Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

KEGAWAT DARURATAN NAPZA

DOSEN MATA KULIAH : Ns. Edo Gusdiansyah, M.Kep

DISUSUN OLEH :

Nama : Putri Oktavia


Nim : 1710105099

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ALIFAH PADANG


PROGRAM STUDI KEPERAWATAN
TAHUN AJARAN 2019/2020
KATA PENGANTAR

Dengan  memanjatkan puji syukur ke hadirat  Tuhan Yang Maha Esa, atas segala
limpahan rahmat dan karunia Nya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan
makalah ini yang berjudul ‘kegawat daruratan napza’
Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas Mata Kuliah
NAPZA.Kami berterima kasih kepada Dosen Pembimbing dan semua pihak yang
telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini,kami menyadari bahwa dalam
proses penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara
penulisannya.Oleh karenanya, kami dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka
menerima masukan, saran dan usul guna penyempurnaan makalah ini.Akhir kata,
semoga makalah ini dapat bermanfaat baik bagi penulis sendiri, pembaca maupun
bagi semua pihak.

                                                                            Padang,17 Maret 2020

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR.................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... 1
1.1 Latar Belakang........................................................................................ 1
1.2 Tujuan Penulisan ................................................................................... 2
1.2.1 Tujuan Umum......................................................................................... 2
1.2.2 Tujuan Khusus........................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN………………......................................................... 3
2.1 pengertian Napza..................................................................................... 3
2.2 jenis napza yang disalahgunakan............................................................. 3
2.3 penyalahgunaan dan ketergentungan....................................................... 3
2.4 Tanda dan Gejala Napza ......................................................................... 4
2.5 gejala klinis penyalahgunaan napza.......................................................... 6
2.6. peralatan yang digunakan dalam napza.................................................... 9
2.7. Rehabilitas Napza...................................................................................... 9
2.8. peran perawat dalam menanggulangi napza............................................. 10
BAB III PENUTUP………............................................................................ 13
3.1 Kesimpulan............................................................................................. 13
3.2 Saran ..................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA……………………….................................................. 14
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Gangguan penggunaan Narkotika Psikotropika dan Zat Adiktif lain (NAPZA)
merupakan masalah yang menjadi keprihatinan dunia international di samping masalah
HIV/AIDS, kekerasan (violence), kemiskinan, pencemaran lingkungan, pemanasan global
dan kelangkaan pangan. Sejak tahun 1987, PBB mengeluakan laporan tahunan konsumsi
narkoba di dunia. Saat ini, sekitar 25 juta orang mengalami ketergantungan NAPZA. Di
Indonesia pengguna NAPZA mencapai 3,8 juta jiwa. Yang menjadi lebih memprihatinkan
adalah sebagian besar pengguna tersebut ternyata adalah usia produktif, dan sebagian besar di
antaranya adalah remaja dan dewasa awal (20-30 tahun). 70 persen dari total pengguna
NAPZA di Indonesia anak usia sekolah, 4 persen lebih siswa SMA dan selebihnya
mahasiswa. Hal ini bila tidak segera ditanggulangi merupakan ancaman bagi kesejahteraan
generasi yang akan datang, di mana anak sebagai generasi muda merupakan penerus cita-cita
perjuangan bangsa dan sumber daya manusia bagi pembangunan nasional yang perlu untuk
dilindungi (BNN, 2012).
Menurut perkiraan UNODC (United Nations Office on Drugs and Crime), sekitar 200
juta orang di seluruh dunia menggunakan NAPZA jenis narkotika dan psikotropika secara
illegal. Kanabis merupakan jenis NAPZA yang paling sering di gunakan, diikuti dengan
Amfetamin, Kokain, dan Opioida. Penyalahgunaan NAPZA jenis ini di dominasi oleh pria,
dan juga lebih terlihat di kalangan kaum muda dibandingkan katagori usia lebih tua.
Sebanyak 2,7% dari populasi dunia dan 3,9% dari seluruh orang berusia 15 tahun keatas telah
menggunakan Kanabis paling sedikit sekali antara tahun 2000 dan 2001 (Depkes, 2008).
Berkembangnya jumlah pecandu NAPZA ditentukan oleh dua faktor, yaitu faktor dari
dalam (internal) diri meliputi: minat, rasa ingin tahu, lemahnya rasa ketuhanan, kesetabilan
