Anda di halaman 1dari 18

SISTEM DAN STRUKTUR POLITIK-EKONOMI

INDONESIA ERA ORDE BARU


6:58 PM ulul albab
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG BERDIRINYA ORDE BARU


Orde baru adalah sebutan bagi masa pemerintahan presiden Soeharto di Indonesia.
Orde baru menggantikan orde lama yang merujuk kepada era pemerintahan Soekarno. Orde
baru berlangsung dari tahun 1966 hingga 1998 dalam jangka waktu tersebut perkembangan
ekonomi indonesia berkembang pesat walaupun pada saat itu terjadi persamaan praktek
korupsi yang merajalela dinegara ini. Sebagai masa yang menandai sebuah masa baru setelah
pemberontakan PKI tahun 1965.
Beberapa hal hal yang melatarbelakangi berdirinya orde baru:
1.      Terjadinya peristiwa gerakan 30 September 1965.
2.      Keadaan politik dan keamanan negara menjadi kacau karena peristiwa gerakan 30 September
1965 dan ditambahnya dengan adanya konflik di angkatan darat yang sudah berlangsung
lama.
3.      Keadaan perekonomian semakin memburuk dimana inflasi mencapai 600% sedangkan upaya
pemerintah melakukan devaluasi rupiah dan kenaikan harga barang bakar menyebabkan
timbulnya keresahan masyarakat.
4.      Reaksi keras dan meluas dari masyarakat yang mengutuk peristiwa pembunuhan besar-
besaran yang dilakukan oleh PKI. Rakyat melakukan demokrasi menuntut agar PKI beserta
organisasi masanya dibubarkan serta tokoh-tokohnya di adili..
5.      Kesatuan aksi (KAMI, KAPI, KPPI, KASI dsb) yang ada dimasyarakat akan bergabung
membentuk kesatuan aksi berupa “Front Pancasila” yang selanjutnya lebih dikenal dengan
“Angkatan 66” untuk menghancurkan tokoh yang terlibat dalam gerakan 30 September
1965. Kesatuan aksi “Front Pancasila” pada 10 Januari 1966 didepan gedung DPR
mengajukan tuntutan yang dikenal dengan TRITURA (tri tuntutan rakyat) berisi :
      1) Pembubaran PKI beserta organisasi massanya
      2) Pembersihan kabinet Dwikora
      3 Penurunan harga-harga barang

6.      Upaya reshuffle kabinet Dwikora pada 21 Februari 1966 dan pembentuk kabinet seratus
menteri tidak juga memuaskan rakyat sebab rakyat menganggap kabinet tersebut duduk
tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa gerakan 30 September 1965. Wibawa dan
kekuasaan presiden Soekarno semakin menurun setelah upaya mengadili tokoh-tokoh yang
terlibat dalam gerakan 30 September 1965 tidak berhasil dilakukan meskipun telah dibentuk
mahkamah militer luar biasa (Mahmilub).
7.      Sidang paripurna kabinet dalam rangka mencari solusi dari masalah yang sedang bergejolak
tak juga berhasil, maka presiden mengeluarkan surat pemerintah 11 Maret 1966 (supersemar)
yang ditunjukan bagi Letjen Soeharto guna mengambil langkah yang dianggap perlu untuk
mengatasi keadaan keadaan negara yang semakin kacau dan sulit dikendalikan.
Setelah dikelurkan Supersemar  maka mulailah dilakukan penataan pada
kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945.Penataan
dilakukan didalam lingkungan lembaga tertinggi negara dan pemerintahan. Dikeluarkannya
Supersemar  berdampak semakin besarnya kepercayaan rakyat kepada pemerintah karena
Suharto berhasil memulihkan keamanan dan membubarkan PKI. Munculnya konflik
dualisme kepemimpinan nasional di Indonesia.

            Hal ini disebabkan karena saat itu Soekarno masih berkuasa sebagai presiden
sementara Soeharto menjadi pelaksana pemerintahan. Konflik Dualisme inilah yang
membawa Suharto mencapai puncak kekuasaannya karena akhirnya Sukarno mengundurkan
diri dan menyerahkan kekuasaan pemerintahan kepada Suharto.Pada tanggal 23 Februari
1967, MPRS menyelenggarakan sidang istimewa untuk mengukuhkan pengunduran diri
Presiden Sukarno dan mengangkat Suharto sebagai pejabatPresiden RI. Dengan Tap MPRS
No. XXXIII/1967 MPRS mencabut kekuasaan pemerintahan negara dan menarik kembali
mandat MPRS dari Presiden Sukarno .Tanggal 12Maret 1967 Jendral Suharto dilantik
sebagai Pejabat  Presiden Republik  Indonesia. Peristiwa ini menandai berakhirnya kekuasaan
Orde Lama dan dimulainya kekuasaan Orde Baru. Pada Sidang Umum bulan Maret 1968
MPRS mengangkat Jendral Suharto sebagai Presiden Republik Indonesia.

