Anda di halaman 1dari 25

Komunikasi Estetik Kesenian Goong Renteng Embah Bandong di Arjasari

Kabupaten Bandung

UAS KOMUNIKASI SENI

1. Dosen Dr.Jaeni, S.Sn., M.Si


2. Dr. Enok Wartika, S. Sos., M.Si

Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni


Pascasarjana ISBI Bandung
Disusun oleh :

Ahmad Yosef Azhari

PROGRAM PASCASARJANA

INSTITUT SENI BUDAYA INDONESIA (ISBI)

BANDUNG
ABSTRACT
This study aims to explain the communication that occurs in art Goong Renteng
Embah Bandong in Arjasari Bandung regency ". Art Goong Renteng Embah which is a
traditional art derivative that has long existed and has been passed down from generation
to generation. Qualitative data collection with ethnographic approach of communication
where the research focused on observation of Arjasari customs in Rumawat Barang
Pusaka tradition which was held at Maulid Nabi Muhammad SAW event. The results show
that the art of Goong Renteng Embah Bandong not only acts as an entertainment art but as
a medium of communication in cultivating the lineage of the people of Lebakwangi - Batu
Karut located in the village of Arjasari - Bandung regency this is because every society of
Lebakwangi descent - Batu Karut will feel called to come to acra Rumawat heritage Goods
and will feel guilty if not to attend the event, this is a form of trust, and the value of the
world received by the local community in socio-cultural life. To interpret these values,
communication participants, artists, and communities foster the meaning of aesthetic
communication based on the context of intra-personal, community, cultural, and
transcendental communication.

Keywords: Communication, Rumawat, Goong Renteng

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan komunikasi yang terjadi dalam kesenian
Goong Renteng Embah Bandong di Arjasari Kabupaten Bandung”. Kesenian Goong
Renteng Embah yang merupakan kesenian tradisional turunan yang telah lama ada dan
telah diwariskan turun temurun. Pengumpulan data kualitatif dengan pendekatan etnografi
komunikasi dimana penelitian difokuskan pada pengamatan kebiasaan masyarakat Arjasari
dalam tradisi Rumawat Barang Pusaka yang dilaksanakan pada acra Maulid Nabi
Muhammad SAW. Hasilnya menunjukan bahwa kesenian Goong Renteng Embah Bandong
tidak hanya berperan sebagai seni hiburan akan tetapi sebagai media komunikasi dalam
mempererat silsilah keturunan masyarakat Lebakwangi – Batu Karut yang berada di desa
Arjasari – Kabupaten Bandung hal ini dikarenakan setiap masyarakat keturunan
Lebakwangi – Batu Karut akan merasa terpanggil untuk datang pada acra Rumawat Barang
pusaka dan akan merasa berdosa jika sampai tidak hadir dalam acara tersebut, hal ini adalah
bentuk kepercayaan, dan nilai dunia yang diterima pakai oleh masyarakat setempat dalam
kehidupan sosial budaya. Untuk mentafsirkan nilai-nilai tersebut, peserta komunikasi, artis,
dan masyarakat membina makna komunikasi estetika berdasarkan konteks komunikasi
intra-pribadi, masyarakat, budaya, dan transendental.

Kata kunci: Komunikasi, Rumawat, Goong Renteng


PENDAHULUAN

Kesenian dapat diartikan sebagai hasil karya manusia yang mengandung keindahan
dan dapat diekspresikan melalui suara, gerak ataupun ekspresi lainnya. Kesenian memiliki
banyak jenis dilihat dari cara atau media penyampaiannya antara lain seni suara (vokal),
lukis, tari, drama dan patung (Koentjaraningrat,1990: 208). Bila dilihat dari
perkembangannya ada yang dikenal sebagai seni tradisional yaitu seni yang lahir dan
berkembang secara alami di masyarakat tertentu dan kadangkala masih tunduk pada aturan-
aturan yang baku, namun ada juga yang sudah tidak terikat aturan, kesenian ini kadangkala
merupakan bagian dari kesenian rakyat yang bisa dinikmati secara massal.

Dalam proses pertumbuhannya, kesenian tradisional yang merupakan bagian dari kesenian
rakyat diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Hal ini
sesuai dengan apa yang diungkapkan Oemar (1985: 13) dalam bukunya bahwa :

“Kesenian tradisional adalah kesenian yang sejak lama turun temurun hidup dan
berkembang pada suatu daerah, masyarakat etnik tertentu yang perwujudannya mempunyai
peranan tertentu dalam masyarakat pendukungnya.”
Kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang di suatu lokalitas didukung oleh
masyarakat yang terikat pada aturan adat yang disepakati bersama, yang telah berlangsung
secara turun temurun dari generasi ke generasi. Berbeda dengan kesenian modern yang
cenderung lebih mudah berubah mengadopsi unsur-unsur luar, kesenian tradisional lebih
cenderung lambat mengalami perubahan. Hal ini menurut Khayam (1981: 57) dikarenakan,
secara umum kesenian tradisional ini memiliki ciri sebagai berikut :

Pertama, ia memiliki jangkauan terbatas pada lingkungan kultur yang menunjangnya.


Kedua, ia merupakan pencerminan dari suatu kultur yang berkembang secara perlahan,
karena dinamika masyarakat yang menujangnya memang demikian. Ketiga, ia tidak
terbagi-bagi pada pengkotakkan spesialisasi. Keempat, ia bukan merupakan hasil kretivitas
individu-individu tapi tercipta secara anonim bersama dengan sifat kolektivitas masyarakat
yang menunjangnya.
Ciri-ciri diatas, memperkuat pernyataan bahwa seni tradisi merupakan identitas
budaya dari suatu masyarakat tertentu, sebab seni tradisi sangat dipengaruhi oleh kultur
masyarakat disuatu lingkungan dan bukan merupakan seni yang menonjolkan seniman atas
nama diri sendiri, tapi lebih merupakan perwakilan dari sistem sosial atau sikap kelompok
masyarakat.

Hal ini pula yang terjadi pada kesenian tradisional di Jawa Barat, pewarisan yang
dilakukan secara turun temurun dari generasi ke generasi, serta dalam perjalananya tidak
terlepas dari agama Islam serta adat istiadat yang sudah ada didaerah tersebut. Di Jawa
Barat terdapat banyak kesenian tradisional, salah satunya adalah gamelan yang masih
hidup dan berkembang dari beragamnya khasanah budaya masyarakat. Diantara beberapa
gamelan di Jawa Barat yang masih menunjukkan eksistensinya adalah kesenian Goong
Renteng.

