Anda di halaman 1dari 24

Untuk Sang Bintang

Biar hari mulai gelap


Biar sunyi telah menjemput
Aku tak perduli
Kerinduanku padamu adalah abadi
Tak berujung
Tak bertepi

Biar sejauh apapun dirimu


Sang bintang akan ucapkan
Betapa hatiku telah rapuh
Karena merindukanmu
Rasa yang amat dalam
Hingga mimpi
Bagiku seolah nyata

Bintang malam
Jika kau mendengarku
Bolehkah aku menitip rindu
Bolehkah aku berteduh
Di bawah sinarmu

Aku akan selalu merindukannya


Walau kini dia...
Telah bersamamu seutuhnya
Meski suaranya tak lagi terdengar
Tapi aku percaya...
Kasihnya selalu memelukku
Antara kita
Mengapa angin tidak bersuara ?
Karena dia seorang pendengar
Dia bisa mendengarmu
Tapi tidak menjawabmu

Mengapa hujan turun ?


Untuk menghapus luka
Alirannya menyapu debu 
Suaranya menutup suara tangismu

Mengapa pelangi datang setelah hujan ?


Untuk membuatmu tersenyum
Setelah kau menangis

Mengapa malam gelap ?


Agar kau bisa tahu
Keindahan bintang di langit
Yang seperti binar di matamu

Mengapa mentari pagi selalu hangat ?


Agar di awal lembar barumu
Kau merasa hangatnya cinta

Lalu kapan kau datang untukku ?


Aku belum tahu
Tapi takdir yang akan menuntun kita
Dan saat hari itu tiba
Aku akan mengenggam erat tanganmu 
Dan berbisik 
"Bolehkah aku memberimu kebahagiaan untuk selamanya ?"
Sebuah Rasa
Pertama kali menatapmu
Aku hanya biasa saja
Kedua kali melihatmu
Aku merasa tertarik
Dan untuk ketiga kalinya
Kau berhasil

Dari rasa yang biasa 


Kau membuatnya menjadi berbeda
Hanya dengan menatapku
Kau membuat jiwaku bergelora
Mendengar suaramu
Menumbuhkan sayap-sayapku

Dan saat matamu dan mataku


Saling berbicara
Ada detak yang terdengar
Dia menggebu-gebu
Seolah aku telah bangkit dari kubur lama

Senyumku sendiri tak bisa kuatur


Bayangmu selalu hadir di mimpiku
Seperti magnet
Diriku selalu tertarik di dekatmu

Ingin kukatakan langsung


Tapi aku takut
Bagaimana jika rasa ini hanya sebelah
Atau aku telah tertipu oleh pesonamu

Tapi ini tak bisa kuhapus begitu saja


Juga tak bisa kupendam selamanya
Bagaimanapun ini akan berawal atau berakhir
Itu pasti yang terbaik

Senja
Fajar menepi di tepi barat
Jingga menyeruak muncul
Angin berhembus lembut
Dan hatiku ikut terhanyut

Riuh suara burung 


Menemani sepi senjaku
Kadang ku bersenandung
Untuk melupakan luka yang lama

Dibawah cahaya semu mentari


Aku mulai menari
Menggerakan ragaku
Menutup mataku
Lalu membuka hati yang luka

Biarkan angin membawa iramanya


Biru langit menjadi saksinya
Lalu pertiwi menjadi panggungnya
Dan dedaunan kering yang rontok
Menjadi pengiringnya

Lalu hatiku akan mulai sembuh


Walau tidak sama seperti dulu
Atau juga hanya sementara
Tapi ini selalu kutunggu

Bukan karena aku bisa bersenang-senang


Atau aku menjadi gila sementara waktu
Tapi dimana waktu terasa damai
Dan sejenak aku merasa bebas
Takdir Pahit
Kini tinggal cerita
Hanya sebatas ilusi
Hanya sebuah mimpi
Sekedar angan-anganku

