Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

A. Dasar Pemikiran
Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) adalah salah satu mata kuliah
yang dilaksanakan langsung di lapangan guna mengabdikan diri melalui
pemberdayaan masyarakat berdasarkan ilmu-ilmu yang diperoleh dari
perguruan tinggi. Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat
(LP2M) merupakan badan pelaksana dari kegiatan KPM yang terdapat di
IAIN Metro.
Pendidikan di Perguruan Tinggi dilaksanakan dengan cara
membekali dan mengembangkan religiusitas, kecakapan, keterampilan,
kepekaan dan kecintaan mahasiswa terhadap pemuliaan kehidupan umat
manusia pada umumnya dan masyarakat Indonesia pada khususnya.
Pembekalan dan pengembangan hal-hal tersebut terangkum dalam Tri
Dharma Perguruan Tinggi yaitu Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian,
dan Pengabdian kepada Masyarakat. Ketiga aspek dalam Tri Dharma
Perguruan Tinggi tersebut dilaksanakan dengan proporsi yang seimbang,
harmonis, dan terpadu dengan harapan agar kelak para lulusan Perguruan
Tinggi dapat menjadi manusia yang berilmu pengetahuan yang memadai
dalam bidang masing-masing, mampu melakukan penelitian, dan
bersedia mengabdikan diri demi kemaslahatan umat manusia pada
umumnya dan masyarakat Indonesia pada khususnya. Untuk
mempraktekkan ilmu dan menerapkan hasil penelitian yang dilakukan
oleh civitas akademika, KPM (Kuliah Pengabdian Masyarakat)
merupakan wadah pembelajaran bagi mahasiswa sekaligus wadah bagi
mahasiswa untuk memberdayaan masyarakat.
IAIN Metro sebagai salah satu perguruan tinggi di Indonesia turut
bertanggung jawab untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Sejalan dengan tujuan tersebut IAIN Metro memiliki visi, misi dan
tujuan untuk menghasilkan tenaga profesional muda yang memiliki jiwa
kepemimpinan, kemandirian, dan kemampuan kewirausahaan sehingga
mampu menjadi motivator dan dinamisator dalam meningkatkan
kesejahteraan masyarakat, perlu memberikan pengalaman belajar kepada
mahasiswa untuk hidup ditengah-tengah masyarakat di luar kampus dan
terlibat secara langsung dalam mengidentifikasi serta mengenal masalah-
masalah yang dihadapi oleh masyarakat.
Sebagai wadah pembelajaran, KPM diharapkan membuka akses
komunikasi dan integrasi Civitas Akademik ke dalam masyarakat dengan
titik tumpu pada bidang sosial, keagamaan, ilmu pengetahuan dan
teknologi sebagai basis kompetensi perguruan tinggi. Oleh karena Itu
KPM IAIN Metro periode I tahun 2020 merupakan bagian dari
pengembangan bidang Pengabdian kepada Masyarakat yang diarahkan

1
kepada upaya peningkatan implementasi ilmu dalam pemberdayaan
masyarakat dan kontribusi peningkatan daya saing bangsa.
Adapun salah satu desa yang menjadi tempat penulis program KPM
IAIN Metro adalah di Desa Banjaran. Desa Banjaran merupakan daerah
yang mayoritas penduduknya beragama Muslim, memiliki pola
kehidupan yang baik dan terarah. Meskipun demikian, setelah kami
adakan observasi terhadap masyarakat di Desa Banjaran masih ditemui
berbagai macam permasalahan. Permasalahan yang timbul disebabkan
karena keadaan yang kompleks dalam masyarakat di Desa Banjaran.
Dalam pelaksanaan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) yang
berlangsung selama 40 hari, kami melaksanakan kegiatan observasi ke
lapangan yang bertujuan untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang
terdapat di Desa Banjaran. dengan keadaan masyarakat Desa Banjaran
yang kompleks maka permasalah yang ada juga beragam, dimulai dari
permasalahan dibidang agama, sosial dan ekonomi.

B. Kondisi Umum Desa Banjaran


Kegiatan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Institut Agama
Islam Negeri Metro Periode I tahun 2020 dilaksanakan mulai tanggal 16
Januari 2019 sampai 24 Februari 2020. Salah satu tempat pelaksanaan
kegiatan KPM adalah di Desa Banjaran, Kecamatan Padang Cermin,
Kabupaten Pesawaran. KPM di Desa Banjaran, Kecamatan Padang
Cermin, Kabupaten Pesawaran diikuti 12 peserta dari berbagai jurusan.
KPM ini dituntut untuk melaksanakan tiga program kerja utama
yakni program keagamaan umum, keagamaan khusus serta program
penunjang. Setelah melihat dan melakukan survey satu minggu setelah
penerjunan ada beberapa permasalahan yang didapatkan. Banyaknya
sampah yang berserakan dan Kurangnya tempat sampah menjadi
masalah terbesar di TPA, Masjid dan tempat umum di Desa Banjaran.
Kedua kurangnya kepedulian masyarakat dan khususnya orang tua dalam
Kegiatan jam belajar tambahan (bimble) di Desa Banjaran. Ketiga
kurangnya kepedulian masyarakat dalam bekerja sama membersihkan
dan menjaga lingkungan sekitar. Dari permasalahan tersebut maka saya
membuat beberapa program yang akan saya laksanakan di Desa
Banjaran.
Berdasarkan posisi geografis, Desa Banjaran dapat ditempuh dengan
jarak 200 km dari Kota Metro dan menghabiskan waktu ± 3 jam
perjalanan.
Desa Banjaran adalah sebuah tempat yang sederhana dan membuat
saya bersemangat untuk benar-benar bisa memberikan yang terbaik dari
apa yang saya miliki. Tentunya saya tidak sendirian, ada sahabat-sahabat
yang baik hati dan juga sama hebatnya dalam menjalankan program ini
semua. Saya memiliki kesempatan banyak untuk belajar dari masyarakat

2
lokal tentang kesederhanaan, keramah tamahan, rela berkorban, sikap
gotong royong dan kekeluargaan.