Istilah goong renteng merupakan perpaduan dari kata “goong‟ dan “renteng‟. Kata
“goong‟ merupakan istilah kuno dari bahasa Sunda yang berarti gamelan, sedangkan kata
„renteng‟ berkaitan dengan penempatan pencon penconkolenang atau bonang yang
diletakkan secara berderet atau “ngarenteng”. Jadi secara harfiah goong renteng adalah
goong yang diletakan atau disusun secara berderet. Kesenian goong renteng yang telah
tercatat sebagai khasanah kesenian Jawa Barat, menyebar di beberapa daerah, seperti :
Lebakwangi, Cileunyi, Cikebo, Tanjungsari, Cileuweung, Darmaraja, Cigugur Kuningan,
Parakan Lima Sukabumi, Cikuda Nagrak Banjaran, serta goong renteng Situ Raja
Sumedang (Nalan, 2003:34).

Dari sejumlah Goong Renteng yang ada di Jawa Barat, Goong Renteng yang berada
di daerah Kecamatan Arjasari khususnya di Desa Lebakwangi Batukarut ini adalah salah
satu Goong Renteng yang keberadaanya serta pewarisannya masih terpelihara dengan baik.
Meskipun berada di tengah-tengah kemodernan dan industrialisasi. Selain itu keunikan
Goong Renteng ini adalah dari penamaanya yaitu Goong Renteng Embah Bandong.

Dinamakan seperti itu, karena pada saat dimainkan Gamelan Embah Bandong ini
yang terdiri dari 2 buah Goong besar disusun berdekatan (ngarendeng). Sedangkan kata
Embah itu sendiri adalah penamaan dari orang yang memainkan pada saat itu, gamelan ini
menurut leluhur LebakwangiBatukarut yang diturunkan secara lisan bahwa yang dulu
dipercaya mengurus dan memimpin gamelan Embah Bandong ini adalah Embah Manggung
dikusumah. Rupanya Embah Manggung dikusumah yang dikenal masyarakat Lebakwangi -
Batukarut adalah Embah Bandong. Sehingga sampai sekarang Gamelan tersebut dinamakan
Goong Renteng Embah Bandong. Hingga saat ini, pewarisan kesenian tersebut
(berdasarkan data di lapangan) sudah berlangsung selama 11 generasi.

Dalam pertujukannya Goong Renteng khususnya Goong Renteng Embah Bandong


dari dulu selalu ditampilkan dalam konteks ritual, seperti : upacara adat, maulid nabi, 17
agustus, selamatan, kedatangan tamu pemerintah. Pertunjukkan ini hanya ditampilkan
untuk acara-acara khusus, dalam hal ini masyarakat masih memiliki pandangan bahwa
Goong Renteng Embah Bandong merupakan kesenian ritual untuk membersihkan atau
menjaga dari sesuatu yang berbahaya dan mencelakakan. Makna lain dari pertunjukannya
adalah memberikan atau menambah warna / ruh pada acara yang diselenggarakan. Seperti
yang pernah di uangkapkan oleh Sumardjo (2006: 95)

sampai sekarang seni pra-modern selalu dikaitkan dengan hajatan tertentu. Tanpa
magsud hajatan (upacara) sebuah karya seni tidakboleh di tampilkan. ini amanat berbeda
dengan karya seni modern yang sama sekali lepas dari fungsi religi. Kapan saja dan dimana
saja boleh dinikmati. Seni pra-modern tidak memperhatikan bagus atau tidak penampilanya,
tetapi justru selamat atau tidak upacara pertunjukannya.

Dalam perjalanan sejarah perkembangannya kesenian Goong Renteng Embah


Bandong mengalami pasang surut seiring dengan dinamika kehidupan masyarakat
penyangganya, sebagai akibat perkembangan zaman yang semakin maju, dimana kemajuan
zaman ini membawa dampak terkikisnya kesenian tradisional oleh kemajemukan seni
modern yang diiringi kemajuan teknologi yang sangat pesat. Apalagi setelah adanya era
globalisasi yang telah memunculkan industri-industri yang ada di daerah Kabupaten
Bandung ini, hal ini berdampak pada adanya alih tradisi atau kegiatan, yaitu banyaknya
waktu yang hilang dalam masyarakat untuk bersosialisasi antara individu dikarenakan jam
pekerjaan di dunia industri yang terlalu panjang, sehingga sedikit banyaknya berdampak
pada kesenian tradisional yang harus dilestarikan ini.
Munculnya industri-industri telah melahirkan bentuk budaya masa yang memiliki
kecenderungan terhadap industrialisasi yangmenonjolkan segi-segi kehidupan materil dan
mengindahkan nilai-nilai, norma yang berlaku di dalam masyarakat sehingga membawa
dampak terhadap kemunduran kesenian tradisional. Kenyataan inlah yang berakibat pada
kesenian tradisional sebagai produk budaya yang bersumber kepada nilai-nilai dalam
masyarakat semakin ketersampingkan. Bahkan generasi-generasi muda saat ini sudah
banyak dipengaruhi oleh budaya asing yang masuk baik melalui audiovisual maupun yang
lainnya, sehingga persepsinya terhadap kebudayaan kesenian tradisional semakin memudar.
Keadaan seperti ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Mahmud (1993: 19),

Kini ada kecenderungan seni tradisional satu demi satu luruh mengundurkan diri dari
panggung budaya. Berbagai usaha dilakukan untuk melestarikan seperti pencatatan,
penelitian, dan pemergelarannya kembali. Meskipun demikian masih ada jenis-jenis yang
hilang yang kelihatanya tidak mungkin tertolong.
Perubahan-perubahan yang terjadi akibat modernisasi tersebut telah berpengaruh
terhadap kehidupan masyarakat. Hal tersebut menyebabkan terjadinya pergeseran penilaian
terhadap seni dan budaya, sebuah konflik batin antara ingin mempertahankan nilai-nilai
lama dari budaya dengan keinginan menyesuaikan diri dengan perubahan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang melahirkan tradisi baru, seperti yang dikemukakan oleh
Soedarsono (1991:172), bahwa:

Pengaruh modernisasi yang sangat cepat itu, dalam batas-batas tertentu, telah merambah ke
dalam kehidupan masyarakat Indonesia, suatu masyarakat yang semula dikenal memiliki
keragaman dan kekayaan seni budaya tradisi sesuai dengan kebinekaan adat dan
kepercayaan masingmasing suku bangsa. Dalam kehidupan masyarakat yang mengalami
goncangan-goncangan modernisasi ini, selanjutnya timbul konflik batin sebagai kenyataan
yang tidak mungkin terelakan, suatu pertentangan batin antara kesetiaan terhadap ikatan
tradisi lama dengan keinginan menerima kehadiran tradisi baru yang menjanjikan
kemudahan dan kenikmatan yang selalu merangsang dan menggiurkan.
Dalam perkembangnnya, kesenian Goong Renteng Embah Bandong sekarang ini sudah
jarang ditemui dalam acara-acara hajatan baik pesta pernikahan maupun syukuran khitanan.
Kesenian Goong Renteng Embah Bandongpada saat sekarang hanya dapat dijumpai dalam
acara perayaan hari besar saja, seperti acara Maulid Nabi yang merupakan agenda rutin
bersama acara ngarumat pusaka. Kesenian Goong Renteng Embah Bandong ini secara
perlahan lahan akan punah apabila tidak ada upaya dari berbagai kalangan untuk berusaha
melestarikannya. Kepunahan kesenian lokal sebagai aset budaya daerah dapat terjadi
apabila dalam masyarakatnya kurang peduli dan tidak mempunyai keinginan untuk
meneruskan dan mengembangkan serta melestarikan keberadaan seni tradisional tersebut.
Kekwatiran ini pun diperkuat dengan adanya kenyataan bahwa dalam sistem pewarisannya
sangat lamban.

