) penggunaan Stanous Fluoride 8% sekali per tahun dapat melindungi gigi terhadap karies.
Keburukannya adalah :
1) bau dan rasanya tidak enak
2) dapat menimbulkan pigmentasi pada gigi
3) dapat mengiritasi gingiva
4) mudah teroksidasi sehingga tidak efektif lagi.

2.3 Fluor Sistemik dan Fluor Lokal

Dalam profesi Kedokteran Gigi Pencegahan, Fluor dapat digunakan dalam 2 macam cara, yaitu
penggunaan fluor secara sistemik dan secara lokal.

a. Penggunaan Flour Secara Sistemik

Fluor mencapai permukaan email gigi melalui proses pencernaan di tubuh. Pada pemberian fluor
secara sistemik, fluor masuk ke dalam tubuh melalui mulut, sehingga pemberian fluor sistemik
mempunyai efek topikal pada gigi. Pemberian fluor sistemik mempunyai efek, baik pada gigi yang belum
erupsi maupun gigi yang sudah erupsi. yang termasuk pemberian secara sistemik adalah :

1. Melalui Air Minum (PAM)

Memasukkan fluor ke dalam air minum merupakan cara pemberian flour yang plaing praktis,
mudah dan ekonomis. Pasien tidak perlu berbuat apa – apa dan secara otomatis akan mendapatkan air
minum yang mengandung fluor. Harga fluor yang dimasukkan ke dalam air minum pun murah.
Konsentrasi fluor yang ditambahkan ke dalam air minum harus dapat mencegah karies secara maksimal
tanpa menyebabkan fluorosis yang mengganggu.
Untuk Indonesia konsentrasi fluor yang dimasukkan ke dalam air minum sebaiknya 0,7 ppm (1
ppm = 1 mg fluor dalam 1 liter). dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian fluor melalui
air minum dapat mengurangi prevalensi karies sampai 60%.
Di indonesia masih banyak kesulitan teknis yang harus diatasi untuk memasukkan fluor kedalam
air minum. selain itu, penduduk di Indonesia sebagian besar tidak mendapatkan air minum dari air PAM,
melainkan dari mata air, sungai, sumur dan lain – lain. Oleh karena itu, pemberian fluor melalui PAM
untuk Indonesia kurang efektif.
Bahan yang dipakai adalah NaF, karena mempunyai sifat antara lain: (1) mudah didapat dan
murah harganya; (2) mudah larut dalam air, dan (3) mudah melepaskan ion fluor bebas

2. Mengkonsumsi Tablet Flour

Manfaat terbesar pemberian tablet flour dapat dicapai jika diberikan sebelum erupsi gigi, yaitu 0-
12 tahun. Tbalet flour dapat diberikan pada ibu hamil. Penggunaan tablet flour dapat memenuhi
kebutuhan flour memerlukan kerja sama yang erat antara orang tua, anak, guru dan dokter giginya.

Jumlah tablet flour yang dimakan setiap pasien dapat dilihat pada aturan pemakaian setiap
kemasan misalnya, zyma flour, diminum 1/4 tablet/hari untuk anak dibawah 5 tahun. Unutk anak diatas 5
tahun dan ibu hamil dosis menjadi 1 tablet.hari.

6
3. Obat tetes flour

Flour dalam bentuk obat tetes biasanya dicampur dengan vitamin. Penggunaan flour dalam obat
tetes adalah untuk bayi dan balita. Obat tetes dapat diberikan bersamaan dengan minuman atau makanan
bayi, seperti susu atau bubur bayi. Jumlah flour yang boleh dimakan setiap pasien dapat dilihat sesuai
dengan aturan pemakaian. Misalnya, Citaflour Drps, aturan pakai adalah 3 kali 4 tetes/hari untuk umur
dibawah 3 tahun dan 3 kali/perhari untuk anak diatas 3 tahun.

b. Penggunaan flour secara lokal

Flour yang diberikan secara lokal dapat mencapai permukaan email langsung tanpa melalui
pencernaan. Pemberian flour secara lokal hanya mempunyai efek pada gigi yang sudah erupsi. Contoh
pemberian flour secara lokal:

1. Swa aplikasi atau brush in atau pada sikat gigi.

Bahan yang dipakai adalah pasta flour, misalnya natrium flouride atau stannous flouride. Ada 2
macam pasta flour, yaitu pasta flour dengan konsentrasi flour rendah (0,4%)dapat dipakai untuk setiap
hari dan pasta flour dengan konsentrasi flour tinggi (10%) dapat dipakai 1 atau 2 atau 4 bulan sekali.

