Anda di halaman 1dari 44

DAFTAR ISI

| Company Profile | 2
Organizational Structure 3
Board of Commissioners 4
Board of Directors 5
Corporate Strategy 6
Good Corporate Governance 6

| Business Model | 7
Product 7
Business Process 7
Competitive Advantage 9
Business Model Canvas 9
Chairman Statement 10

| Historical Financial Performance | 12


Income Statement 12
Balance Sheet 17
ASSET 17
LIABILITIES 20
EQUITY 23
Liquidity 23
Statement of Cash Flow 25
Cash Flow From Operating Activities 27
Cash Flow From Investing Activities 28
Cash Flow From Financing Activities 31
Financial Ratios 32

Income Statement Forecast for 2019 35

Balance Sheet Forecast for 2019 36

Statement of Cash Flow Forecast 39

APPENDIX 41

1
| Company Profile |

PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk telah menjadi bagian penting dari industri
tembakau Indonesia selama lebih dari seratus tahun sejak berdiri di tahun 1913, dengan
produk legendaris Dji Sam Soe yang dikenal dengan sebutan “Raja Kretek”. Pada 1990,
Sampoerna menjadi salah satu emiten di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham HMSP
dan terdaftar dalam list LQ45. Karena keberhasilannya dalam industri tembakau, pada tahun
2005 mayoritas saham Sampoerna diakuisisi oleh PT Philip Morris Indonesia (PMID) yang
merupakan anak perusahaan dari Philip Morris International Inc. (PMI), perusahaan rokok
internasional terkemuka.
Ruang lingkup kegiatan Perseroan meliputi, antara lain manufaktur, perdagangan dan
distribusi rokok. Pencetus dari kategori Sigaret Kretek Mesin Kadar Rendah (SKM LT) di
Indonesia dengan produk Sampoerna A yang diperkenalkan pada 1989, dan sekarang merek
ini adalah merek terdepan di pasar rokok Indonesia. Perseroan juga memproduksi sejumlah
kelompok merek rokok kretek yang telah dikenal luas termasuk Sampoerna Kretek dan
Sampoerna U selain itu juga mendistribusikan Marlboro merek rokok internasional
terkemuka yang diproduksi oleh PMID. Selama lebih dari 10 tahun, Perseroan memegang
posisi pemimpin pasar dengan 33,0% pangsa pasar di pasar rokok Indonesia pada 2017.

2
Organizational Structure

3
Board of Commissioners

Jabatan 2016 2017 2018

Presiden
John Gledhill John Gledhill John Gledhill
Komisaris

Wayan Mertasana Wayan Mertasana Wayan Mertasana


Wakil Presiden
Tantra Tantra Tantra

- Niken K. Rachmad
Komisaris Niken K. Rachmad Niken K. Rachmad
- Yos Adiguna Ginting

- Goh Kok Ho - Goh Kok Ho


- Goh Kok Ho
- Raden Bagus - Raden Bagus
- Raden Bagus Permana
Permana Agung Permana Agung
Agung Drajattun
Drajattun Drajattun

4
Board of Directors

Jabatan 2016 2017 2018

Mindaugas Mindaugas Mindaugas


Presiden Direktur
Trumpaitis Trumpaitis Trumpaitis

- Michael - William Reilly


- William Reilly
Sandritter Giff
Giff
- Andre Dahan - Andre Dahan
- Troy J. Modin
Direktur - Michael Scharer - The Ivan Cahyadi
- Ingo Rose
- Yos Adiguna - Mimi Kurniawan
- The Ivan Cahyadi
Ginting - Yos Adiguna
- Michael Scharer
- The Ivan Cahyadi Ginting
- Elvira Lianita
- Troy J. Modin - Michael Scharer
- Johannes B.
- Mimi Kurniawan - Troy J. Modin
Wardhana

5
Corporate Strategy
Untuk merealisasikan visi dan misi perusahaan serta mempertahankan posisi market
leader, PT HM Sampoerna Tbk menerapkan 5 strategi dasar:
● Right Talent
Memacu kinerja tim-tim karyawan yang beragam untuk mengatasi tantangan yang
terjadi di lingkungan kerja.
● Resource Management
Berfokus pada aktivitas bisnis yang penting dan mengeliminasi tugas-tugas yang tidak
memiliki nilai.
● Rounded Portfolio
Mengembangkan portofolio produk yang mengakomodasi perubahan kebutuhan
perokok dewasa melalui ​brand positioning yang baik dan menyediakan produk yang
tepat pada harga yang tepat di semua segmen.
● SKT Strategy
SKT Strategy digunakan demi untuk mendukung dan melindungi segmen SKT yang
telah membawa Sampoerna ke posisi sebagai pemimpin produsen rokok di Indonesia
● Product Innovation
Memastikan bahwa Sampoerna selalu melihat ke depan sekaligus tetap fokus pada
bisnis yang terjadi saat ini.

Good Corporate Governance


Komunikasi yang transparan diimplementasikan Sampoerna dalam interaksi antar
perusahaan dan karyawan. Sampoerna memiliki program tata kelola yang kuat karena
didukung oleh implementasi aktif prinsip-prinsip tata kelola di seluruh lini dan lintas
organisasi, yaitu: profesionalisme, efisiensi, transparansi, independensi, akuntabilitas,
pertanggungjawaban, dan kewajaran. Dengan diterapkannya prinsip-prinsip tersebut secara
konsisten dalam setiap proses bisnis, Perseroan dapat mempertahankan kinerja yang baik dan
juga memberikan nilai tambah bagi para pemangku kepentingan.

6
| Business Model |

Product

PT HM Sampoerna Tbk memiliki ruang lingkup kegiatan di bidang pembuatan dan


penjualan rokok serta investasi di perusahaan-perusahaan lain. Namun perusahaan berfokus
di bidang manufaktur dan perdagangan rokok kretek secara eksklusif dari campuran cengkeh
dan tembakau. Sampoerna telah meluncurkan berbagai merk seperti Dji Sam Soe, Sampoerna
Kretek, Sampoerna A, Sampoerna U, dan Marlboro. Produk utama mereka telah melingkupi
penjualan bersih 99,9% dan aset konsolidasian sebesar 99,5% .

Business Process
HM Sampoerna memiliki platform produksi dengan tujuh fasilitas milik sendiri (dua
fasilitas untuk Sigaret Kretek mesin di Pasuruan dan Karawang dan lima fasilitas untuk
Sigaret Kretek Tangan di Surabaya, Malang, dan Probolinggo) dan bekerja sama dengan 38
MPS (Mitra Produksi Sigaret) untuk memproduksi Sigaret Kretek Tangan dan berhasil
mempekerjakan 41.900 karyawan.
Proses Produksi dibagi menjadi dua tahapan :
1. Persiapan dan pencampuran tembakau dengan cengkeh yang hasilnya disebut
cut filler

7
2. Pemindahan cut filler menjadi rokok filter yang dipisah melalui buatan mesin
(Dji Sam Soe, Sampoerna U dan Marlboro) dan buatan tangan (Dji Sam Soe
dan Sampoerna Kretek) dan sampai pengemasan produk rokok jadi dan
didistribusikan ke konsumen.

8
Competitive Advantage
1. Brand
PT HM Sampoerna memiliki ​brand image yang baik dimana perusahaan telah meraih
banyak penghargaan nasional dan internasional. Hal ini membuat konsumen semakin
yakin dan percaya terhadap produk yang ditawarkan perusahaan.
2. Customer loyalty
Sebagai perusahaan yang telah berdiri sejak 1913, rokok yang ditawarkan oleh
perusahaan menjadi produk andalan perokok dewasa. Perasaan ​attached pada produk
HM Sampoerna membuat perusahaan lebih mudah dalam mempertahankan penjualan.
3. Price
Sebagai perusahaan tembakau terbesar di Indonesia, HM Sampoerna dapat
memberikan harga yang kompetitif salah satunya dengan strategi ​rounded portfolio
yang dilakukan perusahaan. Hal ini menjadi suatu keunggulan karena semakin banyak
konsumen yang dapat menjangkau produk perusahaan.