Minat masyarakat terhadap pelestarian kesenian Goong Renteng Embah Bandong


ini semakin menurun. Sehingga hal ini menjadi pekerjaan yang sangat berat bagi pengelola
kesenian tersebut untuk dapat lebih eksis dan dapat diminati kembali oleh masyarakat
sekitar. Hal inilah yang mendorong masyarakat Kecamatan Arjasari untuk dapat
membangkitkan keeksistensian Goong Renteng Embah Bandong dalam era globalisasi ini.

METODE

Metode yang dipakai dalam penelitian kesenian Rumawat Barang Pusaka Goong
Renteng Embah Bandong ialah metode etnografi yang didasarkan pada asumsi bahwa
pengetahuan dari semua kebudayaan sangat tinggi nilainya’. Kesimpulan budaya yang
bersumber dari tiga hal sebagaimana isimpulkan oleh Spradley (1997: 10), yakni: 1). Dari
hal-hal yang dikatakan orang atau informan, 2). Dari cara orang bertindak atau bertingkah
laku, 3). Dari berbagai artefak yang digunakan. Penelitian ini dilakukan di Bumi Alit
Kabuyutan, Desa Lebakwangi, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung. Pengumpulan
data tidak hanya dengan berpartisipasi dalam acara Rumawat Barang Pusaka saja, tetapi
dilanjutkan dengan pengamatan dan wawancara mendalam terhadap beberapa informan
seperti kuncen Bumi Alit Kabuyutan, tokoh masyarakat, masyarakat keturunan desa
Lebakwangi - Batukarut.

LANDASAN TEORI
Untuk mengkaji ‘estetika’ kesenian Rumawat Barang Pusaka Goong Renteng
Embah Bandong digunakan teori dualisme anta- gonistik hasil temuan Jakob Sumardjo.
Teori “dualisme antagonistik” berangkat dari pemikiran religi budaya mitis-spiritu- al
Sunda dan suku-suku lainnya di Indonesia. Berdasarkan pemikiran budaya mitis-spiritual
bahwa semua “keberadaan” ini selalu terdiri atas dua unsur yang saling bertentangan.
Keberadaan itu sendiri terkait dengan “keberadaan rohani”dan “keberadaan kebendaan”
atau material. Keduanya memiliki karakteristik yang berbeda dan bertentangan (Sumardjo,
2003:5). Masyarakat Sunda (primordial) membagi “keberadaan” ini ke dalam dua kategori
yaitu “Dunia Atas” dan “Dunia Bawah.”Keduanya harus merupakan satu kesatuan agar
kehidupan ini terus berpro- ses. Perkawinan antara “Dunia Atas” dan “Dunia Bawah” dapat
melahirkan “Dunia Tengah.” Dunia Atas dan Dunia Bawah adalah antagonistik. Dunia Atas
bersifat perempuan (basah), sedangkan Dunia Bawah bersifat laki-laki (kering). Me-
nyatunya “Dunia Atas yang perempuan” dan “Dunia Bawah yang bersifat laki-la- ki” dapat
menghasilkan “Dunia Tengah” yang diisi oleh semua umat manusia, baik laki-laki maupun
perempuan (Sumardjo, 2003:6). Untuk memperjelas uraian di atas, lihat kutipan berikut ini.

Bagaimana kehidupan dapat terus dipelihara? Mereka berusaha mengawinkan


pasangan kembar oposisi yang saling bertentangan, tetapi saling melengkapi. Dari
perkawinan, kehidupan yang baru bisa muncul. Tanaman padi dapat terus hidup kalau ada
’perkawinan’ antara langit dan bumi. Langit mencurahkan hujannya kepada tanah yang
kering. Dengan demikian, langit itu ”basah” dan bumi ”kering”. Basah itu asas perempuan
dan kering asas lelaki. Per- kawinan antarkeduanya akan menciptakan entitas ketiga, yakni
kehidupan di muka bumi. Langit di atas, bumi di bawah, dan kehidupan muncul di tengah-
tengah langit dan bumi. Ketiga dunia ini merupakan satu kesatuan yang membuat
kehidupan ini tetap ada (Sumardjo, 2006:72).
Menurut Sumardjo, menyatunya la- ngit (dunia atas) dan bumi (dunia bawah) dapat
melahirkan dunia tengah. Dunia tengah ini adalah jagat alam raya yang di- huni oleh umat
manusia. Perkawinan dari dua hal yang bersifat paradoks ini dapat melahirkan “dunia yang
ketiga” sehingga melahirkan konsep tentang “pola tiga”. Cara berpikir masyarakat Sunda
yang berpola tiga ini, di antaranya dapat dibuktikan melalui pengaturan rumah, pengaturan
negara, bentuk senjata kujang, dan mitologi pantun Sunda.

Menurut Jakob Sumardjo, “pola tiga” merupakan cara berpikir masyarakat ladang.
Obsesi masyarakat ladang yaitu ’menghidupkan’. Dasar kepercayaan kosmologi manusia
peladang ini menjadi landasan cara berpikirnya untuk semua hal. Masyarakat primordial
ladang memercayai bahwa semua eksistensi itu sifatnya dualistik. Akan tetapi, semua hal
dualistik tersebut merupakan pasangan biner, yakni dua pasangan yang saling bertentangan.
Lebih lanjut Sumardjo menyatakan sebagai berikut:

Pola tiga bertolak dari kepercayaan dualisme antagonistik segala hal. Misalnya, la- ngit di
atas, bumi di bawah; langit basah, bumi kering; langit perempuan, bumi la- ki-laki; langit
terang, bumi gelap. Keduanya terpisah dan berjarak. Pemisahan itu tidak baik karena akan
mendatangkan kematian. Pemisahan segala hal yang dualistik anta- gonistik harus diakhiri,
yakni dengan me- ngawinkan keduanya. Hidup itu dimung- kinkan karena adanya harmoni.
Syarat hidup adalah adanya harmoni dari dua entitas yang saling bertentangan tetapi saling
melengkapi (Sumardjo, 2006:73).
Konsep “pola tiga”yang menjadi dasar berpikirnya masyarakat ladang ini akan
dipakai sebagai landasan teori untuk mengkaji permasalahan ‘estetika’ sehing- ga
diharapkan dapat menghasilkan ‘estetika’ karawitan tradisi Sunda yang selama ini belum
terungkap.

