Anda di halaman 1dari 15

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan yang Maha Esa karena
atas berkat dan rahmat-Nya lah saya dapat menyelesaikan tugas dengan mata
kuliah Keperawatan HIV/AIDS tepat pada waktu. Dalam penyusunan makalah ini
kami sadar karena kemampuan kami sangat terbatas, maka makalah ini masih
mengandung banyak kekurangan untuk itu kami harapkan para pembaca bersedia
memberi saran dan pendapat untuk makalah ini.

             Akhirnya kepada semua pihak yang telah mendukung dalam penyusunan


makalah ini, kami menyampaikan terimakasih yang tak terhingga. Semoga Tuhan
yang Maha Pemurah memberkati kita, sehingga upaya kecil ini besar manfaatnya
bagi kita semua.

Padang, 30 Januari 2020

Kelompok 1

1
DAFTAR ISI

Cover……………………………………………………………………….i
Kata Pengantar………………………………………………...….………..i
Daftar Isi……………………………………………………...……….…...ii
Bab I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang………………………………………...……………..…3


1.2 Rumusan Masalah………………………………………..……………..4
1.3 Tujuan Penulisan……………………………..…………………………4
1.4 Manfaat penulisan……………………………..…………..……………4

Bab II Pembahasan
2.1 Pengertian NAPZA …………………….………………………….…...5
2.2 Jenis-jenis NAPZA ………………………….……………………..…..6
2.3 Penyalahgunaan NAPZA ………………………..…………...…..……9
2.4 Gejala-gejala pemakaian NAPZA …………………...……………......10
2.5 Penyebab pemakaian NAPZA…………………………………………11

Bab III Penutup


3.1 Kesimpulan………………………………………………………….…14
3.2 Saran…………………………………………………………….……...14

Daftar Pustaka…………………………………………………….……....15

2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pemakaian dan penyalahgunaan narkotika dan obat-obat terlarang sudah
menjadi masalah nasional bagi setiap Negara dewasa ini. Tidak hanya di Negara
berkembang, di negara maju pun masalah ini menjadi masalah yang serius yang
perlu ditangani lebih cermat dan berdaya guna. (Darman, Flavianus. 2006. Hal : 7)
Masalah yang diakibatkan mengkonsumsi narkoba bukan hanya kepada
individu penggunanya, tapi juga terkait dengan masalah keluarga, masalah
generasi, masalah social, masalah ekonomi, masalah keamanan, masalah
ketahanan, dan sebagainya bahkan akhirnya menjadi masalah bangsa. ( Samad,
Mukhtar. 2016. Hal : 4 )
Indonesia menjadi salah satu Negara berkembang dengan pengguna
narkoba terbanyak didunia. Awalnya Indonesia hanya menjadi target dari
pemasaran obat-obatan terlarang dari Negara tetangga. Tetapi lain hal nya
sekarang, Indonesia tidak lagi hanya menerima pasokan tetapi Indonesia telah
dijadikan tempat untuk memproduksi narkoba atau sering juga disebut sebagai
NAPZA.
Kecanduan merupakan bahaya yang utama dari penyalahgunaan NAPZA.
Sekali mencoba tidak menutup kemungkinan aka nada yang kedua, ketiga, dan
akhirnya tidak bisa terlepas lagi dari jeratnya. Kebanyakan sasaran yang dituju
oleh pengedar adalah para remaja bahkan anak-anak. Untuk itu informasi yang
lengkap dan jelas tentang seluk-beluk. NAPZA dan bahayanya sangat penting
untuk diketahui oleh remaja dan anak-anak. (Darwis, 2018. hal : 3)
Demikian halnya dengan penyalahgunaan narkoba yang juga semakin
meningkat. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai Negara lain di dunia
ini. Meskipun pemerintahan kita sudah memberantas peredaran gelap dan
penyalahgunaannya, tetapi tampaknya pengguna nrkoba ini semakin bertambah.
(Darwis, 2018. hal : 3)
Kebanyakan sasaran yang dituju oleh pengedar narkoba adalah para
remaja dan anak anak. Keduanya mudah dipengaruhi oleh “barang haram” yang
menawarkan kenikmatan sesaat itu. Agar mereka tidak terjerumus ke lembah nista

3
perlu informasi yang lengkap dan jelas tentang seluk beluk narkoba dan bahaya.
(Darwis, 2018. hal : 3)

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa itu NAPZA?
2. Jelaskanlah jenis-jenis NAPZA!
3. Jelaskan mengenai penyalahgunaan NAPZA!
4. Apa saja gejala-gejala pemakaian NAPZA!
5. Jelaskanlah mengenai pengaruh dan efek serta dampak bagi
pengguna NAPZA!

