Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PEMBAHASAN

A. Strategi Dasar Kebijakan Pendidikan


1. Strategi Pendidikan Nasional.
Untuk mewujudkan kebijakan pendidikan nasional, maka ada beberapa strategi
pendidikan nasional. Pertama, demokratisasi pendidikan, upaya dapat dilakukan
dengan mengadakan perluasan dan pemerataan kesempatan untuk memperoleh
pendidikan, mewujudkan pendidikan untuk semua, memungkinkan terjadinya
pemberdayaan dan pendayagunaan institusi masyarakat, memberikan perhatian
tersendiri terhadap kelompok khusus, dan mengupayakan pendirian unit pendidikan.
Kedua, meningkatkan kualitas pendidikan pada semua jenjang yang diwujudkan
dengan melakukan pembaharuan kurikulum pada semua jenjang, eningkatkan
profesionalisme tenaga kependidikan, eningkatkan kualitas proses dan evaluasi
pendidikan, meningkatkan peran supervisi pendidikan, dan eningkatkan kualitas
penelitian. Ketiga, meningkatkan relevansi pendidikan yang dapat dimanifestaskan
dengan pengembangan kecakapan dasar, menata program sesuai dengan kepentingan
kelanjutan studi dan memasuki dunia kerja, menciptakan proses pendidikan yang
manusiawi, dan membangun iklim pendidikan yang inklusif. Terakhir, meningkatkan
efektivitas dan efisiensi pendidikan yang dapat diwujudkan dengan penegakan
Manajemen Berbasis Sekolah dan Pendidikan berbasis masyarakat, penegakkan
Otonomi dan akuntabilitas perguruan tinggi, penerapan dalam pendanaan pendidikan
yang berbasis kinerja, dam pemantapan keberadaan dan fungsi akreditasi lembaga
pendidikan semua jenjang, dan mengupayakan debirokratisasi pendidikan.
2. Arah Kebijakan Pendidikan
a. Pemberdayaan Lembaga Pendidikan.
Kebijakan pendidikan nasional pada semua jenjang baik kini maupun ke
depan terutama telah diarahkan kepada pemberdayaan lembaga pendidikan,
sehingga memiliki otonomi yang tinggi dalam menghadapi setiap persoalan yang
dihadapi. Pemberdayaan lembaga pendidikan ini lebih didasarkan pada pemberian
trust kepada lembaga untuk mengelola dirinya sendiri secara bertanggung jawab.

1
b. Desentralisasi Pendidikan.
Keragaman yang dimiliki oleh lembaga pendidikan baik dilihat dari jenis
dan njenjangnya tidaklah relevan lagi jika semua pengelolaan pendidikan
disentralkan, sebagaimana pada era-era sebelumnya. Desentralisasi pendidikan
diharapkan dapat mewujudkan setiap program dan pelaksanaannya sesuai dengan
kondisi masing-masing, sehingga dapat dijamin efisiensi dan efektivitas
penyelenggaraan pendidikan.
c. Akuntabilitas Pendidikan.
Institusi dan sumber daya pendidikan dalam menunjukkan kegiatannya
sering kali lepas dari tanggung jawabnya. Untuk dapat lebih
dipertanggungjawabkan kepada public, maka setiap institusi seharusnya mampu
menunjukkan kinerjanya secara bertanggung jawab sebagaimana amanat yang
telah diberikan. Kegiatan pendidikan tidak hanya menghabiskan biaya yang telah
disepakati, namun sejauh mana dapat diwujudkan dalam kegiatan yang bermakna.
d. Relevansi Pendidikan.
Program pendidikan dan kurikulum telah dilakukan perbaikan secara terus
menerus yang diharapkan dapat menyiapkan lulusan memiliki kesiapan dalam
menghadapi tantangan pada jamannya. Namun lepas dari itu tetap berbagai 3
kegiatan yang diciptakan perlu dirahkan juga untuk membekali peserta didik
dalam menghadapi kebutuhan dalam hidupnya.
e. Pemberdayaan Masyarakat
Masyarakat merupakan stakeholder utama dalam proses pendidikan. Oleh
karena itu, di samping pemerintah memenuhi tanggung jawabnya untuk
mendukung terjadinya proses pendidikan, masyarakat perlu diberdayakan untuk
berpartisipasi, baik secara finansial maupun substantive, sehingga mereka ikut
memiliki tanggung jawab dalam mengawal proses pendidikan yang ada di
sekitarnya.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi Implementasi Kebijakan Pendidikan di Indonesia.


Ada beberapa faktor yang mempengaruhi Implementasi Kebijakan Pendidikan di
Indonesia, di antaranya:

2
a. Mentalitas birokrat sektor pendidikan
Pengelolaan pendidikan tidak akan lebih produktif manakala pimpinan
lebih menunjkukkan penampilan birokratis, dibandingkan dengan penampilan
profesional. Penampilan birokratis cenderung mengatasi persoalan pendidikan
4 lebih bersifat administratif dan birokratis, daripada pendekatan yang
bernuansa akademik-profesional dan humanistik. Tentui saja untuk beberapa
hal masih juga diperlukan pendekatan adminsitratif.
b. Politisasi birokrasi pendidikan.
Dampak negatif otonomi pendidikan memungkinkan terjadinya
pembinaan karir tanpa batas, sehingga siapapun dapat mengelola birokrasi
pendidikan. Jika birokrasi pendidikan dikelola dengan cara dan pendekatan
seperti ini, maka pengembangan pendidikan tidak akan pernah menunjukkan
kinerja yang membanggakan dan memuaskan semua stakeholder.
c. Penghargaan terhadap profesi pendidikan.
Profesi pendidikan tidak akan pernah menggairahkan, selama
pernghargaan yang diberikan masih belum menjanjikan dan memberikan
prestisius bagi siapapun yang terlibat dalam proses pendidikan. Oleh karena
itu, baik secara material maupun non-material, perlu terus diupayakan
peningkatan penghargaan bagi profesi pendidikan.
d. Mayoritas tenaga kependidikan belum menunjukkan keprofesionalan yang
membanggakan.
Tidaklah dapat dipungkiri bahwa kebijakan pendidikan belum dapat
diwujudkan secara optimal, karena mayoritas tenaga kependidikan masih
menunjukkan tingkat kualifikasi dan kompetensi masih berada di bawah
kualifikasi dan kompetensi minimal.
e. Kepedulian masyarakat bisnis dan industri yang masih rendah.
Implementasi kebijakan pendidikan nampaknya tidak bisa lepas dari
kepedulian masyarakat bisnis dan industri yang masih rendah terhadap
penyelenggaraan pendidikan. Mereka belum sepenuhnya menunjukkan
dukungannnya baik berupa dukungan material yang memadai, maupun

3
menyiapkan space untuk tempat melakukan praktek, atau mengirimkan tenaga
ahlinya ke tempat pendidikan.1

