Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

OLEH :

RONNY ANDRIAN GUPTA


NIM. PO7120319061
PROFESI NERS

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
PRODI DIV KEPERAWATAN
TAHUN 2020
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

A. PENGERTIAN KELUARGA
Berikut akan dikemukakan definisi keluarga menurut beberapa ahli (Sudiharto,
2007) :
1. Bailon dan Maglaya (1978) mendefinisikan sebagai berikut :
“Keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam satu rumah
tangga karena adanya hubungan darah, perkawinan atau adopsi. Mereka
saling berinteraksi satu dengan yang lainnya, mempunyai peran masing –
masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya”
2. Menurut Departemen Kesehatan (1988) mendefinisikan sebagai berikut:
“Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala
keluarga serta beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di satu atap
dalam keadaan saling bergantungan”.
3. Menurut Friedman (1998) mendefinisikan sebagai berikut :
“Keluarga adalah dua atau lebih individu yang tergabung karena ikatan
tertentu untuk saling membagi pengalaman dan melakukan pendekatan
emosional, serta mengidentifikasi diri mereka sebagai bagian dari
keluarga”
4. Menurut BKKBN (1999) mendefinisikan sebagai berikut :
“Keluarga adalah dua orang atau lebih yang dibentuk berdasarkan ikatan
perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan
materil yang layak, bertakwa kepada Tuhan, memiliki hubungan yang
selaras dan seimbang antara anggota keluarga dan masyarakat serta
lingkungannya.
B. STRUKTUR KELUARGA
Menurut Setyawan, 2012 struktur sebuah keluarga memberikan gambaran
tentang bagaimana suatu keluarga itu melaksanakan fungsinya dalam
masyarakat. Adapun macam-macam Struktur Keluarga diantaranya adalah :
1. Patrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara
sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun
melalui garis ayah.
2. Matrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara se-
darah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui
garis ibu.
3. Matrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga
sedarah istri.
4. Patrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga
sedarah suami.
5. Keluarga kawinan adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi
pembi-naan keluarga dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian
keluarga karena adanya hubungan dengan suami atau istri
Ciri-ciri struktur keluarga, yaitu :
1. Terorganisasi
Saling berhubungan, saling ketergantungan antara aggota keluarga.
2. Ada Keterbatasan
Setiap anggota keluarga memiliki kebebasan tetapi mereka juga
mempu-nyai keterbatasan dalam menjalankan fungsi dan tugasnya
masing-masing.
3. Ada Perbedaan dan Kekhususan
Setiap anggota keluarga mempunyai peranan dan fungsinya masing-
masing.
Menurut Friedman (1998), struktur keluarga terdiri atas :
1. Pola dan Proses Komunikasi
Komunikasi dalam keluarga dikatakan berfungsi apabila dilakukan
secara jujur, terbuka, melibatkan emosi, dan ada hierarki kekuatan.
Komunikasi dalam keluarga ada yang berfungsi dan ada yang tidak,
hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor yang ada dalam
komponen komunikasi seperti : sender, chanel-media, message,
environtment, dan reciever. Komunikasi dalam keluarga yang
berfungsi adalah:
a. Karakteristik pengirim yang berfungsi, yaitu yakin ketika
menyampaikan pendapat, jelas dan berkualitas, meminta feedback,
mene-rima feedback.
b. Pengirim yang tidak berfungsi.
1) Lebih menonjolkan asumsi (perkiraan tanpa menggunakan
dasar/data yang obyektif).
2) Ekspresi yang tidak jelas (contoh : marah yang tidak diikuti
ekspresi wajahnya).
3) Jugmental exspressions, yaitu ucapan yang memutuskan/
menyatakan sesuatu yang tidak didasari pertimbangan yang
matang. Contoh ucapan salah benar, baik/buruk, normal/ tidak
normal, misal : ”kamu ini bandel…”, ”kamu harus…”
4) Tidak mampu mengemukakan kebutuhan.
5) Komunikasi yang tidak sesuai.
c. Karakteristik penerima yang berfungsi
1) Mendengar
2) Feedback (klarifikasi, menghubungkan dengan pengala-man)
3) Memvalidasi
d. Penerima yang tidak berfungsi
1) Tidak bisa mendengar dengan jelas/gagal mendengar.
2) Diskualifikasi, contoh : ”iya dech…..tapi….”
3) Offensive (menyerang bersifat negatif).
4) Kurang mengeksplorasi (miskomunikasi).
5) Kurang memvalidasi.
e. Pola komunikasi di dalam keluarga yang berfungsi
1) Menggunakan emosional : marah, tersinggung, sedih, gembira.
2) Komunikasi terbuka dan jujur.
3) Hirarki kekuatan dan peraturan keluarga.
4) Konflik keluarga dan penyelesaiannya.
f. Pola komunikasi di dalam keluarga yang tidak berfungsi
1) Fokus pembicaraan hanya pada sesorang (tertentu).
2) Semua menyetujui (total agreement) tanpa adanya diskusi.
3) Kurang empati.
4) Selalu mengulang isu dan pendapat sendiri.
5) Tidak mampu memfokuskan pada satu isu.
6) Komunikasi tertutup.
7) Bersifat negatif.
8) Mengembangkan gosip.
2. Struktur Peran
Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan sesuai dengan
posisi sosial yang diberikan. Yang dimaksud dengan posisi atau status
adalah posisi individu dalam masyarakat, misalnya status sebagai
istri/suami atau anak.
3. Struktur Kekuatan dan Struktur Nilai
Kekuatan merupakan kemampuan (potensi dan aktual) dari
individu untuk mengontrol, mempengaruhi, atau mengubah perilaku
orang lain kea rah positif. Ada beberapa macam tipe stuktur kekuatan,
yaitu :
a. Legitimate power (power)
b. Referent power (ditiru)
c. Reward power (hadiah)
d. Coercive power (paksa)
e. Affective power
f. Expert power (keahlian)
4. Struktur Norma dan Nilai
Nilai adalah sistem ide-ide, sikap keyakinan dan mengikat anggota
keluarga dalam budaya tertentu. Norma adalah pola perilaku yang
diterima pada lingkungan sosial tertentu, lingkungan keluarga, dan
lingkungan sekitar masyarakat keluarga.
C. TIPE KELUARGA
Menurut Jhonson L dan Lenny R (2010), tipe – tipe keluarga adalah sebagai
berikut :
1. Keluarga Tradisional
a. Keluarga Inti (nuclear family), yaitu keluarga yang terdiri dari
suami, istri, dan anak kandung atau anak angkat.
b. Dyad family , yaitu rumah tangga yang terdiri dari suami istri tanpa
anak yang hidup dalam satu rumah
c. Keluarga usila, yaitu rumah tangga yang terdiri dari suami istri
yang berusia lanjut dengan anak yang sudah memisahkan diri
d. The Childless family , yaitu keluarga tanpa anak karena terlambt
menikah dan untuk mendapatkan anak terlambat waktunya, yang
disebabkan karena mengejar karir/pendidikan yang terjadi pada
wanita
e. Keluarga besar (extended family), yaitu keluarga inti ditambah
dengan keluarga lain yang mempunyai hubungan darah, misalnya
kakek, nenek, paman, dan bibi.
f. Single parent, yaitu rumah tangga yang terdiri dari satu orang tua
dengan anak kandung atau anak angkat, yang disebabkan karena
perceraian atau kematian.
g. Commuter Family, yaitu kedua orang tua bekerja di kota yang
berbeda, tetapi salah satu kota tersebut menjadi tempat tinggal dan
orang tua yang bekerja di luar kota bisa berkumpul pada anggota
keluarga pada akhir pekan
h. Multygenerational family, keluarga dengan beberapa generasi atau
kelompok umur yang tinggal dalam satu rumah
i. Kin-network family, yaitu beberapa keluarga inti yang tinggal
dalam satu rumah atau saling berdekatan dan saling menggunakan
barang barang dengan pelayanan yang sama
j. Blended family, yaitu keluarga yang dibentuk oleh duda atau janda
yang menikah kembali dan membesarkan anak dari perkawinan
sebelumnya
k. Single adult, yaitu rumah tangga yang hanya terdiri dari seorang
dewasa saja yang hidup sendiri karena perceraian
2. Keluarga Non Tradisional
 Commune family, yaitu lebih dari satu keluarga tanpa pertalian
darah hidup serumah.
 The unmarried teenage, Orang tua (ayah/ ibu) yang tidak ada
ikatan perkawinan dan anak hidup bersama dalam satu rumah.
 Gay and lesbian familys, yaitu dua individu yang sejenis kelamin
hidup bersama dalam satu rumah tangga.
 The stepparent family, yaitu keluarga dengan orang tua tiri
 The nonmarital heterosexual cohabiting family, keluarga yang
hidup bersama berganti ganti pasangan tanpa pernikahan
 Cohabiting couple, orang dewasa diluar ikatan perkawinan yang
tinggal bersama
 Group marriage family, beberapa orang dewasa yang
menggunakan alat rumah tangga bersama yang merasa telah saling
menikah satu dengan yang lainnya, berbagi sesuatu termasuk
sexual
 Group network family, keluarga inti yang dibatasi oleh aturan