emosi. Faktor yang kedua adalah faktor dari luar (eksternal) diri meliputi: gangguan
psikososial keluarga, lemahnya hukum terhadap pengedar dan pengguna narkoba, lemahnya
sistem sekolah termasuk bimbingan konseling, lemahnya pendidikan agama. Meskipun
narkoba sangat diperlukan untuk pengobatan dan pelayanan kesehatan, namun bila
disalahgunakan atau digunakan sesuai dengan standar pengobatan, terlebih jika disertai
dengan peredaran narkoba secara gelap akan menimbulkan akibat yang sangat merugikan
perorangan ataupun masyarakat, khususnya generasi muda,
Penyalahgunaan narkoba di Indonesia sudah sampai ke tingkat yang sangat
mengkhawatirkan, fakta di lapangan menunjukkan bahwa 50% penghuni LAPAS (Lembaga
Pemasyarakatan) disebabkan oleh kasus narkoba. Berita criminal di media massa, baik media
cetak maupun elektronik dipenuhi oleh berita tentang penyalahgunaan narkoba.
Korban narkoba meluas ke semua lapisan masyarakat dari pelajar, mahasiswa, artis,
ibu rumah tangga, pedagang, supir angkot, anak jalanan, pekerja, dan lain sebagainya.
Narkoba dengan mudahnya diperoleh, bahkan dapat diracik sendiri yang sulit dideteksi,
pabrik narkoba secara ilegalpun sudah didapati di Indonesia.
Pemakaian narkoba di luar indikasi medik, tanpa petunjuk atau resep dokter, dan
pemakaiannya bersifat patologik (menimbulkan kelainan) dan menimbulkan hambatan dalam
aktivitas di rumah, sekolah atau kampus, tempat kerja dan lingkungan social. Ketergantungan
narkoba diakibatkan oleh penyalahgunaan zat yang disertai dengan adanya toleransi zat
(dosis semakin tinggi) dan gejala putus asa, yang memiliki sifat-sifat keinginan yang tak
terhankan, kecenderungan untuk menambah takaran (dosis), ketergantungan fisik dan
psikologis.
Kejahatan narkoba merupakan kejahatan international (International Crime),
kejahatan yang terkoorganisir (Organize Crime), mempunyai jaringan yang luas, mempunyai
dukungan dana yang besar dan sudah menggunakan teknologi yang canggih.
Narkoba mempunyai dampak negatif yang sangat luas ; baik secara fisik, psikis,
ekonomi, sosial, budaya, hankam, dan lainsebagainya. Bila penyalahgunaan narkoba tidak
diantisipasi dengan baik, maka akan rusak bangsa dan negara ini. Oleh karena itu, diperlukan
kerja sama yang baik dari seluruh komponen bangsa untuk penanggulangan penyalahgunaan
narkoba.
Masalah penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainya (NAPZA)
atau istilah yang populer dikenal masyarakat sebagai NARKOBA (Narkotika dan Bahan/
Obat berbahanya) merupakan masalah yang sangat kompleks, yang memerlukan upaya
penanggulangan secara komprehensif dengan melibatkan kerja sama multidispliner,
multisektor, dan peran serta masyarakat secara aktif yang dilaksanakan secara
berkesinambungan, konsekuen dan konsisten.
Meskipun dalam Kedokteran, sebagian besar golongan Narkotika, Psikotropika dan
Zat Adiktif lainnya (NAPZA) masih bermanfaat bagi pengobatan, namun bila disalahgunakan
atau digunakan tidak menurut indikasi medis atau standar pengobatan terlebih lagi bila
disertai peredaran dijalur ilegal, akan berakibat sangat merugikan bagi individu maupun
masyarakat luas khususnya generasi muda.
Maraknya penyalahgunaan NAPZA tidak hanya dikota-kota besar saja, tapi sudah
sampai ke kota-kota kecil diseluruh wilayah Republik Indonesia, mulai dari tingkat sosial
ekonomi menengah bawah sampai tingkat sosial ekonomi atas. Dari data yang ada,
penyalahgunaan NAPZA paling banyak berumur antara 15–24 tahun. Tampaknya generasi
muda adalah sasaran strategis perdagangan gelap NAPZA. Oleh karena itu kita semua perlu
mewaspadai bahaya dan pengaruhnya terhadap ancaman kelangsungan pembinaan generasi
muda. Sektor kesehatan memegang peranan penting dalam upaya penanggulangan
penyalahgunaan NAPZA, melalui upaya Promotif, Preventif, Terapi dan Rehabilitasi.
Peran penting sektor kesehatan sering tidak disadari oleh petugas kesehatan itu
sendiri, bahkan para pengambil keputusan, kecuali mereka yang berminat dibidang kesehatan
jiwa, khususnya penyalahgunaan NAPZA. Bidang ini perlu dikembangkan secara lebih
profesional, sehingga menjadi salah satu pilar yang kokoh dari upaya penanggulangan
penyalahgunaan NAPZA. Kondisi diatas mengharuskan pula Puskesmas sebagai ujung
tombak pelayanan kesehatan dapat berperan lebih proaktif dalam upaya penanggulangan
penyalahgunaan NAPZA di masyarakat.
Dari hasil identifikasi masalah NAPZA dilapangan melalui diskusi kelompok terarah
yang dilakukan Direktorat Kesehatan Jiwa Masyarakat bekerja sama dengan Direktorat
Promosi Kesehatan – Ditjen Kesehatan Masyarakat Depkes-Kesos RI dengan petugas-
petugas puskesmas di beberapa propinsi yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Timur,
Bali ternyata pengetahuan petugas puskesmas mengenai masalah NAPZA sangat minim
sekali serta masih kurangnya buku yang dapat dijadikan pedoman.

