Anda di halaman 1dari 8

TUGAS HUKUM HUMANITER DAN HAM

Konfik Serbia-Bosnia
Siti Yunita Noveriyati
A. Keadaan Umum Bosnia Herzegovina

Bosnia, dan Herzegovina, juga dikenal sebagai Republik Bosnia, dan Herzegovina, adalah
sebuah negara di semenanjung Balkan di selatan Eropa seluas 51.129 km² (19.741 mil2) dengan
jumlah sekitar empat juta penduduk dengan presentase etnis 47 % bosnia, etnis Serbia 39 %,
etnis kroasia 17 %.Bahasa yang digunakan adalah bahasa Serbo–Kroasia (bahasa resmi), Slow,
dan Serbia

Negara ini didiami oleh tiga kelompok etnik yang utama: Bosnia, Serbia dan Kroasia. Warga
Bosnia secara umum dikenali sebagai Bosnians. Pemerintahan negara ini dilakukan secara
terpencar, dan negara Bosnia sebenarnya terdiri dari persekutuan dua buah wilayah yang
utama, yaitu, Federasi Bosnia dan Herzegovina dan Republika Srpska.

Dibatasi oleh Kroasia di utara, barat, dan selatan, Serbia di timur, dan Montenegro di selatan,
Bosnia, dan Herzegovina adalah sebuah negara yang dikelilingi oleh daratan kecuali pesisir
pantai Laut Adriatik yang sepanjang 20 km yang berpusat di kota Neum. Pedalaman negara ini
penuh dengan pegunungan, dan juga sungai yang kebanyakan tidak bisa ditempuh. Ibukota
yang sekaligus kota terbesar ialah Sarajevo.

Hasil pertanian yang paling banyak dihasilkan adalah jagung, gandum, dan jawaaut. Mata
uang yang digunakan adalah mata uang dinar. Bosnia Herzegovina dibagi menjadi Federasi
Bosnia dan Herzegovina dan Republika Srpska. Distrik Brčko bukan bagian kedua entitas politik
ini, tetapi diperintah secara supranatural dan dijaga olehe tentara internasional. Federasi
Bosnia dan Herzegovina dibagi menjadi 10 kanton: Una-Sana, Posavina, Tuzla, Zenica-Doboj,
Podrinje Bosnia, Bosnia Tengah, Herzegovina-Neretva, Herzegovina Barat, Sarajevo, Bosnia
Barat.

B. Latar Belakang

Terjadinya perubahan politik globalisasi membawa pangaruh di negara Federasi Yugoslavia.


Perang saudara di Yugoslavia diawali dengan merdekanya Kroasia dan Slovenia pada tanggal 25
Juni 1991. Mereka memisahkan diri dari negara Federasi Yugoslavia. Hal ini membuat Serbia
marah karena rencananya mendirikan negara Serbia Raya akan gagal apabila negara–negara
bagian Yugoslavia satu per satu memisahkan diri. Serbia tidak tinggal diam. Serbia melakukan
penyerangan ke Slovenia dan Kroasia untuk mencaplok kembali wilayah yang sudah meredeka
itu menjadi wilayah kekuasaan etnis Serbia.
Kemudian, lewat kehancuran Komunis pada tahun1990, parlemen Bosnia dan Herzegovina
malakukan pemungutan suara pada tanggal 15 Oktober 1991 untuk mengusahakan pelepasan
wilayah ini dari Yugoslavia, dan hasilnya rakyat Bosnia dan Herzegovina sepakat untuk
memproklamasikan kemerdekaannya. Bosnia mengumumkan kemerdekaannya di bawah
kepemimpinan Ali Izzet Begovic yang memenangkan pemilihan presiden pada tahun yang sama.
PBB dan negara–negara besar lalu merestuinya, juga lebih dari 120 negara lainnya. Ketika
Federasi Yugoslavia itu hancur, tinggallah di Bosnia 60.000 tentara Serbia yang dengan
persenjataan dan perbekalan lengkap yang memungkinkan orang–orang Serbia yang minoritas
menindas kaum muslimin yang ada di Bosnia.