PEMBAHASAN

Seni Tradisional Dan Seni Pertunjukan

Seni tradisional merupakan seni yang tumbuh serta berkembang pada suatu daerah
atau lokalitas tertentu, serta pada umumnya dapat tetap hidup pada daerah yang memiliki
kecenderungan terisolir atau tidak terkena pengaruh dari masyarakat luar. tradisional
artinya sikap dan cara berpikir maupun bertindak yang selalu berpegang teguh pada norma
dan adat kebiasaan yang ada secara turun-temurun. Jadi, dalam konsep ini ada acuan waktu.
Selain masalah waktu, konsep ini mengabaikan batasan norma dan adat kebiasaan mana
yang diacu.

Kayam dalam bukunyaSeni, Tradisi, Masyarakat(1981) berpendapat bahwa seni


tradisional dapat dikategorikan dalam lima cabang, yaitu: (a) Seni Rupa, meliputi seni ukir,
seni lukis, dan seni tatah, (b) Seni Tari, meliputi wayang kulit, jatilan reog, (c)Seni Sastra,
meliputi puisi dan prosa, (d) Seni Teater Drama, meliputi ketoprak, (e) SeniMusik, meliputi
Jaipongan dan tembang sunda.

Berdasarkan kategori diatas, maka penulis menyimpulkan bahwa berdasarkan


bentuk penyajiannya maka kesenian Goong Renteng Embah Bandong merupakan salah satu
kesenian tradisional yang termasuk dalam kategori seni musik. Selain membahas mengenai
kategori seni, Umar Kayam juga menjelaskan tentang ciri-ciri kesenian tradisional ialah
sebagai berikut : (a) Seni tradisional memilki jangkauan terbatas pada lingkungan kultur
yang dapat menunjangnya. (b) Seni Tradisioanal merupakan sebuah pencerminan dari satu
kultur yang berkembang sangat perlahan, disebabkan karena dinamika dari masyarakat
penunjangnya yang memang demikian. (c) Merupakan bagian dari suatu kosmos kehidupan
yang bulat dan tidak terbagi-bagi dalam pengkotakan spesialisasi. (d) Seni tradisional
bukan merupakan hasil kreatifitas individu-individu tetapi tercipta secara anonim bersama
dengan sifat kolektifitas masyarakat yang menunjangnnya.

Perkembangan Seni Tradisi di Masyarakat

Sejalan dengan tumbunya kebudayaan baru dalam diri masyarakat dewasa ini,
Tradisi yang diwariskan pun tumbuh bersama masyarakat yang ingin mengalami
perubahan. Jika tradisi yang berkembang sudah dapat diterima ditengah-tengah masyarakat,
maka akan memberi kehidupan yang baru bagi para pendukungnya. Khususnya bagi
masyarkat yang menginginkan perkembangan pada seni tradisi.

Perkembangan merupakan akar dari kebudayaan yang akan memberikan ciri khas
identitasatau kepribadian baru bagi suatu bangsa. Mengusung pengembangan seni tradisi di
Indonesia, keberadaanya sangat terkait dengan perubahan sturuktur masyarakat.
Masyarakat yang memelihara dan mengembangkan kebudayaan baru merupakan
masyarakat yang memiliki kreativitas seni yang tinggi. Tradisi yang berkembang di
masyarakat akan berdampak pada kebebasan seseorang untuk berkreativitas dalam
menciptakan inovasi inovasi baru. Apabila kebebasan seseorang dalam mengembangkan
nilaim nilai tradisi yang tumbuh di masyarakat dan terus dibina secara bersama-sama maka
akan menciptakan sebuah bentuk seni pertunjukan tradisi yang menguntungkan bagi
pelestarian seni dan budaya khususnya di Indonesia.

Seperti halnya kesenian Goong Renteng Embah Bandong yang berkembang di Kecamatan
Arjasari Kabupaten Bandung yang mendapat tempat layak di kalangan masyarakat
Kabupaten Bandung sebagai masyarakat pendukung kesenian Goong Renteng Embah
Bandong. Masyarakat dalam suatu daerah pasti memiliki seni tradisi tertentu yang kelak
menjadi ciri khas daerah tersebut. Seiring dengan perkembangan zaman, masyarakat yang
selalu berpegang pada tradisi mulai lebih kritis dalam menyaksikan sebuah bentuk seni
pertunjukan. Saat ini masyarakat lebih ingin manikmati produk seni budaya yang cocok
dengan keinginan mereka.

Apabila seni tradisi sudah berkembang menjadi seni pertunjukan yang dapat
diterima oleh masyarakat, maka keberadaanya tidak akan hilang meskipun zaman terus
berkembang. Tidak jarang seni pertunjukan tradisi untuk kebutuhan upacara tertentu
(bersifat sakral) dalam perkembangan zamannya mengalami pergeseran fungsi. Hal ini
disebabkan oleh berbagai hal misalnya faktor materi, munculnya kesenian-kesenian baru
dalam masyarakat sehingga kesenian yang bersifat sakral ini mengalami pergeseran fungsi
menjadi lebih komersil. Apabila kita amati, seni pertunjukan tradisi saat ini telah banyak
menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke daerah tujuan wisata yang menyajikan
pertunjukan seni tradisi suatu daerah. Pada dasarnya seni tradisi berakar pada adat-isitiadat
lingkungan masyarakat setempat yang diwariskan secara turun temurun dari satu generasi
ke generasi selanjutnya.

Perkembangan Seni Tradisional Di Era Globalisasi dan Modernisasi

Menurut Barker globalisasi merupakan koneksi global ekonomi, sosial, budaya dan
politik yang semakin mengarah ke berbagai arah di seluruh penjuru dunia dan merasuk ke
dalam kesadaran kita. Kehadiran teknologi informasi dan teknologi komunikasi
mempercepat proses globalisasi ini. Globalisasi menyentuh seluruh aspek penting
kehidupan. Globalisasi menciptakan berbagai tantangan dan permasalahan baru yang harus
dijawab, dipecahkan dalam upaya memanfaatkan globalisasi untuk kepentingan kehidupan.
Salah satu aspek yang terpengaruh adalah kebudayaan. Terkait dengan kebudayaan,
kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-nilai (values) yang dianut oleh masyarakat
ataupun persepsi yang dimiliki oleh warga masyarakat terhadap berbagai hal. Atau
kebudayaan juga dapat didefinisikan sebagai wujudnya, yang mencakup gagasan atau ide,
kelakuan dan hasil kelakuan dimana hal-hal tersebut terwujud dalam kesenian tradisional
kita. Kesenian tradisional, salah satu bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia tidak luput
dari pengaruh globalisasi.

