Anda di halaman 1dari 12

METODE STUDI ISLAM

KURIKULUM PESANTREN DALAM PERSPEKTIF GUS DUR; SUATU KAJIAN


EPISTEMOLOGIS
(Abdullah : STIT Al Ibrohimy Galis Bangkalan)
DAN
EKSISTENSI KURIKULUM PESANTREN DAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN
(Ahmad Saifuddin : Dosen STAI Darussalam Krempyang Nganjuk)

Disusun Oleh :
RIDHO ASHARI : 1886108010

Dosen Pembimbing :
Dr. Imam Safi’i, M.Ag.
Dr. Rijal Firdaos, M.Pd.

PROGRAM STUDY ILMU TARBIYAH DAN

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

PROGRAM PASCA SARJANA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG

2018/2019
KURIKULUM PESANTREN DALAM PERSPEKTIF GUS DUR; SUATU
KAJIAN EPISTEMOLOGIS

Abdullah
(STIT Al Ibrohimy Galis Bangkalan)

Gus Dur dan Pesantren; Sepak Terjang Intelektualis Kaum Santri


Pemikiran seorang tokoh biasanya terlihat pada sejumlah pidato dan karya tulisnya. Untuk
itu, pada bagian ini akan dikemukakan sketsa dan sepak terjang pemikiran Gus Dur sebagai
sebagai seorang akademisi sekaligus sebagai santri. Gus Dur, menunjukkan sikap
optimismenya bahwa pesantren dengan ciri-ciri dasarnya mempunyai kemampuan yang luas
untuk melakukan pemberdayaan masyarakat, terutama pada kaum tertindas dan
termarjinalkan. Bahkan dengan kemampuan fleksibelnya, pesantren dapat mengambil
peran yang signifikan, bukan saja dalam wacana ke agamaan, tetapi dalam seting sosial
budaya, bahkan politik dan ideologi sekalipun.
Melalui gagasan pembaharuan dan dinamisasi pesantren, Gus Dur menginginkan
terjadinya proses penggalakan kembali nilai-nilai positif yang telah ada dan melakukan
pergantian nilai-nilai lama yang tidak relefan lagi dengan nilai-nilai baru yang lebih
relevan dan di anggap lebih baik dan lebih sempurna untuk menjaga eksistensi pesantren.
“Memelihara dan melestarikan nilai-nilai lama yang masih relevan dan mengambil nilai-
nilai yang baru yang lebih relevan lagi”. Gagasan pembararuan pesantren tersebut di
atas, Gus Dur juga menyinggung tentang terjadinya kekacauan dalam sistem
pendidikan pesantren. Menurutnya, kekacauan ini di sebabkan karna dua hal. Pertama,
sebagai refleksi dari kekacauan yang terjadi secara umum di masyarakat Indonesia,
sebagaimana masyarakat yang mengalami transisi. Kedua, karena munculnya kesadaran
bahwa kapasitas pesantren dalam menghadapi tantangan-tantangan modernitas hampir tidak
memadai yang di sebabkan karena unsur-unsur strukturalnya mandeg sehingga tidak mampu
menanggapi perubahan.
Selain itu Gus Dur, juga melihat adanya kerawanan pada sistem pesantren yang
berakibat pada kekurang siapan pesantren dalam menghadapi tantangan pembaharuan. Gur
Dur melihat bahwa kerawanan tersebut melahirkan dua reaksi sebagai berikut. Pertama,
bebentuk muculnya sikap menutup diri dari perkembangan umum masyarakat luar, terutama
dari kegiatan yang mengancam kemurnian kehidupan beragama. Kedua, timbulnya aksi
solidaritas yang kuat di antara masyarakat dan pesantren.
Dengan dasar di atas, Gus Dur menginginkan ada perubahan pada
kurikulum pesantren. menurutnya, kurikulum pesantren selain harus kontekstual dengan
kebutuhan zaman juga harus mampu merangsang daya intelektual-kritis anak didik.
Terkait yang terakhir ini semisal dengan melebarkan pembahasan fiqih antar madzhab.
Namun, sebagaimana ia tuturkan sebelumnya, bentuk kurikulum tersebut tetap harus dalam
asas yang bermanfaat bagi masyarakat dan juga tidak sampai menghilangkan identitas diri
pesantren sebagai lembaga pendidikan agama. Dalam arti jangan sampai pesantren
mengajarkan ketrampilan saja ataupun sebaliknya, yakni mengajarkan agama saja, tetapi
keduanya harus dalam porsi yang seimbang. Kemudian terkait dengan pembelajaran, Gus
Dur menyatakan bahwa pendekatan pembelajaran di pesantren harus mampu merangsang
kemampuan.