Menurut Maclin, 1988 (dalam Achjar, 2010) pembagian tipe keluarga, yaitu :
1. Keluarga Tradisional
a. Keluarga inti adalah keluarga yang terdiri dari suami, istri dan
anak-anak yang hidup dalam rumah tangga yang sama.
b. Keluarga dengan orang tua tunggal yaitu keluarga yang hanya
dengan satu orang yang mengepalai akibat dari perceraian, pisah,
atau ditinggalkan.
c. Pasangan inti hanya terdiri dari suami dan istri saja, tanpa anak
atau tidak ada anak yang tinggal bersama mereka.
d. Bujang dewasa yang tinggal sendiri.
e. Pasangan usia pertengahan atau lansia, suami sebagai pencari
nafkah, istri tinggal di rumah dengan anak sudah kawin atau
bekerja.
f. Jaringan keluarga besar, terdiri dari dua keluarga inti atau lebih
atau anggota yang tidak menikah hidup berdekatan dalam daerah
geografis.
2. Keluarga Non Tradisional
a. Keluarga dengan orang tua yang mempunyai anak tetapi tidak
menikah (biasanya terdiri dari ibu dan anaknya).
b. Pasangan suami istri yang tidak menikah dan telah mempunyai
anak.
c. Keluarga gay/lesbian adalah pasangan yang berjenis kelamin sama
hidup bersama sebagai pasangan yang menikah.
d. Keluarga kemuni adalah rumah tangga yang terdiri dari lebih satu
pasangan monogami dengan anak-anak, secara bersama
menggunakan fasilitas, sumber dan mempunyai pengalaman yang
sama.

