Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH TEORI AKUNTANSI

“Rerangka Konseptual – Suatu Model”


Raisya Puspa Septiani, S.E., M.Ak

DISUSUN OLEH :
- TELLYTA MAULANI ( 22062201 0787 )
- AYU PERTIWI ( 22062201 0864 )

PRODI : AKUNTANSI . SEMESTER IV

INSTITUT BISNIS MUHAMMADIYAH BEKASI


2020 - 2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah Teori Akuntansi ini dengan judul “Rerangka Konseptual – Suatu
Model” yang digunakan untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen
Teori Akuntansi, Raisya Puspa Septiani, S.E., M.Ak

Kami mengucapkan banyak terimakasih karena dalam penulisan makalah


ini tidak terlepas dari bantuan banyak pihak yang dengan tulus memberikan
doa, saran dan kritik sehingga makalah ini dapat diselesaikan.

Kami menyadari bahwa makalah ini belumlah sempurna dikarenakan


keterbatasan pengetahuan dan pengalaman yang kami miliki. Oleh karena itu,
kami mengharapkan saran dan masukan yang membangun dari berbagai
pihak. Akhirnya kami berharap makalah ini dapat memberikan manfaat bagi
perkembangan dunia Pendidikan.

Bekasi, 14 Maret 2020

Penulis
DAFTAR ISI

COVER

KATA PENGANTAR

BAB I . PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
I.2 Rumusan Masalah
I.3 Tujuan Pembahasan

BAB II . PEMBAHASAN
II.1 Tujuan Pelaporan Keuangan
II.2 Aspek Sosial Tujuan Pelaporan
- Tujuan Fungsional
- Tujuan Bersama
- Tujuan Kelompok Dominan
II.3 Perkembangan Tujuan Pelaporan Keuangan
- Tujuan Versi ASOBAT
- Tujuan Versi APB No. 4
- Tujuan Versi Trueblood Committe
- Tujuan Pelaporan Keuangan FASB
II.4 Tujuan Pelaporan Keuangan FASB
II.5 Karakteristik Kualitatif Informasi
II.6 Pengukuran dan Pengakuan
II.7 Manfaat dan Keterbatasan Model

BAB III. PENUTUP


III.1 Kesimpulan
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Rerangka Konseptual versi FASB adalah suatu model hasil
perekayasaan yang dapat dijadikan acuan penalaran untuk pengambangan
rerangka acuan baru untuk konteks lingkungan yang berbeda.
RK FASB memuat empat komponen konsep utama yaitu : tujuan
pelaporan keuangan, karaktersitik kualitatif informasi, elemen-elemen
keuangan dan pengukuran dan pengakuan. Komponen tersebut berkaitan
dengan secara logis dan koheren serta menggambarkan tahapan proses
perekayasaan pelaporan keuangan.
Tujuan FASB merupakan untuk melekatkan tujuan fungsional
akuntansi dengan memfokuskan pada investor dan kreditor sebagai pihak
dominan yang akan ditujukan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Menjelaskan Tujuan Pelaporan Keuangan
2. Menjelaskan Aspek Sosial Tujuan Pelaporan
3. Menjelaskan Perkembangan Tujuan Pelaporan
4. Menjelaskan Tujuan Pelaporan Keuangan FASB
5. Menjelaskan Karakteristik Kualitatif Informasi
6. Menjelaskan Pengukuran dan Pengakuan
7. Menjelaskan Manfaat dan Keterbatasan Model

1.3 Tujuan Pembahasan


Agar para pembaca mudah memahami tentang Rerangka Konseptual Suatu Model
BAB II
PEMBAHASAN

II.1 Tujuan Pelaporan Keuangan


Tujuan ini adalah ke arah mana segala upaya, tindakan dan
pertimbangan dicurahkan. Oleh karena itu, tujuan pelaporan keuangan ini
merupakan langkah yang paling krusial dalam perekayasaan akuntansi. Tujuan
pelaporan ini menentukan konsep dan prinsip yang relevan yang akhirnya
menentukan bentuk, isi, jenis, dan susunan statemen keuangan. Untuk
menurunkan tujuan pelaporan keuangan, pihak yang dituju dan
kepentingannya harus diidentifikasi dengan jelas sehingga informasi yang
dihasilkan pelaporan keuangan ini dapat memuaskan kebutuhan informasional
pihak yang akan dituju. Dengan demikian, tujuan yang lebih luas (tujuan
ekonomik dan sosial negara) akan tercapai.