1.3 Tujuan
1. Mahasiswa/i dapat paham dan menjelaskan pengertian dari
NAPZA.
2. Mahasiswa/i dapat paham dan menjelaskan jenis-jenis dari
NAPZA.
3. Mahasiswa/i dapat paham mengenai penyalahgunaan NAPZA.
4. Mahasiswa/i dapat paham mengenai gejala-gejala pemakaian dari
NAPZA.
5. Mahasiswa/i dapat paham dan menjelakan pengaruh, efek dan
dampak dari NAPZA.

1.4 Manfaat
Manfaat dari pembuatan makalah ini adalah agar mahasiwa/i dapat
menjelaskan dan paham mengenai konsep dasar NAPZA.

4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Defini NAPZA


NAPZA adalah kependekan dari Narkotika, Alkohol, Psikotropika dan Zat
adiktif lainnya. Menurut Undang Undang No.22 Tahun 1997 yang dimaksud
dengan narkotika meliputi :
1. Golongan opial : heroin, morfin, madat dan lain-lainnya.
2. Golongan kanabis : ganja, hashish.
3. Golongan koka : kokain, crack.
Alcohol merupakan minuman yang mengandung etanol. Sementara
psikotropika menurut Undang-undang Nomor 5 tahun 1997 meliputi : ekstasi,
sabu-sabu, obat penenang, obat anti depresi dan anti psikosis. Zak adiktif lainnya
termasuk inhalasia (aseton, thinner cat, lem), nikotin (tembakau) kafein (kopi).
(Joewana, Satya,dkk. 2001. hal : 9)
Napza meliputi narkotika, psikotropika dan zat adiktif. Menurut Undang-
Undang N0. 34 Tahun 2009 tentang narkotika, bahwa narkotika adalah zat atau
obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi
sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya
rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menyebabkan
ketergantungan. Menurut Undang-undang No.5 Tahun 1997 tentang Psikotropika
adalah zat atau obat baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang
berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang
mnyebabkan perubahan pada aktivitas mental dan perilaku. Sedangkan menurut
Undang-undang No.23 tahun 1992 tentang zat adiktif, bahwa zat adiktif adalah
bahan atau zat yang berpengaruh psikoaktif diluar narkotika dan psikotropika.
(Darwis. 2018. Hal : 51)
Zat adiktif juga merupakan semua zat yang dimasukkan kedalam tubuh
manusia, baik diminum, dihirup, maupun disuntikkan, akan menimbulkan
ketergantungan (adikasi) dengan berupa mengubah pikiran, suasana hati atau
perasaan dan mengubah perilaku seseorang menjadi tidak baik. (Mellan, Nesi.dkk.
2018. Hal : 98)