Business Model Canvas

1. Key Partners 2. Key Activities 3. Value Proposition

- Bekerja sama dengan 38 - Manufaktur dan - Kemudahan masyarakat


Mitra Produksi Sigaret perdagangan rokok menjangkau produk karena
(“MPS”) produk memiliki dominasi
- Investasi pada perusahaan
yang besar di ​market
- Organisasi masyarakat & lain
UKM - Memberikan kualitas
produk yang terbaik yang
sesuai preferensi konsumen

4. Customer 5. Customer Segments 6. Cost Structure


Relationship

- Membangun hubungan - Perokok dewasa - Biaya gaji


dengan memperhatikan
- Biaya produksi
preferensi perokok dewasa
- Biaya penjualan

9
7. Key Resources 8. Revenue Streams 9. Channels

- Modal internal - Penjualan rokok domestik - Distribusi melalui 114


SKM, SKT, SPM lokasi kantor cabang zona,
- ​Human resources
kantor penjualan dan pusat
- Penjualan aset tetap
distribusi di seluruh
Indonesia

Chairman Statement
Tahun 2016
1. Penurunan volume penjualan sebesar 1.4% (105.5 miliar batang) akibat perlambatan
ekonomi.
2. Tarif pajak cukai sebesar 15%.
3. Memimpin industri rokok di Indonesia dengan pangsa pasar 33.4%. Pangsa pasar
menurun cerminan dari melemahnya penjualan merek-merek rokok SKM kadar tar
rendah. Produk baru dari perusahaan memperlihatkan kinerja di atas target.
4. Pertumbuhan laba operasi 13.9% dibandingkan tahun 2015.
5. Efektif 14 Juni 2016, perusahaan melakukan aksi korporasi stock split 1:25 dengan
tujuan meningkatkan likuiditas saham.
6. Komitmen pada Falsafah Tiga Tangan Sampoerna yaitu kerja keras, kreativitas, dan
dedikasi karyawan memungkinkan perseroan untuk mencapai target.
Tahun 2017
1. Industri rokok indonesia turun 2,6% akibat kenaikan pajak cukai yang lebih tinggi
dari tingkat inflasi.
2. Penjualan selama setahun sebesar 101,3 miliar batang mencerminkan penurunan
volume penjualan sebesar 4% (33% pangsa pasar) dan meraih pendapatan bersih
serta laba bersih sebesar Rp 99,1 triliun dan Rp12,7 triliun.
3. Prospek perekonomian Indonesia tetap positif dengan pertumbuhan PDB yang lebih
tinggi (5.4%) dari tingkat inflasi (3.5%).
4. Tantangan terkait dengan pemulihan pengeluaran konsumen dan perubahan perilaku
konsumen dan kenaikan pajak cukai yang lebih tinggi dari pada tingkat inflasi.
5. Sampoerna memimpin di 3 kategori produk berbeda yaitu Sigaret Kretek Tangan
(SKT), Sigaret Kretek Mesin (SKM), dan Sigaret Putih Mesin (SPM).

10
6. Mulai mengembangkan ​Wellpositioned Product Portfolio melalui penilaian
portofolio pada setiap kategori produk dan berbagai tingkat harga, serta
mengidentifikasi peluang untuk menutup kesenjangan pada portofolio produk dengan
menentukan harga yang tepat untuk memuaskan kebutuhan konsumen.
Tahun 2018
1. Perekonomian Indonesia stabil, dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB)
sebesar 5,2% dan laju inflasi berada di kisaran 3%.
2. Pencapaian penjualan sebesar 101.4 miliar batang, meningkat sebesar 0.1% dari tahun
2017 dan kembali memimpin industri rokok dengan pangsa pasar sebesar 33%.
3. Pendapatan bersih mencapai Rp 106,7 triliun dan laba bersih Rp13,5 triliun
(masing-masing meningkat 7,7% dan 6,8% dibanding tahun sebelumnya).
4. Mendapat penghargaan dari Top Employers Institute sebagai “The Top Employer
Indonesia 2018” dan juga sebagai “2 Most Improved PLCs (Indonesia)” yang
diselenggarakan oleh ASEAN Corporate Governance and ASEAN Capital Market
Forum.
5. Nilai cukai rata-rata tertimbang industri naik sebanyak 11%, lebih tinggi dari tingkat
inflasi.
6. Masih mengembangkan ​Wellpositioned Product Portfolio melalui penilaian portofolio
pada setiap kategori produk dan berbagai tingkat harga, serta mengidentifikasi
peluang untuk menutup kesenjangan pada portofolio produk dengan menentukan
harga yang tepat untuk memuaskan kebutuhan konsumen.
7. Berhasil mendapat posisi terbesar kedua di pasar segmen Sigaret Kretek Mesin Kadar
Tinggi (SKM HT) dengan 12,2% pangsa pasar, posisi terdepan di segmen Sigaret
Kretek Mesin Kadar Rendah (SKM LT) dan SKT dengan pangsa pasar sebesar 47,9%
dan 37.7%.
Analisa Singkat
Di tengah persaingan industri tembakau yang semakin ketat, pada tahun 2016 dan
2017 volume penjualan mengalami penurunan sebesar 1,4% dari tahun 2015 dan sebesar 4%
dari tahun 2016 akibat perlambatan ekonomi, pajak cukai rokok yang mengalami kenaikan
rerata tertimbang sebesar 15% (lebih tinggi dari tingkat inflasi). Alasan lainnya disebabkan
oleh persaingan dengan kompetitor di segmen SKM dan SPM serta preferensi perokok
dewasa yang pindah dari SKT ke SKM. Namun di tahun 2018 volume penjualan mengalami
kenaikan 0.1% dari tahun 2017. Strategi perusahaan yang tepat membuat Sampoerna tetap
memimpin industri rokok dengan pangsa pasar 33% per 2018. Prospek perekonomian
Indonesia masih sangat bagus dikarenakan PDB mengalami kenaikan tiap tahunnya.

11
| Historical Financial Performance |

Income Statement
Revenue

Sumber: Annual Report HMSP thn 2016, 2017, 2018

COGS, Sales, and Administrative Expense

Sumber: Annual Report HMSP thn 2016, 2017, 2018

12
Sumber: Annual Report HMSP tahun 2016, 2017, 2018

Pada bar chart Income Statement di atas dapat dilihat bahwa setiap tahunnya
perusahaan mengalami kondisi stabil pada proporsi COGS-nya kurang lebih 1%.

Sumber: Annual Report HMSP tahun 2016, 2017, 2018

Berdasarkan ​bar chart ​yang disajikan, dapat dilihat setiap tahunnya segmen SPM
mengalami penurunan pendapatan dan juga volume penjualan dikarenakan pemerintah
membebankan porsi cukai terbesar pada segmen ini dibanding 2 segmen lainnya. Segmen
SKT juga cenderung menurun akibat perubahan preferensi konsumen dari SKT ke SKM. Di
tahun 2017 pendapatan SKT mengalami kenaikan meskipun volume penjualan menurun
karena kenaikan harga rokok. Segmen SKM mencetak kenaikan pendapatan terus-menerus
karena performa produk andalan Sampoerna, Dji Sam Soe Mild dan Marlboro Filter Black.

13
Sumber: Annual Report HMSP thn 2016, 2017, 2018

Peningkatan COGS disebabkan oleh peningkatan cukai pajak setiap tahunnya. Cukai
pajak memberikan kontribusi yang paling besar bagi COGS sebesar rata-rata 66,3 %.
Hal ini mengakibatkan menurunnya proporsi Gross Profit yang diterima perusahaan
walaupun secara nominal mengalami peningkatan. Selain itu, bertambahnya proporsi beban
penjualan dan beban administrasi juga membuat penurunan pada net income tahun 2017.
Namun pada tahun 2018, proporsi net Income kembali meningkat dikarenakan adanya
kenaikan pada pendapatan financial dan pendapatan lainnya.

