Anda di halaman 1dari 5

Nutrisi Mineral

a. Elemen-elemen esensial
b. Pengangkutan dan transport ion
c. Defisiensi dan keracunan elemen

PENGANGKUTAN DAN TRANSPORT ION

Lintasan Pergerakan Hara Menuju dan Didalam Jaringan Akar

Unsur hara dapat kontak dengan permukaan akar yaitu secara difusi dalam larutan tanah
secara pasif dibawa oleh aliran air tanah dan karena akar tumbuh kearah posisi hara tersebut
dalam matrik tanah. Setelah berada pada permukaan akar (kontak dengan akar), baru unsur haraa
tersebut dapat di serap tanaman lintasan yang dilalui oelh air dan unsur hara yang terlarut
didalamnya pada jaringan akar menuju pembuluh xilem.

Kebanyakan ahli berpendapat bahawa lintasan apoplas dan simplas sama pentingnya
dalam pengangkutan ion ke pembuluh xilem. Kalsium dalam bentuk ion Ca2+ di angkut ke
pembuluh xilem melalui dinding sel (lintasan apoplas) .agaknya sel tumbuhan dan sel hewan
mempunyai suatu mekanisme untuk mempertahankan agar konsentrasi kalsium pada sitosolnya
tetap rendah perlu diingant bahwa pada dinding sel primer terdapat lubang lubang di antara
senyawa poliskariada penyusunyya yang cukup besar untuk dilalui oleh berbagai senyawa yang
terlarut. Dengan demikian, pada dasarnya dinding sel tidak merupakan penghalang atau habatan
bagi pergerakan ion menuju pembuluh xilem.

Pengangkutan ion melalui lintasan apoplas ini tidak dapat berlangsung seutuhnya dari
epidermis ke pembuluh xilem, karena pada sel-sel endodermis terdapat Pita Casparian yang
bersifat impermeabel. Pada posisi ini pengangkutan ion selanjutnya dikendalikan oleh membran
plasma sel-sel endodermis. Membran ini mengendalikan laju pengangkutan dan jenis ion yang
akan diangkut ke pembuluh xilem. Pada saat diangkut melalui dinding sel dari epidermis ke
endodermis, sebagian ion akan pula diserap oleh sel-sel yang dilaluinya, masuk ke sitosol dari
sel-sel tersebut sehingga ion-ion ini diangkut melalui lintasan simplas. Sebagian ion yang telah
masuk ke sitosol sel-sel ini akan pula diangkut masuk ke vacuola sel, di mana peranannya
penting dalam menyebabkan penurunan potensi osmotik akar, sehingga mempercepat serapan
air, meningkatkan tekanan turgor sel-sel tersebut, dan akhirmya memacu pertumbuhan akar
menembus tanah.

Untuk ion-ion yang diserap langsung oleh sel-sel epidermis, akan diangkut ke pembuluh
xilem secara simplastik, melintasi beberapa lapis sel korteks, sel endodermis, dan sel-sel
perisikel. Pengangkutan ini melintasi dinding sel, lamela tengah, dan plasma membran atau
pengangkutan berlangsung melalui plasmodesmata. Terlepas dari lintasan mana yang dilalui
dalam pergerakan ion dari permukaan akar menuju pembuluh xilem, yang jelas ion-ion tersebut
harus masuk ke dalam sel-sel mati yang membentuk pembuluh xilem. Hasil penelitian dengan
menggunakan senyawa penghambat respirasi (terutama yang memblokir pembentukan ATP)
menunjukkan bahwa transfer ion ke pembuluh xilem membutuhkan energi metabolik, yakni
ATP. Dengan demikian, sel-sel perisikel (atau bagian sel-sel xilem yang masih hidup) pada satu
sisi berperan menyerap ion dari sel-sel hidup disekitarnya dan pada sisi lainnya berfungsi
mengeluarkannya ke pembuluh xilem.