C. Tragedi Kemanusiaan Bosnia Herzegovina

Konflik yang terjadi antara etnis Bosnia dan etnis serbia berawal dari keinginan masyarakat
Bosnia untuk memerdekakan diri dari wilayah Serbia. Akibat dari jatuhnya kekuatan negara
Yugoslavia menjadi beberapa negara. Sehingga Bosnia yang merupakan bagian wilayah dari
Yugoslavia juga berusaha untuk memerdekakan dirinya. Hal ini yang kemudian ditentang oleh
masyarakat Serbia yang tetap menginginkan Bosnia menjadi wilayah dari negara Serbia. Hal ini
disebabkan karena letak etnis Serbia menginginkan menguasai wilayah Bosnia dan
memanfaatkan sumber daya alam yang ada. Hal ini menyingkirkan etnis asli Bosnia yang tidak
menginginkan Bosnia kembali menguasai mereka.

Konflik ini kemudian semakin besar mengingat ada upaya-upaya dari etnis Serbia yang
didukung oleh tentara dan presidennya untuk melakukan pembersihan etnis terhadap etnis
Bosnia. Serbia membombardir ibukota Bosnia, Sarajevo dan kota lainnya dibombardir habis–
habisan, gerilyawan Bosnia ditangkap dan disiksa dalam kamp–kamp konsentrasi dan puluhan
ribu wanita muda dan gadis kecil Bosnia diperkosa. Data menyebutkan bahwa korban kaum
muslimin sepanjang perang ini mencapai 200.000 orang yang terbunuh. Dunia pada saat itu
dipenuhi oleh korban pembantaian dan kuburan massal yang menakutkan yang ditimpakan
Serbia kepada etnis Bosnia.

Sampai pada awal 1993, konflik antara Serbia dan Bosnia masih belum reda walaupun
pasukan penjaga perdamaian PBB yang terdiri atas tentara Amerika Serikat, Inggris, Perancis
telah melakukan operasi pemeliharaan perdamaian. Pembantaian ribuan etnis Serbia di
Srebrenica pada Juli 1995 juga menjadi konflik ini semakin berkepanjangan. Dan menyebabkan
dinamika konflik Bosnia semakin meningkat. Sekitar 8.000 etnis Bosnia, yang sebagian besar
adalah pria dan anak laki-laki, dibantai dalam aksi yang paling biadab dalam sejarah Eropa.
Pembantaian berlangsung saat pasukan Serbia menyerang wilayah aman dalam
perlindungan PBB, yakni Srebrenica. Pasukan Belanda yang berjaga di sana tidak mampu
berbuat apa pun. Dalang pembantaian itu Radovan Karadzic, yang saat itu menjabat pemimpin
perang Bosnia Serbia, dan Jenderal Ratko Mladic. Pada tanggal 6 Juli 1995, pasukan Korps Drina
dari tentara Serbia Bosnia mulai menggempur pos-pos tentara Belanda di Srebrenica. Pada
tanggal 11 Juli pasukan Serbia memasuki Srebrenica. Anak-anak, wanita dan orang tua
berkumpul di Potocari untuk mencari perlindungan dari pasukan Belanda. Pada 12 Juli, pasukan
Serbia mulai memisahkan laki-laki berumur 12-77 untuk "diinterogasi". Pada tanggal 13 Juli
pembantaian pertama terjadi di gudang dekat desa Kravica. Pasukan Belanda menyerahkan
5000 pengungsi Bosnia kepada pasukan Serbia, untuk ditukarkan dengan 14 tentara Belanda
yang ditahan pihak Serbia. Pembantaian terus berlangsung. Pada 16 Juli berita adanya
pembantaian mulai tersebar. Tentara Belanda meninggalkan Srebrenica, dan juga
meninggalkan persenjataan dan perlengkapan mereka. Selama 5 hari pembantaian ini, 8000
Muslim Bosnia telah terbunuh. Di wilayah ini kemudian ditemukan kuburan massal etnis bosnia
yang di kubur secara massal oleh tentara Serbia.