HORIZONTAL ANALYSIS
Figure: Horizontal Analysis

ACCOUNT TITLE 2018 2017 2016

NET REVENUES 7.72% 3.80%

COGS 8.51% 4.56%

GROSS PROFIT 5.26% 1.51%

Selling expense 0.61% 2.64%

General and Administrative exp 25.23% 6.28%

Other Income 249.59% -77.68%

14
Other Expenses 48.70% -31.93%

Finance Income 22.91% -4.37%

Finance Costs 19.43% 14.37%

Share of profit (loss) of associates 9.02% 1578.18%


accounted for using equity method

PROFIT BEFORE INCOME TAX 6.31% -0.69%

Income tax expense 4.70% -0.59%

Profit for the year 6.85% -0.72%

OTHER COMPREHENSIVE
INCOME

Remeasurement of post employee -149.16% -19.69%


benefits

Related income tax expense -150.13% -19.74%

Total OCI that will not be reclassified -148.84% -19.67%


to profit or loss, after tax

cumulative translation adjustments -44.81% -264.39%

OTHER COMPREHENSIVE -148.47% -19.23%


INCOME, NET OF TAX

TOTAL COMPREHENSIVE 9.18% -0.38%


INCOME FOR THE YEAR

Sumber: Annual Report HMSP thn 2016, 2017, 2018

Secara ​general​, perusahaan mencatatkan performa yang cukup memuaskan setiap


tahunnya. Berdasarkan perhitungan yang telah disajikan di tabel, ​pendapatan perusahaan
meningkat rata-rata 5.76% selama periode tahun 2016 hingga 2018. Pertumbuhan yang
positif ini ternyata juga berpengaruh pada beban langsung, karena ​COGS perusahaan

15
meningkat rata-rata sebesar 6.155% pada periode yang sama. COGS yang meninggi
diakibatkan oleh pita cukai rokok yang terus ditingkatkan oleh pemerintah (berdasarkan
PMK Nomor 198/PMK.10/2015 ​dan ​PMK Nomor 146/PMK.010/2017) ​dalam rangka
mengurangi konsumsi rokok yang dinilai kurang bermanfaat. Meski begitu, perusahaan tetap
mencetak pertumbuhan pada gross profit. Selain daripada itu, ​beban penjualan dan beban
administrasi memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap kinerja keuangan perusahaan.
Selama periode 2016-2018, beban penjualan tidak ada perubahan yang signifikan, namun,
beban administrasi melonjak 25.23% pada tahun 2018. Salah satu faktor yang membuat
hal ini terjadi adalah karena melonjaknya biaya jasa manajemen yang dibebankan oleh Philip
Morris International SA dan Philip Morris International IT Service Center SARL.
Untuk ​other income mengalami penurunan signifikan dikarenakan adanya penurunan
paling signifikan di penjualan aset tetap. Sedangkan pada 2017 ke 2018 mengalami
peningkatan signifikan dikarenakan adanya keuntungan penjualan aset tetap yang meningkat
1204 %. ​Total pendapatan keuangan bersih di 2018 meningkat 23,0% menjadi Rp1,0
triliun, terutama disebabkan kenaikan suku bunga rata-rata ditambah saldo kas rata-rata yang
lebih tinggi pada tahun 2018 dibanding 2017. Pada tahun 2018, pendapatan keuangan
diperoleh dari pendapatan bunga atas penempatan deposito berjangka sebesar Rp141.53
miliar dan pinjaman pihak terkait sebesar Rp 51.84 miliar.
Laba bersih Perseroan pada tahun 2018 mengalami peningkatan sebesar 6,8%
menjadi Rp13,5 triliun dari Rp12,7 triliun pada tahun 2017. Hal ini disebabkan oleh
penetapan harga dan pengelolaan biaya yang tepat. ​Laba per saham untuk tahun ini naik
6,8% menjadi Rp116 per saham dibanding Rp109 pada tahun 2017. ​Price Earnings Ratio per
31 Desember 2018 adalah 31,9.
Secara keseluruhan, pajak cukai sangat mempengaruhi kinerja Sampoerna.
Dikarenakan pajak cukai yang selalu lebih tinggi dibanding tingkat inflasi, perusahaan mulai
mengembangkan ​Well-positioned Product Portfolio di tahun 2017 melalui penilaian
portofolio pada setiap kategori produk dan berbagai tingkat harga, serta mengidentifikasi
peluang untuk menutup kesenjangan pada portofolio produk dengan menentukan harga yang
tepat untuk memuaskan kebutuhan konsumen. Hasilnya dapat dilihat pada volume penjualan
2018 yang mengalami kenaikan sebesar 0.1% (101.4 miliar batang). Dampak kenaikan beban
cukai sangat terasa terutama pada segmen SPM (di kisaran 12-22%) yang menyebabkan
berkurangnya minat konsumen dan akibatnya segmen ini mengalami penurunan volume
penjualan dari tahun 2016-2018. Menurunnya volume segmen SKT disebabkan oleh
perubahan preferensi konsumen ke SKM (namun pendapatan tetap naik karena strategi
penetapan harga yang tepat).

16
Balance Sheet

Sumber: AR HMSP tahun 2015-2018

Grafik diatas menggambarkan


perubahan ​balance sheet perusahaan
HMSP dari tahun 2015 hingga 2018.
Total asset dan total liabilitas
perusahaan selalu mengalami
peningkatan setiap tahunnya. Pada
tahun 2016, terjadi peningkatan total
aset yang signifikan, yaitu sebesar
11.83%. Namun, hal ini disertai oleh peningkatan liabilitas yang lebih besar, yaitu 39.01%
dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Peningkatan nilai liabilitas ini disebabkan oleh
kenaikan utang pajak, utang usaha dan lainnya serta liabilitas imbalan kerja. Perubahan total
aset dan total liabilitas yang sedemikian rupa menyisakan pertumbuhan ekuitas yang terbatas,
meskipun, pertumbuhan yang dialami masih positif.

ASSET

Sumber: AR HMSP tahun 2015-2018

Figur diatas menggambarkan komponen


paling signifikan terhadap total aset
selama 4 tahun terakhir, mulai dari
tahun 2015. ​Inventories merupakan
komponen dengan kontribusi terbesar,
sebelum nilainya dikalahkan oleh kas
dan setara kas pada tahun 2018. Dari
tahun ke tahun, nilai inventories
mengalami penurunan yang cukup dalam. Kas dan setara kas, di sisi lain, mengalami
peningkatan yang sangat drastis setiap tahunnya dengan rata-rata peningkatan kas dan setara
kas mencapai 116.46%. Namun komponen seperti fixed assets dan trade receivables dari
pihak ketiga terbilang stabil.

17
CURRENT ASSET
1. Cash and Cash Equivalent

Sumber: AR HMSP tahun 2015-2018

Dari tahun ke tahun proporsi Kas dan Setara Kas terhadap total aset mengalami
peningkatan. Ini mencerminkan bahwa sebenarnya keuangan perusahaan jangka pendek
semakin diperkuat posisinya. Pada tahun 2016 kas dan setara kas sebesar Rp 5 triliun. Pada
tahun 2017 meningkat menjadi Rp 7,5 T. Pada tahun 2018 meningkat menjadi Rp 15,5
triliun.
Hal ini didukung oleh peningkatan arus kas dari kegiatan operasional terutama
penerimaan kas dari pelanggan (sebesar 8% atau sekitar Rp 8 Triliun di tahun 2018) yang
diimbangi dengan pembayaran utang cukai (naik sekitar Rp1.5 triliun di tahun 2018) dan
pemasok (naik sekitar Rp2 triliun di tahun 2018). Namun di tahun 2017 terjadi penurunan
pembayaran kas kepada pemasok sebesar 12.77% atau 4 Triliun dibandingkan 2016 dan
diimbangi dengan kenaikan pembayaran cukai sebesar Rp7.6 triliun.
2. Trade Receivable

Sumber: AR HMSP tahun 2015-2018

Piutang usaha dari pihak ketiga terutama terdiri atas tagihan kepada
pedagang-pedagang rokok yang memiliki jatuh tempo yang berbeda-beda. Dari segi
proporsional setiap tahun mengalami perubahan namun secara nominal di tahun 2017
mengalami kenaikan dan pada 2018 dapat dikatakan stabil.

18
3. Inventory

Sumber: AR HMSP tahun 2015-2018

Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa proporsi ​inventory mengalami penurunan
setiap tahunnya. Pada 2016, Inventory mencakup 45.74% dari total aset lalu turun menjadi
41.78% pada tahun berikutnya dan pada 2018 inventory hanya mencakup 32.58% dari total
aset. Dari sisi nominal, Inventory juga mengalami penurunan setiap tahunnya. Pada tahun
2016, inventory sebesar Rp 19.4 T turun menjadi Rp 18 T dan turun lagi menjadi Rp 15.1 T
pada tahun 2018. Proporsi bahan baku berada di kisaran 49.98%-60.39% dalam kurun 4
tahun terakhir dan selalu mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pasokan
cengkeh akibat cuaca yang tidak menentu dan juga volume penjualan yang menurun sehingga
barang jadinya bertambah banyak.
NON CURRENT ASSET
1. Fixed Asset

Sumber: AR HMSP tahun 2015-2018

Dapat dilihat bahwa Proporsi Fixed Asset terhadap total


Aset mengalami peningkatan dari tahun 2016 ke 2018.
Namun dari nominalnya sempat turun pada 2017 sebesar
-1.4% atau kurang lebih Rp 100 Miliar. Pada tahun 2018
kembali meningkat sebesar 5.8% atau kurang lebih Rp 400
Miliar. Hal ini disebabkan karena adanya pembelian pada
fixed asset dan pembangunan properti investasi (tanah dan bangunan dan prasarana) sebesar
Rp 0.2 triliun.

