Anda di halaman 1dari 26

ARSITEKTUR INDIA

A. LETAK GEOGRAFIS

 Batas-batas:
– Utara : Nepaal, Bhutan dan China
– Timur : Bangladesh, Myanmar dan Teluk Benggala
– Selatan: Sri Lanka dan Samudera Hindia
– Barat : Pakistan dan Laur Arab
 India memiliki beberapa sungai besar
seperti Sungai Gangga, Brahmaputra,
Yamuna, Godavari dan Khrisna.
 Bentang alam dapat dibagi menjadi:
– Dataran pegunungan Himalaya di utara.
– Dataran rendah Gangga di tengah
– Semenanjung India di selatan berupa perbukitan dan pegunungan

 Sistem perairan dan pengairan


Daerah Lembah Sungai Indus merupakan daerah yang subur dan pertanian menjadi mata
pencaharian India. Mereka telah berhasil menyalurkan air dari Sungai Indus sampai jauh ke
pedalaman.
Hasil pertanian meliputi gandum, gula/tebu, kapas, teh, dll.
 Sanitasi atau kesehatan
Masyarakat Mohenjodaro dan Harappa telah memperhatikan kesehatan terutama
lingkungan, seperti rumah mereka telah dilengkapi oleh jendela.
 Teknologi
Masyarakat Lembah Sungai Indus sudah memiliki ilmu pengetahuna dan teknologi, dapat
diketahui dari peninggalan mereka seperti patung, perhiasan emas, perak, dan berbagai macam
meterai dengan lukisannya yang bermutu tinggi serata alat peperangan seperti tombak, pedang
dan panah.

 Pemerintahan
Raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Maurya, antara lain:

7-1
• Candragupta Maurya yang menjadi raja pertama setelah mengusir pasukan
Iskandar Zulkarnaen. Dalam waktu singkat, Kerajaan Muarya sudah mencapai
daratan yang luas.
• Ashoka (268-282 SM) yang merupakan cucu dari Candragupta Muarya. Setelah
Asokha meninggal keerajaan pecah belah dan lahir Kerajaan Gupta dengan
Candragupta I sebagai rajanya.
 Kepercayaan
Sistem kepercayaan masyarakat Lembah Sungai Indus bersifat polytheisme (memuja
banyak dewa) seperti dewa kesuburan dan dewa kemakmuran.
Masyarakat juga menyembah hewan, seperti buaya dan gajah.
 Kebudayaan Indus runtuh pada tahun 1000 SM disebabkan oleh:
 Adanya bencana banjir dari Sungai Indus (Shindu)
 Karena diserang Bangsa Arya

Peradaban Lembah Sungai Gangga

 Pusat peradabannya terletak antara Pegunungana Himalaya dan Pegunungan Vindya-


Kedna.
 Penduduk peradaban Lembah Sungai Gangga adalah bangsa Arya yang termasuk bangsa
indo-Jerman. Mereka masuk wilayah India diperkirakan antara tahun 200-1500 SM.
 Bangsa Arya mengalahkan bangsa Dravida di Lembah Sungai Indus dan akhirnya mereka
hidup menetap.
Kebudayaan campuran antara bangsa Arya dan Dravida dikenal dengan sebutan kebudayaan
Hindu.

 Bangsa Arya mengatur tatanan sosial masyrakat dalam kasta, yaitu:


– Kasta Brahmana : kaum agamawan (Bangsa Arya)
– Kasta Ksatria : kaum peerintahan (Bangsa Arya)
– Kasta Waisya : kaumpetani dan pedagang (Bangsa Arya & Dravida)
– Kasta Sudra : Kaum pekerja (hanya Bangsa Dravida)
– Kasta Paria/Candala atau “kaum terbuang” dan dipandang hina
 Pemerintahan
Pemerintahan di Lembah Sungai Gannga merupakan kelanjutan dari Lembah Sungai
Indus. Yaitu dilanjutakan oleh Kerajaan Gupta (Raja Candragupta I)dan Kerajaan Harsha
(Harshawardana).

 Kepercayaan
• Agama Hindu yang menyembah banyak dewa (Polytheisme) antara lain Dewa
Bayu (Dewa Angin), Dewa Baruna (Dewa laut), Dewa Agni (Dewa Api), dan lain
sebagainya. Dan 3 dewa utama yaitu Dewa Brahma (Pencipta Alma), Dewa Wisnu
(Pemelihara Alam) dan Dewa Siwa (Perusak Alam).
• Kemudia muncul agama Budha oleh Sidharta Gautama karena menentang kasta.
 Peninggalan
• Kitab Ramayana karangan Resi Walmiki yang menceritakan kisah Rama putra
Raja Dasaratha
7-2
• Kitab Mahabrata karangan Resi Wiyasa menceritakan keluarga besar Bharata yang
memerintah di Kerajaan Hastina.

Kerajaan yang berpengaruh dalam arsitektur Hindu di India Selatan yaitu:

1. Kerajaan Pallava, memerintah dari abad ke-6-9 Masehi. Kuil besar yang dibangun pada masa
pemerintahannya yaitu kuil Mahabalipuram, Ibukotanya Kanchipuram, sekarang berada di
wilayah Tamilnadu.

2. Kerajan Chola, kerajaan ini berkuasa pada tahun 900-1150 M diperintah oleh Raja Chola I dan
putranya Rajendra Cholaruled dan membangun kuil Brihadeshvara dan kuil Siwa Thanjavur.

3. Kerajaan Chalukya Badami yang disebut Chalukya awal yang diperintah oleh, Badami pada
tahun 543 - 753 M yang kemudian menghasilkan langgam Vesara disebut juga Arsitektur
Chalukya Badami. Contoh yang paling bagus dari seni kuil ini nampak pada kuil Pattadakal,
Aihole dan Badami di Karnataka utara. Leibh dari 150 kuil tertinggal di lembah Malaprabha.

4. Kerajaan Rashtrakuta yang memerintah wilayah Manyakheta, Gulbarga tahun 753-973 M


membangun beberapa kuil Dravida di Ellora (kuil Kailasanatha). Kuil lain yang menarik yaitu
kuil Jaina Narayana di Pattadakal dan kuil Navalinga, Kuknur di Karnataka.

5. Chalukya Barat disebut juga Chalukya Akhir yang memerintah Decca dari tahun 973-1180 M
menghasilkan kembali langgam chalukya dikenal dengan langgam Gadag, yang artinya di dalam
dan antara (in-between). Terdapat lebih dari 50 kuil yang masih bediri di sekitar sungai Krishna,
di tengah Kartanaka. Kuil Kasi Vishveshvara di Lakkundi, Mallikarjuna di Kuruvatii,
Kalleshwara di Bagali dan Mahadeva di Itagi merupakan kuil-kuil yang indah dan menarik yang
dibangun oleh arsitek-arsitek semasa kerajaan Chalukya akhir.

6. Raja Hoysala memerintah India Selatn pada tahun 1100-1343M dan mengembangkan sebuah
konsep arsitektur yang disebut Hoysala Arsitektur id negara Karnataka. Karya arsitektur kuil yang
terbaik yaitu kuil Chennakesava di Belur, kuil Hoysaleswara di Halebidu, dan kuil Kesava di
Somanathapura.

7. Kerajaan Vijayanagar yang memerintah seluruh wilayah India Selatan pada tahun 1343-1565 M
membangun sejumlah kuil di ibukota Vijayangar dengan menggabungkan beberapa langgam yang
berkembang di India Selatan pada masa sebelumnya. Beberapa elemen yang dihasilkan dari karya
tersebut yaitu pilar Yali (pillar yang bersimbol kuda), balustrade ( parapets) and pilar berhias
(manatapa). Beberapa raja yang memerintah Vijayanagar membangun kuil-kuil yang kemudian
dikenal sebagai gaya arsitektur Vijayanagar.