C. Permasalahan
Beberapa hal yang cukup menjadi persoalan di Desa Banjaran antara
lain adalah sebagai berikut :
1. Bidang Keagamaan Umum
Kurangnya kepedulian masyarakat dalam membuang sampah pada
tempatnya, belum adanya tempat sampah juga menjadi masalah
mereka sehingga membuang sampah tidak pada tempatnya. Salah satu
contohnya adalah di TPA dan tempat ibadah.
2. Bidang Keagamaan Khusus
Banyak anak-anak Di Desa Banjaran yang kurang jam tambahan
belajar dalam bidang pendidikan dan keagamaan.
3. Bidang Penunjang
Minimnya kordinasi masyarakat tentang kegiatan gotong royong di
setiap dusun.

D. Fokus dan Prioritas Program


Berdasarkan hasil identifikasi masalah, saya menyusun prioritas
program dan kegiatan untuk membantu masyarakat dalam mengurangi
permasalahan di Desa Banjaran.
Dalam melaksanakan kegiatan KPM ini, saya telah membuat
sejumlah kegiatan berdasarkan kondisi Desa Banjaran dan sesuai dengan
potensi yang saya miliki. Adapun program-program yang saya berikan,
antara lain:

Tabel 1.1 Bidang dan Program KPM


Fokus Permasalahan Prioritas Program
Bidang Keagamaan Umum Pembuatan TPSP ( Tong
Pembuangan Sampah Permanen)
Bidang Keagamaan Khusus Pendidikan Sekolah Dasar
Mengadakan BMB (Belajar
Menulis Bersama)
Bidang Penunjang Jum’Bers ( Jumat Bersih)

E. Sasaran dan Target


Dalam menjalankan program-program yang telah saya buat untuk
Desa Banjaran, tentulah perlu adanya pemikiran dalam menentukan
sasaran dan target apa yang hendak dicapai, berikut adalah
penjabarannya:

3
Tabel 1.2 Sasaran dan Target
No Kegiatan Sasaran Target
1 TPSP Masyarakat 1. Memberikan pemahaman
(Tong Desa kepada masyarakat tentang
Pembuang Banjaran membuang sampah harus pada
an Sampah tempatnya.
Permanen) 2. Membentuk masyarakat yang
peduli dengan sampah.
2 BMB Anak anak 1. Meningkatkan kemampuan
(belajar menulis anak
menulis 2. Menambah semangat anak
bersama) dalam membuat sebuah karya
3 Jum’Bers Masyarakat 1. Meningkatkan pengetahuan
(Jumat Desa tentang pentignya hidup di
Bersih) Banjaran lingkungan bersih.
2. Menambah semangat
masyarakat dalam menjaga
lingkungannya.

F. Jadwal Pelaksanaan Program


Pelaksanaan program KPM Periode I Tahun 2020 ini dibagi menjadi
3 bagian, yaitu yang pertama: Pra KPM, kedua: Implementasi Program
di Lokasi KPM Desa Banjaran, ketiga: Laporan dan Evaluasi Program.

1. Pra-KPM Periode I Tahun 2020 (Januari-Februari 2020)


Tabel 1.3 Pra KPM
No Urutan Kegiatan Waktu
1 Pembagian Kelompok 16 Desember 2020
2 Survei 09 Januari 2020
3 Pembekalan 10-12 Januari 2020
4 Pelepasan 24 Februari 2020

2. Pelaksanaan Program di Lokasi KPM (16 Januari – 24 Februari 2020)


Tabel 1.4 Pelaksanaan Program KPM
No Urutan Kegiatan Waktu
1 Penerimaan Peserta KPM 16 Januari 2020
2 Pengenalan Lokasi dan Masyarakat 19 Januari 2020
3 Implementasi Program 16-24 Januari 2020
4 Kunjungan Dosen Pembimbing
25 Januari 2020
Lapangan
5 Kunjungan Tim Monitoring 04 Februari 2020
6 Perpisahan 24 Februari 2020

4
3. Laporan dan Evaluasi Program (Februari 2020)
Tabel 1.5 Laporan dan Evaluasi
No Uraian Kegiatan Waktu
1 Penyusunan buku laporan hari
Februari 2020
KPM
2 Pengesahan buku laporan Februari 2020
3 Penerimaan buku laporan KPM Februari 2020

G. Pendanaan
Pendanaan
a. Bidang Keagamaan Umum dan Khusus

Tabel 1.6 Pendanaan Bidang Keagamaan Umum dan Khusus


N Program Sumber
Keperluan Anggaran
o. Kerja Dana
1. TPSP Semen dan Rp 60.000 + Kas
(Tong Pasir Rp 50.000 = Kelompok
Pembuanga Rp 110.000
n Sampah
Permanen)
2. BMB Air gelas 1 dus Kas
(Belajar mineral Rp 21.000 Kelompok
Menulis = Rp 21.000
Bersama)
Kas
Jumlah Rp 131.000
Kelompok

b. Program Penunjang

Tabel 1.7 Pendanaan Program Penunjang


Program Sumber
No. Keperluan Anggaran
Kerja Dana
1. Jum’Bers Air gelas 1 dus Kas
(Jumat mineral Rp 21.000 Kelompok
Bersih) = Rp 21.000
Kas
Jumlah Rp 21.000
Kelompok

H. Sistematika Penyusunan
Berikut ini adalah sistematika penulisan yang akan dibuat:
BAB I. Pendahuluan

5
Pada bab ini penulis akan menjelaskan gambaran umum dari
pelaksanaan kegiatan KPM di Desa Banjaran. Adapun rincian pada bab I
terdiri dari: dasar pemikiran, kondisi umum desa, permasalahan, fokus
dan prioritas program, sasaran dan target, jadwal pelaksanaan program
dan pendanaan dari kegiatan yang akan dilakukan.

BAB II. Metode Pelaksanaan Program


Pada bab ini penulis akan menjelaskan metode yang digunakan
dalam pelaksanaan program. Metode yang digunakan adalah metode
PAR ( Participatory Action Research). ABCD (Asset based community
development) dan Intervensi Sosial.

BAB III. Kondisi Desa


Pada bab ini akan dijelaskan secara singkat lokasi tempat KPM,
yaitu Desa Banjaran. Penjelasan tentang desa akan dimulai dari sejarah
singkat desa, letak geografis, struktur penduduk serta sarana dan
prasarana yang tersedia di Desa Banjaran.