II.2 Aspek Sosial Tujuan Pelaporan


Sebagai teknologi, pelaporan keuangan dalam suatu ngara harus
direkayasa sehingga tujuan sosial dan ekonomik negara tercapai. Tujuan
nasional dapat tercapai apabila kegiatan individual dengan berbagai motivasi
untuk mencapai tujuan individualnya juga memaksimumkan tujuan negara.
Dengan kata lain, terjadi keselarasan antara tujuan/perilaku ekonomik
individual yang membentuk masyarakat dan tujuan ekonomik negara.
- Tujuan Fungsional
Tujuan masyarakat atau organisasi secara keseluruhan tanpa
memperhatikan
tujuan/motivasi masing-masing individual di dalamnya. Tujuan individual
tidak dapat diamati sedangkan tujuan fungsional dapat diidentifikasi
dengan mengamati konsekuensi- konsekuensi dari kegiatan masyarakat atau
organisasi yang nyatanya terjadi.
- Tujuan Bersama
Satu atau beberapa (subhimpunan) tujuan individual yang sama
dengan tujuan
individual yang sama dengan tujuan individual lainnya. Tujuan fungsional
disusun tanpa memperhatikan tujuan-tujuan individual, tujuan bersama
ditentukan dengan mengidentifikasi dahulu tujuan-tujuan individual
kemudian memilih tujuan-tujuan individual (selutuh anggota masyarakat)
yang sama untuk dijadikan tujuan kegiatan sosial. Tujuan bersama
merupakan proses yang sangat kompleks karena dalam kenyataannya
terdapat berbagai kelompok pemakai yang tujuan/motifnya berbeda
serta model pengambilan keputusan (decision making process) tiap
kelompok pemakai atau tiap anggotanya juga sulit diidentifikasi.
- Tujuan Kelompok Dominan
Tujuan model pengambilan keputusan semua individual atau
kelompok individual dapat diidentifikasi, tujuan beberapa individual atau
beberapa kelompok individual yang dominan dalam suatu kegiatan
masyarakat dapat dijadikan tujuan kegiatan sosial (dan ekonomik)
masyarakat bersangkutan, kelompok grup dominan ini adalah kelompok yang
konsekuensi keputusan atau tindakannya mempengaruhi secara kuat
semua anggota masyarakat.
Kalau akuntansi sebagai kegiatan sosial harus menentukan tujuan atas
dasar kelompok dominan, harapannya adalah sebagian tujuan-tujuan
kelompok non dominan ada yang selaras dengan tujuan kelompok dominan.
Demikian kalau informasi akuntansi ditujukan kepada kelompok dominan,
kelompok mendominan dapat menjadi penumpang pakai (free- Riders).

II.3 Perkembangan Tujuan Pelaporan Keuangan


Atas dasar aspek sosial tujuan pelaporan keuangan dalam profesi
akuntansi di Amerika mengalami semacam evolusi. Perkembangan terjadi
karena pergeseran kesepatan dalam hal siapa kelompok yang akan dituju, apa
kepentingannya, dan seperti apa model pengambilan keputusan yang akan
digunakan.
- Tujuan Versi ASOBAT
Komite eksekutif AAA tidak secara spesifik mengidentifikasi pihak
pemakai laporan keuangan. Komite ini bertujuan pelopran keuangan dengan
menunjukkan manfaatnya untuk :
1. Membuat keputusan yang berkaitan dengan penggunaan
sumberdaya (alam, fisis, manusia, dan finansial) yang terbatas.
2. Mengarahkan dan mengendalikan sumber daya fisis dan manusia
suatu organisasi secara efektif.
3. Memelihara dan melaporkan pengelolaan sumber daya yang dapat
dipercayakan kepada Manajemen.
4. Memberi kemudahan berjalannya fungsi dan pengendalian sosial.
Dapat disimpulkan bahwa pemakai yang diarah oleh tujuan di atas
adalah berbagai kelompok yaitu manajemen, investor, kreditor, pegawai,
pemasok, dan regulator walaupun tujuan sosial juga menjadi perhatian
sebagaimana terefleksi dalam tujuan keempat.
- Tujuan Versi APB No. 4
Tujuan pelaporan keuangan yang dicanangkan dalam APB No. 4
secara umum dinyatakan sebagai berikut :
The basic purpose of financial accounting and financial statements
is to provide f inancial information about individual business
enterprises that is useful in making economic decisions.
APB No. 4 memuat dua tujuan pelaporan yaitu tujuan umum
(general objectives) dan tujuan kualitatif (qualitative objectives).
- Tujuan Versi Trueblood Committee
Komite yang diketuai oleh Robert M. Trueblood dibentuk untuk
AICPA pada tahun 1971 mendapat tugas untuk menyempurnakan dan
mengembangkan tujuan pelaporan yang telah dihasilkan oleh APB. Tujuan APB
No. 4 yang saling berkaitan secara hierarkis dengan menunjukkan empat aspek
yang melekat pada tiap tujuan yaitu : informasi tentang apa, siapa yang dituju,
untuk apa informasi digunakan, serta hierarki tujuan dengan tujuan lainnya.

