Anda di halaman 1dari 11

JURNAL ILMIAH PEREKAM DAN INFORMASI KESEHATAN IMELDA Vo.2, No.

1, Februari 2017

TINGKAT PENGETAHUAN PETUGAS REKAM MEDIS


TENTANG MANAJEMEN KOMUNIKASI DAN
INFORMASI 13 AKREDITASI VERSI 2012 DI
RUMAH SAKIT SUFINA AZIZ MEDAN

Esraida Simanjuntak
Dosen APIKES Imelda, Jalan Bilal Nomor 52 Medan

E-mail: esra_soqute@yahoo.com

ABSTRAK

Rekam medis merupakan berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien,
pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan petugas rekam medis tentang manajemen
komunikasi dan informasi 13 Akreditasi Versi 2012 di rumah sakit Sufina Aziz Medan. Metode penelitian
ini menggunakan deskriptif kuantitatif. Adapun jumlah populasi dalam penelitian ini sebanyak 9
responden dengan teknik pengambilam sampel menggunakan total sampling dan jumlah sampel sebanyak
9 responden. Dari hasil penelitian dapat diperoleh hasil bahwa 33,3% berumur 20-24 tahun, 44,5%
berumur 25-29 tahun dan 22,2% berumur >30 tahun. Berdasarkan jenis kelamin 77,8% berjenis kelamin
perempuan dan 22,2% berjenis kelamin laki-laki. Berdasarkan tingkat pendidikan 11,1% pendidikan DIII
rekam medis, 44,4% pendidikan DIII lainnya dan 44,4% pendidikan Sarjana. Berdasarkan lama kerja
11,1% dengan lama kerja <1 tahun, 33,3% dengan lama kerja 1-5 tahun dan 55,6% dengan lama kerja
>5 tahun. Dari hasil penelitian dapat diperoleh hasil 22,2% dengan tingkat pengetahuan baik, dan
77,7% dengan tingkat pengetahuan sedang. Setelah dilakukan penelitian mengenai tingkat pengetahuan
petugas rekam medis tentang manajemen komunikasi dan informasi 13 Akreditasi Versi 2012 di rumah
sakit Sufina Aziz Medan dengan 9 responden, maka dapat disimpulkan tingkat pengetahuan petugas
rekam medis dikatakan sedang (77,7%). Untuk itu disarankan kepada petugas rekam medis agar lebih
meningkatkan pengetahuan dengan mengikuti seminar, melakukan pelatihan dan bimbingan yang
mencakup dalam Akreditasi rumah sakit versi 2012 di rumah sakit Sufina Aziz Medan.

Kata Kunci: Pengetahuan; Petugas Rekam Medis; Manajemen Komunikasi; Informasi 13 Akreditasi
Versi 2012.
ABSTRACT
Medical record is the file containing the records and documents on his identity, examination, treatment,
action and other services that have been given to patients. This study aims to determine the level of
knowledge about the medical records clerk communication and information management 13 Version
2012 Accreditation Sufina Aziz hospital in Medan. This research method using descriptive quantitative.
The number of population in this study were 9 respondents with pengambilam engineering samples using
sampling and the total number of samples 9 respondents. From the research result showed that 33.3%
aged 20-24 years, 44.5% aged 25-29 years and 22.2% aged> 30 years. By sex 77.8% female and 22.2%
were male. Based on educational level of 11.1% DIII education of medical records, 44.4% more DIII
education and 44.4% of undergraduate education. 11.1% based on the length of work with working time
<1 year, 33.3% at work 1-5 years old and 55.6% with a duration of action of> 5 years. From the
research results can be obtained 22.2% with good knowledge level, and 77.7% with a moderate level of
knowledge. After doing research on the medical records clerk knowledge level of communication and
information management 13 Version 2012 Accreditation Sufina Aziz hospital in Medan with 9
respondents, it can be concluded the level of knowledge of medical records clerk said to be moderate
(77.7%). It is recommended to medical records clerk in order to further enhance the knowledge with
seminars, training and guidance that includes the 2012 version Accreditation Sufina Aziz hospital in
Medan.
Keywords: Knowledge; Medical Record Officers; Communication Management; Information
Accreditation Version 13, 2012.
159
JURNAL ILMIAH PEREKAM DAN INFORMASI KESEHATAN IMELDA Vo.2, No.1, Februari 2017

