Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PROYEK IPA TERAPAN DASAR

MK PRAKTIKUM IPA TERAPAN

ELEMEN VOLTA

Dosen: Ekosari Roektingroem, M.P.

Disusun Oleh :

Vikhi Qomariyah (17312241001)

Meli Fitriani (17312241002)

Faridatul Liana (17312241005)

Anis Hazimah (17312241006)

Pendidikan IPA A 2017

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2020
A. Judul
Elemen Volta
B. Tujuan
Menjelaskan susunan dan cara kerja elemen Volta
C. Dasar Teori
Elektrokimia adalah ilmu yang mempelajari aspek elektronik dari reaksi kimia
Elemen yang digunakan dalam reaksi elektrokimia dikarakteristikan dengan
banyaknya elektron yang dimiliki. Elektrokimia secara umum terbagi dalam dua
kelompok yaitu sel galvani dan sel elektrolisis. Suatu sel elektrokimia terdiri dari dua
elektroda yang disebut katoda dan anoda,dalam larutan elektrolit. Pada elektroda
katoda terjadi reaksi reduksi. Sedangkan reaksi oksidasi terjadi pada anoda. Sel
elektrokimia dapat dibagi menjadi :
1. Sel Volta / Sel Galvani merubah energi kimia menjadi listrik
Contoh : baterai (sel kering) dan accu
2. Sel Elektrolisis à merubah energi listrik menjadi energi kimia
Contoh : penyepuhan, pemurnian logam
1. Sel Volta

Peralatan percobaan untuk menghasilkan listrik dengan memanfaatkan energy


redoks spontan disebut sel galvanic atau sel volta, diambil dari nama ilmuwan Italia
Luigi Galvani dan Alessandro Volta yang membuat versi awal dari alat ini (Chang,
2005 : 197).
Sel volta adalah penataan bahan kimia dan penghantar listrik yang memberikan
aliran electron lewat rangkaian luar dari suatu zat kimia yang teroksidasi ke zat kimia
yang direduksi (Keenan, 1980).
Suatu sel galvani menghasilkan listrik karena adanya perbedaan daya tarik dua
elektroda terhadap electron, sehingga electron mengalir dari yang lemah ke yang kuat
daya tariknya. Jika daya tarik itu disebut potensial elektroda, maka perbedaan
potensial kedua elektroda disebut potensial sel atau daya gerak listrik (DGL) sel
dalam satuan volt (V) (Syukri, 1999 : 527).
Prinsip kerja dari sel volta adalah pemisahan reaksi redoks menjadi 2 bagian,
yaitu setengah reaksi oksidasi di anode dan setengah reaksi reduksi di katode. Ketika
anode dan katode yang dicelupkan dalam suatu elektrolit dihubungkan melalui
rangkaian luar berupa kawat, maka elektron akan mengalir dari anode ke katode.
Aliran elektron ini tak lain adalah arus listrik, ini dapat dibuktikan dari nyala lampu
apabila lampu pijar dihubungkan dengan kawat rangakaianluar. Arus listrik ini
disebabkan oleh adanya beda potensial antara anode dan katode yang dapat
ditunjukkan melalui pengukuran dengan menggunakan voltmeter.

Secara umum, sel volta terdiri dari : Anode, yaitu elektrode tempat terjadinya
reaksi oksidasi. Karena reaksi oksidasi di anode menghasilkan elektron, maka anode
bermuatan negatif (-). Katode, yaitu elektrode tempat terjadinya reaksi reduksi.
Karena reaksi reduksi menangkap elektron dari katode, maka katode menjadi
bermuatan positif (+). Elektrolit, yaitu zat yang terurai menjadi ion-ionnya sehingga
dapat menghantarkan listrik. Rangkaian luar, yaitu kawat yang menghubungkan anode
dan katodeagar terjadi aliran elektron dari anoda ke katoda.-Jembatan garam, yaitu
rangkaian dalam yang berfungsi untuk menjaga kenetralan muatan lisrik pada larutan
elektrolit.