. Epistemologi Pendidikan Pesantren


Epistemologi secara sederhana dapat di artikan sebagai ilmu yang membahas
tentang keaslian, pengertian, struktur, metode, dan validasi ilmu pengetahuan.dalam kontek
pesantren, secara esensial pesantren berdasarkan diskursusnya pada pada epistemology
kitab kuning Kitab kuning difungsikan oleh kalangan pesantren sebagai ‘referensi’ nilai
universal dalam menyikapi segala tantangan kehidupan. Karena itu, kitab kuning harus tetap
terjaga. Kitab kuning dipahami sebagai mata rantai keilmuan Islam yang dapat bersambung
hingga pemahaman keilmuan Islam masa tabiin dan sahabat hingga sampai pada nabi
Muhammad. Makanya, memutuskan mata rantai kitab kuning, sama artinya membuang
sebagian sejarah intelektual umat.
Kitab kuning yang dikaji di pesantren tersebut hampir semuanya
merupakan ilmu-ilmu yang berbasis pada epistemologi bayani dan ‘irfani. Episteme bayani
adalah sistem pengetahuan eksplikasi dalam bidang bahasa, fikih, ushul fiqh, kalam, dan
balaghah. Sistem eksplikasi muncul dari teori-teori penafsiran teks-teks al-Quran dan
hadits. Karakteristik episteme eksplikasi secara umum menggunakan metode analogi. Para
ahli hukum dan nahwu menyebutnya dengan istilah Qiyas, para teolog menyebutnya dengan
al-i>stidlal b>i al-shahi>d (far') 'ala al-ghaib (ashl), sementara ahli balaghah memilih istilah
al- tasybi>h. Sedangkan episteme ‘irfani adalah sistem pengetahuan gnostik dalam bidang
tasawuf. Epistemologi kitab kuning di pesantren menganut bayani dan ‘irfani dalam arti
yang sempit; sistem bayani dibatasi pada ilmu-ilmu tekstual Sunni, sementara sistem ‘irfani
dibatasi pada tasawuf-amali sehingga pesantren menolak tasawuf-falsafi ala Ibn Arabi
Namun pada tingkat yang lebih praktis, hampir seluruh pendidikan pesantren yang
ada dijawa selalu berdasarkan pada al-Quran, hadiht, dan kitab kuning dan pemikiran
ulama’ yang diakui otoritasnya. Secara implicit menunjukkan metode ilmiah yang
menjadi salah satu aspek penting dari pendidikan pondok pesantren itu sendiri. Inlah
yang menunjukkan kualitas pendidikan yang ada dalam pesantren.
Pergulatan Kurikulum Pendidikan Pesantren; Kajian Epistemologis Sebagai
intelektual Gus Dur, ingin membuka sebuah fakta yang hari ini terjadi serius dalam
dunia keilmuan pesantren, yaitu sebuah akar tradisi keilmuan yang mencoba
mengaktualisasikan al-Qur’an dan hadits dengan perangkat pemahaman yang serba
konsep sekaligus disisi lain para ilmuan tersebut masih berpegang teguh pada
normatifitas ritual agama yang telah ada secara turu temurun. Inilah yang di maksud Gus

