Anda di halaman 1dari 11

NAMA : YOHANA ANGELIA PAULA FERNANDEZ

NIM : 211 18 137

MATA KULIAH : IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1

MATERI : PERENCANAAN BENDUNG

Bendung tetap adalah bangunan yang dipergunakan untuk meninggikan muka air di
sungai sampai pada ketinggian yang diperlukan agar air dapat dialirkan ke saluran irigasi dan
petak tersier.
Bendung gerak dalah bangunan yang sebagian besar konstruksinya terdiri dari pintu yang
dapat digerakan untuk mengatur ketinggian muka air di sungai.

1. Cara menentukan lokasi bendung


• Aspek Geoteknik
Keadaan geoteknik fondasi bendung harus terdiri dari formasi batuan yang
baik dan mantap. Pada tanah aluvial kemantapan fondasi
Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama 66 ditunjukkan dengan angka standar
penetration test (SPT)>40. Bila angka SPT<40 sedang batuan keras jauh dibawah
permukaan, dalam batas-batas tertentu dapat dibangun bendung dengan tiang
pancang. Namun kalau tiang pancang terlalu dalam dan mahal sebaiknya
dipertimbangkan pindah lokasi. Stratigrafi batuan lebih disukai menunjukkan lapisan
miring ke arah hulu. Kemiringan ke arah hilir akan mudah terjadinya kebocoran dan
erosi buluh. Sesar tanah aktif harus secara mutlak dihindari, sesar tanah pasif masih
dapat dipertimbangkan tergantung justifikasi ekonomis untuk melakukan perbaikan
fondasi. Geoteknik tebing kanan dan kiri bendung juga harus dipertimbangkan
terhadap kemungkinan bocornya air melewati sisi kanan dan kiri bendung. Formasi
batuan hilir kolam harus dicek ketahanan terhadap gerusan air akibat energi sisa air
yang tidak bisa dihancurkan dalam kolam olak.
• Aspek Hidraulik
Lokasi bendung yang terletak pada bagian sungai yang lurus ternyata
memberikan pelayanan yang relatif baik. Hal ini karena air yang datang mengalir
secara frontal melewati puncak bendung berupa arus sejajar tegak lurus as
bendung. Sebaliknya lokasi bendung pada belokan sungai, arus datang
menghantam bendung tidak frontal dan tidak tegak lurus as bendung; akibatnya
kolam olak tidak bekerja optimal. Akibatnya masih terdapat sisa energi, yang
menggerus tebing hilir bendung. Di samping itu juga sering terdapat gerusan
tebing di hulu bendung. Bendung pada lokasi ini sering tidak berumur lama.
Untuk mempertahankan kinerja yang baik, perlu dilakukan rehabilitasi berupa
perlindungan tebing yang kuat. Gambar 2, adalah kerusakan sayap kanan hilir
bendung, akibat hantaman arus karena bendung terletak pada belokan
• Aspek Daerah Aliran Sungai
Lokasi bendung yang memangku DAS yang relatif besar dan kondisi DAS
yang terjaga baik, ternyata memberi stabilitas aliran yang relatif mantap. Artinya
banjir puncak dari tahun ke tahun tidak membesar, dan debit andalan dari waktu
ke waktu tidak mengecil. Ini memberi keuntungan terhadap layanan irigasi,
kaitannya dengan luas tanam yang direncanakan. Berbeda dengan lokasi bendung
yang DAS nya relatif jelek. Banjir puncak membesar dari tahun ke tahun, debit
andalan berangsur-angsur mengecil. Banjir yang membesar dapat mengakibatkan
keruntuhan bendung, sedang debit andalan yang mengecil akan mengakibatkan
sawah puso.
• Manfaat ketetapan pemilihan lokasi bendung dalam system irigasi
Ketepatan pemilihan lokasi bendung akan mempengaruhi kinerja sistem
irigasi yang dilayani. Lokasi bendung yang sembarangan akan berpengaruh buruk
pada fungsi bendung sendiri, sebaliknya lokasi bendung yang dipilih dengan
cermat dan penuh pertimbangan akan berpengaruh positif pada kondisi dan fungsi
irigasi.
• Aspek saluran induk