Perubahan teknologi akan lebih cepat dibanding dengan perubahan pada perubahan
budaya, pemikiran, kepercayaan, nilai-nilai, norma-norma yang menjadi alat untuk
mengatur kehidupan manusia. Oleh karena itu, perubahan seringkali menghasilkan kejutan
sosial yang apada gilirannya akan memunculkan pola-pola perilaku baru, meskipun terjadi
konflik dengan nilai-nilai tradisional.

Arthur S. Nalan dalam bukunya Aspek Manusia Dalam Seni Pertunjukan(1996),


memaparkan bahwa globalisasi mengakibatkan penggarap seni khususnya seni karawitan
sunda dewasa ini kurang mendapat perhatian dari masyarakatnya apalagi dari generasi
muda dan masyarakat urban. Bahkan dikalangan pedesaan pun sudah terpengaruhi oleh
tayangan-tayangan dari acaraacara TV dan media hiburan lainnya. Maka menjadi tidak
heran apabila banyak seniman yang mundur dari bidang garapannya.

Kondisi Sosial Budaya Masyarakat Kecamatan Arjasari Kabupaten Bandung

Salah satu wujud sosial budaya suatu masyarakat, akan dicerminkan dalam suatu
adat istiadat. Banyak cerita mitos yang berkembang dalam masyarakat dan nilai-nilai
agama yang mempunyai fungsi untuk mengatur sikap dan sistem nilai manusia serta
mempertahankan tata tertib sosial dalam lingkungan masyarakat yang belum banyak
menggunakan prinsip ilmu pengetahuan. Adat istiadat yang masih dilakukan oleh
masyarakat Kecamatan Arjasari sampai saat ini diantaranya ngarumat pusaka yang
bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yaitu setiap bulan mulud tanggal
12 Rabiul awal. Kebiasaan lain seperti halnya masyarakat sunda pada umumnya, seperti
syukuran 7 bulan usia kehamilan, upacara khitanan, pernikahan dan prosesi kematian (dari
penguburan sampai selamatan selama 7 hari, 40 hari, ke-100 hari, dan setahun kematian,
lebih dikenal dengan istilah tahlilan) masih tetap dilaksanakan. Kebiasaan tersebut
merupakan perpaduan budaya islam dengan budaya masyarakat dulu yang telah
berasimilasi sehingga menjadi tradisi yang dilaksanakan secara turun temurun.

Adat istiadat atau kebiasaan adalah manifestasi dari pandangan hidup yang
merupakan konsep seseorang atau golongan dalam suatu masyarakat yang bermaksud
menanggapi dan menerangkan segala masalah hidup di alam dunia. Paradigma itu tersirat
pada kebiasaan yang masih dilakukan oleh masyarakat Kecamatan Arjasari di antaranya:

1) Peringatan Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Hari kelahiran Nabi Muhammad SAW sebetulnya diperingati oleh seluruh umat
Islam di seluruh dunia. Sebagai Nabi terakhir yang memiliki keistimewaan dalam
menyebarkan agama Islam, figurnya merupakan suri tauladan bagi umatnya. Untuk
mengenang dan menambah kecintaan terhadapnya maka setiap 12 Rabiul awal/mulud
diperingati dengan beragam kegiatan. Pada acara ini, tradisi masyarakat Kecamatan
Arjasari di sekitar desa lebakwangi-batukarut masih merayakannya dengan membuat
tumpeng yang akan dimakan secara bersama-sama dalam acara peringatan tersebut.
Susunan acara peringatan itu terdiri dari; ngarumat pusaka, sambutan dari tokoh
masyarakat termasuk pengurus Sasaka Waruga Pusaka, pertunjukan kesenian Goong
Renteng Embah Bandong, dilanjutkan dengan ceramah atau siraman rohani, kemudian
ditutup dengan doa bersama. Pembacaan doa sampai pada kalimat “Qabulan” mereka
yang membawa tumpeng serempak memotong congcot/puncak tumpeng sebagai simbol
ucapan syukur. Setelah itu dilanjutkan dengan makan-makan dan ramah tamah. Pada
dasarnya maksud tradisi ini adalah mempererat tali silaturahmi masyarakat.
2) Ngarumat Pusaka
Ngarumat Pusaka adalah kegiatan membersihkan atau memadikan barang-barang
pusaka peninggalan barang leluhur. Bahan-bahan untuk membersihkan atau memandikan
terdiri dari air bersih yang telah dicampur dengan tiwu/tebu, honje, dan jeruk
mipis/lemon, khususnya untuk senjata tajam ditambah dengan minyak wangi. Kegiatan
ini dilaksanakan setiap tanggal 12 rabiul awal/mulud, tempatnya di situs rumah adat.
Benda-benda pusaka ini ada yang berbentuk senjata tajam diantaranya; keris, kujang,
golok/gobang, tumbak/tombak dan gamelan gong renteng. Merawat benda-benda pusaka
ini merupakan wujud penghormatan terhadap para leluhur yang mempunyai peranan
cukup besar dalam membangun masyarakat sehingga hasilnya dapat dinikmati oleh
keturunannya, yaitu berupa tempat yang nyaman serta kehidupan yang rukun tentram.
Istilah masyarakat dalam memandang peninggalan tersebut adalah mupusti, artinya
menggagap benda itu adalah sesuatu yang sangat berharga yang keberadaannya dapat
diketahui oleh generasi selanjutnya. Sikap tersebut telah tertanam dalam masyarakat,
karena sikap yang berlebihan dalam memandang benda-benda pusaka itu sangat
bertentangan dengan ajaran agama Islam.
3) Ziarah ke Makam Leluhur
Tempat ziarah yang dikunjungi adalah makam Embah Aji, Embah Patra, Embah
Wira, Embah Lurah, dan Embah Bandong. Kelima tempat itu merupakan makam-makam
orang yang dianggap berjasa besar dalam membangun daerah dan masyarakat kecamatan
Arjasari khususnya Desa Lebakwangi-Batukarut. Biasanya tempat ini cukup ramai
dikunjungi pada bulan mulud, bahkan sudah menjadi tradisi setiap malam tanggal 14
mulud banyak orang yang datang untuk ziarah, atau istilahnya ngabungbang yaitu
semalam berada di tempat tersebut. Seperti halnya ziarah ditempat lain ziarah ini adalah
berdoa memohon petunjuk atau pertolongon kepada Alloh bukan kepada orang yang
dimakamkan agar dimudahkandan diberikan keselamatan lahir batin. Masyarakat
setempat mempercayai bahwa orang yang dimakamkan sangat istimewa semasa hidupnya
danhubungan doa itu takkan putus walaupun terpisahkan oleh kematian. Pemahaman
tersebut kadang banyak menyimpang, ada sebagian orang yang memanfaatkan
kesempatan itu untuk meminta/memohon pada orang yang dimakamkan dengan tujuan
tertentu. Sebagai antisipasi (agar tidak membawa kepada kesesatan) maka dalam
berziarah ini selalu didampingi oleh kuncen.