1.2 Tujuan Penulisan


1.2.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu mengetahui Tentang Kegawatdaruratan Napza

1.2.2 Tujuan Khusus


1. Mahasiswa mampu memahami pengertian Napza
2. Mahasiswa mampu mengetahui jenis napza yang disalahgunakan
3. Mahasiswa mampu mengetahui penyalahgunaan dan ketergentungan
4. Mahasiswa mampu mengrtahui tanda dan gejala pengguna napza.
5.      Untuk mengetahui gejala klinis penyalahgunaan napza
6.      Untuk mengetahui peralatan yang digunakan dalam napza
7.      Untuk mengetahui rahabilitas
8.      Untuk mengetahui peran perawat dalam menanggulangi napza.
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Pengertian Napza


NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lain) adalah bahan/zat/obat yang
bila masuk kedalam tubuh manusia akan mempengaruhi tubuh terutama otak/susunan saraf
pusat, sehingga menyebabkan gangguan kesehatan fisik, psikis, dan fungsi sosialnya karena
terjadi kebiasaan, ketagihan (adiksi) serta ketergantungan (dependensi) terhadap NAPZA.
Istilah NAPZA umumnya digunakan oleh sektor pelayanan kesehatan, yang menitik beratkan
pada upaya penanggulangan dari sudut kesehatan fisik, psikis, dan sosial. NAPZA sering
disebut juga sebagai zat psikoaktif, yaitu zat yang bekerja pada otak, sehingga menimbulkan
perubahan perilaku, perasaan, dan pikiran.
NAPZA adalah singkatan dari narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya,
meliputi zat alami atau sintetis yang bila dikonsumsi menimbulkan perubahan fungsi fisik
dan psikis, serta menimbulkan ketergantungan (BNN, 2004).
NAPZA adalah zat yang memengaruhi struktur atau fungsi beberapa bagian tubuh
orang yang mengonsumsinya. Manfaat maupun risiko penggunaan NAPZA bergantung pada
seberapa banyak, seberapa sering, cara menggunakannya, dan bersamaan dengan obat atau
NAPZA lain yang dikonsumsi (Kemenkes RI, 2010).

2.2 Jenis Napza Yang Disalahgunakan


1.      NARKOTIKA (Menurut Undang-Undang RI Nomor 22 tahun 1997 tentang
Narkotika). Narkotika : adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan
tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau
perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan
dapat menimbulkan ketergantungan. NARKOTIKA dibedakan kedalam golongan-
golongan :
a.      Narkotika Golongan I :
Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan, dan tidak
ditujukan untuk terapi serta mempunyai potensi sangat tinggi menimbulkan
ketergantungan, (Contoh : heroin/putauw, kokain, ganja).
b.      Narkotika Golongan II :
Narkotika yang berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat
digunakan dalam terapi atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai
potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan (Contoh : morfin, petidin)
c.       Narkotika Golongan III :
Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi atau tujuan
pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan
ketergantungan (Contoh : kodein)
Narkotika yang sering disalahgunakan adalah Narkotika Golongan I :
 Opiat : morfin, herion (putauw), petidin, candu, dan lain-lain
 Ganja atau kanabis, marihuana, hashis
 Kokain, yaitu serbuk kokain, pasta kokain, daun koka.