B. Tenaga Pendidik Sebagai Faktor Kunci


Dalam konteks pendidikan, tenaga pendidik atau yang seringkali kita sebut
dengan guru dan dosen, merupakan kunci dalam peningkatan mutu pendidikan dan
mereka berada pada titik sentral dari setiap usaha reformasi pendidikan yang
diarahkan pada perubahan-perubahan kualitatif. Bahkan secara tegas Brandt
sebagaimana dikutip Supriadi dan Jalal dalam Momon Sudarma menyatakan bahwa:
“Pembaharuan kurikulum, pengembangan metode-metode mengajar, penyediaan
sarana dan prasarana hanya akan berarti apabila melibatkan guru”. Urgensi peran dan
posisi tenaga pendidik ini, senada dengan Babari dan Prijono yang menyatakan
bahwa: Guru dan dosen adalah faktor kunci dalam proses pemberdayaan dalam dunia
pendidikan. Dengan kata lain, kualitas pendidikan Indonesia sangat ditentukan oleh
faktor guru sebagai unsur dinamis dalam proses pendidikan. Oleh karena itu,
perhatian terhadap tenaga pendidik sebagai profesi atau pribadi, menjadi satu bagian
penting dalam proses peningkatan mutu layanan dan kualitas lulusan pendidikan.2
Menurut Suryadi dalam Ikbal Barlian para pendidik yang diberdayakan dapat
menunjukan kualitasnya sebagai seorang pendidik dengan ciri-ciri berikut ini:
1. Kemampuan professional.
Kemampuan profesional terdiri dari kemampuan intelektual, sikap dan
prestasi dalam bekerja.
2. Upaya-upaya professional.
Upaya profesional seorang pendidik adalah menstransformasikan
kemampuan profesional yang dimilikinya ke dalam tindakan mengajar yang
nyata. Dalam beberapa penelitian, upaya profesional pendidik ditunjukan oleh
kegiatannya dalam mengajar dan meningkatkan kemampuannya menguasai

1
Rochmat Wahab.ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENDIDIKAN DASAR, MENENGAH, DAN TINGGI DI
INDONESIA.UNY JOURNAL

2
Momon Sudarma, Profesi Guru (Dipuji, dikritisi, dan dicaci) Jakarta: Rajawali Pers,
2013, hal. 148.

4
keahlian mengajar. Keahlian mengajar berupa keahlian menguasai materi
pembelajaran, penggunaan bahan bahan pengajaran, dan mengolola kegaitan
belajar peserta didik.3
3. Kesesuaian waktu yang dicurahkan untuk kegiatan professional.
Waktu yang dicurahkan untuk kegiatan profesional menunjukan intensitas
waktu yang digunakan oleh seorang pendidik dalam melaksanakan tugas-tugas
profesionalnya. Kegiatan ini merupakan salah satu indicator mutu pendidik.
dalam sebuah penelitian ditemukan bahwa konsepsi waktu belajar yang diukur
dalam proses belajar peserta didik secara peorangan, merupakan salah satu cara
terbaik untuk memprediksi mutu hasil belajar peserta didik.
4. Kesesuaian antara keahlian dan pekerjaan.
Ini berangkat dari asumsi bahwa pendidik yang dipersiapkan untuk
mengajar suatu mata pelajaran dianggap bermutu jika pendidik tersebut mengajar
mata pelajaran yang sesuai dengan bidang keahlian yang ditekuninya di perguruan
tinggi. Ini merupakan salah satu syarat mutlak untuk menilai mutu profesional
seorang pendidik.
Pemberian kekuasaan, dari sudut pandang ilmu manajemen, prinsipnya
tidak lain adalah delegasi tugas atau pelimpahan kewenangan. Kata lainnya
adalah pemberdayaan (empowerment) terhadap bawahan sampai mereka mampu
memberdayakan dirinya sendiri (self-empowerment).Pemberdayaan,yang sesekali
diartikan sebagai “pemberian kekuasaan” tidak berarti membiarkan setiap orang
melakukan apa yang ingin mereka kerjakan, tanpa kriteria yang jelas.
Menurut Pfeiffer dalam Sudarman Danim, proses pendelegasian harus
meliputi lima pola yang diringkas sebagai berikut:
1. Persiapan tenaga pendidik harus dipersiapkan untuk menerima tambahan
tanggung jawab.
Prakarsa ini melibatkan pengembangan staf dan pelatihan, pembelajaran
percobaan, dan proses desentralisasi secara bertahap.
2. Perencanaan

3
Nurul Ulfatin dan Teguh Triwiyanto, Op.Cit., hal. 91

5
Hal ini menuntut pendeskripsian kerja yang hati-hati, keputusan tentang
siapa melakukan apa dan kapan. Kebanyakan berkisar tentang penyiapan
jadwal kerja yang menggambarkan tugas, daftar hasil yang diharapkan, nama
orang yang akan menerima delegasi pekerjaan, tanpa pengecekan (check
point) untuk memantau, dan catatan perkembangan serta evaluasi.
3. Diskusi atau pembahasan
Hal ini berkaitan dengan kerja profesional yang berhubungan dan belum
pernah dibahas pada bidang pendidikan seperti halnya pada bidang lain
adakalanya memerlukan waktu. 20 Pembahasan dimaksudkan untuk
memasukan beberapa wacana, seperti apa batasan bagi tim atau guru secara
individu, penyesuaian kepada rencana dasar, dan kepedulian terhadap sumber.
4. Audit atau kontrol kualitas
Audit ini diantara lain dimaksudkan untuk menjawab, “apakah pekerjaan
dilakukan dengan benar?” jika tidak, manajer yang berhati-hati tidak
membatalkan tugas yang didelegasikan, tetapi lebih memberikan perhatian
pada masalah dan pekerjaan sebagaimana yang diperlukan.
5. Penghargaan
Pemberian penghargaan atau setidaknya pujian dapat disampaikan secara
langsung, tertulis, dan dibahas dalam proses pendelegasian atau
pemberdayaan.4
Strategi yang tepat untuk memberdayakan tenaga pendidik dan kependidikan,
diantara lain:
1. Memberdayakan tenaga kependidikan melalui kerjasama atau kooperatif
dimaksudkan bahwa dalam peningkatan profesionalisme tenaga kependidikan.
2. Memberi kesempatan kepada para tenaga pendidik untuk meningkatkan
profesinya.
3. Mendorong keterlibatan seluruh tenaga kependidikan.

4
Sudarwan Danim, Visi Baru Manajemen Sekolah (Dari Unit Birokrasi ke Lembaga
Akademik), Jakarta: PT Bumi Aksara, 2007, hal. 253- 254