Dur sebagai ilmuan humanis yang sholeh (Shaleh humanis).29 Nilai yang terkandung
dalam tradisi keilmuan pesantren yang biasa disebut indegous latar sosial masyarakat
setempat) atau sekedar rekomendasi para pemimpin pesantren dalam bentuk dukungan
karena perubahan tersebut tidak bertentangan dengan tradisi keilmuan pesantren secara
historis, sosiologis ataupun epistimologis (secara literel perubahan yang yang akan dilakukan
mengambil referensi dari kitab-kitab utama yang menjadi pegangan masing-masing
pesantren). Proses yang semacam ini, dengan sendirinya akan menimbulkan dialog antara
pembaharuan tradisi dan kebutuhan yang akan dijadikan sebagai etentitas baru. Lebih
afirmatif lagi, terkait dengan keilmuan pesantren Gus Dur mencontohkan terdapat tiga
elemen dasar yang menjadi wilayah berpotensi tinggi untuk dilakukan rekontruksi secara
besar- besaran oleh Gus Dur disebut sengan “wilayah rawan”.
Pertama sistem pembelajaran di pesantren, mulai dari orientasi, hingga kurikulum
(materi pembelajaran). Dalam hal ini Gus Dur mencontohkan dukungan terhadap pesantren
yang ingin membuka “sekolah umum” bahkan sekolah kejuruan dengan asumsi bahwa tidak
semua santri bisa dicetak menjadi ahli agama atau ulama’ sekaligus mampu membantu

perogram pemerintah untuk mencerdaskan bangsa dan mengurangi pengangguran.30

Kedua rekontruksi admitrasi dan fisik pesantren secara besar-besaran karena


perubahan dalam konteks ini sama sekali kurang bersinggungan dengan persoalan etis
pesantren, kecuali peran bdan fungsi dan kharisma kiai harus dipertimbangkan kembali
untuk dirubah sesuai etika modern yang mengedepankan asas profisionalitas dan kepastian
hukum. Bukan berarti pesantren menulak profisionalitas dan asas kepastian hukumnamun hal
ini harus didialogkan kembali dengan tradisi dan kultur masing-masing pesantren karena bagi
Gus Dur pada realitasnya banyak pesantren yang masih tergantung pada figur karismatik
kiai yang melegenda
Ketiga relasi hubungan antara masyarakat dan pesantren yang harus dikembangkan
sesuai dengan kebutuhan zaman, Gus Dur mencopntohkan diera kolonial (awal pembentukan
pesantren) lembaga pendidikan pesantren menjadi tempat perjuangan masyarakat. Dalam hal
ini Gus Dur mencontohkan dengan dimensi awal berdirinya pesantren tebuireng jombang,
selain untuk menata moral masyarakat juga tujuan untuk merespon kegelisahan masyarakat
saat trejadi polemik dengan pabrik gula milik belanda. Kemudian diera akhir tahun 1980-
an pesantren menjembatani kepentingan pemerintah untuk menanggulangi pengangguran
pada saat itu hampir 10 persen terlibat langsung dengan perogram pemerintah dalam
melakukan pelatihan-pelatihan keterampilan, dan seterusnya.
Sebagaimana yang dikatakan dalam buku Islam Kosmopolitan, Gus Dur
mengatakan bahwa; humanisme Islam penampakan diri dalam berbagai manivestasi ajaran-
ajarannya. Rangkaian ajaran yang meliputi berbagai bidang, seperti hukum Agama (fiqih),
Keimanan (Tauhid) serta etika (akhlaq) seringkali disempitkan oleh masyarakat hingga
hanya menjadi kesulitan dalam sikap hidup. Padahal unsur-unsur itulah yang sesungguhnya
menampilkan kepedulian yang sangat besar kepada unsur-unsur utama dari kemanusiaan
(al-insaniyah) perinsip-perinsip seperti persamaan derajat, perlindungan hukum, menjaga
hak masyarakat lemah menurut Gus Dur merupakan kepedulian sifat humanisme Islam
yang ada pada tiap agama tentu demikian adanya.
Dengan kata lain, Gus Dur ingin menampilkan kepada kita bahwa strereotype
beberapa kalangan yang mengatakan bahwa aspek tertentu pada diri pesantren terdapat
kejumudan. Dalam konteks ini Abdurrahman Wahid ini membuka bahwa beberapa ajaran
yang ada didalam pesantren sesunguhnya sangat menghargai hak-hak dan nilai dasar
kemanusiaan, Di Islam itu sendiri salah satu ajaran yang dengan sempuran menampilkan
sifatnya secara humanis adalah lima buah jaminan dasar yang diberikan kepada warga
masyarakat baik secara perorangan maupun secara kelompok. Dan jaminan dasar
tersebut menurut Gus Dur terdapat dalam literatur fiqih kuno yang selama bertahun-tahun
dipelajari dibeberapa pesantren secara turun temurun. Jaminan hak dasar tersebut adalah: 1)
seselamatn fisik warga masyarakat dari tindakan badani diluar ketentuan hukum (hifdzu an-
nafs); 2) keselamatan keyakinan masing-masing, tampa ada paksaan untuk berpindah agama
(hifzu ad-din); 3) keselamatan keluarga dan keturunan (hifzu an-nasl); 4) keselamatan harta
benda dan milik peribadi dari gangguan atau penggusuran diluar prosedur hukum (hifzu al-
mal); dan 5) keselamatan hak milik dan profesi (hifzu al-aqli).
EKSISTENSI KURIKULUM PESANTREN DAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN
Ahmad Saifuddin
(Dosen STAI Darussalam Krempyang Nganjuk)