2.  PSIKOTROPIKA (Menurut Undang-undang RI No.5 tahun 1997 tentang


Psikotropika). Yang dimaksud dengan PSIKOTROPIKA adalah zat atau obat, baik
alamiah maupun sintetis bukan Narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh
selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental
dan perilaku. PSIKOTROPIKA dibedakan dalam golongan-golongan sebagai berikut.
a.      PSIKOTROPIKA GOLONGAN I :
Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan tidak
digunakan dalam terapi serta mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan sindroma
ketergantungan. (Contoh : ekstasi, shabu, LSD)
b.      PSIKOTROPIKA GOLONGAN II :
Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi, dan/atau
tujuan ilmu pengetahuan serta menpunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma
ketergantungan . ( Contoh amfetamin, metilfenidat atau ritalin)
c.       PSIKOTROPIKA GOLONGAN III :
Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau
untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma
ketergantungan (Contoh : pentobarbital, Flunitrazepam).
d.      PSIKOTROPIKA GOLONGAN IV :
Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan/atau
untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindrom
ketergantungan (Contoh : diazepam, bromazepam, Fenobarbital, klonazepam,
klordiazepoxide, nitrazepam, seperti pil BK, pil Koplo, Rohip, Dum, MG).
Psikotropika yang sering disalahgunakan antara lain :
    Psikostimulansia : amfetamin, ekstasi, shabu
    Sedatif & Hipnotika (obat penenang, obat tidur): MG, BK, DUM, Pil koplo dan lain-
lain
    Halusinogenika : Iysergic acid dyethylamide (LSD), mushroom.
3.      ZAT ADIKTIF LAIN
Yang dimaksud disini adalah bahan/zat yang berpengaruh psikoaktif diluar yang disebut
Narkotika dan Psikotropika, meliputi :
a.      Minuman berakohol,
Mengandung etanol etil alkohol, yang berpengaruh menekan susunan syaraf pusat, dan
sering menjadi bagian dari kehidupan manusia sehari-hari dalam kebudayaan tertentu.
Jika digunakan sebagai campuran dengan narkotika atau psikotropika, memperkuat
pengaruh obat/zat itu dalam tubuh manusia. Ada 3 golongan minuman berakohol, yaitu :
           Golongan A : kadar etanol 1-5%, (Bir)
           Golongan B : kadar etanol 5-20%, (Berbagai jenis minuman anggur)
           Golongan C : kadar etanol 20-45 %, (Whiskey, Vodca, TKW, Manson House,
Johny Walker, Kamput.)
b.      Inhalansia (gas yang dihirup) dan solven (zat pelarut) mudah menguap berupa
senyawa organik, yang terdapat pada berbagai barang keperluan rumah tangga, kantor
dan sebagai pelumas mesin. Yang sering disalah gunakan, antara lain : Lem, thinner,
penghapus cat kuku, bensin.
c.       Tembakau : Pemakaian tembakau yang mengandung nikotin sangat luas di
masyarakat. Pada upaya penanggulangan NAPZA di masyarakat, pemakaian rokok dan
alkohol terutama pada remaja, harus menjadi bagian dari upaya pencegahan, karena rokok
dan alkohol sering menjadi pintu masuk penyalahgunaan NAPZA lain yang lebih
berbahaya. Bahan/ obat/zat yang disalahgunakan dapat juga diklasifikasikan sebagai
berikut :
1)      Sama sekali dilarang : Narkotoka golongan I dan Psikotropika Golongan I.
2)      Penggunaan dengan resep dokter : amfetamin, sedatif hipnotika.
3)      Diperjual belikan secara bebas : lem, thinner dan lain-lain.
4)      Ada batas umur dalam penggunannya : alkohol, rokok.
Berdasarkan efeknya terhadap perilaku yang ditimbulkan NAPZA dapat digolongkan
menjadi tiga golongan :
a.      Golongan Depresan (Downer) Adalah jenis NAPZA yang berfungsi mengurangi
aktifitas fungsional tubuh. Jenis ini menbuat pemakaiannya merasa tenang, pendiam dan
bahkan membuatnya tertidur dan tidak sadarkan diri. Golongan ini termasuk Opioida
(morfin, heroin/putauw, kodein), Sedatif (penenang), hipnotik (otot tidur), dan
tranquilizer (anti cemas) dan lain-lain.
b.      Golongan Stimulan (Upper) Adalah jenis NAPZA yang dapat merangsang fungsi
tubuh dan meningkatkan kegairahan kerja. Jenis ini membuat pemakainya menjadi aktif,
segar dan esktasi), Kafein, Kokain
c.       Golongan Halusinogen Adalah jenis NAPZA yang dapat menimbulkan efek
halusinasi yang bersifat merubah perasaan dan pikiran dan seringkali menciptakan daya
pandang yang berbeda sehingga seluruh perasaan dapat terganggu. Golongan ini tidak
digunakan dalam terapi medis. Golongan ini termasuk : Kanabis (ganja), LSD, Mescalin

Macam-macam bahan Narkotika dan Psikotropika yang terdapat di masyarakat serta


akibat pemakaiannya :
1. OPIOIDA
Opioida dibagi dalam tiga golongan besar yaitu :
    Opioida alamiah (opiat): morfin, cpium, kodein
    Opioida semi sintetik : heroin/putauw, hidromorfin
    Opioida sintetik : meperidin, propoksipen, metadon
Nama jalannya putauw, ptw, black heroin, brown sugar.
Heroin yang murni berbentuk bubuk putih, sedangkan heroin yang tidak murni
berwarna putih keabuan. Dihasilkan dari cairan getah opium poppy yang diolah menjadi
morfin kemudian dengan proses tertentu menghasil putauw, dimana putauw mempunyai
kekuatan 10 kali melebihi morfin. Opioid sintetik yang mempunyai kekuatan 400 kali lebih
kuat dari morfin.
2. KOKAIN

Kokain mempunyai dua bentuk yaitu : kokain hidroklorid dan free base. Kokain berupa

kristal pitih. Rasa sedikit pahit dan lebih mudah larut dari free base. Free base tidak
berwarna/putih, tidak berbau dan rasanya pahit. Nama jalanan dari kokain adalah koka,coke,

happy dust, charlie, srepet, snow salju, putih. Biasanya dalam bentuk bubuk putih.