2. Elektrodan (Anoda dan Katoda)

Mengikuti apa yang dikatakan Michael Faraday, para ahli kimia menyebut sisi
berlangsungnya oksidasi dalam sel elektrokimia sebagai anoda dan sisi
berlangsungnya reduksi sebagai katoda (Oxtoby, 1999 : 378).
Hubungan listrik antara dua setengah – sel harus dilakukan dengan cara
tertentu. Kedua electrode logam dan larutannya harus berhubungan, dengan
demikian lingkar arus yang sinambung terbentuk dan merupakan jalan agar partikel
bermuatan mengalir. Secara sederhana electrode saling dihubungkan dengan kawat
logam yang memungkinkan aliran electron. Sel terdiri dari dua setengah – sel yang
elektrodanya dihubungkan dengan kawat dan larutannya dengan jembatan garam.
(Ujung jembatan garam disumbat dengan bahan berpori yang memungkinkan ion
bermigrasi, tetapi mencegah aliran cairan dalam jumlah besar). Potensiometer
mengukur perbedaan potensial antara dua electrode yaitu sebesar 0.463 Volt (V)
(Petrucci, 1985).
3. Potensial Sel

Potensial elektroda merupakan ukuran besarnya kecenderungan suatu unsur


untuk melepas atau menyerap elektron. Untuk membandingkan kecenderungan
oksidasi atau reduksi dari suatu elektroda pembanding yaitu elektroda hidrogen.
Potensial yang dihasilkan oleh suatu elektroda yang dihubungkan dengan elektroda
hidrogen disebut potensial elektroda.
Ada dua kemungkinan:

 Jika potensial electrode bertanda (+) maka electrode lebih mudah mengalami
reduksi.
 Jika potensial electrode bertanda (-) maka electrode lebih mudah mengalami
oksidasi.
Harga potensial sel tergantung pada jenis elektroda, suhu, konsentrasi ion dalam
larutan, dan jenis ion dalam larutan. Potensial sel (E˚sel) adalah potensial listrik
yang dihasilkan oleh suatu sel volta. Besarnya potensial sel dari suatu reaksi redoks
dalam sel volta dapat ditentukan melalui:

1. Percobaan dengan menggunakan voltmeter atau potensiometer.


2. Perhitungan berdasarkan data potensial elektroda unsur-unsur sesuai
dengan reaksinya.
Dua aturan yang cocok untuk menghitung daya gerak listrik suatu sel penentuan
reaksi sel, dan untuk menentukan apakah reaksi sel seperti tertulis berlangsung
spontan daya gerak listrik sel E0 adalah daya gerak listrik bila semua konstituen
terdapat pada keaktifan satu.
1)      Daya gerak listrik suatu sel sama dengan potensial elektroda standar
elektroda katode dikurangi potensial elektroda anode.
E0 sel = E0 katode - E0anode
Hasil E0 sel > 0 menyatakan reaksi berlangsung spontan, dan E 0 sel < 0 maka
menyatakan reaksi berlangsung tidak spontan.
2)      Reaksi yang berlangsung pada anode ditulis sebagai reaksi oksidasi dan
reaksi yang berlangsung pada anode ditulis sebagai reaksi oksidasi dan reaksi
yang berlangsung pada katode adalah reaksi reduksi. Reaksi sel adalah
jumlah dari kedua reaksi ini.Reaksi
4. Reaksi

Syarat reaksi redoks berlangsung spontan, yaitu logam untuk anoda terletak sebelah
kiri logam untuk katoda dalam deret volta.Deret Volta merupakan urutan logam-
logam (ditambah hidrogen) berdasarkan kenaikan potensial elektroda standarnya.
Li K Ba Sr Ca Na Mg Al Mn Zn Cr Fe Ni Co Sn Pb H Cu Hg Ag Pt Au
Semakin ke kiri letak suatu logam dalam deret volta, maka logam tersebut semakin
mudah teroksidasi. Sebaliknya, semakin ke kanan suatu logam dalam deret volta,
maka logam tersebut semakin mudah tereduksi. Oleh karena itu, untuk melindungi
suatu logam dari reaksi oksidasi (perkaratan) maka logam tersebut perlu
dihubungkan dengan logam yang letaknya lebih kiri dari logam tersebut dalam deret
volta atau disebut sebagai perlindungan katodik. (Oxtoby, 1999)