6
C. Kurikulum yang Relevan
1. Pengertian Kurikulum
Pada awal mulanya istilah Kurikulum dalam dunia olah raga khususnya
atletik pada zaman Yunani kuno. Curriculum berasal dari bahasa Yunani, Curier
atau kurir (dalam bahasa Indonesia) yang berarti seseorang yang bertugas
menyampaikan sesuatu kepada orang lain di lain tempat. Curere berarti berlari.
Kamus Webster tahun 1856 mengartikan “a race course, a place for running, a
chariot”. Kurikulum diartikan suatu jarak yang ditempuh oleh pelari. Tapi juga
suatu chariot kereta pacu pada zaman dulu, suatu alat yang membawa seseorang
dari tempat start ke tempat finish.
Secara terminologi, istilah kurikulum digunakan dalam dunia pendidikan,
yaitu sejumlah pengetahuan atau kemampuan yang harus ditempuh atau
diselesaikan siswa guna mencapai tingkatan tertentu secara formal dan dapat
dipertanggung jawabkan.
a. Prof. Dr. S. Nasution, M. A.
Menjelaskan kurikulum sebagai suatu rencana yang disusun untuk
melancarkan proses kegiatan belajar mengajar di bawah naungan,
bimbingan & tanggunga jawab sekolah / lembaga pendidikan.
b. Drs. Cece Wijaya,dkk
Mengartikan kurikulum dalam arti yang luas yakni meliputi
keseluruhan program dan kehidupan didalam sekolah.
c. Kerr, J. F (1968)
Pengertian kurikulum ialah sebuah pembelajaran yang dirancang
dan juga dilaksanakan dengan individu serta juga berkelompok baik itu di
luar ataupun di dalam sekolah.
2. Fungsi Kurikulum dan Tujuan Kurikulum
Secara umum fungsi kurikulum adalah sebagai alat untuk membantu
peserta didik untuk mengembangkan pribadinya ke arah tujuan pendidikan.
Kurikulum itu segala aspek yang mempengaruhi peserta didik di sekolah,
termasuk guru dan sarana serta prasarana lainnya. Kurikulum sebagai program
belajar bagi siswa, disusun secara sistematis dan logis,diberikan oleh sekolah

7
untuk mencapai tujuan pendidikan. Sebagai program belajar, kurikulum adalah
niat, rencana dan harapan.Menurut Alexander Inglis, fungsi kurikulum meliputi :
a. Fungsi Penyesuaian, karena individu hidup dalam lingkungan , sedangkan
lingkungan tersebut senantiasa berubah dan dinamis, maka setiap individu
harus mampu menyesuaikan diri secara dinamis.
b. Fungsi Integrasi, kurikulum berfungsi mendidik pribadi-pribadi yang
terintegrasi.
c. Fungsi Deferensiasi, kurikulum perlu memberikan pelayanan terhadap
perbedaan- perbedaan perorangan dalam masyarakat.
d. Fungsi Persiapan, kurikulum berfungsi mempersiapkan siswa agar mampu
melanjutkan studi lebih lanjut untuk jangkauan yang lebih jauh atau terjun ke
masyarakat.
e. Fungsi Pemilihan, antara keperbedaan dan pemilihan mempunyai hubungan
yang erat.
f. Fungsi Diagnostik, salah satu segi pelayanan pendidikan adalah membantu
dan mengarahkan para siswa agar mereka mampu memahami dan menerima
dirinya sehingga dapat mengembangkan semua potensi yang dimiliki.

Sedangkan fungsi praksis dari kurikulum adalah meliputi :


a. Fungsi bagi sekolah yang bersangkutan yakni sebagai alat untuk mencapai
tujuan-tujuan pendidikan yang diinginkan dan sebagai pedoman dalam
mengatur kegiatan pendidikan sehari-hari.
b. Fungsi bagi sekolah yang diatasnya adalah untuk menjamin adanya
pemeliharaan keseimbangan proses pendidikan.
Selanjutnya tujuan kurikulum. Karena kurikulum merupakan alat antuk
mencapai tujuan, maka kurikulum harus dijabarkan dari tujuan umum pendidikan.
Di Indonesia ada 4 tujuan utama yang secara hirarki sebagai berikut:
a. Tujuan Nasional
Dalam Undang-undang No. 2 tahun 1980 tentang sistem Pendidikan
Nasional rumusan tujuan pendidikan nasional disebutkan Pendidikan Nasional
bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia

8
indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap
Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan
keterampilan. Kesehatan asmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan
mandiri serta rasa tariggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
b. Tujuan institusional
Tujuan institusional adalah tujuan yang harus dicapai oleh suatu lembaga
pendidikan, umpamanya MI. MTs, MA, SD, SMP, SMA, dan sebagainya.
Artinya apa yang harus dimiliki anak didik setelah menamatkan lembaga
pendidikan tersebut, Sebagai contoh, kemampuan apa yang harus dimiliki
anak didik setelah menamatkan lembaga pendidikan iersebut. Tujuan
institusional juga harus memperhatikan fungsi dan karakter dari lembaga
pendidikannya, seperti lembaga pendidikan umum, pendidikan guru dan
sebagainya.
c. Tujuan Kurikuler
Tujuan kurikuler adalah penjabaran dan tujuan kelembagaan pendidikan
(tujuan institusiorial). Tujuan kurikuler adalah tujuan di bidang studi atau
mata pelajaran sehingga mencerminkan hakikat keilmuan yang ada di
dalamnya.
d. Tujuan Instruksional
Tujuan instruksional dijabarkan dari tujuan kurikuler. Tujuan ini adalah
tujuan yang langsung dihadapkan kepada anak didik sebab hrus dicapai oIeh
mereka setelah menempuh proses belajar-mengajar. Oleh karena itu tujuan
instruksional dirumuskan sebagai kemampuan-kemampuan yang diharapkan
dapat dimiliki oleh anak didik setelah mereka menyelesaikan proses belajar-
mengajar.
3. Macam – Macam Kurikulum
Ditinjau dari konsep dan pelaksanaannya, kita mengenal beberapa istilah
kurikulum sebagai berikut:
a. Kurikulum ideal
Yaitu kurikulum yang berisi sesuatu yang ideal, sesuatu yang dicita-
citakan sebagaimana yang tertuang di dalam dokumen kurikulum.

9
b. Kurikulum aktual
Yaitu kurikulum yang dilaksanakan dalam proses pengajaran dan
pembelajaran. Kenyataan pada umumnya memang jauh berbeda dengan
harapan. Namun demikian, kurikulum aktual seharusnya mendekati dengan
kurikulum ideal. Kurikulum dan pengajaran merupakan dua istilah yang tidak
dapat dipisahkan.
c. Kurikulum tersembunyi (hidden curriculum)
Yaitu segala sesuatu yang terjadi pada saat pelaksanaan kurikulum ideal
menjadi kurikulum faktual. Segala sesuatu itu bisa berupa pengaruh guru,
kepala sekolah, tenaga administrasi, atau bahkan dari peserta didik itu sendiri.

Berdasarkan struktur dan materi mata pelajaran yang diajarkan, kita dapat
membedakan:
a. Kurikulum terpisah-pisah (separated curriculum)
Kurikulum ini menyajikan segala bahan pelajaran dalam berbagai macam
mata pelajaran yang terpisah-pisah satu sama lain, seakan-akan ada batas
pemisah antara mata pelajaran satu dengan yang lain, juga antara kelas yang
satu dengan kelas yang lain.Kurikulum ini mudah diubah dan
dikembangkan.Bentuk kurikulum ini mudah dipola, dibentuk, didesain bahkan
mudah untuk diperluas dan dipersempit sehingga mudah disesuaikan dengan
waktu yang ada.
b. Kurikulum terpadu (integrated curriculum)
Dalam kurikulum terpadu atau terintergrasi, batas-batas diantara mata
pelajaran sudah tidak terlihat sama sekali, karena semua mata pelajaran sudah
dirumuskan dalam bentuk masalah atau unit. Beberapa manfaat kurikulum
terpadu ini antara lain:
1) Segala sesuatu yang dipelajari anak merupakan unit yang bertalian
erat, bukan fakta yang terlepas satu sama lain.
2) Kurikulum ini sesuai dengan pendapat-pendapat modern tentang
belajar, murid dihadapkan kepada masalah yang berarti dalam
kehidupan mereka.