PEMBAHASAN

A.    STRUKTUR POLITIK


      Presiden Soeharto memulai orde baru dalam dunia politik indonesia dan secara
dramatis mengubah kebijakan luar negeri dan dalam negeri dari jalan yang ditempuh
soekarno sampai akhir jabatannya. Orde baru memilih perbaikan dan perkembangan ekonomi
sebagai tujuan utamanya dan menempuh kebijaksanaannya melalui struktur administratifnya
yang didominasi militer, DPR, dan MPR tidak berfungsi efektif. Anggotanya juga seringkali
dipilih dari kalangan militer khususnya mereka yang dekat dengan cendana.dan hal ini
mengakibatkan aspirasi rakyat kurang di dengar pusat.
Jenderal Soeharto sebagai pemimpin utama orde baru yang menjabat ketua presidium
kabinet ampera, pada tanggal 19 April 1969 telah memberikan uraian mengenai hakekat orde
baru yaitu sebagai berikut “Orde baru adalah tatanan seluruh perkehidupan rakyat, bangsa
dan negara Republik Indonesia yang diletakkan kepada kemurnian pelaksanan Pancasila dan
Undang-Undang Dasar 1945. Dilihat dari proses lahirnya cita-cita mewujudkan orde baru itu
merupakan suatu reaksi dan koreksi prinsipil terhadap praktek-praktek penyelewengan yang
telah terjadi pada pada waktu-waktu yang lampau yang disebut dengan orde lama. Orde baru 
hadir dengan semangat “koreksi total” atas penyimpangan yang dilakukan oleh Soekarno
pada masa orde lama. Jadi oleh karena itu pengertian orde baru yang terpenting ialah suatu
orde yang mempunyai sikap dan tekat mental dan iktikhad baik yang mendalam untuk
mengabdi kepada rakyat, mengabdi kepada kepentingan nasional yang dilandasi oleh falsafah
Pancasila dan yang menjunjung tinggi azas dan sendi undang-undang dasar 1945.
Landasan-landasan orde baru antara lain :
1.      Landasan idiil
Falsafah dan ideologi negara pancasila
2.      Landasan konstitusional
Undang-undang dasar 1945 dan adapun landasan situasional adalah landasan-landasan yang
dipakai sampai terbentuknya pemerintahan baru sesudah pemilihan umum.

     Pembubaran PKI dan Organisasi masanya


Dalam rangka menjamin keamanan, ketenangan, serta stabilitas pemerintahan, Soeharto
sebagai pengemban Supersemar telah mengeluarkan kebijakan:
   Membubarkan PKI pada tanggal 12 Maret 1966 yang diperkuat dengan Ketetapan MPRS No
IX/MPRS/1966

   Menyatakan PKI sebagai organisasi terlarang di Indonesia

   Pada tanggal 8 Maret 1966 mengamankan 15 orang menteri yang dianggap terlibat Gerakan
30 September 1965.

     Penyederhanaan Partai Politik


Pada tahun 1973 setelah dilaksanakan pemilihan umum yang pertama pada masa Orde
Baru pemerintahan pemerintah melakukan penyederhanaan dan penggabungan (fusi) partai-
partai politik menjadi tiga kekuatan sosial politik. Penggabungan partai-partai politik tersebut
tidak didasarkan pada kesamaan ideologi, tetapi lebih atas persamaan program. Tiga kekuatan
sosial politik itu adalah:
   Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang merupakan gabungan dari NU, Parmusi, PSII, dan
PERTI

   Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang merupakan gabungan dari PNI, Partai Katolik, Partai
Murba, IPKI, dan Parkindo

   Golongan Karya

    Pemilihan Umum


Selama masa Orde Baru pemerintah berhasil melaksanakan enam kali pemilihan umum,
yaitu tahun 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997. Dalam setiap Pemilu yang
diselenggarakan selama masa pemerintahan Orde Baru, Golkar selalu memperoleh mayoritas
suara dan memenangkan Pemilu. Pada Pemilu 1997 yang merupakan pemilu terakhir masa
pemerintahan Orde Baru, Golkar memperoleh 74,51 % dengan perolehan 325 kursi di DPR
dan PPP memperoleh 5,43 % dengan perolehan 27 kursi. Sedangkan PDI mengalami
kemorosotan perolehan suara dengan hanya mendapat 11 kursi di DPR. Hal disebabkan
adanya konflik intern di tubuh partai berkepala banteng tersebut. PDI akhirnya pecah menjadi
PDI Suryadi dan PDI Megawati Soekarno Putri yang sekarang menjadi PDIP.
Penyelenggaraan Pemilu yang teratur selama masa pemerintahan Orde Baru telah
menimbulkan kesan bahwa demokrasi di Indonesia telah berjalan dengan baik Apalagi
Pemilu berlangsung dengan asas LUBER (langsung, umum, bebas, dan rahasia). Namun
dalam kenyataannya, Pemilu diarahkan untuk kemenangan salah satu kontestan Pemilu saja
yaitu Golkar. Kemenangan Golkar yang selalu mencolok sejak Pemilu 1971 sampai dengan
Pemilu 1997 menguntungkan pemerintah yang perimbangan suara di MPR dan DPR
didominasi oleh Golkar. Keadaan ini telah memungkinkan Soeharto menjadi Presiden
Republik Indonesia selama enam periode, karena pada masa Orde Baru presiden dipilih oleh
anggota MPR. Selain itu setiap pertanggungjawaban, rancangan Undang-undang, dan usulan
lainnya dari pemerintah selalu mendapat persetujuan MPR dan DPR tanpa catatan.
    Peran Ganda (Dwi Fungsi) ABRI
Di masa Orde Baru, ABRI menjadi institusi paling penting di Indonesia. Selain
menjadi angkatan bersenjata, ABRI juga memegang fungsi politik, menjadikannya organisasi
politik terbesar di negara. Peran ganda ABRI ini kemudian terkenal dengan sebutan Dwi
Fungsi ABRI. Timbulnya pemberian peran ganda pada ABRI karena adanya pemikiran
bahwa TNI adalah tentara pejuang dan pejuang tentara. Kedudukan TNI dan POLRI dalam
pemerintahan adalah sama. di MPR dan DPR mereka mendapat jatah kursi dengan cara
pengangkatan tanpa melalui Pemilu. Pertimbangan pengangkatan anggota MPR/DPR dari
ABRI didasarkan pada fungsinya sebagai stabilitator dan dinamisator. Peran dinamisator
sebenarnya telah diperankan ABRI sejak zaman Perang Kemerdekaan. Waktu itu Jenderal
Soedirman telah melakukannya dengan meneruskan perjuangan, walaupun pemimpin
pemerintahan telah ditahan Belanda. Demikian juga halnya yang dilakukan Soeharto ketika
menyelamatkan bangsa dari perpecahan setelah G 30 S/PKI, yang melahirkankan Orde Baru.
Sistem ini memancing kontroversi di tubuh ABRI sendiri. Banyak perwira, khususnya
mereka yang berusia muda, menganggap bahwa sistem ini mengurangi profesionalitas ABRI.
Masuknya pendidikan sosial dan politik dalam akademi militer mengakibatkan waktu
mempelajari strategi militer berkurang.
Secara kekuatan, ABRI juga menjadi lemah dibandingkan negara Asia Tenggara
lainnya. Saat itu, hanya ada 533.000 prajurit ABRI, termasuk Polisi yang kala itu masih
menjadi bagian dari ABRI. Angka ini, yang hanya mencakup 0,15 persen dari total populasi,
sangat kecil dibanding Singapura (2,06%), Thailand (0,46%), dan Malaysia (0,68%). [16]
Pendanaan yang didapatkan ABRI pun tak kalah kecil, hanya sekitar 1,96% dari total PDB,
sementara angkatan bersenjata Singapura mendapatkan 5,48% dan Thailand 3,26%.Selain itu,
peralatan dan perlengkapan yang dimiliki juga sedikit; ABRI hanya memiliki 100 tank besar
dan 160 tank ringan.