19
LIABILITIES
Sumber: AR HMSP tahun
2015-2018

Dari grafik diatas dapat


dilihat selama tahun 2015
hingga 2018 ​liabilities
terus mengalami
peningkatan dikarenakan
adanya kenaikkan utang
pajak dan utang usaha
(utang pajak terbesar di
tahun 2017 sebesar Rp1.27
T), peningkatan liabilitas
imbalan kerja jangka
panjang karena penurunan tingkat diskonto pada tahun 2017 dan adanya peraturan terbaru
dari kementerian keuangan tahun 2017 (No.57/PMK.04/2017). Rasio Jumlah liabilitas
terhadap jumlah aset yang rendah sebesar 0.20-0.24 mencerminkan kapasitas perusahaan
yang kuat dalam pertumbuhannya dalam menggunakan sumber dana dan ekuitas milik
sendiri.
Berdasarkan grafik diketahui bahwa komponen terbesar dari liabilities ​selama tahun
2015 hingga 2018 adalah ​trade & others payables dengan ​range sekitar 30% hingga 45%
yang disusul dengan ​fixed liabilities sebesar 21%-29%. ​Tax payable j​ uga memiliki proporsi
sebesar 15% hingga 21% dari ​total liabilites​. Tahun 2018 perusahaan memiliki hutang cukai
sebesar 23.75% dari​ total liabilities.
CURRENT LIABILITIES
1. Trade & others payables

Sumber: AR HMSP tahun 2015-2018

20
Berdasarkan grafik diatas, bisa dilihat bahwa proporsi ​third parties terhadap
total liabilities mengalami penurunan setiap tahunnya walaupun nominalnya
meningkat sedikit dengan kenaikan rata-rata 2% setiap tahun sebesar Rp2.56 T, Rp
2.59 T dan Rp2.65 T. Trade and other Payables pihak ketiga berasal dari biaya
produksi, pembelian tembakau, flavour, saos, bahan pembungkus, biaya iklan dan
promosi, dan aset tetap.
Sedangkan ​related parties mengalami penurunan pada 2017 sebesar 18% (
kurang lebih turun Rp300 miliar yang disebabkan oleh menurunnya utang usaha
perusahaan PT Philip Morris Indonesia) dan pada 2018 menurun sebesar 25% (
kurang lebih turun Rp260 miliar yang disebabkan oleh menurunnya utang usaha
perusahaan PT Philip Morris Indonesia).
2. Tax Payable

Sumber: AR HMSP tahun 2015-2018

Dapat dilihat bahwa


proporsi ​corporate
income tax dan ​other
taxes terhadap ​total
liabilities bervariasi dari
tahun 2016 sampai 2017
begitupun dengan
nominalnya. Dalam laporan keuangan terdapat rincian mengenai perubahan yang
terjadi setiap tahunnya.
3. Excise Tax Payable

21
Sumber: AR HMSP tahun 2015-2018

Pada tahun 2018 terdapat kenaikan utang cukai sebesar Rp 2,7 triliun karena adanya
peraturan terbaru dari Kementerian Keuangan tahun 2017 (No.57/PMK.04/2017) terkait
pengembalian penundaan pembayaran cukai dengan jangka waktu 2 bulan yang diberikan
untuk pembelian 2 minggu terakhir di tahun 2018, pembelian bulan terakhir di tahun 2019,
pembelian 1,5 bulan terakhir di tahun 2020 dan pembelian 2 bulan terakhir di tahun 2021.
Serta sebagian diimbangi dengan penurunan PPN untuk pembelian cukai. Tidak ada
perubahan signifikan pada kewajiban tidak lancar dibandingkan tahun 2017.
NON-CURRENT LIABILITIES

Sumber: AR HMSP tahun 2015-2018

Dari ​non-current liabilities,​ terdapat akun employee benefit liabilities yang memegang
proporsi terhadap total liabilities yang paling besar pada tahun 2016, 2017, dan 2018 atau
sebesar 21,6%, 24,8% dan 19,59%. Pada tahun 2016 naik dari Rp 1,3 T menjadi Rp 1,8 T
karena kenaikan kewajiban imbalan pascakerja sebesar Rp 500 miliar. Di laporan tahunan
dijelaskan bahwa salah satu penyebab yang paling signifikan adalah perubahan akun
kerugian/keuntungan perubahan asumsi aktuarial dari -Rp137 miliar menjadi +270 miliar (
perbedaan kurang lebih Rp410 miliar). Pada tahun 2017 naik dari Rp 1,8 T menjadi Rp 2,2 T
karena kenaikan Kewajiban imbalan pascakerja sebesar Rp 300 miliar. Pada tahun 2018
stabil pada range Rp 2.2 T. Sedangkan akun Financial lease Liabilities dan Deferred revenue
memegang proporsi kecil dan stabil.

22
EQUITY

Sumber: AR HMSP tahun 2015-2018

Ekuitas perusahaan berada pada level yang stabil dengan tren jangka panjang yang
positif. Perubahan ekuitas ini paling terpengaruh oleh laba yang diatribusikan kembali ke
perusahaan. Pada tahun 2016, ekuitas perusahaan meningkat banyak sebesar 6.74%
dibandingkan tahun sebelumnya. Tahun berikutnya, terjadi penurunan yang sangat kecil yaitu
-0.18%, dan diikuti dengan peningkatan 3.65% pada tahun 2018. Pada tahun 2018 salah satu
peningkatannya disebabkan oleh unappropriated retained earning yang meningkat sebesar
9.2% atau kurang lebih Rp1,1 miliar.

Liquidity
Ditinjau dari nilai kas dan setara kas yang dimiliki oleh perusahaan, terutama pada tahun
2018, HM Sampoerna mempunyai likuiditas yang baik. Berdasarkan perhitungan rasio,
seperti current ratio, quick ratio, dan cash ratio, likuiditas perusahaan sangat impresif,
masing-masing sebesar 4.3, 2.57, dan 1.76. Hal ini memberi indikasi bahwa keuangan
perusahaan dalam kondisi yang sangat sehat dan aman.

2018 2017 2016

23
Current Ratio 4.3 5.27 5.22

Quick Ratio 2.57 2.49 2.2

Cash Ratio 1.76 1.15 0.78


Sumber: AR HMSP tahun 2015-2018

Perusahaan memiliki current ratio dan quick ratio yang baik dari tahun 2016-2018.
Artinya perusahaan masih bisa dan mampu untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya
dengan aset perusahaan yang likuid saat ini. Sedangkan cash ratio perusahaan juga
mencerminkan kondisi yang baik baik perusahaan. Dapat dilihat dari tahun ke tahun cash
ratio meningkat seiring dengan meningkatnya kas perusahaan.

Capital Structure Composition and Solvency

Sumber: AR HMSP tahun 2015-2018

Solvabilitas PT HM Sampoerna Tbk, yaitu kemampuan perusahaan dalam membayar


seluruh hutangnya, terlihat dengan lebih jelas menggunakan ​pie-chart komposisi struktur
kapital. Visualisasi ini memperlihatkan bahwa total ekuitas perusahaan jauh lebih besar
daripada total liabilitasnya, dengan debt to equity ratio sebesar 0.32 (2018) dan 0.26 (2017).
Di tahun 2017 dan 2018 sebagian besar aset perusahaan dibiayai oleh ekuitas, sehingga
solvabilitas perusahaan berada di level yang sangat baik. Dengan leverage yang kecil,
perusahaan mempunyai komitmen bunga yang rendah. Peningkatan liabilitas sebesar 39%
dan ekuitas yang hanya sebesar 6.7% di tahun 2016 menyebabkan ​debt to equity ratio-​nya
mencapai 0.66.
Total debt ratio dari tahun 2016, 2017 dan 2018 sebesar 0.19. 0.21, 0.24. Angka ini
mencerminkan bahwa perusahaan tidak mengandalkan utang dalam pembiayaan asetnya.
Sedangkan equity multiplier berkisar di angka 1.24, 1.26 dan 1.31 pada tahun 2016, 2017 dan
2018. Equity multiplier yang rendah juga mengindikasikan bahwa sebagian aset perusahaan
dibiayai oleh modal internal. Equity multiplier yang normal berkisar di antara 2-3.