10
Keberatan-keberatan yang dilontarkan pada pelaksanaan kurikulum terpadu
ini adalah:

1) Guru belum siap untuk melaksanakan kurikulum ini.


2) Kurikulum ini tidak mempunyai organisasi yang sitematis
3) Kurikulum ini memberatkan guru

c. Kurikulum terkorelasi (corelated curriculum)


Yaitu kurikulum yang menekankan perlunya hubungan diantara dua atau
lebih mata pelajaran tanpa menghilangkan batas-batas setiap mata pelajaran.
Misalnya Sejarah dan Ilmu Bumi dapat diajarkan untuk saling memperkuat.

Berdasarkan pengembangnya dan penggunaannya, kurikulum dapat dibedakan


menjadi:
a. Kurikulum nasional (national curriculum)
Yakni kurikulum yang disusun oleh tim pengembang tingkat nasional dan
digunakan secara nasional.
b. Kurikulum negara bagian (state curriculum)
Yakni kurikulum yang disusun oleh masing-masing negara bagian,
misalnya di masing-masing negara bagian di Amerika Serikat.
c. Kurikulum sekolah (school curriculum)
Yakni kurikulum yang disusun oleh satuan pendidikan sekolah.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum sekolah.
Kurikulum sekolah lahir dari keinginan untuk melakukan diferensiasi dalam
kurikulum.5
4. Relevansi Kurikulum
Prinsip relevansi adalah prinsip kesesuaian. Kurikulum merupakan rel-nya
pendidikan untuk membawa siswa agar dapat hidup sesuai dengan nilai-nilai yang
ada di masyarakat serta membekali siswa baik dalam bidang pengetahuan, sikap
maupun keterampilan sesuai dengan tuntutan dan harapa masyarakat. Oleh sebab
5
https://learnmine.blogspot.com/2017/02/makalah-kurikulum-pendidikan.html?m=1

11
itu, pengalaman-pengalaman belajar yang disusun dalam kurikulum harus relevan
dengan kebutuhan masyarakat. Relevansi dibedakan menjadi 2 antara lain :
a. Relevansi Internal
Relevansi internal adalah bahwa setiap kurikulum harus memiliki
keserasian antara komponen-komponennya, yaitu keserasian yang harus
dicapai, isi, materi atau pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa, strategi
atau metode yang digunakan serta alat penilaian untuk melihat ketercapaian
tujuan. Relevansi ini menunjukkan keutuhan suatu kurikulum.Kurikulum yang
baik adalah kurikulum yang memenuhi syarat relevansi internal, yaitu adanya
dan koherensi dan konsistensi antarkomponennya. Hal ini harus diperhatikan
karena setiap tujuan tertentu akan menuntut adanya isi, metode dan sistem
evaluasi tersendiri. Ketidaksesuaian komponen-komponen ini akan
menyebabkan kurikulum tidak akan bisa mencapai tujuan secara optimal.
Implikasi dari prinsip ini adalah para pengembang kurikulum harus
memahami betul tentang jenis dan hakikat dari tujuan kurikulum, isi
kurikulum, metode pembelajaran, dan sistem evaluasi.
b. Relevansi Eksternal
Relevansi Eksternal, berkaitan dengan keserasian antara tujuan, isi dan
proses belajar siswa yang tercakup dalam kurikulum dengan kebutuhan dan
tuntutan masyarakat. Ada tiga macam relevansi eksternal yaitu :
1) Relevan dengan lingkungan hidup peserta didik. Artinya, bahwa
proses pengembangan dan penetapan isi kurikulum hendaknya
disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar siswa. Contohnya
untuk siswa yang ada di perkotaan perlu diperkenalkan kehidupan di
lingkungan kota, seperti keramaian dan rambu-rambu lalu lintas, tata
cara dan pelayan jasa bank, kantor pos dsb. Begitu juga untuk sekolah
yang berada di lingkungan pantai, seperti mengenai tambak, kehidupan
nelayan, koperasi, pembibitan udang, dsb.
2) Relevan dengan perkembangan zaman baik sekarang maupun dengan
yang akan datang. Artinya, isi kurikulum harus sesuai dengan situasi
dan kondisi yang sedang berkembang. Selain itu juga apa yang

12
diajarkan kepada siswa harus bermanfaat untuk kehidupan siswa pada
waktu yang akan datang. Misalkan untuk kehidupan yang akan datang,
penggunaan computer dan internet menjadi salah satu kebutuhan,
maka dengan demikian bagaimana cara memanfaatkan computer dan
bagaimana cara mendapatkan informasi dari internet sudah harus
diperkenalkan kepada siswa. Demikian juga dengan kemapuan
berbahasa. Pada masa yang akan datang ketika pasar bebas seperti
persetujuan APEC mulai berlaku, maka masyarakat akan dihadapkan
kepada persaingan merebut pasar kerja dengan orang-orang asing.
Oleh karenanya keterampilan berbahasa asing sudah harus mulai
dipupuk sejak sekarang.
3) Relevan dengan tuntutan dunia pekerjaan. Artinya, bahwa apa yang
diajarkan di sekolah harus mampu memenuhi dunia kerja. Untuk
sekolah kejuruan contohnya, kalau dahulu di Sekolah Kejuruan
Ekonomi dilatih bagaimana agar siswa mampu menggunakan mesin
tik sudah tidak banyak digunakan, akan tetapi yang lebih banyak
digunakan computer. Dengan demikian, keterampilan mengoperasikan
computer harus diajarkan. Demikian jugahalnya dengan tuntutan dunia
kerja kepariwisataan, perbankan, asuransi, perhotelan dsb, isi
kurikulum harus menyesuaikan dengan tuntutan pekerjaan pekerjaan
di setiap bidang.6
D. Otonom Perguruan Tinggi
Membangun hubungan yang erat antara perguruan tinggi dengan dunia kerja
merupakan satu hal yang sangat penting mengingat hubungan itu bisa menghasilkan
keuntungan besar bagi pembangunan dan penyelenggaraan perguruan tinggi. Bagi
perguruan tinggi, mereka akan lebih mampu mendefinisikan peran mereka, identitas
mereka sebagai institusi pendidikan, mendefinisikan hubungan antar perguruan tinggi
dengan lembaga-lembaga industri. Itu semua bisa dilakukan apabila perguruan tinggi
memiliki kreativitas dan kemampuan inovasi dalam pengembangan kelembagaannya.