Lokasi bendung dengan pertimbangan tertentu sering ditarik ke hulu
masuk ke perbukitan. Hal ini menyebabkan saluran induk akan menyusuri bukit
tajam, di mana saluran relatif tidak stabil. Terlebih lagi bila bukit tersebut terdiri
dari batuan akan menyulitkan pekerjaan galian. Pekerjaan dengan peledakan harus
dihindari mengingat sulitnya perijinan dan pertimbangan keamanan. Sistem
irigasi seperti ini akan menghadapi sulitnya implementasi pembangunan dan
beratnya beban operasi dan pemeliharaan kelak kemudian hari.
• Luas layanan irigasi
Lokasi bendung harus diperhitungkan terhadap luas layanan irigasi yang
diharapkan. Tentunya luas layanan irigasi ini harus dikombinasikan dengan
kesuburan tanah dan air yang tersedia. Penggeseran bendung ke arah hulu akan
memperbesar luas layanan irigasi, dan sebaliknya penggeseran ke arah hilir akan
mengurangi luas layanan irigasi (Soenarno, 1972). Lokasi manapun yang dipilih
tidak semata dipertimbangkan luas layanan, tapi harus ditinjau dari beberapa
aspek lainnya, untuk mendapatkan sistem irigasi yang efisien.
• Pencapaian (Assessment)
Pemilihan lokasi bendung perlu dipertimbangkan kemudahan
pencapaiannya. Pencapaian yang mudah akan meringankan kegiatan OP,
kemudahan inspeksi oleh pimpinan, serta kemudahan dalam mobilisasi sarana
produksi. Kalau kegiatan OP mudah akan mempengaruhi kesinambungan sistem
irigasi. Sebaliknya pencapaian lokasi bendung yang sulit, akan berakibat pada
sulitnya OP, keengganan pimpinan berkunjung dan melakukan inspeksi. Oleh
karenanya, pencapaian lokasi bendung akan berpengaruh pada sistem irigasi yang
ada.
• Topografi situasi sungai lokasi bendung
Lembah sungai yang sempit berbentuk huruf V dan tidak terlalu dalam adalah
lokasi yang ideal untuk lokasi bendung, karena pada lokasi ini volume tubuh bendung
dapat menjadi minimal. Lokasi seperti ini mudah didapatkan pada daerah
pegunungan, tetapi di daerah datar dekat pantai tentu tidak mudah mendapatkan
bentuk lembah seperti ini. Di daerah transisi (middle reach) kadang-kadang dapat
ditemukan disebelah hulu kaki bukit. Sekali ditemukan lokasi yang secara topografis
ideal untuk lokasi bendung, keadaan topografi di daerah tangkapan air juga perlu
dicek. Apakah topografinya terjal sehingga mungkin terjadi longsoran atau tidak.
Topografi juga harus dikaitkan dengan karakter hidrograf banjir, yang akan
mempengaruhi kinerja bendung. Demikian juga topografi pada daerah calon sawah
harus dicek. Yang paling dominan adalah pengamatan elevasi hamparan tertinggi
yang harus diairi. Analisa ketersediaan selisih tinggi energi antara elevasi puncak
bendung pada lokasi terpilih dan elevasi muka air pada sawah tertinggi dengan
keperluan energi untuk membawa air ke sawah tersebut akan menentukan tinggi
rendahnya bendung yang diperlukan. Atau kalau perlu menggeser ke hulu atau ke
hilir dari lokasi yang sementara terpilih. Hal ini dilakukan mengingat tinggi bendung
sebaiknya dibatasi 6-7 m. Bendung yang lebih tinggi akan memerlukan kolam olak
ganda (double jump)

• Biaya pengembangan irigasi


Setelah pertimbangan teknis, pemilihan lokasi bendung juga harus
memperhatikan pertimbangan biaya. Biaya yang terlalu tinggi akan berakibat
pada kelayakan ekonomi dari sistem irigasi yang akan dibangun. Kelayakan
ekonomi sangat dipengaruhi oleh besarnya biaya investasi bendung, saluran dan
bangunan, sistem pengelolaan, serta kelembagaan. Di samping itu dipengaruhi
juga hasil pembangunan, berupa luas layanan, indek pertanaman, hasil panen, dan
jenis komoditas tanam.