5. Elektrolit

Elektrolit adalah senyawa kimia yang akan terpisah menjadi ion-ion jika
dilarutkan dalam sebuah pelarut atau zat cair, hasil dari pemisahan ini berupa ion-
ionakan menghasilkan larutan yang dapat menghantarkan listrik. Fungsi larutan
elektrolit adalah sebagai penghantar arus dan penambah ion logam pelapis. Elektrolit
diklasifikasikan berdasarkan kandungan ion H+. Di dalam larutan terdapat ion
positif (+) dan ion negatif (-). Dengan adanya ion tersebut dalam larutan
menimbulkan beda potensial listrik (tegangan listrik), karenaadanya beda potensial,
arus listrik dapat mengalir sehingga larutan dapat menghantar listrik. Elektrolit
diklasifikasikan berdasarkan kemampuan dalam menghantarkan arus listrik.
Elektrolit yang dapat mengahantarkan arus listrik dengan baik digolongkan ke
elektolik kuat,contohnya seperti asam klorida (HCL), asam nitrat (HNO3), dan asam
sulfat (H2SO4).Sedangkan golongan elektrolit lemah seperti aluminium hidroksida
Al(OH)3, asam (cuka) encer (CH3COOH), dan kalium karbonat
(KaCO3).Perbedaan dari larutan elektrolit kuat dan lemah terletak pada jumlah
partikel ion (mol ion) dari tiap 1 mol zat. (Petrucci, 1985).
Potensial elektroda standar suatu elektroda adalah daya gerak listrik yang
timbul karena pelepasan elketron dari reaksi reduksi. Karna itu, potemsial elektroda
standar sering juga disebut potensial reduksi standar. Potensial ini relatif karena
dibandingkan dengan elektroda hidrogen sebagai standar. Nilai potendial elektroda
standar dinyatakan dalam satuan Volt (V). Untuk lektroda hidrogen, Eo = 0,00V.

 Bila Eo > 0 cenderung mengalami reduksi (bersifat oksidator)


 Bila Eo < 0 à cenderung mengalami oksidasi (bersifat reduktor)

Potensial standar sel adalah nilai daya gerak listrik sel yang besarnya sama
dengan selisih potensial reduksi standar elektroda yang mengalami reduksi dengan
potensial reduksi standar elektroda yang mengalami oksidasi.

Sel volta merupakan jenis sel elektrokimia yang dapat menghasilkan energi
listrik dari reaksi redoks yang berlangsung spontan.

Sifat Daya Hantar Listrik Dalam Larutan

Larutan tergolong ke dalam campuran homogen yang terdiri dari pelarut dan
zat terlarut. Pelarut-pelarut yang biasa digunakan adalah air. Sedangkan zat terlarut
terdiri dari berbagai senyawa ion maupun kovalen. Sifat daya hantar listrik zat yang
terlarut dalam air dapat diketahui dengan uji nyala gambaran bentuk molkul elektrolit
kuat, elektrolit lemah dan nonelektrolit.

D. Metode Percobaan
1. Waktu dan Tempat
Hari/tanggal : Selasa, Februari 2020
Waktu : 15.40 - selesai
Tempat : Laboratorium IPA FMIPA UNY
2. Alat dan Bahan
Alat :
 Lampu LED
 MULTIMETER
 Akuades
 Gelas beker
 Penjepit buaya
 Batu baterai
 Dudukan baterai
 Pipet tetes
 Amplas
Bahan :
 Seng (Zn)
 Tembaga (Cu)
 H2SO4
 HCL
 CH3COOH
3. Langkah kerja
a. Menggunting satu lempengan seng dan satu lempengan tembaga tipis dengan
panjang 10 cm dan lebar 1 cm
b. Menuangkan laurtan asam sulfat encer (accu zuur) ke dalam gelas dynamo
(3/4 bagian)
c. Memasukkan lempeng tembaga dan lempeng seng ke dalam gelas dynamo
berisi larutan asam sulfat encer (kedua ujung lempeng tidak boleh
bersentuhan)
d. Menghubungkan ujung lempeng tembaga dengan kaki positif LED dan ujung
lempeng seng dengan kaki negatif LED (gunakan kabel berujung jepit buaya)
E. Data Hasil Percobaan

Larutan Gelembung Volta (V) Keterangan


H2SO4 10 % +++ 0,92 Tidak menyala
HCL 3% ++ 0,65 Tidak menyala
CH3COOH 100% + 0,556 Tidak menyala
CH3COOH 70 % - 0,471 Tidak menyala
CH3COOH 50 % - 0,454 Tidak menyala
Baterai - 2,90 Lampu menyala