Pasien menyikat gigi dengan pasta flour (SnF2), sehingga swa-aplikasi disebut brush in. Pemberian
flour melalui cara ini dilakukan pada murid-murid sekolah. Keuntungannya adalah anak belajar
menggosok gigi dan dapat dilakukan sendiri dirumah.

2. Kumur-kumur

Bahan yang dipakai adalah tablet NaF dilarutkan dalam 10 cc air sehingga didapat Flour dengan
konsentrasi 0,2%. Pasien berkumur-kumur dengan larutan NaF 0,2% selama kurang lebih 3 menit.
Pemberian flour ini mudah dilakukan, singkat dan murah tetapi anak tidak dapat belajar menggosok gigi.

3. Aplikasi topical

Pemberian flour melalui topical aplikasi dapat bermacam-macam bentuk flour, antara lain:

 Pasta flour konsentrasi tinggi (SnF2 10%) dan larutan flour SnF 10. Alat yang dipakai contra
angel dan rubber cup. Pasta flour konsentrasi tinggi SnF2 10% dipoles memakai contra angel dan
ruber cup, setelah selesai, larutan flour SnF2 10 diulaskan memakai cotton pellet.
 Larutan flour SnF2 20. Sebelum dipakai larutan flour SnF2 20% biasanya dicampur dengan
larutan pengencer atau pemanis(serbitol) dengan perbandingan 1:1 sehingga akan didapatkan
larutan flour dengan konsentrasi 10%. Kapas dicelupkan pada larutan flour yang sudah siap
dipakai, lalu dioleskan pada seluruh permukaan gigi yang sudah dikeringkan.
 Flour dalam bentuk gel. Flour dalam bentuk gel pada seluruh permukaan gigi yang sduah
dikeringkan.
 Pemberian flour melalui teknik aplikasi topical biasanya dilakukan dengan tahapan sebagai
berikut:

7
 Minta anak menggosok giginya. Awasi anak yang sedang menggosok dan lanjutkan dengan
flossing jika memungkinkan. Sisa makanan harus dihilangkan sebelum aplikasi flour.
 Isolasi gigi geligi. Gunakan saliva ejektor, gulungan tisu atau kapas atau bantalan penyerap untuk
isolasi gigi yang akan dirawat. Isolasi baik satu kuadran gii atau setangah daerah mulut atau
sepertiga mulut, molar tetap atau molar susu rahang bawah. Isolasi memungkinkan gigi
dikeringkan dan mencegah pengenceran flour oleh saliva. Jumlah gigi yang diisolasi dengan baik
bergantung pada pasien. Umumnya isolasi per kuadran lebih tepat untuk anak kecil, setengah
daerah mulut pada remaja, dan sepertiga mulut untuk anak pada tahap gigi geligi campuran.
 Keringkan gigi yang diisolasi. Keringkan gigi yang diisolasi dengan tiupan udara. Saliva yang
tertinggal pada permukaan gigi akan mengencerkan larutan atau gel.
 Ulaskan larutan,gel atau varnish. Dengan kapa kecil atau cotton pellet yang dijepit dengan pinset,
oleskan larutan, gel atau varnish pada semua permukaan interproximal dari bukal dan lingual.
Jaga agar skapas tidak mengenai gigi. Biarkan gigi tertutup larutan atau gel selama beberapa
menit. Larutan atau gel akan diserap ke gulungan kapas. Aplikasi selama 4 menit merupakan
tindakan standar.
 Setelah 4 menit, bersihkan larutan atau gel dari permukaan gigi yang dapat dijangkau, jangan
berusaha membersihkan gel dari permukaan aproximal. Jumlah larutan atau gel yang diulaskan
pada gigi cukup keci. Jangan sampai anak menelan flour yang tidak perlu. Instruksikan pada anak
untuk meludahkan semua sisa flour tetapi jangan berkumur.
 Isolasi kuadran lain atau sepertiga atau setngah uulut dan ulangi perawatan. Pada akhir perawatan
instruksikan agar pasien tidak makan atau minum selama 30 menit, untuk memperpanjang kontak
flour dengan permukaan aproxsimal gigi.