BAB IV. Hasil Pengabdian dan Pemberdayaan


Pada bab ini penulis akan menjelaskan hasil pengabdian. Deskripsi
dimulai dari pembuatan kerangka pemecahan masalah dalam bentuk
uraian masalah dan pemecahan masalah.

BAB V. Kesimpulan dan Rekomendasi


Pada bab ini penulis akan mengambil kesimpulan dari seluruh
kegiatan yang telah dilakukan, baik yang mengindikasikan keberhasilan
atau ketidakberhasilan secara umum dan selanjutnya akan disertai
dengan rekomendasi yang berisi hal-hal apa saja yang harus
direkomendasikan kepada pemerintah setempat, LPPM IAIN Metro.

6
BAB II
METODE PELAKSANAAN PROGRAM

A. Metode Pengabdian Dan Pemberdayaan Masyarakat (PAR , ABCD,


Metode Intenvensi Sosial)
1. Participatory Action Research (PAR)
a. Pengertian Participatory Action Research (PAR)
Participatory Action Research (PAR) adalah metode riset yang
dilaksanakan secara partisipatif di antara warga masyarakat dalam
suatu komunitas atas bawah yang semangatnya untuk mendorong
terjadinya aksi-aksi transformatif melakukan pembebasan
masyarakat dari belenggu ideologi dan relasi kekuasan (perubahan
kondisi hidup yang lebih baik). Dengan demikian, sesuai istilahnya
PAR memiliki tiga pilar utama, yakni metodologi riset, dimensi
aksi, dan dimensi partisipasi. Artinya, PAR dilaksanakan dengan
mengacu metodologi riset tertentu, harus bertujuan untuk
mendorong aksi transformatif, dan harus melibatkan sebanyak
mungkin masyarakat warga atau anggota komunitas sebagai
pelaksana PAR-nya sendiri. Participatory action research (PAR)
yang merupakan penelitian alternatif dari permasalahan filsafat
sosial (kehidupan sosial), sering dihubungkan dengan perubahan
(transformasi) sosial dunia ke tiga. Ada 3 hal yang membedakan
PAR dengan penelitian biasa, yaitu keterlibatan partisipan (hampir
semuanya terlibat), penelitian didasarkan pada analisis sosial
(problem sebuah komunitas) dan orientasi pada komunitas. Pada
umumnya dalam penelitian tindakan termasuk PAR, peneliti
mengorbankan metodologi dan teknik yang kaku ditukar dengan
yang lebih menguntungkan untuk validasi.1
Metode penelitian tindakan adalah metode penelitian yang
digunakan untuk menguji, mengembangkan. Menemukan dan
menciptakan tindakan baru, sehingga tindakan tersebut kalau
diterapkan dalam pekerjaan, maka proses pelaksanaan kerja akan
lebih mudah, lebih cepat, dan hasilnya lebih banyak dan
berkualitas.
Tujuan utama menggunakan metode PAR yaitu penulis
berusaha menempatkan gagasan, pandangan dan asumsi sosial
individu penulis untuk dikaji dengan melibatkan orang sebanyak
mungkin untuk dijadikan informasi. Ini mensyaratkan kepada

1
Suwartiningsih, “Implementasi PAR Dalam Pendidikan Agama
Islam,” Jurnal Paradigma, Vol 2 (2015), 1.
7
penulis untuk melakukan analisa sosial yang kaintannya dengan
kehidupan masyarakat, melalui isu-isu yang paling kecil kemudian
dikaitkan dengan relasi-relasi yang lebih besar.
Jadi penulis melebur dan bekerjasama dengan masyarakat
dalam melakukan PAR, karena jenis penelitian ini merupakan jenis
penelitian yang berasal dari, oleh dan untuk masyarakat yang
menjadi sasaran dalam penelitian.
Bagi penulis sebagai peserta KPM partisipatif memberikan
peluang dan manfaat yang kita peroleh dalam proses kegiatan ini.
Dengan demikian kita dapat mengetahui segala sesuatu yang ada
dalam Desa. mudah-mudahan saja penulis dapat memediatori dari
apa yang sedang dihadapi oleh masyarakat dengan cara kita
mendampingi sebagai fasilitas bagi mereka untuk sama-sama
menemukan persoalan-persoalan dan dapat menyelesaikan secara
bersama-sama.

2. Asset Based Community Development (ABCD)


Asset based community development (ABCD) merupakan model
pendekatan dalam pengembangan masyarakat. Pendekatan ini
menekankan pada inventarisasi asset yang terdapat di dalam
masyarakat yang dipandang mendukung pada kegiatan pemberdayaan
masyarakat.2 Asset based community development (ABCD) adalah
pendekatan terhadap pembangunan berbasis komunitas yang
berkelanjutan. Di luar mobilisasi sebuah komunitas tertentu, berkaitan
dengan bagaimana menghubungkan aset lingkungan mikro dengan
makro. Landasan ABCD, adalah bahwa komunitas dapat mendorong
proses pembangunan itu sendiri dengan mengidentifikasi dan
memobilisasi aset yang ada, namun seringkali tidak dikenalinya.
Dengan demikian perlu adanya aksi menghadapi tantangan yang ada
dan menciptakan perbaikan sosial lokal dan pembangunan ekonomi
yang berkelanjutan.

3. Intervensi Sosial
Menurut cara pandang Isbandi Rukminto Adi metode intervensi
sosial adalah perubahan terencana yang dilakukan oleh pelaku
perubahan terhadap berbagai sasaran perubahan yang terdiri dari
level mikro, level mezzo, dan level makro3. Menurut Miftachul Huda
metode intervensi sosial dapat pula diartikan sebagai suatu upaya

2
Munawar Ahmad, “Asset Based Communities Development (ABCD): Tipologo
KKN Partisipatif UIN Sunan Kalijaga Studi Kasus Pelaksanaan KKN ke-61 di Dusun
Ngreco Surocolo, Seloharjo, Pundong, Bantul Tahun Akademik 2007,” UIN Sunan
Kalijaga: Jurnal Aplikasi Ilmu-Ilmu Agama, Vol 8, No 2 (Desember 2007), 104.
3
Isbandi Rukminto Adi, Intervensi Komunitas Pengembangan Masyarakat sebagai
UpayaPemberdayaan Masyarakat, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2008), h. 49.
8
untuk memperbaiki fungsi sosial dari sasaran perubahan yang dalam
hal ini terdiri dari individu, kelompok, maupun masyarakat4.
Intervensi mikro adalah keahlian pekerja sosial untuk mengatasi
masalah yang dihadapi individu dan keluarga.
a. Intervensi mezzo adalah keahlian pekerja sosial untuk mengatasi
masalah yang dihadapi kelompok dan organisasi.
b. Intervensi makro adalah keahlian pekerja sosial untuk mengatasi
masalah yang dihadapi komunitas, masyarakat, dan lingkungan
atausistem sosialnya.5