5
Menurut Hartono (2009), napza adalah bahan atau zat yang dapat
mempengaruhi kondisi kejiwaan atau psikologi seseorang (pikiran, perasaan,
perilaku) serta dapat menimbulkan ketergantungan fisik dan psikologi.
Ketergantungan psikologi adalah keinginan untuk mengkonsumsi obat untuk
memperoleh efek positif atau mengindari efek negative akibat tidak
mengkonsumsinya. Sementara ketergantungan fisik adalah adaptasi fisiologis
terhadap obat yang ditandi dengan munculnya toleransi terhadap efek obat dan
sindroma putus obat bila dihentikan.
NAPZA dalah istilah yang paling mewakili semua bahan yang
menyebabkan ketergantungan (adiksi, kecanduan), yang jika dipakai tidak sesuai
dosis yang dianjurkan akan menyebakan terjadinya kerusakan syaraf. Akibat dari
NAPZA itu sendiri juga tidak bisa dianggap remeh karna banyaknya angka
kecacatan dan kematian sia-sia banyak terjadi belakang ini. (Gunawan, Weka.
2005. hal: 8)
Di Indonesia, Daadang Hawari, seorang professor dari Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, pada tahun 1990 membuktikan bahwa
penyalahgunaan NAPZA dapat menimbulkan berbagai dampak. Antara lain,
merusak hubungan kekeluargaan, menurunkan kemampuan belajar,
ketidakmampuan membedakan yang buruk dan yang baik, perilaku penderita
NAPZA menjadi antisosial, merosotnya produktivitas kerja, gangguan kesehatan
mulai dari keluhan ringan sampai fatal, mempertinggi kecelakaan lalu lintas,
meningkatnya angka kriminalitas dan tindak kekerasan dan tindak kekerasan
lainnya baik secara kuantitatif maupun kualitatif (Gunawan, Weka. 2005. hal: 9)

2.2 Jenis-jenis NAPZA


Terdapat beberapa jenis-jenis napza yang diatur dalam undang-undang RI,
yaitu :
a. Pasal 2 UU. No 22 Tahun 1997 mengelompokkan narkotika menjadi 3
golongan, yaitu :
1) Golongan I, meliputi : tanaman papaver somniverum, opium,
tanaman koka-daun, koka-kokain, mentah-kokaina, ganja, heroin-
morpine dan patau.

6
2) Golongan II, meliputi : Alfesetilmetadon, Benzetidin, Betametadol.
Contoh istilah yang dikenal masyarakat yaitu : Morfin, petidin dan
metadon.
3) Golongan III, meliputi : Asetihidroteina, Dokstroprosifem,
Dihidrokodenia (kodein).
b. Pasal 2 UU. No.5 Tahun 1997 mengelompokkan Psikotropika menjadi 4
golongan yaitu :
1) Golongan I adalah psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk
tujuan ilmu pengetahuan tidak digunakan dalam terapi, serta
mempunyai potensi yang amat kuat mengakibatkan sidroma
ketergantungan, meliputi : MDMA (ekstasi), N-etil MDA, MMDA
yang terdapat kandungan ekstasi.
2) Golongan II adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat
digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potemsi kuat mengakibatkan sidroma ketergantungan,
meliputi : Amfetamina (sabu-sabu), Deksamfetamina, Fenetilena.
3) Golongan III adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan
banyak digunakan dalan terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan
yang mempunyai potensi sedang mengakibatkan sidroma
ketergantungan, meliputi : Amobarbital, Buprenorfina, Butalbital.
4) Golongan IV adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan
sangat luas digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu
pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sidroma
ketergantungan, meliputi : Diazepam (Nipam/BK/Magadon),
Nitrazepam.
c. Zat Adiktif
1) Alcohol
Minuman keras adalah minuman berakohol tetapi bukan obat, yang
terbagi dalam tiga golongan. Golongan A berkadar 1-5%, Golongan B
berkadar alcohol 5-20%, sedangkan golongan C berkadar alcohol 20-
45%.
2) Inhalasi

7
Inhalasi (gas yang dihirup) dan solvan (zat pelarut) mudah
menguap berupa senyawa organic, yang terdapat pada bebagai barang
keperluan rumah tangga, kantor dan sebagai pelumas mesin yang sering
disalhgunakan adalah : lem, tiner, penghapus cat kuku, bensin.
3) Tembakau
Penggunaan tembakau yang mengandung nikotin sangat luas
terjadi dikalangan masyarakat. Upaya penanggulangan NAPZA di
masyarakat, rokok dan alcohol harus menjadi bagian yang harus
diprioritaskan, karena rokok dan alcohol sering menjadi pintu masuk
penyalahgunaaan napza lain yang berbahaya. ((Mellan, Nesi.dkk. 2018.
Hal : 99-100)