    Pedomanan Pengahayatan dan Pengamalan Pancasila (P4)


Pada tanggal 12 April 1976 Presiden Soeharto mengemukakan gagasan mengenai
pedoman untuk menghayati dan mengamalkan Pancasila, yang terkenal dengan nama
Ekaprasatya Pancakarsa atau Pedomanan Pengahayatan dan Pengamalan Pancasila (P4).
Untuk mendukung pelaksanaan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 secara murni dan
konsekuen, maka sejak tahun 1978 pemerintah menyelenggarakan penataran P4 secara
menyeluruh pada semua lapisan masyarakat. Penataran P4 ini bertujuan membentuk
pemahaman yang sama mengenai demokrasi Pancasila, sehingga dengan adanya pemahaman
yang sama terhadap Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 diharapkan persatuan dan
kesatuan nasional akan terbentuk dan terpelihara. Melalui penegasan tersebut opini rakyat
akan mengarah pada dukungan yang kuat terhadap pemerintah Orde Baru. Sehingga sejak
tahun 1985 pemerintah menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal dalam kehidupan
berorganisasi. Semua bentuk organisasi tidak boleh menggunakan asasnya selain Pancasila.
Menolak Pancasila sebagai sebagai asas tunggal merupakan pengkhianatan terhadap
kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan demikian Penataran P4 merupakan suatu bentuk
indoktrinasi ideologi, dan Pancasila menjadi bagian dari sistem kepribadian, sistem budaya,
dan sistem sosial masyarakat Indonesia. Pancasila merupakan prestasi tertinggi Orde Baru,
dan oleh karenanya maka semua prestasi lainnya dikaitkan dengan nama Pancasila. Mulai
dari sistem ekonomi Pancasila, pers Pancasila, hubungan industri Pancasila, demokrasi
Pancasila, dan sebagainya. Pancasila dianggap memiliki kesakralan (kesaktian) yang tidak
boleh diperdebatkan.

     Hubungan antarLembaga Negara


Hubungan antar lembaga politik merupakan hubungan yang akan menciptakan suatu
proses pemerintahan yang baik. Hubungan akan baik jika antar lembaga Negara mengerti
tugas dan peran masing-masing dalam pemerintahan.hubungan antar lembaga Negara
Indonesia adalah keseimbangan dalam lembaga eksekutif , legeslatif, yudikatif. Masa orde
baru hubungan dan kedudukan antara eksekutif dan legeslatif dalam sistem UUD 1945,
sebetulnya telah diatur, kedua lembaga tersebut sama akan kedudukannya. Pemerintahan
pada masa orde baru, kekuasaan eksekutif lebih dominan terhadap semua aspek kehidupan
pemerintahan dalam negara kita. Dominasi kekuasaan eksekutif mendapat legimilitasi
konstitusional, karena dalam penjelasan umum UUD 1945 bahwa presiden adalah pemegang
kekuasaan pemerintahan tertinggi dibawah majelis. Presiden juga memiliki kekuasaan
diplomatik. Kekuasaan pada masa orde baru pada presiden begitu besar sehingga presiden
Soeharto bisa menjabat presiden seumur hidup. DPR sebagai lembaga pengawasan tidak
berjalan secara efektif.