D. FUNGSI KELUARGA
Fungsi Keluarga menurut Undang-undang N0. 10 Tahun 1992 jo PP No.
21 Tahun 1994 (dalam Setyawan, 2012). Secara umum fungsi keluarga adalah
sebagai berikut :
1. FUNGSI KEAGAMAAN
a. Membina norma ajaran-ajaran agama sebagai dasar dan tujuan
hidup seluruh anggota keluarga.
b. Menerjemahkan agama dalam tingkah laku hidup sehari-hari
kepada seluruh anggota keluarga.
c. Memberikan contoh konkrit dalam hidup sehari-hari dalam
pengamalan ajaran agama. Melengkapi dan menambah proses
kegiatan belajar anak tentang keagamaan yang kurang
diperolehnya disekolah atau dimasyarakat.
d. Membina rasa, sikap dan praktek kehidupan keluarga beragama
sebagai pondasi menuju keluarga kecil bahagia sejahtera.
2. FUNGSI BUDAYA
a. Membina tugas-tugas keluarga sebagai lembaga untuk meneruskan
norma-norma dan budaya masyarakat dan bangsa yang ingin
dipertahankan.
b. Membina tugas-tugas keluarga sebagai lembaga untuk menyaring
norma dan budaya asing yang tidak sesuai.
c. Membina tugas-tugas keluarga sebagai lembaga yang anggotanya
mencari pemecahan masalah dari berbagai pengaruh negative
globalisasi dunia.
d. Membina tugas-tugas keluarga sebagai lembaga yang anggotanya
dapat berperilaku baik sesuai dengan norma bangsa Indonesia
dalam menghadapi tantangan globalisasi.
e. Membina budaya keluarga yang sesuai, selaras, dan seimbang
dengan budaya masyarakat atau bangsa untuk menjunjung
terwujudnya norma keluarga kecil bahagia sejahtera.
3. FUNGSI CINTA KASIH
a. Menumbuhkembangkan potensi kasih saying yang telah ada antar
anggota keluarga kedalam symbol-simbol nyata secara optimal dan
terus menerus.
b. Membina sikap dan tingkah laku saling menyayangi antar anggota
keluarga.
c. Membina rasa, sikap dan praktik hidup keluarga yang mampu
memberikan dan menerima kasih sayang sebagai pola hidup ideal
menuju keluarga kecil bahagia sejahtera.
4. FUNGSI PERLINDUNGAN
a. Memenuhi kebutuhan rasa aman anggota keluarga baik dari rasa
tidak aman yang timbul dari dalam maupun dari luar keluarga.
b. Membina keamanan keluarga baik fisik maupun psikis dari
berbagai bentuk ancaman dan tantangan yang datang dari luar.
c. Membina dan menjadikan stabilitas dan keamanan keluarga
sebagai modal menuju keluarga kecil bahagia sejahtera.
5. FUNGSI REPRODUKSI
a. Membina kehidupan keluarga sebagai wahana pendidikan
reproduksi sehat, baik bagi anggota keluarga maupun bagi keluarga
disekitarnya.
b. Memberikan contoh pengalaman kaidah-kaidah pembentukan
keluarga dalam hal usia, pendewasaan fisik maupun mental.
c. Mengamalkan kaidah-kaidah reproduksi sehat, baik yang berkaitan
dengan waktu melahirkan, jarak antara 2 anak, dan jumlah ideal
anak yang diinginkan dalam keluarga.
d. Mengembangkan kehidupan reproduksi sehat sebagai odal yang
kondusif menuju keluarga kecil bahagia sejahtera.
6. FUNGSI SOSIALISASI
a. Menyadari, merencanakan dan menciptakan lingkungan keluarga
sebagai wahana pendidikan dan sosialisasi anak yang pertama dan
utama.
b. Menyadari, merencanakan dan menciptakan kehidupan keluarga
sebagai tempat bagi anak untuk dapat mencari pemecahan atau
solusi dari berbagai konflik dan permasalahan yang dijumpainya
baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
c. Membina proses pendidikan dan sosialisasi anak tentang hal-hal
yang diperlukan untuk meningkatkan kematangan dan kedewasaan
baik fisik maupun mental yang tidak/kurang diberikan oleh
lingkungan sekolah ataupun masyarakat.
7. FUNGSI EKONOMI
a. Melakukan kegiatan ekonomi baik diluar maupun didalam
lingkungan keluarga dalam rangka menopang kelangsungan dan
perkembangan kehidupan keluarga.
b. Mengelola ekonomi keluarga sehingga terjadi keserasian,
keselarasan dan keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran
keluarga.
c. Mengatur waktu sehingga kegiatan orang tua diluar rumah dan
perhatiannya terhadap anggota keluarga berjalan secara serasi,
selaras dan seimbang.
d. Membina kegiatan dan hasil ekonomi keluarga sebagai modal
untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
8. FUNGSI PELESTARIAN LINGKUNGAN
a. Membina kesadaran, sikap dan praktik pelestarian lingkungan
internal keluarga.
b. Membina kesadaran, sikap dan praktik pelestarian lingkungan
diluar atau disekitar keluarga.
c. Membina kesadaran, sikap dan praktik pelestarian lingkungan yang
serasi, selaras dan seimbang antara lingkungan keluarga dengan
lingkungan hidup masyarakat di sekitarnya.
d. Membina kesadaran, sikap dan praktik pelestarian lingkungan
hidup sebagai pola hidup keluarga menuju keluarga kecil bahagia
sejahtera.
Fungsi keluarga menurut Friedman (1998) dalam Setiawati dan Darmawan
(2005), Yaitu adalah antara lain:
1. Fungsi Afektif
Fungsi afektif merupakan fungsi keluarga dalam memenuhi kebutuhan
pemeliharaan kepribadian anggota keluarga.
2. Fungsi Sosialisasi
Fungsi sosialisasi bercermin dalam melakukan pembinaan sosialisasi
pada anak, membentuk nilai dan Norma yang diyakini anak,
memberikan batasan perilaku yang boleh dan tidak boleh pada anak,
meneruskan nilai-nilai budaya anak.
3. Fungsi Perawatan Kesehatan
Fungsi perawatan kesehatan keluarga merupakan fungsi keluarga
dalam melindungi keamanan dan kesehatan seluruh anggota keluarga
serta menjamin pemenuhan kebutuhan perkembangan fisik, mental,
dan spiritual, dengan cara memelihara dan merawat anggota keluarga
serta mengenali kondisi sakit tiap anggota keluarga.
4. Fungsi Ekonomi
Fungsi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan keluarga seperti sandang,
pangan, dan papan, dan kebutuhan lainnya melalui keefektifan sumber
daya keluarga.
5. Fungsi Biologis
Fungsi biologis bukan hanya ditujukan untuk meneruskn keturunan
tetapi untuk memelihara dan membesarkan anak untuk kelanjutan
generasi selanjutnya.
6. Fungsi Psikologis
Fungsi psikologis terlihat bagaimana keluarga memberikan kasih
sayang dan rasa aman/memberikan perhatian diantara anggota
keluarga, membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga dan
memberikan identitas keluarga.
7. Fungsi Pendidikan
Fungsi pendidikan diberikan keluarga dalam rangka memberikan
penge-tahuan, keterampilan membentuk perilaku anak,
mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa mendidik anak sesuai
dengan tingkatan perkembangannya.