Kuil hindu memiliki empat ruang prinsip dalam perancangannya yang


menjadi konsep arsitektur Hindu yaitu Garbha griha, Mantapa, Gopura dan
Choultri dengan penjelasan sebagai berikut :

1. Garbha griha
Merupakan bagian utama dan terpenting dari kuil dan merupakan inti/induk bangunan yang
disebut vimana (di India Selatan) atau mulaprasada (di India Utara). Denahnya berbentuk
bujursangkar atau persegi, untuk kuil yang kecil biasanya perbandingan antara tinggi dan lebar
bangunan 1:1 atau berbentuk kubus, dan kuil yang besar biasanya tingginya jauh lebih besar
7-3
daripada lebarnya. Terdapat bagian yang tegak lurus terbuat dari batu dan granit yang didekorasi
dengan pilaster dan ornamen. Vimana beratap tingkat seperti pyramid umumnya terbuat dari bata
yang diplester dengan semen kemudian diakhiri dengan ‘dome’ kecil (umumnya di india selatan).
Vimana yang terbesar di Tanjore yang terdiri dari 14 tingkat dengan tinggi hampir 200 ft.

2. Pelataran depan atau Mandapa


Pelataran depan atau Mantapa, ruang bagian luar yang sebagian dilingkupi dinding yang memiliki
pintu. Satu pintu sebagai penghubung ke vimana sedangkan pintu lain sebagai akses jalan dan
masuknya cahaya ke ruang dalam. Ruang mandapa berbentuk bujursangkar atau persegi, biasanya
sama bentuknya dengan bangunan kuil inti (vimana). Beberapa kuil memilki ‘mandapa luar atau
Maha Mandapa’ dan ‘mandapa dalam atau Ardha Mandapas’. Ada juga kuil yang memiliki
gabungan dari kedua mandapa, biasanya yang mandapa luar bersifat terbuka dan mandapa dalam
bersifat tertutup. Atapnya berbentuk piramid, tapi jauh lebih rendah dari atap vimana, sering juga
berbentuk flat yang tidak berornamen. Atap ditopang oleh pilar, akan tetapi sebisa mungkin
dikurangi jumlah pilar dengan membuat kotak-kotak pembalokan pada ceiling ( bracketing).

3. Gerbang Piramid ‘ Gopura’


Gerbang atau Gopura adalah jalan masuk kompleks halaman kuil yang berbentuk persegi yang
biasanya mengitari vimana. Jumlah gerbang mengikuti jumlah dinding pagar, kadang-kadang juga
melebihi jumlah dinding pagar. Bentuk gapura indentik dengan vimana, meskipun demikian
terdapat satu sisi yang lebih besar dan lebih panjang. Pada sisi yang panjang terdapat bukaan yang

7-4
biasanya 1/4-1/7 dari lebarnya. Gerbang piramid yang paling besar dimiliki oleh kuil di
Combaconum, ibukota Kerajaan Chola setelah penolakan Tanjore. Terdiri dari 12 tingkat
termasuk basemen yang terbuat dari granit dan datar, sementara keseluruhan piramid terbuat dari
batu bata diplester dengan sculpture dan ornamen.

4. Hall berpilar atau ‘ Choultri’,


Choultri merupakan bangunan extra di sekitar kompleks kuil. Biasanya digunakan untuk berbagai
kegiatan upacara: tarian, nyanyian dan upacara perkawinan. Pada awalnya sebagai beranda
(porches), kemudian berkembang menjadi ruang untuk berbagai kegiatan terutama untuk upacara
yang berhubungan dengan perkawinan. Hall berpilar yang besar yaitu ada di Tinnevelly yang
terdiri dari 100 kolom pada sisi yang panjang dan 10 pada sisi yang lebarnya. Kemudian hall
berpilar di Chillumbrum terdiri dari 24 kolom pada sisi lebar dan 41 kolom pada sisi panjangnya.
Arsitektur batu (stone architecture) juga telah tumbuh di India terbukti pada Tinggalan sejarah
istana Pataliputra dan juga Ashoka Stambha (prasasti tugu monolitik) yang bertuliskan maklumat
dari raja Ashoka. Pada ujung atas prasasti terdapat ukiran batu berkepala empat singa yang
menjadi simbol dari kerajaan Ashoka. Pada masa Ashoka telah diperkenalkan arsitektur batu
pahat yang mentradisi hingga lebih dari 100 tahun lamanya hingga masa arsitektur Budha, Jaina
dan Hindu, terdapat banyak ruang pemujaan yang dipahat di dinding tebing atau gunung. Konon,
tradisi ini berasal dari Mesir kuna dan Persia. Pada saat yang sama, Viharas (Buddhist
monasteries), mulai dibangun setelah kematian Budha terutama pada masa Kerajaan Mauryan
dengan karakteristik monumen stupa, chaitya; ruang meditasi yang terdapat stupa didalamnya.

Arsitektur Budha berkembang pada masa Pemerintahan Ashoka, terdapat tiga bangunan yang
penting dalam arsitektur Budha yaitu chaitya (ruang meditasi para biksu), vihara (asrama) dan
stupa (monumen budha). Dalam satu lahan paling sedikit terdapat satu chaitya dan beberapa
vihara.

7-5
5. Stupa
Stupa adalah monumen untuk memperingati Budha dan para pengikutnya. Berbentuk setengah
bulatan yang secara filosofis melambangkan “kubah syurga” (Dome of Heaven) atau
melambangkan struktur kosmik yang menetap terbuat dari batu atau tanah atau material lainnya
dengan struktur dan konsep arsitektural sebagai berikut: Bangunan stupa terdiri dari beberapa
bagian atau elemen yang membentuk satu konsep arsitektur sebagai
berikut:
a. Harmika yaitu pagar empat segi stupa memberi peringatan “syurga 33 tahun lambang dari peti
suci Budha dan menjadi sentral dari meditasi
b. Yashti berbentuk tiga Lapis payung yang melambangkan paksi dunia.
c. Stambha, tiang yang bertuliskan ukiran ayat-ayat suci dari kitab Pali berfungsi sebagai alat
sebaran agama Budha
d. Vedik, pagar yang mengelilingi stupa pada mulanya dibuat dari bahan kayu, pada zaman syuga
digantikan dengan bahan batu.
e. Torana, gerbang (jalan/pintu masuk) ke dalam stupa yang berasal dari bahasa Sansekerta.

6. Chaitya Griha
Chaitya griha adalah tempat meditasi para sami Budha dalam mempelajari ajaran Budha, kata ini
berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya tempat suci. Chaitya terdiri dari barisan tiang yang
beratap, di ujungnya yang membentuk membentuk garis keliling melingkari stupa yang ada
didalamnya. Pada beberapa site dari tipikal chaitya ada yang berbentuk sekuen dari bentuk persegi
diakhiri dengan ruang suci tempat stupa. Contoh Chaitya yang paling bagus terdapat Ajanta and
Ellora.
Berbagai macam bentuk dan konsep chaitya dapat dilihat pada
gambar berikut ini.

7-6
7. Vihara (Monasteries)
Monasteries (Vihara) merupakan asrama atau tempat tinggal para sami Buddha selama mereka
bermeditasi. Vihara terdiri dari ruang-ruang sel kecil yang terisolasi dan ruang bersama berupa
hall yang dikelilingi oleh tiang-tiang ( portico) yang merefleksikan ruang komunal dari asrama,
sehingga vihara dikenal sebagai hall dengan serambi. Orientasi dari vihara bervariasi tidak ada
arah tertentu sebagai patokan. Berbagai macam tipikal dari vihara terdapat pada gambar berikut
ini.

7-7
REVITALISASI CHINATOWN SEBAGAI KAWASAN BERSEJARAH ETNIS
TIONGHOA DI SINGAPURA
Kota tua adalah distrik bersejarah dan bagian dari kota yang sering terlupakan atau mengalami
penurunan kualitas fisik lingkungan. Penurunan kualitas tersebut umumnya disebabkan oleh penurunan
kualitas fungsi kawasan atau adanya kegiatan yang memberi citra negatif sehingga kawasan kota tua
ditinggalkan penghuninya dan akhirnya mati atau menjadi kumuh. Chinatown Singapura adalah contoh
kawasan bersejarah yang berhasil dikonservasi dan merupakan daerah tujuan wisata yang selalu ramai
dikunjungi oleh wisatawan. Berdasarkan studi literatur dan studi lapangan yang telah dilakukan, faktor
yang menyebabkan mengapa orang datang ke tempat tersebut adalah atmosfer lingkungan yang unik
dan identitas etnis yang kuat. Selain itu terdapat pula generator yang menghidupkan kawasan sehingga
citra kawasan menjadi terangkat. Keberhasilan dalam upaya konservasi kawasan tersebut dapat
dijadikan studi banding sebagai upaya merevitalisasi kawasan kota tua lainnya yang memiliki konteks
sama sebagai kawasan bersejarah etnis Tionghoa. Dengan demikian seorang perancang kota akan
memiliki gambaran kongkrit bagaimana upaya merevitalisasi kawasan bersejarah dengan segala
masalah dan potensinya agar menjadi hidup kembali.