PENDAHULUAN mutu pelayanan kesehatan, maka dianggap


perlu dilakukannya perubahan yang
Menurut World Health Organization bermakna terhadap mutu pelayanan rumah
(WHO, 2000) rumah sakit adalah suatu sakit.
bagian menyeluruh dari organisasi sosial dan Penyedia pelayanan kesehatan yang baik
medis yang berfungsi memberikan pelayanan harus membuat rekam medis yang baik untuk
kesehatan yang lengkap kepada masyarakat kepentingan pasien dalam jalannya
baik dalam penyembuhan penyakit (kuratif) pengobatan karena baik buruknya suatu
dan pemulihan penyakit (rehabilitatif). pelayanan kesehatan dapat diukur dari rekam
Rumah sakit juga merupakan pusat pelatihan medisnya. Menurut Peraturan Menteri
bagi tenaga kesehatan dan pusat penelitian Kesehatan RI Nomor
medik (Bizzartic, 2010). Sesuai dengan 269/MENKES/PER/III/2008, rekam medis
ketentuan Undang-Undang Republik merupakan berkas yang berisikan catatan dan
Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang dokumen tentang identitas pasien,
Rumah Sakit bahwa rumah sakit mempunyai pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan
kewajiban memberikan pelayanan pelayanan lain yang telah diberikan kepada
kesehatan yang aman, bermutu, anti pasien. Rekam medis memiliki fungsi dalam
diskriminasi, dan efektif dengan beberapa aspek yaitu aspek administrasi,
mengutamakan kepentingan pasien sesuai legal, finansial, riset, edukasi dan
dengan standar pelayanan Rumah sakit. dokumentasi. Rekam medis harus
Dalam menjalankan fungsinya, rumah didokumentasikan untuk menjaga mutu
sakit harus mampu memberikan pelayanan pelayanan rekam medis. Pendokumentasian
yang terbaik kepada masyarakat. Sehingga, berkas rekam medis berperan dalam
dalam upaya peningkatan mutu pelayanan pengambilan keputusan, salah satunya yaitu
maka rumah sakit wajib mengikuti dengan pembuatan laporan rumah sakit,
Akreditasi. Peraturan Menteri Kesehatan pembuatan pelaporan rumah sakit
Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 merupakan salah satu kewenangan perekam
tentang KARS menyebutkan bahwa medis.
Akreditasi rumah sakit adalah pengakuan Sebelum pelaksanaan Akreditasi Versi
terhadap rumah sakit yang diberikan oleh 2012 pernah ada Akreditasi 2007 dimana
lembaga independen penyelenggara Akreditasi 2007 terdiri dari 5 pelayanan dan 7
Akreditasi yang ditetapkan oleh Menteri standar, Akreditasi 2007 lebih berfokus pada
Kesehatan, setelah dinilai bahwa rumah sakit penyedia layanan kesehatan (rumah sakit),
itu memenuhi standar pelayanan yang berlaku yang berfokus pada input dan dokumen
untuk meningkatkan mutu pelayanan rumah namun lemah dalam implementasi dan dalam
sakit secara berkesinambungan. proses Akreditasi kurang melibatkan petugas,
Di Indonesia ketentuan Akreditasi (Ery Rustiyanto, 2009). Untuk menutupi
rumah sakit baik tingkat nasional maupun kekurangan ini, KARS mengembangkan
internasional sudah diatur oleh Pemerintah standar Akreditasi Versi 2012. Standar
melalui Undang-Undang maupun peraturan Akreditasi Versi 2012 ini memiliki kelebihan
tertulis, yaitu Undang-Undang Nomor 44 yaitu lebih berfokus pada pasien, fokus dalam
tahun 2009, pasal 40 ayat (1) yang porses, output dan outcome, serta fokus pada
mengatakan bahwa dalam upaya peningkatan implementasi dan melibatkan seluruh petugas
mutu pelayanan Rumah sakit wajib dilakukan dalam proses akreditasinya, Akreditasi Versi
Akreditasi secara berkala minimal 3 (tiga) 2012 disebut dengan sistem telusur. Dengan
tahun sekali. Meskipun Akreditasi rumah adanya perbaikan tersebut di harapkanrumah
sakit telah berlangsung sejak tahun 1995 sakitbenar-benar dapat meningkatkan mutu
dengan berbasis pelayanan, yaitu 5 pelayanannya dengan lebih berfokus pada
pelayanan, 12 pelayanan dan 16 pelayanan, keselamatan pasien.
namun dengan berkembangnya ilmu Akreditasi rumah sakit harus dilakukan
pengetahuan dan teknologi serta makin agar mutu pelayanan dapat diintegrasikan dan
kritisnya masyarakat Indonesia dalam menilai dibudayakan ke dalam sistem pelayanan