2.2.3 Jenis napza berdasarkan efek yang ditimbulkan terbagi menjadi tiga
golongan yaitu :
1. Golongan Stimulan/Upper
Adalah jenis NAPZA yang memacu kerja otak, meningkatkan
aktivitas/fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan kerja. Jenis ini
mebuat pemakainya menjadi aktif, segar dan bersemangat. Contoh :
Amphetamine (shabu, ekstasi) dan kokain.
2. Golongan Depresan
Adalah jenis NAPZA yang berfungsi mengahmbat kerja otak,
mengurangi atau memeprlambat aktifitas fungsional tubuh. Jenis ini
membuat pemakainya menjadi tenaang, mengantuk dan membuat
tertidur, rasa nyeri dan stress menghilang bahkan tak sadarkan diri.
Contohnya : Opioda (morfin, opium, heroin, kodein), Sedative
(penenang), Hipnotik (obat tidur) dan Tranqulizer (anti cemas).
3. Golongan Hallusinogen.
Adalah jenis NAPZA yang dapat menimbulkan efek halusinasi
yang bersifat merubah perasaan, pikiran dan seringkali menciptakan
daya pandang yang berbeda sehingga seluruh perasaan dapat terganggu.
Mengubah dan menyebabkan distorsi persesi, pikiran dan lingkungan,

8
meningkatkan resiko dan gangguan mental. Contoh : ganja, kanabis,
LSD (Lysergic Acid Diethylamide). ((Darwis. 2018. Hal : 53-54)

2.3 Penyalahgunaan NAPZA


Penyalahgunaan Napza (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya)
saat ini telah menjadi masalah nasional. Hal ini terjadi karena semakin
meningkatkan masyarakat yang menyalahgunakan NAPZA sampai akhirnya
adiksi / ketergantungan. NAPZA adalah singkatan dari narkotika, alkohol,
psikotropika, dan zat adiktif lainnya (Windarwati, 2013). NAPZA terdiri dari
bahan / zat yang dapat masuk ke dalam tubuh akan mempengaruhi tubuh,
terutama susunan saraf pusat / otak, yang dapat menyebabkan gangguan pada
fisik, psikis dan fungsi sosial. Istilah lain untuk NAPZA adalah narkoba,
singkatan dari narkotika dan obat / bahan berbahaya. Narkoba lebih dulu populer
di tengah masyarakat. NAPZA disebut berbahaya karena berbahaya bagi
kesehatan dan dapat dikenakan sangsi hukum sesuai undang-undang yang berlaku.
Ketergantungan fisik adalah suatu keadaan ketika pasien mengurangi /
menghentikan penggunaan jenis napza tertentu yang biasa ia gunakan, maka ia
akan mengalami gejala putus zat, seperti nyeri dan tidak bisa tidur. Selain itu,
pasien juga mengalami efek toleransi terhadap zat yaitu bila pasien ingin
mendapatkan efek seperti semula, maka ia memerlukan jumlah (dosis) yang
semakin lama semakin banyak.
Ketergantungan psikologis adalah suatu keadaan ketika pasien sudah
berhenti menggunakan napza dalam waktu singkat / lama, maka ia akan
mengalami kerinduan yang kuat Untuk menggunakannya kembali. Pasien akan
mencari-cari dan menggunakan segala cara untuk mendapatkan napza tersebut,
meskipun ia sedang tidak mengalami putus zat atau dibawah tekanan seseorang.
Bentuk penyalahgunaan Napza adalah penggunaan NAPZA dalam jumlah
berlebih, secara berkala atau terus-menerus, berhubungan langsung lama dapat
merugikan kesehatan jasmani, mental dan kehidupan sosial.
Ketergantungan NAPZA dapat ditandai dengan:
1. Keinginan kuat untuk memakai NAPZA
2. Tidak dapat mengendalikan pemakaiannya

9
3. Dosis semakin tinggi.
4. Gejala Putus Zat
5. Tidak dapat menikmati kesenangan yang lain
6. Tetap gunakan NAPZA walau sakit berat akibat NAPZA.