Kurikulum Kombinasi Pesantren


Pondok pesantren adalah suatu lembaga pendidikan Islam yang tumbuh dan diakui
oleh masyarakat sekitar dengan sistem asrama yang santri-santrinya menerima pendidikan
agama melalui sistem pengajian atau madrasah, yang sepenuhnya berada di bawah
kedaulatan dan kepemimpinan seorang atau beberapa orang kyai dengan ciri khas yang

bersifat kharismatis dan independen dalam segala hal.8 Pesantren dapat dikategorikan
sebagai lembaga non- formal Islam, karena keberadaan dalam jalur pendidikan
kemasyarakatan memiliki program pendidikan yang disusun sendiri dan pada umumnya
bebas dari ketentuan formal.
Tentang implementasi Kurikulum 2013, beradasarkan Keputusan Menteri
Agama Nomor 207 Tahun 2014 tentang Kurikulum Madrasah dan ditindaklanjuti
dengan adanya Surat Edaran Dirjen Pendis Nomor: SE/DJ.I/PP.00.6/1/2015, maka MI,
MTs dan MA di luar sasaran pendampingan, harus kembali menerapkan kurikulum 2006
atau KTSP untuk mata pelajaran umum dan tetap menerapkan Kurikulum 2013 untuk mata
pelajaran PAI dan Bahasa Arab, dengan mengacu pada KMA Nomor 165 Tahun 2014.
Keputusan ini diambil sejak munculnya surat resmi yang dikeluarkan oleh Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan Nomor: 179342/MPK/KR/2014 tanggal 5
Desember 2014 tentang penghentian pelaksanaan kurikulum 2013.
Kurikulum KTSP 2006 itu sendiri berlaku berdasarkan Permendiknas Nomor 22