Yang dulunya hanya biasa


Kini hal itu serasa sangat berharga
Tawamu, candamu, tangismu, Bahkan yang sepele pun
Menjadi sesuatu yang kurindukan

Aku ingin mendengar suaramu


Aku ingin menatap matamu
Aku ingin berbaring di pangkuanmu
Aku ingin merasakan lembut kasihmu

Tapi apa dayaku


Jika Tuhan telah memisahkan kita
Bukan oleh jarak
Bukan oleh prinsip
Tapi oleh kematian

Sampai detik ini bayangmu masih ku impikan


Semua hal tentangmu selalu kurindukan
Dan aku tahu..
Waktu tak pernah kembali
Waktu tak pernah berhenti

Jika aku tak bisa bersamamu


Di dunia fana ini
Maka mungkin kita akan bersama lagi 
Di kehidupan berikutnya
Atau di tempatmu berada sekarang
Kapanpun itu...
Kuharap kau tak lelah menungguku

Romansa
Tahu bahwa hatiku telah terjerat cintamu
Mencintaimu adalah hal terindah yang pernah kurasakan
Bersamamu adalah waktu yang paling ajaib 
Dan tanpamu adalah sebuah ketidaksempurnaan bagiku

Jiwa Angin
Aku memang tak sempurna
Tak sepintar albert enstein
Juga tak serupawan dewa-dewi kahyangan
Tak seindah ekspetasimu

Tapi aku masih punya akal dan hati


Aku juga tidak haus harta dan tahta
Lebih suka menolong daripada ditolong
Tidak suka diatur tapi tidak pernah lewat batas

Aku ini bebas


Bebas yang beretika
Cita-cita pun sederhana
Hanya jadi manusia sejati

#Bebas bukan berarti pergi, tapi bisa membawa mimpi ke


langit tertinggi#
Semua tentangmu
Bila nanti hujan tak turun, biarlah....
Aku masih punya senyummu
Untuk meneduhkan hatiku

Bila hari ini matahari tak bersinar


Biarlah....
Aku masih punya pelukanmu
Untuk menghangatkan tubuhku

Bila pelangi tak kunjung datang


Biarlah....
Aku punya cinta dan tawamu
Untuk mewarnai hariku

Kelemahanku adalah kamu


Kesempurnaanku juga kamu
Kebahagianku itu kamu
Dan kesedihanku itu....
Saat kau tak bisa tersenyum dan tertawa
Saat kau harus berpura pura tegar di depanku
Dan saat kita tahu bahwa waktu kita akan habis

#Saat dalam keadaan apapun jika orang yg kita cintai selalu


ada bersama kita dan dengan setulus hati menjalani
semuanya maka hal terburuk pun bisa kita lewati dan tidak
terasa#
Lelah
Saat bibirku mulai diam
Telingaku tak ingin mendengar apapun
Mataku tak mau terpejam
Dan aku tak ingin apa-apa lagi
Semua yang kulakukan percuma
Apa yang keluar dari bibirku
Tak kau ingat lagi
Dan yang kulihat dan kudengar
Hanya sebuah drama

Kecewaku sudah tak berarti


Air mata, tawa, senyum
Tak lagi sama
Semakin aku peduli
Semakin aku kecewa
Aku merasakan perih
Di setiap sel tubuhku

Aku mencoba menahan semuanya


Aku menguatkan diriku sendiri
Aku menangis sendirian
Aku mencoba lakukan yang terbaik
Tapi sekarang aku lelah
Aku bosan dengan perih dan kecewa ini
Aku tak mau diam lagi
Harapan
Seberapa banyak cinta yg datang
Sejuta harapan yg diberikan
Kata romantis yg seperti puisi
Tapi tak ada satupun yg mampu
Memalingkan hatiku darimu

