Anda di halaman 1dari 6

RANGKUMAN MATERI DIKLAT TRANSNATIONAL ORGANIZED CRIME

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Berdasarkan Undang-Undang No. 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang No.
10 Tahun 1995 Tentang Kepabeanan dan Undang-Undang No. 39 Tahun 2007 tentang
Perubahan atas Undang-Undang No. 11 Tahun 1995 tentang Cukai, secara umum tugas utama
DJBC dikategorikan dalam 2 (dua) fungsi utama yaitu Pengawasan dan Pelayanan, yang
diuraikan sebagai berikut :
1. Revenue Collection, yaitu mengamankan dan memungut penerimaan Negara;
2. Trade Facilitation, yaitu mendukung kelancaran ekspor dan impor;
3. Industrial Assistance, yaitu pemberian fasilitas di bidang Kepabeanan dan Cukai;
4. Community Protection, yaitu mencegah masuknya barang-barang yang dilarang atau
dibatasi.

B. Identifikasi Masalah

Langkah strategi dalam menangani kejahatan lintas Negara yang semakin komplek dan
dinamis tentunya dengan pengembangan kapasitas dan konstruksi pengawasan di bidang
kejahatan lintas Negara dengan pembentukan unit eselon III yakni Subdirektorat Kejahatan
Lintas Negara (KLN).

1. Kejahatan Lintas Negara


Kejahatan Lintas Negara memiliki karakteristik seperti:
a. Kejahatan Terorganisir adalah kegiatan konspiratorial, yang melibatkan koordi nasi
banyak orang dalam perencanaan dan pelaksanaan tindakan illegal dalam mengejar
tujuan yang sah dengan cara melanggar hukum.
b. Kelompok-kelompok criminal terorganisir biasanya memiliki struktur hierarkis dengan
seorang pemimpin.
c. Kelompok-kelompok kejahatan terorganisasi terutama dimotivasi oleh keuntungan
ekonomi dan, pada tingkat yang lebih rendah, kekuasaan dan status. Keuntungan
ekonomi diperoleh melalui kejahatan perusahaa, terutama dengan mempertahankan
monopoli atas komoditas gelap.
d. Kejahatan terorganisir menggunakan taktik pemangsa, seperti intimidasi, kekerasan dan
korupsi, untuk memajukan operasi mereka dan melindungi organisasi dan keuntungan
mereka.
e. Terakhir, kejahatan terorganisasi tidak termasuk terorisme kelompok anti pemerintah,
yang terutama didedikasikan untuk transformasi politik atau ideologis, dari pada
keuntungan ekonomi.

Contoh kejahatan terorganisir transnasional seperti : Perdagangan narkoba, penyelundupan


imigran, perdagangan manusia, pencucian uang, perdagangan senjata api, barang palsu,
margasatwa dan properti budaya dan aspek kejahatan dunia maya.
2. Larangan dan Pembatasan
Penyelundupan, terorisme, pencucian uang, narkotika, perdagangan satwa liar, dan tindak
kejahatan lainnya membuat hamper setiap Negara menciptakan hambatan (barrier) untuk
membatasi penetrasi pelaku usaha asing untuk masuk ke negaranya. Hambatan terbagi
dalam dua jenis yaitu : Hambatan berupa tariff (Tariff Barrier) dan Hambatan non tariff (Non
Tariff Barrier) atau lazimnya di Indonesia disebut larangan dan pembatasan.
Tariff Barrier adalah instrument dalam rangka penerimaan sedangkan Non Tariff Barrier
digunakan sebagai instrument dalam rangka melarang atau membatasi suatu komoditi yang
membahayakan atau berdampak besar terhadap keselamatan, keamanan, kesehatan dan
lingkungan hidup.

C. Maksud / Tujuan Pembentukan Subdirektorat Kejahatan Lintas Negara.

1. Meningkatkan efektivitas pelaksanaan tugas pengawasan yang berfokus pada bidang


pengawasan kejahatan terorganisasi lintas Negara.
2. Membangun dan meningkatkan hubungan / koordinasi dengan instansi teknis terkait yang
memiliki tugas di bidang larangan pembatasan TPPU, HKI, Terorisme dan Kejahatan Lintas
Negara lainnya kecuali narkotika baik pada skala nasional maupun internasional.
3. Meningkatkan peluang kerjasama dengan instansi penegak hukum dari berbagai Negara
terkait isu keamanan global yang sesuai dengan tugas dan fungsi DJBC.
4. Meningkatkan peranan DJBC baik bilateral, regional serta global dalam lingkup
pengungkapan kejahatan terorganisasi lintas Negara.