2. Cara menentukan tinggi dan lebar bendung


Penentuan tinggi bendung dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
• Elevasi sawah bagian hilir tertinggi dan terjauh,
• Elevasi kedalaman air di sawah,
• Kehilangan tekanan dari saluran tersier ke sawah,
• Kehilangan tekanan dari saluran sekunder ke saluran tersier,
• Kehilangan tekanan dari saluran primer ke saluran sekunder,
• Kehilangan tekanan karena kemiringan saluran,
• Kehilangan tekanan di alat-alat ukur,
• Kehilangan tekanan dari sungai ke saluran primer,
• Persediaan tekanan untuk eksploitasi,
• Persediaan untuk bangunan lain,
• Perluasan daerah irigasi.

• Penentuan lebar bendung


Untuk menentukan lebar bendung yaitu jarak dari dinding sebelah kiri ke dinding
sebelah kanan. Langkah-langkah yang digunakan untuk mnentukan lebar bendung
antara lain sebagai berikut:
➢ Melakukan pengukuran beberapa potongan melintang sungai pada
rentang jarak 100 meter
➢ Memplot potongan melintang tersebut
➢ Menentukan kemiringan dasar rata-rata sungai
➢ Menentukan banjir tahunanyang didapat dari analisa hidrologi
➢ Menentukan elevasi muka air banjir tahunan di setiap potongan
➢ Menentukan lebar permukaan air di sungai untuk banjir tahunan
pada stiap potongan
➢ Menentukan lebar rata-rata dari setiap potongan yang mana
merupakan jarak antara abutment kiri dan kanan

3. Cara menentukan tipe kolam olak dan panjang lantai muka


Kolam olak adalah suatu bangunan yang berfungsi untuk meredam energi yang
timbuldi dalam tipe air superkritis yang melewati pelimpah. Dalam sebuah konstruksi
bendungdibangun pada aliran sungai baik pada palung maupun pada sodetan, maka pada
sebelah hilir bendung akan terjadi loncatan air.
Berdasarkan bilangan Froude, dapat dibuat pengelompokan-
pengelompokan berikut dalam perencanaan kolam :
(1). Untuk F≤ 1,7 tidak diperlukan kolam olak. Pada saluran tanah, bagian hilir
harus dilindungi
dari bahaya erosi. Saluran pasangan batu atau beton tidak memerlukan
lindungan khusus.
(2) Bila 1,7 < Fr u ≤ 2,5 maka kolam olak diperlukan untuk meredam energi
secara efektif. Pada umumnya kolam olak dengan ambang ujung mampu
bekerja dengan baik. Untuk penurunan muka air ΔZ < 1,5 m dapat
dipakai bangunan terjun tegak.
(3) Jika 2,5 < Fr u≤ 4,5 maka akan timbul situasi yang paling sulit dalam
memilih kolam olak
yang tepat. Loncatan air tidak terbentuk dengan baik dan menimbulkan
gelombang sampai jarak yang jauh di saluran.
Cara mengatasinya adalah mengusahakan agar kolam olakuntuk bilangan Froude ini
mampu menimbulkan olakan (turbulensi) yang tinggidengan blok halangnya atau
menambah intensitas pusaran dengan pemasangan blokdepan kolam

➢ Faktor lain dalam pemilihan type kolam olak :


➢ Gambar karakteristik hidrolis pada peredam energi yang direncanakan.
➢ Hubungan lokasi antara peredam energi dengan tubuh embung.
➢ Karakteristik hidrolis dan karakteristik konstruksi dari bangunan pelimpah.
➢ Kondisi-kondisi topografi, geologi dan hidrolis di daerah tempat kedudukan
calon peredam energi.
➢ Situasi serta tingkat perkembangan dari sungai di sebelah hilirnya

Lantai Muka:

Menentukan panjang lantai muka


Akibat dari pembendungan sungai akan menimbulkan pebedaan tekanan,
selanjutnya akan terjadi pengaliran di bawah bendung. Karena sifat air
mencari jalan dengan hambatan yang paling kecil yang disebut “Creep Line”,
maka untuk memperbesar hambatan, Creep Line harus diperpanjang dengan
memberi lantai muka atau suatu dinding vertical.