II.4 Tujuan Pelaporan Keuangan FASB


FASB mendasarkan penyusunan tujuan pelaporan pada tiga aspek
landasan pikiran yaitu bahwa :
1. Tujuan pelaporan keuangan ditentukan oleh lingkungan ekonomik,
hukum, politis, dan sosial tempat akuntansi diterapkan
2. Tujuan pelaporan dipengaruhi oleh karakteristik dan keterbatasan
informasi yang dapat disampaikan melalui mekanisme pelaporan
keuangan
3. Tujuan pelaporan memerlukan suatu fokus untuk menghindari
terlalu umumnya informasi akibat terlalu banyaknya pihak pemakai
yang ingin dipenuhi kebutuhan informasionalnya

II.5 Karakteristik Kualitatif Informasi


Rerangka konseptual merupakan pedoman (semacam konstitusi)
bagi penyusun standar untuk memutuskan apakah suatu objek atau kejadian
harus diwajibkan, melalui standar akuntansi, untuk dilaporkan oleh badan
usaha atau organisasi. Bila belum ada standar akuntansi untuk suatu kejadian,
manajemen badan usaha (penyusun statement) juga menghadapi masalah
apakah suatu kejadian harus dilaporkan dan bagaimana melaporkannya.
Penentuan apakah suatu objek layak dilaporkan atau tidak dan bagaimana
melaporkannya melibatkan apa yang disebut pilihan/alternatif akuntansi
(accounting choices) karena tersedianya berbagai alternatif perlakuan
akuntansi. Jadi, ada dua tataran atau level kebijakan akuntansi yaitu tataran
penyusun standar dan tataran badan usaha secara individual.
Menurut Statement of Financial Accounting (SFAC) No.2
karakteristik kualitatif dari informasi Akuntansi adalah sebagai berikut :

- Nilai Informasi
Mengatakan bahwa informasi harus bermanfaat bagi para memakai
sama saja dengan mengatakan bahwa informasi harus mempunyai nilai.
Informasi dikatakan mempunyai nilai (kebermanfaatan keputusan) apabila
informasi tersebut :
1. Menambah pengetahuan membuat keputusan tentang
keputusannya di masa lalu, sekarang, atau masa datang
2. Menambah keyakinan para pemakai mengenai probabilitas
terealisasinya suatu harapan dalam kondisi ketidakpastian
3. Mengubah keputusan atau perilaku para pemakai
- Keterpahamian (Understandibility)
Keterpahamian adalah kemampuan informasi untuk dapat dicerna
maknanya oleh pemakai. FASB menganalogi informasi sebagai alat atau
perkakas (tool). Alat akan bermanfaat bagi pemakai kalau alat tersebut
memang alat yang cocok atau tepat dan pemakai bersedia untuk belajar
mengenai kemampuan dan cara kerja alat tersebut.
FASB mengacu pemakai sebagai profesional dan nonprofesional,
pemakai nonprofesional harus bersedia mempelajari informasi dengan
ketekunan yang cukup. Dengan demikian, tidak selayaknyalah pembuat
kebijakan akuntansi (penyusun standar) tidak bersedia memperkenalkan
sesuatu yang baru (misalnya istilah yang tepat) karena khawatir pemakai tidak
tahu atau bingung sementara yang diacu adalah pemakai awam (layman) yang
tidak lagi mau belajar.
- Keberpautan (Relevance)
Keberpautan atau kerelevanan adalah kemampuan informasi untuk
membantu pemakai dalam membedakan beberapa alternatif keputusan
sehingga pemakai dapat dengan mudah menentukan pilihan. Bila dihubungkan
dengan tujuan pelaporan keuangan, keberpautan adalah kemampuan
informasi untuk membantu inverstor, kreditor, dan pemakai lain dalam
menyusun prediksi-prediksi tentang beberapa munculan (outcomes) dari
kejadian masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang.
Bila dihubungkan dengan pemakai, Hendriksen dan van Breda
(1992, hlm.134) mengartikan keberpautan dalam tiga aspek yaitu :
keberpautan tujuan (goal relevance) yaitu kemampuan informasi dalam
membantu para pemakai untuk mencapai tujuannya; keberpautan semantik
(semantic relevance) yaitu kemampuan informasi untuk dipahami maknanya
oleh para pemakai sesuai dengan makna yang ingin disampaikan; dan
keberpautan keputusan (decision relevance) yaitu kemampuan informasi untuk
memfasilitasi prose pengambilan keputusan oleh para pemakai.