D. Dasar Hukum

1. Undang-undang nomor 10 Tahun 1995 jo. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang
Kepabeanan (pasal 54 s.d. 64a)
2. Undang-undang nomor 9 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak
Pidana Pendanaan Terorisme
3. Undang-undang nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang
4. Peraturan Pemerintah nomor 99 Tahun 2016 tentang Pembawaan Uang Tunai dan/atau
Instrumen Pembayaran Lain ke Dalam atau ke Luar Daerah Pabean Indonesia
5. Peraturan Pemerintah nomor 20 Tahun 2017 tentang Pengendalian Impor atau Ekspor
Barang yang diduga merupakan atau berasal dari Hasil Pelanggaran Hak Kekayaan
Intelektual
6. Peraturan Presiden nomor 6 Tahun 2012 tentang Komite Koordinasi Nasional Pencegahan
dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
7. Keputusan Presiden nomor 4 Tahun 2006 tentang Pembentukan Tim Nasional
Penanggulangan Pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual
8. Peraturan Mahkamah Agung nomor 4 Tahun 2012 tentang Penangguhan Sementara
9. Peraturan Menteri Keuangan nomor 166/PMK.04/2014 tentang Penyampaian Data
Penumpang Atas Kedatangan atau Keberangkatan Sarana Pengangkut Udara ke atau dari
Daerah Pabean
10. Peraturan Menteri Keuangan nomor 157/PMK.04/2017 jo. Peraturan Menteri Keuangan
nomor 100/PMK.04/2018 tentang Tata Cara Pemberitahuan dan Pengawasan, Indikatir yang
Mencurigakan, Pembawaan Uang Tunai dan/atau Instrumen pembayaran Lain, Serta
Pengenaan Sanksi Administratif dan Penyetoran ke Kas Negara
11. Peraturan Menteri Keuangan nomor 40/PMK.40/2018 tentang Perekaman, Penegahan,
Jaminan, Penangguhan Sementara, Monitoring dan Evaluasi Dalam Rangka Pengendalian
Impor atau Ekspor Barang yang di duga merupakan atau Berasal dari hasil Pelanggaran Hak
Kekayaan Intelektual
12. Peraturan Menteri Keuangan nomor PMK 234/PMK.01/2015 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Kemenkeu
13. Peraturan Menteri Kauangan nomor 97/PMK.01/2017 tentang Tata Kelola Teknologi
Informasi dan Komunikasi di Lingkungan Kementerian Keuangan
14. Keputusan Menteri Keuangan nomor 479/KMK.01/2010 tentang Kebijakan dan Standar
Sistem Manajemen Keamanan Informasi di Lingkungan Kemenkeu

II. KONDISI DAN PERMASALAHAN YANG DIHADAPI

A. Faktor Internal
1. Perubahan Beban Kerja
Beban kerja pada seksi Larangan Pembatasan dan Kejahatan Lintas Negara meningkat.
2. Perluasan Ruang Lingkup Pekerjaan
- Adanya perluasan ruang lingkup penyidikan
- Adanya perluasan ruang lingkup yang ditangani terkait terorisme
- Adanya perluasan ruang lingkup yang ditangani terkait HKI
- Adanya perluasan ruang lingkup yang ditangani terkait dukungan operasi TNOC dan
Cyber
B. Faktor Eksternal
1. Kebijakan Pemerintah
2. Perkembangan social, ekonomi, teknologi dan informasi