Kata kunci : konservasi, kawasan bersejarah, etnis tionghoa, Chinatown, Singapura

I. PENDAHULUAN Singapura memiliki daerah-daerah


Latar belakang konservasi berupa kampung etnis meliputi
Setiap kota pasti memiliki bagian kota Chinatown, Kampong Glam, Bugis dan Little
tuanya yang merupakan warisan dari sejarah India. Terutama Chinatown yang menjadi
masa sebelumnya. Kota tua dengan corak dan pokok bahasan dalam tulisan ini, merupakan
langgam arsitekturalnya menyimpan atmosfer salah satu kampung etnis yang sudah ada
dan suasana lokalitas yang berbeda sehingga sejak masa kolonial Inggris. Chinatown
terdapat potensi yang besar. Namun memiliki latar belakang sejarah yang panjang,
sayangnya kota tua seringkali terabaikan mengalami penurunan kualitas pada masa
sehingga malah menjadi kota bawah dan pasca perang dunia, menjadi lingkungan
menjadi daerah kumuh bahkan mati. Hal ini kumuh hingga akhirnya dikonservasi oleh
disebabkan bahwa kota terus tumbuh dan pemerintah dan menjadi aset pariwisata
berkembang. Aktivitas yang silih berganti, Singapura.
kondisi politik yang dinamis dan kehidupan Chinatown yang kini hidup kembali
sosial yang berubah-ubah sepanjang waktu dengan aktivitas komersialnya yang menjadi
menyebabkan kota tua sering berubah fungsi generator kawasan merupakan kasus yang
atau ditinggalkan oleh penghuninya. dianggap dapat menjadi preseden karena
Dengan nilai kesejarahan dan potensi keberhasilannya setelah direvitalisasi yaitu
sebagai bagian kota yang masih dapat sebagai kawasan bersejarah dengan corak
dimanfaatkan maka sangat disayangkan jika etnis Tionghoa Singapura. Maka pembahasan
kota tua, termasuk yang memiliki latar ini dilakukan dengan harapan akan dapat
belakang budaya etnis tertentu, mengalami menjadi preseden bagaimana menerapkan
penurunan kualitas. Sesungguhnya semua konservasi kawasan bersejarah tidak hanya
fungsi yang telah ditinggalkan dapat preservasi dari segi fisik namun juga
dimanfaatkan kembali dengan penetrasi fungsi intervensi fungsi pada kawasan yang dapat
baru (adaptive re-use) atau menciptakan menjadi generator kehidupan kawasan
generator yang dapat menghidupkan kembali tersebut.
vitalitas kawasan kota tua yang telah Tujuan dan Manfaat
ditinggalkan. Tujuan dari pembahasan ini adalah
untuk menganalisis bagaimana upaya
konservasi pada distrik bersejarah dengan bagaimana atmosfir kehidupan yang
etnis Tionghoa sebagai basisnya. Dengan sajakah yang menjadi generator dalam
demikian dapat diketahui faktor-faktor apa menghidupkan kawasan selain restorasi dan
7-8
terdapat pada kawasan tersebut. penggalian data juga dilakukan melalui
Selain observasi langsung lapangan literatur atau data sekunder dan melalui
preservasi fisik bangunan dan lingkungan informasi internet.
yang terdapat pada Chinatown tersebut. 2. Analisis deskriptif mengenai tinjauan
Sedangkan manfaat yang dari kawasan, latar belakang sejarah dan
pembahasan adalah menjadi wacana bagi mengenai upaya konservasi distrik
upaya konservasi dan revitalisasi distrik bersejarah tersebut.
bersejarah lainnya yang memiliki konteks 3. Merumuskan kesimpulan apa yang
sama dengan Chinatown Singapura. Dengan sudah didapat melalui studi banding apa
demikian dapat dimengerti gambaran kongkrit yang dapat diterapkan pada penyusunan
bagaimana sesungguhnya kawasan yang telah tesis dan apa yang tidak bisa.
berhasil dikonservasi tersebut. II. LATAR BELAKANG SEJARAH
Sasaran CHINATOWN (NIUCHESUI)
Dalam rangka mencapai tujuan tersebut SINGAPURA
maka langkah-langkah yang harus dilakukan Chinatown pada Masa Kolonialisme
adalah : Inggris
1. Melakukan uraian mengenai tinjauan
kawasan Chinatown Singapura dengan
kondisinya saat ini. Tinjauan kawasan
tersebut meliputi aspek fisik dan non
fisik kawasan.
2. Melakukan uraian mengenai sejarah
distrik Chinatown untuk mengetahui
latar belakang kawasan.
3. Menganalisis bagaimana upaya-upaya
konservasi kawasan Chinatown hingga 1
berhasil saat ini adaambar
Abad 018
4. Membuat kesimpulan apa saja yang sm Board, 2009
Ilustrasi
dapat diambil setelah pembahasan
tersebut. Ketika Singapura menjadi pelabuhan
Rumusan masalah yang strategis, semakin banyak pula imigran
Permasalahan yang dapat dirumuskan ke yang datang ke Singapura. Terutama imigran
dalam bentuk pertanyaan penelitian adalah : yang berasal dari Guang Dong, Cina Selatan,
1. Bagaimana kualitas lingkungan fisik menempati lahan Singapura dekat dengan
yang terdapat pada distrik Chinatown? pelabuhan. Semakin banyaknya imigran yang
2. Bagaimana konstruksi sosial yang datang maka semakin padat lingkungan
terdapat pada Chinatown sebagai tersebut. maka untuk menghindari konflik
kampung etnis? yang terjadi karena makin bertambahnya
3. Latar belakang sejarah apa yang jumlah ras tionghoa yang masuk maka Leutant
dimiliki oleh distrik tersebut? Jackson dan Raffles membuat Chinesse
4. Upaya apa saja yang dilakukan dalam Kampung (Niuchesui) pada tahun 1820,
merevitalisasi kawasan? sebagai upaya pengolompokan etnis
Metode Pembahasan China yang berasal dari kaum
Metode dalam penyusunan makalah ini imigran.Tujuannya adalah mempermudah
adalah : pengaturan kaum imigran tersebut. Pada
1. Penggalian data mengenai Chinatown kampung tersebut juga terdapat beberapa etnis
melalui observasi langsung pada lokasi lain yaitu India dan Melayu.
untuk mengetahui bagaimana kondisi
riil Selain itu observasi langsung ini
juga untuk merasakan langsung

7-9
timbul kepadatan tinggi memunculkan adanya
masalah kesehatan, slum dan turunnya
kualitas lingkungan. Wabah penyakit
bermunculan dan ditambah adanya isu rasial
dan nasionalis yang sentimental memunculkan
adanya permasalahan-permasalahan sosial.
Masa Perang Dunia kedua dan
Menurunnya Vitalitas Kawasan
Chinatown pernah menjadi tempat
perdagangan yang ramai hingga tempat dunia
malam, prostitusi, hingga perdagangan opium
Gambar 02
Ilustrasi masterplan pertama oleh Leutant Jackson
di Asia. Dengan adanya situasi sosial yang
Sumber : Place remaking under property rights regimes: a case memburuk sering terjadi kriminalitas pada
study of Niucheshui, Singapore, 2007 lingkungan Chinatown ini. Situasi perang
membuat kehidupan di Chiantown menjadi
Raffles menetapkan kawasan tersebut
hancur yaitu pada tahun 1940an. Hal tersebut
sebagai kawasan khusus untuk etnis China
tidak membuat morfologi Chinatown berubah,
pada tahun 1822. Kemudian Raffles juga
namun akibat perang kondisi bangunan
membagi daerah berdasarkan kelompok suku
semakin parah. Maka tahun 1960 hingga
yang ada yaitu Hokkian di Telok Ayer dan
1970, banyak bangunan lama dihancurkan dan
sekitar sungai, Teochew di Clark Quay dan
digantikan oleh pengembangan baru terutama
sekitar Fort Canning, sedangkan Kanton dan
oleh HDB dalam rangka upaya pemenuhan
Hakka di sekitar Kreta Ayer. Selain itu
kebutuhan perumahan rakyat sekaligus
Raffles juga mengelompokkan lagi komunitas
mewujudkan ruang komersial.
di Chinatown berdasarkan kelas dan jenis
mata pencaharian, yakni pedagang, seniman
maupun petani. Pada tahun 1839 kawasan
Telok Ayer berkembang menjadi pusat
komersial di selatan Singapura.
Pada tahun 1843 Chinatown menjadi
terkenal dan dikunjungi banyak wisatawan
dengan kekhasan lokal yang dimilikinya. Hal
ini menyebabkan kepadatan dan arus orang
datang dan pergi semakin meningkat. Maka
pada tahun 1885 Chinatown difasilitasi oleh
transportasi publik yaitu steam train, kereta Gambar 04
Ilustrasi kondisi permukiman yang kumuh
listrik dan troley bus pada tahun 1929. Sumber : Chinatown as A Microcosm Of Singapore,
2009