     Pembentukan kabinet pembangunan


Kabinet ini awal l pada peralihan kekuasaan (28 Juli 1966) adalah kabinet ampera
dengan tugas yang terkenal dengan nama dwi darma kabinet ampera yaitu untuk menciptakan
stabilitas politik dan ekonomi sebagai persyaratan untuk melaksenakan pembangunan
nasional. Kabinet pembangunan pada tahun 1968 dalam sidang MPRS ada tugas lain pula
yang disebut pancakrida.
     SISTEM KELEMBAGAAN NEGARA 
Sistem merupakan kumpulan bagian-bagian pemerintahan yang tersusun secara sistematis
dan fungsional untuk mencapai suatu tujuan. Bagian-bagian dari lembaga negara terdiri dari
berbagai tugas dan kewajiban untuk saling melengkapi, dalam proses kelembagaan negara
Indonesia. Sistem lembaga negara ialah:
1.      Indonesia adalah Negara hukum
Negara Indonesia berdasar hukum (rechsstaat), tidak berdasarkan atas kekuassaan belaka
(machtsaat). Negara di dalamnya terdiri dari lembaga-lembaga Negara melaksanakan
tugasnya berdasarkan hukum.
2.       Sistem Konstitusional
Pemerintahan berdasarkan atas sistem konstitusi atau hukum dasar. Sistem ini memberi
ketegasan akan pengendalian pemerintahan negara yang dibatasi oleh ketentuan-ketentuan.
3.   Kekuasaan Negara tertinggi adalah MPR
Kedaulatan rakyat di pegang oleh MPR sebagai penjelmaan seluruh rakyat. Tugas MPR,
yaitu :
·   Menetapkan Undang-Undang Dasar
·   Menetapkan GBHN
·   Mengangkat kepala Negara dan wakilnya
4.   Presiden sebagai penyelenggara pemerintahan negara tertinggi menurut UUD
Presiden dalam menjalankan pemerintahan, tanggung jawab penuh ada ditangan presiden.
Presiden tidak hanya dilantik dari majelis dan juga melaksanakan kebijakan dari GBHN
ataupun ketetapan MPR.
5.   Presiden tidak bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat
Kedudukan presiden degan DPR dan presiden membentuk undang-undang dan APBN.
Presiden bekerja sama dengan DPR, presiden tidak bertanggung jawab kepada dewan.
Presiden juga tidak bisa membubarkan DPR.
6.   Menteri Negara
Presiden memilih, mengangkat dan memberhentikan menteri-menteri Negara. Menteri tidak
bertanggung jawab kepada DPR dan kedudukannya tidak tergantung dari dewan, tapi
tanggung jawab kepada presiden.
7.   Kekuasaan Kepala  Negara tidak tak-terbatas.
8.   Dewan Perwakilan Rakyat.
      Penataan Politik Luar Negeri
Pada masa Orde Baru, politik luar negeri Indonesia diupayakan kembali kepada
jalurnya yaitu politik luar negeri yang bebas aktif. Untuk itu maka MPR mengeluarkan
sejumlah ketetapan yang menjadi landasan politik luar negeri Indonesia. Dimana politik luar
negeri Indonesia harus berdasarkan kepentingan nasional, seperti permbangunan nasional,
kemakmuran rakyat, kebenaran, serta keadilan.
1.      Kembali menjadi anggota PBB
Indonesia kembali menjadi anggota PBB dikarenakan adanya desakan dari komisi
bidang pertahanan keamanan dan luar negeri DPR GR terhadap pemerintah Indonesia. Pada
tanggal 3 Juni 1966 akhirnya disepakati bahwa Indonesia harus kembali menjadi anggota
PBB dan badan-badan internasional lainnya dalam rangka menjawab kepentingan nasional
yang semakin mendesak. Keputusan untuk kembali ini dikarenakan Indonesia sadar bahwa
ada banyak manfaat yang diperoleh Indonesia selama menjadi anggota PBB pada tahun 1950-
1964. Indonesia secara resmi akhirnya kembali menjadi anggota PBB sejak tanggal 28
Desember 1966.

2.      Normalisasi hubungan dengan beberapa Negara


·  Pemulihan hubungan dengan Singapura
Sebelum pemulihan hubungan dengan Malaysia Indonesia telah memulihkan hubungan
dengan Singapura dengan perantaraan Habibur Rachman (Dubes Pakistan untuk Myanmar).
Pemerintah Indonesia menyampikan nota pengakuan terhadap Republik Singapura pada
tanggal 2 Juni 1966 yang disampaikan pada Perdana Menteri Lee Kuan Yew. Akhirnya
pemerintah Singapura pun menyampikan nota jawaban kesediaan untuk mengadakan
hubungan diplomatik.

·   Pemulihan hubungan dengan Malaysia


Normalisasi hubungan Indonesia dan Malaysia dimulai dengan diadakan perundingan di
Bangkok pada 29 Mei-1 Juni 1966 yang menghasilkan perjanjian Bangkok, yang berisi:
  Rakyat Sabah diberi kesempatan menegaskan kembali keputusan yang telah mereka ambil
mengenai kedudukan mereka dalam Federasi Malaysia.
  Pemerintah kedua belah pihak menyetujui pemulihan hubungan diplomatik.
  Tindakan permusuhan antara kedua belah pihak akan dihentikan. Peresmian persetujuan
pemulihan hubungan Indonesia-Malaysia oleh Adam Malik dan Tun Abdul Razak dilakukan
di Jakarta tanggal 11 Agustus 1966 dan ditandatangani persetujuan Jakarta (Jakarta Accord).
Hal ini dilanjutkan dengan penempatan perwakilan pemerintahan di masing-masing negara..