24
Statement of Cash Flow

2018 2017 2016 2015

Cash flows from operating activities

Cash receipt from customers 116,739,187 108,033,945 102,589,715 94,652,091

Cash payments to supplier (29,605,986) (27,049,879) (31,009,499) (31,740,825)

Cash payments to employee (4,814,044) (4,690,431) (4,243,269) (4,018,073)

Corporate income tax paid (4,412,498) (4,337,944) (3,826,053) (3,824,285)

Cash receipts from claim for tax refunds 376,689 0 0 0

Excise tax paid (59,128,307) (57,699,942) (50,028,125) (54,237,237)

Finance costs (30,495) (25,533) (22,324) (138,425)

Finance income 1,001,440 864,745 775,881 68,963

Other operating activities 67,497 281,354 (159,747) 48,954

Net cash generated from operating 20,193,483 15,376,315 14,076,579 811,163


activities

Cash flows from investing activities

Receipt of other receivable from related 0 1,481,410 693,106 0


parties - net

Loans provided to related parties (5,443) 0 0 (2,271,752)

Increase/(decrease) in other short-term 1,100,408 (739,914) (284,631) (1,349,701)


financial assets

Proceed from business transfer 89,939 0 0 0

Proceeds from sale of fixed assets and 137,904 23,915 90,806 108,096
assets of disposal group classified as
assets held for sale

Receipt of dividend from associate 0 5,253 0 2,402

Proceeds from divestment of subsidiary, 0 0 188,779 0


net cash released

25
Payments for:

- Purchases of fixed assets (984,541) (1,141,933) (1,050,240) (832,984)

- Purchases of investment properties (4,676) (9,780) (239) (190,484)

Net cash generated dari from/(used 333,591 (381,049) (362,419) (4,534,423)


in) investing activities

Cash flows from financing activities

Payment of other short-term financial 0 0 0 (5,329)


liability

Repayments of related party loan 0 0 0 (2,699,995)

Repayments of finance leases (31,442) (22,255) (24,406) (20,546)

Dividends paid to shareholders (12,480,930) (12,527,457) (10,352,309) (12,250,485)

Proceeds from limited public offering 0 0 0 20,768,676

Payments of share issuance costs 0 0 0 (324,751)

Net cash used in financing activities (12,512,372) (12,549,712) (10,376,715) 5,467,570

Net increase in cash and cash 8,014,702 2,445,554 3,337,445 1,744,310


equivalents

Cash and cash equivalents at beginning 7,501,737 5,056,183 1,718,738 (25,572)


of the year

Cash and cash equivalents at end of the 15,516,439 7,501,737 5,056,183 1,718,738
year
Sumber: AR HMSP tahun 2015-2018

Figur diatas merupakan statement of cash flow perusahaan selama 3 tahun terakhir,
dengan net cash flow yang selalu berada pada level positif, atau selalu mengalami
peningkatan. Dari cash flow yang positif ini, secara general, operating cash flow
berkontribusi paling besar. Setiap tahun, perusahaan selalu mendapat arus kas masuk
(positive cash flow) dari kegiatan operasi. Hal ini memberikan implikasi bahwa keuangan
perusahaan dalam kondisi yang sangat sehat. Walaupun, pada tahun 2015, operating cash
flow perusahaan sangat kecil diakibatkan excise tax yang tinggi dan receipt from customer
yang tidak terlalu besar. Pada tahun yang sama, perusahaan juga banyak membeli aset dan

26
memberikan pinjaman. Sehingga, aktivitas investing perusahaan menggunakan banyak kas.
Terdapat akun ​receipt of other receivables from related parties y​ ang contohnya didapat dari
perolehan penjualan mesin dan peralatan yang belum dilunasi oleh pihak berelasi. ​Dengan
begitu banyak pengeluaran, perusahaan melakukan HMETD untuk mencukupi modal kerja,
sebesar 2,69 Triliun Rupiah.
Tahun berikutnya, perusahaan membukukan operating cash flow yang sangat besar,
sehingga tidak perlu mendapatkan dana tambahan dari aktivitas financing. Setiap tahunnya,
perusahaan selalu mendistribusikan hampir seluruh net income yang dibukukan tahun
sebelumnya. Artinya, perusahaan secara keseluruhan mempunyai finansial yang sangat kuat.

Cash Flow From Operating Activities

Sumber: AR HMSP tahun 2015-2018

Pencatatan uang yang masuk dari aktivitas operasi dari PT HMSP terdiri dari 4 akun
yaitu Receipt from Customer, Receipt from Claim for Tax refund, Finance Income, dan Other
Operating activities. Bisa kita lihat dari grafik diatas Receipt from Customer memiliki
kontribusi terbesar untuk setiap tahunnya dari Rp102 miliar, Rp108 miliar dan Rp116 miliar
yang berarti mengalami peningkatan setiap tahunnya dalam range 5% -8 % atau sekitar 6 - 8
Triliun.
Dari finance income mengalami peningkatan setiap tahunnya pada tahun 2016 sampai
2018 sebesar Rp770 m, Rp864 m dan Rp 1 T yang disebabkan kenaikan suku bunga rata-rata
ditambah saldo kas rata-rata yang lebih tinggi. Pada tahun 2018 finance income diperoleh
dari pendapatan bunga atas penempatan deposito berjangka dan pinjaman pihak terkait.
Sedangkan pada 2017 dari pendapatan bunga dan transaksi swap valuta asing.
Untuk pencatatan uang yang keluar terdapat 5 akun yaitu Payment to Supplier,
Payment to Employee, Income Tax Paid, Excise Tax Paid, dan Finance Cost. Dari grafik
diatas, Excise Tax Paid memiliki kontribusi terbesar untuk uang keluar yaitu kisaran 50
hingga 60 triliun dan setiap tahunnya terus mengalami peningkatan. Peningkatan ini terjadi

27
karena adanya peningkatan pajak cukai yang terus meningkat setiap tahunnya sehingga
berpengaruh kepada pajak perusahaan yang memiliki kontribusi pengeluaran yang paling
besar.
Untuk Payment to supplier pada tahun 2017 mengalami penurunan karena memang
adanya penurunan pembelian raw material , namun pada 2016 mengalami kenaikan seiring
kenaikan pembelian raw material.

Cash Flow From Investing Activities

Sumber: AR HMSP tahun 2015-2018

Pada tahun 2016 Cash Flow from investing activities terjadi penurunan sebesar 92%
atau kurang lebih sebesar Rp4.2 Triliun dari tahun sebelumnya. Pada Tahun 2017
pengeluaran investasi meningkat sebesar Rp20 miliar. Pada tahun 2018 investasi memberikan
hasil yang positif menjadi surplus Rp 333 miliar.
Arus kas yang masuk dari aktivitas investasi adalah Penerimaan piutang lainnya dari
pihak berelasi, penambahan aset keuangan jangka pendek lainnya, penerimaan dari
pengalihan bisnis, penerimaan dari penjualan aset tetap dan aset atas kelompok lepasan yang
dimiliki untuk dijual. Sedangkan arus kas yang keluar dari kegiatan investasi adalah
Pemberian Piutang kepada pihak berelasi, Pembayaran aset tetap dan pembelian properti
investasi.
1. Receipt of other receivable from related parties - net

Sumber: AR HMSP tahun 2015-2018

28
Perusahaan menerima piutang dari Phillip Morris International Inc. Pada tahun
2016 sebesar Rp 693,1 Miliar yang jatuh tempo pada 31 december 2016 dan pada
tahun 2017 sebesar Rp1,2 Triliun yang jatuh tempo pada 31 Januari - 18 Mei 2017 .
Pada tahun 2018 tidak ada penerimaan piutang karena belum ada hutang yang jatuh
tempo pada tahun ini.
2. Increase/(decrease) in other short-term financial assets