160
JURNAL ILMIAH PEREKAM DAN INFORMASI KESEHATAN IMELDA Vo.2, No.1, Februari 2017

kesehatan rumah sakit sehingga didapatkan menghasilkan data yang berkualitas dan
gambaran seberapa jauh rumah sakit telah berpengaruh besar kepada pihak koder di
memenuhi berbagai standar yang ditentukan Rekam Medis dan rumah sakit. Ketepatan
untuk meningkatkan mutu pelayanan yang dalam pemberian kode diagnosis sangat
dapat dipertanggungjawabkan. Sejalan penting di bidang manajemen data klinis,
dengan penyelenggaraan Akreditasi yang penagihan biaya, beserta hal-hal lain yang
baik dan benar, perlu adanya pengetahuan berkaitan dengan asuhan dan pelayanan
petugas tentang Manajemen Komunikasi dan kesehatan (Hatta, Gemala R, 2008).
Informasi 13 sesuai Standar Prosedur Penggunaan simbol juga sangat penting di
Operasional (SPO) Akreditasi Versi 2012. ruang rekam medis Simbol merupakan tanda
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, peringatan yang ditempatkan pada
dan ini terjadi setelah orang melakukan sampulberkas rekam medis, sedangkan
pengindraan terhadap suatu objek tertentu. singkatan merupakan rangkaianhuruf yang
(Notoatmodjo,2007). Tingkat pengetahuan digunakan untuk mempersingkat dan
petugas rekam medis di Rumah sakit Sufina mempermudahpencatatan didalam Rekam
Aziz dapat dilihat dalam pengunaan simbol Medis berdasrkan SPO yang berlaku.
dan singkatan yang ada dan berlaku di rumah Berdasarkan survei awal yang peneliti
sakit dan penggunaan kode diagnosa dan lakukan di Rumah sakit Sufina Aziz Medan,
tindakan. Manajemen Komunikasi dan dengan melakukan wawancara kepada salah
Informasi 13 yaitu tentang bagaimana rumah satu petugas Rekam Medis di Rumah sakit
sakit menggunakan standar kode diagnosa, Sufina Aziz Medan, petugas mengatakan
kode tindakan, simbol, singkatan dan defenisi bahwa, dimana didapati pada berkas rekam
sesuai SPO Akreditasi Versi 2012. Tujuan medis pasien umum belum dilakukan
Manajemen Komunikasi dan Informasi 13 pengkodean terhadap penyakit dan tindakan,
adalah untuk memfasilitasi pembanding data sedangkan pada berkas pasien BPJS sudah
dan informasi di dalam maupun antar rumah dilakukan pengkodean untuk pengkleman
sakit. Keseragaman penggunaan kode BPJS tetapi tidak mengikuti SPO yang ada,
diagnosa dan kode prosedur tindakan serta tidak adanya singkatan dan simbol yang
mendukung pengumpulan dan analisis data jelas, penggunaan singkatan di Rumah sakit
singkatan dan simbol juga distandarisasikan Sufina Aziz hanya dari mulut ke mulut belum
dan termasuk yang tidak boleh digunakan. ada yang tertera atas mandat dari direktur
Standarisasi tersebut konsisten dengan rumah sakit dan belum mengikuti SPO dan
standar lokal dan nasional yang berlaku. tidak adanya simbol nasional yang sesuai
Sesuai dengan Akreditasi 2012 rumah dengan SPO, serta tidak adanya buku
sakit H.Adam Malik sudah lulus dalam panduan mengenai penggunaan singkatan dan
Akreditasi Versi 2012 pada tahun 2014 dan simbol medis yang berlaku dan dapat
dinyatakan lulus tingkat paripurna. dipahami oleh tenaga kesehatan di rumah
Sehubungan dengan Manajemen Komunikasi sakit. Sehingga pernyataan ini dapat
dan Informasi 13 Rumah sakit H.Adam Malik mempersulit Rumah sakit untuk proses
telah menggunakan standar kode diagnosa pengakuan Akreditasi. Sejalan dengan hal ini,
dan tindakan dimana dalam pengkodingan Rumah sakit Sufina Aziz sedang
pihak koder mengkoding semua diagnosa dan melaksanakan Akreditasi Versi 2012 pada
tindakan baik pasien umum dan BPJS sesuai standar MKI 13.
dengan SPO, pengunaan simbol maupun Berdasarkan latar belakang di atas, maka
singkatan sesuai dengan SPO yang berlaku peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
yang telah di tetapkan serta adanya buku dengan mengambil judul Tingkat
panduan yang lengkap mengenai simbol dan Pengetahuan Petugas Rekam Medis tentang
singkatan yang ada di rumah sakit tersebut, Manajemen Komunikasi dan Informasi 13
sehinggga mempermudah dalam Akreditasi Versi 2012 di Rumah sakit Sufina
pengumpulan dan menganalisis data. Aziz Medan.
Pemberian kode diagnosis dan tindakan
yang akurat, komplit dan konsisten akan