         Pendirian ASEAN (Association of South-East Asian Nations)


Indonesia menjadi pemrakarsa didirikannya organisasi ASEAN pada tanggal 8 Agustus
1967. Latar belakang didirikan Organisasi ASEAN adalah adanya kebutuhan untuk menjalin
hubungan kerja sama dengan negara-negara secara regional dengan negara-negara yang ada
di kawasan Asia Tenggara. Tujuan awal didirikan ASEAN adalah untuk membendung
perluasan paham komunisme setelah negara komunis Vietnam menyerang
Kamboja. Hubungan kerjasama yang terjalin adalah dalam bidang politik, ekonomi, sosial,
dan budaya. Adapun negara yang tergabung dalam ASEAN adalah Indonesia, Thailand,
Malaysia, Singapura, dan Filipina.

         Integrasi Timor-Timur ke Wilayah Indonesia


        Timor- Timur merupakan wilayah koloni Portugis sejak abad ke-16 tapi kurang
diperhatikan oleh pemerintah pusat di Portugis sebab jarak yang cukup jauh. Tahun 1975
terjadi kekacauan politik di Timor-Timur antar partai politik yang tidak terselesaikan
sementara itu pemerintah Portugis memilih untuk meninggalkan Timor-Timur. Kekacauan
tersebut membuat sebagian masyarakat Timor-Timur yang diwakili para pemimpin partai
politik memilih untuk menjadi bagian Republik Indonesia yang disambut baik oleh
pemerintah Indonesia. Secara resmi akhirnya Timor-Timur menjadi bagian Indonesia pada
bulan Juli 1976 dan dijadikan provinsi ke-27. Tetapi ada juga partai politik yang tidak setuju
menjadi bagian Indonesia ialah partai Fretilin. Hingga akhirnya tahun 1999 masa
pemerintahan Presiden Habibie melakukan jajak pendapat untuk menentukan status Timor-
Timur. Berdasarkan jajak pendapat tersebut maka Timor-Timur secara resmi keluar dari
Negara Kesatuan republik Indonesia dan membentuk negara tersendiri dengan nama
Republik Demokrasi Timor Lorosae atau Timur Leste.

B.     STRUKTUR EKONOMI

1.      Pelita I

Dilaksanakan mulai 1 April 1969 sampai 31 Maret 1974. Tujuan Pelita I adalah untuk
meningkatkan taraf hidup rakyat dan sekaligus meletakkan dasar-dasar bagi pembangunan
dalam tahap-tahap berikutnya. Sasaran yang hendak dicapai ialah pangan, sandang,
perbaikkan prasarana, perumahan rakyat (papan), perluasan lapangan kerja, dan kesejahteraan
rohani. Pelita I lebih menekankan pada pembangunan bidang pertanian. Hal ini disebabkan,
karena sebagian besar penduduk Indonesia masih hidup dari hasil pertanian.
Pelita I telah mencapai hasil yang cukup memuaskan di beberapa bidang, yang
ditunjukkan oleh beberapa indicator sebagai berikut.
1) Bidang Pertanian, produksi beras mengalami kenaikan rata-rata hinggal 4% setahun.
2) Bidang Industri, terutama sektor industri pupuk, semen, dan tekstil.
3) Bidang Perhubungan, khususnya perbaikan jalan yang menunjukkan hasil cukup memuaskan.
4) Bidang Kelistrikkan, yang ditandai dengan berhasilnya pembangunan pusat-pusat tenaga
listrik seperti contoh : PLTA Karangkates, Riam Kanan, Selorejo, serta pembangunan PLTU
di Tanjung Priok dan Ujungpandang.
5) Bidang Pendidikan, yang ditandai dengan indicator sebagai berikut.
*) Pembagian 63,5 juta buku bagi guru dan murid,
*) pembangunan 6000 gedung SD,
*) mengangkat 57.740 guru,
*) pembangunan pusat-pusat pelatihan teknik,
*) merehabilitasi sekolah-sekolah kejuruan, dan
*) penataran tenaga-tenaga pengajar.
Peningkatan di berbagai sektor pembangunan merupakan indikasi semakin baiknya
kondisi ekonomi masyarakat jika dibandingkan dengan kondisi ekonomi masa Orde Lama.
Pemerintah juga memberikan penghargaan kepada daerah yang berhasil dalam pembangunan
dengan menganugerahkan Parasamya Purnakarya Nugraha. Anugerah tersebut merupakan
penghargaan tertinggi yang dicapai oleh suatu daerah dalam perihal pembangunan.
Seiring dengan pelaksanaan Pelita I, pada tanggal 12 hingga 25 Maret 1973, MPR hasil
Pemilu 1971 melangsungkan Sidang Umum MPR. Dalam Sidang Umum tersebut, MPR
berhasil menetapkan GBHN berdasarkan Ketetapan No. IV/MPR/1973. Di samping itu, MPR
juga mengangkat Soeharto kembali sebagai Presiden RI/Mandatris MPR berdasarkan
Ketetapan No. IX/MPRS/1973 dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai wakil presiden
berdasarkan Ketetapan No.XI/MPRS/1973. Keduanya dilantik pada tanggal 25 Maret 1973.
Pada tanggal 27 Maret 1973, di Istana Negara Presiden Soeharto kemudian
mengumumkan susunan kabinet baru. Kabinet tersebut terdiri dari 17 menteri yang
memimpin departemen dan lima menteri negara.
2. Pelita II
Pelita II dilaksanakan mulai 1 April 1974. Sasaran utama Pelita II, yaitu tersedianya
pangan, sandang, perumahan (papan), sarana dan prasarana, mensejahterakan rakyat, dan
memperluas kesempatan kerja.
Pelita II berdampak pada kehidupan masyarakat. Keseluruhan kegiatan Pelita II
berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi rata-rata mencapai 7% setahun. Di bidang
pengairan telah berhasil diperbaiki dan disempurnakan kira-kira 00.000 hektar. Di samping
perbaikan dan penyempurnaan juga dibangun jaringan irigasi kurang lebih 500.000 hektar
dan pengaturan serta pengembangan sungai dan rawa kurang lebih 600 hektar.
Di bidang industri terjadi kenaikan produksi kerajinan rakyat, industri kecil, industri
menengah, dan industri besar. Produksi tekstil meningkat dari 900 juta menjadi 1,3 juta
meter. Produksi semen memperlihatkan kenaikan yang mencolok dari 900 ribu ton menjadi 5
juta ton.
Di bidang perhubungan tercatat rehabilitasi jalan sepanjang 8000 km dan jembatan
21.000 meter. Di samping itu selesai dibangun pula jalan baru sepanjang 850 km dan
jembatan baru sekitar 6.500 km.
Setahun sebelum Pelita II berakhir, telah terbentuk MPR hasil Pemilu 1977. Pada
tanggal 11 sampai dengan 23 Maret 1978, MPR menyelenggarakan sidang umum. Dalam
sidang tersebut, Soeharto diangkat kembali menjadi Presiden Republik Indonesia dan Adam
Malik sebagai wakil presiden. Setelah diambil sumpahnya, Presiden Soeharto beberapa hari
kemudian mengumumkan susunan Kabinet Pembangunan III.