III. TUGAS PENGAWASAN DAN PENGELOLAAN INFORMASI LARTAS DAN KEJAHATAN LINTAS NEGARA
SAAT INI

A. Pengendalian Impor atau Ekspor Barang Pelanggaran HKI / IPR (Intelectual Property Right)
Tugas-tugas yang akan dilakukan :
a. Penyusunan Rancangan Peraturan Menteri Keuangan Hak Kekayaan Intelektual Skema
Judicial
b. Menyelesaikn MoU antara DJBC dan DJKI untuk koneksi CEISA HKI dengan Database DJKI
c. Reengineering Sosialisasi HKI kepada pemilik merek atau pemegang hak cipta untuk
mendorong rekordasi
d. Penyelenggaraan Diklat HKI dalam materi kurikulum Diklat TNOC oleh Pusat Pendidikan dan
Pelatihan Bea Cukai
B. Pencegahan pelanggaran peraturan perundang-undangan kepabeanan di bidang barang yang
terkait terorisme dan / atau kejahatan lintas Negara dengan mengembangkan aplikasi analisa
data penumpang pesawat udara
Passenger Name Record (PNR) data adalah informasi yang diberikan oleh penumpang selama
reservasi dan pemesanan tiket yang dikumpulkan oleh maskapai penerbangan untuk tujuan
komersial mereka sendiri. Data ini berisi beberapa jenis informasi, seperti : tanggal, jadwal
perjalanan, informasi tiket, rincian kontak, agen perjalanan melalui mana pesawat itu dipesan,
alat pembayaran yang digunakan, nomor tempat duduk dan informasi bagasi. Data tersebut di
atas yang akan digunakan untuk menganalisa penumpang yang dapat membawa barang yang
terkait terorisme.
C. Kejahatan lintas Negara
Dengan semakin besarnya tantangan terkait unit Kejahatan Lintas Negara di Indonesia, DJBC
diharuskan untuk lebih berperan aktif dan meningkatkan peranan Indonesia di peta pengawasan
regional bahkan global terutama dalam pengawasan objek-objek kejahatan lintas Negara. Oleh
karena itu, DJBC melalui Seksi Intelijen Lartas dan KLN telah melakukan penyusunan kajian
terkait Subdit Kejahatan Lintas Negara.

IV. OPERASI DJBC BERSAMA INSTANSI LAIN


Terdapat beberapa bentuk kerjasama antara DJBC dengan Instansi terkait dalam rangka
penanggulangan teroris :
1. Operasi bersama Interpol
2. Pelatihan yang diadakan oleh Interpol
3. Kegiatan bersama BNPT untuk pemetaan dan sosialisasi di border
4. Pemberitahuan dan permintaan atensi terhadap Daftar Terduga Teroris dan Organisasi Teroris
dari Mabes Polri (Densus 88 Anti Teror)

Tugas selanjutnya, sebagai berikut :

1. Menyelesaikan kajian terkait Subdit Kejahatan Lintas Negara


2. Menyelesaikan kajian terkait perubahan struktur organisasi Subdit Intelijen
3. Konsep RPMK tentang Penindakan Kepabeanan atas Barang yang Diduga Terkait Tindakan
Terorisme dan/atau Kejahatan Lintas Negara
4. Membuat updating SRA persiapan audit FATF bersama Subdit Penyidikan dengan materi terkait
pembawaan uang tunai dan anti money laundering and terrorism financing, sementara itu
menunggu National Risk Assessment / NRA dari PPATK

V. BENCHMARKING
Benchmarking merupakan suatu proses membandingkan dan mengukur suatu kegiatan
perusahaan/organisasi terhadap proses operasi yang terbaik di kelasnya sebagai inspirasi dalam
meningkatkan kinerja (performance) perusahaan/organisasi. Oleh sebab itu, dengan dibentuknya
Subdirektorat Kejahatan Lintas Negara dalam menanggulangi kejahatan internasional yang sekarang
banyak terjadi, dianggap dapat membantu DJBC untuk meningkatkan kinerjanya.

A. Instansi Dalam Negeri


1. Mabes Polri
2. National Central Bureau-Interpol Indonesia (NCB-Interpol Indonesia)
3. Kementerian Luar Negeri
4. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK)

VI. STRUKTUR ORGANISASI

A. Stuktur Reorganisasi
Komposisi Subdit Kejahatan Lintas Negara yang perlu dibentuk sebagai berikut :
1. Seksi Penanggulangan Tindak Pidana Kejahatan Pencucian Uang
2. Seksi Penanggulangan Terorisme dan KLN Lain
3. Seksi Hak Kekayaan Intelektual
4. Seksi Dukungan Operasi TNOC dan Cyber

Sedangkan Subdit Intelijen sebagai berikut :

1. Seksi Intelijen Kepabeanan (Termasuk Lartas)


2. Seksi Intelijen Cukai
3. Seksi Intelijen Fasilitas
4. Seksi Dukungan Operasi Intelijen

Direktorat Penindakan dan Penyidikan sebagai Berikut :

1. Subdit Intelijen
2. Subdit Penindakan
3. Subdit Penyidikan
4. Subdit Sarana Operasi
5. Subdit Patroli Laut
6. Subdit KLN

VII. PENGAWASAN KANTOR WILAYAH DJBC SULAWESI BAGIAN SELATAN TERHADAP KEJAHATAN
LINTAS NEGARA
Pengawasan Kantor Wilayah DJBC Sulbagsel pada Pelabuhan Laut, Bandara Internasional dan Kantor
Pos / PJT yang meliputi wilayah-wilayah sebagai berikut :
1. Propinsi Sulawesi Selatan
2. Propinsi Sulawesi Barat
3. Propinsi Sulawesi Tenggara