161
JURNAL ILMIAH PEREKAM DAN INFORMASI KESEHATAN IMELDA Vo.2, No.1, Februari 2017

Rumusan Masalah menjawab permasalahan yang sedang


Berdasarkan latar belakang yang telah dihadapi. Maka, peneliti ingin mengetahui
diuraikan di atas maka rumusan masalah Tingkat Pengetahuan Petugas Rekam Medis
yang diambil dalam penelitian ini adalah Tentang Manajemen Komunikasi dan
bagaimana Tingkat Pengetahuan Petugas Informasi 13 Akreditasi Versi 2012 di Rumah
Rekam Medis tentang Manajemen Sakit Sufina Aziz Medan.
Komunikasi dan Informasi 13 Akreditasi
Versi 2012 di Rumah sakit Sufina Aziz Waktu penelitian
Medan”. Waktu penelitian akan dilaksanakan
pada bulan Nopember 2016.
Tujuan Penelitian
Untuk Mengetahui Tingkat Pengetahuan Populasi
Petugas Rekam Medis tentang Manajemen Populasi adalah keseluruhan subjek
Komunikasi dan Informasi 13 Akreditasi penelitian Arikunto (2006), pada penelitian
Versi 2012 di Rumah sakit Sufina Aziz ini populasi yang diamati adalah petugas
Medan”. Rekam Medis yang terdiri dari 9 orang di
Rumah Sakit Sufina Aziz Medan.
Manfaat Penelitian
1. Bagi Rumah sakit Teknik Sampling
Hasil dari penelitian ini diharapkan Metode sampling yang di gunakan
dapat menjadi masukan bagi rumah sakit adalah total sampling. Total sampling adalah
sebagai bahan pertimbangan tentang teknik pengambilan sampel dimana jumlah
Manajemen Komunikasi dan Informasi sampel sama dengan populasi (Sugiyono,
13 Akreditasi Versi 2012. 2007).
2. Institusi Pendidikan
Sebagai bahan acuan dan sumber ilmu Sampel
untuk menambah wawasan dan Sampel adalah bagian dari objek yang
pengetahuan bagi mahasiswa yang diteliti jumlah dan karakteristiknya mewakili
mencakup SPO Akreditasi Versi 2012 seluruh populasi tersebut. Sampel dalam
3. Bagi Peneliti penelitian ini adalah total dari populasi yang
Sebagai bahan acuan dalam penelitian terdiri dari 9 orang
selanjutnya yang berhubungan dengan
Tingkat Pengetahuan Petugas Rekam Variabel Penelitian
Medis tentang Manajemen Komunikasi Variabel adalah sesuatu yang digunakan
dan Informasi 13 Akreditasi Versi 2012, sebagai ciri, sifat, atau ukuran yang dimiliki
serta untuk meningkatkan wawasan atau didapat oleh satuan penelitian tentang
pengetahuan peneliti. suatu konsep pengertian tertentu
(Notoatmodjo, 2010). Adapun variabel-
METODE variabel yang akan diamati oleh peneliti
sebagai berikut:
Metode Penelitian 1. Kode Diagnosa
Jenis penelitian ini menggunakan 2. Kode Prosedur/tindakan
metode penelitian deskriptif kuantitatif, 3. Penggunaan Simbol
menurut Notoatmodjo (2010), metode 4. Singkatan
penelitian deskriptif adalah suatau metode 5. Umur
penelitian yang dilakukan dengan tujuan 6. Jenis Kelamin
untuk membuat deskriptif tentang suatu 7. Lama Kerja
keadaan secara objektif. Metode penelitian 8. Pendidikan
ini digunakan untuk memecahkan atau

162
JURNAL ILMIAH PEREKAM DAN INFORMASI KESEHATAN IMELDA Vo.2, No.1, Februari 2017

Definisi Operasional

Untuk membantu ruang lingkup atau pengertian variabel-variabel yang diteliti/diamati, variabel-
variabel tersebut perlu diberi batasan atau definisi operasional (Notoatmodjo,2010). Adapaun
definisi operasional pada penelitian ini sebagai berikut:

Tabel 1. Definisi Operasional


No Variabel Definisi Operasional
Kode adalah penetapan sandi atau penentuan pengunaan huruf atu
1 Kode Diagnosa kombinasi angka atau mewakili komponen data terkait. Dikategorikan:
ICD 10 untuk diagnosa penyakit
Kode prosedur/ tindakan penetapan sandi atau penentuan pengunaan
Kode
2 huruf atu kombinasi angka atau mewakili komponen data terkait
Prosedur/tindakan
Dikategorikan: ICD 9CM untuk diagnosa tindakan
Simbol merupakan tanda peringatan yang ditempatkan pada sampul
berkas rekam medis dikategorikan :
A : Alfa
3 Penggunaan Simbol B : Bravo
C : Charlie
D : Delta
E : Echo
singkatan merupakan rangkaian huruf yangdigunakan untuk
4 Singkatan mempersingkat dan mempermudah pencatatan didalam Rekam Medis
dikategorikan sesuai SPO rumah sakit
Kelompok umur petugas rekam medis
Dikategorikan :
1. <20 tahun
5 Umur
2. 20-35 tahun
3. 35-45 tahun
4. >40 tahun
Jenis kelamin petugas rekam medis. Dikategorikan:
6 Jenis Kelamin 1. Perempuan
2. Laki-laki
Lama kerja petugas rekam medis, dikategorikan:
1. <2 tahun
7 Lama Kerja 2. 2-5 tahun
3. 5-10 tahun
4. >10 tahun
Pendidikan/ sekolah yang ditempuh oleh petugas rekam medis
Dikategorikan:
SD
8 Pendidikan
SMP
SMA/SMK
D3 Rekam Medis

Jenis Data ini, data primer diperoleh dari kuesioner


Penelitian ini menggunakan jenis data yang diberikan kepada petugas Rekam
sebagai berikut: Medis Rumah Sakit Sufina Aziz Medan.
1. Data primer 2. Data skunder
Data primer adalah data yang diperoleh Data sekunder adalah data yang
langsung dari subjek peneliti dengan diperoleh dari pihak lain, tidak langsung
menggunakan alat pengukuran atau alat diperoleh oleh peneliti dari subjek
pengambilan data langsung pada objek penelitiannya. Data sekunder biasanya
sebagai sumber informasi yang dicari berwujud pada dokumentasi atau data
(Notoatmodjo, 2012). Dalam penelitian laporan yang sudah tersedia.
163
JURNAL ILMIAH PEREKAM DAN INFORMASI KESEHATAN IMELDA Vo.2, No.1, Februari 2017