Untuk menentukan Creep Line, maka dapat dicari dengan rumus atau teori:
• Teori Bligh
Menyatakan bahwa besarnya perbedaan tekanan di jalur pengaliran adalah
sebanding dengan panjang jalan Creep Line.

L
H =
cBligh

Dimana: H = Beda tekanan

L = Panjang creep line

c = creep ratio

• Teori Lane
Teori Lane ini memberikan koreksi terhadap teori Bligh, bahwa energi
yang diperlukan oleh air untuk mengalir kea rah vertical lebih besar
daripada arah horizontal dengan perbandingan 3:1, sehingga dapat
dianggap:

Lv = 3 LH

LV + 1 LH
H= 3
Clane

Dimana:

H = Tekanan

L = Panjang creep line


4. Perhitungan stabilitas bendung
Menentukan stabilitas bendung
Untuk mengetahui kekuatan bendung, sehingga konstruksi bendung sesuai dengan yang
direncanakan dan memenuhi syarat yang telah ditentukan. Stabilitas bendung ditentukan
oleh gaya-gaya yang bekerja pada bendung, seperti:

• Gaya berat sendiri


 pasangan =

Mr = W.x

Mo = W.y

Di mana :

Mr = Momen perlawanan pada titik O

Mo = Momen guling pada titik O

W = Berat masing – masing segmen

x = Panjang lengan momen horizontal

y = Panjang lengan momen vertical


• Gaya gempa
➢ Gempa Horizontal
Gaya Horizontal (H) = Kh . W

Momen (Mo) = (Mr) = Kh . ΣMo

Keterangan :

H = gaya gempa horizontal (t)

Kh = koefisien gempa horizontal

V1 = berat sendiri bendung (t)

M01 = momen guling akibat berat sendiri (tm)

➢ Gempa Vertikal
Gaya Vertikal (V) = Kh . W

Momen (Mo) = (Mr) = Kh . ΣMr

Keterangan :

V = gaya gempa vertikal (t)

Kv = koefisien gempa vertikal

Mr1 = momen tahanan akibat berat sendiri (tm)

• Tekanan lumpur
1
Pa1 = . Ka .  lumpur . h2
2

Pa2 =  lumpur . b . h
• Gaya hidrostatis,
➢ Air normal
Pa1 = ½ .  air . h2. Ka

Pa2 = b . h .  air

➢ Air banjir
Pa1 = ½ .  air . h2

Pa2 = b . h .  air

Pa3 = b . h .  air

Pa4 = b . h .  air

Pa5 = ½ .  air . h2

Pa6 = -½ .  air . h2

• Gaya angkat (up lift pressure)


➢ Air Normal

L= Lh + Lv

Lx
Ux = Hx - . ΔH
L

Keterangan :

Hx = tinggi muka air dari titik yang dicari (m)

Lx = panjang rayapan (m)

ΣL = total rayapan (m)

ΔH = tinggi muka air normal (m)

Ux = uplift pressure di titik x (t/m2)

➢ Air Banjir
Lx
Ux = Hx - . ΔH
L

Keterangan :

Hx = tinggi muka air banjir dari titik yang dicari (m)

Lx = panjang rayapan (m)

ΣL = total rayapan (m)

ΔH = beda tinggi M.A.B dengan muka air di hilir (m)

Ux = uplift pressure di titik x (t/m2)

Stabilitas suatu bendung harus memenuhi syarat-syarat konstruksi dari bendung,


antara lain:

a. Bendung harus stabil dan mampu menahan tekanan air pada waktu banjir,
b. Bendung harus dapat menahan bocoran yang disebabkan oleh aliran sungai
dan aliran air yang meresap di dalam tanah,
c. Bendung harus diperhitungkan terhadap daya dukung tanah di bawahnya,
d. Tinggi ambang bendung atau crest level harus dapat memenuhi tinggi muka
air minimum yang diperlukan untuk seluruh daerah irigasi,
e. Peluap harus berbentuk sedemikian rupa agar air dapat membawa pasir,
kerikil, dan batu-batuan dan tidak menimbulkan kerusakan pada puncak
ambang.