E. 5 TUGAS KELUARGA
Menurut Satyawan, 2012 tugas keluarga merupakan pengumpulan data
yang berkaitan dengan ketidakmampuan keluarga dalam menghadapi masalah
kesehatan. Asuhan keperawatan keluarga mencantumkan lima tugas keluarga
sebagai paparan etiologi/ penyebab masalah dan biasanya dikaji pada saat
penjajagan tahap II bila ditemui data malaadapti pada keluarga. Lima tugas
keluarga yang diaksud adalah:
1. Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah, termasuk bagaimana
persepsi keluarga terhadap tingkat keparahan penyakit, pengertian, tanda
dan gejala, factor penyebab dan persepsi keluarga terhadap masalah yang
dialami keluarga.
2. Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan, termasuk sejauh mana
keluarga mengerti mengenai sifat dan luasnya masalah, bagaimana
masalah dirasakan keluarga, bagaimana keluarga menanggapi masalah
yang dihadapi, adakah rasa takut terhadap akibat atau adakah sifat
negative dari keluarga terhadap masalah kesehatan, bagaimana system
pengambilan keputusan yag dilakukan keluarga terhadap anggota keluarga
yang sakit.
3. Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit, seperti
bagaimana keluarga mengetahui keadaan sakitnya, sifat, dan
perkembangan perawatan yang diperlukan, sumber-sumber yang ada
dalam keluarga serta sikap keluarga terhadap anggota keluarga yang sakit.
4. Ketidakmampuan keluarga memodifikasi lingkungan seperti pentingnya
hygiene sanitasi bagi keluarga, upaya pencegahan penyakit yang dilakukan
keluarga. Upaya pemeliharaan lingkungan yang dilakukan keluarga,
kekompakan anggota keluarga dalam menata lingkungan dalam dan
lingkungan luar rumah yang berdampak terhadap kesehatan keluarga.
5. Ketidakmampuan keluarga memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan,
seperti kepercayaan keluarga terhadap petugas kesehatan dan fasilitas
pelayanan kesehatan, keberadaan fasilitas kesehatan yang ada, keuntungan
keluarga terhadap penggunaan fasilitas kesehatan, apakah pelayanan
kesehatan terjangkau oleh keluarga, adakah pengalaman yang kurang baik
yang dipersepsikan keluarga