Cara pemakaiannya : dengan membagi setumpuk kokain menjadi beberapa bagian

berbaris lurus diatas permukaan kaca atau benda-benda yang mempunyai permukaan datar

kemudian dihirup dengan menggunakan penyedot deperti sedotan. Atau dengan cara

dibakar bersama tembakau yang sering disebut cocopuff. Ada juga yang melalui suatu

proses menjadi bentuk padat untuk dihirup asapnya yang populer disebut freebasing.

Penggunaan dengan cara dihirup akan berisiko kering dan luka pada sekitar lubang hidung

bagian dalam

3. AMPHETAMINES
Nama generik amfetamin adalah D-pseudo epinefrin berhasil disintesa tahun 1887, dan
dipasarkan tahun 1932 sebagai obat.Nama jalannya : seed,meth,crystal,uppers,whizz dan
sulphate.
4.   LSD (Lysergic acid)
Termasuk dalam golongan halusinogen,dengan nama jalanan : acid, trips, tabs, kertas.
Bentuk yang bisa didapatkan seperti kertas berukuran kotak kecil sebesar seperempat
perangko dalam banyak warna dan gambar, ada juga yang berbentuk pil, kapsul.
Cara menggunakannya dengan meletakkan LSD pada permukaan lidah dan bereaksi setelah
30-60 menit sejak pemakaian dan hilang setelah 8-12 jam.
5. SEDATIF-HIPNOTIK (BENZODIAZEPIN)
Digolongkan zat sedatif (obat penenang) dan hipnotika (obat tidur). Nama jalanan dari
Benzodiazepin : BK, Dum, Lexo, MG, Rohyp. Pemakaian benzodiazepin dapat melalui :
oral,intra vena dan rectal Penggunaan dibidang medis untuk pengobatan kecemasan dan
stres serta sebagai hipnotik (obat tidur).
6.     SOLVENT / INHALANSIA
Adalah uap gas yang digunakan dengan cara dihirup.Contohnya : Aerosol, aica aibon,
isi korek api gas, cairan untuk dry cleaning, tiner,uap bensin. Biasanya digunakan secara
coba-coba oleh anak dibawah umur golongan kurang mampu/ anak jalanan.
Efek yang ditimbulkan : pusing, kepala terasa berputar, halusinasi ringan, mual, muntah,
gangguan fungsi paru, liver dan jantung.
7. ALKOHOL
Merupakan salah satu zat psikoaktif yang sering digunakan manusia. Diperoleh dari
proses fermentasi madu, gula, sari buah dan umbi-umbian. Dari proses fermentasi diperoleh
alkohol dengan kadar tidak lebih dari 15%, dengan proses penyulingan di pabrik dapat
dihasilkan kadar alkohol yang lebih tinggi bahkan mencapai 100%.
Nama jalanan alkohol : booze, drink. Konsentrasi maksimum alkohol dicapai 30-90
menit setelah tegukan terakhir. Sekali diabsorbsi, etanol didistribisikan keseluruh jaringan
tubuh dan cairan tubuh. Sering dengan peningkatan kadar alkohol dalam darah maka orang
akan menjadi euforia, mamun sering dengan penurunannya pula orang menjadi depresi.