6
https://www.academia.edu/31620451/PRINSIP_RELEVANSI_DALAM_PENGEMBANGAN_KURIKULUM

13
Dalam upaya membangun kemampuan kreativitas dan inovasi tersebut, perguruan
tinggi harus diberikan keleluasaan untuk mengurus dan mengatur rumah tangganya
sendiri atau yang sering disebut dengan otonomi perguruan tinggi.
Suatu pendidikan tinggi memerlukan otonomi bukan hanya otonomi dalam bentuk
kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik seperti yang dikenal selama
ini, tetapi juga otonomi lembaga di dalam masalah-masalah manajemen, penyusunan
program, dan anggaran. Dengan demikian, perguruan tinggi tersebut sebagai lembaga
akan bersifat kreatif dan menjadi pelopor perubahan baik di dalam masyarakat
sekitarnya maupun di dalam kemajuan ilmu pengetahuan.
Menurut PP Nomor 60 Tahun 1999, pendidikan tinggi adalah pendidikan jalur
pendidikan sekolah pada jenjang yang lebih tinggi daripada pendidikan menengah.
Perguran tinggi adalah satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi.
Selanjutnya menurut PP  tersebut (Pasal 2) tujuan pendidikan tinggi adalah :
1.    Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki
kemampuan akademik dan/profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan
dan/atau memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau kesenian;
2.    Mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau
kesenian, serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan
masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.
Dalam aktivitas kesehariannya perguruan tinggi menyelenggarakan yang
dinamakan dengan “Tri Dharma Perguruan Tinggi”, yaitu (1) pendidikan dan
pengajaran, (2) penelitian, dan (3) pengabdian pada masyarakat.
Dalam Pasal 17 ayat (1) PP Nomor 60Tahun 1999 dinyatakan bahwa kebebasan
mimbar akademik dan otonomi keilmuan merupakan kebebasan yang dimiliki civitas
akademika untuk melaksanakan kegiatan yang terkait dengan pendidikan serta
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara bertanggung jawab dan
mandiri.
Pengertian umum tentang asas otonomi dan kebebasan akademik adalah :
1. otonomi merupakan hak atau kewenangan yang diberikan oleh pihak yang
berwenang atau pemerintah kepada suatu lingkungan masyarakat, himpunan
ataupun badan resmi lain untuk menyelenggarakan fungsi secara mandiri selama

14
hal tersebut tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku secara umum
dalam masyarakat;
2. kebebasan akademik merupakan kebebasan yang ada pada civitas akademika
dalam melaksanakan tuga dan kegiatan fungsionalnya, yaitu pendidikan dan
penelitian ilmiah.
Dalam konteks perguruan tinggi, otonomi secara luas dapat diartikan sebagai
pemberian kewenangan bagi perguruan tinggi untuk mengatur organisasi dan rumah
tangganya sendiri melalui pembentukan badan hukum yang bersifat nirlaba. Dalam
pembentukan badan hukum tersebut sebagian aset pemerintah dipisahkan dengan
pertimbangan untuk keperluan dan maksud tertentu.
Pemberian otonomi kepada perguruan tinggi menyangkut beberapa aspek sebagai
berikut :
1. Otonomi eksternal, dalam bentuk pemberian status sebagai badan hukum, atau
sekarang lebih dikenal dengan sebutan BHMN (Badan Hukum Milik Negara).
Seagai unit independen, perguruan tingi bukan lagi unit pelayanan Ditjen Dikti
Departemen Pendidikan Nasional.
2.   Otonomi Organisasi, perguruan tinggi memiliki kebebasan untuk menetapkan
struktur organisasi, termasuk menetapkan struktur program studi dan kegiatan
akademik serta merencanakan sumber daya.
3. Otonomi kelembagaan, dimana perguruan tinggi mempunyai kebebasan untuk
menetapkan bagaimana fungsi dan kontribusi mereka dalam mengembangkan,
melanggengkan, mentransmisikan, dan menggunakan ilmu pengetahuan. Begitu
juga, mereka mempunyai kebebasan untuk memutuskan riset apa yang perlu
dilakukan dan bagaimana melakukannya, serta dengan pihak siapa saja mereka
ingin bekerja sama dalam melakukan penelitian dan pelatihan penelitian.

Menurut Hamijoyo (1992 : 2), otonomi perguruan tinggi sebagai salah satu model
desentralisasi pendidikan adalah :

a. pola dan pelaksanaan manajemen harus demokratis.


b. pemberdayaan masyarakat harus menjadi tujuan utama.
c. peran serta masyarakat menajdi bagian mutlak dari sistem pengelolaan.

15
d. Pelayanan harus lebih cepat, efisien, efektif, melebihi pelayanan era sentralisasi
demi kepentingan peserta didik dan rakyat banyak.
e. keanekaragaman aspirasi dan nilai serta norma lokal harus dihargai dalam
penguatan sistem pendidikan nasional.

Otonomi Perguruan Tinggi bertujuan untuk :

1. untuk mengambil keputusan secara bebas sesuai dengan potensi dan kemajuan
IPTEK
2. untuk meningkatkan kualitas berbagai inovasi dalam IPTEK
3. untuk meningkatkan kegiatan sosial sebagai perwujudan salah satu Tri Dharma
Perguruan Tinggi.

Dengan pemberian otonomi perguruan tinggi banyak manfaat yang didapatkan, yaitu:

1. Dapat merencanakan, melaksanakan dan mengontrol sumber daya perguruan


tinggi secara efektif;
2.  Lebih fleksibel dan dinamis dalam menentukan kebijakan perguruan tinggi tanpa
menunggu petunjuk dan persetujuan dirjen Dikti;
3. Lebih realistis untuk melaksanakan visi dan misinya, dan
4. Dalam jangka panjang perguruan tinggi menjadi institusi yang independen dari
pemerintah, kekuatan sosial, ekonomi, politik dan sebagainya.7

BAB II

PENUTUP

A. Kesimpulan
Pemberdayaan atau empowerment adalah proses membangun dedikasi dan
komitmen yang tinggi sehingga organisasi itu bisa menjadi sangat efektif dalam
mencapai tujuan-tujuannya dengan mutu yang tinggi. Dalam organisasi yang telah
diberdayakan akan tercipta hubungan di antara orang-orangnya yang saling berbagi

7
http://adelukmanhakim13.blogspot.com/2011/12/otonomi-perguruan-tinggi.html diakses pada
tanggal 8 Maret 2020 pukul 17:04

16
kewenangan, tanggung-jawab, komunikasi, harapan-harapan, dan pengakuan serta
penghargaan.
Pendidikan menurut Notoatmojo adalah semua usaha atau upaya yang sudah
direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik kelompok, individu, maupun
masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan pelaku pendidikan.
Dari pengertian pemberdayaan dan pendidikan dapat disintesiskan bahwa
pemberdayaan dalam pendidikan adalah proses memberikan kekuatan kepada stakeholder
melalui pelatihan dan memberikan kesempatan untuk membuat keputusan yang dapat
mempengaruhi kegiatan pembelajaran sehingga menghasilkan kompetensi yang
diinginkan pelaku pendidikan.
Pendidikan merupakan investasi masa depan, demikian orang sering menyebutkan
untuk menyatakan betapa pentingnya pendidikan bagi warga masyarakat untuk meraih
masa depan yang lebih baik. Keberhasilan pendidikan akan membawa dampak yang
signifikan bagi perkembangan peradaban suatu masyarakat. Namun demikian, pendidikan
yang berkualitas baik sesuai dengan cita-cita suatu masyarakat tersebut bukanlah sesuatu
yang bersifat given atau terjadi dengan sendirinya tanpa ada usaha untuk
menterjadikannya.
B. Saran
Keterlibatan masyarakat yang memiliki kualitas tinggi sangat menentukan, utamanya
dalam mengejar ketertinggalan Negara ini dari negara-negara yang lain. Keberhasilan
pembangunan itu sangat ditentukan oleh faktor manusia, dan manusia yang menentukan
keberhasilan pembangunan itu haruslah manusia yang mempunyai kemampuan
membangun. Dan kemapuan membangun hanya dapat dicapai melalui pendidikan. Oleh
sebab itu,sebainya pemerintah mengupayakan pendidikan yang merata agar tercipta
masyarakat yang religius, penuh kesadaran, berkepribadian, cerdas, berperilaku serta
memiliki kreativitas tinggi sehingga siapuntuk mengisi pembangunan.