(Notoatmodjo, 2010). Dalam penelitian Teknik Pengukuran


ini, data sekunder diperoleh dari melihat Penilaian tingkat pengetahuan petugas
secara langsung bagaimana tingkat Rekam Medis dalam Manajemen Komunikasi
pengetahuan petugas Rekam Medis dan Informasi 13 sesuai SPO Akreditasi
dalam Manajemen Komunikasi dan Versi 2012 diukur dengan menggunakan
Informasi 13 sesuai SPO Akreditasi kuesioner yang berisi 20 pertanyaan, skala
Versi 2012. pengukuran penilaian, penerapan akreditasi
dalam penelitian ini menggunakan skala
Teknik Pengumpulan Data ordinal. Skala ordinal adalah pengukuran
Teknik pengumpulan data pada dimana skala yang dipergunakan disusun
penelitian ini yaitu: berdasarkan atas jenjang dalam atribut
1. Metode Angket/Kuesioner tertentu sehingga penyusunannya disusun
Angket/Kuesioner adalah suatu cara secara terurut dari yang rendah sampai yang
pengumpulan data atau suatu penelitian tinggi menurut suatu ciri tertentu (Nasir,
mengenai suatu masalah yang umumnya 2011).
banyak menyangkut kepentingan umum Rumus range = (NTt – NTr) (20– 0) = 20
(orang banyak). Angket dilakukan Rumus interval =
dengan mengedarkan suatu daftar
pertanyaan yang berupa formulir- Keterangan:
formulir, diajukan secara tertulis kepada NTt : Nilai tertinggi
sejumlah subjek untuk mendapatkan NTr : Nilai terendah
tanggapan, informasi, jawaban, dan Kelas : 3
sebagainya (Notoatmodjo, 2012). Jadi kategori penilaian dibagi menjadi 3
2. Metode Observasi bagian yaitu:
Observasi adalah suatu prosedur yang 1. Baik, bila mampu menjawab benar
berencana, yang antara lain meliputi, sebanyak 14 – 20 pertanyaan
melihat, dan mencatat jumlah dan taraf 2. Sedang, bila mampu menjawab benar
aktivitas tertentu yang ada hubungannya sebanyak 7 - 13 pertanyaan
dengan masalah yang diteliti 3. Kurang, bila mampu menjawab benar
(Notoatmodjo, 2010). Melihat secara sebanyak 0 – 6 pertanyaan
langsung tingkat pengetahuan petugas
Rekam Medis dalam Manajemen Teknik Analisa Data
Komunikasi dan Informasi 13 sesuai Teknik yang digunakan dalam penelitian
SPO Akreditasi Versi 2012 di Rumah ini berdasarkan teknik analisis deskriptif
Sakit Sufina Aziz Medan. yaitu dengan cara mendiskripsikan data yang
Untuk mengetahui bagaimana tingkat telah dikumpulkan dan diolah menjadi hasil
pengetahuan petugas Rekam Medis dalam untuk mengetahui tingkat pengetahuan
Manajemen Komunikasi dan Informasi 13 petugas Rekam Medis dalam Manajemen
sesuai SPO Akreditasi Versi 2012 di Rumah Komunikasi dan Informasi 13 sesuai SPO
Sakit Umum Sufina Azis Medan, peneliti Akreditasi Versi 2012 di Rumah Sakit Umum
menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Sufina Azis Medan Tahun 2016.
Irchman (2009) dengan rumus sebagai
berikut: HASIL
F
P= X 100 % Dari penelitian yang dilakukan peneliti
N mengenai “Tingkat Pengetahuan Petugas
Keterangan: Rekam Medis tentang Manajemen
P : Persentase Komunikasi dan Informasi (MKI)13
F : umlah jawaban yang benar Akreditasi Versi 2012 di Rumah Sakit Sufina
N : Jumlah soal Aziz Medan”. Data diperoleh dari 9
responden dari data primer yang didapat dari
pembagian kuesioner, maka penulis
memperoleh hasi sebagai berikut:
164
JURNAL ILMIAH PEREKAM DAN INFORMASI KESEHATAN IMELDA Vo.2, No.1, Februari 2017