D. Upaya Penyelesaian Konflik

Pengiriman pasukan perdamaian yang dilakukan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, NATO


dan juga Upaya perundingan yang diprakarsai oleh Uni Eropa dan juga Amerika Serikat.
Perserikatan Bangsa-bangsa pada tahun 1992 Perserikatan Bangsa-Bangsa membentuk
UNPROFOR ( United Nation Protection Force) yaitu pasukan perdamaian yang ditugaskan untuk
menjaga perdamaian di negara-negara pecahan Yugoslavia, termasuk Bosnia.

UNPROFOR ini terdiri dari negara-negara anggota PBB yang mengirimkan pasukan
perdamaiannya guna menjaga perdamaian di Bosnia. Pasukan perdamain ini terdiri dari negara
Amerika Serikat, Jerman, Inggris, Prancis dan Indonesia. Sekitar 17.000 pasukan UNPROFOR
tercatat dalam misi perdamaian di Yugoslavia termasuk Bosnia. Indonesia juga tercatat
membantu menjaga perdamaian di Bosnia dengan mengirimkan pasukan Garuda 14 yang
terdiri dari 25 anggota yang ditugaskan untuk menjaga perdamaian di Bosnia dan juga
memberikan bantuan medis dan obat-obatan.

Selain itu juga Perserikatan Bangsa-Bangsa menyerukan kepada Serbia untuk menarik
pasukannya dari wilayah Bosnia dan meminta dilakukannya perundingan untuk mengakhiri
konflik tersebut. Perserikatan Bangsa-Bangsa juga mengirimkan utusannya sebagai mediasi
guna mencari penyelesaian konflik antara Serbia dan Bosnia. Perserikatan Bangsa-bangsa
mengutus Lewis Mckeujic selaku kepala staf UNPROFOR. Lewat letnan Mckeujic ini terjadi
perundingan antara Serbia dan Bosnia untuk membahas mengenai penyelesaian perang di
kawasan tersebut. Perundingan ini dilaksanakan di Sarajevo tahun 1992. Dalam perundingan ini
tidak tercapai kesepakatan antara kedua belah pihak dikarenakan pihak Bosnia meninggalkan
perundingan karena terjadi ledakan bom di Sarajevo yang banyak menewaskan warga etnis
Bosnia.

Uni Eropa juga ikut berpartisipasi dalam proses perdamaian yang terjadi di Bosnia.
Masyarakat Uni Eropa menjadi mediator perundingan antara Serbia dan juga Bosnia dalam
perundingan Lissabon yang dilaksanankan pada tahun 1992 guna mencari solusi kedua belah
pihak dalam menyelesaikan konflik tersebut. Dalam perjanjian ini kedua belah pihak sepakat
menjadikan Bosnia sebagai negara Federasi yang terdiri dari tiga etnis dan memiliki wilayah
masing-masing dari etnis tersebut. Yaitu, etnis Muslim Bosnia, etnis Serbia, dan etnis Kroat
Kroasia. Namun perjanjian ini juga belum mampu menghentikan kekerasan yang terjadi di
Bosnia. Karena ledakan yang terjadi di Sarajevo tersebut menyebabkan pihak Bosnia masih
merasa terancam walaupun telah terjadi kesepakatan.