Kemudian pada tahun 1980 URA


memutuskan untuk melakukan preservasi
lingkungan Chinatown dan berusaha
memfungsikannya kembali sebagai kawasan
perkantoran karena letaknya yang mudah
diakses oleh MRT. Pada tahun 1998 Tourist
Board Plan for Chinatown, diresmikan lalu
koridor-koridor jalan secara tematik
Gambar 03
Ilustrasi jalan Sago Street pada tahun 1930 bersarakan interest publik.
Sumber : Chinatown as A Microcosm Of Singapore, 2009 III. TINJAUAN KAWASAN
CHINATOWN SINGAPURA
Pada perkembangannya kemudian terjadi Area Konservasi Chinatown
semacam alih fungsi yaitu Chinatown yang Sejak upaya konservasi dilakukan oleh
tadinya adalah kawasan hunian menjadi Urban Redevelopment Authority yang bekerja
kawasan perdagangan. Akibatnya adalah sama dengan Singapore Tourism Board,
Chinatown (juga disebut dengan Niuchesui) menjadi destinasi pariwisata dengan target turis
7-
mancanegara. Pariwisata merupakan aset bagi Smith Street. Status konservasi diberikan sejak
negara seperti Singapura yang sumber daya 7 Juli 1989. Terdiri atas bangunan shophouse
dominan adalah sumber daya manusia. berlanggam Transitional, Late dan Art Deco.
Dengan adanya kondisi tersebut maka
Singapura harus mengoptimalkan lokalitas
dan kesejarahannya sebagai modal dan
pemasukan negara.
Dalam sebuah penelitian, sebanyak 68%
wisatawan datang untuk menikmati area yang
telah terkonservasi. Responden menyebutkan Gambar7 0
bahwa alasan mereka berkunjung adalah Ilustrasi Bukit
Pasoh age, 2009
untuk menikmati atmosfer atau suasana yang Sumber : Google
Im
khas dari kawasan tersebut dan untuk melihat Bukit Pasoh
corak budaya oleh etnis setempat. (Yuen, Dikelilingi oleh South Bridge Road,
2001) Cross Street, Boon Tat Street, Stanley Street,
McCallum Street, Amoy Street, Ann Siang
Road dan Erskine Road. Status konservasi
diberikan sejak 7 Juli 1989.

Gambar 08
Gambar 05
Ilustrasi Tanjong ar 2009
Peta Distrik Konservasi inatown pag
Ch , 2009
Tanjong Pagar
Dikelilingi oleh New Bridge Road,
Distrik Chinatown terbagi menjadi 4 Keong Siak Road, Kreta Ayer Road, Neil
bagian antara lain : Road and Cantonment Road. Status
konservasi diberikan sejak 7 Juli 1989. Pada
Tanjong Pagar ini terdapat kantor-kantor
instansi pemerintahan, termasuk salah satunya
adalah URA Center dan City Gallery.

Gambar 06
Ilustrasi Kreta
er
Ay e, 2009

Kreta Ayer
Dikelilingi oleh New Bridge Road, Park
Gambar 09
Road, Upper Cross Street, South Bridge Ilustrasi Telok er
Road, Sago Street, Trengganu Street dan Ay e, 2009
Road, PeckSumber
Seah: Google
Street, Wallich
Street, Tanjong
Telok Ayer Pagar Road and Craig Road. Status konservasi
Dikelilingi oleh Neil Road, Maxwell diberikan sejak 7 Juli 1989.
Pada Chinatown terdapat jalan-jalan yang
7-
terkenal secara tematis dan juga karena di Shophouse ini juga terdapat pengaruh dari
dalamnya terdapat bangunan-bangunan yang arsitektur Eropa akibat kolonialisme.
terkenal dan menjadi penanda pada skala
neighboorhoud. nama-nama jalan yang
terkenal adalah :
Mosque Streets
Dinamakan demikian karena terdapat
sebuah masjid Jamae yang dibangun oleh
Muslim cina pada tahun 1830. Selain etnis
China terdapat pula muslim dan etnis Melayu
yang menempati distrik ini. Hal ini dibuktikan
dengan adanya Masjid yang ada di jalan
tersebut
Pagoda Street Gambar 10
Pada jalan itu terdapat kuil Sri Arsitektur shophouse asli Guangdong Cina Selatan
Sumber : A Study of Ethnic Influence on the Facades of
Mariamman yang merupakan kuil Hindu Colonial Shophouses in Singapore:
tertua di Singapura. Sri Mariamann A Case Study of Telok Ayer in Chinatown , 2007
merupakan kuil hindu tertua di Chinatown dan
sudah berdiri sejak abad ke 16. Pagoda street
dahulu merupakan pusat perdagangan opium. Shophouse atau rumah toko merupakan
Sago Street strategi bagi etnis Tionghoa untuk menjadikan
Dinamakan Sago karena pada tahun 1840 rumah selain tempat tinggal juga sebagai
banyak terdapat tumbuhan Sagu di sana. tempat bekerja. Shophouse yang ada di
namun dalam bahasa Kanton, Sago artinya Singapura sudah tidak sama dengan
kematian, nama ini diberikan karena shophouse yang ada di Guangdong.
banyaknya jumlah kuda yang mati masa Shophouse Guangdong masih kental dengan
tersebut yang disebabkan oleh wabah. arsitektur Cinanya sedangkan shophouse di
Smith Street Singapura telah mengalami eklektisisme
Smith street terkenal dengan banyaknya dengan langgam arsitektur Melayu dan Eropa.
restoran. Jalan ini terkenal sebagai pusat
kuliner di Chinatown (Chinatown Street
Food) pada malam hari suasana sangat ramai
dengan lampion-lampion berjajar.
Trengganu Street
Pada jaman kolonial Inggris, jalan ini
terkenal dengan rumah bordilnya. Sekarang
Trengganu street terkenal dengan street
marketnya pada malam hari.

Tipologi Bangunan Shophouse


Merupakan bawaan dari tipe hunian
yang berasal dari Guangdong, memiliki arcade
yang berbaris, baik untuk iklim yang
subtropis. Shophouse model ini juga
ditemukan di Malaysia dan Indonesia. Pada
Gambar 11
Presentase pengaruh langgam Melayu, Cina dan Eropa
pada rumah Shophouse
Sumber : A Study of Ethnic Influence on the Facades of
Colonial Shophouses in Singapore:
A Case Study of Telok Ayer in Chinatown , 2007

Pada ilustrasi diatas dapat dilihat bahwa ornamennya merupakan campuran dari langgam
dalam detail arsitektural shophouse di Melayu, Eropa (Baroque) dan China. Hal ini
Chinatown Singapura mengalami eklektisisme merupakan bukti bahwa etnis Tionghoa juga melebur
misalnya pada kolom, daun jendela, ornamen- dengan etnis Melayu sehingga terdapat pengaruhnya
7-
terhadap langgam arsitektural bangunan. Etnis
Tionghoa cenderung untuk membangun 1. Permeability
rumah mereka dengan menyesuaikan langgam Cara menilai permeabilitas kawasan
yang ada di sekitar lingkungan mereka. adalah dengan cara melihat seberapa
Dengan ini maka terjadilah eklektisisme banyakkah akses yang dimiliki oleh kawasan.
tersebut. Semakin banyaknya jumlah aksesnya maka
makin permeabel kawasan tersebut. Melalui
ilustrasi peta udara tersebut lingkungan
Chinatown Singapura mudah dicapai dari sisi
manapun termasuk dari sarana transportasi
publik dan jalan utama.
Kemudahan akses tersebut menyebabkan
kawasan mudah dikenali dari luar sehingga
orang akan mudah mengenali jalur-jalur
menuju kawasan.