Karakteristik Responden Tabel 4. Distribusi FrekuensiPengetahuan


Petugas Rekam Medis Tentang Manajemen
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Tingkat Komunikasi Dan Informasi 13 Akreditasi
Pengetahuan Petugas Rekam Medis Tentang Versi 2012 Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Manajemen Komunikasi Dan Informasi 13 Di Rumah Sakit Sufina Aziz Medan
Akreditasi Versi 2012 Berdasarkan Jenis No Pendidikan Frekuensi
Persentase
Kelamin Di Rumah Sakit Sufina Aziz Medan (%)
Jenis DIII Rekam
No Frekuensi Persentase (%) 1 1 11,1
Kelamin Medis
1 Laki-laki 2 22,2 DIII
2 4 44,4
2 Perempuan 7 77,8 Lainnya
Total 9 100,0% 3 Sarjana 4 44.4
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan Total 9 100,0%
bahwa jenis kelamin perempuan sebanyak 7 Berdasarkan tabel di atas menunjukkan
responden (77,8%) dan jenis kelamin laki- bahwa responden dengan pendidikan DIII
laki 2 responden (22,2%). rekam medis sebanyak 1 responden (11,1%),
dengan pendidikan DIII lainnya sebanyak 4
Tabel 3. Distribusi FrekuensiTingkat responden (44,4%) dan responden dengan
Pengetahuan Petugas Rekam Medis Tentang pendidikan Sarjana sebanyak 4 responden
Manajemen Komunikasi Dan Informasi 13 (44,4%).
Akreditasi Versi 2012 Berdasarkan Umur Di
Rumah Sakit Sufina Aziz Medan Tabel 5. Distribusi FrekuensiPengetahuan
No Umur Frekuensi Persentase (%) Petugas Rekam Medis Tentang
1 20-24 3 33,3 Manajemen Komunikasi Dan Informasi 13
2 25-29 4 44,5 Akreditasi Versi 2012 Berdasarkan Lama
4 >30 2 22,2 Kerja Di Rumah Sakit Sufina Aziz Medan
Total 9 100,0% Lama
No Frekuensi Persentase (%)
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat Kerja
bahwa responden yang berumur 20-24 1 <1 tahun 1 11,1
sebanyak 3 responden (33.3%), responden 1-5
2 3 33,3
yang berumur 25-29 sebanyak 4 responden tahun
(44,5%) dan responden yang berumur >30 3 >5 tahun 5 55,6
sebanyak 2 responden (22,2%). Total 9 100,0%
Berdasarkan tabel di atas responden
lama kerja <1 tahun sebanyak 1 responden
(11.1%), responden lama kerja 1-5 tahun
sebanyak 3 responden (33,3%) dan
responden lama kerja >5 tahun sebanyak 5
responden (55,6%).
Pengetahuan Responden

Tabel 6. Tabulasi Silang Tingkat Pengetahuan Petugas Rekam Medis Tentang Manajemen
Komunikasi Dan Informasi 13 Akreditasi Versi 2012 Berdasarkan Umur Di Rumah Sakit
Sufina Aziz Medan
Teknik Pengukuran Tingkat Pengetahuan
Total
No Umur Baik Sedang Kurang
F % F % F % F %
1 20-24 1 11,1% 2 22,2% 0 0 3 44,5 %

2 25- 29 1 11,1% 3 33,3% 0 0 4 22,2 %


3 >30 0 0 2 22,2% 0 0 2 33,3 %
Total 2 22,2% 7 77,7% 0 0% 9 100%

165
JURNAL ILMIAH PEREKAM DAN INFORMASI KESEHATAN IMELDA Vo.2, No.1, Februari 2017

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan berumur 25-29 tahun 1 (11,1%) yang


bahwa dari 9 responden, yang berumur 20-24 memiliki tingkat pengetahuan baik dan 3
tahun yang memiliki tingkat pengetahuan (33,3%) responden yang berpengetahuan
baik 1 responden (11,1%) dan 2 (22,2%) sedang dan umur >30 tahun memiliki tingkat
responden yang berpengetahuan sedang, yang pengetahuan sedang 2 responden (22,2%).

Tabel 7. Tabulasi Silang Tingkat Pengetahuan Petugas Rekam Medis Tentang Manajemen
Komunikasi Dan Informasi 13 Akreditasi Versi 2012 Berdasarkan Pendidikan Di Rumah Sakit
Sufina Aziz Medan
Teknik Pengukuran Tingkat Pengetahuan
Total
No Pendidikan Baik Sedang Kurang
% F % F % F %
F
1 DIII Rekam 1 11,1% 0 0% 0 0 1 11,1 %
Medis
2 DIII lainnya 1 11,1% 3 33,3% 0 0 4 44,4%
3 Sarjana 0 0 4 44,5 % 0 0 4 44,5 %
Total 2 22,2% 7 77,8 % 0 0% 9 100,0 %

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan responden dengan pendidikan DIII lainnya


bahwa dari 9 responden, 1 (11,1%) responden memiliki tingkat pengetahuan baik 1 (11,1%),
dengan pendidikan DIII rekam medis sedang 3 (33,3%) dan 4 responden dengan
memiliki tingkat pengetahuan baik, pendidikan Sarjana memiliki tingkat
pengetahuan sedang (44,4 %).

Tabel 8. Tabulasi Silang Tingkat Pengetahuan Petugas Rekam Medis Tentang Manajemen
Komunikasi Dan Informasi 13 Akreditasi Versi 2012 Berdasarkan Lama Kerja Di Rumah Sakit
Sufina Aziz Medan
Teknik Pengukuran Tingkat Pengetahuan Total
No Lama kerja Baik Sedang Kurang
F % F % F % F %
1 <1 tahun 1 11,1% 0 0 0 0 1 11,1 %
2 1-5 tahun 0 0 2 22,2% 0 0 2 22,2 %
3 >5 tahun 1 11,1% 5 55,6 % 0 0 6 66,7 %
Total 2 22,2% 7 77,8 % 0 0% 9 100%