Sumber: AR HMSP tahun 2015-2018

Peningkatan atau penurunan aset keuangan jangka pendek lainnya berasal dari
pengelolaan kas dengan PMID dan PMSISC. Perubahan terjadi karena adanya
perubahan pada tingkat suku bunga setiap tahunnya. Pada 2016 tingkat suku bunga
berada pada kisaran 3,70%-9,34%, pada 2017 berkisar pada 3.39%-6.25%, dan pada
2018 suku bunga yang berlaku sebesar 3.60%-7.81%.
3. Proceed from business transfer

Sumber: AR HMSP tahun 2015-2018

Pada tanggal 29 Juni 2018, Perusahaan menandatangani perjanjian pengalihan


bisnis dengan PT Philip Morris Sampoerna International Service Centre ( PMSISC ).
Bisnis yang Dialihkan antara lain jasa akuntansi, perpajakan, pengalihan liabilitas
imbalan pasca kerja senilai Rp 25,7 miliar, penjualan barang elektronik kepada
PMSISC senilai Rp 4,7 miliar, dll.
4. Penjualan aset tetap dan aset atas kelompok lepasan yang dimiliki untuk dijual.
Penjualan aset tetap pada 2017 menurun sebesar 73% atau sebesar Rp 67
miliar. Sedangkan pada tahun 2018 penjualan aset tetap meningkat menjadi 475%
atau sebesar Rp 115 miliar.

29
Sumber: AR HMSP tahun 2015-2018

5. Pembelian aset tetap

Sumber: AR HMSP tahun 2015-2018

Pada tahun 2016 perusahaan menggunakan kasnya untuk membeli aset tetap
sebesar Rp 1 T. Pada tahun 2017 pembelian aset tetap meningkat menjadi Rp 1,15 T
dan pada 2018 menurun menjadi Rp984 M.

Dari aktivitas investasi yang dilakukan oleh perusahaan dari tahun 2016 ke 2018
mengalami variasi. Pada 2016 secara total perusahaan mengalami defisit sebesar Rp 362 juta.
Pada tahun 2017 defisit juga sebesar Rp 381 juta dan pada 2018 perusahaan mengalami
surplus sebesar Rp 333 juta yang disebabkan oleh penurunan aset keuangan jangka pendek
lainnya kepada pihak berelasi.

30
Cash Flow From Financing Activities

Sumber: AR HMSP tahun 2015-2018

Pada tahun 2016 sampai 2018, tidak terdapat arus kas pemasukan. Jika pada tahun
2015 perusahaan mendapatkan pembiayaan dari Public Offering, berbeda pada tahun 2016
sampai 2018 dimana perusahaan tidak mendapatkan arus kas masuk dari aktivitas
pembiayaan. Di sisi lain, arus kas yang keluar dari Financing activities adalah pembayaran
kembali sewa pembiayaan dan dividen yang dibayarkan kepada pemegang saham.

Sumber: AR HMSP tahun 2015-2018

Pembayaran kembali sewa pembiayaan dilakukan dengan pihak ketiga, terutama


dengan PT Serasi Autoraya dan PT Adi Sarana Armada Tbk. Pembayaran pada tahun 2016,
2017, 2018 sebesar Rp 24 M, Rp 22 M, Rp 31 M. Sedangkan pembayaran dividen tunai
kepada pemegang saham pada tahun 2016, 2017, 2018 sebesar Rp10,3 T, Rp12,5 T dan
Rp12,4 T.

Financial Ratios
HMSP IJ Equity 2018 2017 2016 2015
Current Ratio 4.30 5.27 5.23 6.57
Cash Ratio 1.76 1.16 0.79 0.38
Return on Equity 38.55 36.59 36.66 32.34

31
Price to Book Ratio 12.20 16.13 13.04 13.66
P/E Ratio 31.98 43.39 34.82 40.41
Asset Turnover 2.38 2.31 2.37 2.68
Inventory Turnover 4.89 4.00 3.72 3.69
Account Payable Turnover 22.04 19.49 20.39 23.16
Current Ratio
Ratio dari tahun 2015-2017 cenderung stabil, berkisar di angka 5.23%-6.57%
sedangkan di tahun 2018 turun menjadi 4.3 karena adanya utang cukai sebesar Rp2.67 Triliun
(tidak ada di tahun-tahun sebelumnya). Tidak disebutkan mengapa terjadi pembengkakan
pada akun utang cukai, namun kemungkinan besar kebijakan penyederhanaan ​layer t​ arif
cukai rokok yang mulai diberlakukan di tahun 2018 memegang andil yang cukup besar.
Cash Ratio
Tahun 2016 terdapat peningkatan akun kas dan setara kas sebesar kurang lebih Rp4
Triliun yang mendorong kenaikan cash ratio (dari 0.38 ke 0.79). Kenaikan ini disebabkan
oleh peningkatan penerimaan kas dari pelanggan, menurunnya pembayaran cukai sebagai
akibat dari penurunan volume produksi sebesar Rp4 Triliun, dan peningkatan pendapatan
keuangan dari bunga bank, transaksi ​swap v​ aluta asing, dan piutang jangka pendek
pihak-pihak berelasi.
Kas dan setara kas di tahun 2018 mengalami kenaikan kurang lebih Rp8 Triliun
sebagian besar didorong oleh kenaikan penerimaan kas dari pelanggan (Rp6 Triliun) yang
diimbangi dengan kenaikan pembayaran kas kepada pemasok dan pembayaran cukai.
Kemudian akun pendapatan dari aktivitas investasi juga mengalami surplus sebesar Rp333.6
Miliar. Hal ini sebanding dengan peningkatan utang cukai sehingga quick ratio tahun
2017-2018 terbilang stabil.
Return on Equity
Akun equity GGRM mencatatkan angka yang lebih besar dari HMSP, yaitu sebesar
Rp 45.13 Triliun sedangkan HMSP sebesar Rp35.36 Triliun. Perbedaan yang signifikan
terdapat pada laba bersih masing-masing perusahaan, GGRM sebesar Rp7.79 Triliun
sedangkan HMSP sebesar Rp13.54 Triliun. Hal ini didukung dengan pelaksanaan SKT
strategy, p​ enjualan merk andalan seperti 234, peluncuran merk baru (Philip Morris Bold 12
untuk menyaingi GG Move 12, adanya kebijakan penyederhanaan ​layer t​ arif cukai rokok,
pembukaan pabrik baru di Karawang, dan ekspansi ekspor ke Jepang.
Price to Book Ratio
Dibandingkan 2 kompetitornya HMSP memiliki ratio yang paling besar, yakni di
kisaran 12.20-16.13. Ratio di tahun 2017 mengalami peningkatan sebesar 3.09 poin karena
harga saham yang melonjak naik menjadi Rp4,480 per lembar (meskipun sudah terkoreksi
sebelumnya), lebih tinggi dari penutupan harga tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp3,940 per
lembar. Ratio yang meningkat ini juga didukung oleh penjualan merk baru seperti U Bold