4. Spot application

Pemberian flour melalui Spot application merupakan perawatan karena diberikan langsung pada
white spot atau daerah yang terkena karies. Bahan yang dipakai adalah larutan flour SnF2 20%. Pada
teknik spot application, cotton pellet diletakkan pada white spot selama 2-3 menit.

Bermacam jenis pajanan fluoride dapat berpengaruh positif pada berbagai tingkatan. Yang
tepenting bagi para praktisi klinis adalah menentukan kombinasi yang paling efektif untuk tiap pasien.
Pilihan ini seharusnya didasarkan pada usia pasien, pengalaman karies, kesehatan umum dan kebersihan
umum.

2.4 Mekanisme kariostatika flour

Flour paling baik untuk mencegah karies jika kadarnya yang rendah secara konstan dipertahankan
dalam rongga mulut. Aksi hambat karies yang paling penting adalah jika diberikan pada gigi pasca erupsi
dan berlangsung didaerah plak dan email. Aksi flour dalam mencegah karies bersifat multifactorial,
efeknya berasal dari kombinasi beberapa mekanisme.

Ada 3 mekanisme utama kariostatika flour menghambat perkembangan karies gigi, antara lain :

Pasca erupsi

1. Mendorong remineralisasi dan menghambat demineralisasi pada lesi awal karies

8
2. Menghambat glikolisis, yaitu proses yang terjadi ketika bakteri kariogenik memetabolisme
karbohidrat yang dapat difermentasikan.

Sebelum erupsi

3. Mengurangi kelarutan email oleh asam dengan cara subsitusi ion flour kedalam krisstal hidroksi
apatit sebelum gigi erupsi
Pada masa sebelum erupsi pajanan dengan flour akan dapat menghambat karies. Flour menyatu
dengan Kristal hidroksiapatit email yang sedang berkembang sehingga dapat mengurangi
kelarutan email oleh asam. Ada argumentasi yang menyebutkan bahwa pemajanan sebelum gigi
erupsi terutama penting untuk mengurangi lesi karies diceruk dan fisura. Namun, argumentasi
tersebut banyak kemudian mendapat bantahan oleh pernyataan yang menyebutkan bahwa efek
flour pra erupsi bersifat minor, kenyataan bahwa aksi flour yang diberikan pasca-erupsi gigi lebih
kuat.

2.5 Flour dan plak

Efek tipikal masuknya flour dengan konsentrasi rendah pada rongga mulut, seperti minum secara
teratur air yang telah diflouridasi atau penggunaan pasta gigi berflouride yang teratur adalah untuk
menghambat demineralisasi dean untuk meningkatkan remineralisasi selama siklus demin-remin yang
berulang –ulang pada tahap awal proses karies.

Flour yang masuk kedalam mulut sebagian akan ditangkap oleh plak gigi, 95% nya akan ditahan
dalam bentuk flour terikat, bukan dalam bentuk ion flour. Plak mengandung 5-10 mg F/kg berat basar
didaerah yang konsentrasi flournya rendah dan 10-20 mg F/kg berat basah diflouridasi. Ikatan flour
tersebut dapat dilepaskan sebagai respon terhadap penurunan PH plak, dan akan diikat dengan cepat oleh
email yang mengalami demineralisasi dibidang oleh email yang utuh. Ketersedian flour dalam plak
sebagai respon terhadap perubahan keasaman menyebabkan email terkristalisasi dengan baik dan lebih
banyak apatit yang tahan asam dipermukaan email selama proses demin-remin. Hal ini berarti bahwa
flour dapat menyatu kedalam Kristal email melaui siklus demin-remin lebih bermakna dibandingkan
penyatuan yang terjadi pra-erupsi.