2.3 Penyalahgunaan Dan Ketergentungan


Penyalahgunaan dan Ketergantungan adalah istilah klinis/medik-psikiatrik yang
menunjukan ciri pemekaian yang bersifat patologik yang perlu di bedakan dengan tingkat
pemakaian psikologik-sosial, yang belum bersifat patologik.
1.      PENYALAHGUNAAN NAPZA adalah penggunaan salah satu atau beberapa
jenis NAPZA secara berkala atau teratur diluar indikasi medis,sehingga menimbulkan
gangguan kesehatan fisik, psikis dan gangguan fungsi sosial.
2.      KETERGANTUNGAN NAPZA adalah keadaan dimana telah terjadi
ketergantungan fisik dan psikis, sehingga tubuh memerlukan jumlah NAPZA yang makin
bertambah (toleransi), apabila pemakaiannya dikurangi atau diberhentikan akan timbul gejala
putus zat (withdrawal syamptom). Oleh karena itu ia selalu berusaha memperoleh NAPZA
yang dibutuhkannya dengan cara apapun, agar dapat melakukan kegiatannya sehari-hari
secara “normal”
3.      TINGKAT PEMAKAIAN NAPZA.
a.       Pemakaian coba-coba (experimental use), yaitu pemakaian NAPZA yang
tujuannya ingin mencoba,untuk memenuhi rasa ingin tahu. Sebagian pemakai berhenti
pada tahap ini, dan sebagian lain berlanjut pada tahap lebih berat.
b.      Pemakaian sosial/rekreasi (social/recreational use) : yaitu pemakaian NAPZA
dengan tujuan bersenang-senang,pada saat rekreasi atau santai. Sebagian pemakai
tetap bertahan pada tahap ini,namun sebagian lagi meningkat pada tahap yang lebih
berat.
c.       Pemakaian Situasional (situasional use) : yaitu pemakaian pada saat mengalami
keadaan tertentu seperti ketegangan, kesedihan, kekecewaan, dan sebagainnya,
dengan maksud menghilangkan perasaan-perasaan tersebut.
d.      Penyalahgunaan (abuse): yaitu pemakaian sebagai suatu pola penggunaan yang
bersifat patologik/klinis (menyimpang) yang ditandai oleh intoksikasi sepanjang hari,
tak mapu mengurangi atau menghentikan, berusaha berulang kali mengendalikan,
terus menggunakan walaupun sakit fisiknya kambuh. Keadaan ini akan menimbulkan
gangguan fungsional atau okupasional yang ditandai oleh tugas dan relasi dalam
keluarga tak terpenuhi dengan baik,perilaku agresif dan tak wajar, hubungan dengan
kawan terganggu, sering bolos sekolah atau kerja, melanggar hukum atau kriminal
dan tak mampu berfungsi secara efektif.
e.       Ketergantungan (dependence use) : (dependence use) : yaitu telah terjadi toleransi
dan gejala putus zat, bila pemakaian NAPZA dihentikan atau dikurangi dosisnya.
Agar tidak berlanjut pada tingkat yang lebih berat (ketergantungan), maka sebaiknya
tingkat-tingkat pemakaian tersebut memerlukan perhatian dan kewaspadaan
keluarga dan masyarakat. Untuk itu perlu dilakukan penyuluhan pada keluarga dan
masyarakat.

2.4. Tanda Dan Gejala Napza


Pengaruh NAPZA pada tubuh disebut intoksikasi. Selain intoksikasi, ada juga
sindroma putus zat yaitu sekumpulan gejala yang timbul akibat penggunaan zat yang
dikurangi atau dihentikan. Tanda dan gejala intoksikasi dan putus zat berbeda pada jenis zat
yang berbeda.
1. Tanda dan Gejala Intoksikasi
Opiat Ganja Sedatif-Hipnotik Alkohol Amfetam
ine

- eforia - eforia -   pengendalian diri - mata merah -   selalu


- mengantuk - mata merah berkurang - bicara cadel terdoron
- bicara - mulut kering -   jalan sempoyongan - jalan g
cadel - banyak -   mengantuk Sempoyongan untuk
- konstipasi Bicara -   memperpanjang -   perubahan bergerak
- penurunan dan tertawa tidur persepsi -
Kesadaran -   nafsu makan -   hilang -    penurunan berkering
meningkat kesadaran kemampuan at
-   gangguan menilai - gemetar
Persepsi - cemas
- depresi
-
paranoid

2. Tanda dan Gejala Putus Zat

Opiat Ganja Sedatif-Hipnotik Alkohol Amfetamine

* nyeri jarang * cemas * cemas * cemas


* mata dan ditemukan * tangan * depresi * depresi
hidung gemetar * muka merah * kelelahan
berair * perubahan * mudah * energi
* perasaan persepsi marah berkurang
panas dingin * gangguan * tangan * kebutuhan
* diare daya ingat gemetar Tidur
* gelisah * tidak bisa * mual muntah meningkat
* tidak bisa tidur * tidak bisa
Tidur Tidur

2.5. Gejala Klinis Penyalahgunaan Napza


1.      Perubahan Fisik
Gejala fisik yang terjadi tergantung jenis zat yang digunakan, tapi secara umum dapat
digolongkan sebagai berikut :
 Pada saat menggunakan NAPZA : jalan sempoyongan, bicara pelo (cadel), apatis
(acuh tak acuh), mengantuk, agresif,curiga
 Bila kelebihan disis (overdosis) : nafas sesak,denyut jantung dan nadi lambat, kulit
teraba dingin, nafas lambat/berhenti, meninggal.
 Bila sedang ketagihan (putus zat/sakau) : mata dan hidung berair,menguap terus
menerus,diare,rasa sakit diseluruh tubuh,takut air sehingga malas mandi,kejang,
kesadaran menurun.
 Pengaruh jangka panjang, penampilan tidak sehat,tidak peduli terhadap kesehatan
dan kebersihan, gigi tidak terawat dan kropos, terhadap bekas suntikan pada lengan
atau bagian tubuh lain (pada pengguna dengan jarum suntik)
2.      Perubahan Sikap dan Perilaku
 Prestasi sekolah menurun,sering tidak mengerjakan tugas sekolah,sering
membolos,pemalas,kurang bertanggung jawab.
 Pola tidur berubah,begadang,sulit dibangunkan pagi hari,mengantuk dikelas atau
tampat kerja.
 Sering berpegian sampai larut malam,kadang tidak pulang tanpa memberi tahu lebih
dulu
 Sering mengurung diri, berlama-lama dikamar mandi, menghindar bertemu dengan
anggota keluarga lain dirumah
 Sering mendapat telepon dan didatangi orang tidak dikenal oleh keluarga,kemudian
menghilang
 Sering berbohong dan minta banyak uang dengan berbagai alasan tapi tak jelas
penggunaannya, mengambil dan menjual barang berharga milik sendiri atau milik
keluarga, mencuri, mengomengompas terlibat tindak kekerasan atau berurusan dengan
polisi.
 Sering bersikap emosional, mudah tersinggung, marah, kasar sikap bermusuhan,
pencuriga, tertutup dan penuh rahasia