Tahun 2006 Tentang Standar Isi12 dan Permenag Nomor 2 Tahun 2008 Tentang SKL dan

Standar Isi PAI dan Bahasa Arab.13 Sedangkan implementasi Kurikulum 2013 di Indonesia
berdasarkan Permendikbud Nomor 67 Tahun 2013 Tentang Kerangka Dasar dan
Struktur Kurikulum SD/MI dan KMA Nomor 165 Tahun 2014 Tentang Kurikulum 2013
Mata Pelajaran PAI dan Bahasa Arab. Untuk menyusun struktur kurikulum
kombinasi antara KTSP 2006 untuk mapel umum dan kurikulum 2013 untuk mapel
PAI dan Bahasa Arab, maka yang dibutuhkan adalah Permendiknas Nomor 22 Tahun
2006 Tentang Standar Isi dan KMA Nomor 165 Tahun 2014 Tentang Kurikulum 2013
Mata Pelajaran PAI dan Bahasa Arab.
Sebagai jantung pendidikan, kurikulum dipandang sebagai hal esensial bagi
manusia. Melalui pendidikan, manusia dapat belajar menghadapi segala problematika yang
ada di alam semesta demi mempertahankan hidup. Pendidikan dalam kehidupan manusia
memiliki peran sangat penting. Pendidikan dapat membentuk kepribadian seseorang dan
pendidikan diakui sebagai kekuatan yang mampu menentukan prestasi dan produktivitas
seseorang. Dengan bantuan pendidikan, seseorang memahami dan menginterpretasikan
lingkungan yang dihadapi, sehingga mampu menciptakan karya gemilang dalam hidup atau
mampu mencapai suatu peradaban dan kebudayaan tinggi dengan bantuan pendidikan.
Santri adalah orang-orang yang menuntut ilmu di sebuahpondok pesantren. Para
santri itu biasanya tinggal di pondok atau asrama, namun ada pula yang pergi pulang dari
rumahnya. Pondok adalah asrama para santri yang merupakan ciri khas pesantren. Di tempat
ini para santri bersama-sama belajar di bawah pimpinan seorang atau beberapa orang kyai
/ustadz atau orang yang dianggap senior. Pendidikan di pondok pesantren lebih
mengutamakan pembacaan dan pengenalan kitab-kitab klasik karangan-karangan ulama'
terkenal. Adapun tujuan pengajaran ini adalah untuk memperdalam ajaran agama Islam dan
juga untuk mendidik dan membekali calon-calon ulama' atau da'i. Kitab kuning ini
biasanya berisi tentang fiqih, tafsir, shorof, ushul fiqih, hadits, tauhid, tashawuf,
sastra Arab dan sebagainya.

Sistem Pembelajaran di Pondok Pesantren


1. Kurikulum Pondok Pesantren
Madrasah atau sekolah yang diselenggarakan di pondok pesantren menggunakan kurikulum
yang sama dengan kurikulum di madrasah atau sekolah lain yang telah dibakukan oleh
Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan Kebudayaan. Lembaga pendidikan formal
lain yang diselenggarakan oleh pondok pesantren, selain madrasah dan sekolah,
kurikulumnya disusun oleh penyelenggara atau pondok pesantren yang bersangkutan.
Berbeda dengan pesantren khalafiyah, pada pesantren salafiyah tidak dikenal kurikulum
dalam pengertian seperti kurikulum pada pendidikan formal. Kurikulum pada pesantren
salafiyah disebut manhaj, yang dapat diartikan sebagai arah pembelajaran tertentu. Manhaj
pada pondok pesantren salafiyah ini tidak dalam bentuk jabaran silabus, tetapi berupa funun
kitab-kitab yang diajarkan pada para santri.
Dalam pembelajaran yang diberikan kepada santri, pondok pesantren menggunakan manhaj
dalam bentuk jenis-jenis kitab tertentu dalam cabang ilmu tertentu. Kitab ini harus
dipelajari sampai tuntas, sebelum dapat naik jenjang ke kitab lain yang lebih tinggi
tingkat kesulitannya. Dengan demikian, masa tamat program pembelajaran tidak diukur
dengan satuan waktu, juga tidak didasarkan pada penguasaan terhadap silabi topik-topik
bahasan tertentu, tetapi didasarkan tamat atau tuntasnya santri mempelajari kitab yang telah
ditetapkan. Kompetensi standar bagi tamatan pondok pesantren adalah kemampuan
menguasai dalam memahami, menghayati, mengamalkan dan mengajarkan isi kitab
tertentu yang telah ditetapkan.
Kompetensi standar tersebut tercermin pada penguasaan kitab-kitab secara graduatif atau
berurutan dari yang ringan sampai yang berat, dari yang mudah ke kitab yang lebih sulit, dari
kitab tipis ke kitab yang beijilid-jilid. Kitab-kitab yang digunakan tersebut biasanya kitab-
kitab kuning atau kutub al-salaf. Disebut demikian karena umumnya kitab-kitab tersebut
dicetak di atas kertas berwarna kuning. Di kalangan pondok pesantren sendiri, di samping
istilah kitab kuning, beredar juga istilah kitab klasik untuk menyebut kitab yang sama. Kitab-
kitab tersebut pada umumnya tidak diberi harakat, sehingga disebut juga kitab
gundul. Ada juga yang disebut kitab kuno, karena rentang waktu sejarah yang sangat jauh
sejak disusun dan diterbitkan sampai sekarang.