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan Tabel 9. Distribusi Frekuensi Tingkat


bahwa dari 9 responden, 1 responden yang Pengetahuan Petugas Rekam Medis Tentang
lama kerjanya <1 tahun memiliki tingkat Manajemen Komunikasi Dan Informasi 13
pengetahuan baik (11,1%), 2 responden yang Akreditasi Versi 2012 Di Rumah Sakit Sufina
lama kerjanya 1-5 tahun memiliki tingkat Aziz Medan
pengetahuan sedang (22,2%) dan 1 responden Persentase
No Kategori Interval Frekuensi
(%)
yang lama kerjanya >5 tahun memiliki
1 Baik 14-20 2 22,2 %
tingkat pengetahuan baik (11,1%) dan sedang 2 Sedang 7-13 7 77,8 %
sebanyak 5 (55,6 %). 3 Kurang 0-6 0 0%
Total 9 100%
Jadi dari distribusi frekuensi tersebut
jawaban yang diberikan responden atas
tingkat pengetahuan petugas rekam medis
tentang manajemen komunikasi dan
informasi 13 Akreditasi Versi 2012
166
JURNAL ILMIAH PEREKAM DAN INFORMASI KESEHATAN IMELDA Vo.2, No.1, Februari 2017

menunjukkan bahwa responden yang manajemen komunikasi dan informasi


menyatakan penilaian baik terdapat 2 kesehatan (MKI) 13 Akreditasi Versi 2012
responden (22,2%), responden yang semakin baik.
menyatakan penilaian sedang sebanyak 7 Berdasarkan dari penelitian dilihat dari
responden (77,8%). lama kerja responden menunjukkan bahwa
11,1% responden yang lama kerjanya <1
PEMBAHASAN tahun memiliki tingkat pengetahuan baik,
22,2% responden yang lama kerjanya 1-5
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu tahun memiliki tingkat pengetahuan sedang
dan ini terjadi setelah responden melakukan dan responden yang lama kerjanya >5 tahun
pengindraan terhadap suatu objek tertentu. memiliki tingkat pengetahuan baik (11,1%)
Pengindraan terjadi melalui pancra indra dan sedang (55,6%). Hal ini menunjukkan
manusia, yakni penglihatan, pendengaran, bahwa lama kerja sangat berpengaruh
penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar terhadap tingkat pengetahuan petugas rekam
pengetahuan manusia di peroleh melalui mata medis tentang manajemen komunikasi dan
dan telinga. (Notoatmodjo,2007). informasi (MKI) 13 akreditasi 2012.
Pengukuran pengetahuan dapat Berdasarkan hasil penelitian bahwa,
dilakukan dengan wawancara atau angket petugas rekam medis yang termasuk dalam
menanyakan tentang isi materi yang ingin kategori baik (22,2%), dan memiliki
diukur dengan objek penelitian atau pengetahuan sedang (77,8%). Hal ini
responden. Data yang bersifat kualitatif menunjukkan bahwa petugas rekam medis
digamabarkan dengan kata-kata sedangkan memiliki pengetahuan sedang.
data yang bersifat kuantitatif berwujud
angka-angka, hasil perhitungan atau Tingkat Pengetahuan Petugas
pengukuran, dapat diproses dengan cara Dilihat dari tingkat pendidikan petugas
dijumlahkan, dibandingkan dengan jumlah rekam medis sebanyak 9 responden, terdapat
yang diharapkan dan diperoleh persentase. 1 responden dengan pendidikan DIII rekam
Berdasarkan hasil penelitian yang dilihat medis, dimana responden memilki tingkat
dari pendidikan responden menunjukkan pengetahuan yang baik dalam manajemen
bahwa yang memiliki kategori baik (11,1%) komunikasi dan informasi 13 Akreditasi versi
dengan pendidikan DIII rekam medis, yang 2012, ini karena dulu semasa kuliah
memilki kategori baik (11,1%) dengan responden mengikuti seminar dan pelatihan
pendidikan DIII lainnya dan sedang (33,3%) tentang Akreditasi rumah sakit. Sehingga
dan pendidikan Sarjana memiliki kategori tingkat pengetahuan responden tentang
sedang (44,5%). Hal ini menunjukkan bahwa manajemen komunikasi dan informasi 13
tingkat pendidikan mempengaruhi tingkat Akreditasi versi 2012 di kategorikan baik. 1
pengetahuan petugas rekam medis. Responden dengan pendidikan DIII lainnya
Berdasarkan hasil penelitian yang dilihat dengan lama kerja >5 tahun juga
dari umur responden menunjukkan bahwa dikategorikan dengan tingkat pengetahuan
responden yang berumur 20-24 tahun baik dalam manajemen komunikasi dan
memiliki tingkat pengetahuan baik (11,1%) informasi 13 Akreditasi versi 2012, hal ini
dan sedang (22,2%), responden yang berumur karena responden mengikuti pelatihan dan
25-29 tahun memiliki tingkat pengetahuan seminar dari rumah sakit.
baik (11,1%) dan sedang (33,3%) dan yang Sedangkan responden dengan tingkat
berumur >30 tahun memiliki tingkat pendidikan DIII lainnya dengan lama kerja 1-
pengetahuan sedang (22,2%). Hal ini 5 tahun memiliki tingkat pengetahuan
menunjukkan bahwa semakin bertambahnya sedang, hal ini terjadi karena kurang
usia responden maka kesempatan dalam pedulinya responden terhadap pelatihan dan
mendapatkan informasi dan pengetahuan seminar tentang Akreditasi rumah sakit versi
semakin lama, dengan demikian semakin 2012 sehingga tingkat pengetahuan
bertambah umur responden maka tingkat responden dikategorikan sedang. Dan
pengetahuan petugas rekam medis tentang responden dengan tingkat pendidikan Sarjana