Sendu
Kau datang ke duniaku
Kau bawa hal yg baru
Kau beri aku harapan
Kau ajari aku keindahan yg bernama cinta ?
Lalu, tiba - tiba kau pergi
Tanpa kabar
Tanpa berucap sebuah alasan
Tanpa mengatakan selamat tinggal
Kau runtuhkan mimpi 
Juga harapan yg kau beri
Aku ingin tertawa
Juga ingin menangis
Hingga aku sadar
Kau hanya sebuah kesalahan
Malaikat dari bumi
Peluh dan pedih yg datang
Kau hanya tersenyum
Kerut di wajahmu
Mengatakan kerja kerasmu
Tubuh dan jiwa yg mulai menua
Tak surutkan semangatmu
Demi sesuap nasi
Demi secercah cahaya
Demi senyum yg menantimu
Kau bangun lebih awal dari mentari
Kau pulang setelah senja berakhir
Walau letih kau tak pernah mengeluh
Seorang Ayah mungkin tak pandai berkata manis
Seorang Ayah mungkin terlihat keras
Tapi ia selalu terdepan diantara orang yg ia sayangi
Ia selalu memiliki cara tersendiri menyampaikan cintanya
Ayah....
Pahlawanku
Malaikatku
Nun Jauh
Aku bukan menyayangimu
Tapi aku mencintaimu
Sejauh apapun aku pergi
Selama apapun kau pergi
Semuanya selalu mengingatkanku padamu
Mungkin melupakanmu
Adalah sebuah kemustahilan

Impian hati
Kadang aku tak bisa tidur
Saat ingatanmu bermain di pikiranku
Dan terus terang...
Aku rindu....
Aku kesal.....
Aku bingung....
Aku gundah.....
Aku ingin menjadi teman hidupmu

Bunga Hati
Seindah semburat mentari pagi
Itulah senyummu
Dekapan hangat...
Yang didalamnya mengalir cinta
Hingga mengusik sukmaku
Bunga-bunga itu mekar dengan cantiknya
Seperti dirimu 
Pesona itu menyeruak relung hati ini
Menyesap jauh ke dalam
Meninggalkan namamu yang terukir indah disana

Caraku Mencintaimu
Jika menangis bisa menghapus lukamu, maka biarkan aku
menjadi sandaranmu.
Jika sepi itu mengusikmu, maka biarkan aku datang dan
mengusirnya.
Jika tawamu hilang, maka biarkan aku membawanya
kembali.
Jika kau ijinkan, aku ingin bersamamu selamanya.

Rahasia
Langit tak selalu biru.
Begitu juga hatiku.
Mendung belum tentu hujan.
Begitu juga senyumku.
Ada yang kurahasiakan.
Ada yang kusimpan sendiri.
Ini bukan emas atau lembaran itu. 
Biarlah ini membeku selamanya.
Cukup aku dan Tuhan yang tahu.
Bagaimana hati ini tergores.

Kesalahan terindah
Jika mencintaimu kau bilang itu kesalahan....
Maka biarlah ini menjadi kesalahan terindah yang pernah
kulakukan.
Cinta ini nyata dan aku tak tahu kapan ia datang
Tanpa permisi, tanpa ijin...
Langsung terjatuh dihadapanmu

Pita Hitam
Duka itu menjalar di setiap ingatanku
Perihnya menikam ke bagian terdalam tubuhku
Menghancurkannya...
Hingga yang tersisa hanya puing-puing kesedihan dan
kekecewaan
Jiwaku menangis
Menatap pita hitam yang kian kelam

Malam Tak Berbintang


Hanya gelap.....
Itu yang kulihat
Hanya hampa.....
Itu yang kurasa

Terasa angin mengelu-elukan namamu.


Dingin ini membungkam ragaku
Menatap jauh ke angkasa hitam
Yang semakin pekat

Ada yang hilang...