Bentuk Penyajian Kesenian Goong Renteng Embah Bandong


Dalam sub bab ini akan dibahas mengenai bentuk pertunjukan Kesenian Goong Renteng
Embah Bandong, yang dimaksud dengan bentuk yaitu gambaran wujud yang ditampilkan
pada saat pertunjukan. Untuk gambaran bentuk atau wujud yang terdapat dalam Kesenian
Goong Renteng Embah Bandong, penulis akan memaparkan mengenai (a) Pemain, (b)
Waditra, (c) Busana, dan (d) Waktu pertunjukan.
a. Pemain
Pemain dalam Kesenian Goong Renteng Embah Bandong berjumlah 7 orang,
ditambah dengan pemain pendamping. Hal ini menandakan bahwa sudah ada
pengkaderan untuk melanjutkan warisan kesenian ini. Pengkaderan ini terlihat pada
penyajian lagu pembuka pada saat acara Maulid Nabi Muhammad SAW.

Gambar 1. Pemain Goong Renteng


Dokumentasi pribadi dalam film dokumenter “Rumawat Barang Pusaka”

b. Waditra
Pertunjukan Kesenian Goong Renteng Embah Bandong tidak terlepas dari peralatan
yang mendukungnya terdapat tujuh macam waditra yang digunakan dalam kesenian
tradisional Goong Renteng Embah Bandong, (Saron, Kecrek, Beri, Kendang, Goong).
Gambar 2. Membersihkan Goong Renteng
Dokumentasi pribadi dalam film dokumenter “Rumawat Barang Pusaka”

c. Busana
Busana yang digunakan oleh para pemain kesenian ini pada saat pementasan
berlangsung, termasuk pakaian yang digunakan oleh para pemain seni Goong Renteng
Embah Bandong. Kostum yang digunakan oleh para pemain adalah ikat kepala berwarna
coklat dari kain batik, kemudian baju kampret putih yang melambangkan kesucian dan
celana hitam. Kostum yang dikenakan tersebut semakin menambah kesan religi
pertunjukan ini Pemilihan kostum disarankan paling utama adalah harus menutup aurat,
sesuai syariat Islam untuk beribadah haruslah menutupi dan menjaga aurat atau anggota
tubuh seperti yang diajarkan dalam hukum Islam kepada umatnya untuk majaga aurat
mulai dari ujung rambut hingga ujung telapak kaki.

Gambar 2. Busana Hitam Pemain


Dokumentasi pribadi dalam film dokumenter “Rumawat Barang Pusaka”

Fungsi Kesenian Goong Renteng Embah Bandong dalam Kehidupan Masyarakat


Kesenian senantiasa memiliki peranan tertentu bagi masyarakat yang
melakukannya, yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan manusia guna memcapai
kepuasan batin. Seperti yang diungkapkan oleh Soedarsono (2002: 121) yang mengutip
dari Alan P. Merriam dalam bukunya The Anthropology of Music mengatakan, ada
delapan fungsi penting dari musik etnis, yaitu (1) sebagai kenikmatan estetis; (2) hiburan;
(3) komunikasi; (4) representasi simbolis; (5) respons fisik; (6) memperkuat konformitas
norma-norma sosial; (7) pengesahan institusi-institusi sosial dan ri tual-ritual keagamaan;
dan (8) sumbangan pada pelestarian serta stabilitas kebudayaan.

Fungsi Kesenian Goong Renteng Embah Bandong Sebelum Berubah


Kesenian Secara umum, kesenian berfungsi sebagai sarana hiburan bagi
masyarakat, begitu pula halnya dengan kesenian Goong Renteng Embah Bandong. Selain
disajikan dalam konteks ritual, kesenian ini pun biasa disajikan dalam acara hajatan atau
selamatan. Diluar konteks ritual, penyajian kesenian ini bisa semalam suntuk. Kehadiran
kesenian ini dalam acara hajatan atau selamatan memberikan suasana musikal terhadap
tamu tamu yang datang, sehingga suasana hajatan serasa meriah sebagai hiburan tamu-
tamu yang datang.

Fungsi Kesenian Goong Renteng Embah Bandong Setelah Berubah


Perubahan yang terjadi lebih mengarah pada mundurnya eksistensi kesenian ini.
Ada beberapa aspek yang mendasari bahwa perubahan pertunjukan Goong Renteng
Embah Bandong menjadi kesenian ritual selain faktor internal yaitu lambatnya
redegenerasi pewaris juga faktor eksternal yakni tingginya biaya yang dikeluarkan untuk
pementasan kesenian ini, alhasil pada saat ini kesenian ini mejadi sebuah kesenian ritual
yang memiliki beberapa fungsi diantaranya :
a. Fungsi Religius
Kehadiran pertunjukan Goong Renteng Embah Bandong dalam peringatan
maulid atau kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan prosesinya yang sakral
menjadikan kesenian ini menjadi musik ritual masyarakat. Ada beberapa aspek yang
mendasari bahwa pertunjukan Goong Renteng Embah Bandong merupakan musik
ritual. menimbulkan rasa hormat yang luhur dalam arti merupakan suatu pengalaman
suci. Pengalaman itu mencangkup segala sesutu yang dibuat atau dipergunakan oleh
manusia untuk menyatakan hubungannya dengan yang “tertinggi”, dan hubungan itu
bukan sesuatu yang sifatnya biasa atau umum tetapi sesuatu yang besifat khusus atau
istimewa. Sehingga manusia membuat suatu cara yang pantas guna melaksanakan
bentuk ritual agama seperti ibadat.

b. Fungsi Pendidikan
Pendidikan dalam arti luas dimengerti sebagai suatu kondisi tertentu yang
memungkinkan terjadinya transformasi dan kegiatan sehingga mengakibatkan
seseorang mengalami suatu kondisi tertentu yang lebih maju. Dalam sebuah
pertunjukan seni orang sering mendapatkan pendidikan secara tidak langsung karena
di dalam setiap karya seni pasti ada pesan dan makna yang sampaikan. Disadari atau
tidak rangsangan rangsangan yang ditimbulkan oleh seni Goong Renteng Embah
Bandong merupakan alat pendidikan bagi seseorang. Kesenian ini bermanfaat untuk
membimbing dan mendidik mental dan tingkah laku seseorang supaya berubah
kepada kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Disinilah seni harus disadari
menumbukan pengalaman estetika dan etika.