3. Pelita III
Pelita III dimulai pada 1 April 1979 sampai 31 Maret 1984. Pelita III ini menekankan
pada Trilogi Pembangunan. Asas-asas pemerataan ini dituangkan dalam berbagai langkah
dan kegiatan, antara lain melalui delapan jalur pemerataan, yang meliputi aspek-aspek
pemerataan sebagai berikut.
1) Pemerataan pemenuhan kebutuhan rakyat banyak khususnya pangan, sandang, dan
perumahan (papan).
2) Pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan.
3) Pemerataan pembagian pendapatan.
4) Pemerataan kesempatan kerja.
5) Pemerataan kesempatan berusaha.
6) Pemerataan kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan khususnya bagi generasi muda
dan kaum wanita.
7) Pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh wilayah tanah air.
8) Pemerataan memperoleh keadilan.
Setahun sebelum berakhirnya Pelita III, Pemilu 1982 telah menghasilkan MPR RI
baru. Lembaga ini mengadakan Sidang Umum MPR RI pada tanggal 1 hingga 11 Maret
1983. Dalam Sidang Umum tersebut, Soeharto terpilih kembali sebagai presiden dan Umar
Wirahadikusuma sebagai wakilnya. Beberapa hari kemudian dibentuklah Kabinet
Pembangunan IV.

4. Pelita IV
Pelita IV dilaksanakan pada tanggal 1 April 1984 – 31 Maret 1989. Pada Pelita IV ini,
pemerintah lebih menitikberatkan sektor pertanian menuju swasembada pangan dan
meningkatkan industri yang dapat menghasilkan mesin industri sendiri.
Adapun hasil-hasil yang dicapai hingga akhir Pelita IV adalah sebagai berikut.
1) Swasembada Pangan 

Presiden Soeharto saat menghadiri acara 'Panen Raya' sebagai simbol dari keberhasilan
swasembada pangan.
Presiden Soeharto ketika menerima penghargaan dari FAo atas keberhasilan bangsa
Indonesia di dalam swasembada pangan.

Kecukupan pangan, tempat tinggal yang nyaman, dan jumlah keluarga yang terencana
merupakan factor penting untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera. Ketiga hal ini
menjadi focus perhatian pemerintah Orde Baru.
Sebagai bangsa agraris yang mayoritas masyarakatnya hidup dan bekerja di bidang
pertanian, maka pembangunan di sektor ini mendapat perhatian utama. Kerja keras dalam
bidang pertanian sejak Pelita I (1969), membuat Indonesia mampu meningkatkan hasil
pertanian dan memperbaiki kehidupan petani. Kerja keras para petani ini berhasil
meningkatkan produksi beras dari hanya 12,2 juta ton pada tahun 1969 menjadi lebih dari
25,8 juta ton pada tahun 1984. Hasilnya, pada tahun 1984, Indonesia berhasil mencapai
swasembada beras yang merupakan kebutuhan pokok penduduk.
Keberhasilan ini mempunyai nilai yang spektakuler, karena mengubah Indonesia dari
negara pengimpor beras terbesar di dunia menjadi negara swasembada. Kesuksesan ini pula
yang membuat Indonesia mendapatkan penghargaan dari FAO (Organisasi Pangan dan
Pertanian Dunia). Presiden Soeharto pun diundang untuk berpidato di depan konferensi ke-23
FAO di Roma, Italia, pada tanggal 14 November 1985.
Dalam kesempatan berpidato tersebut, Presiden Soeharto menyampaikan pernyataan
penting yang ditujukan kepada negara-negara maju anggota FAO. Beliau mengatakan, bahwa
selain bantuan pangan yang paling penting adalah kelancaran ekspor komoditi pertanian dari
negara-negara yang sedang membangun ke negara-negara industri maju. Ekspor pertanian
bukan semata-mata untuk meningkatkan devisa, tetapi lebih dari itu, untuk memperluas
kesempatan kerja dan meningkatkan pendapatan petani.