Gambar 13
Jalur sirkulasi penghubung
satu tempat ke tempat lain
Sumber : Dok. Pribadi,
2009

Gambar 12
Detail arsitektural bangunan yang mengalami
eklektisisme Sumber : A Study of Ethnic Influence on the
Facades of Colonial Shophouses in Singapore:
A Case Study of Telok Ayer in Chinatown , 2007

Chinatown Sebagai Lingkungan yang


Responsif
2. Variety
Keberagaman arsitektural tercipta dari
elemen-elemen bangunan misal bentuk
jendela, tiang, balkon dan ornamen-ornamen
bangunan shophouse “baroque” yang
berlanggam eklektik antara Melayu dan
Eropa. Peraturan melalui konservasi
menetapkan bahwa keaslian langgam
bangunan harus dijaga. Hal itu membuat
bangunan menjadi seragam dan satu kesatuan
(unity), namun keberagaman arsitektural tetap
ada melalui warna yang berbeda, bentuk
jendela yang bervariasi.

7-
- Path, konfigurasi jalan-jalan yang
menghubungkan satu titik dengan yang
lain.

Gambar
16 Path
Sumber : Dok. Pribadi, 2009

- Nodes, pusat-pusat aktivitas yang


terdapat dalam kawasan. Dalam
kawasan ini pusat aktivitas ada pada
kegiatan komersial yakni street market
dengan jalan sebagai ruang
aktivitasnya.

Gambar 14
Keberagaman elemen arsitektural.
Sumber : Dok. Pribadi, 2009

Keberagaman fungsi juga dihadirkan


melalui fungsi mixed use yakni hunian,
komersial dan perkantoran. Skenario
mengangkat budaya dan kesenian sebagai
upaya penarik pariwisata menyajikan banyak
kegiatan kesenian setiap musim turut
mendukung fungsi fungsi yang ada di sana.
3. Legibility
Legibilitas merupakan mudah tidaknya
suatu lingkungan untuk “terbaca” oleh
pengguna. Legibilitas dapat dibentuk oleh
elemen fisik lingkungan yakni :
- Landmark, penanda kawasan ini Gambar 17
misalnya adalah kuil atau bangunan Pusat
aktivitas
yang menjadi pusat kegiatan atau paling Sumber : Dok. Pribadi, 2009
berbeda dengan bangunan lainnya.
- Edge, pembatas kawasan adalah jalan-
jalan besar dengan bangunan-bangunan
shophouse yang berukuran lebih besar
dan ukuran jalan yang lebih lebar.

Gambar 15
Kuil sebagai landmark
Sumber : Dok. Pribadi,
2009
Gambar 18 kawasan
Batas Sumber : Dok. Pribadi, 2009

7-
- District, cara mengenali sebuah distrik
adalah dengan mengamati adanya
kesamaan baik pada bentuk fisik
(keserupaan arsitektural yakni pada
bangunan shophouse beserta elemen-
elemen lainnya yang menjadi identitas)
dan kesamaan aktivitas yakni kegiatan
komersial baik itu streetmarket, pasar
tradisional, dan jenis komersial lainnya.

Gambar 20 Detail arsitektural


Gambar 19 Sumber : Dok. Pribadi, 2009
Distrik
Sumber : Dok. Pribadi, 2009
7. Personalisasi
4. Robustness Personalisasi menunjukkan adanya milik
Dengan adanya penetrasi fungsi individu yang berbeda, namun personalisasi
campuran pada kawasan maka orang dapat yang ada di sini harus tetap berada pada satu
memilih hendak menggunakan fungsi yang koridor konservasi yang seudah menjadi
mana. Kebebasan memilih pada suatu tempat peraturan URA sehingga tidak mengganggu
akan membuat sebuah tempat menjadi kesinambungan visual yang ada pada koridor
destinasi. Dalam Chinatown setiap tempat jalan maupun kawasan.
memiliki fungsi berbeda dan tema yang
berbeda pula.
5. Visual Appropriateness
Kesinambungan visual tercipta dari
hubungan dan harmoni elemen masing-
masing bangunan yang ada di dalamnya.
Dalam hal ini kesinambungan dan harmoni
serta ritme berulang pada elemen arsitektural
membentuk runtutan visual sehingga satu
dengan lain terlihat hubungannya dengan
jelas.
6. Richness
Langgam Baroque dan eklektik antara
Eropa dan Melayu membentuk keberagaman
dalam detail sehingga menimbulkan kekayaan
dalam lingkungan visual.
Kekayaan visual pada elemen fasad
bangunan, atap, maupun detail-detail lain
dengan corak etnis yang beragam muncul
pada jendela, kolom, pintu serta warna
bangunan.
Gambar 21
Personalisas
i
Sumber : Dok. Pribadi, 2009
8. Sustainable walaupun konservasi menitik beratkan pada upaya
Isu lingkungan tidak boleh dilupakan penjagaan pelestarian elemn fisik. Chinatown

7-
menjaga isu keberlanjutan lingkungan dengan yaitu jalan-jalan utama yang mengelilingi
memfasilitasi orang yang datang berupa kawasan maupun stasiun MRT yang terdapat
kemudahan akses untuk pejalan kaki yaitu pada Pagoda Street merupakan transportasi
pedestrian streets yang aman dan nyaman. publik. Linkage visual ditunjukkan oleh
Kemudian sarana MRT juga diberikan agar adanya kesamaan visual pada koridor jalan
orang dapat dengan mudah mencapai lokasi melalui elemen arsitektural maupun ruang
dengan transportasi publik. luar yang merepresentasikan etnis Tionghoa.
Sedangkan linkage struktural ditunjukkan oleh
Kajian Townscape dan Kualitas adanya pencampuran fungsi komersial,
Pedestrian Streets pada Chinatown perkantoran, hunian dan leisure yang
Singapura terintegrasi sehingga kawasan menjadi hidup
Dalam menilai keberhasilan-keberhasilan secara menerus.
tersebut maka kriteria yang digunakan adalah
yang telah dibahas pada tinjauan pustaka pada
bab uraian tesis.
Kunci kesuksesan sebuah tempat untuk
menjadi ruang publik yang berhasil :
1. Comfort and image,
dihadirkan melalui unity visual yang
baik oleh langgam arsitektural
shophouse baroque namun tetap
memiliki keberagaman universal
melalui personalisasi masing-masing
fasad bangunan. Selain melalui fasad,
kenyamanan visual juga dihadirkan
melalui elemen ruang luar pembentuk
suasan yaitu lighting, paved street dan Gambar 23
Stasiun
sign board yang harus dikendalikan MRT
agar tidak mengganggu tampilan Sumber : Dok. Pribadi, 2009
bangunan. 3. Uses and activity, Dengan skenario
pengembangan kawasan sebagai objek
pariwisata maka setiap titik atau jalan
memiliki tema masing-masing. Semisal Smith
Street sebagai food street, atau distrik
kebudayaan. Adanya kegiatan tersebut
menunjukkan ruang-ruang publik benar-benar
digunakan dan menunjukkan adanya
kehidupan yang festive.

Gambar 22
Imej dan identitas Gambar 24
Sumber : Dok. Pribadi, 2009 Aktivtas pada ruang publik
Sumber : Dok. Pribadi, 2009
2. Access dan Linkage, kawasan tersebut
telah menjadi Central Bussiness District 4. Sociability, kehidupan sosial
sehingga adanya jaminan akses yang baik, terbentuk akibat adanya interaksi antara yang
melayani dengan yang dilayani. Kegiatan
ekonomi merupakan generator kehidupan

7-
kawasan dan menumbuhkan interaksi antara
penjual dan pembeli serta menarik lebih
banyak lagi orang untuk berdatangan baik
untuk mencari keuntungan atau menikmati
tempat (leisure).