Serapan ion dikendalikan oleh membran (paling tidak oleh membran sel endodermis).
Sehubungan dengan peranan membran ini, maka ada 4 prinsip penyerapan ion, yaitu:

1. Jika sel tidak melangsungkan metabolisme atau mati, maka membrannya akan lebih mudah
dilalui oleh bahan-bahan yang terlarut (solute),

2. Molekul air dan gas-gas yang terlarut didalamnya, seperti N 0, dan CO, dapat melalui
membran dengan mudah.

3. Bahan terlarut yang bersifat hidrofobik menembus membran dengan kemudahan sebanding
dengan tingkat kelarutannya dalam lemak.

4. lon-ion atau molekul-molekul yang bersifat hidrofilik dengan tingkat kelarutan dalam lemak
yang sama akan menembus membrane dengan tingkat kemudahan yang berbanding terbalik
dengan ukurannya (berat molekulnya).

Jika sel dimatikan dengan perlakuan suhu tinggi atau dengan menggunakan senyawa
racun, atau jika proses metabolismenya dihambat dengan perlakuan suhu rendah atau dengan
menggunakan senyawa penghambat reaksi metabolismenya, maka sebagian ion (atau bahan
terlarut) akan keluar dengan mudah dari dalam sitoplasma sel. Hal ini merupakan bukti, bahwa
permeabilitas membran terhadap ion tersebut menjadi meningkat. Belum dapat dijelaskan secara
memuaskan bagaimana air (dan gas-gas tertentu) dapat keluar-masuk melalui membran dengan
leluasa. Tetapi jelas fenomena ini memberikan keuntungan bagi metabolisme tanaman. Dari hasil
percobaan terbukti bahwa air dapat lebih cepat menembus suatu membran artifisial yang tersusun
dari hanya fosfolipida, dibandingkan melalui membran alami sel tumbuhan. Hasil pembuktian ini
memberikan indikasi bahwa air agaknya menembus membran sel tumbuhan melalui bagian
lipida dari membran, bukan melalui protein membran sebagaimana sebelumnya diasumsikan.

Bahan terlarut yang lebih bersifat hidrofobik menembus membran lebih mudah dibanding
senyawa yang lebih bersifat hadrofilik. Sebagai contoh, metilalkohol (CH3OH) dapat larut dalam
lemak 30 kali lebih cepat dibanding urea dan juga dapat nembus membran 300 kali lebih cepat
dibanding molekul urea tersebut. Ukuran kedua molekul ini tidak terlalu berbeda, walaupun urea
memang sedikit lebih besar (tetapi jelas tidak 30 kali lebih besar dari metilalkohol). Pada kasus
yang lain untuk membuktikan bahwa kelarutan dalam lemak lebih dominan dibanding ukuran
adalah perbandingan antara valeramida dengan laktamida. Valermida (dengan 5 karbon)
berukuran lebih besar dari laktamida (dengan 3 karbon), tetapi valeramida 40 kali lebih mudah
larut dalam lemak dan konsisten dengan ini ternyata valeramida dapat menembus membran 35
kali lebih cepat dibanding laktamida. Senyawa-senyawa ini diperkirakan menembus membran
melalui lapisan-ganda lipida (lipid bilayer).

Kelarutan dalam lemak berhubungan dengan kemudahan suatu senyawa untuk terionisasi
jika dilarutkan dalam air. Jika suatu senyawa menjadi bermuatan (positif ataupun negatif), maka
senyawa tersebut akan sulit larut dalam lemak (tetapi menjadi mudah larut dalam air). Alasan
mengapa herbisida 2,4 D lebih mudah diserap oleh tumbuhan pada kondisi pH rendah juga
berkaitan dengan solubilitas herbisida ini dalam lemak, di mana herbisida ini tidak bermuatan
pada pH rendah, sebaliknya akan bermuatan negatif pada pH netral atau pH tinggi.