Keterangan :
Banyaknya gelembung
+++ : banyak
++ : sedang
+ : sedikit

F. Pembahasan
Pratikum ini berjudul Elemen Volta yang bertujuan menjelaskan susunan dan cara
kerja elemen volta. Elemen volta adalah Adapun langkah awal yang dilakukan
praktikan adalah menyiapkan alat dan bahan untuk rangkaian elemen volta sederhana
yaitu lampu LED untuk melihat nyala lampu, gelas beaker sebagai tempat larutan
asam sulfat dengan konsentrasi yang bermacam-macam, lempeng lembaga tipis
sebagai elektroda positif (anoda), lempeng seng tipis untuk sebagai elektroda negatif
(katoda) dan yang terakhir adalah kabel dengan ujung penjempit buaya untuk
menghubungkan lempeng tembaga dengan lampu LED.
Menurut Chang (2005) alat untuk menghasilkan listrik dengan memanfaatkan
energy redoks spontan disebut sel galvanic atau sel volta. Prinsip kerja lampu LED
yaitu ketika prakikan mencelupkan lempeng seng (katoda) dan lempeng tembaga
anoda kedalam larutan, maka pada larutan akan terbentuk gelembung. Namun, lampu
tidak menyala. Hal ini dikarenakan menurut literature (Ekosari, 2019: 15), Diluar
larutan, arus listrik akan mengalir dari lempeng tembaga (anoda) menuju ke lempeng
seng (katoda), sedangkan di dalam larutan arus listrik mengalir dari lempeng seng ke
lempeng tembaga. Aliran arus listrik dari lempeng seng ke lempeng tembaga ini
terjadi karena adanya energy yang dibebaskan pada waktu lempeng seng beraksi
dengan larutan asam sulfat encer.lempeng seng memiliki kedudukan lebih kiri
dibandingkan dengan lempeng tembaga dalam deret volta, sehingga seng lebih rektif
aripada tembaga, yang menyebabkan aliran arus listrik mengalir dari lempeng sel ke
tembaga. Dengan demikian berarti elemen volta mengubah energy kimia menjadi
energy listrik yang ditandai dengan nyala lampu. Tetapi, pada hasil yang teramati oleh
praktikan, lampu LED tidak menyala sama sekali dan hanya teramati pada lempeng
tembaga terdapat banyak gelelmbung.

Pada percobaan yang praktikan lakukan menggunakan berbagai macam larutan


yaitu H2SO4 10 %, HCL 3%, CH3COOH, dan Baterai. Pada larutan H2SO4 dengan
konsentrasi latutan 10%, didapatkan gelembung yang banyak, tetapi lampu tidak
menyala. Hal ini disebakan karena lampu mempunyai tegangan 1,5 Volt, sedangkan
reaksi redoks antara katode dan anode pada rangkaian menghasilkan 0,92 volt,
sehingga tidak bisa digunakan untuk mennyalakan lampu. Menurut literature, prinsip
kerja dari sel volta adalah pemisahan reaksi redoks menjadi 2 bagian, yaitu setengah
reaksi oksidasi di anode dan setengah reaksi reduksi di katode. Ketika anode dan
katode yang dicelupkan dalam suatu elektrolit dihubungkan melalui rangkaian luar
berupa kawat, maka elektron akan mengalir dari anode ke katode. Aliran elektron ini
tak lain adalah arus listrik, ini dapat dibuktikan dari nyala lampu apabila lampu pijar
dihubungkan dengan kawat rangakaianluar. Arus listrik ini disebabkan oleh adanya
beda potensial antara anode dan katode yang dapat ditunjukkan melalui pengukuran
dengan menggunakan voltmeter (Syukri, 1999) .

Pada percobaan yang kedua yaitu menggunakan larutan HCL 3%, ketika
rangkaian sel volta dimasukkan kedalam larutan HCL 3%, terbentuk gelembung-
gelembung gas hydrogen yang menutupi lempeng tembaga (anoda), tetapi lampu LED
tidak menyala. Hal ini dikarenakan konsentrasi larutan HCL yang tidak terlalu pekat
yaitu 3%. Menurut Petrucci (1985) Elektrolit yang dapat mengahantarkan arus listrik
dengan baik digolongkan ke elektolik kuat,contohnya seperti asam klorida (HCL).
Pada pengukuran menggunakan multimeter didapat tegangan pada rangkaian elekrode
yang dimasukkan ke larutan HCL 3% yaitu 0,65 Volt sehingga tidak bias menyalakan
lampu LED yang mempunyai tegangan 1,5 Volt.