2) Keluarga Berencana
Menurut Presiden Soeharto, kenaikan produksi pangan yang besar tidak akan banyak
artinya jika pertambahan jumlah penduduk tidak terkendali. Karena itu pelaksanaan program
Keluarga Berencana (KB) merupakan hal yang sangat penting untuk meningkatkan
kesejahteraan keluarga. Program KB dikoordinasikan oleh BKKBN (Badan Koordinasi
Keluarga Berencana Nasional) yang dibentuk tahun 1970. Program ini semula memang
ditentang secara luas, namun belakangan mendapat dukungan dari para pemuka agama. KB
bukan lagi sebuah program yang ditekankan oleh pemerintah, tetapi menjadi popular di
kalangan keluarga dan dilaksanakan atas kesadaran diri sendiri.
Strategi yang diterapkan dalam Program Kependudukan dan Keluarga Berencana
adalah tercapainya jumlah penduduk yang serasi dengan laju pembangunan. Program KB
telah berhasil menekan laju pertumbuhan jumlah penduduk secara nyata serta meningkatkan
kesejahteraan penduduk Indonesia.
Selain itu, perhatian Orde Baru terhadap kesehatan dan kesejahteraan masyarakat
dilakukan secara terus-menerus. Program imunisasi polio dengan memberikan vaksin kepada
bayi dan anak-anak balita di seluruh Indonesia merupakan wujud pemerintah dalam
menciptakan kesehatan. Melalui program imunisasi ini, Indonesia waktu itu dinyatakan bebas
polio.
Presiden Soeharto dan jajaran BKKBN yang dipimpin oleh Haryono Suyono, telah
berhasil mengubah persepsi “banyak anak banyak rezeki” menjadi “keluarga kecil bahagia”.
Pandangan hidup ini menjadi begitu mendarah daging dalam masyarakat, baik bagi yang
sudah menikah maupun belum menikah. Atas keberhasilan pelaksanaan Program
Kependudukan dan Keluarga Berencana, Presiden Soeharto pun akhirnya memperoleh
penghargaan tertinggi PBB di bidang kependudukan.

3) Rumah untuk Keluarga


Presiden Soeharto ketika sedang meninjau pabrik yang nantinya akan menciptakan rumah-
rumah murah untuk keluarga.

Program pembangunan perumahan sangat penting bagi kehidupan rakyat, karena


bukan sekedar tempat tinggal, tetapi juga tempat pembentukan watak dan jiwa melalui
kehidupan keluarga. Untuk memantapkan program tersebut, pemerintah membentuk Badan
Kebijaksanaan Perumahan Nasional (BKPN) pada bulan Mei 1972. Sebagai badan pelaksana,
kemudian dibentuk Perum Pembangunan Rumah Nasional.
Pada Pelita II sudah mulai diperkenalkan sistem pembiayaan pembelian rumah melalui
fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Adapun pada Pelita III, pembangunan perumahan
yang terjangkau masyarakat berpenghasilan rendah terus ditingkatkan.
Secara kuantitatif dan kualitatif, pembangunan perumahan terus meningkat dari waktu
ke waktu. Pada Pelita IV, secara kualitatif ditingkatkan pengembangan program perumahan
dan pemukiman di daerah perkotaan. Program tersebut meliputi perintisan perbaikan
lingkungan perumahan kota di 400 lokasi kota, perintisan peremajaan kota di beberapa kota
besar, dan pengembangan kota serta pusat-pusat pertumbuhan baru.
Pada tahun 1987, diadakan pemilu yang menghasilkan terbentuknya MPR-RI yang
baru. Pada tanggal 1 sampai 11 Maret 1988, MPR menyelenggarakan sidang umum. Dalam
Sidang Umum tersebut, disamping menetapkan GBHN berdasarkan Ketetapan MPR RI No.
II/MPR/1988, juga telah mengangkat Soeharto sebagai presiden kembali dan Soedharmono
sebagai wakilnya.

5. Pelita V
Pelita V dilaksanakan mulai 1 April 1989 hingga 31 Maret 1994. Pada Pelita V ini,
pemerintah menitikberatkan pada sektor pertanian serta sektor industri untuk memantapkan
swasembada pangan dan meningkatkan produksi pertanian lainnya serta menghasilkan
barang-barang untuk diekspor. Sementara itu, dalam bidang industri dititikberatkan pada
peningkatan industri yang bersifat pada karya dan industri yang menghasilkan mesin-mesin
industri.
Sesuai dengan ketetapan dalam GBHN, Pembangunan Jangka Panjang 25 tahun
pertama yang dirampungkan dengan selesainya pelaksanaan Pelita V. Setelah itu akan
dilanjutkan, ditingkatkan, dan diperluas dengan Pembangunan Jangka Panjang 25 tahun
kedua yang dimulai dengan Pelita VI. Sasaran utama Pembangunan Jangka Panjang 25 tahun
pertama di bidang ekonomi adalah terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat dan tercapainya
struktur ekonomi yang seimbang. Sasaran dititikberatkan pada kekuatan industry yang
didukung oleh bidang pertanian. Keadaan ini selanjutnya menjadi landasan bidang ekonomi
yang menghantarkan pembangunan Indonesia dalam Repelita VI. Dalam Repelita VI,
Indonesia diharapkan mulai memasuki proses tinggal landas untuk memacu pembangunan
dengan kekuatan sendiri demi menuju terwujudnya masyarakat adil dan makmur berdasarkan
Pancasila.
Satu tahun sebelum Pelita V berakhir, diselenggarakan Pemilu pada tahun 1992.
Berdasarkan hasil pemilu tersebut, terbentuklah lembaga MPR RI yang baru. Pada tanggal 1
sampai 11 Maret 1993 diselenggarakan Sidang Umum MPR. Setelah Soeharto terpilih
kembali sebagai presiden dan Tri Sutrisno sebagai wakilnya, maka dibentuklah Kabinet
Pembangunan VI.