17
DAFTAR PUSTAKA

Rochmat Wahab.ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENDIDIKAN DASAR, MENENGAH,


DAN TINGGI DI INDONESIA.UNY JOURNAL

Momon Sudarma, Profesi Guru (Dipuji, dikritisi, dan dicaci) Jakarta: Rajawali Pers,
2013, hal. 148.

Nurul Ulfatin dan Teguh Triwiyanto, Op.Cit., hal. 91

18
Sudarwan Danim, Visi Baru Manajemen Sekolah (Dari Unit Birokrasi ke Lembaga
Akademik), Jakarta: PT Bumi Aksara, 2007, hal. 253- 254

https://learnmine.blogspot.com/2017/02/makalah-kurikulum-pendidikan.html?m=1

https://www.academia.edu/31620451/PRINSIP_RELEVANSI_DALAM_PENGEMBANGAN_
KURIKULUM

http://adelukmanhakim13.blogspot.com/2011/12/otonomi-perguruan-tinggi.html diakses pada


tanggal 8 Maret 2020 pukul 17:04

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Berbagai upaya untuk meningkatkan mutu kualitas dan kuantitas


pendidikan yang ada di Indonesia agar dapat meningkatkan sarana

19
dan prasarana yang mendukung kegiatan pendidikan,hal tersebut
dapat dilakukan dengan meningkatkan kinerja dan profesionalitasme
guru.
Para pendidik profesional sekarang ini kurang memiliki
pengetahuan atau pengalaman yang diperlukan untuk menyiapkan
generasi muda yang unggul dalam akademik dan non-akademik.
Tentunya pendidikan kriteria guru yang professional dalam keahlian,
tanggung jawab, dan etika.
Peran pemerintah yang utama adalah menyediakan layanan
akses pendidikan yang lebih baik sehingga mampumendorong
pemikiran yang berkualitas.Karena banyak generasi baru Indonesia
yang kurang mendapat layanan kualitas pendidikan Indonesia
khususnya di daerah tertinggal, perbatasan dan yang berada di luar
negeri.
B. Rumusan Masalah
Dalam laporan ini penulis akan membahas beberapa masalah
tentang usaha pihak sekolah dalam mewujudkan pendidikan yang baik
di PPWNI klang Malaysia dan SIJB Malaysia serta Yayasan Yatim Piatu
AL BAYYINAH Mojosari.
C. Tujuan Observasi
Laporan observasi ini disusun untuk memenuhi tugas kelompok
pada mata kuliah Pemberdayaan Ekonomi yang bertujuan memberikan
wawasan dan pengetahuan bagi kami agar dapat mengetahui
bagaimana sistem pendidikan yang ada di Indonesia dan yang ada di
luar negeri dari pendidikan yang diberikan oleh Yayasan Yatim Piatu
AL BAYYINAHMojosari dan SIJB Malaysia.
D. Manfaat Observasi
a. Bagi mahasiswa
1. Mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa dapat memperoleh
pengalaman baru tentang observasi dan menambah wawasan

20
terkait pendidikan Indonesia yang berada di Malaysia dan
Yayasan Yatim Piatu AL BAYYINAH Mojosari.
2. Mahasiswa dapat mengetahui upaya pihak sekolah agar
mendapat lulusan pendidikan yang baik danYayasan Yatim Piatu
AL BAYYINAH Mojosari.
b. Bagi dosen
Agar dosen lebih mengetahui tentang bagaimana upaya
peningkat lulusan di segala instansi pendidikan.
c. Bagi penulis lain
Hasil observasi ini diharapkan dapat dijadikan sebagai referensi
berharga bagi para penulis guna menciptakan tulisan yang
bermanfaat khususnya dalam bidang pendidikan.

21
BAB II

PELAKSANAAN OBSERVASI

A. Lokasi dan Waktu Observasi


1. Lokasi Observsi
Dalam observasi ini kelompok mengambil 3 lokasi di PPWNI Klang
Malaysia, SIJB Johor Bahru Malaysia danYayasan Yatim Piatu AL
BAYYINAH Mojosari.
2. Pelaksanaan Observasi
Kelompok telah melaksanakan observasi 3 tempat berbeda.Pada
waktu yang berbeda. Waktu yang digunakan yaitu:
a. Senin, 2 Maret 2020
Perkenalan dan mengajar pendidikan di PPWNI Klang Malaysia,
b. Selasa, 3 Maret 2020
Perkenalan dan mengajar budaya di SIJB Johor Bahru Malaysia,
c. Jum’at, 6 Maret 2020
Pembelajaran dan pengetahuan yang ada di Yayasan Yatim Piatu
AL BAYYINAH Mojosari.
B. Subjek Observasi

Subjek observasi yang kelompok pilih yaitu kepala sekolah dan


murid PPWNI Klang Malaysia, SIJB Johor Bahru Malaysia serta Yayasan
Yatim Piatu AL BAYYINAH Mojosari.

C. Variabel Observasi
Variable observasi adalah Manajemen sekolah dengan upaya
untuk meningkatkan pendidikan yang menghasilkan lulusan yang baik
serta berakhlak mulia.
D. Teknik Pengumpulan Data
Instrumen pengumpulan data dilakukan dengan wawancara
yang melibatkan kepala sekolah dan murid PPWNI Klang Malaysia, SIJB

22
Johor Bahru Malaysia serta kepala yayasan, staf pengajar yang ada di
Yayasan Yatim Piatu AL BAYYINAH Mojosari.

BAB III

HASIL OBSERVASI

A. Hasil Wawancara dengan Kepala Sekolah PPWNI, Klang


Malaysia
1. Bagaimana sejarah didirikanya sekolah PPWNI (Pusat Pendidikan
Warga Negara Indonesia)?
Di Kota Klang, Negara bagian Selangor, Malaysia dibangun
sebuah Pusat Pendidikan Warga Negara Indonesia (PPWNI) di lantai
bawah Apartement Bayu Perdana, Pelabuhan Klang, Selangor,
Malaysia.
Pada tahun 2005, sekolah tersebut didirikan oleh Ungku Raja
Kamaruddin (68) tahun.Lelaki berdarah bugis yang terpancing jiwa
sosial setelah melihat banyak anak-anak Imigran illegal Indonesia
yang tidak bisa sekolah karena tidak memiliki dokumen penting
seperti paspor dan izin tinggal. Selain itu, latar belakang orang tua
murid sebagai buruh pelabuhan yang bekerja dari jam 9 pagi
sampai jam 9 sehingga mereka tidak memiliki waktu yang cukup
untuk memperhatikan pendidikan formal dan pendidikan akhlak.
Sehingga mereka menyekolahkan anaknya di PPWNI.‘’ujar
Wadhani’’, Kepala Sekolah PPWNI.
Perjuangan ibu Wardhani dalam mengelola sekolah ini dirasa
cukup berat.Beliau lobi Kedutaan Besar RI namun pada saat itu
belum ada respon baik dari Pemerintah RI.Justru dari Kedutaan
Besar RI di Malaysia yang prihatin dan langsung memberikan
respon positif.Dalam hal operasional sekolah, beliau sering