Ukuran memang akan pula mempengaruhi kemudahan ion henembus membran, tetapi
yang menentukan kemudahan suatu ion untuk menembus membran adalah ukuran setelah
molekul-holekul air menempel pada ion-ion tersebut atau ukuran setelah terhidrasi (hydrated
size). Jadi bukan ukuran langsung dari ion itu sendiri. Sebagai contoh Li+ mempunyai diameter
0,12 nm, pi mampu mengikat 5 molekul air; sedangkan K + mempunyai diameter 0,27 nm, tetapi
hanya mampu untuk mengikat 4 molekul air, sehingga ukuran setelah terhidrasi akan
menunjukkan bahwa Li+ lebih besar daripada K+ karena ion (baik kation maupun anion) yang
bervalensi 2 akan lebih banyakmengikat molekul air dibanding ion bervalensi 1, sebagai contoh
Ca2+ dapat mengikat 12 molekul air, maka ion bervalensi 2 akan lebih sulit menembus membran
dibandingkan ion bervalensi 1. Selanjutnya ion bervalensi 3 akan lebih sulit dibandingkan ion
bervalensi 2

DEFINISI DAN KERACUNAN ELEMEN

Gejala Kekurangan Unsur Hara

Jika ketersedian unsur hara esensial kurang dari jumlah yang di butuhkan tanaman, maka
tanaman akan terganggu metabolismenya yang secara visual dapat terlihat dari penyimpangan-
penyimpangan pada pertumbuhannya didalam kekurangan unsur hara ini dapat berupa
pertumbuhan akar batang atau daun yang terhambat ( kerdil ) dan klorosis atau nefrosis pada
berbagai organ tanaman. Gejala yang ditampakkna tanaman karena kekurangan suatu unsur hara
dapat menjadi petunjuk kasar dari fungsi unsur hara yang bersangkutan pengetahuan tentang
gejala kekurangan masing masing unsur hara dapat di gunakan oleh petani dalam menentukan
jenis pupuk yang harus digunkan dan merupakan peringatan bagi petani untuk segera melakukan
pemupukan agar tanaman dapat tumbuh normal kembali.

Walupun kekurangan unsur hara dapat menyebabkan gangguan pada fungsi dan
pertumbuhan akar gejala yang umum dilaporkan adalah gejala yang tampak pada bagian tajuk
tanaman, karena gejala pada tajuk ini lebuh mudah di amati dan memberikan danpak praktis bagi
petani.

Gejala kekurangan suatu unsur hara yang di tamapakkan tanaman tidak selalu sama.
Gejala tersebut dapat berbeda, tergantung spesies tanaman, tingkat keseriusan masalah, dan fase
pertumbuhan tanaman. Disamping itu tanaman dapat mengalami kekurangan dua unsur hara
atau lebih pada saat yang bersamaan, sehingga gejala yang ditampakkan oleh tanaman menjadi
lebih komleks. Pada dasarnya gejala kekurangan unsur hara tergantung pada dua hal utama yaitu
fungsi dari unsur hara tersebut dan kemudahan bagi unsur hara tersebut untuk di translokasikan
dari daun tua ke daun muda. Kemudian suatu unsur hara untuk di translokasikan tergantung pada
solubilitas (pelarutan) dari bentuk kimia dari unsur tersebut di dalam jaringan tanaman dan
kemudahannya intuk dapat masuk kedalam pembuluh floem.

Beberapa unsur dengan mudah dapat di translokasikan daridaun tua kedaun muda dan
organ penampung seperti organ reproduktif atau umbi. Unsur unsur tersebut adalah Nitrogrn,
Fosfor, Kaliium, Magnesium, Klor, Blerang sedaangkan sekelompok unsur lainnya lebih sulit
untuk di translokasikan, misalnya Boron, Besi dan kalsium. Mobilitas unsur-unsur seng, mangan,
tembaga, dan molipdenum tergolong sedang. Untuk unsur-unsur yang mudah di translokasikan
gejala kekurangannya pertama akan terlihat pada daun-daun tua dan sebaliknya untuk unsur-
unsur yang sulit di teranslokasikan, gejala kekurangan mula-mula tampak pada daun-daun muda.