Pada percobaan yang ketiga yaitu menggunakan asam cuka dengan berbagai
konsentrasi yaitu CH3COOH 100%, 70%, dan 50 %. Ketika rangkaian sel volta
dimasukkan kedalam larutan dengan berbagai konsentrasi tidak ada lampu yang
menyala. Pada konsetrasi CH3COOH 100% terdapat sedikit sekali gelembung electrode,
dan lampu tidak menyala. Pada konsentrasi CH 3COOH 70% tidak ada gelembung dan
lampu tidak menyala. Pada konsentrasi CH3COOH 50%, tidak ada gelembung dan lampu
tidak menyala. Ketika diukur dengan multimeter rangkaian elektroda pada larutan
CH3COOH 100 % menghasilkan tegangan 0,556 V, pada CH 3COOH 70 %,
menghantarkan tegangan 0,471 V dan pada rangkaian CH3COOH 50% menghantarkan
tegangan 0,454 V. Menurut Literatur asam (cuka) encer (CH3COOH) termasuk golongan
elektrolit lemah. Perbedaan dari larutan elektrolit kuat dan lemah terletak pada jumlah
partikel ion (mol ion) dari tiap 1 mol zat. (Petrucci, 1985). Menurut Sukardjo (1997)
Daya hantar listrik (konduktivitas) adalah ukuran seberapa kuat suatu larutan dapat
menghantarkan listrik. Konduktivitas digunakan untuk ukuran larutan atau cairan
elektrolit. Semakin besar jumlah ion dari suatu larutan maka akan semakin tinggi nilai
konduktivitasnya. Jumlah muatan dalam larutan sebanding dengan nilai daya hantar
molar larutan dimana hantaran molar juga sebading dengan konduktivitas larutan.
Konsentrasi elektrolit sangat menentukan besarnya konduktivitas molar (∆m).
Konduktivitas molar adalah konduktivitas suatu larutan apabila konsentrasi larutan
sebesar satu molar. Larutan encer, ion-ion dalam larutan tersebut mudah bergerak
sehingga daya hantarnya semakin besar. Larutan yang pekat, pergerakan ion lebih sulit
sehingga daya hantarnya menjadi lebih rendah. Hal lain yang mempengaruhi daya hantar
listrik selain konsentrasi adalah jenis larutan (Sukardjo, 1997).

Berdasarkan percobaan yang telah praktikan lakukan, semua larutan yang di uji
tidak ada yang dapat membuat lampu menyala. Saat rangkaian elemen volta yang
dimasukkan ke dalam larutan H2SO4 10% menghasilkan gelembung yang paling banyak.
Sedangkan pada larutan HCL 3% menghasilkan gelembung yang lebih sedikit dari
H2SO4 10%. Pada larutan CH3COOH 100% menghasilkan sedikit gelembung, sedangkan
pada 70% dan 50 % tidak menghasilkan gelembung, hal ini dikarenakan CH3COOH
termasuk elektrorit lemah.

G. Kesimpulan

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, Susunan elemen volta yang dibuat
oleh praktikan adalah sebagai berikut:
(Sumber: fisikazone.com (Sumber: Dokumentasi pribadi))

Gambar diatas merupakan perbandingan rangkaian elemen volta praktikan


dengan literature. Ke dua rangaian tersebut memiliki prinsip yangsama dimana
rangakain elemen volta tersusun dengan menggunakan larutan asam sulfat
sebagai sumber tegangan listriknya, larutan asam sulfat disini berfunsi sebagai
sumber tegangan, yang dapat menghasilkan aus listrik jika siusun membentuk
rangkaian tertutup. Sedngkan 2 lempeng logam yang berbeda (tembaga dan seng)
yang dicelupkan kedalam larutan asam sulfat encer yang berfungsi sebagai
elektrod apositif dan negative untuk mengalirkan arus listrik.
1. Prinsip kerja elemen volta adalah ketika di dalam larutan arus listrik mengalir
dari lempeng seng ke lempeng tembaga. Aliran arus listrik dari lempeng seng ke
lempeng tembaga ini terjadi karena adanya energy yang dibebaskan pada waktu
lempeng seng beraksi dengan larutan asam sulfat encer. Lempeng seng memiliki
kedudukan lebih kiri dibandingkan dengan lempeng tembaga dalam deret volta,
sehingga seng lebih reaktif aripada tembaga, yang menyebabkan aliran arus
listrik mengalir dari lempeng sel ke tembaga. Dengan demikian berarti elemen
volta mengubah energy kimia menjadi energy listrik.
H. Daftar Pustaka

Chang, Raymond. Kimia Dasar Konsep-konsep Inti Jilid II. Jakarta : Erlangga.
Keenan, Charles W.1980.Ilmu Kimia Untuk Universitas Edisi Keenam Jilid 2.
Jakarta : Erlangga.
Oxtoby, David W.1999. Kimia Modern Jilid I. Jakarta : Erlangga.
Petrucci, Ralph H.1985.Kimia Dasar Prinsip Dan Terapan Modern Edisi
Keempat Jilid 3. Jakarta : Erlangga.
Syukri, S. Kimia Dasar. Jakarta : Erlangga.
LAMPIRAN

Gambar : Pengukuran Rangkaian Volta

Sumber : Dokumentasi Pribadi