B. Pendekatan dalam Pemberdayaan Masyarakat


Saat melakukan pendekatan dan pemberdayaan pada masyarakat
menggunakan metode PAR langkah awal yang perlu penulis lakukan
adalah melakukan pemetaan awal, merupakan pemetaan yang dilakukan
oleh peneliti untuk mengetahui situasi dan keadaan sosial yang ada
dalam masyarakat. Pemetaan ini dilakukan bersama masyarakat. Dengan
pemetaan ini penulis dapat mengetahui letak geografis Desa Banjaran
dan batas-batas dusun yang ada di Desa Banjaran, selain itu penduduk,
kebudayaan, keagamaan, pendidikan dan perekonomian masyarakat
dapat di ketahui dari kegiatan pemetaan awal.
Dalam melakukan pendampingan ini penulis juga perlu membangun
hubungan kemanusiaan dengan masyarakat. Hal ini diperlukan untuk
membangun kepercayaan masyarakat terhadap penulis. Dalam
membangun hubungan kemanusiaan ini penulis berbaur dengan
masyarakat melalui mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada dalam
masyarakat, yaitu yasinan, pegajian ibu-ibu, sholat berjama’ah, dan lain
sebagainya6.
Pemberdayaan masyarakat di lokasi KPM dapat dilakukan dengan
berbagai pendekatan, salah satunya adalah pendekatan pemecahan
masalah atau yang biasa disebut dengan problem solving approach.
Menurut Eva Nugraha: “tahap-tahap implementasi pendekatan
pemecahan masalah dalam pengembangan masyarakat terdiri atas lima
tahap, yaitu:
1. Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah adalah suatu kepekaan, sebagai bagian dari
komunitas yang terpengaruh oleh masalah yang ada.
2. Menggerakkan Sumber Daya Yang Diperlukan

4
Miftachul Huda, Pekerjaan Sosial dan Kesejahteraan Sosial
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), h. 40.
5
Edi Suharto, Pekerja Sosial di Dunia Industri (Bandung: PT Refika Aditama, 2007),
4.
6
Agus affandi, dkk, h. 105. Modul Participatory Action Research(PAR), Untuk
Pengorganisasian Masyarakat (Community Organizing).Surabaya: LPPM UIN Sunan
Ampel.
9
Menggerakkan sumber daya yang diperlukan dilakukan untuk
mengaktifkan beragam jenis kemampuan warga komunitas,
mengaktifkan energi dan imajinasi sebagai suatu proses penting
dalam pengembangan komunitas.
3. Perencanaan Program Pengembangan Masyarakat
Perencanaan disini membutuhkan semua faktor yang mempengaruhi
komunitas. Dalam kerangka perencanaan warga komunitas harus
mempunyai kesempatan untuk mengkritik dan memberikan saran
membangun.
4. Pemecahan Masalah
Pemecahan masalah adalah tindakan nyata dari perencanaan
program. Dalam hal ini, perencanaan diimplementasikan langsung
pada sasaran.
5. Evaluasi
Dalam setiap pengaplikasian rencana mungkin tidak akan berjalan
sesuai rencana. Terdapat masalah-masalah baru yang mungkin
timbul. Oleh karena itu, evaluasi sangat penting untuk
mempertimbangkan apakah tujuan terlaksana dengan baik atau
tidak. Selain itu, evaluasi juga diperlukan.7

7
Eva Nugraha, Panduan Penyusunan Buku Laporan Hasil KKN-PpMM 2016 (Ciputat: Pusat
Pengabdian kepada Masyarakat, 2016), h. 24.
10
BAB III
KONDISI DESA

A. Sejarah Singkat Desa Banjaran


Banjaran berasal kata “Banjar” berarti berbanjar-banjar. Banjaran
sendiri dibentuk pada tahun 1936 pada masa kolonial Belanda. Dimana
pada saat itu penduduk asli Desa Banjaran adalah suku Lampung yang di
trans kan oleh Belanda menuju tempat yang sekarang ini menjadi Desa
Banjaran. Jalanan pada waktu itu hanya terdapat satu jalan setapak untuk
lalu lintas para penduduknya. Setelah berada dikawasan tersebut mereka
mulai bekerja sebagai pekebun, petani dan lain-lain. Ini dilakukan
mereka untuk mengumpulkan dana dalam membangun sebuah
perkampungan. Sebelumnya ada sekitar 28 kepala dusun di Desa
Banjaran.
Desa Banjaran memiliki 7 dusun, diantaranya yaitu :
1. Dusun Ranterejo 1
2. Dusun Ranterejojo 2
3. Dusun Banjar Sari
4. Dusun Sidorejo
5. Dusun Timbul Harjo
6. Dusun Ranterejo 3
7. Pujo Raharjo
Adapun data urutan atau silsilah Kepala Desa Banjaran Kecamatan
Padang Cermin Kabupaten Pesawaran adalah sebagai berikut:
1. Parto Rejo 1936-1938
2. Yasin 1938-1961
3. Arjo Sainan 1962-1964
4. Tomo Wiharja (kedah) 1965-1974
5. Ahmad Sawal (PJS) 1974-1977
6. Purwadi AS 1977-1985
7. Sugito (PJS) 1986-1987
8. Purwadi AS 1988-1996
9. Suparjo (PJS) 1997-1998
10. Muhammad Ali 1999-2005
11. Rudi Harjo 2006-2007
12. Muhammad Ali 2008-2014
13. Mat Hamzah 2015-2021