NATO sebagai sebuah pakta keamanan atlantik juga turut berpartisipasi dalam menjaga
perdamaian di kawasan Bosnia dan mengupayakan tercapainya perdamaian di wilayah
tersebut. Sekitar 35.000 pasukan NATO berada di wilayah-wilayah bekas negara Federasi
Yugoslavia, termasuk Bosnia. NATO jugalah akhirnya yang memaksa Serbia untuk melakukan
perundingan perdamaian pada tahun 1995 dengan melakukan penyerangan terhadap negara
Serbia. Hal ini dilakukan karena upaya-upaya perdamaian yang telah dilakukan oleh
Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Uni Eropa serta negara-negara lainnya belum mampu
mengatasi krisis yang terjadi di Bosnia. Adapun beberapa perundingan yang diupayakan oleh
PBB, Uni Eropa Maupun negara-negara lain yaitu ;

 Perundingan Sarajevo. Pada tanggal 17 Maret 1992 dilaksanakan pertemuan yang kelima
kalinya antara tokoh-tokoh etnis Bosnia Herzegovina (Muslim, Kroasia dan Serbia) yang
disponsori oleh Masyarakat Eropa dibawah diplomat Portugal, Hose Cutleri, yang
menyarankan adanya kantonisasi. Bosnia Herzegovina akan menjadi negara yang terdiri
dari 3 unit etnik dan tetap berada didalam batas wilayah yang ada sekarang. Usul ditolak
oleh Presiden Bosnia Herzegovina, Alija Izetbegovic yang mengakibatkan tidak tercapainya
kesepakatan dalam perundingan tersebut.
 Pada tanggal 5 Nopember 1992, dilaksanakan perundingan diantara ketiga kelompok
pihak yang bertikai di Jenewa untuk menyusun Undang-Undang Republik Bosnia
Herzegovina. Pihak Muslim Bosnia Herzegovina mendesak diberlakukannya regionalisasi
Bosnia Herzegovina tanpa berdasarkan etnis tetapi berdasarkan prinsip geografis. Pihak
Serbia Bosnia Herzegovina yang didukung oleh Kroasia Bosnia Herzegovina mendesak
konsep pembagian wilayah Bosnia Herzegovina berdasarkan 3 etnis.
 Pada tanggal 3 dan 4 Januari 1993, para wakil dari 3 pihak yang bertikai di Bosnia
Herzegovina mengadakan perundingan paripurna untuk yang pertama kalinya di Jenewa.
Ketua Bersama Konperensi, Lord Owen dan Vance mengusulkan suatu peta yang membagi
Bosnia Herzegovina terdiri atas 10 propinsi dimana masing-masing mempunyai wewenang
yang luas dibandingkan dengan pemerintah pusat
 Pada tanggal 25 - 26 Mei 1994, wakil pihak-pihak yang bertikai di wilayah Bosnia
Herzegovina (Muslim Bosnia Herzegovina, Serbia Bosnia Herzegovina dan Kroasia Bosnia
Herzegovina) beserta "Kontak Group" internasional masalah Bosnia Herzegovina (wakil
negara AS, Russia dan EU) mengadakan perundingan di Talloires (Perancis. Perundingan
yang berlangsung selama 2 hari tersebut memfokuskan pembicaraan tentang
implementasi keputusan yang dibuat dalam pertemuan tingkat Menteri dari negara AS,
Russia dan kelompok EU pada tanggal 13 Mei 1994 di Jenewa yaitu negara Federasi
Muslim - Kroasia Bosnia Herzegovina dimasa yang akan datang akan memiliki wilayah 51%
dan Faksi Serbia Bosnia Herzegovina 49%. Tidak terdapat hasil yang konkrit dari
pertemuan tersebut namun disepakati perundingan akan dilanjutkan kembali.
 Pada tanggal 21 Juli 1994 wakil dari pihak-pihak yang bertikai di Bosnia Herzegovina
beserta anggota Kontak Group mengadakan pertemuan di Jenewa guna membicarakan
pengakhiran krisis di Bosnia Herzegovina. Dalam pertemuan tersebut pihak-pihak yang
bertikai menyampaikan jawabannya atas proposal pembagian wilayah Bosnia Herzegovina
yang telah disampaikan 2 minggu sebelumnya. Pihak Muslim Bosnia Herzegovina dan
Kroasia Bosnia Herzegovina menerima proposal Kontak Group tersebut. Dilain pihak wakil
Serbia Bosnia Herzegovina menyampaikan jawabannya kepada Kontak Group melalui
suatu amplop yang disegel yang inti jawabannya mengatakan bahwa Majelis Serbia Bosnia
Herzegovina tidak dalam posisi untuk dapat memutuskan mengenai peace plan Kontak
Group tersebut karena proposal Kontak Group dinilai tidak jelas. Dalam jawaban Serbia
Bosnia Herzegovina tersebut mempermasalahkan persetujuan-persetujuan konstitusional,
persetujuan penghentian permusuhan, masalah kota Sarajevo, masalah akses Serbia
Bosnia Herzegovina ke Laut Adriatik, persetujuan implementasi peace plan dan masalah-
masalah pencabutan sanksi-sanksi terhadap penduduk Serbia. Jawaban Serbia Bosnia
Herzegovina tersebut oleh Kontak Group (kecuali Russia) merupakan penolakan karena
tidak memberikan suatu jawaban. Dan perjanjian ini pun mengalami kegagalan.