- Nilai Prediktif (Predictive Value)


Nilai prediktif adalah kemampuan informasi untuk membantu
pemakai dalam meningkatkan probabilitas bahwa harapan-harapan pemakai
akan munculan/ hasil (outcomes) suatu kejadian masa lalu atau datang akan
terjadi.
- Nilai balikan (Feedback Value)
Nilai balikan adalah kemampuan informasi untuk membantu
pemakai dalam mengkonfirmasi dan mengoreksi harapan-harapan pemakai di
masa lalu. Jadi, nilai balikan adalah kemampuan informasi untuk dijadikan
basis mengevaluasi apakah keputusan-keputusan masa lalu adalah tepat
dengan datangnya informasi tersebut.
- Ketepatwaktuan (Timeliness)
Ketepatwaktuan adalah tersedianya informasi bagi pembuat
keputusan pada saat dibutuhkan sebelum informasi tersebut kehilangan
kekuatan untuk mempengaruhi keputusan. Secara sendiri, ketepatwaktuan
tidak membuat informasi menjadi berpaut tetapi kurangnya ketepatwaktuan
dapat menyita keberpautan yang melekat pada informasi.
Dalam hal tertentu, mengejar keberpautan dan ketepatwaktuan
untuk mencapai kebermanfaatan harus dibarengi dengan mengorbankan
kualitas yang lain yaitu keakuratan/presisi (accuracy/precision) atau
keterlandasan. Jadi, terdapat saling korban (trade-off) antara ketepatwaktuan
dan keakuratan/reliabilitas untuk mendapatkan kebermanfaatan.
- Keterandalan (Reliability)
Keterandalan adalah kemampuan informasi untuk memberi
keyakinan bahwa informasi tersebut benar atau valid. Informasi menjadi
berkurang nilainya kalau orang yang menggunakan informasi meragukan
kebenearan atau validitas informasi tersebut. Informasi mempunyai nilai yang
tinggi kalau pemakai mempunyai keyakinan yang tinggi terhadap kebenaran
informasi. Keterandalan bukan merupakan masalah terandalakan atau tidak
(ya atau tidak) tetapi lebih merupakan masalah lebih atau kurang terandalkan.
Oleh karena itu, keterandalan bertumpu pada ketepatan
penyimbolan fenomena yang memang dimaksudkan untuk disimbolkan dan
jaminan bagi pemakai akan kualitas penyimbolan melalui pengujian atau
verifikasi data.
- Ketepatan penyimbolan (Representational Faithfulness)
Ketapatan penyimbolan adalah kesesuaian atau kecocokan antara
pengukur atau deskripsi (representasi) dan fenomena yang diukur atau di
deskripsi. Dalam akuntansi, fenomena yang ingin direpresentasi adalah kondisi
fisis, kondisi keuangan, dan kegiatan ekonomik badan usaha berupa sumber
ekonomik, kewajiban keuangan, dan transaksi atau kejadian mengubah
sumber ekonomik dan kewajiban tersebut.
Ketepatan penyimbolan dalam akuntansi menyangkut dua hal yaitu
ketepatan deskripsi atau definisional (misalnya aset, kas, piutang, dan
kewajiban) dan validitas pengukuran.
Faktor lain yang mempengaruhi keterandalan informasi melalui ketepatan
penyimbolan adalah ketelitian (precision), ketidakpastian (uncertainty),
pengaruh bias (bias), dan kelengkapan (completeness).
- Keterujian (Verifiability)
Keterujian adalah kemampuan informasi untuk memberi keyakinan
yang tinggi kepada para pemakai karena tersedianya sarana bagi para
pemakai untuk menguji secara independen ketepatan penyimbolan
(kebenaran/validitas informasi).
Secara ringkas, keterujian adalah kemampuan untuk meyakinkan
bahwa informasi merepresentasi apa yang dimaksudkan untuk direpresentasi
sesuai dengan konsensus atau bahwa cara pengukuran yang dipilih telah
diaplikasi tanpa kesalahan atau bias. Dengan demikian, verifikasi tidak