c. Fungsi Pengesahan Institusi Sosial dan Ritual-ritual Keagamaan


Dalam hal ini, seni berfungsi sebagai sarana pendukung pada suatu cara
dalam kehidupan sosial dan pendukung dalam menunjang suatu kepercayaan adat.
Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Sedyawati (1981: 115) bahwa seni
tradisi dapat dilihat dari dua arah, pertama seni tradisi dapat diartikan sebagai
kesenian yang diselenggarakan demi kelangsungan suatu tradisi dalam arti suatu adat
istiadat. Kedua, seni tradisi bisa diartikan sebagai bentuk kesenian yang memiliki
tradisi dalam arti norma dan aturannya sudah menetap. Di lingkungan masyarakat
pedesaan, kesenian masih sangat kental akan nilai-nilai kehidupan agrarisnya,
sehingga kesenian memiliki fungsi ritual yang sangat sakral di masyarakat sebagai
objek pendukungnya. Hal tersebut sepeprti yang di ungkapkan oleh Soedarsono yang
mengemukakan sebagai berikut:
“Fungsi-fungsi ritual ini bukan hanya berkenaan dengan peristiwa daur hidup
yang dianggap penting misalnya kelahiran, potong gigi, potong rambut,
khitanan, pernikahan, serta kematian. Berbagai kegiatan yang dianggap penting
juga memerlukan seni pertunjukan seperti misalnya berburu, menanam padi,
panen padi, sampai persiapan untuk perang (Soedarsono, 1998: 57).

Kesenian Goong Renteng Embah Bandong yang khas serta memiliki kesan
sakral, selain acara tahunan setiap 12 mulud merupakan peringatan maulid nabi yang
erat hubungannya dengan agama Islam. Menjadi pilihan tatkala momen-momen
penting diselenggarakan. Sejak dulu kesenian ini menjadi bagian dari acara pelantikan
atau peringatan peristiwa besar kenegaraan. Berikut data pertunjukan Goong Renteng
Embah Bandong:
1. Pelantikan Bupati Bandung I, Tumenggung Wira Angun-angun, di karapyak
(Dayeuhkolot) tahun 1641-1681 M.
2. Pelantikan Bupati Bandung II, Tumenggung Ardikusumah, di Karapyak
(Dayeuhkolot) tahun 1681-1704 M.
3. Pelantikan Bupati Bandung III, Tumenggung Anggadiredja I, di Karapyak
(Dayeuhkolot) tahun 1704-1747 M.
4. Pelantikan Bupati Bandung IV, Demang Natapradja, di Karapyak (Dayeuhkolot)
tahun 1747-1763 M.
5. Pelantikan Bupati Bandung V, raden Anggadiredja III (R.A.A Wiranatakusumah
I) di karapyak (Dayeuhkolot) tahun 1763-1794 M.
6. Pelantikan Bupati Bandung VI, R.A.A Wiranatakusumah II, di Bandung tahun
1794-1829 M.
7. Pelantikan Bupati Bandung VII, R.A.A Wiranatakusumah III (Dalam Karang
Anyar), di Bandung tahun 1829-1846 M.
8. Pelantikan Bupati Bandung VIII, R.A.A Wiranatakusumah IV (Dalem Bintang),
di Bandung tahun 1846-1874 M.
9. Pelantikan Bupati Bandung IX, R.A Kusumadilaga (Dalem Marhum), di Bandung
tahun 1874-1893 M.
10. Pelantikan Bupati Bandung X, Martanegara, di Bandung tahun 1893-1918 M.
11. Pelantikan Bupati Bandung XI, R.H.A.A Wiranatakusumah V (Dalem Haji), di
Bandung 1920-1931 M.
12. Pelantikan Bupati Bandung XII, R.T. Hasan Sumadipraja, di Bandung tahun
1931-1935 M.
13. Pelantikan Bupati Bandung XIII, R.H.A.A Wiranatakusumah V, di Bandung
tahun 1935-1945 M.
14. Pelantikan Bupati Bandung XIV, R.T.E Suriaputra, di Bandung tahun 1945-1947.
15. Undangan pertunjukan dari presiden Soekarno di Jakarta
16. Pelantikan Gubernur Jawa Barat Aang Kunaefi di Bandung
17. Undangan pertunjukan dari Bupati Bandung Sani Lukias di Pendopo Alun-alun
18. Pemeran tingkat nasional di taman Ismail Marzuki Jakarta, Oktober 1993.
19. Pameran pembangunan Kabupaten Bandung tahun 2003 di Soreang.
Sumber data: Buku Nyucruk galur Mapay Raratan Riwayat Lebakwangi Batukarut,
1994.Inventaris Sasaka Waruga Pusaka, 2004.
Data di atas adalah catatan pertunjukan Goong Renteng Embah Bandong
dalam acara formal yang menunjukan bahwa keberadaan kesenian ini telah diakui dan
dikenal masyarakat luas. Pertunjukan tersebut menambah kesan bahwa kesenian
Goong Renteng tidak hanya sebagai kesenian rakyat biasa, tetapi sudah menjadi
bagian dari ceremonial di kalangan Bangsawan.

d. Fungsi Pelestarian dan Stabilitas Kebudayaan


Musik merupakan salah satu bagian dari kesenian, sedangkan kesenian merupakan
salah satu unsur dari kebudayaan. Kebudayaan yang dimiliki oleh manusia selalu
berubah dari masa ke masa, baik perubahan yang berlangsung dalam waktu yang
cepat atau pula perubahan yang membutuhkan waktu yang cukup lama. Dalam
penyelenggaraan kesenian Goong Renteng Embah Bandong yang dilaksanakan setiap
tahun adalah kontribusu masyarakat terhadap kesinambungan serta stabilitas
kebudayaan. Dalam hal ini masyarakat menganggap bahwa kesenian ini adalah
warisan budaya yang harus dijaga dan dilestarikan sehingga keberadaannya akan tetap
diketahui dan dikenal oleh generasi selanjutnya.

e. Fungsi Komunikasi
Penyajian kesenian Gooong Renteng Embah Bandong tidak hanya
bersamaan dengan pelaksanaan resepsi atau hajatan, tetapi kadang sehari sebelum
hajatan gamelan ini ditabuh.Hal ini untuk memberitahukan kepada masyarakat sekitar
bahwa di lingkungannya (orang yang mengadakan hajatan) ada yang
menyelenggarakan hajat/resepsi dan masyarakat diharapkan untuk datang dan
bersama-sama menikmati suasana yang meriah.