F. TAHAP DAN TUGAS PERKEMBANGAN KELUARGA


Tahap perkembangan keluarga (Harmoko, 2012):
1. Tahap I ( keluarga pasangan baru/ beginning family) Keluarga baru di
mulai pada saat masing-masing individu, yaitu suami istri membentuk
keluarga melalui perkawinan yang sah dan meninggalkan keluarga
masing-masing, secara psikologis keluarga tersebut sudah memiliki
keluarga baru.
2. Tahap II ( keluarga dengan kelahiran anak pertama/ child bearing family)
Tahap II mulai dengan kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai bayi
berusia 30 bulan. Transisi ke masa menjadi orangtua adlah salah satu
kunci dalam siklus kehidupan keluarga. Dengan kelahiran anak pertama,
keluarga menjadi kelompok trio, membuat sistem yang permanen pada
keluarga untuk pertama kalinya (yaitu, sistem berlangsung tanpa
memerhatikan hasil akhir dari pernikahan).
3. Tahap III ( keluarga dengan anak prasekolah/ families with prescholl)
Tahap III siklus kehidupan keluarga dimulai ketika anak pertama berusia 2
½ tahun dan diakhiri ketika anak berusia 5 tahun. Keluarga saat ini dapat
terdiri dari tiga sampai lima orang, dengan posisi pasangan suami-ayah,
istri-ibu, putra-saudara laki-laki, dan putri-saudara perempuan. Keluarga
menjadi lebih kompleks dan berbeda
4. Tahap IV ( keluarga dengan anak sekolah/ families with children) Tahap
ini dimulai pada saat anak tertua memasuki sekolah pada usia 6 tahun dan
berakhir pada usia 12 tahun. Pada fase ini umumnya keluarga mencapai
jumlah anggota keluarga maksimal, sehingga keluarga sangat sibuk. Selain
aktifitas sekolah, masing-masing anak memiliki aktifitas di sekolah,
masing-masing akan memiliki aktifitas dan minat sendiri. Demikian pula
orang tua yang mempunyai aktifitas berbeda dengan anak.
5. Tahap V ( keluarga dengan anak remaja/ families with teenagers) Ketika
anak pertama berusia 13 tahun, tahap V dari siklus atau perjalanan
kehidupan keluarga dimulai. Biasanya tahap ini berlangsung selama enam
atau tujuh tahun, walaupun dapat lebih singkat jika anak meningglakan
keluarga lebih awal atau lebih lama jika anak tetap tinggal di rumah pada
usia lebih dari 19 atau 20 tahun. Anak lainnya yang tinggal di rumah
biasanya anak usia sekolah. Tujuan utama keluarga pada tahap anak
remaja adalah melonggrakan kebebasan remaja yang lebih besar dalam
mempersiapkan diri menjadi seorang dewasa muda.
6. Tahap VI ( keluarga dengan anak dewasa/ launching center families)
Tahap ini dimulai pada saat anak terakhir meninggalkan rumah. Lama
tahap ini bergantung pada jumlah anak dalam keluarga atau jika anak
yang belum berkeluarga dan tetap tinggal bersama orangtua. Tujuan utama
pada tahap ini adalah mengorganisasi kembali keluarga untuk tetap
berperan dalam melepaskan anaknya untuk hidup sendiri.
7. Tahap VII ( keluarga usia pertengahan/ middle age families) Tahapan ini
dimulai pada saat anak yang terakhir meningglakan rumah dan berakhir
saat pensiun atau salah satu pasangan meninggal. Beberapa pasangan pada
fase ini akan dirasakan sulit karena masalah usia lanjut, perpisahan dengan
anak, dan perasaan gagal sebagai orang tua. Pada tahap ini semua anak
meninggallkan rumah, maka pasangan berfokus untuk mempertahankan
kesehatan dengan berbagai aktifitas.
8. Tahap VIII ( keluarga usia lanjut) Tahap terakhir siklus kehidupan
keluarga dimulai dengan pensiun salah satu atau kedua pasangan, dan
berakhir dengan kematian pasangan lainnya.

G. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Pengkajian adalah sekumpulan tindakan yang digunakan oleh perawat untuk
mengukur keadaan klien (keluarga) dengan menangani norma-norma kesehatan
keluarga maupun sosial, yang merupakan system terintegrasi dan kesanggupan
keluarga untuk mengatasinya. (Effendy, 1998)
Pengumpulan data dalam pengkajian dilakukan dengan wawancara, observasi,
dan pemeriksaan fisik dan studi dokumentasi. Pengkajian asuhan keperawatan
keluarga menurut teori/model Family Centre Nursing Friedman (1988), meliputi 7
komponen pengkajian yaitu :
1. Data Umum
a. Nama kepala keluarga
b. Alamat
c. Telepon
d. Pekerjaan kepala keluarga
e. Pendidikan kepala keluarga
f. Komposisi anggota keluarga
g. Genogram
h. Tipe Keluarga
Menjelaskan mengenai jenis tipe keluarga beserta kendala atau
masalah – masalah yang terjadi dengan jenis tipe keluarga tersebut
i. Suku Bangsa
Mengkaji asal suku bangsa keluarga tersebut serta mengidentifikasi
budaya suku bangsa tersebut terkait dengan kesehatan
j. Agama
Mengkaji agama yang dianut oleh keluarga serta kepercayaan yang
dapat mempengaruhi kesehatan
k. Status Sosial Ekonomi Keluarga
Status sosial ekonomi keluarga ditentukan oleh pendapatan baik
dari kepala keluarga maupun anggota keluarga lainnya. Selain itu
status social ekonomi ditentukan pula oleh kebutuhan – kebutuhan
yang dikeluarkan oleh keluarga serta barang – barang yang dimiliki
oleh keluarga, dan siapa yang mengatur keuangan.
l. Aktivitas Rekreasi Keluarga
Rekreasi keluarga tidak hanya dilihat kapan saja keluarga pergi
bersama – sama untuk mengunjungi tempat rekreasi tertentu, namun
dengan menonton televisi dan mendengarkan radio juga merupakan
aktivitas rekreasi
2. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga
a. Tahap perkembangan keluarga saat ini
Tahap perkembangan keluarga ditentukan dengan anak tertua dari
keluarga tersebut
b. Tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
Menjelaskan mengenai tugas perkembangan yang belum terpenuhi
oleh keluarga serta kendala mengapa tugas perkembangan tersebut
belum terpenuhi
c. Riwayat keluarga inti
Menjelaskan mengenai riwayat kesehatan pada keluarga inti, yang
meliputi riwayat penyakit keturunan, riwayat kesehatan masing –
masing anggota keluarga, sumber pelayanan kesehatan yang biasa
digunakan keluarga, serta pengalaman – pengalaman terhadap
pelayanan kesehatan.
d. Riwayat keluarga sebelumnya
Menjelaskan mengenai riwayat kesehatan pada keluarga dari pihak
suami dan istri.
3. Pengkajian Lingkungan
a. Karakteristik rumah
Karakteristik rumah diidentifiksai dengan melihat luas rumah, tipe
rumah, jumlah ruangan, jumlah jendela, pemanfaatan ruangan,
peletakan perabotan rumah tangga, jenis septic tank, jarak septic tank
dengan sumber air minum yang digunakan, serta denah rumah
b. Karakteristik tetangga dan komunitas tempat tinggal
Menjelaskan mengenai karakteristik dari tetangga dan komunitas
setempat, yang meliputi kebiasaan, lingkungan fisik,
aturan/kesepakatan penduduk setempat, budaya setempat yang
mempengaruhi kesehatan
c. Mobilitas geografis keluarga
Mobilitas geografis keluarga ditentukan dengan kebiasaan keluarga
berpindah tempat
d. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Menjelaskan mengenai waktu digunakannya keluarga untuk
berkumpul serta perkumpulan keluarga yang ada sejauh mana
interaksinya dengan masyarakat
e. System pendukung keluarga
Yang termasuk pada sistem pendukung keluarga adalah jumlah
anggota keluarga yang sehat, fasilitas – fasilitas yang dimiliki keluarga
untuk menunjang kesehatan. Fasilitas mencakup fasilitas fisik, fasilitas
psikologi atau dukungan dari anggota keluarga, dan fasilitas sosial atau
dukungan dari masyarakat setempat.
4. Struktur keluarga
a. Pola komunikasi keluarga
Menjelaskan mengenai cara berkomunikasi antara anggota keluarga
b. Struktur kekuatan keluarga
Kemampuan anggota keluarga mengendalikan dan mempengaruhi
orang lain untuk merubah perilaku
c. Struktur peran (formal dan informal)
Menjelaskan peran dari masing – masing anggota keluarga baik secara
formal maupun informal
d. Nilai dan norma keluarga
Menjelaskan mengenai nilai dan norma yang dianut oleh keluarga,
yang berhubungan dengan kesehatan.
5. Fungsi keluarga
a. Fungsi afektif
Hal yang perlu dikaji adalah gambaran diri anggota keluarga,