23
mengeluarkan uang pribadinya untuk menutup biaya foto coppy
buku pelajaran.
Pada tahun 2010, Kedutaan Besar RI di Malaysia membantu
kegiatan belajar mengajar di PPWNI Klang dengan mengirim tenaga
pendidik dari Indonesia terdiri dari 3 guru tetap yaitu Ibu
Wardaninengsih, Pak Andi Syamsul Bahri, dan Ibu Nur Helny
Kuswanty.
2. Apakah fasilitas pendidikan di PPWNI sudah layak?Dan
bagaimanasistem pembagian pengajar di PPWNI?
Fasilitas pendidikan disini kurang layak, lingkungan masih kumuh
yang menghiasi halaman depan sekolah, tetapi mereka tetap
semangat dalam merajut mimpi melalui pendidikan.
Fasilitas sekolah ini terdiri dari lima ruang belajar dan satu ruang
untuk pengajar. Jumlah keseluruhan siswa-siswi yaitu 179 terdiri
dari SD 156 dan SMP 23.satu ruangan digunakan untuk dua kelas
secara bersamaan dengan hanya dua orang pengajar yang tersedia.
Tersedia 4 komputer dan buku pelajaran di foto copy.Jumlah yang
proporsional untuk melaksanakan kegiatan belajar tidak menjadi
halangan murid dan guru dalam menimba dan berbagi ilmu di
sekolah tersebut.
3. Apakah PPWNI menggunakan kurikulum yang berbeda dengan
Indonesia?
Sekolah ini menggunakan kurikulum serupa dengan KTSP yang di
selaraskan dengan kalender pendidikan kerajaan Malaysia. Hal ini
terpaksa dilakukan oleh pihak sekolah untuk memudahkan akses
fasilitas bus sekolah yang disediakan oleh kerajaan Malaysia bagi
pelajar. Tetapi kita juga memberikan ilmu tentang
kewarganegaraan Indonesia dan pendidikan agama.Karena kita
tetap mengikuti UN Indonesia untuk mendapatkan ijazah.
4. Apakah pernah mengalami kendala dalam proses ijazah pelajar?

24
Kasus yang paling parah menimpa sekolah ini yaitu tertundanya
UN siswa kelas 3 SMP selama 2 tahun Karena permasalahan
perizinan dari pusat.Setelah berbagai upaya dilakukan, akhirnya
disepakati perjanjian antara PPWNI dengan SIKL untuk mengizinkan
siswa PPWNI dalam melaksanakan UN di SIKL.
5. Apakah siswa Indonesia di PPWNI ini mengenal budaya Indonesia?
Untuk SD kelas 1, kita belum memberi materi
Kewarganegaraan.Karena mereka belum bisa membaca dan
menulis.Mengajar membaca dan menulis kita mengikuti ejaan
Malaysia karena mereka sehari-hari tinggal di Malaysia.Untuk kelas
SD kelas 3 sampai 3 SMP kita memberi pelajaran kewarganegaraan
dan Budaya Indonesia.
B. Hasil Wawancara dengan Kepala Sekolah SIJB (Sekolah
Indonesia Johor Bahru), Malaysia
1. Bagaimana sejarah didirikanya SIJB (Sekolah Indonesia Johor Bahru),
Malaysia?
Pada tahun 2010 Pak Djujur bertugas sebagai fungsi pensosbud
(Penalaran Sosial Budaya) di KBRI Kuala Lumpur. Beliau adalah
seorang dosen yang telah membangun puluhan sekolah.Beliau
menanamkan mimpi untuk membangun sekolah Indonesia di Johor
Bahru untuk anak Indonesia yang kurang beruntung karena tidak
memilki akses dalam sekolah di sekolah lokal.Hal tersebut
dilatarbelakangi dari para imigran pekerja Indonesia di Johor Bahru
dan tidak memiliki dokumen penting.
Pada tahun 2011, beliau meminta ijin ke pimpinan Dubes KL
untuk mendirikan lembaga pendidikan yang memfasilitasi anak-
anak Indonesia dalam belajar.Namun terjadi penolakan, dan hal
tersebut dianggap gila.
Pada tahun 2012 konjen Johor Bahru memberi kesempatan
kepada pak Djujur untuk mendirikan SIJB dengan modal 240 juta
dari anggaran pribadinya. Hal tersebut meminta bantuan ke

25
kemenlu, tetapi responya tidak ada dana. Kemudian mencoba ke
Kemendikbud yang bernama Bapak Moh.Nuh yang kemudian beliau
mengabulkan permintaanya dengan syarat SIJB tidak berdiri sendiri
melainkan harus menginduk ke SIKL.
Pada tanggal 5 Januari 2014 dengan nama awal SIT (Sekolah
Indonesia Terbuka) diresmikan. Kemudian berubah pada tanggal 5
Januari 2015 menjadi SIJB.
2. Apakah fasilitas pendidikan di SIJB sudah layak?
Untuk fasilitas sudah layak.Terdiri dari kelas PAUD, SD, dan SMP,
ruang guru, ruang aula, kantin, dan kamar mandi.Setiap kelas
terdapat satu pengajar.Dan fasilitas kelas juga di lengkapi dengan
AC, papan tulis, meja, kursi, dan foto presiden.
3. Apakah siswa-siswi Indonesia SIJB mengenal budaya Indonesia?
Tentunya siswa-siswi dalam proses belajar, guru-guru
menggunakan Bahasa Indonesia, agar mereka terbiasa dengan
Bahasa Indonesia. Kita juga mengenalkan Budaya Indonesia dengan
belajar bernyanyi dan menari khas daerah Indonesia serta kakak-
kakak yang datang dari Indonesia menampilkan budaya mereka
masing-masing di aula.Sehingga menambah wawasan bagi siswa-
siswi.Tidak hanya itu, guru juga memberikan pelajaran
kewarganegaraan Indonesesia yang bersifat wajib.
C. Hasil Wawancara dengan Yayasan Yatim Piatu AL BAYYINAH
Mojosari
1. Menurut anda apa arti pendidikan bagi manusia dan mengapa
pendidikan menjadi penting?
Arti penting pendidikan bagi manusia, pendidikan itu sebagai
landasan atau pondasi bagi manusia diibaratkan seperti rumah
apabila tidak di bangun pondasi maka rumah tidak akan bisa berdiri
dengan kokoh, dan pendidikan semacam juga pendidikan untuk
manusia adalah untuk meningkatkan kualitas dan mutuseseorang
tersebut. Tujuan utama pendidikan itu sebenarnya untuk