Komunikasi Estetik kesenian Gooong Renteng Embah Bandong

Pada penelitian ini komunikasi estetik yang dimaksud adalah peristiwa


komunikasi dalam seni pertunjukan yang didalamnya terdapat relasi nilai-nilai estetik
(keindahan) sebagai pesan yang memiliki nilai antara seniman dna publiknya yang
menjadi peserta komunikasi. Kesenian bagi masyarakat suku-suku primordial
Indonesia tidak pernah lepas dari fungsi ritual atau upacara, baik yang personal
maupun komunal (rites of passages). Tidak ada kesenian demi kesenangan dan
kenikmatan. Kesenian adalah dunia simbol-simbol dan simbol adalah representasi
dari hadirnya daya-daya transenden tak nampak (kosong) melalui wujud-wujud
budaya nampak (empirik). Simbol-simbol ini abstrak-konkrit, empirik-imajinatif,
dikennal dan tak dikenal, duniawi-illahiah ( Jakob Sumardjo : 46). Komunkasi
trasendental berkesan sangat “mengada-ada” dan tidak akrab dalam khazanah ilmu
komunikasi, tetapi pada kenyataannya hal ini sangat terkait dengan kehidupan seni
pertunjukan rakyat (etnik) Indonesia (Jaeni 2012: 218). Komunikasi trasendental
terkait dengan kehidupan budaya masyarakat Timur yang religius dan bentuk
komunikasi ini sesungguhnya dilakukan oleh manusia. Nina W. Syam (Saefulloh
2007: 126-127) mendefinisikan komunikasi transendental sebagai komunikasi yang
berlangsung dalam diri dengan sesuatu di luar diri yang disadari keberadaannya.
Pemikiran perpektif antropologi metafisik ini sebenarnya dijalankan oleh mereka para
pelakunya ketika berkesenian dalam mempertunjukan kesenian Gooong Renteng
Embah Bandong yang bertujuan sebagai media pemenuhan rasa kerinduan terhadap
kampung halam serta memberi ketenangan karena bisa mentansedenkan jiawanya.

Berkaitan dengan hal itu, publik seni dalam hal ini masyarakat Arjasari tidak
hanya terdorong keterlibatan rasa dalam acaranya saja akan tetapi dalam proses
persiapannya, dimana banyak sekali hal yang harus dipersiapkan dari mulai
menyiapkan sesaji, dan syarat-syarat lainnya agar pertunjukan yang dipergelarkan
berjalan lancar dan aman, hal ini bisa menjadi pendorong komunikasi dalam
menciptakan budaya gotng royong masyarakat sekitar Bumi Alit. Jakob Sumardjo
(2007 : 25) menggaris bawahi bahwa seni pertunjukan Indonesia, termasuk seni
pertunjukan teater rakyat masih memiliki sifat transenden. Sifat ini dapat dilacak dari
seni-seni pramodern yang menyimpan pola pikir paradoks, yaitu pola pikir yang
diartikan sebagai kehadiran wujud berpasangan dan saling melengkapi (completio
oppostorum). Kehadiran kesenian Gooong Renteng Embah Bandong yang
menghadirkan aspek paradoks akan memiliki makna kehadiran Sang Maha Paradoks
itu sendiri di dunia manusia. Biasanya kehadiran arak-arakan dihadirkan pada konteks
slametan dalam peristiwa itu tersimpan peristiwa komunikasi transendental yang
menghadirkan keramat (karomah) dan mendapatkan berkat (berkah).
gambar 4. Alur komunikasi estetik kesenian Gooong Renteng Embah Bandong

Penutup

Komunikasi estetik pada kesenian Gooong Renteng Embah Bandong akan


selalu berkaitan dengan sudut pandang dunia, kepercayaan dan nilai-nilai yang
hidup dalam masyarakat bersangkutan. Komunikasi estetik tidak sekedar
menunjukan nilai dan makna pragmatis, melainkan nilai dan makna yang idealis.
Proses perilaku dan bentuk komunikasi etetik kesenian Gooong Renteng Embah
Bandong merupakan bentuk ekspresi masyarakatnya sebagai sebuah refleksi
kehidupan masyarakat pendukungnya berdasarkan kepercayaan dan nilai-nilai yang
dianutnya. Hal ini menunjukan bahwa proses perilaku dan bentuk komunikasi
estetik kesenian Gooong Renteng Embah Bandong sangat unik karena melibatkan
simbol-simbol yang bisa dipahami oleh lingkungan budaya masyarakat
pendukungnya dipandang dari konteks komunikasi trasendental. Berdasarkan
pendapat-pendapat di atas peneliti menyimpulkan bahwa kesenian kesenian Gooong
Renteng Embah Bandong yang hidup di kalangan masyarakat Arjasari,Kabupaten
Bandung, merupakan kesenian yang dapat mempererat tali kekeluargaan
masyarakat keturuna Lebakwangi – Batukart dan memiliki fungsi komunikasi
tertentu pula dalam kehidupan masyarakatnya. kesenian Gooong Renteng Embah
Bandong merupakan kesenian tradisional bukan hanya merupakan suatu sarana
hiburan saja, tetapi berperan erat dalam segi agama, persembahan atau sebagai
wujud ungkapan dari rasa syukur maupun bentuk ekspresi dari masyarakat
keturunannya.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurahman, Dudung. (1999). Metode Penelitian Sejarah. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.

Ahimsa, P. (2000). Ketika Orang Jawa Nyeni. Yogyakarta. Galang Press

Gootschalk, Louis. (1986). Mengerti Sejarah. Jakarta: UI Press.

Heint. L Ernst. (1977). Aspects Orchestral an Musical in Sundanese a Village. Amsterdam

Danya,Li. (1994). Nyukcruk Galur Mapay Raratan Riwayat Lebakwangi Bantukarut.


Bandung: Sasaka Waruga Pusaka.

Herawan, D. (2002). Etnomusikologi, Beberapa Permasalahan Dalam Musik Sunda. Bandung


: STSI Press.

Ismaun.(2005). Pengantar Sejarah Sebagai Ilmu dan Wahana Pendidikan. Bandung : Historia
Utama Press.

Jaeni,2012. Komunikasi Estetik. Bogor: PT Penerbit IPB Press

Jeani. 2012. Jurnal Seni dan Budaya vol. 22, No.2 April-Juni 2012: 160-168

Kartawiriaputra,S. (1994). Oral History (Sejarah Lisan Suatu Pengantar). Bandung: Jurusan
Pendidikan Sejarah FPIPS UPI.
Kartodirjo, Sartono. (1992). Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Penelitian Sejarah.
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Khayam, U. (1981). Seni Tradisi Masyarakat. Jakarta: Sinar Harapan.

Koentjaraningrat. (1981). Sejarah Teori Antropologi I. UI Press. Jakarta

Nalan, Arthur S. dan Ganjar Kurnia. (2003). Deskripsi Kesenian Jawa Barat. Bandung :
Disbudpar Jabar & PDP UNPAD.

Sumardjo, Jakob 2003 SimbolSimbol Artefak Budaya Sunda: Tafsirtafsir Pantun Sunda.
Bandung: Kelir.