perasaan memiliki dan dimiliki dalam keluarga, dukungan keluarga
terhadap anggota keluarga lainnya, bagaimana kehangatan tercipta
pada anggota keluarga dan bagaimana keluarga mengembangkan sikap
saling menghargai.
b. Fungsi sosialisasi
Hal yang perlu dikaji adalah bagaimana interaksi atau hubungan
dalam keluarga, sejauh mana anggota keluarga belajar disiplin, norma,
budaya, dan perilaku.
c. Fungsi perawatan kesehatan
Menjelaskan sejauh mana keluarga menyediakan makanan,
pakaian, perlindungan, serta merawat anggota keluarga yang sakit,
sejauh mana pengetahuan keluarga mengenai sehat sakit.
d. Fungsi reproduksi
Hal yang perlu dikaji mengenai fungsi reproduksi keluarga adalah
1) Berapa jumlah anak
2) Bagaimana keluarga merencanakan jumlah anak
3) Metode apa yang digunakan keluarga dalam upaya mengendalikan
jumlah anggota keluarga
e. Fungsi ekonomi
Hal yang perlu dikaji adalah
1) Sejauh mana keluarga memenuhi kebutuhan sandang, papan,
maupun pangan
2) Sejauh mana keluarga memanfaatkan sumber yang ada di dalam
masyarakat dalam upaya peningkatan status kesehatan keluarga
6. Tugas perawatan keluarga
a. Mengenal masalah keluarga
b. Mengambil keputusan
c. Merawat anggota keluarga yang sakit
d. Memelihara lingkungan
e. Menggunakan fasilitas / pelayanan kesehatan
7. Stress dan koping keluarga
a. Stressor jangka pendek dan panjang
1) Stressor jangka pendek yaitu stressor yang dialami keluarga yang
memerlukan penyelesaian dalam waktu kurang lebih 6 bulan
2) Stressor jangka panjang yaitu stressor yang dialami keluarga yang
memerlukan penyelesaian dalam waktu lebih dari 6 bulan
b. Kemampuan keluarga berespon terhadap stressor
c. Strategi koping yang digunakan Strategi yang digunakan keluarga bila
menghadapi permasalahan
d. Strategi adaptasi disfungsional
8. Pemeriksaan fisik
a. Tanggal pemeriksaan fisik dilakukan
b. Pemeriksaan kesehatan dilakukan pada seluruh anggota keluarga
c. Aspek pemeriksaan fisik mulai dari vital sign, rambut, kepala, mata,
mulut, THT, leher, thoraks, abdomen, ekstremitas atas dan bawah,
system genetalia
d. Kesimpulan dari hasil pemeriksaan fisik
9. Harapan keluarga
a. Terhadap masalah kesehatan keluarga
b. Terhadap petugas kesehatan yang ada
H. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang menggunakan dan
menggambarkan respons manusia. Dimana keadaan sehat atau perubahan
pola interaksi potensial/aktual dari individu atau kelompok dimana perawat dapat
menyusun intervensi-intervensi definitif untuk mempertahankan status kesehatan
atau untuk mencegah perubahan (Carpenito, 2008). Untuk menegakkan diagnosa
dilakukan 2 hal, yaitu :
1. Analisa Data
Mengelompokkan data subjektif dan objektif, kemudian dibandingkan dengan
standar normal sehingga didapatkan masalah keperawatan.
2. Perumusan Diagnosa Keperawatan
Komponen rumusan diagnosa keperawatan meliputi :
a. Masalah (problem) adalah suatu pernyataan tidak terpenuhinya kebutuhan
dasar manusia yang dialami oleh keluarga atau anggota keluarga.
b. Penyebab (etiologi) adalah kumpulan data subjektif dan objektif.
c. Tanda (sign) adalah sekumpulan data subjektif dan objektif yang diperoleh
perawat dari keluarga secara langsung atau tidak langsung atau tidak yang
mendukung masalah dan penyebab.
Dalam penyusunan masalah kesehatan dalam perawatan keluarga mengacu
pada tipologi diagnosis keperawatan keluarga yang dibedakan menjadi 3
kelompok, yaitu :
a. Diagnosa Sehat/ Wellness/ Potensial
Yaitu keadaan sejahtera dari keluarga ketika telah mampu memenuhi
kebutuhan kesehatannya dan mempunyai sumber penunjang kesehatan
yang memungkinkan dapat digunakan. Perumusan diagnosa potensial ini
hanya terdiri dari komponen problem (P) saja dan sign/symptom (S) tanpa
etiologi (E).
b. Diagnosa Ancaman/ Risiko
Yaitu masalah keperawatan yang belum terjadi. Diagnosa ini dapat
menjadi masalah aktual bila tidak segera ditanggulangi. Perumusan
diagnosa risiko ini terdiri dari komponen problem (P), etiologi (E),
sign/symptom (S).
c. Diagnosa Nyata/ Aktual/ Gangguan
Yaitu masalah keperawatan yang sedang dijalani oleh keluarga dan
memerlukan bantuan dengan cepat. Perumusan diagnosa aktual terdiri dari
problem (P), etiologi (E), dan sign/symptom (S).
Perumusan problem (P) merupakan respon terhadap gangguan pemenuhan
kebutuhan dasar. Sedangkan etiologi mengacu pada 5 tugas keluarga.