Setelah upaya-upaya yang dilakukan oleh PBB, Uni Eropa Maupun negara-negara lainnya
mengalami kegagalan dalam kurun waktu 1992 hingga 1994. Maka pada bulan Mei tahun
1995 pakta keamanan atlantik (NATO) mengambil keputusan untuk melakukan invasi militer
ke wilayah Serbia. Invasi ini mendapatkan dukungan dari PBB dan Uni Eropa serta Amerika
Serikat guna memaksa Serbia untuk kembali melakukan perundingan dalam upaya
menyeesaikan konflik di wilayah tersebut. Target operasi militer yang dilakukan oleh NATO ini
adalah untuk menghancurkan infrastruktur-infrastruktur yang ada di wilayah Serbia. Karena
serangan yang dilakukan oleh NATO tersebut berhasil memaksa Serbia untuk mau duduk dan
melakukan perundingan dengan Bosnia guna mencapai kesepakatan. Serangan NATO
tersebut berhasil melumpuhkan infrastruktur yang ada di Serbia.

Akhirnya pada bulan November tahun 1995 Serbia dan Bosnia kembali berunding dan
melakukan perjanjian di Dayton Amerika Serikat. Perjanjian ini merupakan puncak dari semua
perjanjian yang telah diupayakan PBB, Uni Eropa maupun negara-negara lainnya.Perjanjian
Dayton adalah nama perjanjian untukmenghentikan perang di Bosnia yang sudah berlangsung
selama tiga tahun terakhir. Perjanjian ini disetujui di Pangkalan Udara Wright-Patterson di
Dayton, Ohio.

Hasil perundingan Dayton berisi antara lain sebagai berikut :

1. Bosnia Herzegovina tetap sebagai negara tunggal secara internasional


2. Ibukota Sarajevo tetap bersatu di bawah federasi muslim Bosnia
3. Penjahat perang seperti yang telah ditetapkan mahkamah internasional tidak boleh
memegang jabatan.
4. Pengungsi berhak kembali ke tempatnya
5. Pelaksanaan pemilu menunggu perjanjian Paris

Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan konflik Bosnia sebagai pembersihan etnis yang


dilakukan etnis Serbia terhadap etnis Bosnia dan memutuskan untuk membawa kasus ini ke
mahkamah internasional untuk kejahatan Yugoslavia (ICTY). Kemudian mahkamah internasional
menetapkan beberapa nama sebagai pelaku kejahatan perang di Bosnia terkait dengan
pembersihan etnis tersebut. Diantaranya adalah Slobadan Milosevic selaku presiden dari
Serbia, Jendral Radovan Karadjic, dan jendral Ratko Mladic. Slobodan Milosevic telah
ditetapkan sebagai tersangka dan telah diberikan hukuman penjara. Dan akhirnya meninggal di
tahanan ketika proses hukuman masih berlangsung, sedangkan jendral Ratko Mladic pada
tahun 2008 telah berhasil di tangkap di wilayah Serbia dan kini dalam proses persidangan.

Sumber : www.kompasiana.com