32
dan Marlboro Filter Black yang semakin memperkuat pangsa pasar HMSP terutama di
segmen kretek mesin. Namun adanya peningkatan pajak cukai dan kinerja GGRM yang
menguat (volume penjualan yang terus meningkat, pertumbuhan laba bersih serta penjualan
yang lebih besar) menjadi alasan menurunnya price to book ratio di tahun 2018.
P/E Ratio
Ratio HMSP selalu berada di atas angka 30 karena merupakan ​market leader untuk
produk sigaret dan memiliki ​market capitalization yang tinggi. Di sisi lain, tren industri
rokok yang cenderung mengalami penurunan membuat ratio berfluktuasi. Perolehan laba
bersih dan volume penjualan yang cenderung stagnan, rencana kenaikan cukai rokok, dan
dominasi SKM (sigaret kretek mesin) sekaligus penguasaan pasar yang semakin
terdiversifikasi membuat ratio di tahun 2018 menurun.
Asset Turnover
Ratio di tahun 2016 mengalami penurunan sebanyak 0.31 poin karena bertambahnya
piutang usaha dari pihak ketiga diimbangi dengan berkurangnya piutang lainnya dari pihak
berelasi (Rp660 Miliar). Selain itu ada penambahan piutang usaha yang telah lewat jatuh
tempo di tahun 2016 sebanyak Rp147.7 Miliar dan penambahan pembelian aset tetap sebesar
Rp217.3 Miliar yang merupakan penambahan terbesar di tahun 2015-2018. Ratio di tahun
2016-2018 cenderung stabil namun kembali merangkak naik, salah satunya karena
keuntungan dari penjualan aset tetap sebesar Rp113.7 MIliar di tahun 2018.
Meskipun pertumbuhan laba GGRM lebih pesat daripada HMSP, profit margin
HMSP jauh lebih besar, yakni sebesar 15.8% di tahun 2018 maka dari itu asset turnover
perusahaan masih memimpin di industri rokok.
Inventory Turnover
Volume penjualan HMSP sempat tergerus di tahun 2016-2017 karena kenaikan pajak
cukai dan kembali stabil di tahun 2018. Perusahaan mendiversifikasi produk dan
meluncurkan produk baru (​high tar) dengan harga yang lebih terjangkau, dan meningkatkan
penjualan ke pasar ekspor. Inventory turnover tahun 2018 mengalami kenaikan sebanyak
0.89 poin karena persediaan yang menurun (akibat dari bahan baku dan pita cukai yang
menurun karena perusahaan melihat tren industri rokok yang sedang turun) dan penjualan
yang tetap meningkat salah satunya karena kenaikan harga.
Account Payable Turnover
Utang usaha dan lain-lain sempat membengkak di tahun 2016, mencapai Rp3.87
Triliun atau meningkat sebesar Rp 679.5 Miliar dari tahun sebelumnya sehingga ratio turun
sebanyak 2.77 poin. Kas dan setara kas yang meningkat pesat serta aset keuangan jangka
pendek yang surplus di tahun 2018 menyebabkan ratio menyentuh angka 22.04 di tahun
2018.
Profit Margin
HMSP GGRM WIIM

2018 15.8% 8.14% 3.6%

33
HMSP mempunyai profit margin terbesar dibanding 2 kompetitornya. Meskipun
peningkatan penjualan dan laba bersih HMSP tidak sebesar GGRM (peningkatan pendapatan
sebesar 13.6% untuk GGRM dan 7.72% untuk HMSP, peningkatan laba bersih sebesar 6.3%
untuk GGRM dan 3.8% untuk HMSP), HMSP tetap mencatat angka penjualan dan laba
bersih yang lebih besar karena peningkatan harga produknya yang lebih besar. Di sisi lain,
volume penjualan HMSP sempat mengalami penurunan (di tahun 2015 volume penjualan
rokok HMSP adalah sebanyak 109,8 miliar batang, lalu tahun 2016 dan 2017 turun menjadi
masing-masing 105,5 miliar batang dan 101,3 miliar batang) sebelum kembali stabil di 2018.
GGRM mencatatkan volume penjualan yang menurun di tahun 2017 namun tidak separah
HMSP (sebanyak 1.5 miliar batang di tahun 2016) dan kembali naik di 2017, lebih banyak
dibanding tahun 2015. Harga GGRM yang lebih terjangkau untuk kelas menengah ke bawah
menjadi alasan atas peningkatan penjualan dan perolehan laba bersih yang lebih signifikan
dibanding HMSP.
Analisis General
Secara general HMSP mempunyai performa yang jauh lebih baik daripada 2
kompetitornya yang berada di industri yang sama yakni PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan
PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM). HMSP juga memegang pangsa pasar paling tinggi,
yakni sebesar 33%. Di tahun 2018 HMSP berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp13.54
Triliun, GGRM sebesar Rp7.97 Triliun, dan WIIM sebesar Rp 51,09 Miliar. Meskipun tren
penjualan rokok sedang menurun (turun 2 persen di tahun 2018 menjadi 332 miliar batang),
di tahun 2018 penjualan HMSP meningkat kurang lebih sebesar Rp 7.7 Triliun dari tahun
sebelumnya (101.4 miliar batang).
Salah satu hal yang menguntungkan HMSP dibanding kompetitornya adalah ​branding
yang kuat dan konsumen yang loyal. Upaya HMSP untuk terus mendiversifikasi produknya
juga menjadi alasan perusahaan masih memegang pangsa pasar tertinggi, yakni sebesar 33%
di tahun 2018.

Income Statement Forecast for 2019


2019 Forecast
Net Revenues 112,888,892.57
COGS (86,561,733.71)
Gross Profit 26,327,158.86
Selling expense (6,399,146.63)
General and Administrative exp (2,676,572.36)
Other Income 388,446.86
Other Expenses (119,261.76)
Finance Income 1,097,042.83

34
Finance Costs (35,649.93)
Share of profit (loss) of associates accounted for using equity
7,044.00
method
Profit before income tax 18,589,061.88
Income tax expense (4,647,265.47)
Profit for the year 13,941,796.41
Figure 1: Net Income Forecast 2019 PT HM Sampoerna tbk

Dalam melakukan valuasi sebuah saham, perkiraan pendapatan di masa yang akan
datang adalah salah satu metode yang paling sering digunakan. Net income untuk perusahaan
HM Sampoerna tahun 2019 diprediksi seperti yang tertera pada figure 1 diatas.
Komponen-komponen net income diprediksi dengan kalkulasi perkalian rata-rata
pertumbuhan dengan angka pada tahun 2018. Perhitungan prediksi ​cost of goods sold t​ idak
menggunakan metode ratio cogs/sales pada tahun-tahun sebelumnya, dikarenakan asumsi
cukai rokok yang terus meningkat.
Selain itu, ​share of profit/loss dari perusahaan asosiasi diasumsikan tidak berubah dari
tahun 2018, mengingat bahwa perubahan komponen tersebut sangat tidak teratur. Walaupun
begitu, komponen tersebut tidak berkontribusi signifikan pada ​net income​, sehingga dirasa
tidak akan perlu diteliti dengan faktor lebih lanjut. ​Corporate tax tentu saja akan meningkat
sesuai dengan profit perusahaan dalam setahun, tetapi, proporsi pajak tersebut akan tetap
sama, yaitu 25% sesuai dengan peraturan perpajakan di Indonesia.
Menggunakan figur ini sebagai acuan, kami memprediksi bahwa pendapatan bersih
perusahaan akan bertumbuh sebesar 3.07% dibandingkan dengan periode sebelumnya. Angka
ini, walaupun positif, menandakan perlambatan pertumbuhan

35
Balance Sheet Forecast for 2019

Berdasarkan grafik diatas, dapat dilihat bahwa pada tahun 2019 diproyeksikan Total
Asset akan mengalami peningkatan sebesar 1.83% dari tahun sebelumnya 46.6 T
menjadi 47.45 T. Total Liabilities pada tahun 2019 diproyeksikan akan mengalami
peningkatan sebesar 5.85% dibandingkan dengan tahun sebelumnya menjadi 11.90 T.
Total Equity pada tahun 2019 akan mengalami kenaikan sebesar 0.56% menjadi
35.55T. Untuk lebih jelasnya akan dibahas di bawah ini.

Asset
Cash and Cash Equivalent

Cash and cash equivalent diproyeksikan akan mengalami kenaikan sebesar


16.05% di tahun 2019 menjadi 18 Triliun. Angka ini didapatkan dari hasil
penyeimbangan total aset dengan total liabilities dan total equity.

Inventories

36
Inventory diproyeksikan akan mengalami penurunan sebesar 15.76% dari
15.18 T menjadi 12.79T di tahun 2019. Angka ini didapatkan dari perhitungan
menggunakan pembagian COGS dengan rasio dari Inventory Turnover di tahun 2019
yang didapatkan berdasarkan rata-rata dari tahun 2016 hingga 2018.

Liabilities

Taxes Payable

Taxes Payable di tahun 2019 diproyeksikan akan mengalami kenaikan sebesar


2.09% dari 1.687 T menjadi 1.723T. Angka ini didapatkan dari rata-rata payable dari
tahun 2016 hingga 2018 kemudian dikalikan dengan jumlah payable di tahun 2018.

Employee Benefit liabilities

37
Employee benefit pada tahun 2019 diproyeksikan akan mengalami
peningkatan sebesar 1.64% dari 2.2 T menjadi 2.16 T. Angka ini didapatkan dari
rata-rata pertumbuhan employee benefit setiap tahun kemudian dikalikan dengan
proporsi masing-masing.