I. RENCANA KEPERAWATAN
Perencanaan adalah sekumpulan tindakan yang ditentukan perawat untuk
dilaporkan dalam memecahkan masalah kesehatan dan keperawatan yang telah
diidentifikasi (Efendy,1998). Penyusunan rencana perawatan dilakukan dalam 2
tahap yaitu pemenuhan skala prioritas dan rencana perawatan (Suprajitno, 2004).
1. Skala Prioritas
Prioritas didasarkan pada diagnosis keperawatan yang mempunyai skor
tinggi dan disusun berurutan sampai yang mempunyai skor terendah. Dalam
menyusun prioritas masalah kesehatan dan keperawatan keluarga harus
didasarkan beberapa kriteria sebagai berikut :
a. Sifat masalah (aktual, risiko, potensial)
b. Kemungkinan masalah dapat diubah
c. Potensi masalah untuk dicegah
d. Menonjolnya masalah
Skoring dilakukan bila perawat merumuskan diagnosa keperawatan telah dari
satu proses skoring menggunakan skala yang telah dirumuskan oleh Bailon
dan Maglay (1978) dalam Effendy (1998).
TABEL PROSES SKORING

Kriteria Skor Bobot


Sifat masalah :
 Aktual 3
2 1
 Risiko
 Potensial 1
Kemungkinan masalah untuk dipecahkan :
 Mudah 2
1 2
 Sebagian
 Tidak dapat 0
Potensi masalah untuk dicegah :
 Tinggi 3
2 1
 Cukup
 Rendah 1
Menonjolnya masalah :
 Masalah berat, harus segera ditangani 2
1 1
 Ada masalah tetapi tidak perlu ditangani
 Masalah tidak dirasakan 0

Proses scoring dilakukan untuk setiap diagnosa keperawatan :


a. Tentukan skornya sesuai dengan kriteria yang dibuat perawat.
b. Skor dibagi dengan angka tertinggi dan dikalikan dengan bobot.
c. Jumlahkan skor untuk semua kriteria.
d. Skor tertinggi berarti prioritas (skor tertinggi 5).
2. Rencana
Langkah pertama yang dilakukan adalah merumuskan tujuan keperawatan.
Tujuan dirumuskan untuk mengetahui atau mengatasi serta meminimalkan
stressor dan intervensi dirancang berdasarkan tiga tingkat pencegahan.
Pencegahan primer untuk memperkuat garis pertahanan fleksibel, pencegahan
sekunder untuk memperkuat garis pertahanan sekunder, dan pencegahan
tersier untuk memperkuat garis pertahanan tersier (Anderson & Fallune,
2000).
Tujuan terdiri dari tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek.
Tujuan jangka panjang mengacu pada bagaimana mengatasi problem/masalah
(P) di keluarga. Sedangkan penetapan tujuan jangka pendek mengacu pada
bagaimana mengatasi etiologi yang berorientasi pada lima tugas keluarga.
Adapun bentuk tindakan yang akan dilakukan dalam intervensi nantinya
adalah sebagai berikut :
a. Menggali tingkat pengetahuan atau pemahaman keluarga mengenai
masalah.
b. Mendiskusikan dengan keluarga mengenai hal-hal yang belum diketahui
dan meluruskan mengenai intervensi/interpretasi yang salah.
c. Memberikan penyuluhan atau menjelaskan dengan keluarga tentang
faktor-faktor penyebab, tanda dan gejala, cara menangani, cara perawatan,
cara mendapatkan pelayanan kesehatan dan pentingnya pengobatan secara
teratur.
d. Memotivasi keluarga untuk melakukan hal-hal positif untuk kesehatan.
e. Memberikan pujian dan penguatan kepada keluarga atas apa yang telah
diketahui dan apa yang telah dilaksanakan

J. PELAKSANAAN
Pelaksanaan dilaksanakan berdasarkan pada rencana yang telah disusun. Hal –
hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan tindakan keperawatan terhadap
keluarga, yaitu :
1. Sumber daya keluarga
2. Tingkat pendidikan keluarga
3. Adat istiadat yang berlaku
4. Respon dan penerimaan keluarga
5. Sarana dan prasarana yang ada pada keluarga.

K. EVALUASI
Evaluasi merupakan kegiatan membandingkan antara hasil implementasi
dengan kriteria dan standar yang telah ditetapkan untuk melihat keberhasilannya.
Kerangka kerja evaluasi sudah terkandung dalam rencana perawatan jika secara
jelas telah digambarkan tujuan perilaku yang spesifik maka hal ini dapat berfungsi
sebagai kriteria evaluasi bagi tingkat aktivitas yang telah dicapai
(Friedman,1998). Evaluasi disusun menggunakan SOAP
J. REFERENSI
Achjar, K..A. 2010. Aplikasi Praktis Asuhan Keperawatan Keluarga. Jakarta :
Sagung Seto

Anderson, E.T. & McFarlane, J. 2000. Buku Ajar Keperawatan Komunitas: Teori
dan praktek. Jakarta: EGC

Carpenitto, L. J. 2008. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta : EGC

Effendy, Onong Uchjana. 1998. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung:
PT. Remaja Rosda Karya

Friedman, M.M. 1998. Family Nursing Research. Jakarta: EGC

Harmoko. 2012. Asuhan  Keperawatan Keluarga. Yogyakarta: Pustaka Belajar

Jhonson L & Lenny R. 2010. Keperawatan Keluarga plus contoh askep keluarga.
Yogyakarta : Nuha Medika

Setiawan, Eko. 2012. Disfungsi Sosialisasi dalam Keluarga Sebagai Dampak


Keberadaan Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kecamatan
Turi Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Yogyakarta: Fisip UNY

Setiawati.S & Dermawan.C, (2008). Penuntun Praktis Asuhan Keperawatan


Keluarga. Cetakan 1, Edisi 2. Jakarta : Trans Info Media

Sudiharto. 2007. Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Pendekatan


Keperawatan Transkultural. Jakarta: EGC

Suprajitno (2004), Asuhan Keperawatan Keluarga. Aplikasi Dalam Praktik.


Jakarta; EGC
Mengetahui Gianyar,.....;.............. 2020
Nama Pembimbing / CI : Nama Mahasiswa

............................................ ………………………………
NIP. NIM.

Mengetahui
Nama Pembimbing / CT :

............................................
NIP.