2.6. Peralatan Yang Digunakan Dalam Napza


Ada beberapa peralatan yang dapat menjadi petunjuk bahwa seseorang mempunyai
kebiasaan menggunakan jenis NAPZA tertentu. Misalnya pada pengguna Heroin, pada
dirinya, dalam kamarnya, tasnya atau laci meja terdapat antara lain :

 Jarum suntik insulin ukuran 1 ml,kadang-kadang dibuang pada saluran air di kamar
mandi,
 Botol air mineral bekas yang berlubang di dindingnya,
 Sedotan minuman dari plastic
 Gulungan uang kertas,yang digulung untuk menyedot heroin atau kokain,
 Kertas timah bekas bungkus rokok atau permen karet, untuk tempat heroin dibakar.
 Kartu telepon,untuk memilah bubuk heroin,
 Botol-botol kecil sebesar jempol,dengan pipa pada dindingnya

2.7. Rehabilitas
a) Rehabilitasi psikososial
Program rehabilitasi psikososial merupakan persiapan untuk kembali ke masyarakat
(reentry program). Oleh karena itu, klien perlu dilengkapi dengan pengetahuan dan
keterampilan misalnya dengan berbagai kursus atau balai latihan kerja di pusat-pusat
rehabilitasi. Dengan demikian diharapkan bila klien selesai menjalani program rehabilitasi
dapat melanjutkan kembali sekolah/kuliah atau bekerja.
b) Rehabilitasi kejiwaan
Dengan menjalani rehabilitasi diharapkan agar klien rehabilitasi yang semua
berperilaku maladaptif berubah menjadi adaptif atau dengan kata lain sikap dan tindakan
antisosial dapat dihilangkan, sehingga mereka dapat bersosialisasi dengan sesama rekannya
maupun personil yang membimbing dan mengasuhnya. Meskipun klien telah menjalani
terapi detoksifikasi, seringkali perilaku maladaptif tadi belum hilang, keinginan untuk
menggunakan NAPZA kembali atau craving masih sering muncul, juga keluhan lain seperti
kecemasan dan depresi serta tidak dapat tidur (insomnia) merupakan keluhan yang sering
disampaikan ketika melakukan konsultasi dengan psikiater. Oleh karena itu, terapi
psikofarmaka masih dapat dilanjutkan, dengan catatan jenis obat psikofarmaka yang
diberikan tidak bersifat adiktif (menimbulkan ketagihan) dan tidak menimbulkan
ketergantungan. Dalam rehabilitasi kejiwaan ini yang penting adalah psikoterapi baik secara
individual maupun secara kelompok. Untuk mencapai tujuan psikoterapi, waktu 2 minggu
(program pascadetoksifikasi) memang tidak cukup; oleh karena itu, perlu dilanjutkan dalam
rentang waktu 3 – 6 bulan (program rehabilitasi). Dengan demikian dapat dilaksanakan
bentuk psikoterapi yang tepat bagi masing-masing klien rehabilitasi. Yang termasuk
rehabilitasi kejiwaan ini adalah psikoterapi/konsultasi keluarga yang dapat dianggap sebagai
rehabilitasi keluarga terutama keluarga broken home. Gerber (1983 dikutip dari Hawari,
2003) menyatakan bahwa konsultasi keluarga perlu dilakukan agar keluarga dapat
memahami aspek-aspek kepribadian anaknya yang mengalami penyalahgunaan NAPZA.
c) Rehabilitasi komunitas
Berupa program terstruktur yang diikuti oleh mereka yang tinggal dalam satu
tempat. Dipimpin oleh mantan pemakai yang dinyatakan memenuhi syarat sebagai koselor,
setelah mengikuti pendidikan dan pelatihan. Tenaga profesional hanya sebagai konsultan
saja. Di sini klien dilatih keterampilan mengelola waktu dan perilakunya secara efektif
dalam kehidupannya sehari-hari, sehingga dapat mengatasi keinginan mengunakan narkoba
lagi atau nagih (craving) dan mencegah relaps. Dalam program ini semua klien ikut aktif
dalam proses terapi. Mereka bebas menyatakan perasaan dan perilaku sejauh tidak
membahayakan orang lain. Tiap anggota bertanggung jawab terhadap perbuatannya,
penghargaan bagi yang berperilaku positif dan hukuman bagi yang berperilaku negatif
diatur oleh mereka sendiri.
d) Rehabilitasi keagamaan
Rehabilitasi keagamaan masih perlu dilanjutkan karena waktu detoksifikasi tidaklah
cukup untuk memulihkan klien rehabilitasi menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan
agamanya masing-masing. Pendalaman, penghayatan, dan pengamalan keagamaan atau
keimanan ini dapat menumbuhkan kerohanian (spiritual power) pada diri seseorang
sehingga mampu menekan risiko seminimal mungkin terlibat kembali dalam
penyalahgunaan NAPZA apabila taat dan rajin menjalankan ibadah risiko kekambuhan
hanya 6,83%; bila kadang-kadang beribadah risiko kekambuhan 21,50%, dan apabila tidak
sama sekali menjalankan ibadah agama risiko kekambuhan mencapai 71,6%.Kesembuhan
Untuk pemakai psikotropika (ekstasi, shabu), rehabilitasi sering berhasil denagn baik.
Bahkan ada penderita yang dapat sembuh 100%. Pemakai morfin cukup banyak yang
berhasil sembuh. Sedangkan pemakai heroin /putaw jarang yang berhasil sembuh. Pemakai
putaw yang berhasil sembuh sangat langka.