Flour didalam plak juga menghambat glikolisis, suatu proses ketika karbohidrat yang dapat
difermentasikan dimetabolisme oleh bakteri kariogenik sehingga menghasilkan asam. Flour dari air
minum dan pasta gigi terkonsentrasi didalam plak yang konsentrasinya ditentukan pula oleh konsentrasi
kalsium plak. Plak mengandung konsentrasi flour yang lebih tinggi disbanding saliva. Ada juga beberapa
hasil penelitian bahwa flour dalam plak dapat menghambat produksi polisakarisa ekstraseluler oleh
bakteri kariogenik yang merupakan proses yang dibutuhkan untuk menempelnya pak pada permukaan
licin gigi.

Sebagai tambahan untuk mekanisme tersebut, konsentrasi flour gel yang tinggi kemungkinan
mempunyai aksi bakterisidal yang spesifik terhadap bakteri kariogenik didalam plak. Bentuk gel tersebut
juga meninggalkan suatu lapisan bahan yang bersifat sementara (temporer) yang menyerupai CaF2 pada
permukaan email, sebagai cadangan yang akan dilepaskan ketika PH dipermukaan email menurun.

Pada percobaan dilaboratorium, jika konsentrasi rendah, S. Mutans menjadi kurang bersifat
asidogenik karena beradaptasi dengan lingkungan yang terdapat flour secara menetap (konstan).

9
a. Fluor dan Email

Penelitian epidemiologiis yang paling bermakna mengenai aksi hambat karies oleh fluor adalah
penelitian fluoridasi di Tiel-Culemborg Belanda karies dicatat sebagai; (1). Lesi insipien yang terdapat
pada email dan (2). Lesi dentin. Seperti yang diharapkan, terdapat lebih sedikit lesi dentin di tiel ( yang di
fluoridasi) dari pada culemborg ( yang tidak difluoridasi ) dan setelah 15 tahun proses fluoridasi, tidak
ada perbedaan antara kedua komunitas dalam hal lesi insipiennya di email. Penemuan ini membuktikan
bahwa lebih baik sedikit lesi email yang berkembang menjadi karies dentin pada daerah yang difluoridasi.
Fluor tidak mencegah serangan karies awal, seperti yang diharapkan, jika fluor yang berada pada kristal
email akan meningkatkan daya tahan email terhadap kelarutan oleh asam, tetapi lebih tepat dikatakan
bahwa fluor dirongga mulut menghambat laju deminerilisasi dan meningkatkan laju reminerelasasi.

b. Fluor dan Saliva

Konsentrasi fluor didalam saliva istirahat rendah, walaupun tetap 3 kali lebih tinggi pada daerah
yang difluoridasi dari pada daerah yang tidak difluoridasi. Didaerah yang difluoridasi, kadar saliva fluor
rata rata 0,016 ppm, sementara pada daerah yang tidak difluoridasi hanay 0,006 ppm. Fluktuasi kadar
fluor saliva normal terjadi, dan setelah menggosok gigi dengan pasta berfluoride atau kumur kumur
dengan laruran fluor, kadar fluor didalam saliva dapat meningkat hingga 100 sampai 1000 kali. Kadar
tersebut dengan cepat akan turun menjadi normal, dan agaknya saliva menjadi sumber penting untuk fluor
dalam plak selama masa tersebut. Peran fluor dalam saliva untuk pencegahan karies belum dapat
didefinisikan.

2.6 EFEK SAMPING PEMBERIAN FLUOR

1. Fluorosis Email

Tanda pertama dari berlenihnya pemasukan fluor kedalam tubuh selam periode pembentukan gigi
adalah erupsi gigi dengan email gigi yang berbintik bintik. Walaupun mekanisme yang tepat mengenai
terjadinya fluorosis email belum sepenuhnya diketahui, diduga bahwa fluor yang berlebihan tersebut
memengaruhi fungsi ameloblas yang salah satu akibat nya adalah tidak sempurnanya minerilisasi.
Fluorosis email dapat disebabkan oleh dosis tunggal yang tinggi, dosis berulang kali yang rendah, atau
kontak dengan zat berkadar rendah yang terus menerus.