Equity
Retained earnings - unappropriated

Retained earnings - unappropriated 2019 diproyeksikan akan meningkat menjadi Rp


13.83 T atau naik 1.44% dari tahun 2018. Proyeksi didapat dari Retained Earnings -
unappropriated 2018 dikurang dengan proyeksi dividen yang dibagikan pada 2019
dan ditambah Income 2019

Statement of Cash Flow Forecast


Secara keseluruhan mengalami peningkatan cash dari Rp15,5 T menjadi Rp18
T. Operating, investing dan ​financing activities ​didapat dari akun balance sheet yang
diklasifikasikan dan didapat dari selisih antara tahun 2019 dan 2018. Dapat dilihat
bahwa net income tiap tahun meningkat namun diimbangi dengan penambahan
inventories sebesar 2,4T. Kelompok kami mengasumsikan bahwa excise tax payable
adalah tetap,sehingga tidak mempengaruhi cash flow yang ada. Melihat payout ratio
perusahaan di beberapa tahun terakhir, perusahaan hampir mendistribusikan semua
penghasilannya sebagai dividen. Sehingga, dividen yang dibayarkan (proyeksi) adalah
sebesar net income proyeksi, yaitu 13,6T.

38
SUMMARY AND RECOMMENDATION

Perusahaan rokok PT HM Sampoerna telah berdiri sejak tahun 1913 dan telah
mempekerjakan lebih dari 30 ribu karyawan. Perusahaan kemudian diakuisisi oleh Philip
Morris International, perusahaan asal Amerika, pad tahun 2005. Hingga sekarang, perusahaan
telah membuktikan kompetensinya dengan memegang market share terbesar dalam industri
tembakau. Pencapaian tersebut tidak datang dengan sendirinya, perusahaan menerapkan
strategi, good corporate governance, dan menyusun inovasi baru, untuk terus bersaing dengan
kompetitornya seperti Gudang Garam, Wismilak, Djarum, dan berbagai macam perusahaan
dari luar negeri.
Beberapa tahun belakang, pemerintah berinisiatif untuk mengurangi konsumsi
masyarakat terhadap rokok dengan alasan kesehatan dan kebersihan lingkungan. Inisiatif
tersebut dilakukan dengan cara menaikan pajak cukai untuk setiap produk tembakau yang
akan dijual. Hal ini berdampak negatif pada penjualan, terlihat dari volume penjualan yang
selalu menurun setiap tahunnya. Uniknya, pendapatan perusahaan tetap meningkat dari tahun
ke tahun. Penjelasan yang bisa diberikan akan fenomena ini adalah karena produk perusahaan
yang cenderung inelastis di pasar Indonesia. Kenaikan rokok sebesar rata-rata 7% hanya
direspon oleh pasar dengan penurunan penjualan sekitar 3%. Artinya, minat terhadap produk
yang ditawarkan oleh perusahaan sangat diminati oleh masyarakat.
Melihat trend perusahaan yang terus berkembang, pendapatan bersih dan pendapatan
kotor perusahaan diprediksi akan terus meningkat di masa yang akan datang. Cukai yang
kenaikannya tidak terlalu agresif dibandingkan masa yang lalu juga menjadi faktor
pendukung dari kinerja perusahaan. Dibandingkan dengan kompetitor sejenis, perusahaan
memiliki beberapa keunggulan seperti kekuatan finansial, efisiensi beban, dan kinerja usaha
selama beberapa tahun.

39
APPENDIX

Income Statements ( in million )

2018 2017 2016


Net Revenues 106,741,891 99,091,484 95,466,657
COGS ( 81,251,100 ) ( 74,875,642 ) (71,611,981)

Gross Profit 25,490,791 24,215,842 23,854,676


Selling expense ( 6,296,611 ) ( 6,258,145 ) (6,097,049)
General and Administrative exp ( 2,312,252) ( 1,846,352 ) (1,737,275)
Other Income 208,891 59,753 267,679
Other Expenses ( 110,036 ) ( 73,998 ) (108,713)
Finance Income 1,003,937 816,778 854,068
Finance Costs ( 30,495 ) ( 25,533 ) (22,324)
Share of profit (loss) of associates accounted
for using equity method 7,044 6,461 385

Profit before income tax 17,961,269 16,894,806 17,011,447


Income tax expense ( 4,422,851 ) ( 4,224,272 ) (4,249,218)

Profit for the year 13,538,418 12,670,534 12,762,229

Other Comphrehensive income

Items that will not be reclassified to profit


or loss
Remeasurement of post employee benefits 122,355 ( 248,869 ) (309,867)
Related income tax expense ( 31,150 ) 62,143 77,429
Total other comprehensive income that will
not be reclassified to profit or loss, after tax 91,205 ( 186,726 ) (232,438)

Items that will not be subsequently to


profit or loss
cumulative translation adjustments ( 372 ) ( 674 ) 410

Other Comprehensive income, net of tax 90,833 ( 187,400 ) (232,028)

Total Comprehensive income for the year 13,629,251 12,483,134 12,530,201

40
Balance Sheeet ( in millions of Rupiah )
2018 2017 2016 2015

ASSETS

Current Assets
Cash and cash equivalent 15,516,439 7,501,737 5,056,183 1,718,738
Trade receivables
- Third parties 3,370,321 3,375,798 3,124,358 2,288,676
- Related parties 137,280 222,124 198,168 170,066
Other receivables
- Third parties 299,975 180,752 190,079 124,063
- Related parties 7,759 2,316 1,483,815 2,144,022
Other short-term financial asset 1,273,838 2,374,246 1,634,332 1,349,701
Inventories 15,183,197 18,023,238 19,442,023 19,071,523
Prepaid taxes
- Corporate income tax 47,426 81 0 1,418
- Other taxes 962,368 1,260,002 974,217 1,168,354
Advances for purchase of tobbaco 883,936 1,025,646 1,377,109 1,536,678
Prepayments 148,944 155,983 167,212 156,025
Non-currentassetsheld for sale 0 58,430 0 78,066

Total current assets 37,831,483 34,180,353 33,647,496 29,807,330

Non-current assets
Investment in associate 70,426 63,382 62,174 61,789
Investment properties 465,004 481,322 492,349 605,616
Fixed assets 7,288,435 6,890,750 6,988,232 6,281,176
Land for development 108,449 113,954 114,888 113,729
Deferred tax assets 335,166 333,346 272,268 235,765
Goodwill 60,423 60,423 60,423 60,423
Other non-current assets 443,034 1,017,533 870,447 844,896

Total non-current assets 8,770,937 8,960,710 8,860,781 8,203,394

TOTAL ASSETS 46,602,420 43,141,063 42,508,277 38,010,724

41
LIABILITIES

Current liabilities
Trade and other payables
- Third parties 2,652,273 2,599,318 2,567,887 2,313,370
- Related parties 797,797 1,067,123 1,302,730 877,743
Taxes payable
- Corporate income tax 825,924 599,688 735,290 364,569
- Other taxes 861,907 1,268,261 898,492 49,154
Excise tax payable 2,670,180 0 0 0
Accruals 238,625 226,449 176,838 238,337
Employee benefit liabilities
- current 651,225 636,581 691,643 628,781
Deferred revenue
- current 61,657 56,612 34,830 45,410
Finance lease liabilities
- current 34,411 28,937 20,768 20,248
Liabilities of disposal group
classified as held for sale 0 0 0 1,062

Total current liabilities 8,793,999 6,482,969 6,428,478 4,538,674

Non-current liabilities
Employee benefit liabilities 2,202,332 2,239,240 1,806,764 1,351,368
Finance lease liabilities 80,649 80,530 65,744 40,878
Deferred revenue 167,187 225,339 32,277 63,744

Total non-current liabilities 2,450,168 2,545,109 1,904,785 1,455,990

TOTAL LIABILITIES 11,244,167 9,028,078 8,333,263 5,994,664

EQUITY
Equity attributable to the owners of the

42
parent
Share capital
- Issued and fully paid 116,318,076,900
ordinary shares 465,272 465,272 465,272 465,272
Additional paid-in capital 20,546,151 20,449,204 20,466,910 20,485,848
Cumulative translation adjustments 645,882 646,254 646,928 646,518
Other reserves (29,721) (29,721) (29,721) (29,721)
Retained earnings
- Appropriated 95,000 95,000 95,000 90,000
- Unappropriated 13,635,669 12,486,976 12,530,625 10,358,143

TOTAL EQUITY 35,358,253 34,112,985 34,175,014 32,016,060

TOTAL LIABILITIES AND


EQUITY 46,602,420 43,141,063 42,508,277 38,010,724

43