2.4 Gejala- gejala Ketergantungan NAPZA


Tidak semua yang baru mencoba narkotika dapat menjadi ketergantungan.
Ada beberapa tahap yang dilalui setelah mencoba dan menikmati narkotika yaitu
menjadi pemakaian social yang bertujuan hanya untuk bersenang-senang saja.
Peningkatan selanjutnya menjadi pemakaian situasi artinya menggunakan
narkotika pada saat-saat tertentu misalnya untuk mengahalau perasaan stress,
depresi atau sedih. Namun bilamana dipakai terus menerus minimal 1 bulan tanpa
indikasi medis atau telah terjadi gangguan fungsi social maka keadaan ini telah
bersifat menyimpang atau patologis atau dikatakan telah menyalahgunakan
narkoba (abuse). Tingkat terakhir merupakan tingkat ketergantungan dengan
adanya toleransi tubuh dan timbulnya gejala putus narkotikas bila pemakaiannya
dihentikan atau dikurangi atau ditambhakan dosisnya.
Gejala-gela yang muncul jika seseorang kecanduan antara lain:
a. Fisik
1. Berat badan turun drastic.
2. Mata cekung dan merah, muka pucat dan bibir kehitam-hitaman.
3. Tangan penuh dengan bintik-bintik merah, seperti bekas gigitan
nyamuk dan ada tanda bekas luka sayatan. Goresan dan perubahan
warna kulit di tempat bekas suntikkan.
4. Buang air besar dan air kecil kurang lancar.
5. Sembelit atau sakit perut tanpa alasan yang jelas.
b. Emosi
1. Sangat sensitive dan cepat bosan.
2. Bila ditegur atau dimarahi, dia malah menunjukkan sikap
membangkang.

10
3. Emosi naik turun dan tidak ragu untuk memukul orang atau
berbicara kasar kepada anggota keluarga atau orang lain
disekitarnya.
4. Nafsu makan tidak menentu.
c. Perilaku
1. Malas dan sering melupakan tanggung jawab dan tugas-tugas
rutinnya.
2. Menunjukkan sikap tidak peduli dan jauh dari keluarga.
3. Sering bertemu dengan orang yang tidak dikenal keluarga, pergi
tanpa pamit dan pulang lewat tengah malam.
4. Suka mencuri uang dirumah, sekolah ataupun tempat pekerjaan
dan menggadaikan barang-barang berharga dirumah.
5. Selalu kehabisan uang.
6. Sering berbohong.
7. Mengalami nyeri kepala.
8. Sikap cenderung manipulative.
(Tim Visi Media. 2006. Hal : 10-13)

2.5 Penyebab Penyalahgunaan NAPZA.


Hingga kini, penyalahgunaan narkoba sudah mewabah dikalangan remaja,
baik diperkotaan maupun pedesaan. Banyak korban yang meninggal akibat
penyalahgunaan narkoba tersebut. Penyebab penyalahgunaan narkoba bersifat
multi-faktor, yang berarti terdiri dari beberapa factor, misalnya kondisi keluarga
yang tidak harmonis, genetis (keturunan), kepribadian yang tak matang, dan
kuatnya jaringan peredaran narkoba. (Gunarsa. Singgih D. 2004. Hal : 224)
Factor penyebab penyalahgunaan napza (Utami, 2006 : 36-38), yaitu
factor keluarga, factor kepribadian, factor kelompok teman sebaya dan factor
kesempatan.
1. Factor keluarga
Berdasarkan hasil penelitian dari Unika Atma Jaya dan Perguruan
Tinggi Ilmu Kepolisian Jakarta pada tahun 1995, jika keluarga kerap
menjadi tertuduh dalam masalah tersebut, hal itu bukanlah tanpa