TINGKAT POTENSI KERACUNAN AKIBAT MENELAN FLUOR

EFEK ASUPAN FLUOR DAN WAKTU

Keracunan akut yang fatal, dewasa Keracunan


akut yang fatal, anak 10 kg 2,5-5,0 gr, dalam 2-4 jam
Keracunan akut yang fatal, anak 3 tahun 320 mg, dalam 2-4 jam
Keracunan akut yang fatal, dewasa, pasien Kira kira 435 mg, dalam waktu 3 hari
dialisis Cairan dialisis 35-50 ppm F, selama 3 jam

10
Keracunan akut yang fatal, dewasa laki laki
17,9 mg F/Kg, selama 24 jam

Mual jangka pendek pada anak SD


93-375 ppm pada air minum, gejala dalam 30
menit

Mual dan muntah pada orang dewasa


Mual ketika menelan lebih kurang 80 mg F
selama beberapa jam.

Fluorosis skeletal yang parah


10-25 mg F setiap hari, selama 10-20 tahun

Osteosklerosis, perubahan radiografis pada


tulang manusia 8-20 mg F setiap hari, selama 10-20 tahun
Dental fluorosis <0,1 mg F/kg BB/ hari selama perkembangan
gigi ( misalnya pada 8 tahun pertama ).
Kira kira 50 mg F/kg BB
Keracunan akut yang fatal pada hewan 40-60 ppm F di dalam makanan harian selama
Gangguan pada reproduksi, tiroid, beberapa tahun.
Turunnya berat badan dan pincang pada ternak.

2. Toksisitas Fluor

Jumlah fluor yang dapat menimbulkan simtom awal keracunan yang akut dimasa lalu
diperkirakan selalu rendah dan berdasarkan kasus kasus yang baru baru ini diperoleh, maka dosis letal
diperkirakan sekitar 1 mgF/kg BB. Gejala keracunan akut minor adlah produksi saliva yang banyak,
nausea, muntah dan diare. Gejala biasanya timbul 1 jam setelah fluor masuk kedalam tubuh.

11
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Hubungan antara flour dengan email, yaitu : 1) Struktur Kristal Email, Mineral email terdiri atas
kristal-kristal dan mempunyai struktur seperti kisi-kisi khas hidroksiapatit.; 2) Pelekatan Fluor pada Email
; 3) Reaksi Fluor dengan Email. Larutan atau obat – obatan fluor yang dipakai di bidang Kedokteran gigi
untuk pencegahan karies antara lain : Natrium Fluoride (NaF), Acidulated – phosphat-fluoride atau
Fl₃PO₄ (APF) dan Stanous Fluoride (SnF₂). Dalam profesi Kedokteran Gigi Pencegahan, Fluor dapat
digunakan dalam 2 macam cara, yaitu penggunaan fluor secara sistemik dan secara lokal. Flour secara
sistemik contonya : Melalui Air Minum (PAM), Mengkonsumsi Tablet Flour dan Obat tetes flour,
sedangkan Penggunaan flour secara lokal, contohnya : Swa aplikasi atau brush in atau pada sikat gigi,
Kumur-kumur, Aplikasi topical dan Spot application. Adapun efek samping pemberian Fluor antara
lain : Fluorosis Email dan Toksisitas Fluor.

3.2 Saran

Penulis menyadari banyak terdapat kekeliruan dalam penulisan makalah ini, maka penulis
mengharapkan masukan dan kritikan yang membangun dari dosen dan pembaca demi kesempurnaan
makalah ini untuk kedepannya.

12
DAFTAR PUSTAKA

Hiranya Putri Megananda 2015. Ilmu penyakit jaringan keras dan jaringan pendukung gigi. EGC : Jakarta

13