2. Kebijakan Pendidikan
Sebelum membahas kebijakan pendidikan, perlu diketahui tentang analisis kebijakan.
Menurut Duncan MacRae, analisis kebijakan adalah suatu disiplin ilmu sosial terapan yang
menggunakan argumentasi rasional dengan menggunakan fakta - fakta untuk
menjelaskan, menilai dan membuahkan pemikiran dalam rangka upaya memecahkan

masalah publik.28 Sementara itu, menurut Penelaahan Sektor Pendidikan tahun 1986,
analisis kebijakan adalah suatu proses yang dapat menghasilkan informasi teknis sebagai
salah satu masukan bagi perumusan beberapa alternatif kebijakan yang didukung oleh
informasi teknis. Informasi teknis itu merupakan suatu satuan pernyataan kebenaran induktif
yang didukung oleh kebenaran secara empiris sebagai hasil dari rangkaian analisis data.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa analisis kebijakan
pendidikan adalah prosedur untuk menghasilkan informasi kependidikan, dengan
menggunakan data sebagai salah satu masukan bagi perumusan beberapa alternatif
kebijakan dalam pengambilan keputusan yang bersifat politis dalam rangka memecahkan
masalah kependidikan. Sehingga, dari pengertian di atas, dapat diketahui bahwa yang
termasuk pada ruang lingkup lingkungan kebijakan pendidikan adalah yang berada pada
lingkungan dari sistem pendidikan tersebut, baik terpusat maupun daerah. Lingkungan
kebijakan pendidikan terpusat meliputi seluruh komponen yang berada dalam negara
tersebut, sedangkan lingkungan kebijakan pendidikan daerah meliputi daerah-daerah
tertentu.
Terdapat empat tingkat kebijakan yang menunjuk pada level kebijakan tersebut
dirumuskan dan dilaksanakan. Pertama adalah tingkatan kebijakan nasional atau national
policy level. Penentu tingkat kebijakan nasional ini adalah Majelis Permusyawaratan Rakyat
atau MPR. Kebijakan yang berada pada level nasional ini disebut juga kebijakan
administratif. Kedua adalah tingkatan kebijakan umum atau general policy level. Disebut
juga dengan kebijakan eksekutif, oleh karena yang menentukan adalah pihak-pihak
yang berada pada posisi eksekutif. Yang termasuk ke dalam kebijakan eksekutif ini
adalah undang-undang, peraturan pemerintah dan keputusan atau instruksi presiden.
Ketiga adalah tingkatan kebijakan khusus atau special policy level. Letak penentu
kebijakan ini ada pada tangan menteri dan merupakan pembantu presiden selaku eksekutif,
maka tingkat kebijakan khusus ini disebut juga kebijakan eksekutif. Tingkat kebijakan
khusus ini dibuat oleh menteri dengan berdasarkan kebijakan yang berada di atasnya.
Keempat adalah tingkat kebijakan teknis atau technical policy level. Kebijakan ini disebut
juga dengan kebijakan operatif karena kebijakan ini merupakan pedoman pelaksanaan.
Penentuan kebijakan ini berada pada pejabat eselon II ke bawah, seperti direktur jenderal
atau pimpinan lembaga non- departemen. Produk kebijakan ini dapat berupa peraturan,
keputusan dan instruksi pimpinan lembaga. Berdasarkan technical policy level ini, gubernur,
kakanwil, bupati dan kakandep di masing- masing bidang melaksanakan kebijakan sesuai
dengan faktor kondisional dan situasi daerahnya. Dengan bahasa lain, faktor kondisi
dan situasi daerah yang kadang-kadang membedakan corak penerapan kebijakan yang
berasal dari instansi atasnya. Yang dimaksud dengan faktor kondisional dan situasional dapat
berupa budaya, ekonomi, politik, hankam, sosial dan sumber daya yang dapat
dikerahkan di daerah tersebut.
Terdapat dua agenda kebijakan, yaitu agenda sistemik dan agenda pemerintah.
Agenda sistemik bersifat luas, karena terdiri dari semua masalah di pemerintah. Yang
termasuk sub agenda dalam agenda sistemik yaitu (1) agenda professional, yang terdiri
dari isu-isu lalu didiskusikan di dalam berbagai kepentingan kelompok, jaringan pendidikan
kebijakan dan asosiasi pendidikan, (2) agenda media, yang terdiri dari isu-isu pendidikan
yang berhubungan dengan industri komunikasi, (3) agenda publik, yang mencakup masalah-
masalah pendidikan di masyarakat umum. Agenda publik biasanya lebih pendek
dibandingkan dengan dua lainnya, dan sangat dipengaruhi oleh agenda media. Sedangkan
agenda pemerintah terdiri dari daftar mata pelajaran atau masalah untuk pemerintah.
Pembahasan tentang metodologi dalam analisis kebijakan tidak dapat dipisahkan
dengan pembahasan mengenai subtansi pendidikan itu sendiri. Prosedur kerja atau
metodologis analisisis kebijakan pendidikan dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori

besar. Pertama, fungsi alokasi yang menekankan fungsi analisis kebijakan dalam
penentuan agenda analisis kebijakan (agenda setting mechanism). Kedua, fungsi
inquiri yang menekankan pada fungsi analisis kebijakan dalam dimensi rasional untuk
menghasilkan informasi teknis yang berguna sebagai bahan masukan bagi proses
pembuatan keputusan pendidikan. Ketiga, fungsi komunikasi yang menekankan cara-cara
atau prosedur efisien untuk memasarkan hasil-hasil kebijakan sehingga memiliki dampak
yang berarti bagi proses pembuatan keputusan. Ketiga fungsi tersebut merupakan suatu
perangkat lengkap, sehingga analisis kebijakan tidak akan dapat mencapai sasaran jika salah
satu fungsi atau lebih tidak dilakukan.
Fungsi alokasi merupakan salah satu fungsi penting yang perlu dimainkan oleh kegiatan
analisis kebijakan. Hal ini terkait dengan mengalokasikan agenda penelitian,
pengembangan dan analisis kebijakan itu sendiri yang didasarkan pada kajian terhadap isu-
isu kebijakan pendidikan dalam tingkatan yang lebih makro dan strategis.
Kajian makro tidak akan terlepas dari sistem-sistem lain yang
menyangkut sistem ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya dan hankamnas. Kajian
makro merupakan analisis hubungan timbal balik antara sistem pendidikan dengan
sistem yang lebih besar. Agar pendidikan memiliki kesesuaian dengan bidang- bidang
kehidupan masyarakat, maka perlu diciptakan suatu keadaan agar sistem pendidikan dapat
berkembang secara seimbang dengan perubahan dan perkembangan yang terjadi di
luar sistem lingkungannya. Dari perkembangan-perkembangan tersebut, kajian
interdisipliner perlu dilakukan dengan jalan memetakan isu-isu, kebijakan pendidikan
berdasarkan tuntutan dari berbagai bidang kehidupan di luar sistem pendidikan.
Langkah selanjutnya adalah dialog kebijakan (policy dialog) mengenai isu-isu yang
benar-benar telah teruji secara rasional empiris tersebut antara analisis kebijakan dengan
pihak pembuat kebijakan. Dialog tersebut dimaksudkan agar diperoleh maksud mengenai
urutan prioritas itu sendiri berdasarkan pandangan para pembuat keputusan. Maksudnya
adalah untuk mempertemukan antara hasil penelitian dengan pandangan para pembuat
keputusan mengenai isu kebijakan yang sedang atau diperkirakan akan dihadapi.
Dalam menentukan agenda penelitian yang tepat guna dan tepat waktu, analisis kebijakan
harus mampu memilih berbagai isu kebijakan pendidikan dalam beberapa tingkatan. Dalam
melakukan isu kebijakan dikelompokkan ke dalam dua kategori besar, yaitu kebijakan
stategis (strategis decision) dan kebijakan taktis operasional (operasional tactical).
Dalam proses pembuatan keputusan di Indonesia, isu-isu pendidikan dapat
dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu (1) isu strategis-politis, bersifat sangat mendasar
sehingga memiliki pengaruh makro dan jangka panjang, bersifat nasional dan lebih dirasakan
oleh pimpinan dan para politisi, seperti RUU tentang sistem pendidikan, (2) isu teknis
dan masih bersifat makro, tetapi lebih berkaitan dengan bentuk-bentuk penerapannya dalam
perencanaan dan pengelolaan suatu kebijakan yang telah ditetapkan secara sektoral, (3) isu
operasional, berkaitan dengan masalah- masalah yang dihadapi oleh para perencana dan
pengelola program pendidikan sehari-hari dalam implementasi suatu kebijakan tertentu.