11
alasan, terdapat beberapa tipe keluarga yang anggota keluarganya
( anak remaja ) beresiko tinggi terlibat penyalahgunaan napza. Tipe-
tipe keluarga tersebut antara lain :
Keluarga yang memiliki sejarah (termasuk orang tua) mengalami
ketergantungan napza ;
a. Keluarga dengan manajemen keluarga yang kacau, yang terlihat dari
pelaksanaan aturan yang tidak konsisten yang dijalankan oleh ayah
dan ibu (misalnya, ayah bilang ya, ibu bilang tidak)
b. Keluarga dengan konflik yang tinggi dan tidak pernah ada upaya
penyelesaian yang memuaskan semua pihak yang berkonflik. Konfil
dapat terjadi antara ayah dan ibu, ayah dan anak, ibu dan anak,
maupun antara saudara.
c. Keluarga dengan orang tua otoriter. Disini peran orang tua sanngat
dominan, dengan anak yang hanya sekedar harus menuruti apa kata
orang tua dengan alasan sopan santun, adat istiadat atau demi
kemajuan, dan masa depan anak itu sendiri tanpa diberi kesempatan
untuk berdialog dan menyatakan ketidaksetujuan.
d. Keluarga yang perfeksionis, yaitu keluarga yang menuntut
anggotanya mencapai kesempurnaan dengan standar tinggi yang
harus dicapai dalam banyak hal.
e. Keluarga yang neurosis yaitu keluarga yang meliputi rasa
kecemasan dengan alasan yang kurang kuat, mudah cemas dan
curiga, dan sering berlebihan dalam menanggapi sesuatu.

2. Faktor Kepribadian
Remaja yang memiliki konsep diri yang negative dan harga diri
yang rendah biasanya terjebak pada penyalahgunaan napza.

3. Faktor Kelompok Teman Sebaya (peer group)


Disadari atau tidak, sebuah kelompok teman sebaya dapat
menimbulkan tekanan pada seseorang yang berada dalam
kelompoknya agar berperilaku seperti kelompok itu. Karena tekanan

12
itulah semua orang ingin disukai oleh kelompoknya dan tidak ada
yang mau dikucilkan. Demikian pula pada kelompok yang memiliki
perilaku dan norma yang mendukung penyalahgunaan napza, dapat
memunculkan penyalahgunaan baru.

4. Factor Kesempatan
Ketersediaan dan kemudahan memperoleh Napza juga dikatakan
sebagai pemicu. Saat ini Indonesia merupakan sasaran empuk bagi
sindikat Narkoba Internasional untuk mengedarkan barang tersebut,
yang pada gilirannya menjadikan zat ini dengan mudah diperoleh.

13
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Napza meliputi narkotika, psikotropika dan zat adiktif. Menurut Undang-
Undang N0. 34 Tahun 2009 tentang narkotika, bahwa narkotika adalah zat atau
obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi
sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya
rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menyebabkan
ketergantungan.

3.2 Saran
Setiap orang sebaiknya dan seharusnya menjauhi NAPZA karena sangat
banyak sekali efek dan dampak negative dari pemakaian individu maupun
kelompok dari NAPZA.

14
DAFTAR PUSTAKA

Joewana, Satya.dkk. 2001. NARKOBA : Petunjuk Praktis Bagi Keluarga Untuk


Penyalahgunaan Narkoba. Yogyakarta : Media Presindo.

Darwis. 2018. Menghukum atau Memulihkan (suatu tinjauan sosiologis tentang


tindakan terhadap penyalahgunaan NAPZA). Makassar : CV. Sah Media

Mellan, Nessi.dkk. 2018. Kesehatan Repro Remaja : IMP PKPR dalam Teman
Sebaya. Malang : Wineka Media.

Darman, Flavianus. 2006. Mengenal Jenis dan Efek Buruk Narkoba. Tanggerang :
Visimedia.

Gunawan, Weka. 2006. Keren Tanpa Narkoba. Jakarta : Grasindo.

Gunarsa, Singgih D. 2004. Dari Anak Sampai Usia Lanjut. Jakarta : BPK Gunung
Mulia.

Hanifah Abu, Unayah Nunung. 2011. Mencegah dan Menanggulangi


Penyalahgunaan NAPZA Melalui Peran Serta Masyarakat. Informasi : Vol 16
(01) : 34-36.

BKKBN. 2016. STRATEGI SEDERHANA PENCEGAHAN PENGGUNAAN


NARKOBA MELALUI KELUARGA. https://www.bkkbn.go.id/detailpost/strategi-
sederhana-pencegahan-penggunaan-narkoba-melalui-keluarga (Diakses 31 Januari
2020).

Visimedia. 2006. Mencegah Terjerumus Narkoba. Tanggerang : Praninta Offset.

Samad, Mukhtar. 2016. Penanggulangan Narkoba Solusi Masalah Narkoba dari


Prespektif Islam. Yogyakarta : Penerbit Sunrise.

15