B. Letak Geografis
Desa Banjaran adalah salah satu desa yang terdapat di kabupaten
Pesawaran, tepatnya berada di Kecamatan Pandang Cermin. Desa
Banjaran memiliki luas wilayah pemerintahan seluas 1561,5 Ha, dengan
batas wilayah sebagai berikut :
- Sebelah Utara berbatasan dengan desa Padang Cermin
11
- Sebelah Selatan berbatasan dengan desa Maja
- Sebelah Barat berbatasan dengan desa Trimulyo
- Sebelah Timur berbatasan dengan desa Durian
Jumlah penduduk di Desa Banjaran berjumlah 3842 jiwa dengan
jumlah penduduk berjenis kelamin laki-laki berjumlah 1940 jiwa dan
penduduk berjenis kelamin perempuan berjumlah 1902 jiwa.
Berdasarkan kategori usia Penduduk desa Banjaran terbagi dari usia 0-17
tahun berjumlah 953 jiwa, Usia 18-56 tahun 2471 jiwa dan usia 56 ke
atas berjumlah 418 jiwa. Orbitasi atau jarak tempuh ke pusat
pemerintahan :
a. Jarak ke ibukota Kecamatan 3 Km
- Lama jarak tempuh ke ibukota kecamatan dengan kendaraan
bermotor selama 10 menit.
- Lama jarak tempuh ke ibukota kecamatan dengan berjalan
kaki 5 menit.
b. Jarak ke ibukota Kabupaten/kota 45 Km
- Lama jarak tempuh ke ibukota kabupaten/kota dengan
kendaraan bermotor 1,5 jam
- Lama jarak tempuh ke ibukota kabupaten/kota dengan
berjalan kaki 5 jam.
c. Jarak ke ibukota Provinsi 37 Km
- Lama jarak tempuh ke ibukota provinsi dengan kendaraan
bermotor 60 menit
- Lama jarak tempuh ke ibukota provinsi dengan berjalan kaki
3 jam
Dengan keadaan geografis yang dimiliki desa Banjaran maka banyak
potensi yang terdapat di tempat tersebut, baik itu potensi Pertanian,
Perkebunan, maupun Perternakan.

C. Struktur Penduduk
Jumlah penduduk di Desa Banjaran berjumlah 3842 jiwa dengan
jumlah penduduk berjenis kelamin laki-laki berjumlah 1940 jiwa dan
penduduk berjenis kelamin perempuan berjumlah 1902 jiwa.
Berdasarkan kategori usia Penduduk desa Banjaran terbagi dari usia 0-17
tahun berjumlah 953 jiwa, Usia 18-56 tahun 2471 jiwa dan usia 56 ke
atas berjumlah 418 jiwa.
1. Mata Pencaharian Penduduk
- 80% dari sektor Perkebunan
- 10% dari sektor Pertanian
- 10% dll
- Agama90% Penduduk Banjaran beragama Islam dan 10%
beragama Kristen
- Suku di desa Banjaran adalah suku jawa asli

12
2. Rumah Tangga
Pada umumnya masyarakat masih memasak menggunakan
kayu bakar dan gas.
3. Penerangan sudah menggunakan listrik.
4. Kesehatan penduduk berdasarkan catatan kesehatan masih ada
asam urat dan darah tinggi, dll.
5. Penduduk pada umumnya sudah mempunyai WC.

D. Sarana dan Prasarana


1. Kantor Desa : Ada
2. Prasarana Kesehatan
- Puskesmas : -Buah
- Puskesmas Pembantu : 1Buah
- Poskesdes : Buah
- Posyandu dan Polindes : 1Buah
3. Prasarana Pendidikan
- Perpustakaan Desa : -Buah
- Gedung Sekolah PAUD : -Buah
- Gedung Sekolah TK : 1Buah
- Gedung Sekolah SD : 3Buah
- Gedung Sekolah SMP : -Buah
- Gedung Sekolah SMA : -Buah
- Gedung Perguruan Tinggi : -Buah
4. Prasarana Ibadah
- Masjid : 9Buah
- Mushola : 5Buah
- Gereja : 2Buah
- Pura : -Buah
- Vihara : -Buah
- Klenteng : -Buah
5. Prasarana Umum
- Olahraga : 12Buah
- Kesenian/budaya : -Buah
- Balai pertemuan : -Buah
- Sumur desa : 1Buah
- Pasar desa : -Buah
- Lainnya : -Buah
6. Prasarana Transportasi
- Jalan Desa (Aspal/Beton) : 0.2 Km
- Jalan Kabupaten (Aspal/Beton) : 4.6 Km

13
BAB IV
HASIL PENGABDIAN DAN PEMBERDAYAAN

A. Kerangka Pemecahan Masalah


1. Uraian Masalah
Adapun masalah-masalah yang ditemukan oleh mahasiswa di
Desa Banjaran sebagai berikut:
- Kurangnya kepedulian masyarakat dalam membuang sampah
pada tempatnya, belum adanya tempat sampah, menjadi
masalah mereka sehingga membuang sampah tidak pada
tempatnya. Contohnya belum adanya kotak sampah permanen
di TPA, tempat ibadah dan tempat umum lainnya.
- Banyak anak-anak Di salah satu dusun Desa Banjaran yang
kurang sentuhan dalam bidang pendidikan dan keagamaan.
- Minimnya kordinasi masyarakat tentang kegiatan gotong
royong di setiap dusun.
2. Pemecahan Masalah
Dari pemaparan di atas mengenai masalah-masalah yang di hadapi
oleh mahasiswa KPM selama berada di lokasi KPM adapun
pemecahan dari masalah tersebut adalah:
- Memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang
membuang sampah harus pada tempatnya, Membuatkan Tong
sampah permanen di setiap TPA, Masjid atau tempat umum
lainnya dengan setiap dusun dua tong sampah.
- Memberikan motivasi tentang pentingnya belajar, menulis dan
menghidupkan suasana desa agar masyarakat peduli dengan
pendidikan, pendidikan agama ataupun umum.
- Mengajak masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan
lingkungannya dengan cara mengadakan kegiatan jum’at
bersih (gotong royong)