dimaksudkan untuk meyakinkan bahwa dasar pengukuran relevan dengan
keputusan yang dituju.
- Kenetralan (Neutrality)
Kenetralan adalah ketidakberpihakan pada grup tertentu atau
ketakberbiasan (unbiasedness) dalam perlakuan akuntansi ketakberbiasaan
berarti bahwa informasi disajikan tidak untuk mengarahkan grup pemakai
tertentu agar bertindak sesuai dengan keinginan penyedia informasi atau
untuk menguntungkan/merugikan grup pemakai tertentu atau untuk
menghindari akibat/konsekuensi tertentu bagi sekelompok pemakai.
- Keterbandingan (Comparability)
Keterbandingan merupakan unsur tambahan yang menjadikan
informasi bermanfaat. Keterbandingan adalah kemampuan informasi untuk
membantu para pemakai mengidentifikasi persamaan dan perbedaan antara
dua perangkat fenomena ekonomik (misalnya dua perangkat statemen
keuangan yang merepresentasi kegiatan dua badan usaha).
Contoh karakteristik bersama dua perusahaan misalnya adalah
aset, pertumbuhan (growth), ukuran (size), cacah pegawai, likuiditas, dan laba.
Perbandingan dilakukan biasanya dengan menilai/mengukur karakteristik
bersama tersebut secara kuantitatif.
Keterandalan hasil perbandingan akan berkurang atau hilang kalau dua objek
memang tidak dapat diperbandingkan secara bermakna.
Hendriksen dan van Breda (1992, hlm. 142) menunjukkan argumen
para pendukung masing-masing pendekatan.
Pendukung keseragaman :
1. Adanya berbagai metode akuntansi yang diperbolehkan
menjadikan perbandingan antarperusahaan sulit bahkan tidak
mungkin dilakukan
2. Keleluasaan untuk memilih metode yang cocok dapat membuka
kesempatan bagi manajemen untuk memanipulasi informasi untuk
kepentingannya.
3. Keseragaman yang ditentukan sendiri oleh profesi atau sektor
swasta akan lebih bermanfaat dibandingkan keseragaman yang
dipaksakan oleh autoritas (SEC/BAPEPAM atau pemerintah)
Pendukung keragaman :
1. Keseragaman akan membatasi kebebasan manajemen untuk
menentukan metode terbaik dalam konteks kegiatan
perusahaannya
2. Keseragaman prosedur yang kaku justru akan merugikan
perbandingan karena informasi tidak lagi berpaut dan terandalkan
untuk kegiatan nyata tiap perusahaan
3. Keseragaman menghalangi perubahan yang memang diperlukan
untuk menuju ke perbaikan
- Materialitas (Materiality)
Suatu informasi kemungkinan memenuhi semua kualitas yang
telah disebutkan di atas. Persoalannya adalah apakah informasi tersebut akan
dilaporkan via statement keuangan. Untuk dilaporkan melalui statement
keuangan, informasi harus diakui dalam sistem pembukuan sehingga
pengaruhnya terefleksi dalam statemen keuangan. Bila tidak diakui, apakah
informasi tersebut cukup penting untuk di laporkan melalui media pelaporan
yang lain. Namun, karena perumusan karaktersitik kualitatif lebih ditujukan
kepada penyusun standar, masalah yang lebih penting adalah apakah suatu
informasi yang telah memenuhi batas atas (benefit > kos) dan kriteria
keberpautan dan keterujian kemudian harus dilaporkan dalam seperangkat
statement keuangan.
Materialialitas adalah besar kecilnya atau mgnituda suatu
penghilangan (omissions) atau penyalahsajian (misstatement) informasi
akuntansi yang menjadikan besar kemungkinan bahwa pertimbangan seorang
bijaksana (reasonable person) yang mengandalkan diri pada informasi tersebut
berubah atau berpengaruh oleh penghilangan/pengabaian atau penyalahsajian
tersebut.