Gambar 25
Aktivtas menimbulkan interaksi
sosial Sumber : Dok. Pribadi, 2009
Sebagai pejalan kaki yang mampu untuk
Gambar 27
merasakan kualitas visual pada sebuah tempat, Visi yang dilihat melalui rute Sumber : Dok. Pribadi, 2009
maka estetika lingkungan dirasakan sebagai
sebuah serial vision yang dapat dilihat melalui Pada serial vision yang terdapat pada
rute. Ketika seorang pejalan kaki berjalan Chinatown, keserupaan langgam baroque
menyusuri koridor maka dia akan melihat pada shophouse pada tiap-tiap bangunan
bagaimana urutan bentuk fisik bangunan atau membawa ritme senada namun perbedaan
arsitektur yang tersaji secara berurutan elemen warna dan perbedaan maju
melalui sebuah Townscape kota. mundurnya bangunan dari jalan juga
menghadirkan variasi. Demikian pula dengan
adanya perbedaan ketinggian bangunan ketika
kita hendak memasuki ruas jalan yang
memiliki tema berbeda. Ketika kita memasuki
jalan Smith Street yang sepenuhnya untuk
pedestrian, skala ruang yang dirasakan lebih
intim daripada ketika kita berjalan di jalan
besar seperti Maxwell Road.

Gambar 26
Visi yang dilihat melalui
rute Sumber : Dok. Pribadi,
2009

Melalui serial vision ini seseorang dapat


merasakan ritme, kompleksitas, dan kesamaan
bahkan kejutan-kejutan arsitektural dalam satu
urutan koridor jalan. Melalui serial vision ini Gambar 28
pula kita dapat menilai bagaimana kualitas Visi yang dilihat melalui rute
dari estetika lingkungan. Sumber : Dok. Pribadi, 2009

S
e
l
a
7 - 10
in an pemerintah baru
me menyadari bahwa
nil kawasan bersejarah
ai dengan kekayaan
me lokalitasnya dapat
lal menjadi modal
ui yang berharga
seri dalam pariwisata
al Singapura.
Gambar 29 visi
Enclosure dan on
lokal kit
Sumber : Dok.
a
Sebuah ruang
jug yang dibentuk
a dengan
bis
a
me
ras
aka Gambar 30
Chinatown sebelum
n dir
kua
lita Prinsip dasar yang
s diterapkan konservasi
est segala sehingg di Singapura adalah
eti elemen a ruang
ka estetikanya, adalah 3R : maximum
kot tersebut menjadi focal Retention,
a point atau adanya
me pusat titik-titik visual. sensitive
lal Atau dengan adanya
ui elemen Restoration,
at
mo careful Repair.
sfir Quality of
yan Restoration yang
g dimaksud
dih ruang luar yang adalah menjaga
adi membuat sebuah ruang keaslian
rka lebih dari
sekedar
n
menjadi (enclos fasad kulit
ole
lebih ure) bangunan bangunan,
h terdefinisi
dan dan fisik
te
setiap orang tetapi juga
mp dapat mempertahankan keaslian
at memilih suasana
tersebut, dan menjadi place. sendiri
bagaimana kita aktivitasnya bangunan dapat
menerima tempat (advantage). Lalu tersebut. memahami
tersebut menjadi adanya sesuatu Untuk
bagian dari diri yang yang hal ini maka melakukan
kita. Adanya tersembunyi, tiba- kita perlau telaah
pemaknaan sesuatu tiba
tersebut membuat melebar atau titik. Atau kekhasan lokal
sebuah space menyempit pada suatu yang membentuk sebuah
7 - 11
evitalisasi 009
, 2009

mengenai nilai budaya yang e


sejarah dimiliki oleh l
kawasan serta kawasan. a
atmosfir kita menjadi ,

berbeda p
i
sehingga l
menyukai a
tempat r
tersebut. ,
K
e u
b k
e i
r r
a a
g n
a ,
m
a h
n i
n
d g
e g
t a
a
i w
l a
r
a n
r a
s
i s
t e
e r
k t
t a
u tekstur yang kita rasakan saat berjalan
r merupakan bagian dari Townscape.
a
l IV. RE CHINATOWN
VIT
s ALI
e SAS
p I
e SIN
r GA
t PU
i RA
Masa Awal diprakarsai oleh URA
j Konservasi di (Urban
e Singapura Redevelopment
n Konservasi Authority). Singapura
d Chinatown Singapura merupakan negara
7 - 12
yang ketat dalam bangunan yang telah rusak. Restorasi
menerapkan 3. Struktur tersebut meliputi elemen
aturan konservasi. 4. Airwells Gambar fisik
3 luar bangunan yakni
Hal ini Shophouse di Neil Road sebelum
5. Rear Court Sumber : atap, dinding, railing pagar
dikarenakan
Singapura 6. Daun Jendela URA dan pilar. Upaya restorasi
pernah Distrik Chinatown 7. Railing dan
tangga
1
tersebut diusahakan benar-
sesudah direstorasi
dikategorikan 8. Fasad ,2009 benar untuk sama seperti
sebagai Bangunan keadaan aslinya.
melakukan historical Setiap detail Setelah merestorasi
kesalahan yaitu district yaitu arsitektural tersebut bangunan-bangunan yang
menghancurkan bangunan pada tidak boleh ada yang telah hancur barulah URA
sebagian distrik tersebut berubah. Kalaupun menerapkan penetrasi
bangunan- masih asli. Jika berubah maka hanya fungsi pada kawasan
bangunan pengelola strukturnya saja yang dengan harapan hal
bersejarahnya hendak boleh berubah. Detail tersebut dapat menjadi
karena lingkungan memperbaiki arsitektural dalam hal generator kehidupan
tersebut dianggap
kumuh. bangunannya ini termasuk tekstur, Chinatown.
maka harus warna, bentuk hingga
benar- papan nama. Semua Strategi pengembangan
Bangunan- benar sama hal itu diatur oleh Chinatown sebagai
bangunan lama persis seperti URA dalam Daerah Tujuan Wisata
tersebut didemolisi bangunan conservation dan Kawasan yang
dengan tujuan aslinya yaitu guidelines. Sedangkan Multi-fungsi
ekstensifikasi bentuk, ukuran, benda- benda utilitras Pengembangan
lahan yang akan ornamen, dan seperti air conditioner distrik dan upaya place
digunakan untuk material. Hal dan fan tidak boleh making Chinatown
membangun itu diatur dalam diletakkan pada muka merupakan manifestasi
permukiman baru. sebuah bangunan cukup hanya kepemilikan properti.
Hal ini guidelines dibelakang saja atau Partisipasi sosial dalam
disebabkan karena dengan tujuan pada jalur servis. rangka memperbaiki citra
pada tahun agar kualitas Selain elemen kawasan hanyalah
visualnya tidak arsitekturalnya, fungsi
berubah bangunan juga harus
1960 Singapura dan modernisas sama seperti aslinya,
tergeser i yang karena perubahan
sedang mengalami oleh arus
masalah besar masuk. fungsi dapat
bersejarah mempengaruhi pula
dengan kebutuhan Kons berarti
hunian yang ervas fasad bangunan
tinggi, i tersebut. Menurut
kepadatan kawa guidelines yang
penduduk dikeluarkan oleh
meningkat san
sedangkan URA, fungsi asli
termasuk juga bangunan (misal
lahan yang
residensial atau
terbatas. Barulah
mempreservasi komersial) selalu lebih
pada tahun 1970
elemen baik.
Pada masa awal
arsitekturalnya. variasi visual konservasi, bagian
Elemen arsituktural lingkungan.. Elemen yang menjadi sample
berperan dalam bangunan yang adalah Neil Road yang
membentuk menjadi perhatian berlokasi di Tanjong
townscape konservasi di Pagar. Revitalisasi
lingkungan atau Singapura adalah : yang diupayakan
dalam hal ini 1. Atap bermula dari restorasi
keberagaman dan 2. Dinding bangunan shophouse
7 - 13
sebagai peranan Ketika untuk kepentingan
prosedur pengaturan Singapura publik pemerintah
dalam negara diberi mengakuisisi
proses termasuk dalam kemerdekaan sejumlah lahan
perencanaan penataan kota. pada tahun yang pada lahan
saja. Sebaik Dengan adanya 1965, tersebut akan
apapun kendali utama pemerintah dibangun fasilitas
usaha untuk pada memegang hunian bagi publik
menciptakan pemerintahan kendali pada maupun komersial.
struktur maka masalah- pengadaan Undang-undang
sosial, masalah seperti public housing tersebut mengatur
menerapkan akuisisi lahan, dan apa saja yang
prinsip kontrol pengelolaan berhak diakuisisi
perancangan konservasi properti. oleh pemerintah
kota yang lingkungan dan Dengan adanya untuk tujuan
baik (fungsi fungsi-fungsi Acquisition pemenuhan
campuran, yang bisa Land Act kebutuhan publik
konservasi dipenetrasikan (1966) maka dan komersial.
kawasan pada ``To ensure mendukung pariwisata di
bersejarah, lingkungan bisa development, Singapura. Dalam hal ini
streetblock) diawasi secara landlords were given lembaga yang memiliki
namun jika penuh dan up to one year from kewenangan mengelola
pihak lingkungan the day of gazette to adalah Singapore Tourism
pengembang terbangun bisa submit to the Board. Semangat tourisme
tidak tetap dalam authorities plans for yang ingin dibangun
mampu keadaan yang redevelopment and up adalah membangun
membuat baik. to three years to kembali Chinatown
strategi dan beginwork on dengan memasukkan
mengelola approved plans. They fungsi-fungsi baru. Selain
kawasan were given six months upaya konservasi
dengan baik to notify the lingkungan dan
maka sama authorities of their arsitekturalnya STB juga
saja dengan inability to redevelop. menyajikan skenario
kegagalan. Any landlord failing to kesenian dan budaya
(Zhu, 2007) comply with these sebagai festival dan
Hal ini provisions faced the pertunjukan.
erat possibility of having
kaitannya his property acquired
dengan by the state'' (URA,
siapa 1989, page 13).
stakeholder Peraturan tersebut
yang Gambar 32 mengindikasikan
dominan, Lahan yang adanya kontrol yang
yaitu diakuisisi oleh
pemerintah ketat terhadap
pemerintah. untuk dikelola pengelolaan distrik
Pemerintaha Sumber :
bersejarah sebagai
Place
n Singapura remaking daerah konservasi.
merupakan under Kemudian untuk
pemerintaha property
bagian distrik yang
rights
n top down regimes: a sangat kental nuansa
di mana case study of lokalitasnya oleh URA Gambar 33
pemerintahl Niucheshui,
Singapore, dijadikan sebagai inti Area yang diberi status
ah yang 2007 dari distrik tersebut.
konservasi
Sumber : Place remaking
memegang Upaya konservasi under property rights regimes:
semua juga bertujuan untuk a case study of Niucheshui,

