Anda di halaman 1dari 3

Kerja Enzim

(Laporan Praktikum Fisiologi Hewan)

Septiana Media Wati (1813024020/6)

1. Tujuan
Mempelajari faktor pH yang dapat mempengaruhi kerja enzim.
2. Metode
a. Alat dan bahan
Alat yang digunakan adalah gelas beaker, tabung reaksi, pipet tetes, rak tabung reaksi, penjepit tabung,
pembakar bunsen, stopwatch, dan label. Bahan yang digunakan adalah tepung terigu, kapas, larutan
benedict, ekstrak saliva, CH3COOH, dan NaOH.
b. Cara Kerja

Saliva
Diteteskan sebanyak 10 ml ke dalam gelas ukur
Dicampur dengan akuades sebanyak 15 ml.

Ekstrak
saliva
Dimasukkan pada tabung reaksi (9 tabung) menggunakan pipet
tetes masing-masing sebanyak 20 tetes.

Masing-masing tabung reaksi ditambahkan larutan tepung terigu,


lalu dihomogenkan.

Ekstrak
saliva (asam)
Ditetesi dengan larutan CH3COOH sebanyak 5 tetes setelah 15
menit ditetesi larutan benedict sebanyak 2 tetes, lalu
dihomogenkan. Tabung reaksi ditempeli label asam (3 tabung).

Ekstrak
saliva (basa) Ditetesi dengan larutan NaOH sebanyak 5 tetes setelah 15 menit ditetesi larutan
benedict sebanyak 2 tetes, lalu dihomogenkan. Tabung reaksi ditempeli label basa
(3 tabung).
Ekstrak saliva
(netral) Ditetesi dengan larutan benedict sebanyak 2 tetes, lalu
dihomogenkan. Tabung reaksi ditempeli label netral (3 tabung).

Ekstrak saliva (asam),


ekstrak saliva (basa),
dan ekstrak saliva Dipanaskan menggunakan pembakar bunsen, lalu mengamati
(netral) perubahan yang terjadi dan mencatat hasil pengamatan.
3. Hasil Pengamatan

Tabel 1.1 Pengamatan Faktor Ph yang Mempengaruhi Kerja Enzim.

Perlakuan
No Kelompok
Netral Asam Basa
1. 6

4. Pembahasan

Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa larutan amilum yang di campur enzim
amilase dan ditetesi dengan CH3COOH yang membuat larutan menjadi asam, kemudian di tetesi benedict dan
dipanaskan, larutan menghasilkan warna biru muda. Pada saat larutan amilum yang di campur enzim amilase dan
ditetesi dengan NaOH yang membuat larutan menjadi basa, kemudian di tetesi benedict dan dipanaskan, larutan
menghasilkan warna kuning pekat. Pada saat larutan amilum yang di campur enzim amilase dan tidak ditetesi
dengan NaOH maupun CH3COOH yang larutan tetap netral, kemudian di tetesi benedict dan dipanaskan, larutan
menghasilkan warna kuning terang. Hasil percobaan yang telah dilakukan sesuai dengan pernyataan Pratama (2012)
yaitu pada saat larutan amilum yang di campur enzim amilase mendapat perlakuan asam, larutan menghasilkan
warna biru muda (tidak berubah warna). Hal ini mengindikasikan bahwa enzim amilase tidak dapat memecah
amilum karena enzim mengalami denaturasi disebabkan suasana terlalu asam. Pada saat larutan amilum yang di
campur enzim amilase mendapat perlakuan basa dan netral, larutan menghasilkan warna kuning kecoklatan. Hal ini
mengindikasikan bahwa enzim amilase dapat memecah amilum karena enzim amilase yang ada di dalam cairan
saliva di rongga mulut bekerja pada kisaran pH 6,8 - 7,0.