Kesimpulan
Membaca pemikiran KH. Abdurrahaman wahid (Gus Dur) berarti membaca samudra
keilmuan yang luas cakupannya. Dalam hal pesantren, menurut Gus Dur, pesantren harus
mempertahankan identitas dirinya sebagai penjaga tradisi keilmuan klasik, dalam arti tidak
larut sepenuhnya dengan modernisasi. Hal ini dimaksudkan supaya pesantren mencetak ahli
ilmu agama Islam, pesantren juga mampu mencetak orang yang memiliki keahlian dalam
ilmu pengetahuan dan teknologi yang berguna untuk perkembangan masyarakat itu sendiri.
Gus Dur, menginginkan ada perubahan pada kurikulum pesantren. Menurutnya,
kurikulum pesantren selain harus kontekstual dengan kebutuhan zaman juga harus mampu
merangsang daya intelektual-kritis anak didik. Bentuk kurikulum tersebut tetap harus dalam
asas yang bermanfaat bagi masyarakat dan juga tidak sampai menghilangkan identitas diri
pesantren sebagai lembaga pendidikan agama. Sebuah kurikulum mengajarkan agama saja,
tetapi keduanya harus dalam porsi yang seimbang.
Secara esensial, pesantren menyandarkan diskursusnya pada epistemologi kitab
kuning. Kitab kuning difungsikan oleh kalangan pesantren sebagai referensi nilai universal
dalam menyikapi segala tantangan kehidupan. Karena itu, kitab kuning harus tetap terjaga.
Kitab kuning dipahami sebagai mata rantai keilmuan Islam yang dapat bersambung hingga
pemahaman keilmuan Islam masa tabiin dan sahabat hingga sampai pada nabi Muhammad.
Makanya, memutuskan mata rantai kitab kuning, sama artinya membuang sebagian sejarah
intelektual umat. Kitab kuning yang dikaji di pesantren tersebut hampir semuanya
merupakan ilmu-ilmu yang berbasis pada epistemologi bayani dan ‘irfani. Epistemologi
bayani adalah sistem pengetahuan eksplikasi dalam bidang bahasa, fikih, ushul fiqh, kalam,
dan balaghah. Gagasan Abdurrahman Wahid tentang dunia pendidikan pesantren merupakan
upayanya untuk mengembangkan watak berfikir inklusif dan humanis yang secara historis
merupakan akar tradisi keilmuan pesantren yang selama berabad-abad terpendam karena
terlalu dominannya nalar berfikir normatif yang selama ini ada di pesantren.
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kurikulum merupakan
alat untuk mencapai tujuan pendidikan, sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan
pendidikan. Kurikulum mencerminkan falsafah atau pandangan hidup bangsa. Tujuan dan
bentuk upaya kehidupan bangsa akan ditentukan oleh kurikulum yang digunakan oleh suatu
bangsa. Secara umum, jenis pondok pesantren bisa dikategorikan kedalam bentuk
salafiyah dan khalafiyah. Meskipun demikian, realitas di lapangan tidak menunjukkan
bentuk yang ekstrim. Sebagian besar yang ada sekarang adalah pondok pesantren yang
berada di antara dua pengertian diatas. Sebagian pondok pesantren yang mengaku salafiyah
pada umumnya juga menyelenggarakan pendidikan secara klasikal dan berjenjang,
meskipun tidak dengan
nama madrasah atau sekolah. Begitu juga pesantren khalafiyah pada umumnya juga
menyelenggarakan pendidikan dengan pengajian kitab klasik, karena sistem ngaji kitab
diakui sebagai salah satu identitas pondok pesantren. Hal ini menyebabkan kurikulum yang
ada di dalamnya merupakan gabungan antara kurikulum nasional dengan pesantren.