II.6 Pengukuran dan Pengakuan


Penentuan dan pendefinisian elemen seperti dibahas di atas
berkaitan dengan masalah apa yang harus disajikan dalam statemen keuangan
dan terdiri atas apa saja seperangkat penuh statemen keuangan (a full set of
financial statements). Elemen dan pos menjadi bahan penyusunan seperangkat
penuh statemen keuangan. Agar seperangkat penuh statemen keuangan
memuat informasi semantik, suatu pos harus diukur untuk menentukan besar
kecilnya (size).
Bila sarana pencatatan telah tersedia, masalah berikutnya adalah
bagaimana suatu objek (pos) yang terlibat dalam transaksi, kejadian, atau
kondisi diukur dan apakah hasil pengukuran dapat dicatat dalam sistem
akuntansi.
- Pengukuran
Elemen atau pos harus diukur untuk membawa informasi semantik.
Pengukuran (measurement) adalah penentuan besarnya unit pengukur
(jumlah rupiah) yang akan dilekatkan pada suatu objek (elemen atau
pos) yang terlibat dalam suatu transaksi, kejadian, atau keadaan untuk
merepresentasi makna atau atribut (atribute) objek tersebut.
Atribut adalah sesuatu yang melekat pada suatu objek yang
mnggambarkan sifat atau ciri yang dikandung objek tersebut. Atribut
pengukuran (measurement atributes) suatu elemen/pos adalah dasar
pengukuran (jumlah rupiah) yang harus diletakkan pada suatu
elemen/pos untuk mempresentasi secara tepat atribut yang ingin
diungkapkan dari elemen/pos tersebut dalam pelaporan keuangan.
Misalnya, tujuan pelaporan pos mesin adalah untuk menunjukkan sisa
potensi jasa mesin (bukan harga jual mesin).
FASB menyatakan bahwa pos-pos yang sekarang dilaporkan dalam
statemen keuangan diukur dengan berbagai pos-pos yang sekarang
dilaporkan dalam statemen keuangan diukur dengan berbagai atribut
pengukuran bergantung pada ciri pos-pos tersebut dan keberpautan
secara keterandalan atribut pos-pos yang diukur.
FASB mengidentifikasi atribut pengukurang yang sekarang
diterapkan dan masih dapat dilanjutkan penggunaannya yaitu :
a. Ko historis atau perolehan has historis (historical cost atau
proceeds)
b. Kos sekarang (current cost)
c. Nilai pasar sekarang (current market value)
d. Nilai terealisasi/pelunasan neto (net realizeble/settlement
value)
e. Nilai sekarang atau diskonan aliran kas masa datang
(present or discounted value of future cash value)

- Pengakuan
Secara konseptual, pengakuan adalah penyajian suatu informasi
melalui stetemen keuangan sebagai ciri sentral pelaporan keuangan.
FASB menetapkan empat kriteria pengakuan fundamental
(konseptual) sebagai berikut :
a. Definisi (definitions) – suatu pos harus memenuhi definisi
elemen statement keuangan
b. Keterukuran (measurability) – suatu pos harus mempunyai
atribut yang berpaut dengan keputusan dan dapat diukur
dengan tingkat keterandalan yang cukup
c. Keberpautan (relevance) – informasi yang dikandung suatu
pos mempunyai daya untuk membuat perbedaan dalam
keputusan pemakai
d. Keterandalan (reliability) – informasi yang dikandung suatu
pos secara tepat menyimbolkan fenomena, teruji
(terverifikasi) dan netral
Keempat kriteria di atas harus dipertimbangkan dalam konteks
karakteristik kualitatif informasi yaitu memenuhi batas atas (benefit > kos) dan
batas bawah (materialistis).