A. Pengendalian Impor/Ekspor Barang Pelanggaran HKI


Kantor Pusat Direktorat Penindakan dan Penyidikan sedang dalam proses penerimaan
permohonan recordation yang dibuka yaitu mulai tanggal 18 Juni 2018, dan sampai saat ini
sudah ada 4 (empat) perusahaan yang telah mengajukan permohonan recordation. Setelah
proses tersebut, barulah Kantor Wilayah DJBC Sulbagsel dapat memulai pengawasan HKI,
adapun prosedur penindakan dan penyidikan sesuai dengan PMK nomor 40/PMK.04/2018
tentang Perekaman, Penegahan, Jaminan, Penangguhan Sementara, Monitoring dan Evaluasi
Dalam Rangka Pengendalian Impor atau Ekspor Barang yang Diduga Merupakan atau Berasal
dari Hasil Pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual.

B. Pengawasan Penyelundupan Narkotika, Psikotropika dan Prekursor


Berdasarkan data hasil pengawasan Kanwil DJBC Sulbagsel yaitu jumlah tangkapan terkait NPP
dari luar negeri yang masuk melalui wilayah kami terhitung sedikit dibanding dengan daerah
lain. Beberapa faktor yang mempengaruhi hal tersebut, sebagai berikut :
a. Wilayah Geografis pengawasan kami yang tidak berbatasan langsung dengan Negara-negara
tetangga;
b. Jumlah frekuansi penumpang pesawat dari dan ke Luar Negeri terhitung sedikit, sehingga
berisiko tinggi kedapataan bagi para penyelundup NPP dari dan ke Indonesia.

Namun berdasarkan data dari Polri, kedapatan pengguna NPP di wilayah kerja kami masih cukup
banyak, sehingga :
1. Kami tetap secara gencar, cermat dan mendetail melakukan pengawasan di Terminal
Penumpang Bandara Internasional, barang impor yang melalui kargo Bandara maupun
Pelabuhan laut dan Barang Kiriman di Kantor Pos/PJT terhadap NPP;
2. Dengan kerjasama yang baik dengan wilayah-wilayah kerja DJBC lain maupun instansi lain,
meningkatkan sistem patroli laut dengan informasi yang akurat dan tepat sasaran di wilayah
kerja kami dan sekitarnya;
3. Sangat perlu adanya tusi DJBC dalam pengawasan antar pulau di Indonesia terkait NPP,
khususnya yang masuk ke Wilayah kerja kami.

C. Pengawasan Terhadap Pendanaan dan Barang dari Luar Negeri Terkait Kegiatan Terorisme
Berdasarkan Undang-undang nomor 9 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan
Tindak Pidana Pendanaan Terorisme dan Undang-undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, DJBC dituntut untuk ikut serta dalam pengawasan
arus pendanaan dan barang terkait kegiatan terorisme di Border (Perbatasan). Maka Kanwil
DJBC Sulbagsel melakukan pengawasan dengan memaksimalkan Passenger Risk Management
(PRM) dan Data dari Polri yaitu Data Terduga Teroris dan Organisasi Teroris (DTTOT) di wilayah
kerja kami. Namun sampai saat ini, belum ada hasil intelijen maupun penindakan terkait hal
tersebut.

D. Pengawasan Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang


Berdasarkan Undang-undang nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, DJBC
diharapkan dapat lebih berperan aktif dalam penindakan dan penyidikan Tindak Pidana
Pencucian Uang, dengan bekerjasama dengan PPATK yang dapat mengasilkan analisa yang
mendetail terkait aliran dana pada sistem keuangan. Namun sampai pada saat ini Kanwil DJBC
Sulbagsel belum pernah melakukan penindakan atau penyidikan terkait TPPU.

VIII. KESIMPULAN

Sebagai siswa pada Diklat TNOC ini, saya diberikan pengetahuan yang lebih luas terkait
Kejahatan Lintas Negara saat ini. Berdasarkan pengetahuan tersebut dan dengan berlandaskan
dasar hukum dan regulasi yang telah diajarkan, saya sebagai pegawai DJBC akan
mengimplementasikannya melalui pengawasan di wilayah kerja Kanwil DJBC Sulbagsel. Terutama
dengan dukungan dari atasan, semoga dapat membuahkan hasil yang optimal bagi bangsa
Indonesia.
Demikian Rangkuman Materi Diklat Transnational Organized Crime ini saya buat, mohon maaf
apabila ada kesalahan kata-kata dalam rangkuman ini.

Jakarta, 08 Juli 2019


Pusdiklat DJBC

Franklyn Manuel Ferdinandus


198309162003121001