B. Bentuk Dan Hasil Kegiatan Pengabdian


Selama masa perencanaan program KPM, tidak banyak kegiatan yang
penulis persiapkan untuk dilaksakan di Desa Banjaran, Kecamatan
Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran. Hal ini dikarenakan kurangnya
pengetahuan penulis mengenai kondisi, budaya serta kebutuhan di Desa
Banjaran. Kami hanya merencana kan sedikit kegiatan sebelum
keberangkatan KPM dan sisanya kami sesuaikan dengan kondisi serta
kebutuhan Desa Banjaran disaat penulis telah tiba di lokasi KPM.
Program yang penulis rencanakan serta laksanakan dalam kegiatan KPM
telah melalui proses observasi kebutuhan dan disesuaikan dengan
kemampuan mahasiswa dalam melaksanakannya. Adapun kegiatan yang
telah penulis laksanakan adalah sebagai berikut :

14
Kegiatan revitalisasi manajemen TPA di tiga dusun yaitu dusun satu,
dua dan enam dengan jumlah TPA sebanyak tiga tempat. Belum adanya
tong sampah di TPA dan tempat umum lainnya membuat penulis
menggagas sebuah ide untuk membuat sebuah tong sampah permanen di
setiap dusun. Di setiap dusun diberikan dua tong sampah yang
ditempatkan sesuai dengan hasil survey dan kesepakatan dengan
masyarakat. Awalnya sampah-sampah tersebut dibuang ke sungai maka
dari itu TPSP adalah kegiatan yang urgent dan perlu di adakan.

Kegiatan selanjutya adalah BMB (Belajar Menulis Bersama) kegiatan


BMB bertujuan untuk memberikan motivasi dan mengajak anak-anak
untuk semangat belajar untuk menciptakan sebuah karya, Dengan
memberi pemahaman kepada mereka bahwa belajar dan menulis itu
sangat penting.

Selanjutnya adalah kegiatan jum’at bersih, kegiatan ini dilaksanakan


untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat Desa Banjaran agar
selalu menjaga kebersihan dilingkungannya.

Foto-foto kegiatan tersebut dilampirkan dalam bab lampiran-


lampiran.

C. Faktor-Faktor Pendukung Dan Penghambat Pencapaian Hasil


1. Faktor Pendukung dan Penghambat
Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) di Desa Banjaran
Alhamdulillah dapat dilaksanakan dengan baik. Hal tersebut tidak
terlepas dari faktor pendukung dan faktor penghambat yang ada.
Berikut ini akan dijelaskan dengan lebih terperinci:
2. Faktor Pendukung
Beberapa faktor pendukung pelaksanaan program kami, yaitu:
- Penulis mendapatkan respon yang cukup baik dari Bapak
kepala Desa selaku pemimpin di Desa Banjaran dan juga
dengan pemangku-pemangku dari ketujuh dusun yang ada di
Desa Banjaran.
- Penulis juga mendapatkan masukan-masukan dari beberapa
warga perihal kegiatan apa yang akan kami lakukan selama 40
hari penuh kami mengabdi.
- Adanya antusiasme dari seluruh msyarakat, anak-anak dan
pemuda serta ibu-ibu PKK terhadap keberadaan kami di desa
mereka dan itu juga sangat mempengaruhi kelancaran
kegiatan yang kami adakan di Desa Banjaran.
- Dengan adanya kesiapan dan kematangan program yang kami
lakukan juga menjadi salah satu faktor pendukung kami dalam
melaksanakan KPM ini.
15
- Fasilitas di posko yang cukup memadai.
3. Faktor Penghambat
Dalam melakukan kegiatan selain mendapatkan faktor
pendukung, kami pun mempunyai hambatan selama 40 hari kami
mengabdi kepada masyarakat Desa Banjaran.
- Kurang antusiasnya masyarakat dalam pelaksanaan progja
yang sekiranya membutuhkan dana dari mereka.
- Dana yang kami miliki tidak mencukupi dalam menjalankan
program kerja kami, sehingga kami harus menambahkan
sedikit dari yang kami punya.
- Harapan yang besar dari masyarakat Desa Banjaran terhadap
kami yang tidak dapat kami penuhi semua karena keterbatasan
waktu.

16
BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan
Secara umum pelaksanaan Kegiatan KPM Periode I Tahun 2020 di
Desa Banjaran dapat dikatakan berhasil dengan meninjau dari berbagai
aspek yang menjadi fokus permasalahan meliputi bidang keagamaan
umum dan khusus serta bidang penunjang.
1. Bidang Keagamaan Umum
Mahasiswa mampu menerapkan ilmu yang telah didapatkan dengan
mengajarkan Masyarakat Desa Banjaran peduli dengan lingkungan
sekitar terutama membuang sampah pada tempatnya di TPA atau
tempat umum lainnya.

2. Bidang Keagamaan Khusus


Mahasiswa mampu memberikan pemahaman kepada anak-anak agar
selalu semangat dalam belajar dan menyelesaikan pendidikan ke
jenjang yang lebih tinggi.

3. Bidang Penunjang
Mahasiswa mampu Mengajak masyarakat untuk mengikuti Kegiatan
Jum’at Bersih dlingkungan desa banjaran dengan mengajak semua
elemen masyarakat untuk peduli akan kebersihan.

B. Rekomendasi
Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) merupakan kegiatan
pengabdian kepada masyarakat. Setelah melaksanakan berbagai bentuk
pengabdian masyarakat di Desa Banjaran, Kecamatan Padang Cermin,
Kabupaten Pesawaran, kami merekomendasikan kepada berbagai pihak
yang terkait untuk dapat melanjutkan dan melaksanakan kegiatan
tersebut. Saran-saran ini diharapkan dapat menjadi masukan dan evaluasi
untuk kelancaran kegiatan KPM selanjutnya. Adapun saran-saran
tersebut adalah sebagai berikut :
1. Pemerintah Setempat
a. Lebih memperhatikan potensi-potensi desa sehingga dapat melihat
peluang usaha yang ada dan mengembangkannya.
b. Adanya program pemberdayaan desa untuk meningkatkan
pendidikan dan perekonomian di Desa Banjaran.

2. Lembaga Pusat Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IAIN Metro


a. LPPM IAIN Metro diharapkan dapat lebih fokus dalam
pengawasan KPM dengan cara mendatangi posko KPM satu
persatu tidak dengan perwakilan.