II.7 Manfaat dan Keterbatasan Model


Sebagai suatu model, rerangka konseptual (RK) versi FASB di atas
mempunyai manfaat sebagai sumber acuan untuk mengembangkan hal yang
sama untuk lingkungan (negara) yang lain. Karena konteks lingkungan yang
berbeda, RK yang dikembangkan untuk tiap negara dapat sama atau berbeda
bahkan harus berbeda dengan model yang dijadikan acuan. Walaupun
demikian, proses penalaran di balik RK cukuo bersifat umum (universal)
sehingga dapat digunakan sebagai pedoman berpikir dalam mengembangkan
RK baru untuk konteks lingkungan yang berbeda.
- Transfer Teknologi
Bila akuntansi dipandang sebagai teknologi, RK (termasuk standar
yang diturunkan darinya) dapat dipandang sebagai produk teknologi. Tujuan
fungsional akuntansi negara sasaran bila parameter yang dipertimbangkan
berbeda, tentu saja produk yang dihasilkan akan berbeda pula walaupun
fungsinya sama.
Transfer produk selalu membawa serta faktor-faktor dan
karakteristik lingkungan yang dipertimbangkan dalam merekayasa produk
aslinya. Transfer produk dapat dijustifikasikan kalau faktor lingkungan tidak
relevan lagi atau kalau fungsi produk bersifat universal, misalnya produk
berupa jam tangan atau komputer.

- Pengaruh RK FASB
RK FASB mempunyai pengaruh (dampak yang besar dalam memicu
pengembangakan RK di beberapa negara lain pada periode mengembangkan
atau pada periode setelah RK FASB selesai. Gore (1992, hlm. 124 – 131)
membahas dengan rinci pengaruh ini dengan menunjukkan berbagai
organisasi profesi dan badan pemerintah yang berusaha untuk
mengembangkan rerangka untuk negaranya masing-masing. Organisasi profesi
tersebut adalah :
a. Australian Accounting Research Foundation (AARF)
b. International Accounting Standarls Committee (IASC)
c. Canadian Institute of Chartered Accountants (CICA)
d. Institute of Chartered Accountants in England and Wales
(ICAEW)
e. (UK) Accounting standarls Board (UK ASB)
- Dokumen Kebijakan
Rerangka konseptual FASB merupakan suatu dokumen kebijakan atau politis dan
bukan dokumen atau karya ilmiah. Sebagai dokumen kebijakan, proses penyusunannya melibatkan
perdebatan atau argumen yang keputusan akhirnya dalam beberapa kasus melibatkan perdebatan
atau argumen yang keputusan akhirnya dalam beberapa kasus melibatkan pemungutan suara
(voting). Argumen yang melandasi penyimpulan lebih bersifat deduktif – normatif dengan asumsi
atau premis yang validitas atau kebenarannya dinilai dan dianut atas dasar pertimbangan politis,
ekonomik, dan sosial. Dengan demikian, RK FASB penuh dengan muatan nilai-nilai yang dianut
dalam konteks lingkungan Amerika (value-laden).
Sebagai teknologi, struktur dan proses pemikiran dan penyimpulan untuk menyusun
RK membentuk satu kesatuan pengetahuan yang dapat disebut sebagai teori akuntansi dalam
pengertian penalaran logis dan bukan dalam pengertian penjelasan ilmiah. Penalaran logis
bermanfaat untuk mengevaluasi dan membenarkan praktik akuntansi yang sedang berjalan serta
mempengaruhi dan mengembangkan praktik akuntansi di masa datang.
Sebagai dokumen politis, RK FASB tentunya mengandung kelemahan dan tidak
dapat memuaskan semua pihak. Itulah sebabnya RK FASB menjadi sasaran kritik baik dari
kalangan profesi maupun akademik. Kritik, resistensi, dan komentar tidak hanya terjadi pada saat
pengembangan tetapi juga setelah projek RK tersebut selesai. Pembahasan kelemahan dan kritik
terhadap RK FASB adalah di luar cakupan buku ini. Di lain pihak, RK FASB juga memicu
penelitian maupun kajian ilmiah dan akademik. Gore (1992) merupakan salah satu contoh kajian
akademik terhadap RK FASB.

BAB III
PENUTUP

III.1 Kesimpulan
Penentuan tujuan pelaporan keuangan merupakan langkah yang
paling krusial dalam perekayasaan akuntansi. Tujuan pelaporan menentukan
konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang relevan yang akhirnya menentukan
bentuk, isi, jenis, dan susunan statemen keuangan. Untuk menurunkan tujuan
pelaporan keuangan, pihak yang dituju dan kepentingannya harus diidentifikasi
dengan jelas sehingga informasi yang dihasilkan pelaporan keuangan dapat
memuaskan kebutuhan informasional pihak yang dituju. Pada gilirannya, pihak
yang dituju akan melakukan tindakan atau mengambil keputusan yang
mengarah ke pencapaian tujuan pelaporan keuangan. Dengan demikian,
diharapkan tujuan yang lebih luas (tujuan ekonomik dan sosial negara) akan
tercapai.