Ada yang jauh dariku
Membuatku kosong
Seperti malam ini

Masa Kecil
Masa yang paling menyenangkan Masa yang kurindukan
Dimana aku masih anak kecil
Yang lugu, polos dan nakal

Bermain dan keluarga adalah duniaku


Kebun, lapangan, sekolah,sawah adalah istanaku
Tanah dan pohon adalah emasnya
Dan aku dan teman-teman adalah penguasa kecilnya

Kadang aku bertengkar 


Karena hanya sebuah kayu atau batu
Tapi lalu kami kembali tertawa riang setelahnya
Tanpa tahu apa itu

Aku hanya tahu aku ini anak ayah dan ibu


Aku tahu aku punya teman-teman yang baik dan nakal
Aku tahu kalau aku harus sekolah
Dan sayangnya....
Aku tidak tahu kalau masa ini tidak akan pernah terulang
lagi
Pantai Kenangan
Deru ombak yang menghantam tepi berpasir
Sapuan lembut mengelus ujung kaki
Biru laut....
Menghinoptis mataku
Angin kencang berhembus
Mengurai setiap helai rambut hitamku

Disinilah semuanya berawal


Di tepi pantai berpasir putih ini
Saat sang surya
Mulai menari dengan cahayanya di ufuk barat
Genggaman tanganmu selalu hangat
Tatap matamu sekuat ombak pantai
Begitu mendalam hingga menyentuh dasar hatiku

Kita berjalan beriringan 


Sambil bergenggaman tangan
Menikmati senja dan waktu ini
Yang selalu indah di ingatanku

Bagian Bisu

Aku tidak tahu apa yang terjadi


Tiba-tiba semuanya bungkam
Aku hanya menutup mata sebentar
Lalu saat aku membukanya
Aku melihat keheningan
Di dalam kata itu tidak ada artinya
Tatap matanya kosong
Pertanyaan hanya sebuah angin lalu
Sentuhan itu tak terasa
Diam itu kini menjalar
Bak rumput liar yang kian subur
Menutup pandangan
Tak membiarkan yang lain tumbuh
Aku hanya berharap agar kebekuan ini bisa dicairkan
Agar kembali hangat seperti mentari musim semi
Tapi aku tahu
Kadang ini diperlukan dalam sebuah hubungan
Suasana hening dan bisu
Agar kita mengerti akan suatu hal
Mengerti makna kebersamaan dan kesepian

Benci
Aku tidak takut dengan sebilah pedang
Aku tidak takut dengan ujung tajam belati
Aku hanya takut dengan Tuhan
Dan aku benci,
Lidah tajammu
Kata-katamu yang beracun
Dan kulit ularmu itu

Renjana
Ada yang tak bisa kumengerti
Tentang aku dan dirimu
Tentang kata yang tak pernah sampai
Tentang hati yang tak berhenti mencari
Tentang mimpi yang tak kunjung usai
Sebuah renjana yang tampak kabur
Melintas pelan diantara aku dan kamu
Yang kini masih samar
Dan tak tahu apa jadinya

Aku dan kamu sebatas renjana


Yang takdir buat
Yang Tuhan lukiskan
Di atas kanvas merah muda

Masih adakah waktu ?


Aku disini
Dalam duka dan airmata
Dalam rindu dan cinta
Semua hal mengingatkan ku padamu
Lagu itu, jalan itu, rumah itu, canda itu
Semua terasa beda tanpa dirimu
Ada yang hilang dalam hidupku
Ada yang sesak dalam tubuhku

Masih adakah waktu ?


Untuk mengulang semuanya
Untuk kita bercerita
Untuk kita habiskan menit bersama
Tapi waktu tak sebaik itu
Dia akan tetap membisu
Yang ada hanya kenanganmu 
Yang tergambar disini
Aku tahu apa yang terjadi tak akan berubah
Semuanya adalah suratan Yang Kuasa

Jika masih ada waktu


Hanya satu pintaku
Ijinkan aku mengatakan,
Bahwa aku selalu menyayangimu
Bahwa kita selamanya sahabat
Bahwa dirimu sangat berarti dalam hidupku
Untuk sahabatku tercinta
Selamat jalan......