17
b. LPPM IAIN Metro diharapkan melaksankan kegiatan yang sesuai
dengan jadwal yang telah dibuat mengenai jadwal monitoring oleh
LPPM dan memberitahu tentang dokumen-dokumen yang harus
dipersiapkan.
3. Para Aparat Desa
a. Diharapkan dapat mempermudah proses perizinan serta
administrasi dalam rangka pelaksanaan kegiatan KPM.
b. Mendukung secara penuh program kegiatan yang akan
dilaksanakan oleh Tim Pelaksana Kuliah Pengabdian Masyarakat
(KPM).
c. Diharapkan bisa melakukan kerja sama dengan mahasiswa KPM
terkait program kerja yang dijalankan.

18
EPILOG

A. Kesan Masyarakat atas pelaksanaan KPM


Ketika pertama kali rombongan KPM IAIN Metro datang ke Desa
Banjaran Kecamatan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran, seluruh
aparatur desa dan masyarakat menyambut dengan baik dan hangat
kedatangan kami. Kami para mahasiswa KPM IAIN Metro mulai
berinteraksi dengan masyarakat dan perangkat desa melalui kegiatan
silaturahim yang kami buat bersama. saya sangat terkesan dengan
masyarakatnya yang begitu ramah, baik, rukun dan penuh solidaritas.
Masyarakat di Desa Banjaran ini patut diancungi jempol karena
keramahtamahannya, sehingga kami merasa nyaman berada di desa ini.
Masyarakat Desa Banjaran mayoritasnya adalah petani bisa di
bilang masyarakat di desa ini sudah cukup sejahtera. Para generasi muda
di Desa ini kebanyakan meneruskan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi
seperti Perguruan Tinggi dan ada juga yag telah lulus SMA lebih
memilih merantau mencari pekerjaan di luar provinsi. Sesuai dengan
tujuan Kuliah Pengabdian Masyarakat, kami ikut serta dalam beberapa
kegiatan yang dilaksanakan oleh masyarakat maupun Aparatur desa.
Kami juga membuat program-program kerja untuk memberdayakan
masyarakat Desa Banjaran diantaranya optimalisasi peran masjid dan
mushola dengan cara mengajak masyarakat untuk sholat berjamaah,
membantu guru TPA mengajar anak-anak, Pembuatan dan pemasangan
TPSP (Tong Pembungan Sampah Permanen), mengajak anak anak dalam
kegiatan BMB (Belajar Menulis Bersama), AKAS (Ajang Kreasi Anak
Sholeh dan Sholehah), senam bersama di sore hari dan masih banyak lagi
kegiatan yang belum saya tuliskan disini. Dari semua program kerja
tersebut, alhamdulillah masyarakat sangat memberikan kesan yang
positif karena antusias dalam mengikuti semua kegiatan yang telah kami
buat.
Masyarakat sangat berterima kasih kepada kami para mahasiswa
KPM yang sudah membantu dalam berbagai bidang, seperti halnya
bidang agama, bidang sosial dan budaya dan bidang administrasi,
pemerintah dan lingkungan hidup. Masyarakat merasa senang akan
program KPM atau biasa disebut Kuliah Pengabdian Masyarakat ini.
Dengan adanya program ini tentunya masyarakat akan dapat bertukar
ilmu dan pikiran serta dapat memperluas wawasannya. Kami berharap di
Desa Banjaran ini untuk kedepannya semakin berkembang dalam hal
pendidikan, ekonomi dan bidang agama serta bidang-bidang yang
lainnya. Saya juga berharap pemerintah desa harus memberikan wadah
atau tempat untuk pemuda dan masyarakat desa dengan potensi-potensi
yang dimiliki oleh masyarakat Desa Banjaran, Sehingga desa ini dapat
dikenal oleh masyarakat luas.

19
Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada Bapak Kepala Desa
dan seluruh Aparatur Desa yang telah menerima, membimbing, dan
mendukung kami untuk belajar langsung terjun ke masyarakat sesuai
dengan tujuan KPM IAIN Metro. Ucapan terima kasih juga saya
sampaikan kepada semua masyarakat Desa Banjaran bapak-bapak, ibu-
ibu, pemuda-pemudi, adik-adik dan seluruh masyarakat yang ada di
Desa Banjaran telah mendukung kelancaran kegiatan kami, karena tanpa
dukungan dan support dari masyarakat kegiatan kami ini tidak akan
berjalan dengan lancar dan baik
Selama 40 hari kegiatan KPM kami di Desa Banjaran yaitu
tanggal 16 Januari - 24 Februari, kami menyadari bahwa kehadiran kami
disini belum dapat memberikan sumbangsih yang besar terhadap Desa
Banjaran, tapi mudah-mudahan KPM kami ini dapat memberikan sedikit
perubahan dan warna bila dibanding tahun-tahun sebelumnya.