167
JURNAL ILMIAH PEREKAM DAN INFORMASI KESEHATAN IMELDA Vo.2, No.1, Februari 2017

dengan lama kerja >5 tahun juga memiliki SARAN


tingkat pengetahuan sedang dalam
manajemen komunikasi dan informasi 13 Berdasarkan hasil penelitian yang
Akreditasi versi 2012 hal ini dikarenakan rasa dilakukan, saran yang dapat peneliti
tidak ingin tahu responden terhadap sampaikan adalah sebagai berikut:
akreditasi rumah sakit dan jarang mengikuti 1. Rumah Sakit yang diteliti
seminar dan pelatihan yang berhubungan Diharapkan kepada pihak Rumah Sakit
dengan akreditasi rumah sakit sehingga Sufina Aziz Medan agar dapat
tingkat pengetahuan responden dikategorikan memberikan pelatihan atau seminar
sedang. kepada petugas rekam medis tentang
akreditasi rumah sakit versi 2012, untuk
KESIMPULAN menambah pengetahuan petugas rekam
medis terhadap Akreditasi.
Berdasarkan hasil dan pembahasan 2. Pada petugas rekam medis Rumah Sakit
penelitian yang berjudul “Tingkat Sufina Aziz Medan
Pengetahuan Petugas Rekam Medis tentang Diharapkan agar dapat meningkatkan
Manajemen Komunikasi dan Informasi 13 pengetahuan dan kinerja tentang
Akreditasi Versi 2012 di Rumah sakit Sufina manajemen komunikasi dan informasi 13
Aziz Medan” yang telah disajikan dalam Bab Akreditasi Versi 2012.
IV dapat disimpulkan bahwa: 3. Penelitian selanjutnya
1. Berdasarkan pendidikan responden Diharapkan dengan adanya judul tingkat
menunjukkan bahwa yang memiliki pengetahuan petugas rekam medis
kategori baik (11,1%) pendidikan DIII tentang manajemen komunikasi dan
rekam medis, yang memiliki kategori informasi 13 Akreditasi versi 2012 di
baik (11,1%), sedang (33,3%) pendidikan Rumah Sakit Sufina Aziz Medan, agar
DIII lainnya dan (22,2%) yang memiliki dapat menjadi panduan pada penelitian
kategori sedang pendidikan Sarjana. selanjutnya dan melakukan penelitian
2. Berdasarkan umur responden lanjutan agar dapat meningkatkan
menunjukkan bahwa yang berumur 20-24 pengetahuan peneliti tentang akreditasi
tahun memiliki tingkat pengetahuan baik rumah sakit.
(11,1%) dan sedang (22,2%), yang
berumur 25-29 tahun memiliki tingkat DAFTAR PUSTAKA
pengetahuan baik (11,1%) dan sedang
(33,3%), responden yang berumur >30 Arikunto, Suharsimi. (2005). Manajemen
tahun memiliki tingkat pengetahuan Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
sedang (22,2%). Depkes RI. (2011). Akreditasi Rumah Sakit.
3. Berdasarkan lama kerja responden Direktorat Jendral Bina Pelayanan
menunjukkan bahwa lama kerja <1 tahun Medik. Jakarta
memiliki tingkat pengetahuan baik Hatta, R Gemala. (2008). Pedoman
(11,1%), lama kerja 1-5 tahun memiliki Manajemen Informasi Kesehatan di
tingkat pengetahuan sedang (22,2%) dan Sarana Pelayanan Kesehatan. Jakarta:
lama kerja >5 tahun memiliki tingkat Universitas Indonesia.
pengetahuan baik (11,1%) dan sedang Huffman, K Ednan. (2010). Manajemen
(55,6%). Informasi Kesehatan. Jakarta.
4. Tingkat pengetahuan responden tentang Komisi Akreditasi Rumah Sakit. (2012).
manajemen komunikasi dan informasi 13 Instrumen Akreditasi Rumah Sakit.
Akreditasi Versi 2012 menunjukkan Komisi Akreditasi tentang Rumah Sakit
bahwa (22,2%) berpengetahuan baik,dan [Diakses 18 Juni 2015] tersedia pada
(77,8%) berpengetahuan sedang. Web.kars.or.id.
Notoatmodjo, S. (2007). Metodologi
Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta.
Jakarta

168
JURNAL ILMIAH PEREKAM DAN INFORMASI KESEHATAN IMELDA Vo.2, No.1, Februari 2017

Rustiyanto, Eri. (2010). Statistik Rumah Sakit Undang-undang Nomor 44 tahun


Untuk Pengambilan Keputusan. 2009.Tentang Rumah Sakit. [Diakses
Yogyakarta: Graha Ilmu. 19 April 2015] tersedia pada:
www.depkes.go.id.

169