7 - 14
Singapore, 2007 untuk
yang telah
ditetapkan oleh mengidupkan Gambar 34
Selain itu STB public space di Titik-titik sentra komunitas
URA. Sumber : Place
juga menyajikan Pengembangan Chinatown. remaking under
zona- zona yang tersebut property rights
tematis pada distrik regimes: a case
dilakukan study of
tersebut. Konsep secara 3 tahun Niucheshui,
itu kemudian dengan harapan
Singapore, 2007
didukung pula oleh akan dapat
penyediaan sarana Akses dan
meningkatkan
fisik pedestrian, sarana transportasi
pendapatan dari
lampu- lampu, publik (MRT)
sektor
street furniture dan merupakan faktor
pariwisata.
lain-lain sehingga pendukung agar
Skenario
suasana Chinatown orang menjadi
pariwisata tersebut
terbangun. Hal ini mudah mencapai
antara lain :
tentu juga tetap kawasan. Stasiun
 Menjadik MRT terdapat pada
harus sejalan an distrik
dengan Guidelines Kreta Ayer. Selain
tersebut sebagai itu distrik ini juga
lokasi pusat- dilalui oleh jalan
pusat budaya besar yaitu New
dan kesenian. Bridge Road yang
 A menghubungkan
danya jalan- distrik dengan
jalan yang tempat lainnya.
bertema
Kegiatan melakukan pengelolaan
 Memban pariwisata saja tidak fungsi dengan baik, STB
gun estetika cukup untuk juga mengangkat isu
lingkungan, menghidupkan keberagaman etnik
pencahayaan kawasan. Agar tercipta sebagai daya tarik
dan kawasan yang pariwisata. Masalah sosial
landscaping memiliki dan etnis sesungguhnya
sehingga keberlanjutan aktivitas merupakan isu sensitif di
lingkungan maka URA juga Singapura. Singapura
menjadi atraktif membuat memiliki 3 etnis dominan
untuk pengembangan antara lain etnis Tionghoa
dikunjungi perumahan pada (76,8%) Melayu (13,9)
turis. distrik tersebut. India (7,9%) dan lain-lain
 Selain itu Penetrasi fungsi (1,4%) (Zhu, 1996).
terdapat pula hunian paling banyak Dengan dominannya etnis
festival-festival diterapkan pada Kreta Tionghoa (atau dalam hal
yang Ayer. Dengan hal ini ini Peranakan, campuran
dijadwalkan maka distrik tersebut antara China dengan
setiap merupakan distrik Melayu) maka timbul
musimnya. bersejarah yang semacam kekhawatiran
Festival ini memiliki fungsi bagaimana jika etnis
diskenariokan campuran dan tersebut menjadi identitas
sebagai upaya mengalami pergeseran utama pada negara. Maka
menghidupkan dari fungsi aslinya dari strategi STB disini adalah
kultur lokal fungsi hunian mengangkat isu
sebagai sekaligus komersial keberagaman etnis sebagai
identitas menjadi fungsi kekayaan dan modal bagi
budaya campuran. pariwisata, yaitu dengan
kawasan juga Selain mempresevarsi bangunan
7 - 15
yang memiliki manusia untuk political
kekayaan langgam merasakan will
serta suatu tempat pemerintah
menghidupkan sebagai bagian 2. Nilai
nilai-nilai kultural dari dirinya kesejarahan
untuk identitas (Cullen, 1961). dan budaya
masing-masing Sense of place yang
kawasan (dalam hal merupakan diangkat
ini khususnya etnis alasan bagi 3. Kelayakan pasar
China / Tionghoa) orang untuk (market
untuk selalu datang feasibility),
menunjukkan Tabel 01 dan menikmati 4. Kekayaan dan nilai
Hasil penggalian
bahwa setiap etnis data dengan
tempat. arsitektural
hidup dalam responden mengenai Dapat 5. Penataan lansekap
keberagaman dan apa alasan orang disimpulkan Untuk
datang ke Distrik
harmonis. Chinatown bahwa lima melaksanakan lima
StrategiSumber
yang: Urban Conservation in pendekatan pendekatan tersebut
diterapkan oleh Singapore: utama maka STB sebagai
Tradition or
STB tersebut Tourist Bane? pengembangan pemilik skenario
berhasil dengan 2001 Chinatown pengembangan
bukti bahwa setiap adalah : pariwisata harus
kawasan
Tabel 02
konservasi, Hasil penggalian data
termasuk dengan responden mengenai
Chinatown dalam apa yang paling menarik
dari Chinatown
hal ini,Sumbermenjadi
: Urban Conservation in Singapore:
ramai sebagai Tradition or Tourist
daerah destinasi Bane? 2001
1. Pengelo bekerja sama
wisata. Dari studi Dengan laan dengan badan
yang pernah preservasi
properti pemerintah lainnya
dilakukan, sosial, kultural melalui dan sektor
wisatawan datang dan juga
ke Chinatown lingkungan swasta (developer). 8. The Arts
adalah untuk fisik Kerjasama itu antara Environment
yang lain melibatkan badan- Ministries.
menikmati mengangkat
atmosfer yang lokalitas, orang badan tersebut untuk Alasan kerjasama
berbeda yaitu dapat merencanakan adalah untuk
melalui momen- menikmati bersama. Antara lain : mengkonservasi distrik
momen budaya suasana yang 1. Urban dan menjadikannya
serta kekayaan berbeda. Ketiga Redevelopmen sebagai daerah tujuan
arsitektural di hal t Authority, wisata membutuhkan
tersebut 2. Land banyak infrastruktur dan
tempat tersebut membentuk
(Zhu, 1996). Transport melibatkan banyak pihak.
identitas yang Authority, Maka dalam hal ini juga
kuat pada 3. National terdapat kerjasama antara
distrik atau Parks Board, sektor publik dengan
dalam hal ini 4. Land Office, privat namun kendali
adalah 5. Public Works utama tetap saja
membentuk Department, pemerintah.
genious loci 6. National
pada kawasan. Heritage Pembangunan Struktur
Genious loci Board Sosial dalam Revitalisasi
membangun 7. Trade & Chinatown Singapura
sense of place Industry, Law, Upaya revitalisasi
dan ikatan Information selain membangun
emosional bagi
7 - 16
kembali belakang kehidupan segi regulasi untuk membaurkan
lingkungan fisik etnis Tionghoa, singapura, kelas sosial yang
yang mengalami Chinatown Singapura pemerintah ada di Singapura
penurunan kualitas tidak lagi memiliki berhak untuk dari segi etnis
fungsi, orisinalitas dari segi mengakuisisi maupun kelas
memasukkan kehidupan sosialnya sebuah lahan ekonomi. Maka
fungsi-fungsi baru (Widodo, 2009). Hal jika ada tujuan dalam hal ini