Saliva terdiri dari 99,42% air dan sisanya berupa zat padat. Zat padat pada saliva terdiri dari 2/3 zat organik dan 1/3
zat anorganik. Zat yang terkandung dalam organik, yaitu enzim amilase dan musin (glikoprotein), sedangkan dalam
anorganik, yaitu Ca, Mg, Na, K, fosfat, bikarbonat, sulfat dan Cl. pH saliva berkisar 6,35-6,05 yang dipengaruhi oleh
asam karbonat dan bikarbonat darah. Enzim amilase berfungsi menghidrolisis pati dengan memutus rantai-rantai
glikosida yang semakin lama semakin pendek. Dimulut, enzim ini menghasilkan maltosa suatu disakarida yang
terdiri dari dua molekul glukosa. Maltosa dengan benedict menghasilkan reaksi positif karena 1 molekul maltosa
masih mempunyai 1 gugus aldehid bebas, sedangkan yang satu lagi terikat dengan yang lain (ikatan 1-4) (Panil. 2007 ;
113).

Menurut Lehninger (1982: 240-252) faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim selain konsentrasi enzim, adalah suhu,
pH substrat, inhibitor, dan aktivator. Hal ini dikarenakan setiap enzim memiliki pH dan suhu optimum. Menurut
Sadikin, (2002:138) dalam Iswendi, (2009:5), jika suhu di bawah suhu optimum, maka aktivitas enzim akan rendah.
Demikian juga dengan pH, jika dilakukan proses di bawah pH optimum maka aktivitas enzim rendah. Hal ini terjadi
karena struktur tiga dimensi enzim mulai berubah, sehingga substrat tidak dapat berikatan dengan sisi aktif enzim
akibatnya proses katalis tidak dapat berlangsung secara sempurna. Masing-masing mikroorganisme memiliki sifat-
sifat khusus dan kondisi lingkungan optimal berbeda yang mempengaruhi aktivitas enzim fosfatase. Maka dari itu
perlu adanya penelitian tentang Pengaruh suhu dan pH terhadap aktivitas enzim (Nurkhotimah,dkk.2017)

Enzim yang terdapat di dalam tubuh manusia mempunyai suhu optimum sekitar 37ᵒC. Di bawah atau di atas suhu
optimum, aktivitas enzim menurun. Pada suhu mendekati nol, enzim menjadi tidak aktif, tetapi secara stuktural
enzim tersebut tidak rusak. Jika suhu dinaikan aktivitas enzim kembali meningkat. Namun demikian kenaikan suhu
yang cukup besar dapat menyebabkan enzim mengalami denaturasi sehingga aktivitas katalitiknya hilang. Enzim
bekerja pada kisaran pH tertentu dan umumnya bergantung pada pH lingkungan. Sebagai contoh enzim amilase
yang ada di dalam cairan saliva di rongga mulut bekerja pada kisaran pH 6,8 - 7,0. Pada pH yang relative rendah atau
tinggi aktivitas enzim akan menurun bahkan hilang karena kemungkinan enzim sudah terdenaturasi (Pratama, 2012).

5. Referensi

Lehninger , Albert. (1982). Dasar dasar Biokimia. Penerbit Erlangga. Jakarta.


Nurkhotimah,dkk. 2017. Pengaruh suhu dan ph terhadap aktivitas enzim fosfatase bakteri termofilik sungai
gendol pasca erupsi merapi. Jurnal Prodi Biologi. Vol 6 No 8.
Panil Z. 2004. Memahami Teori dan Praktek Biokimia Dasar Medis. Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Pratama AP. 2012. Pengaruh suhu dan pH terhadap aktivitas enzim. Jurnal Kimia  Indonesia. Vol  1(1): 22-27.
Sadikin, M. 2002. Biokimia enzim. Widya medika. Jakarta.

Bandar Lampung, 13 Maret 2020

Asisten Praktikum, Praktikan,

Egy Razka Likita Septiana Media Wati

NPM. 1613024020 NPM. 1813024020