2.8. Peran Perawat Dalam Menanggulangi Napza


1. Fasilitator

Yaitu: perawat berperan dalam memfasilitasi eks pengguna NAPZA melalui


kegiatan penguatan keterampilan hidup dengan membantu mengungkapakan keterampilan
apa yang perlu diperkuat dan mengembangkan motivasi agar upaya tersebut dapat dikelola /
diorganisir dengan baik dengan mendayagunakan sumber yang ada seperti lembaga yang
memberikan pelayanan kesejahteraan sosial, pendidikan, pelatihan, kesehatan yang dapat
memberikan penguatan keterampilan hidup.
2. Edukator
Perawat berperan dalam melakukan kegiatan bimbingan untuk meningkatkan
keterampilan hidup eks pengguna NAPZA, seperti bimbingan untuk mengembangkan
keterampilan berkomunikasi secara efektif, keterampilan mengatasi stres, keterampilan
mengatasi masalah.

3. Motivator
Perawat berperan dalam memberikan dorongan kepada eks pengguna NAPZA agar
saling memberikan dukungan.
4. Supervisor
Perawat berperan dalam melakukan kegiatan memantau, mendorong, dan membantu
mengarahkan aktivitas-aktivitas eks pengguna NAPZA sehingga dapat mencapai tujuan
perubahan yang diharapkan / direncanakan.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Masalah penyalahguanaan NARKOBA / NAPZA khususnya pada remaja adalah
ancaman yang sangat mencemaskan bagi keluarga khususnya dan suatu bangsa pada
umumnya. Pengaruh NAPZA sangatlah buruk, baik dari segi kesehatan pribadinya, maupun
dampak sosial yang ditimbulkannya.
Masalah pencegahan penyalahgunaan NAPZA bukanlah menjadi tugas dari sekelompok
orang saja, melainkan menjadi tugas kita bersama. Upaya pencegahan penyalahgunaan
NAPZA yang dilakukan sejak dini sangatlah baik, tentunya dengan pengetahuan yang cukup
tentang penanggulangan tersebut.Peran orang tua dalam keluarga dan juga peran pendidik di
sekolah sangatlah besar bagi pencegahan penanggulangan terhadap NAPZA.

3.2. Saran
Dengan mengetahui fakta dan fenomena tersebut, diharapkan pencegahan dalam
penggunaan obat-obatan tersebut dapat lebih efektif mengingat pengaruh yang sangat
negative bagi jiwa dan raga pemakainya. Karena dengan adanya kesadaran dari semua
lapisan masyarakat akan bahaya NAPZA bagi kehidupan akan mampu meminimalisir hal-hal
negative yang akan terjadi akibat penggunaan obat-obatan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Partodiharjo, subagyo. (2014). Kenali narkoba dan musuhi penyalahgunaannya. Jakarta :
Erlangga.
Purba, JM, dkk. (2015). Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Masalah Psikososial dan
Gangguan Jiwa. Medan: USU Press.
Simuh, dkk., Tasawuf dan krisis, semarang, Pustaka Pelajar, 2014
M.Arief Hakim, Bahaya Narkoba Alkohol: Mengatasi, Mencegah dan Melawan, Bandung:
Nuansa, 2013.
Marviana, Dian.M. (n.d.); Kemitraan Peduli Penanggulangan Bahaya Narkoba DKI Jakarta
(2013); Irwanto et.al. (2013), dll.
http://yanialkarim.blogspot.com/2016/07/makalah-napza.html?m=1