yang menjadi ini disebabkan karena untuk banyak warga yang
generator pada masa pasca kepentingan pindah ke
kehidupan Perang Dunia kedua, publik atau permukiman baru
kawasan, juga Chinatown telah negara. Dan (terutama inlanded
merupakan upaya ditinggalkan oleh mengingat housing yang
untuk sebagian besar motif dikembangkan oleh
menghidupkan penghuni aslinya. revitalisasi HDB Singapura)
kembali kehidupan Faktor lainnya kawasan adalah untuk membaur
sosial yang berada yang menjadi untuk dengan kelas sosial
pada kawasan penyebab adalah mendongkrak lainnya. Hal ini
tersebut. dalam upaya pariwisata juga disebabkan
Kehidupan sosial konservasi tersebut Singapura pemerintah ingin
yang berkelanjutan pemerintah karena menghilangkan
amat penting mengakuisisi lahan pariwisata sentimen ras dan
peranannya dalam pada distrik sehingga merupakan kelas ekonomi
menjaga hak milik pada lahan sumber dalam kehidupan
kesinambungan adalah pada pemasukan sosial.
kehidupan dalam pemerintah, bukan lagi keuangan Dengan
sebuah kawasan, individu. Dan dalam negara. Hal ini demikian maka
karena menyebabkan Chinatown
masyarakatlah pemerintah Singapura bukanlah
yang akan bebas untuk perkampungan
menjalankan peran melakukan etnis yang orisinal,
sebagai subjek perombakan namun lebih
pada kawasan secara total kepada distrik
tersebut. pada kawasan, bersejarah yang
Sesungguhnya ibaratnya telah dibangun
ketika fungsi adalah mencuci ulang dengan nilai
komersial dan bersih- bersih kultural lama yang
hunian telah kawasan kembali diangkat
dimasukkan dan tersebut lalu demi terbangunnya
terjalin interaksi kemudian identitas kawasan
sosial antara membangun untuk menarik
masyarakat dari dan mengisinya wisatawan agar
tiap- tiap fungsi dengan yang datang ke tempat
maka berarti baru secara tersebut (Widodo,
kehidupan sosial total juga. 2009).
telah terbentuk. Sehingga hal
Namun pada lama yang V. KESIMPULAN
konteks tersisa hanyalah Setelah
Revitalisasi fisik pembahasan
Chinatown arsitekturalnya tersebut maka
Singapura sebagai saja. (Widodo, kesimpulan yang
distrik bersejarah 2009) dapat diambil
hal ini memiliki Faktor dalam
nilai yang berbeda. lainnya adalah merevitalisasi
Sebagai distrik semangat kawasan
dengan latar pemerintah Chinatown adalah :
7 - 17
1. Kot sesuai fisik melalui fisik
a fungsi arsitektural, arsitekturalnya
tua lama sebuah saja. Maka perlu
atau atau kawasan adanya identitas
kaw bahkan dikatakan yang dihidupkan
asan fungsi memiliki yaitu genious loci
bers yang kualitas yang (kearifan lokal)
ejar sama baik jika dalam hal ini
ah sekali memiliki akses identitas etnis agar
me baru. yang mudah membentuk
mili 2. Kekaya untuk dicapai atmosfir yang
ki an melalui dapat dinikmati
pote arsitekt kendaraan oleh semua orang
nsi ural pribadi dan mampu
yan pada maupun menarik orang
g masa kendaraan untuk terus
besa lampau umum. Maka berdatangan.
r adalah Chinatown 7. Untuk
untu nilai sebagai pusat merevitalisasi
k lebih komersial dan sebuah kawasan
dike dan daerah tujuan diperlukan sebuah
mba potensi. wisata dilalui political will yang
ngk Maka oleh stasiun kuat dari
an dalam MRT dan bus stakeholder
den hal ini kota yang dominan, dalam
gan harus dapat dilalui hal ini adalah
me diperta oleh semua pemerintah.
man hankan orang. Pemerintah lah
faat atau 5. Keseragaman yang memegang
kan dibangu bangunan kekuasaan regulasi
kem n shophouse atau kebijakan
bali kembali ternyata masih sehingga memiliki
ban seperti mampu untuk power dan motif
gun aslinya menampilkan yang kuat untuk
an- (restora keberagaman membangun
ban si). melalui detail kawasan demi
gun 3. Untuk arsitektural. kepentingan
an menghi Keberagaman negara maupun
yan dupkan maupun detail publik.
g kembal tersebut 8. Komunitas atau
suda i menciptakan masyarakat yang
h sebuah townscape berkelanjutan
ada kawasa kota yang baik diperlukan untuk
(ad n, tidak melalui menjaga
apti cukup estetika lingkungan agar
ve hanya lingkungan. menjadi
re- dengan 6. Untuk sustainable juga.
use) menjadikan Tidak masalah
memperbai campuran agar sebuah tempat apakah komunitas
ki sisi dapat menjadi memiliki dalam kawasan
fisiknya, katalis dalam kualitas tersebut
naun juga menghidupkan townscape merupakan
menghidup kawasan yang baik penduduk asli atau
kan tersebut. tidak hanya bukan (dalam hal
fungsi 4. Selain elemen diupayakan ini khususnya
7 - 18
Chinatown Colonial
terjaga Shophouse
yang tidak sehingga s in
lagi kawasa Singapore:
memiliki n tidak kembali A Case
warga asli) menuru Study of
yang Telok Ayer
n atau in
terpenting mati. Chinatown.
adalah Journal of
kehidupan DAFTAR PUSTAKA Asian
yang Bentley, Alcock, Architectur
menerus et. al. e and
(1985). Building
selalu Engineerin
Responsive
Environme g. Tokyo
nt, A Yuen, Belinda, et
Manual for al.( 2001).
Designers. Urban
London : Conservati
The on in
Architectur Singapore
al Press. : Tradition
Hack, Karl. (2000). or Tourist
Chinatown Bane?.
As A Planning
Microcosm Practice &
Of Research,
Singapore. Vol. 16,
Henderson, J. No. 1, pp.
(2003). Taylor and
Ethnic Francis
Heritage Ltd.
as a Zhu, Jieming, et al.
Tourist 2007.
Attraction: Place
the remaking
Peranakan under
s of property
Singapore. rights
Internation regimes: a
al Journal case study
of Heritage of
Studies,9:1, Niucheshui
27 ,
— 44 Singapore.
Rubenstein, Harvey M. Environme
(1978). Central City Malls. nt and
London : A Wiley Planning
Interscience A, volume
Publication. 39, pages
Tiesdell, Steven et al. 2346 –
(1996). 2365.
Oxford : Widodo, Johannes.
Revitalizin Personal
g Historic Interview.
Urban (07
Quarter. Agustus
Architectur 2009)
al Press www.ura.gov.sg
Tze Ling Li.
(2007). A
Study of
Ethnic
Influence
on the
Facades of

7 - 19