6. Pelita VI
Pelita VI dilaksanakan pada tanggal 1 April 1994 sampai dengan 31 Maret 1999. Pada
Pelita VI ini, pemerintah masih tetap menitikberatkan pembangunan pada sektor bidang
ekonomi. Pembangunan ekonomi ini berkaitan dengan industri dan pertanian serta
pembangunan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai pendukungnya.
Keberhasilan Orde Baru dalam pembangunan di berbagai bidang terhitung sejak Pelita
I hingga Pelita VI, akhirnya mengalami tantangan yang cukup hebat. Pada akhir tahun 1997,
Indonesia diterpa badai krisis yang sulit diatasi. Semua itu bermula dari krisis moneter yang
kemudian berlanjut pada krisis ekonomi yang akhirnya menimbulkan krisis kepercayaan
kepada pemerintah.
Pelita VI yang dimulai sejak 1 April 1994 dan direncanakan berakhir hingga 31 Maret
1999 akhirnya kandas di tengah jalan. Sementara itu, pemilu yang diselenggarakan tahun
1997 kembali dimenangkan oleh Golkar dan menetapkan lagi Soeharto sebagai presiden dan
B.J. Habibie sebagai wakilnya. Namun, semua itu tidak banyak membantu memulihkan
keadaan Indonesia untuk keluar dari krisis.

PENUTUP

A.     KESIMPULAN 
Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang memiliki tatanan atau aturan pemerintahan.
waktu ke waktu dari masa ke masa dalam pemerintahan orde baru yakni tahun 1966 sampai
1998. Pada masa orde baru sistem kelembagaan negara terdiri dari MPR, DPR, DPA, BPK,
Presiden, dan MA. Lahirnya  orde baru  dilatarbelakangi oleh terjadinya G30S 1965, diikuti
dengan kondisi politik, keamanan dan ekonomi yang kacau (inflasi tinggi). Wibawa presiden
Soekarno semakin menurun setelah gagal mengadili tokoh-tokoh yang terlibat G30S.
Presiden mengeluarkan SUPERSEMAR 1966 bagi Letjen Soeharto guna mengambil langkah
yang dianggap perlu untuk memperbaiki keadaan negara. Akhirnya Presiden Soekarno
mengundurkan diri dan digantikan oleh Presiden Soeharto.
Pada masa awal Orde Baru pembangunan ekonomi di Indonesia maju pesat mulai dari
pendapatan perkapita, pertanian, pembangunan infrastruktur dll. Upaya pembangunan
ekonomi dilaksanakan melalui REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun)
yangdimulai pada tanggal 1 April 1969. Namun pada akhir tahun 1997 Indonesia dilanda
krisis ekonomi. Kondisi kian terpuruk ditambah dengan KKN yang merajalela.
Dalam bidang sosial budaya pada masa orde baru telah mengalami kemajuan. Antara lain
makin  meningkatnya  pelayanan  kesehatan bagi masyarakat dan fasilitas pendidikan dasar
sudah makin merata dengan adanya program wajib belajar 9 tahun. Ditetapkan tentang P-4
yaitu Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Eka Parasetia Pancakarsa)untuk
menuju masyarakat yang adil dan makmur.
       Kekurangan Orde baru antara lain :
1.         Maraknya KKN atau yang dikenal dengan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme

2.         Terjadinya kesenjangan sosial antara Orang kaya dengan Orang miskin

3.         Pemerataan Pembangunan yang tidak merata seperti pembangunan yang lambat di daerah
Aceh dan Papua

4.         Pelanggaran HAM yang sering terjadi, demi keamanan.


5.         Birokrasi Indonesia yang menurun drastis

6.         Muncul rasa cemburu antar penduduk akibat transmigrasi yang berlebihan

7.         Timbul kesenjangan pembangunan antara  pusat dan daerah 

8.         Segala bentuk kritikan di haramkan pada saat itu

9.         Pers sangat di batasi pergerakannya

10.     Golkar menjadi senjata utama dalam sistem politik Indonesia pada waktu itu

      Kelebihan Orde Baru antara lain:


1.         Indonesia sukses memerangi buta huruf pada masyarakat 

2.         Sukses melaksanakan swasembada pangan

3.         Pendapatan  perkapita Indonesia pada saat itu mengalami peningkatan yang drastis

4.         Sukses menjalankan Pemilihan umum

5.         Sukses memerangi pengangguran

6.         Berhasil menerapkan sistem Repelita atau (Rencana pembangunan lima tahun)

7.         Berhasil meningkatkan Program transmigrasi

8.         Berhasil mendatangkan investor asing dari luar negeri

9.         Berhasil menjalankan program KB (Keluarga Berencana)

10.     Sukses menegakkan Wajib belajar

B.     SARAN
Dengan permasalahan yang dialami oleh pemerintahan pada masa Orde Baru, seperti
dengan banyaknya hutang luar negeri bangsa Indonesia untuk pembangunan, meskipun
pembangunan berjalan dengan lancar, tapi Indonesia menanggung utang yang begitu banyak.
Selain itu, pemerintah pada zaman tersebut terjadi sentralisasi dalam pemerintahan dan
kegiatan ekonomi.
Oleh karena itu penulis memberikan saran terhadap permasalahan tersebut. Yaitu
lakukan otonomi daerah kepada seluruh propinsi, sehingga potensi-potensi yang ada pada
daerah tersebut bisa dioptimalkan dengan seefisien mungkin. Harus terjadi transparansi
dalam sistem keuangan sehingga masyarakat bisa mengerti.