B. Penggalan Kisah Insiratif KPM

Tiang Listrik Ajaib Desa Banjaran


KPM adalah kegiatan rutin Mahasiswa yang diadakan oleh setiap
PTKIN di Indonesia. Kali ini IAIN Metro Lampung mengadakan kegiatan
KPM ini di Kabupaten Pesawaran di beberapa Kecamatan disana. KPM
merupakan mata kuliah yang harus diampu oleh Mahasiswa di semester VIII
dengan jumlah SKS, 4 SKS. saya ditempatkan di desa banjaran kecamatan
padang cermin kabupaten pesawaran. Dengan induk semang bapak adek (pak
Kadus Dusun III) dengan istri bernama yuni dengan dua anaknya.
Tiang listrik ajaib atau sering saya sebut tiang listrik bagaikan tower
ini kami temukan setelah dua hari mulai bermalam disini. Kegelisahan terjadi
karena semua sim card (kartu) yang digunakan sama sekali tidak dapat
mengeluarkan sinyal secara lancar bahkan tidak muncul sama sekali saat
didalam kediaman pak adek (pemondokan kami). Kami masing-masing
mahasiswa sebanyak 12 mahasiswa resah dan gelisah seperti seseorang yang
sedang putus cinta.
Selang dua hari disini, pada malam pertama saya berdua dengan Tomi
(kawan laki-laki satu kelompok) bercengkrama dengan pemuda desa yang
nongkrong dan gitaran dibok (gorong-gorong) kali kecil dekat pemondokan.
Lalu kita berkomunikasi dengan mereka.
“assalamualaikum mas, saya arifin mas. Saya tomi mas” ucap kami berdua
dengan berjabat tangan dengan 6 pemuda yang nongkrong dibok itu.
“kami baru datang tadi mas, kami KKN (KPM) dari IAIN Metro Lampung,
kami ada dua kelompok satu kelompok berjumlah 12 mahasiswa dengan 2
laki laki mas yang lainnya perempuan” Tegas saya.
“oh okeh juga yo mas, lakinya Cuma dua ya mas? “pertanyaan dari mas yuel
salah satu pemuda yang sedang bernyanyi dan menanggapi kami berdua.
20
“Iya mas Cuma dua, tapi kami ada dua kelompok jadi laki-lakinya ada empat,
satu kelompok di rumah pak kadus adek dan satu kelompoknya di rumah mas
Riono” kata saya sambil maenan hp tanpa sinyal.
“Mas pake kartu apa to mas kami disini bingung pake emTri (M3) sama Tri
(3) ko ga bisa ya” kalimat Tanya saya
“oh disini telkomsel mas tapi ya memang susah juga meskipun telkomsel
kadang lancar kadang engga” kata tegar salah satu pemuda yang duduk
disamping saya
“itu mas disini yang kadang banyak sinyal di itu bawah tiang listrik depan
pak kadus, kalau kami maen game atau VC an kita duduk disitu” kata willi
yang duduk disamping tegar
“wah apa iya mas, besok tak cobanya” ucap tomi
“Pin, saya kebelet boker” Tomi
“nanti Tom, bentar lagi to” Aripin
“Prettttt,”
“matane tomi” ucap saya sambil ketawa
“ayook, saya udah engga kuat” kata tomi sambil ekspresi ngempet buang air
besar
“iya iyaaa, mas kami istirahat ya mas, dilanjut besok lagi saya akan sering
bertanya dan berkoordinasi dengan sampean-sampean” kata saya sambil
berjalan pamitan dan berjabat tangan
“oke mas siap yang penting koordinasi mas” kata pemuda disamping yoel
saya lupa namanya
“besok saya jemput mas sore, ikut voli aja mas” kata yoel
“siap mas” ucap kami berdua sambil jalan ke pemondokan
Dari komunikasi itulah saya dan tomi penasaran dengan tiang listrik
yang disebutkan mas mas nya tadi. Pagi setelah sholat shubuh dan berberes
rumah sekitaran jam 05:20 saya hidupkan data di hp, bersama lalu berjalan
dan duduk dibawah tiang listrik ajaib itu.
“mantap, lancar M3 disini” kata tomi
“ko saya engga tom, saya lihat hp ternyata masih data Tri (3), lalu saya ganti
simcard data menjadi M3, “wow lancar jaya” , semua Whatsapp dari kemarin
baru pada masuk” bahagia banget ekspresi saya kayak lagi jatuh cinta (sambil
senyam senyum balesin Whatsap yang baru masuk)
“tom kok hilang sinyalnya” kata saya
“iyaa ilang pin, haduhh” jawab tomi
Saya lihat sudah jam 06:12, ternyata adanya sinyal lancar adalah
setiap pagi dan dibawah tiang listrik ajaib ini. Kadang kadang sinyal ada sih
tapi tidak sebegitu lancar kadang sering hilang, tapi kalau dibawah tiang
listrik ini bagaikan tower sinyal yang lancar jaya (kadang). Jadi selanjutnya
setiap kami ingin berkomunikasi lewat wa harus duduk dibawah tiang listrik
ini di jam-jam tertentu. Pagi dan malam hari, itupun hanya beberapa menit
lancar lalu sinyalnya santai kayak dipantai. Terimakasih tiang listrik ajaib
bagaikan tower telah membuatku sedikit tenang.
21
DAFTAR PUSTAKA

Adi, Isbandi Rukminto. 2009. Intervensi Komunitas Pengembangan


Masyarakat sebagaiUpaya Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta: PT
Rajagrafindo Persada.

Affandi, Agus dkk. 2014.Modul Participatory Action Research(PAR),


Untuk Pengorganisasian Masyarakat (Community Organizing).Surabaya:
LPPM UIN Sunan Ampel.

Ahmad, Munawar “Asset Based Communities Development (ABCD):


Tipologo KKN Partisipatif UIN Sunan Kalijaga Studi Kasus Pelaksanaan
KKN ke-61 di Dusun Ngreco Surocolo, Seloharjo, Pundong, Bantul Tahun
Akademik 2007,” UIN Sunan Kalijaga: Jurnal Aplikasi Ilmu-Ilmu Agama,
Vol 8, No 2.

Huda, Miftachul. 2009.Pekerjaan Sosial dan Kesejahteraan Sosial.


Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Nugraha, Eva. 2016.Panduan Penyusunan Buku Laporan Hasil KKN-


PpMM 2016, Jakarta: Pusat Pengabdian kepada Masyarakat UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.

Profil Desa Banjaran.

Suharto, Edi. 2007.Pekerja Sosial di Dunia Industri. Bandung: PT


Refika Aditama.

Suwartiningsih, “Implementasi PAR Dalam Pendidikan Agama Islam,”


Jurnal Paradigma, Vol 2 (2015)

22
BIOGRAFI SINGKAT

Arifin Dwi Saputra lahir di Sukadamai Kecamatan


Natar Kabupaten Lampung Selatan pada tanggal 15
Oktober 1999, riwayat pendidikan SD N 4 Sukadamai,
SMP N 1 Kibang, SMA N 1 Kibang Melanjutkan
Studi ke Kampus IAIN Metro Lampung. Hobbi saya
adalah sesuatu yang mengeluarkan keringat yang
paling saya suka adalah olahraga futasal atau sepak
bola, makanan favorit adalah semua suka yang paling
saya sukai adalah Mie Ayam Bakso, minuman favorit
yang terpenting dingin.

23
LAMPIRAN- LAMPIRAN

LAMPIRAN I
DOKUMENTASI

Gambar 1.1
Pembuatan TPSP (Tong Pembuangan Sampah Permanen)

24
Gambar 1.2
Kegiatan BMB (Belajar Menulis Bersama)

25
Gambar 1.3
Kegiatan The Jum’Bers (Jumat Bersih) bersama masyarakat dan siswa
siswi SD N 8 Padang Cermin

26