Rindu
Aku tahu...
Ini sudah sangat terlambat
Sangat tak mungkin ada harapan untukku
Tapi aku masih disini
Menantimu dalam keramaian
Memperhatikanmu dari sudut yang tak kau tahu
Aku ingin berkata bahwa aku rindu
Tapi aku takut...
Rindu ini malah mengusikmu
Yang sudah terbiasa tanpaku
Yang tak mengapa bila di dekatku
Jauh di dalam sukma jiwaku
Aku masih menyimpan rasa
Aku masih ingin berjumpa
Aku masih ingin menjadi alasanmu untuk terbangun di tengah
malam.
Diam
Hari itu kita berjumpa
Kita sama - sama tak bersuara
Saling menatap
Dan membaca isi hati melalui mata
Kita tak beranjak
Hanya beku
Di depan kenyataan

Malam sunyi
Di malam gelap nan dingin
Kutatap hitam kelam langit
Kurasakan desir angin yang datang
Kutatap terus hitam yang hampa itu
Hanya gelap dan gelap
Gesekan daun dan ranting yang tertiup angin
Terdengar ngilu di telingaku
Kupejamkan mata
Membiarkan malam ini berlalu begitu saja

Hatimu
Kau tahu...
Apa yang paling kutakutkan
Dari dirimu
Itu adalah hatimu
Aku takut melukainya
Aku takut ia berpaling dariku
Aku takut ia berhenti mencintaiku

Diorama
Aku jenuh...
Jenuh atas semua penantian ini
Jenuh atas rasa ini
Jenuh atas situasi ini

Aku muak....
Muak atas sandiwara ini
Muak atas kepura - puraan ini
Muak atas kebohongan yang sama

Aku ingin lari tapi kakiku terikat rantai yang bernama cinta
Aku ingin pergi tapi tanganku tak mampu membuka pintu rumah
itu
Aku ingin mati tapi aku takut akan apa yang ada di balik
kematian
Ada ribuan kata yang ingin kuucap
"Amarah, makian, cinta, kasih, dusta, syukur, maaf"
Tapi itu hanya tertahan di pikiranku

“Seperti Pelangi”

Engkau adalah kemilau warna – warni indah yang datang sehabis hujan sore itu.
Lengkungan bibir itu menyeretku jauh dalam imajinasi tak terbatas.
Sayup – sayup suaramu yang menguraikan sebuah puisi lama mendadak kurindukan.
Kupikir kamu adalah metafora dariku.
Ahhhh………..
Walaupun akhirnya secarik surat bertinta emas menghantamku keras.
Ternyata kata yang tertuang disana lebih kejam dari sebuah ironi.
Aku termenung dalam kubah repetisi.
Seperti pelangi….
Seperti pelangi…..
Seperti pelangi……
Sesaat.

Sri Anugrahayu
Bali,2019

“Amak dan Api Pengharapannya”

Karya : Sri Anugrahayu

Bara – bara api menyala dari netranya.


Paginya masih bertemankan gelap dan sejumput doa pengharapan.
Tembok bambunya berderit ditiup Sang Bayu.
Ditatapnya satu – persatu,
Wajah – wajah polos yang meringkuk diselimuti mimpi kemarin petang
Nafasnya tertahan oleh sesak yang melipir menusuk dadanya
“Mak, Raka tak sekolah. Bisakah jadi prajurit hijau itu ?”
“Bolehkah kita makan ayam goreng Mak buat ulang tahun Cici ?”
“Tak apa Mak. Saya masih bisa hidup bila cuma sekedar melewatkan waktu makan sekali
duakali.”
Bakul itu ia eratkan di punggungnya.
Seolah harapan itu ada di dalam ulatan bambu tua itu.
Nyatanya beban dan harapan itu hampir sama bobotnya.
Dia berjalan maju.
Merangsek di antara dinginnya pagi.
Api – apinya semakin menyala.
Membakar semua sesak dan sesal itu menjadi bara.
Meninggalkan dia dalam doanya yang khusyuk.