26
menambah pengetahuan, menambah ilmu tapi yang lebih
khususnya pendidikan itu bertujuan untuk membentuk karakter
seseorang maka dari itu kenapa pendidikan diberikan kepada
seseorang sejak dini karena pada usia dini itu manusia masih
mudah dibentuk karakternya untuk menjadi seseorang yang lebih
baik dan tujuannya adalah untuk investasi masa depan bagaimana
nantinya mereka bisa meningkatkan kualitas hidupnya bagaimana
nantinya mereka bisa mengambil keputusan pada hidupnya sendiri.
2. Apa keunggulan dan kekurangan dari yayasan yang ibu kelola ?
Keunggulan : Tidak dipungut biaya sepeserpun, anak didik
mendapatkan
beasiswa Rp500.000 setiap tahun, pembentukan
karakter, pola pikir dan mental anak. Dikarenakan
orientasi pembelajaran untuk mengikutsertakan anak
dalam ajang olimpiade matematika diberbagai
tingkatan.
Kekurangan : Kurang mendapatkan respon baik dari wali yatim.
3. Apa strategi dasar dalam kebijakan pendidikan di yayasan yang ibu
kelola?
Selain dengan memeratakan pendidikan, strategi yang bisa
dilakukan khususnya untuk lembaga dan pemerintah dengan
meningkatkan kualitas seorang pendidik. Karena seorang pendidik
sebagai penyalur informasi dan ilmu bagi peserta didik. Jadi mereka
harus mampu dalam hal public speaking dan juga dalam hal
pengetahuan. Sehingga akan relevan atau sesuai dengan
kemampuannya juga dengan pendidikan yang dibutuhkan.
4. Bagaimana susunan dan tata cara pembelajaran di yayasan ini ?
Kegiatan pembelajaran mulai 18.30 sampai jam 20.00 pada 20
menit pertama berdoa kemudian membaca surat-surat pendek, lalu
dilanjutkan dengan ice breaking dilanjutkan dengan mengerjakan
modul lalu mengerjakan modul pilihan yaitu matematika yang

27
sesuai dengan kemampuan anak, bukan yang sesuai dengan
kelasnya anak. 20 menit terakhir nanti bisa digunakan untuk
sharing, dan bercanda kegiatan terakhir ialah sholat Isya
berjamaah. Untuk kegiatan triwulan atau 3 bulan sekali biasanya
melakukan kunjungan rekreasi ke tempat wisata, selain itu program
dari Yayasan sendiri yaitu ada kegiatan kesehatan, outbound,
olimpiade-olimpiade serta buka bersama untuk seluruh anak yatim
piatu yang menjadi peserta di sanggar Genius.
5. Bagaimana dengan tenaga pendidik yang ada saat ini?
Sampai saat ini 70% sudah sesuai dengan kebutuhan pendidikan
hanya saja, memang dari beberapa lembaga yang saya lihat ada
beberapa pendidik yang masih kurang dalam public speaking nya
kemudian ada yang pengetahuannya juga masih minim jadi ketika
menyampaikan materi pembelajaran itu kurang bisa dipahami
dengan jelas oleh siswanya sendiri, kemudian jika kita melihat
kondisi pendidikan di lembaga formal yang ada di SD, SMP maupun
SMA yang pendidik yang masih honorer istilahnya atau cekungan
dengan memberikan pengorbanannya melaksanakan tugas dan
kewajibannya yang sudah semaksimal mungkin, tetapi respon
pemerintah belum sesuai dengan pemerintah sendiri belum sesuai
memberikan hak kepada pendidik belum sesuai dengan kewajiban
yang dilaksanakan dengan gaji yang hanya 200 sampai Rp300.000
per bulannya. Dan itu menjadi salah satu PR untuk pemerintah.
6. Bagaimana dengan kurikulum saat ini, apakah lebih efisien dari
kurikulum sebelumnya atau sebaliknya?
Kurikulum yang digunakan saat ini menggunakan K13, K13 ini
menuntut anak untuk Mandiri dan aktif, aktif di dalam kegiatan
pembelajaran juga aktif dalam membaca, penggunaan kurikulum
K13 ini mempunya sisi positif dan negatif dalam segi positif anak
membaca itu merupakan menjadikan kebiasaan untuk anak didik
jadi tidak mau anak harus dapat membaca, dalam segi negatifnya

28
disini peran seorang pendidik hanya sebagai fasilitator dari seorang
guru itu kurang menjelaskan dalam suatu materi itu pasti ada
kondisi dimana seseorang anak itu tidak memahami materi yang
mereka pelajari karena di sini memang peran seorang pendidik
kurang dalam hal penjelasan.
7. Visi dan Misi dari adanya yayasan ini adalah ?
Memiliki visi untuk sabar dan juga memandirikan anak selain itu
pembelajaran yang saya lakukan ini diprioritaskan ke Al-quran dan
matematika karena orientasi-orientasi kami di sini nanti bisa
mencetak juara ketika anak mengikuti Olimpiade di bidang
matematika dan Al-quran.

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Peran pemerintah Indonesia menjadi hal utama dalam proses
pelayanan kualitas dan kuantitaas pendidikan Indonesia yang berada
di dalam dan luar negeri. Kualitas dari segi fasilitas mempengaruhi
kalayakan dan kenyamanan siswa-siswi dalam menjalakan proses
belajar. Kualitas dari segi pengajar memberikan wawasan pengetahuan
dan Budaya Indonesia sebagai penunjang garda terdepan penerus
Bangsa Indonesia. Kualitas buku juga menjadi jembatan siswa-siswi
dalam belajar untuk memperluas ilmu dalam membaca.
Peran pemerintah dalam hal imigrasi orang Indonesia yang tidak
memiliki dokumen yang lengkap dan penting hendak melakukan
pemeriksaan dan bantuan agar mereka memiliki kelengkapan
dokumen.Sehingga mereka dapat mengakses pendidikan sekolah
anaknya setara dengan pendidikan Indonesia.
Pemerintah seharusnya lebih mengeksplorasi pendidikan agar
terciptanya lulusan yang berkualitas dan tidak kalah dari lulusan luar
negeri.
29
B. Saran
Berdasarkan hasil yang telah dilakukan terdapat beberapa saran yang
dapat disampaikan sebagai berikut:
a. Bagi mahasiswa
1. Mahasiswa sebagai generasi muda Indonesia hendaknya
mengetahui pendidikan Indonesia yang berada di luar negeri.
Tentunya bisa menjadi volunteer pengajar dalam bidang
pendidikan dan budaya.
2. Mahasiswa hendaknya memperluas wawasan pengetahuan dan
budaya sebagai garda terdepan Bangsa Indonesia.
b. Bagi dosen
Dosen hendaknya mengetahui upaya memberikan pengajar
pendidikan Indonesia di luar negeri serta memberikan motivasi
kepada generasi muda Indonesia untuk mengikuti kegiatan
volunteer dalam bidang pendidikan.

Lampiran foto kegiatan mengajar PPWNI

30
Lampiran foto kegiatan SIJB

31
Lampiran Yayasan Yatim Piatu Al- Bayyinah Mojosari

32
33